Anda di halaman 1dari 18

REFERAT GANGGUAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NAPZA DAN PENANGGULANGANNYA

Disusun oleh: Dwi Juliana Dewi 030.06.076

Pembimbing: dr. Ismoyowati, Sp.KJ KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA SOEHARTO HERDJAAN OKTOBER 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

KATA PENGANTAR Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Pertama penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Gangguan Akibat Penyalahgunaan NAPZA dan penanggulangannya Tepat pada waktunya. Adapun pembuatan Referat ini adalah sebagai prasyarat penulis untuk dapat mengikut kepanitraan dalam bidang Ilmu Kesehatan Jiwa RSJ Soeharto Heerdjan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing referat penulis, Dr. Ismoyowati, Sp.KJ atas bimbingannya. Ilmu yang telah penulis terima tidaklah dapat dinilai dan akan berguna selama penulis masih dapat mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah penulis dapatkan. Demikianlah Referat ini, penulis curahkan. Semoga Referat yang penulis buat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Penulis memohon maaf apabila selama penulisan, penulis melakukan kesalahan baik yang disengajakan maupun yang tidak. Jakarta, Oktober 2011 Penulis

DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar Bab I Pendahuluan Bab II Tinjauan Pustaka Bab III Kesimpulan Daftar Pustaka 1 2-12 13

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.1 Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 1524 tahun. Berdasarkan data penelitian pengguna NAPZA di dunia, dilaporkan hampir 40% penduduk di dunia pernah menggunakan NAPZA dalam hidup mereka. Beberapa substansi tersebut menyebabkan kelainan status mental secara internal, seperti menyebabkan perubahan mood, secara eksternal menyebabkan perubahan perilaku. Substansi tersebut juga dapat menimbulkan problem neuropsikiatrik yang masih belum ditemukan penyebabnya, seperti skizofrenia dan gangguan mood, sehingga kelainan primer psikiatrik dan kelainan yang disebabkan oleh NAPZA menjadi sangat berhubungan.1 Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat dibidang kesehatan jiwa, khususnya penyalahgunaan NAPZA. Dan minimnya pengetahuan mengenai masalah NAPZA, penggunaannya, masalah psikiatri yang ditimbulkan, serta penangannya, mendorong penulis untuk menyusun referat mengenai Gangguan Akibat Penyalahgunaan NAPZA dan penanggulangannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah

bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.1 B. Penggolongan NAPZA2 Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan : 1. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas

fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. 2. Golongan Stimulan(Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain 3. Golongan Halusinogen
5

Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin. C. Penyalahgunaan dan Ketergantungan2 Penyalahgunaan dan Ketergantungan adalah istilah klinis/medikpsikiatrik yang menunjukan ciri pemekaian yang bersifat patologik yang perlu di bedakan dengan tingkat pemakaianpsikologik-sosial, yang belum bersifat patologik 1. PENYALAHGUNAAN NAPZA adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenisNAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis,sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial. 2. KETERGANTUNGAN NAPZA adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara normal D. Memahami Adiksi Sebagai Gangguan Otak2 Zat psikoaktif, khususnya NAPZA, memiliki sifat-sifat khusus terhadap jaringan otak : bersifat menekan aktivitas fungsi otak ( depresan ), merangsang aktivitas fungsi otak ( stimulansia ) dan mendatangkan halusinasi ( halusinogenik ). Karena otak merupakan sentra perilaku manusia, maka interaksi antara NAPZA ( yang masuk ke dalam tubuh manusia ) dengan selsel saraf otak dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku manusia. Perubahan-perubahan perilaku tersebut tersebut tergantung sifat-sifat dan jenis zat yang masuk ke dalam tubuh .

Masuknya NAPZA ke dalam tubuh memiliki berberapa cara : disedot melalui hidung ( snorting, sneefing ) , dihisap melalui bibir ( inhalasi, merokok ), disuntikan dengan jarum suntikan melalui pembuluh darah balik atau vena, ditempelkan pada kulit ( terutama lrngan bagian dalam ) yang telah diiris-iris kecil dengan cutter, ada juga yang melakukannya dengan mengunyah dan kemudian ditelan. Sebagian NAPZA sesuai dengan cara penggunaannya , langsung masuk ke pembuluh darah dan sebagian lagi yang dicerna melalui traktus gastro-intestinal diserap oleh pembuluh pembuluh darah di sekitar dinding usus. Karena sifat khususnya, NAPZA akan , menuju reseptornya masing-masing yang terdapat pada otak. Beberapa jenis NAPZA menyusup kedalam otak karena mereka memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan natural meurotransmitter. Di dalam otak, dengan jumlah atau dosis yang tepat, NAPZA tersebut dapat mengkunci dari dalam ( lock into ) reseptor dan memulai membangkitkan suatu reaksi berantai pengisian pesan listrik yang tidak alami yang menyebabkan neuron melepaskan sejumlah besar neurotransmitter miliknya. Beberapa jenis NAPZA lain mengunci melalui neuron denhgan bekerja mirip pompa sehingga neuron melepaskan lebih banyak neurotransmitter. Ada jenis NAPZA yang menghadang reabsorbsi atau reuptake sehingga menyebabkan kebanjiran yang tidak alami dari neurotransmitter. Bila seseorang menyuntik heroin ( opioid atau putauw ). Heroin segera berkelana cepat di dalam otak. Konsentrasi opioid terdapat pada : VTA ( ventral tegmental area ), nucleus accumbens, caudate nucleus dan thalamus yang merupakan sentra kenikmatan yang terdapat pada area otak yang sering dikaitkan dengan sebutan reward pathway. Opioid mengikat diri pada reseptor opioid yang berkonsentrasi pada daerah reward system. Aktivitas opioid pada thalamus mengindikasikan kontribusi zat tersebut dalam kemampuannya untuk memproduksi analgesik. Neurotranmitter opioid memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan endorfin, sehingga ia dapat menguasai reseptor opioid. Opioid mengaktivasi sistem reward melalui peningkatan neurotransmisi dopamin. Penggunaan
7

opioid yang berkelanjutan membuat tubuh mengadalkan diri kepada adanya drug untuk mempertahankan perasaan rewarding dan perilaku normal lain. Orang tidak lagi mampu merasakan keuntungan reward alami ( seperti makanan, air, sex ) dan tidak dapat lagi berfungsi normal tanpa kehadiran opioid. E. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA2 1. Faktor Psikodinamik Berdasarkan teori klasik, penyalahgunaan NAPZA seperti keinginan untuk masturbasi, mekanisme pertahanan untuk keadaan cemas, atau manifestasi dari regresi oral. Dalam teori psikososial, menyebutkan bahwa banyak alasan untuk mencurigai factor lingkungan memainkan peran dalam

penyalahgunaan NAPZA. Sehingga dalam banyak artikel disebutkan bahwa pelaku penyalahgunaan substansi ini kebanyakan adalan anak-anak atau remaja dengan perkembangan psikososial yang buruk. 2. Factor Genetic Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak kembar, anak adopsi, dan saudara kandung yang terpisah ataupun dipisahkan menjadi penyebab utama terjadinya penyalahgunaan NAPZA. F. Komorbiditas2 Komorbid adalah keterlibatan dua atau lebih gangguan psikiatrik pada seorang pasien. Pada pasien yang mendapatkan terapi karena

ketergatungan substansi seperti opioid, alcohol, dan kokain, memiliki prevalensi tinggi mendapatkan gangguan psikiatri tambahan. Hal ini dibuktikan pada studi epidemiologi bahwa orang-orang dengan

ketergantungan terhadap NAPZA lebih mudah mengalami gangguan psikiatri lain. 1. Gangguan kepribadian antisocial Pada berbaga macam studi, menunjukkan bahwa 35 sampai 60 persen pasien dengan ketergantungan NAPZA juga memiliki diagnosa gangguan kepribadian antisocial. 2. Depresi dan Bunuh diri
8

Gejala depresi sangat banyak ditemukan pada pasien yang didiagnosa sebagai penyalahgunaan NAPZA ataupun ketergantungan NAPZA. Hampir 40 persen pengguna opioid dan alcohol memenuhi criteria diagnosis gangguan depresi mayor dalam hidup mereka. Penggunaan NAPZA juga salah satu penyebab terjadinya bunuh diri. Orang dengan penyalahgunaan NAPZA, sekitar 20 persen lebih rentan melakukan bunuh diri dibandingkan populasi pada umumnya. G. Gejala Klinis3 1. Perubahan Fisik Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut : - Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga - Bila kelebihan disis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal. - Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun. - Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik) 2. Perubahan Sikap dan Perilaku - Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering membolos,pemalas,kurang bertanggung jawab. - Pola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantuk dikelas atau tempat kerja. - Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih dulu - Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah.
9

- Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga,kemudian menghilang - Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. - Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga,tertutup dan penuh rahasia. H. Menetapkan Diagnosis4 Dalam nomenklatur kedokteran, ketergantungan NAPZA adalah suatu jenis penyakit atau disease entity yang dalam ICD 10 ( international classification of disease and health related problems tenth revision 1992 ) yang dikeluarkan oleh WHO digolongkan dalam Mental and behavioral disorders due to psychoactive substance use . Gambaran klinis utama dari fenomena ketergantiungan dikenal dengan istilah sindrom ketergantungan ( PPDGJ-III , 1993 ). Sehingga diagnosis ketergantungan NAPZA ditegakkan jika diketemukan tiga atau lebih dari gejala-gejala di bawah selama masa setahun sebelumnya: 1. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa ( kompulsi ) untuk menggunakan NAPZA 2. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan NAPZA sejak awal, usaha penghentian atau tingkat penggunaannya 3. Keadaan putus NAPZA secara fisiologis ketika penghentian penggunaan NAPZA atau pengurangan, terbukti orang tersebut menggunakan NAPZA atau golongan NAPZA yang sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus obat. 4. Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan dosis NAPZA yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis yang lebih rendah.

10

5. Secara progressif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena penggunaan NAPZA, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendapatkan atu menggunakan NAPZA atau pulih dari akibatnya 6. Meneruskan penggunaan NAPZA meskipun ia menyadari dan memahami adanya akibat yang merugikan kesehatan akibat penggunaan NAPZA seperti gangguan fungsi hati karena minum alkohol berlebihan, keadaan depresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya fungsi kognitif. Segala upaya mesti dilakukan untuk memastikan bahwa pengguna NAPZA sungguh sungguh menyadari akan hakikat dan besarnya bahaya.

I. Terapi dan Upaya pemulihan Karakteristik terapi adiksi yang efektif NIDA ( National Institute of Drug Abuse, 1999 ) menunjuk 13 prinsip dasar terapi efektif berikut, untuk dijadikan pegangan bagi para profesional dan masyarakat5,6: 1. 2. Tidak ada satupun terapi yang serupa untuk semua individu Kebutuhan mendapatkan terapi harus selalu siap tersedia setiap waktu. Seorang adiksi umumnya tidak dapat memastikan kapan memutuskan untuk masuk dalam program terapi. Pada kesempatan pertama ia mengambil keputusan, harus secepatnya dilaksanakan ( agar ia tidak berubah pendirian kembali ) 3. Terapi yang efektif harus mampu memenuhi banyak kebutuhan ( needs ) individu tersebut, tidak semata mata hanya untuk kebutuhan memutus menggunakan NAPZA 4. Rencana program terapi seorang individu harus dinilai secara kontinyu dan kalau perlu dapat dimodifikasi guna memastikan apakan rencana terapi telah sesuai dengan perubahan kebutuhan orang tersebut atau belum. 5. Mempertahankan pasien dalam satu periode program terapi yang adekuat merupakan sesuatu yang penting guna menilai apakah terapi cukup efektif atau tidak

11

6.

Konseling dan terapi perilaku lain merupakan komponen kritis untuk mendapatkan terapi yang efektif untuk pasien adiksi

7.

Medikasi atau psikofarmaka merupakan elemen penting pada terapi banyak pasien, terutama bila dikombinasikan dengan konseling dan terapi perilaku lain

8.

Seorang yang mengalami adiksi yang juga menderita gangguan mental, harus mendapatkan terapi untuk keduanya secara integratif

9.

Detoksifikasi medik hanya merupakan taraf permulaan terapi adiksi dan detoksifikasi hanya sedikit bermakna untuk menghentikan terapi jangka panjang

10. Terapi yang dilakukan secara sukarela tidak menjamin menghasilkan suatu bentuk terapi yang efektif 11. Kemungkinan penggunaan zat psikoaktif selama terapi berlangsung harus dimonitor secara kontinyu 12. Program terapi harus menyediakan assesment untuk HIV / AIDS , hepatitis B dan C, tuberkulosis dan penyakit infeksi lain dan juga menyediakan konseling untuk membantu pasien agar mampu

memodifikasi atau mengubah tingkah lakunya, serta tidak menyebabkan dirinya atau diri orang lain pada posisi yang beresiko mendapatkan infeksi 13. Recovery dari kondisi adiksi NAPZA merupakan suatu proses jangka panjang dan sering mengalami episode terapi yang berulang ulang Sasaran terapi7,8 Sasaran jangka panjang terapi pasien/ klien dengan adkisi NAPZA : 1. Abstinensia atau mengurangi penggunaan NAPZA bertahap sampai abstinensia total. Hasil yang ideal untuk terapi adiksi NAPZA adalah penghentian total penggunaan NAPZA. Perjanjian pada awal terapi sangat penting dilakuakan, terutama dalam komitmen terapi jangka panjang. Komitmen tersebut membantu menurunkan angka morbiditas dan penggunaan NAPZA. Umumnya mayoritas pasien / klien perlu mendapat motivasi yang cukup kuat untuk menerima abstinensia total sebagai sasaran terapi.
12

2. Mengurangi frekuensi dan keparahan relaps. Pengurangan frekuensi penggunaan NAPZA dan keparahannya merupakan sasaran kritis dari terapi. Fokus utama dari pencegahan relaps adalah membantu pasien.klien mengidentifikasi situasi yang menempatka dirinya kepada resiko relaps dan menggembangkan respon alternatif asal bukan merupakan NAPZA. Pada beberap pasien atau klien, situasi sosial atau interpersonal dapat merupakan faktor beresiko terjadinya relaps. Pengurangan frekuensi dan keparaha relaps sering menjasikan sasaran yang realistik daripada pencegahan yang sempurna. 3. Perbaikan dalam fungsi psikologi dan penyesuaian fungsi sosial dalam masyarakat. Gangguan penggunaan zat sering dikaitkan dengan problema psikologi dan sosial, melepaskan diri dari hubungan antar teman dan keluarga, kegagalan dalam performance di sekolah maupun dalam pekerjaan, problema finensial dan hukum dan gangguan dalam fungsi kesehatan umum. Mereka memerlukan terapi spesifik untuk memperbaiki gangguan hubungannya dengan orang lain tersebut, mengembangkan keterampilan sosial serta mempertahankan status dalam pekerjaannya disamping mempertahankan dirinya semaksimal mungkin agar tetap dalam kondisi bebas obat. Tahapan terapi9,10,11 Proses terapi adiksi zat umumnya dapat dibagi atas beberapa fase berikut: 1. Fase penilaian ( assesment phase ), sering disebut dengan fase penilaian awal ( initial intake ). Informasi dapat diperoleh dari pasien dan juga dapat diperoleh dari anggota keluarga, karyawan sekantor, atau orang yang menanggung biaya. Termasuk yang perlu dinilai adalah : a. Penilaian yang sistematik terhadap level intiksokasi, keparaha gejala gejala putus obat, dosis zat terbesar yang digunakan terakhir, lama waktu setelah penggunaan zat terakhir, awitan gejala, frekuensi dan lamanya penggunaan, efek subjektif dari semua jenis zat yang digunakan. b. Riwayat medis dan psikiatri umum yang komprehensif, termasuk status pemeriksaan fisik dan mental lengkap, untuk memastikan ada tidaknya
13

gangguan komorbiditas psikiatris dan medis seperti tanda dan gejala intoksikasi atau withdrawal. Pada beberapa kasus diindikasikan juga pemeriksaan psikologik dan neuro psikologi c. Riwayat terapi gangguan penggunaan zat sebelumnya, termasuk karakteristik berikut : setting terapi, kontekstual ( volintary, non voluntary ), modalitas terapi yang digunakan, kepatuhan terhadap program terapi, lamanya ( singkat 3 bulanan, sedang 1 tahun dan hasil dengan program jangka panjang, berikut dengan jenis zat yang digunakan, level fungsi sosial dan okupasional yang telah dicapai dan variabel hasi terapi lainnya d. Riwayat penggunaan zat sebelumnya, riwayat keluarga dan riwayat sosio ekonomik lengkap, termasuk informasi tentang kemungkinan adanya gangguan penggunaan zat dan gangguan psikiatri pada keluarga, faktor faktor dalam keluarga yang mengkontribusi berkembang atau penggunaan zat terus menerus, penyesuaian sekolah dan vokasional, hubunggan dengan kelompok sebaya, problema finansial dan hukum, pengaruh lingkungan kehidupan sekarang terhadap kemampuannya untuk mematuhi terapi agar tetap abstinensia di komunitasnya, karakteristik lingkungan pasien ketika menggunakan zat ( dimana, dengan siapa, berapa kali/ banyak, bagaimana cara penggunaan. ). e. Skrining urin dan darah kualitatif dan kuantitatif untuk jenis jenis NAPZA yang disalahgunakan, pemerisaan pemeriksaan laboratorium lainnya terhadap kelainan kelainan yang dikaitkan dengan penggunaan zat akut atau menahun. f. Skrining penyakit penyakit infeksi dan penyakit lain yang sering diketemukan pada pasien / klien ketergantungan zat ( seperti HIV,

tuberkulosis, hepatitis ). 2. Fase terapi detoksifikasi, sering disebut dengan fase terapi withdrawal atau fase terapi intoksikasi. Fase ini memiliki beragam variasi : a. Rawat inap dan rawat jalan b. Intensive out patient treatment
14

c. Terapi simptomatik d. Rapid dotoxification, ultra rapid detoxification e. Detoksifikasi dengan menggunakan : kodein dan ibuprofen, klonidin dan naltrexon, buprenorfin, metadon 3. Fase terapi lanjutan. Tergantung pada keadaan klinis, strategi terapi harus ditekankan kepada kebutuhan individu agar tetap bebas obat atau menggunakan program terapi subtitusi ( seperti antagonis naltrexon, agonis metadon, atau partial agonisbrupenorfin. Umumnya terapi yang baik berjalan antara 24 sampai 36 bulan. Terapi yang lamanya kurang dari jangka waktu tersebut,umumnya memiliki relaps rate yang tinggi.

15

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan data penelitian pengguna NAPZA di dunia, dilaporkan hampir 40% penduduk di dunia pernah menggunakan NAPZA dalam hidup mereka. Beberapa substansi tersebut menyebabkan kelainan status mental secara internal, seperti menyebabkan perubahan mood, secara eksternal menyebabkan perubahan perilaku. Substansi tersebut juga dapat menimbulkan problem neuropsikiatrik yang masih belum ditemukan penyebabnya, seperti skizofrenia dan gangguan mood, sehingga kelainan primer psikiatrik dan kelainan yang disebabkan oleh NAPZA menjadi sangat berhubungan. NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA Penyebab penyalahgunaan napza karena factor genetic dan juga psikodinamik. Penyalahhunaan NAPZA sendiri memiliki Komorbid dengan gangguan kepribadian antisocial dan juga prilaku bunuh diri. Gejala-gejala klinis gangguan penyalahgunaan NAPZA adalah: 1. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa ( kompulsi ) untuk menggunakan NAPZA 2. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan NAPZA sejak awal 3. Keadaan putus NAPZA secara fisiologis ketika penghentian penggunaan NAPZA atau pengurangan 4. Adanya bukti toleransi 5. Secara progressif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena penggunaan NAPZA.

16

6. Meneruskan penggunaan NAPZA meskipun ia menyadari dan memahami adanya akibat yang merugikan kesehatan akibat penggunaan NAPZA. Terapi pada gangguan akibat penyalahgunaan NAPZA itu sendiri dibagi menjadi 3 fase: 1. Fase penilaian 2. Fase terapi detoksifikasi 3. Fase terapi lanjutan

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock Benjamin, Sadock Virginia. Substance Related Disorders. Introduction and Overview. Dari: Kaplan & Sadock Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry 9th edition, Lippingcott Williams & Wilkins, 2002, h. 380. 2. Sadock Benjamin, Sadock Virginia. Substance Related Disorders. Dari: Kaplan & Sadock Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry 9th edition, Lippingcott Williams & Wilkins, 2002, h. 380-435. 3. Allen K.M. Clinical Care of the Addicted Client, Review Article on: American Psychiatriy Journal, 2010 October 20. 4. Maslim Rusdi, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PDGJ-III, PT. Nuh Jaya, 2001, h. 34-43. 5. The Indonesian Florence Nightingale Foundation, Kiat Penanggulangan dan Penyalahgunaan Ketergantungan NAPZA. Dalam: www.ifnf.org/NAPZA/ <diakses pada Selasa, 27 September 2011> 6. Klagenberg KF, Zeigelboim BS, Jurkiewicz AL, Martins-Bassetto J. Substance Related Disorders in Teenagers. PMC Journal, 2007 May-Jun;73(3):353-8. 7. Tom, Kus, Tedi. Bahaya NAPZA Bagi Pelajar , Bandung :Yayasan Al-Ghifari,2009, h.20-57. 8. Morgan, Segi PraktisPsikiatri, Jakarta; Bina rupa aksara,2001, h. 110-145. 9. Stuart Sundeen, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, St Louis: Mosby Year Book, 2001. Dalam: www.pdfsearch.com/ebook/ <diakses pada Selasa, 27 September 2011> 10. Smith, CM.,Community Health Nursing; Theory and Practice .Philadelphia: W.B. Saunders Company. Dalam: www.pdfsearch.com/ebook/ <diakses pada Selasa, 27 September 2011> 11. Warninghoff JC, Bayer O,Straube A, Ferarri U. Treatment and Rehabilitation in Substance Related disorders, Review Article on: British Psychiatry Journal, 2009 July 7.

18