Anda di halaman 1dari 49

PENGANTAR DAN TEORI BIOETIKA

Etika dan Etik


Kamus Besar bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa membedakan antara etik dan etika. 1. Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia menge-nai apa yang baik dan yang buruk atau benar dan salah dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jadi, etika adalah cabang ilmu filsafat praktis yang member dasar untuk berfikir secara lurus dengan premis (dasar pemikiran) yang benar sehingga bisa ditarik kesimpulan yang benar pula. Oleh karena premisnya bias berbeda-beda maka kesimpulan akhirnya pun bias berbeda-beda.

Etika dan Etik


Etik adalah kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan

akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat (codes of profesional ethics). Etik merupakan kumpulan azas (yang sudah dikodifikasikan) yang ditarik dari pemikiran etika (etis) sehingga nilai itu bisa dipertanggung jawabkan secara rasional. Nilai-nilai perlu dikritisi setiap waktu oleh karena perkembangan zaman yang tidak memungkinkan nilai-nilai lama selalu bisa terus bertahan. Tetapi begitu nilai itu disetujui maka nilai itu mengikat bagi semua anggota sehingga kegagalan untuk bertindak sesuai dengan nilai itu akan menjadi pelanggaran etik.

ETIKA DAN ETIK


Sehubungan dengan kedokteran, maka kalau kita bicara mengenai: Etika kedokteran berarti berbicara mengenai ilmu tentang yang baik dan yang buruk atau benar dan salah serta mengenai hak dan kewajiban moral sebagai dokter Etik kedokteran maka kita berbicara mengenai kumpulan azas (kodeki, sumpah dokter dsb) yang darinya keluarlah beberapa poin mengenai benar dan salah yang dianut masyarakat kedokteran. Seringkali nilai-nilai itu hanya berlaku dikalangan terbatas (para dokter saja) dan tidak berlaku pada masyarakat umum.

Moral
Moral. Sebagai asal-usul kata, antara etika dan moral mempunyai arti yang sama, yakni menyangkut adat kebiasaan. Yang berbeda hanya asal katanya yakni etika dari bahasa Yunani sedangkan moral dari bahasa Latin. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya ada 2 pendapat yang berbeda. Ada kelompok ahli yang menyamakan antara etika dan moral sehingga keduanya bisa dipertukarkan tetapi juga ada kelompok ahli yang membedakan antara etika dan moral. Di dalam etika, prinsip dasar yang dipakai adalah rasio (akal budi) sedangkan dalam moral yang dipakai sebagai dasar adalah wahyu.

Moral
Ajaran Moral = ajaran , wejangan, khotbah, kumpulan peraturan dan ketetapan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia baik. Kebaikan di sini diukur sebagai manusia secara keseluruhan. Norma moral berarti: tolok ukur untuk mengukur kebaikan orang. Dia dinilai dalam kapasitasnya sebagai manusia. Penilaian moral selalu mengacu kepada baik-burukya manusia sebagai manusia yakni menentukan betul salahnya sikab dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu/ profesi atau norma tertentu yang terbatas (sbg.dosen, dokter, hakim dsb).

Moral
Bisa jadi seseorang adalah manusia yang baik tetapi tidak baik dalam profesi tertentu, misalnya sebagai dosen atau sebagai dokter. Bisa juga sebaliknya, seseorang sangat baik di dalam profesinya (etik) tetapi tidak baik sebagai manusia (moral). Cakupan moral lebih luas (universal) dari pada etik yang berlaku hanya pada kelompok tertentu. Semua orang perlu (harus) bermoral supaya menjadi baik tetapi tidak semua orang bisa beretika (berfikir secara sistematik untuk mengetahui yang baik dan buruk atau benar dan salah).

Hukum
Hukum. Walaupun sama-sama diresmikan dan disetujui, tetapi ada perbedaan mendasar antara etik dan hukum. Pada dasarnya hukum adalah seperangkat kesepakatan bersama (persetujuan) yang pelanggarannya akan mendapatkan sangsi hukum (denda, penjara). Definisi hukum bisa bermacam-macam, misalnya himpunan peraturan yang dibuat oleh yang berwenang dengan tujuan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat yang mempunyai ciri memerintah dan melarang serta mempunyai sifat memaksa dengan menjatuhkan sanksi hukuman bagi yang melanggarnya.

Hukum
Orang lain mendefinisikan hukum sebagai: Hukum atau ilmu hukum adalah suatu sistem aturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. Perbedaan pokok antara etik dan hukum adalah kekuatan memaksanya dan instansi yang membuatnya.

Hukum
Secara filosofis, norma hukum harus dikritisi dan dinilai berdasarkan prinsip-prinsip etis supaya hukum menjadi hukum yang adil. Bisa terjadi bahwa norma etika kemudian menjadi norma hukum ketika diundangkan oleh yang berwewenang sehingga pelanggarannya bukan hanya pelanggaran etik melainkan pelanggaran hukum (misalnya informed consent. Pada awalnya ini adalah norma etik tetapi sekarang di Indonesia dengan adanya UU praktek kedokteran dan UU Kesehatan, menjadi norma hukum).

Etiket Sopan santun


Etiket/sopan santun. Norma yang menyangkut sikab lahiriah manusia. Walaupun sikab lahirian seharusnya mencerminkan sikab hati tetapi tidak semua pelanggaran norma sopan santun menjadikan dia buruk secara moral. Norma-norma ini biasanya berasal dari kebudayaan setempat. Etiket juga berbicra mengenai tingkah laku manusia tetapi tidak langsung berhubungan dengan etik ataupun etika. Pelanggaran etiket tidak seberat seperti pelanggaran etik.

Profesionalism (SOP)
SOP - Profesionalism. SOP adalah sebuah set (kumpulan) instruksi yang mempunyai kekuatan direktif yang mengkover langkah-langkah (features of operations) yang mengarahkan pada suatu prosedure yang terstandard atau definitif agar tercapai efektifitas dan keamanan. SOP bisa menjadi katalisator yang efektif untuk memacu peningkatan performance (penyelenggaraan) dan mutu hasilnya. SOP disusun berdasarkan pelbagai macam pertimbangan yang salah satunya adalah disiplin ilmu yang bersangkutan (cq. Ilmu kedokteran dsb.). Bisa dimengerti bahwa SOP bisa ada (sedikit) perbedaan antara satu tempat dengan yang lainnya karena menyangkut keadaan kongkrit.

Etik dan Etika


Yang kita bicarakan pada kesempatan ini menyangkut dua-

duanya (Etik dan Etika) dan harus dibedakan dengan yang sejenis tetapi bukan etik (etika) seperti di atas. Prinsip etika kedokteran dewasa ini yang banyak dianut berdasarkan prinsip (norma) respect for autonomy, nonmaleficence, beneficence dan justice yang dikembangkan oleh Tom L. Beauchamp dan James F. Childress. Mana yang masalah moral dan mana yang bukan masalahmoral, tergantung apakah suatu perbuatan itu menyangkut benar salahnya atau baik-buruknya suatu perbuatan.
Tom L. Beauchamp dan James F. Childress, Principles of Biomnedical Ethics

(6th ed.), Oxford University Press, Oxford, 2008. (Irst ed. tahun 1979).

BEBERAPA PERSOALAN DILEMATIS

Dilema Etis
Dilema etis. Dilema etis timbul ketika dua atau lebih prinsipprinsip etis saling bertabrakan (saling bertentangan) satu sama lain sehingga tidak bisa bertindak dengan hasil yang memuaskan. Tindakan apapun yang dibuat tetap menimbulkan masalah etis yang berat. Terjadi pertentangan antara 2 atau lebih prinsip yang sama-sama membawa kebaikan. Misalnya seorang dokter yang tinggal di desa. Dia satu-satunya dokter di wilayah itu. Anak dan istrinya sedang sakit dan membutuhkan kehadirannya. Pada saat yang sama ada panggilan urgen dari desa yang cukup jauh, yang juga menjadi tanggung jawabnya, karena ada pasien yang kritis yang memerlukan bantuan dokter tersebut.

Ketidakpastian Etis
Ketidakpastian etis. Hal ini terjadi ketika dilema moral terjadi oleh

karena ketidak pastian tentang macam tindakan yang harus dibuat seseorang untuk mencapai tujuan yang paling baik. Hal ini bisa disebabkan oleh karena hasil tidak diketahui di masa mendatang atau bisa juga oleh karena fakta-fakta yang bisa mempengaruhi hasilnya tidak ada.

Self Imposed ethical dilemmas


Self Imposed ethical dilemmas. Suatu dilema yang diakibatkan oleh nilai yang dipegangnya sendiri. Dari nilainilai itu ternyata tidak bisa berjalan bersama. Dari contoh di atas, dilema itu terjadi oleh karena prinsip etis yang dipegang sendiri bahwa dia harus dirumah untuk mengurusi anak-istrinya yang sakit. Kalau prinsip itu bisa diubah, misalnya untuk sementara waktu bisa ditunggui oleh tetangganya, maka dilema itu tidak ada. Orang lain dalam situasi yang sama mungkin tidak masuk dalam dilemanya.

World Imposed ethical Dilemmas


World Imposed ethical Dilemmas: Dilema etis ini terjadi ketika dia harus

memilih salah satu anggota keluarga mana yang harus mati. Dilema ini terjadi bukan oleh dirinya sendiri tetapi oleh karena faktor di luar dirinya yang memaksanya dan dia tidak bisa tidak harus mengambil keputusan. Misalnya bayi kembar siam yang hanya mempunyai satu jantung dan harus dipisahkan karena jantungnya tidak akan kuat untuk mensupply darah kepada keduanya. Mana yang harus mati?

Pengantar
Bioetika merupakan perkembangan lebih lanjut dari etika

kedokteran yang memang sudah ada sejak lama. Salah satu etika profesi yang paling kuno keberadaanya adalah etika kedokteran Sumbangan etika kedokteran dalam memperkembangkan Bioetika sangat besar sekali. Prinsip-prinsip etis bioetika modern yang paling terkenal berasal dari buku tentang etika medis, yakni Principle of Biomedical Ethics oleh Tom L. Beauchamp dan James F. Childress

Aliran Etika: Aristoteles


Salah satu filsuf yang paling berpengaruh: Aristoteles (384 322

BC): Etica Nicomachea, Etica Eudemia, Politica dan Magna Moralia. Prinsip Etikanya, Hendaknya kita hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga kita mencapai hidup yang baik, yang bermutu dan berhasil. Sebab semakin bermutu hidup manusia maka semakin bahagialah dia. Aristoteles, kebaikan yang tertinggi adalah kebahagiaan itu sebab dia dibuat hanya untuk dirinya sendiri. Segala pekerjaan manusia akhirnya akan bermuara ke kebahagiaan itu.

Aliran Etika: Aristoteles


Perbuatan yang baik adalah perbuatan yang menambah

kebahagiaan (eudaimonia) dan perbuatan yang tidak baik adalah perbuatan yang tidak mendatangkan kebahagiaan. Etika Aristoteles disebut eudemonisme. Manusia menjadi bahagia apabila bisa merealisasikan diri secara sempurna dengan mengaktifkan kekuatan-kekuatan hakikatnya, terutama yang khas manusia: akal budi dan kehendak. Tuan hamba.

Aliran Etika: Aristoteles


Agar manusia bisa merealisasikan diri secara sempurna, dia harus

mengembangkan bakat-bakat etis yang tertanam dalam kodratnya sampai dia menjadi manusia yang sempurna. Apa yang terpuji dalam diri seseorang adalah sifat karakternya dan bukan pada ketundukan seseorang terhadap aturan atau moral.

Aliran Etika: Deontologi


Deontologi berasal dari bhs Yunani deont = yang mengikat

(kewajiban). Deontology = kewajiban moral yang mewajibkan kita untuk bertindak, lepas dari effek kebahagiaan untuk diri sendiri atau orang lain. Apakah sesudah saya bertindak saya rugi atau untung, itu tidak penting. Kalau saya merasa wajib, maka apapun juga harus dilakukan. Tokoh: salah satunya Immanuel Kant (1724 1804).

Aliran Etika: Deontologi


Kewajiban itu harus keluar dari diri sendiri dengan melihat bahwa

ini memang baik untuk dilakukan dan bukan karena dipaksakan oleh pihak luar (moral otonom). Kant membedakan antara moral heteronome dan moral otonom. Benar dan salahnya suatu tindakan akan sangat tergantung pada apakah merasa wajib atau tidak. Moral yang otonom ini sangat tinggi nilainya karena perbuatannya bisa menjadi expresi jiwanya.

Aliran Etika: Consequentialism


Aliran filsafat ini menekankan pada akibat (konsekwensi) dari

perbuatan kita. Perbuatan kita adalah baik kalau memberikan konsekwensi yang baik sedangkan perbuatan kita akan menjadi buruk kalau konsekwensinya buruk. Salah satu aliran yang terbesar dan banyak penganutnya ialah Utilitarianism (Jeremy Bentham dan John Stuart Mill). Prinsipnya: The greatest happiness of the greatest number.

Aliran Etika: Deontologi


Bentham sangat hedonis We ought to approve and do, or

disapprove and refrain from doing, actions according to their promotion of pleasure and happiness. -> Pig Philosophy Mill ukuran kenikmatan itu adalah kesesuaian dengan qualitative features, pleasures yang berasal dari "higher faculties (intelek, perasaan, imajinasi, perasaan moral) lebih bernilai dari pada pleasure yang berasal dari "lower faculties" yakni kenikmatan badaniah atau sensual. Dia mengatakan "It is better to be a human being dissatisfied than a pig satisfied; better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied"

Aliran Etika: Deontologi


Prinsip umum dari Utilitarianisme adalah suatu tindakan dapat

dibenarkan secara moral apabila akibat-akibatnya menunjang kebahagiaan sebanyak mungkin orang yang bersangkutan dengan sebaik mungkin. The greatest happiness of the greatest number.
Benar tidaknya sebuah tindakan tergantung pada tujuan/kegunaan

(Utility) dari tindakan itu, yakni apakah perbuatan itu menunjang kebahagiaan umum atau tidak.

Aliran Etika: Deontologi


Kritik terhadap Utilitarianism Apakah mungkin bahwa tindakan manusia itu bisa memenuhi tolok ukur kebahagiaan semua orang? Utilitarianisme yang mendasarkan penilaiannya terhadap sesuatu tergantung pada kegunaannya, ini cenderung menempatkan manusia hanya sebagai obyek saja dan bukan sebagai subyek. Manusia cenderung dipandang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Akibatnya bahwa harkat dan martabat manusia sering kurang dihormati dan sering dilanggar.

Aliran Etika: Deontologi


Utilitarianisme akan cenderung melegalkan segala macam cara asal

konsekwensinya akan memberikan manfaat atau kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang. Tujuan menghalalkan cara (The end, indeed, does justify the means). Dalam hal ini, orang bisa membunuh seorang manusia yang tidak bersalah kalau kematiannya akan memberikan manfaat (kebahagiaan) bagi sebanyak mungkin orang.

Aliran Etika: Deontologi


Dalam utilitarianisme yang extrem, maka orang-orang tua yang

sudah tidak banyak manfaatnya itu, apalgi sakit-sakitan dan menghabiskan banyak urang, lebih baik diterminasi saja karena dana dan tenaga yang dialokasikan kepadanya sebenarnya bisa dialokasikan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dan mendatangkan kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang.

Aliran Etika: Deontologi


Pengaruhnya dalam bidang bioetika cukup besar. Konsep pemilihan

utilitarianisme sangat jelas berdampak dalam bidang medis. Biasanya ukuran yang dipakai ialah the quality-adjusted life year (QALY) dimana dicoba untuk diukur antara harapan hidup (life expectancy) dan kwalitas hidup (quality of life) berdasarkan nilai-nilai etis yang umum diperbandingkan dengan kurban yang harus dibayar.

Aliran Etika: Deontologi


Rasionalitas moral dan economis perhitungan berdasarkan metode

QALY akan lebih mengedepan-kan pilihan mengenai hidup yang lebih sehat (walaupun pendek) dibandingkan dengan hidup yang panjang yang disertai dengan penyakit dan cacat. QALY juga dapat dipergunakan baik dalam tingkat micro untuk melakukan alternative therapies bagi pasien tertentu maupun dalam tingkat macro untuk membuat kebijaksa-naan mengenai alokasi sumberdaya kesehatan yang terbatas.

Aliran Etika: Deontologi


Deontologi VS Consequentialism Bagi para deontolog, konsekwensi tindakan (apakah menguntungkan atau merugikan) tidak menjadi perhitungan. Yang penting merasa wajib untuk buat itu maka dia akan membuat.

Aliran Etika: Deontologi

Deontologi VS Consequentialism Bagi para consequentialist persis kebalikannya. Konsekuensi dari tindakan menentukan benar dan tidaknya suatu perbuatan. Oleh karena itu, kebahagiaan atau kepuasan merupakan satu-satunya kebaikan manusia intrinsik sedangkan penyakit atau ketidak bahagiaan merupakan intrinsic evil. Prinsip tindakannya: manusia harus bertindak demi greatest happiness of the greatest number. Dengan kata lain, benar salahnya suatu tindakan tergantung pada konsekwensi keseluruhan dan long-term bagi well being manusia, atau sekurang-kurangnya kebaikan yang paling banyak yang paling mungkin.

Aliran Etika: Paternalistik


Paternalistik berasal dari kata Pater yang berarti bapak/ayah.

Dalam etika ini hubungan dua orang diperlakukan dan memperlukan diri yang satu sebagai bapak yang baik dan yang lainnya sebagai anaknya. Sebagai bapak yang baik, dia akan memikirkan dan memperjuangkan apa yang terbaik bagi anaknya, juga seandainya hal itu bertentangan dengan kehendak si anak tetapi jikalau dipandang baik oleh si bapak, maka si bapak akan memaksakan kehendaknya. Sebaliknya si anak, oleh karena dia tidak tahu banyak maka si anak hanya akan mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh si ayah.

Aliran Etika: Paternalistik


Sejak jaman Yunani kuno dulu, etika medis Paternalistik inilah

yang banyak dipergunakan. I will apply dietetic measures for the benefit of the sick according to my ability and judgement. I will keep them from harm and injustice. Dalam Paternalistik, Dokter sebagai ayah yang baik dan pasien sebagai anak yang gak tahu apa-apa, tinggal nurut sama ayahnya.

Aliran Etika: Paternalistik


Paternalistik: pembenaran untuk campur tangan dalam kebebasan

seseorang untuk bertindak dengan alasan khusus yakni demi kesejahteraan, kebaikan, kebahagiaan, kebutuhan, kepentingan dan nilai-nilai orang yang dipaksa itu. Dengan kata lain, Aku memaksa kamu untuk berbuat ini atau untuk tidak berbuat itu demi kebaikanmu! Gerald Dworkin, Paternalism, The Monist 56(1972) 65

Aliran Etika: Paternalistik


Etika medis paternalistis bisa berlangsung lebih dari dua ribu tahun

karena didukung oleh kedudukan pelayan kesehatan di mata masyarakat yang sangat istimewa dan juga oleh karena kesetiaannya untuk menjunjung etika medis dalam menjalankan profesi medisnya yang tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi demi kepentingan pasien (altruisme).

Aliran Etika: Paternalistik


Seorang dokter diharapkan mempunyai sifat dasar etis yang

melekat pada profesinya sebagai dokter yang baik dan bijaksana. Dalam menjalankan tugasnya, mereka diharapkan mempunyai kemurnian niat dan kesungguhan kerja serta kerendahan hati oleh karena integritas ilmiah dan sosialnya, lebih-lebih karena profesi ini menuntut pandangan dan penghargaan kemanusiaan yang tinggi sehingga karya ini adalah karya kemanusiaan. Para pelayan kesehatan juga mempunyai kemauan teguh untuk membantu pasien sebaik mungkin.

Aliran Etika: Otonomi


Orang yang paling berpengaruh dalam bioetika modern adalah

Tom L. Beauchamp dan James F. Childress yang menulis buku Principles of Biomedical Ethics Dia menyatakan ketidak puasannya atas beberapa teori etika yang beredar dan kemudian mengusulkan teori etika yang baru karena sudah tidak bisa menjawab kebutuhan.

Aliran Etika: Otonomi


Perubahan itu didorong oleh dua pihak: 1. Pihak masyarakat yang semakin otonom untuk menentukan diri sendiri 2. Pihak dokter yang tidak berhasil memegang tegus syarat dan prinsip Hippokrates Dalam bidang medis, otonomi diri inipun berdampak sangat besar. Oleh karena intervensi medis itu adalah intervensi yang mengena langsung pada diri/tubuh pasien, maka pelayan kesehatan tidak sembarangan bisa berbuat sesuatu terhadap pasien, Pasien yang menentukan dan bukan dokter.

Aliran Etika: Otonomi


Tom L. Beauchamp dan James F. Childress menawarkan serangkaian

nilai etika baru yakni Respect for autonomy, nonmaleficence (do no harm), Beneficence dan Justice. Autonomi Personal Autonomy personal ruleof the self that is free from both controlling interferences by others and from personal limitations that prevent meaningful choice, such as inadequate understanding. The autonomous individual freely acts in accordance with a self-chosen plan, analogous to the way an independent government manages its territories and sets its policies

Aliran Etika: Otonomi


Nonmaleficence The principle of nonmaleficence asserts an

obligation not to inflict harm intentionally. It has been closely associated in medical ethics with the maxim Primum non nocere: above all (or first) do no harm.

Aliran Etika: Otonomi


Beneficence Morality requires bot only that we treat persons

autonomously and refrain from harming them, but also that we contribute to their welfare. Such beneficial actions fall under the heading of beneficence agents must take positive steps to help others, not merely refrain from harmful act. Justice Justice as fair, equitable, and appropriate treatment in light of what is due or owed to persons.

Aliran Etika: Otonomi


Pasien yang berhak menetukan dan bukan dokter, juga seandainya

bukan pilihan terbaik menurut medis. Pasien perlu informasi yang baik, benar dan lengkap agar bisa mengambil keputusan yang adekuat. Untuk itu maka perlu informed consent

Aliran Etika: Otonomi


Penerapan Informed Consent menemui kendala: a. Penerapan informed consent itu mengandaikan level pendidikan tertentu dari pasien yang ternyata di Indonesia sangat variatif. Mengandaikan bahwa semua pasien kita berpendidikan tinggi jelas pengandaian yang salah; demikian pula sebaliknya, mengandaikan bahwa pasien kita bodoh semua, ini jelas salah juga. Ada orang yang sudah diterangkan tetapi tidak mengerti tetapi kalau tidak diterangkan jelas ada banyak yang menuntut.

Aliran Etika: Otonomi


Penerapan Informed Consent menemui kendala: b. Mengenai siapa yang harus tanda tangan juga tidak mudah penyelesainnya. Hukum hanya mengatakan bahwa persetujuan atau penolakan itu dilakukan oleh pasien yang kompeten atau keluarga terdekat. Siapa keluarga terdekat? Bagaimana kalau terjadi konflik antar mereka: siapa yang harus dimenangkan? Bagaimana kalau pasien mau tetapi keluarga tidak mau? Bagaimana kalau terjadi perselisihan antar anggota keluarga. Di negara maju mungkin lebih mudah karena semua biaya ditanggung oleh asuransi

Aliran Etika: Otonomi


Penerapan Informed Consent menemui kendala: c. Consentnya apakah individual atau keluarga atau kelompok? Ini juga tidak mudah untuk diatasi karena ada banyak orang Indonesia yang memang sudah individualis tetapi di beberapa tempat sangat komunal sehingga consent ini harus bersifat kekeluargaan atau bahkan suku. d. Ada dokter yang karena alasan pasiennya sangat banyak sehingga tidak punya waktu untuk menerangkan kepada pasien.

Aliran Etika: Otonomi


Walau banyak kesulitan, tetapi saya yakin bahwa suka atau tidak suka, etika paternalistik pasti akan ditinggalkan dan diganti dengan etika otonomi yang baru ini apalagi di UU praktek kedokteran sudah dicantumkan mengenai informed consent ini. Ini berarti pelanggarannya bisa terkena sangsi hukum dan bukan hanya sangsi etis.