Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

KUNJUNGAN PABRIK TAHU KALISARI

Oleh : Dalli Yogyavenny Rachman NIM A1H010053

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek percontohan mitigasi Gas Rumah Kaca (KRC) untuk industri tahu kecil di dua kawasan sentra industri kecil tahu di Purwokerto, yakni di Desa Kalisari dan Desa Ciroyom. Proyek percontohan ini terdiri dari tiga kegiatan salah satunya adalah membuat unit percontohan instalasi pengolahan limbah (IPAL) cair industri kecil tahu. Kedua kegiatan lainnya adalah perbaikan proses produksi dan efisiensi energi melelui pelatihan, pendampingan dan implementasi serta kajian sosial, ekonomi, kebijakan pada klaster industri kecil. Unit pengolahan limbah cair tahu yang dikembangkan dan dipasang di Desa Kalisari dan Dusun Ciroyom menggunakan model fixedbedreactor dan dibangun dengan sistem anaerobik. Pertimbangannya, sistem ini tidak memerlukan lahan yang besar dan tidak membutuhkan energi untuk aerasi. Keuntungan lain dari sistem ini adalah dalam prosesnya menghasilkan energi dalam bentuk biogas dan ampas serta air untuk makanan ikan dan ternak lain. Selain itu, prosesnya lebih stabil dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit.

B. Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktikum Kunjungan Pabrik Tahu Kalisari adalah untuk mengetahui proses pengolahan limbah cair tahu menjadi biogas.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah adalah sesuatu yang tidak berguna, tidak memiliki nilai ekonomi dan akan dibuang, apabila masih dapat digunakan maka tidak disebut limbah. Jenis limbah cair pada dasarnya ada 2 yaitu limbah industri dan limbah rumah tangga. Air dikatakan tercemar jika adanya penambahan makhluk hidup, energi atau komponen lainnya baik sengaja maupun tidak, kedalam air baik oleh manusia. Proses alam yang menyebabakan kualitas air turun sampai tingkat yangmenyebabkan air tidak sesuai dengan peruntukannya. Limbah cair yang termasuk limbah rumah tangga pada dasarnya hanya mengandung zat-zat organik yang dengan pengolahan yang sederhana atau secara biologi dapat menghilangkan poluten yang terdapat didalamnya. Proses pengolahan limbah cair adalah suatu perlakuan tertentu yang harus diberikan pada limbah cair sebelumlimbah tersebut dibuang ke lingkungan, sehingga limbah tersebut tidak mengganggu lingkungan penerima limbah. Besarnya volume limbah yang dihasilkan akan menjadi masalah jika melebihi dayadukung lingkungan. Efek negatif yang mungkin timbul seperti bau busuk, merembesnya airlimbah mencemari air tanah, penyakit gatal dan diare jika tercemar ke dalam air sungai yang dimanfaatkan manusia. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. Berbagai teknik

pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan: pengolahan secara fisika, pengolahan secara kimia, pengolahan secara biologi

Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah dengan cara bio-proses, yaitu mengolah limbah organik baik cair maupun organik secara biologis menjadi biogas dan produk alternatif lainnya seperti sumber etanol dan methanol. Dengan metode ini, pengelolaan limbah tidak hanya bersifat penanganan namun juga memiliki nilai guna/manfaat. Selain itu, dengan metode bio-proses, teknologi yang digunakan sederhana, mudah dipraktekkan dengan peralatan yang relatif murah dan mudah didapat sehingga para industri kecil dan menengah tidak lagi beranggapan bahwa pengolahan limbah cair merupakan beban yang sangat mahal. Biogas adalah suatu jenis gas yang biasa dibakar, diproduksi melalui proses fermentasi anaerobik bahan organik seperti kotoran ternak dan manusia, biomassa limbah pertanian atau campuran keduanya, didalam suatu ruang pencerna (digester). Komposisi biogas yang dihasilkan dari fermentasi tersebut terbesar adalah gas metan (CH4) sekitar 54-70% serta karbondioksida (CO2) sekitar 2745%. Gas metan (CH4) merupakan komponen utama biogas yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang memiliki banyak manfaat. Biogas mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu sekitar 4800 sampai 6700 kkal/m3, sedangkan gas metana murni mengandung energi 8900Kkal/m3. Langkah awal ini merupakan penentu keberhasilan IPAL di Desa Kalisari dan Desa Ciroyom. Kedua IPAL ini mampu mendegenerasi niai COD hingga 85% sehingga air hasil olahan dapat menjadi pakan ikan atau pakan ternak lain. Selain itu, dengan mengolah limbah cair sebanyak 5m3 per hari, IPAL juga menghasilkan gas metan yang dapat digunakan untuk keperluan memasak 27 rumah tangga per hari. Untuk mengelola biogas tersebut, para pengrajin tersebut membentuk kelompok. Kelompok inilah yang mengelola dan memelihara unit IPAL. Para anggota yang menikmati biogas memberikan iuran Rp 20.000,00 per bulan untuk biaya perawatan IPAL. Dengan biaya tersebut pengrajin dapat menghemat biaya bahan bakar. Menurut Kepala Desa Bapak Wibowo, warga sebelum memakai biogas biasa menggunakan kayu bakar seharga Rp 400.000,00 (sebanyak satu truk kecil) untuk keperluan produksi tahu dan memasak selama 6 hari, setelah menggunakan biogas, kayu bakar dapat digunakan hingga 8 hari.

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Kunjungan Pabrik Tahu Kalisari adalah kamera dan alat tulis.

B. Cara Kerja

1. Melakukan kunjungan ke wilayah UKM Tahu Kalisari 2. Mengamati dan mencatat tahapan-tahapan pengolahan limbah tahu menjadi biogas.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Prinsip kerja IPAL industri tahu cukup sederhana. Air limbah dari unit industri tahu dialirkan ke kolam penampungan melalui jaringan paralon.Tempat penampungan diletakkan pada sepetak tanah yang dihibahkan pemerintah daerah. Kolam itu mampu menampung 1,2 ton air limbah setiap hari. Dari kolam, air limbah dipompakan ke bioreaktor.Bioreaktor pada IPAL industri tahu menerapkan mekanisme fixed bed reactor. Bioreaktor dibuat dari sebuah tabung penampungan yang sebagiannya ditanam di dalam tanah.Tabung-tabung bambu kecil sepanjang 10 sentimeter dengan diameter 5-10 sentimeter dijejalkan secara teratur di dalam tabung reaktor. Tabung-tabung ini berfungsi sebagai tempat menempelnya mikroba pengurai gas beracun.Semakin banyak bambu, semakin besar luas permukaan tempat menempelnya mikroba.Mikroba pengurai yang digunakan berasal dari mikroba pengurai pada kotoran kerbau.Bakteri itu sanggup melakukan proses degradasi anaerobik senyawa organik.Proses degradasi inilah yang menguraikan gas metana dan karbon dioksida dari air limbah. Air limbah kini bersih dari gas beracun dan aman untuk dialirkan ke sungai. Perjalanan gas metana belum berakhir. Gas itu dialirkan ke ruang penampungan gas berupa tabung serat karbon yang ringan tapi kuat. Tabung ini bersifat fleksibel sehingga bisa mengembang hingga dua kali lipat jika gas yang dihasilkan lebih besar dari daya tampung awal.Daya tampung tabung penampungan gas mencapai 20 meter kubik.Dari tabung penampungan, gas metana dialirkan ke rumah warga sehingga bisa dimanfaatkan sebagai biogas untuk keperluan memasak.Setiap hari IPAL Desa Kalisari menampung 625 kilogram air limbah dari 15 unit usaha tahu dan mampu mengalirkan biogas ke 25 rumah di desa tersebut.Uniknya, pengaliran air limbah dan gas pada keseluruhan

proses dilakukan dengan cara alami. Memanfaatkan prinsip gravitasi dan tekanan. Jadi tidak perlu energi listrik. Minimnya konsumsi energi untuk menghasilkan biogas dari limbah air tahu membuat masyarakat tak lagi mengeluarkan ongkos untuk membeli gas yang setiap bulan bisa mencapai Rp 50 ribu per rumah.Meski demikian, masyarakat masih memiliki kewajiban menyumbang uang sebesar Rp 10 ribu per bulan guna perawatan IPAL. Uang itu digunakan untuk membayar seorang tenaga pengawas yang menjaga jaringan IPAL bebas dari kerusakan. Kementerian Riset dan Teknologi juga memberikan pelatihan dan buku panduan kepada warga untuk merawat IPAL. Warga juga diminta membentuk Paguyuban Biolita (Biogas Limbah Tahu) yang bertugas melakukan perbaikan swadaya jika terjadi kerusakan IPAL.

B. Pembahasan

Banyaknya kegiatan industri ini menghasilkan limbah yang tentunya akan menimbulkan banyak masalah apabila tidak dilakukan penanganan dan pengelolaan yang serius. Contohnya limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri tahu, diantaranya yaitu limbah padat (ampas tahu) dan limbah cair (air dadih). Ampas tahu juga dapat dibuat tepung yang disebut dengan tepung serat ampas tahu. Bentuk tepung seperti ini mempunyai sifat tahan lama, dan dapat menjadi bahan baku pengganti tepung terigu atau tepung beras untuk berbagai makanan. Untuk limbah cair yang dihasilkan dari industri tahu yaitu air sisa rendaman tahu dan air perasan tahu. Tentunya volume limbah cair yang dihasilkan cukup besar. Hal ini tentu akan akan mencemari lingkungan jika dibuang begitu saja ke lingkungan (sungai) tanpa adanya pengelolaan dan pengolahan. Untuk mengurangi beban pencemaran air limbah tahu maka dibuat Instalasi Pengolahan Limbah Cair (IPAL) agar buangannya tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan Data Pengelolaan Limbah Usaha Kecil (KLH, 2003) menunjukkan bahwa sebagian besar industri pangan termasuk industri tahu di Pulau Jawa kurang memperhatikan pengelolaan limbahnya terutama limbah cair. Jumlah limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuat tahu kira-kira 15-20 l/kg bahan baku kedelai, sedangkan bahan pencemarnya kira-kira untuk TSS sebesar 30 kg/kg bahan baku kedelai, BOD 65 g/kg bahan baku kedelai dan COD 130 g/kg bahan baku kedelai (EMDI & BAPEDAL, 1994).

Selama proses produksi tahu mulai dari proses perendaman, pencucian kedelai, pencucian peralatan proses produksi tahu, penyaringan, dan pengepresan atau pencetakan tahu dihasilkan limbah cair yang selama ini masih menjadi masalah bagi masyarakat sekitarnya akibat bau busuk yang ditimbulkan. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut dengan air didih (whey). Selain mengakibatkan bau busuk di sekitarnya, limbah cair proses produksi tahu juga menyebabkan dampak negatif seperti: 1. Menurunnya kualitas air permukaan seperti kali/sungai kecil, sungai, kolam, telaga, dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena kebanyakan industri tahu membuang limbah cairnya langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan terlabih dahulu sehingga menyebabkan pencemaran air yang mana dapat meningkatkan kehidupan mikroorganisme didalamnya. Tidak menutup kemungkinan dengan berambahnya mikroorganisme dapat berkembang pula bakteri patogen yang berbahaya bagi manusia. 2. Menurunnya kualitas air tanah seperti sumur dan mata air. 3. Sumber penyakit, penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai contoh, diare, hepatitis A, thypus, dan lain sebagainya. 4. Meningkatnya pertumbuhan nyamuk. 5. Menurunkan estetika lingkungan. Semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping pemandangan sungai yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu metode penanganan limbah yang tepat, terarah dan berkelanjutan. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah dengan cara bio-proses, yaitu mengolah limbah organik baik cair maupun organik secara biologis menjadi biogas dan produk alternatif lainnya seperti sumber etanol dan methanol. Dengan metode ini, pengelolaan limbah tidak hanya bersifat penanganan namun juga

memiliki nilai guna/manfaat. Selain itu, dengan metode bio-proses, teknologi yang digunakan sederhana, mudah dipraktekkan dengan peralatan yang relatif murah dan mudah didapat sehingga para industri kecil dan menengah tidak lagi beranggapan bahwa pengolahan limbah cair merupakan beban yang sangat mahal. Pemilihan sistem pengolahan air limbah didasarkan pada sifat dan karakter air limbah tahu itu sendiri. Sifat dan karakteristik air limbah sangat menentukan didalam pemilihan sistem pengolahan air limbah, terutama pada kualitas air limbah yang meliputi parameter-parameter ph, COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen Demand), dan TSS (Total Suspended Solid). Adapun proses pengolahan limbah cair tahu menjadi biogas di Desa Kalisari yaitu sebagai
berikut.

Proses pengolahan limbah tahu menjadi biogas adalah sebagai berikut : 1. Pertama limbah tahu cair dari berbagai home industri, dialirkan melalui pipa dan ditampung di sebuah bak penampung dengan bantuan listrik atau dipacu dengan listrik. 2. Setelah ditampung di bak penampungan, air limbah tersebut dialirkan ke bak penampung pusat. Pada bak tersebut, air limbah mengalami penyaringan lebih lanjut. 3. Kemudian, air limbah tersebut dialirkan menuju dua bak penampung lainnya yang letaknya sejajar dengan bak penampung pusat. Tujuannya untuk memperlancar proses aliran. 4. Setelah itu, air limbah yang berasal dari dua bak penampung masing-masing dialirkan menuju dua digester yang letaknya sejajar. 5. Di dalam digester tersebut, air limbah mengalami serangkaian proses yaitu proses fermentasi Bakteri EM 4 atau bakteri metana (10-20 % dari air limbah). Bakteri tersebut bersifat sebagai pemicu dan berfungsi menghasilkan gas metan yang merupakan komposisi utama biogas. Awalnya, bakteri tersebut menguraikan zat-zat organik seperti limbah tahu menjadi protein yang kemudian berubah menjadi gas metan. Digester dirancang dengan bentuk setengah bola agar kokoh dan kuat. Selain itu, digester didesign kedap udara karena proses yang terjadi yaitu secara anaerob (tidak membutuhkan oksigen)

dengan komposisi 40% limbah dan 60% ruang udara kosong. Ruang udara kosong tersebut digunakan sebagai ruang bagi gas yang dihasilkan oleh bakteri EM 4. 6. Pada digester, terdapat selang dengan dipacu oleh sebuah dinamo di ruang operasional. Aliran gas mengalir melalui selang , kemudian dialirkan menuju pipa-pipa di setiap rumah di Dusun Ciroyom. Mengalir tidaknya gas , diukur melalui parameter berupa manometer. Jika ketinggian air mencapai angka 20, pertanda gas sudah mengalir menuju rumah-rumah warga. 7. Air limbah yang tidak diuraikan oleh Bakteri EM 4 , disaring kembali melalui bak penyaringan dengan komposisi dari atas ke bawah yaitu batu koral seperti batu apung dan kerikil, arang, ijuk dan spon. 8. Air yang sudah disaring dialirkan menuju kolam ikan lele. Dengan air akhir saringan limbah tahu, ikan lele dapat berkembang biak dan tumbuh subur. Selain sebagai penunjang bagi ikan, air limbah juga dapat dimanfaatkan sebagai irigrasi pada sawah di sekitar tempat IPAL. Pada tahun 2009, para produsen sudah mulai memanfaatkan limbah cair dari produksi mereka untuk biogas, dan hasilnya cukup memadai, yaitu 19 UKM bisa memasok gas untuk 25 rumah. Kelompok pengguna dan pengelola limbah tahu sebagai biogas, atau biasa disebut dengan BIOLITA, dikenakan biaya Rp. 20.000,00/bulan untuk pemakaian gas selama 24 jam. Limbah tahu yang keluar menuju sungai sebelum diproses (proses biogas) memiliki ph 4,5 namun setelah diproses, limbah tahu mencapai ph 6,8 - 6,9 yaitu ph yang mendekati netral. COD sebelum pemrosesan adala sekitar 18000 mg/L, dan setelah pemrosesan menjadi 9000 mg/L. Pipa pada komponen pengolahan biogas memiliki panjang 300 m, pengisian digester dengan limbah tahu dilakukan mulai pukul 7 pagi atau jam 3 siang, apabila listrik padam, maka pengisian ini tidak bisa dilakukan. Terdapat 2 pipa, yaitu pipa besar dan pipa kecil, pipa besar ini digunakan untuk penyaluran limbah cair ke dalam digester, sedangkan pipa yang kecil digunakan untuk menyalurkan gas hasil dari pengolahan, menuju rumah-rumah penduduk. Terdapat stater yang digunakan untuk memancing keluarnya gas, stater merupakan tempat untuk

bakteri-bakteri penghasil gas metan. Terdapat potongan bambu yang direndam dalam kotoran sapi, bambu ini terletak didalam stater. Bambu harus diganti setelah 5-7 tahun pemakaian. Pada teknologi pembentukan biogas, gas yang dihasilkan memiliki panas yang tidak sebesar gas LPG. Hal tersebut dapat saja dianggap sebagai salah satu kelemahan dari biogas, namun bagi masyarakat pedesaan justru hal inilah yang meningkatkan daya terima masyarakat terhadap teknologi biogas tersebut. Adapun alasannya adalah: 1. Biogas dianggap aman oleh masyarakat pedesaan karena biogas tidak mudah terbakar dan meledak sehingga menghilangkan kekhawatiran akibat ledakan gas seperti pada gas LPG. 2. Padatan yang tertimbun pada reaktor mudaah dibersihkan dan dapat digunakan sebagai pupuk organik bagi tanaman budidaya. 3. Komponen reactor dan kompor seperti selang, pipa, kran KITZ dan kompor gas dapat diperoleh dengan mudah di tingkat lokal. 4. Kompor untuk biogas dapat digunakan kompor LPG yang telah dimodifikasi bagian selang pemasukannya sehingga dapat memakai kompor gas yang telah dimiliki oleh hampir semua rumah tangga di pedesaan. Biogas sangat bermanfaat bagi alat kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari-hari, misalnya sebagai bahan bakar kompor (untuk memasak), lampu, penghangat ruangan/gasolec, suplai bahan bakar mesin diesel, untuk pengelasan (memotong besi), dan lain-lain. Biogas dapat digunakan seabagai bahan bakar menghasilkan listrik. Ada beberapa alasan mengapa biogas merupakan bahan bakar alternative yang baik, selain ramah lingkungan dapat memproduksi energi yang besar yang berguna bagi manusia. Biogas juga tidak membahayakan lingkungan, seperti tidak menyebabkan global warming. Nilai kalori dalam 1 m3 biogas sekitar 6000 watt jam setara dengan liter minyak diesel. Sehingga jika biogas digunakan dengan benar, biogas bisa digunakan menggantikan gas alam. Sedangkan manfaat bagi lingkungan adalah dengan proses fermentasi oleh bakteri anaerob (bakteri methan) tingkat pengurangan pencemaran lingkungan dengan parameter BOD dan COD akan berkurang sampai dengan 98% dan air

limbah telah memenuhi standar baku mutu pemerintah sehingga layak dibuang ke sungai. Biogas secara tidak langsung juga bermanfaat dalam penghematan energi yang berasal dari alam, khususnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (minyak bumi) sehingga sumber daya alam tersebut akan lebih hemat dalam penggunaannya dalam jangka waktu yang lebih lama lagi. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa selama produksi tahu dihasilkan limbah cair yang menimbulkan masalah namun menguntungkan setelah diproses menjadi biogas dan dihasilkan juga limbah padat atau ampas tahu yang dapat diolah menjadi berbagai makanan atau pun pakan ternak. Hal tersebut dilakukan karena dalam 414 kal ampas tahu terdapat kandungan gizi yaitu protein (26,6 g), lemak (18,3 g), karbohidrat (41,3 g), kalsium (19 mg), fosfor (29 mg), besi (4,0 mg), vitamin B (0,20 mg) dan air (9,0 g) (KLH Propinsi Jawa Tengah, 2006). Karena sifat penggunaan tepung limbah tahu ini sifatnya sebagai bahan pengganti, maka pada proses pembuatan makanan maupun pakan ternak, selalu
diawali dengan pembuatan tepung limbah padat tahu terlebih dahulu. Proses

pembuatan tepung serat ampas tahu yaitu sejumlah limbah padat tahu (ampas tahu), diperas airnya selanjutnya dikukus 15 menit. Ampas yang sudah dikukus, diletakkan di atas nyiru atau papan, selanjutnya dijemur pada terik matahari ataupun dikeringkan dengan oven. Apabila dilakukan pengeringan dengan oven, dipakai temperatur 100oc selama 24 jam. Setelah kering dihaluskan dengan cara digiling atau diblender dan diayak. Simpan tepung tahu ditempat yang kering. Bentuk tepung seperti ini tahan lama, dan siap menjadi bahan baku pengganti tepung terigu atau tepung beras untuk berbagai makanan. Penambahan bahan lain disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan produk apa yang akan dibuat. Ampas tahu kebanyakan oleh masyarakat digunakan sebagai bahan pembuat tempe gembus. Hal ini dilakukan karena proses pembuatan tempe gembus yang mudah (tidak perlu keterampilan khusus) dan biayanya cukup murah. Selain tempe gembus, ampas tahu juga diolah untuk dijadikan pakan ternak. Proses pembuatannya yaitu campuran ampas tahu dan kulit kedelai yang sudah tidak digunakan dicampur dengan air, bekatul, tepung ikan dan hijauan, lalu diaduk hingga tercampur rata, kemudian siap diberikan untuk hewan ternak. Beberapa

produk makanan dan aneka kue yang dibuat dengan penambahan tepung serat ampas tahu adalah lidah kucing, chocolate cookie, cake (roti bolu), dan kerupuk
ampas tahu.

Selain diolah untuk biogas, limbah cair juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Limbah cair itu dapat dimanfaatkan menjadi pupuk setelah ditambahkan EM4 (Effective Microorganisme). EM4 adalah sejenis bakteri yang dibuat untuk membantu dalam pembusukan sampah organik atau limbah cair sehngga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk. Cara penggunaan pupuk ini adalah untuk setiap 1 liter pupuk cair dilarutkan dengan 10 liter air, kemudian disemprotkan pada tanaman. Pupuk cair ini dapat digunakan untuk tanaman padi, jagung, kedelai, buah dan sayur. Berdasarkan penelitian, efektifitas pupuk cair ini telah terbukti dapat mengendalikan jamur Pseudomonas pada tanaman padi, sehingga tanaman tersebut menjadi hijau dan subur.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Salah satu cara untuk mengatasi masalah pencemaran limbah cair tahu yaitu dengan Bio-Proses menjadi biogas. Proses pengolahan limbah tahu menjadi biogas adalah Tahu cair dialirkan melalui pipa dan ditampung di sebuah bak penampung, setelah ditampung di bak penampungan, air limbah tersebut dialirkan ke bak penampung pusat. Pada bak tersebut, air limbah mengalami penyaringan lebih lanjut. Kemudian, air limbah tersebut dialirkan menuju dua bak penampung lainnya tujuannya untuk memperlancar proses aliran. Lalu air limbah dialirkan menuju dua digester yang letaknya sejajar. Di dalam digester tersebut, air limbah mengalami serangkaian proses yaitu proses fermentasi. Aliran gas mengalir melalui selang , kemudian dialirkan menuju pipa-pipa di setiap rumah di Dusun Ciroyom. Mengalir tidaknya gas , diukur melalui parameter berupa manometer. Jika ketinggian air mencapai angka 20, pertanda gas sudah mengalir menuju rumah-rumah warga.

1. Saran

Sebaiknya asisten dapat lebih mengkondisikan praktikan ketika berada di lokasi kunjungan agar dalam melakukan praktikum, seluruh praktikan dapat memahami dengan baik proses yang dijelaskan saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.http://www.artikelkimia.info/cara-mengolah-limbah-cair 523705240820 11 (On-Line). Diakses pada 30 Mei 2013. Anonim. Http://www.kompas.com/kompas-cetak/0008/02/IPTEK/mikr10.htm (On-Line). Diakses pada 30 Mei 2013.

Hartati, Ninih Umi. 2008. Jurnal Pencemaran Organik Limbah Tahu di Sungai Desa Kalisari Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Halaman 4750. Nandiyanto,D.B,Asep.2007. Biogas Sebagai Peluang Pengembangan Energi Alternatif. Pikiran Rakyat. Nurhasan Ir. 1992. Unit Pengolah dan Biogas dari Air Limbah Tahu di Magelang. BPPI Semarang. Semarang. Raliby, Oesman et al. Pengolahan Limbah Cair Tahu menjadi Biogas pada Industri Pengolahan Tahu. Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan. Jawa Tengah Romli, Muhammad. 2009. Jurnal Beban Pencemaran Limbah Industri Tahu dan Analisis Alternatif Strategi Pengelolaannya. Halaman 151. Bogor : Institut Peranian Bogor.

LAMPIRAN