Anda di halaman 1dari 27

isolasi dan identifikasi corynobacterium diptheriae

{ Maret 28, 2010 @ 2:23 pm } { Uncategorized } { Tags: bakteri }


BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG Dewasa ini, Indonesia sangat riskan polemic polemic yang terjadi di masyarakat, terutama di lingkup Kesehatan Masyarakat. Dari berbagai aspek,kesehatan sangatlah penting dalam kehidupan, dan telah sangat banyak masyarakat yang memahami akan pentingnya kesehatan.Namun hal tersebut tarpati hanya pada kalangan atas yang memiliki tingkat perekonomian yang mencuupi,sedang kalangan menegah ke bawah tidak begitu besar kesadaran personal akan pentingnya kesehatan. Hal itu banyak disebabkan karena tingka perekonomian yang mencekik beleggu kesadaran tersebut. Sehingga belakangan ini banyak tersebar berbagai endemic penyakit di Indonesia,misalnya : Difteri. Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita. Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit. Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyphtheria, Pertusis dan Tetanus), penyakit difteri mulai jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

Untuk itulah sehingga dianggap perlu untuk menulis makalah ini yang berjudul ISOLAS I DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DIFTERIAE PADA SWAB TENGGOROK . 1. 2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut : Seperti apa Bakteri Corynebacterium diptheriaeberdasarkan pengklasifikasian dan morfologinya ? Bagaimana Corynebacterium diptheriae itu sendiri secara abstrakturnya ? Bagaimana Pemeriksaan Corynebacterium diptheriaeterhadap isolasi dan identifikasinya dari pra analitik hingga pasca analitik ? Bagaimana Pemeriksaan Bakteri Corynobacterium diptheriae secara skematis ? 1. 3. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae berdasarkan pengklasifikasiannya dan morfologinya. Untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae secara abstraktur terhadap sifat patogenitasnya. Untuk mengetahui pemeriksaan Corynobacterium diptheriae terhadap isolasi dan identifikasi dari pra analitik hingga pasca analitik. Untuk mengetahui skema pemeriksaan bakteri Corynobacterium diptheriae agar memudahkan dalam pemeriksaannya nanti bagi pranata laboratorium. BAB II PEMBAHASAN 1. 1. Klasifikasi Ilmiah Bakteri Corynebacterium diptheriae Kingdom Filum Ordo Famili : : : : Bacteria Actinobacteria Actinomycetales Corynebacteriaceae

Genus Spesies

: :

Corynebecterium Corynebacterium diphtheria : a. Corynebacterium diptheriae gravis

Sub spesies

b. Corynebacterium diptheriae mitis c. Corynebacterium diptheriae intermedius 1. 2. Morfology Bakteri Corynebacterium diptheriae Gram (+) batang, panjang/pendek, besar/kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, tidak bergerak, bergranula yang terletak di salah satu atau kedua ujung badan bacteri. Pada pewarnaan menurut Neisser, tubuh bacteri berwarna kuning atau coklat muda sedangkan granulanya berwarna biru violet ( meta chromatis ). Preparat yang dibuat langsung dari specimen yang baru diambil dari pasien, letanya bakteri seperti huruf huruf L, V, W, atau tangan yang jarinya terbuka atau sering di kenal sebagain Susunan sejajar / paralel / palisade / sudut tajam huruf V, L, Y / tulisan cina

Diameter 0,5 1 m dan panjangnya 1 8 m Menggembung pada satu ujungnya berbentuk gada club shape Berisi granula metakromatik Babes Berisi granula metakromatik Babes-Ernest dengan pewarnaan neisser / metilen blue loeffler Tidak punya spora Non motil Basil, Gram positif , pleiomorfik

Tidak tahan asam Dinding sel mengandung asam meso diaminopimelik, arabinosa, galaktosa, asam mikolik 1. 3. Abstrak Corynebacterium diptheriae

Corynebacterium diphtheriae merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Di alam, bakteri ini terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri yang berada dalam tubuh akan mengeluarkan toksin yang aktivitasnya menimbulkan penyakit difteri. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan, terutama terutama laring, amandel dan tenggorokan. Penyakit ini sering kali diderita oleh bayi dan anak-anak. Perawatan bagi penyakit ini adalah dengan pemberian antitoksin difteri untuk menetralkan racun difteri, serta eritromisin atau penisilin untuk membunuh bakteri difteri. Sedangkan untuk pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi dengan vaksin DPT. Patogenesis

Di alam, Corynebacterium diphtheriae terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri disebarkan melalui droplet atau kontak dengan individu yang peka. Bakteri kemudian tumbuh pada selaput mukosa atau kulit yang lecet, dan bakteri mulai menghasilkan toksin. Pembentukan toksin ini secara in vitro terutama bergantung pada kadar besi. Pembentukan toksin optimal pada kadar besi 0,14 g/ml perbenihan tetapi benar-benar tertekan pada 0,5 g/ml. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya toksin in vitro adalah tekanan osmotik, kadar asam amino, pH, dan tersedianya sumber-sumber karbon dan nitrogen yang cocok. Toksin difteri adalah polipeptoda tidak tahan panas (BM 62.000) yang dapat mematikan pada dosis 0,1 g/kg. Bila ikatan disulfida dipecah, molekul dapat terbagi menjadi 2 fragmen, yaitu fragmen A dan fragmen B. Fragmen B tidak mempunyai aktivitas tersendiri, tetapi diperlukan untuk pemindahan fragmen A ke dalam sel. Fragmen A menghambat pemanjangan rantai polipeptida (jika ada NAD) dengan menghentikan aktivitas faktor pemanjangan EF-2. Faktor ini diperlukan untuk translokasi polipeptidil- RNA transfer dari akseptor ke tempat donor pada ribosom eukariotik. Fragmen toksin A menghentikan aktivitas EF-2 dengan mengkatalisis reaksi yang menhasilkan nikotinamid bebas ditambah suatu kompleks adenosin difosfat-ribosa-EF-2 yang tidak aktif. Diduga bahwa efek nekrotik dan neurotoksik toksin difteria disebabkan oleh penghentian sintesis protein yang mendadak.

1. PEMERIKSAAN Corynebacterium diphtheriae PRA ANALITIK PENGAMBILAN SPESIMEN, PENYIMPANAN, dan PENGIRIMAN A.TUJUAN Untuk mendapatkan spsimen usap tenggorok yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan baktriologik Waktu pngambilan

Setiap saat terutama pada phase akut , sebaiknya sebelum pemberian antimokroba. B.PERALATAN DAN BAHAN 1. Peralatan Spatula lidah 2. Bahan Lidi kapas steril Media transport (Amies/stuart Media) Media isolasi (Agar darah, Agar Cystin Tellurite, Agar Loeffler) Pewarna gram dan Neisser

D.PROSEDUR PENGAMBILAN Penderita duduk ( kalau anak-anak dipangku) Penderita diminta membuka mulut Lidah ditekan dengan sptel liidah Masukkan lidi kapas yang sudah dibasahi dengan saline steril hingga menyentuh dinding belakang faring Usap kekiri dan kanan dinding belakang faring dan tonsil lalu tarik keluar dengan hatihati, tanpa menyentuh bagian mulut yang lain.

Masukkan lidi kapas ke dalam media transport atau langsung tanam pada media isolasi (Agar darah, Agar Cystin Telluritee, Agar Loeffler) dan di buat sediaan. E.PEMBERIAN IDENTITAS 1. Formulir permintaan pemeriksaaan Surat pngantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiiknya memuat secara lengkap : Tanggal permintaan Tanggal dan jam pengambilan specimen Identitas pasien ( Nama, umurr, jenis kelamin, alamat, nomor rekam medik ) identtits pengirim ( nama, alamat, nomor telepon) identits specimen ( jenis, volume, lokasi pengambilan) pemeriksaan laboratorium yang di minta nama pengambil spsimen transport media ketrangan klinis : diagnosis atau riwayat singkat pnyakit, riwayat pengobatan.

2. Label Wadah specimen yang dikirim ke laboratorium diberi label yang harus memuat : 1. Tanggal pengambilan specimen 2. Identitas pasien 3. Jenis Spesimen F. PENYIMPANAN SPESIMEN Bila specimen tidak dapat di simpan pada heri yang sama, specimen disimpan dalam refrigerator (20 80C).Untuk biiakan bakteri mikroaerofilikdisimpan dalam suasana CO 2 5-10 % ( Sungkup lilin ) G. PENGIRIMAN SPESIMEN Pengiriman specimen dilakukan dengan menggunakan cool box (20 80C). kecuali jika waktu perjalanan yang diperlukan kurang dari 24 jam. ANALITIK

Terlepas dari hal itu, proses analitik secara sistematis dan komprehensif adalah sebagai berikut : 1. A. CULTUR DAN BIOKIMIA Tumbuhnya aerob dengan suhu optimum 370C Untuk dapat tumbuh dengan baik medianya perlu diperkaya dengan darah atau serum Blood Agar Plate anhaemolytis Tellurite blood agar plate:Koloni kecil-kecil,abu-abu tengahnya hitam,hitam elabu atau hitam seluruhnya,mengkilat,smooth,cembung Loeffler Serum Nutrient Agar Media gula-gula Lactose Mannitol Sucrose Trehalose Maltose Catalase Tes Urea hydrolysa Motility Nitrat reduksi : alkalis : alkalis : acalis : asam : asam : (+) : (-) : (-) : (+) :Koloni subur,smooth,putih cream,sedikit cembung :Koloni kurus,smooth,putih dengan bercak hitam : Glucose : asam :Koloni kecil-kecil,putih keruh,smooth,cembung,haemolytis atau

Bahan pemeriksaan ditanam pada perbenihan di atas, kemudian di nkubasi 37C selama 1 malam kecuali agar telurit selama 2 malam. Hasil biakan pada Loefler terlihat koloni-koloni barwarna putih, selanjutnya dibuat preparat Albert atau Neisser. Dari telurit cair ditanam

pada loefler sebagai tanaman ulangan, dan pada agar darah diperiksa adanya kumankuman pathogen lainnya. 1. B. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Corynebacterium diptheriae 1. Tujuan : Melakukan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab infeksi saluran

pernapasan bagian atas pada penderita dan pada carier. 1. Peralatan : Inkubator, kaca objek, kaca penutup, lampu spiritus, mikroskop,

sengkelit, sungkup lilin. 1. C. Media & Reagen Agar darah Agar Loeffler Agar Cysttin Tellurite Pewarnaan Gran Pewarnaan Neisser 1. D. Prosedur Pemeriksaan Hapus tenggorokan, hapus hidung atau dari tempat lain yng mencurigakan . Identifikasi berdasarkan atas : 2. Pembiakan 3. Uji biokimia 4. Uji virulensi 1. 1. Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan gram dan neisser Dibuat preparat hapus dari bahan pemeriksaan dan diwarnai dengan Neisser dan Gram, hasil yang diamatai adalah sebagai berikut : Bentuk Warna 1. Pemeriksaan mikroskopik

Batang Granula Susunan Batang Seperti huruf cina atau membentuk hurup V, L, T 1. 2. Pemeriksaan Biakan Dengan menggunakan Media antara ain : Media Loeffler Agar, agar tellurite, agar darah, gula-gula, tellurite cair, Blood Tellurite Agar. Loeffler : gunanya untuk menyuburkan bakteri sehingga bila dibuat preparatakan

tampak granula yang jelas. Blood Tellurite Agar : Media selektif differensial.

Agar tellurit : gunanya untuk isolasi koloni-koloni Corynebacterium diphtheriae yang

selanjutnya ditanam pada gula-gula untuk difteri. Telurit cair : berguna sebagai media pengaya. Agar darah : gunanya untuk membiak kuman-kuman lainnya seperti Streptococcus

haemolyticus dan Staphylococcus aerus Gula-gula untuk difteri : glukosa serum dan sakarosa serum untuk membedakan C.

diptheri dengan kuman sejenis Adapun proses pemeriksaan bakterinya adalah sebagai berikut : 1. Inokulasi Dari media Transport maupun secara langsung specimen ditanam pada : Agar darah untuk isolasi Corynebacterium diptheriae Agar Loeffler untuk isolasi Corynebacterium diptheriae Agar Cysttin Tellurite untuk isolasi Corynebacterium diptheriae 1. Inkubasi

Agar darah pada suhu 35 370C dalam sungkup lilin selama 24 48 jam. Agar Cysttin Tellurite dan Agar Loeffler pada suhu 35 370C selama 24 48 jam 1. Amati Pertumbuhan koloni pada media isolasi : Koloni yang tumbuh dilakukan pewarnaan Neisser, bila dijumpai adanya granula dilanjutkan dengan uji identifikasi tes biokimia dan tes virulensi.

Tes biokimia Koloni tersangka yang berwarna abu-abu hitam pada agar telurit ditanam pada glukosa serum dan sakarosa serum (atau bisa pula ditambahkan amylum), kemudian dieram pad suhu 370C selama 1 malam. Hasil pengamatan adalah sebagai berikut : Glukosa Sakarosa Amylum C. diphteriae + +/C. Xerosis C. hofmanii Tes virulensi Tes ini digunakan untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae yang diisolasi adalah virulen arena menghasilkan eksotoksin, yang dilakukan dengan dua cara, yakni : a. in vivo b. in vitro caranya : : : Intrakutan dan tes subkutan Tes elek-Ouchterlony (gel difusi gel dari elek) pada medium gel yang mengandung serum, sebelum mengeras +++ --

diletakan 1 strip kertas yang telah dijenuhi dengan antitoksin pada tengah-tengah medium dan ditekan perlahan ke bawah permukaan dengan pingset steril.Kemudian medium dibiarkan mengeras.Setelah itu biakan dari bakteri difteri yang dicurigai digoreskan menyilang dengan tegak lurus pada strip kertas.Perlu juga digoreskan biakan bakteri sebagai control positif maupun negative.Setelah diinkubasi pada suhu 37 0C seama 24 48 jam, dilihat ada tidaknya garis presipitasi yang terjadi pada bakteri tes. 1. E. Pembacaan dan Interpretasi hasil

1. Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan Gram Yakni : Gram Positif Batang, Panjang Pendek, Besar Kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, ada pool korrel pada salah satu atau kedua ujungnya. 1. Biakan Koloni tersangka yang tumbuh pada media sebagai berikut : :Koloni kecil-kecil,putih keruh,smooth, cembung,haemolytis atau

Blood Agar Plate anhaemolytis Tellurite blood agar

:Koloni kecil-kecil,abu-abu tengahnya hitam,hitam kelabu atau

hitam seluruhnya,mengkilat,smooth,cembung Loeffler Serum :Koloni subur, smooth,putih cream, sedikit cembung

Pembacaan dan interpretasi hasil disesuaikan terhadap sifat sifat spesifikasi bakteri Corynebacterium diptheriae seperti yang telah diutarakan sebelumnya. PASCA ANALITIK Melakukan sterilisasi terhadap berbagai alat-alat yang telah digunakan agar dapat steril dan tidak mengkontaminasi benda-benda yang lain dengan dimasukan ke dalam autoklaf Terhadap Media atau bahan-bahan hasil pemeriksaan yang infeksius dilakukan pemusnahan dengan pembakaran panas tinggi , dengan menggunakan incinerator. Mencuci tangan dengan sabun setelah memeriksa agar steril dari zat-zat yang infeksius 1. 5. SKEMA PEMERIKSAAN ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Corynebacterium diptheriae HARI 1 :

Spesimen ditanam pada Blood agar plate dan Tellurite Blood agar plate Masuk incubator 370C selama 24 jam

HARI 2

Koloni yang tersangka Corynobacterium diptheriae o Dibuat 2 preparat : : untuk melihat adanya Gram (+) batang

1. Satu dicat Gram

2. Satu dicat Neisser : untuk melihat adanya granula bakteri Ditanam Subcultur di media Loeffler Serum blood agar tube atau BHI agar tube

HARI 3 Koloni yang tumbuh di Loeffler Serum atau Blood agar tube atau BHI agar tube, di buat smear dicat menurut Neisser untuk melihat ada tidaknya granula/poalkorrel. Selain itu juga di tanam di dalam media gula-gula dan media identifikasi yang lain. Masuk Inkubator 370C selama 24 jam

HARI 4 Dibaca dan dicatat pertumbuhan media gula dan media identifikasi. Setelah dilakukan tes kimia kemudian dicocokan dengan sifat-sifat Culturil dan Biochemisnya, serta Morphologisnya untuk menentukan diagnosisnya. BAB III PENUTUP KESIMPULAN v Bakteri Corynobacterium diptheriae : Gram (+) batang, panjang/pendek, besar/kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, tidak bergerak, bergranula yang terletak di salah satu atau kedua ujung badan bacteri. v Pemeriksaan dilakukan : Pemeriksaan Mikroskopis, Pemeriksaan Biakan bakteri, Tes Biokimia, Tes Virulensi. v Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan gram dan neisser. v Biakan bakteri pada media, antara lain : Media Loeffler Agar, agar tellurite, agar darah, gula-gula, tellurite cair, Blood Tellurite Agar.

v Tes biokimia Corynobacterium diptheriae memberikan hasil terhadap Glukosa, v Sakarosa, Amylum yakni sebagai berikut : C. Xerosis C. hofmanii +++ -C. diphteriae + +/-

v Tes virulensi dilakukan dengan dua cara yakni : in vivo dan in vitro.

KELOMPOK IV Di Susun Oleh : 1. 1. ROLLY ISWANTO IBRAHIM 1. 2. RACHMITA 1. 3. RATNA SARI 1. 4. RIKA RAHIM 1. 5. MUNAWAR 1. 6. MUHAMAD ABILLAH KADIR 1. 7. MUHAMMAD AGUSTIAWAN 1. 8. NURMAWATI

1. 9. NURAENI 1. 10. RIAN A. PRATAMA DAFTAR PUSTAKA v Jawetz, E., 1996, Mikrobiologi Kedokteran, EGC, Jakarta. v Oswari, E., 1991. Penyakit dan Penanggulangannya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

v Soemarno.Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinik.Aademi Analis Kesehatan Yogjakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Yogjakarta v Tim Mikrobiologi.2003.Bakteriologi Medik.Bayumedia Publishing: Malang v http://www.majalahmeditao.com/523/dyphteria/#more-523 v http://www.unsoed.ac.id/cmsfak/UserFiles/File/PSKp/linklokal/PENATALAKSANAAN%20SP ESIMEN2.ppt. v http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Mikrobiologi/CORYNEBACTERIUM.pdf. DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang.1 2. 2. Rumusan Masalah.2 3. 3. Tujuan Penulisan2 BAB II PEMBAHASAN 1. 1. Klasifikasi Ilmiah Bakteri Corynobacterium diptheriae3 2. 2. Morfologi Bakteri Corynobacterium diptheriae..3-4 3. 3. Abstrak Corynobacterium diptheriae..4 4. 4. Pemeriksaan Corynobacterium diptheriae5-10 5. 5. Skema Pemeriksaan Corynobacterium diptheriae11 BAB III PENUTUP Kesimpulan..12 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG Dewasa ini, Indonesia sangat riskan polemic polemic yang terjadi di masyarakat, terutama di lingkup Kesehatan Masyarakat. Dari berbagai aspek,kesehatan sangatlah penting dalam kehidupan, dan telah sangat banyak masyarakat yang memahami akan pentingnya

kesehatan.Namun hal tersebut tarpati hanya pada kalangan atas yang memiliki tingkat perekonomian yang mencuupi,sedang kalangan menegah ke bawah tidak begitu besar kesadaran personal akan pentingnya kesehatan. Hal itu banyak disebabkan karena tingka perekonomian yang mencekik beleggu kesadaran tersebut. Sehingga belakangan ini banyak tersebar berbagai endemic penyakit di Indonesia,misalnya : Difteri. Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita. Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit. Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyphtheria, Pertusis dan Tetanus), penyakit difteri mulai jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Untuk itulah sehingga dianggap perlu untuk menulis makalah ini yang berjudul ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DIFTERIAE PADA SWAB TENGGOROK . 1. 2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut : Seperti apa Bakteri Corynebacterium diptheriaeberdasarkan pengklasifikasian dan morfologinya ? Bagaimana Corynebacterium diptheriae itu sendiri secara abstrakturnya ? Bagaimana Pemeriksaan Corynebacterium diptheriaeterhadap isolasi dan identifikasinya dari pra analitik hingga pasca analitik ? Bagaimana Pemeriksaan Bakteri Corynobacterium diptheriae secara skematis ?

1. 3. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae berdasarkan pengklasifikasiannya dan morfologinya. Untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae secara abstraktur terhadap sifat patogenitasnya. Untuk mengetahui pemeriksaan Corynobacterium diptheriae terhadap isolasi dan identifikasi dari pra analitik hingga pasca analitik. Untuk mengetahui skema pemeriksaan bakteri Corynobacterium diptheriae agar memudahkan dalam pemeriksaannya nanti bagi pranata laboratorium. BAB II PEMBAHASAN 1. 1. Klasifikasi Ilmiah Bakteri Corynebacterium diptheriae Kingdom Filum Ordo Famili Genus Spesies Sub spesies : : : : : : Bacteria Actinobacteria Actinomycetales Corynebacteriaceae Corynebecterium Corynebacterium diphtheria : a. Corynebacterium diptheriae gravis

b. Corynebacterium diptheriae mitis c. Corynebacterium diptheriae intermedius 1. 2. Morfology Bakteri Corynebacterium diptheriae

Gram (+) batang, panjang/pendek, besar/kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, tidak bergerak, bergranula yang terletak di salah satu atau kedua ujung badan bacteri.

Pada pewarnaan menurut Neisser, tubuh bacteri berwarna kuning atau coklat muda sedangkan granulanya berwarna biru violet ( meta chromatis ). Preparat yang dibuat langsung dari specimen yang baru diambil dari pasien, letanya bakteri seperti huruf huruf L, V, W, atau tangan yang jarinya terbuka atau sering di kenal sebagain Susunan sejajar / paralel / palisade / sudut tajam huruf V, L, Y / tulisan cina

Diameter 0,5 1 m dan panjangnya 1 8 m Menggembung pada satu ujungnya berbentuk gada club shape Berisi granula metakromatik Babes Berisi granula metakromatik Babes-Ernest dengan pewarnaan neisser / metilen blue loeffler Tidak punya spora Non motil Basil, Gram positif , pleiomorfik Tidak tahan asam Dinding sel mengandung asam meso diaminopimelik, arabinosa, galaktosa, asam mikolik 1. 3. Abstrak Corynebacterium diptheriae

Corynebacterium diphtheriae merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Di alam, bakteri ini terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri yang berada dalam tubuh akan mengeluarkan toksin yang aktivitasnya menimbulkan penyakit difteri. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan, terutama terutama laring, amandel dan tenggorokan. Penyakit ini sering kali diderita oleh bayi dan anak-anak. Perawatan bagi penyakit ini adalah dengan pemberian

antitoksin difteri untuk menetralkan racun difteri, serta eritromisin atau penisilin untuk membunuh bakteri difteri. Sedangkan untuk pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi dengan vaksin DPT. Patogenesis

Di alam, Corynebacterium diphtheriae terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri disebarkan melalui droplet atau kontak dengan individu yang peka. Bakteri kemudian tumbuh pada selaput mukosa atau kulit yang lecet, dan bakteri mulai menghasilkan toksin. Pembentukan toksin ini secara in vitro terutama bergantung pada kadar besi. Pembentukan toksin optimal pada kadar besi 0,14 g/ml perbenihan tetapi benar-benar tertekan pada 0,5 g/ml. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya toksin in vitro adalah tekanan osmotik, kadar asam amino, pH, dan tersedianya sumber-sumber karbon dan nitrogen yang cocok. Toksin difteri adalah polipeptoda tidak tahan panas (BM 62.000) yang dapat mematikan pada dosis 0,1 g/kg. Bila ikatan disulfida dipecah, molekul dapat terbagi menjadi 2 fragmen, yaitu fragmen A dan fragmen B. Fragmen B tidak mempunyai aktivitas tersendiri, tetapi diperlukan untuk pemindahan fragmen A ke dalam sel. Fragmen A menghambat pemanjangan rantai polipeptida (jika ada NAD) dengan menghentikan aktivitas faktor pemanjangan EF-2. Faktor ini diperlukan untuk translokasi polipeptidil- RNA transfer dari akseptor ke tempat donor pada ribosom eukariotik. Fragmen toksin A menghentikan aktivitas EF-2 dengan mengkatalisis reaksi yang menhasilkan nikotinamid bebas ditambah suatu kompleks adenosin difosfat-ribosa-EF-2 yang tidak aktif. Diduga bahwa efek nekrotik dan neurotoksik toksin difteria disebabkan oleh penghentian sintesis protein yang mendadak. 1. PEMERIKSAAN Corynebacterium diphtheriae PRA ANALITIK PENGAMBILAN SPESIMEN, PENYIMPANAN, dan PENGIRIMAN A.TUJUAN Untuk mendapatkan spsimen usap tenggorok yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan baktriologik Waktu pngambilan

Setiap saat terutama pada phase akut , sebaiknya sebelum pemberian antimokroba. B.PERALATAN DAN BAHAN 1. Peralatan Spatula lidah 2. Bahan Lidi kapas steril Media transport (Amies/stuart Media) Media isolasi (Agar darah, Agar Cystin Tellurite, Agar Loeffler) Pewarna gram dan Neisser

D.PROSEDUR PENGAMBILAN Penderita duduk ( kalau anak-anak dipangku) Penderita diminta membuka mulut Lidah ditekan dengan sptel liidah Masukkan lidi kapas yang sudah dibasahi dengan saline steril hingga menyentuh dinding belakang faring Usap kekiri dan kanan dinding belakang faring dan tonsil lalu tarik keluar dengan hatihati, tanpa menyentuh bagian mulut yang lain. Masukkan lidi kapas ke dalam media transport atau langsung tanam pada media isolasi (Agar darah, Agar Cystin Telluritee, Agar Loeffler) dan di buat sediaan. E.PEMBERIAN IDENTITAS 1. Formulir permintaan pemeriksaaan Surat pngantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiiknya memuat secara lengkap : Tanggal permintaan Tanggal dan jam pengambilan specimen

Identitas pasien ( Nama, umurr, jenis kelamin, alamat, nomor rekam medik ) identtits pengirim ( nama, alamat, nomor telepon) identits specimen ( jenis, volume, lokasi pengambilan) pemeriksaan laboratorium yang di minta nama pengambil spsimen transport media ketrangan klinis : diagnosis atau riwayat singkat pnyakit, riwayat pengobatan.

2. Label Wadah specimen yang dikirim ke laboratorium diberi label yang harus memuat : 1. Tanggal pengambilan specimen 2. Identitas pasien 3. Jenis Spesimen F. PENYIMPANAN SPESIMEN Bila specimen tidak dapat di simpan pada heri yang sama, specimen disimpan dalam refrigerator (20 80C).Untuk biiakan bakteri mikroaerofilikdisimpan dalam suasana CO2 5-10 % ( Sungkup lilin ) G. PENGIRIMAN SPESIMEN Pengiriman specimen dilakukan dengan menggunakan cool box (20 80C). kecuali jika waktu perjalanan yang diperlukan kurang dari 24 jam. ANALITIK Terlepas dari hal itu, proses analitik secara sistematis dan komprehensif adalah sebagai berikut : 1. A. CULTUR DAN BIOKIMIA Tumbuhnya aerob dengan suhu optimum 370C Untuk dapat tumbuh dengan baik medianya perlu diperkaya dengan darah atau serum Blood Agar Plate anhaemolytis :Koloni kecil-kecil,putih keruh,smooth,cembung,haemolytis atau

Tellurite blood agar plate:Koloni kecil-kecil,abu-abu tengahnya hitam,hitam elabu atau hitam seluruhnya,mengkilat,smooth,cembung Loeffler Serum Nutrient Agar Media gula-gula Lactose Mannitol Sucrose Trehalose Maltose Catalase Tes Urea hydrolysa Motility Nitrat reduksi : alkalis : alkalis : acalis : asam : asam : (+) : (-) : (-) : (+) :Koloni subur,smooth,putih cream,sedikit cembung :Koloni kurus,smooth,putih dengan bercak hitam : Glucose : asam

Bahan pemeriksaan ditanam pada perbenihan di atas, kemudian di nkubasi 37C selama 1 malam kecuali agar telurit selama 2 malam. Hasil biakan pada Loefler terlihat koloni-koloni barwarna putih, selanjutnya dibuat preparat Albert atau Neisser. Dari telurit cair ditanam pada loefler sebagai tanaman ulangan, dan pada agar darah diperiksa adanya kumankuman pathogen lainnya. 1. B. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Corynebacterium diptheriae 1. Tujuan : Melakukan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab infeksi saluran

pernapasan bagian atas pada penderita dan pada carier. 1. Peralatan : Inkubator, kaca objek, kaca penutup, lampu spiritus, mikroskop,

sengkelit, sungkup lilin. 1. C. Media & Reagen

Agar darah Agar Loeffler Agar Cysttin Tellurite Pewarnaan Gran Pewarnaan Neisser 1. D. Prosedur Pemeriksaan

Hapus tenggorokan, hapus hidung atau dari tempat lain yng mencurigakan . Identifikasi berdasarkan atas : 2. Pembiakan 3. Uji biokimia 4. Uji virulensi 1. 1. Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan gram dan neisser Dibuat preparat hapus dari bahan pemeriksaan dan diwarnai dengan Neisser dan Gram, hasil yang diamatai adalah sebagai berikut : Bentuk Warna Batang Granula Susunan Batang Seperti huruf cina atau membentuk hurup V, L, T 1. 2. Pemeriksaan Biakan Dengan menggunakan Media antara ain : Media Loeffler Agar, agar tellurite, agar darah, gula-gula, tellurite cair, Blood Tellurite Agar. 1. Pemeriksaan mikroskopik

Loeffler : gunanya untuk menyuburkan bakteri sehingga bila dibuat preparatakan

tampak granula yang jelas. Blood Tellurite Agar : Media selektif differensial.

Agar tellurit : gunanya untuk isolasi koloni-koloni Corynebacterium diphtheriae yang

selanjutnya ditanam pada gula-gula untuk difteri. Telurit cair : berguna sebagai media pengaya. Agar darah : gunanya untuk membiak kuman-kuman lainnya seperti Streptococcus

haemolyticus dan Staphylococcus aerus Gula-gula untuk difteri : glukosa serum dan sakarosa serum untuk membedakan C.

diptheri dengan kuman sejenis Adapun proses pemeriksaan bakterinya adalah sebagai berikut : 1. Inokulasi Dari media Transport maupun secara langsung specimen ditanam pada : Agar darah untuk isolasi Corynebacterium diptheriae Agar Loeffler untuk isolasi Corynebacterium diptheriae Agar Cysttin Tellurite untuk isolasi Corynebacterium diptheriae 1. Inkubasi Agar darah pada suhu 35 370C dalam sungkup lilin selama 24 48 jam. Agar Cysttin Tellurite dan Agar Loeffler pada suhu 35 370C selama 24 48 jam 1. Amati Pertumbuhan koloni pada media isolasi : Koloni yang tumbuh dilakukan pewarnaan Neisser, bila dijumpai adanya granula dilanjutkan dengan uji identifikasi tes biokimia dan tes virulensi. Tes biokimia

Koloni tersangka yang berwarna abu-abu hitam pada agar telurit ditanam pada glukosa serum dan sakarosa serum (atau bisa pula ditambahkan amylum), kemudian dieram pad suhu 370C selama 1 malam. Hasil pengamatan adalah sebagai berikut : Glukosa Sakarosa Amylum C. diphteriae + +/C. Xerosis C. hofmanii Tes virulensi Tes ini digunakan untuk mengetahui bakteri Corynobacterium diptheriae yang diisolasi adalah virulen arena menghasilkan eksotoksin, yang dilakukan dengan dua cara, yakni : a. in vivo b. in vitro caranya : : : Intrakutan dan tes subkutan Tes elek-Ouchterlony (gel difusi gel dari elek) pada medium gel yang mengandung serum, sebelum mengeras +++ --

diletakan 1 strip kertas yang telah dijenuhi dengan antitoksin pada tengah-tengah medium dan ditekan perlahan ke bawah permukaan dengan pingset steril.Kemudian medium dibiarkan mengeras.Setelah itu biakan dari bakteri difteri yang dicurigai digoreskan menyilang dengan tegak lurus pada strip kertas.Perlu juga digoreskan biakan bakteri sebagai control positif maupun negative.Setelah diinkubasi pada suhu 370C seama 24 48 jam, dilihat ada tidaknya garis presipitasi yang terjadi pada bakteri tes. 1. E. Pembacaan dan Interpretasi hasil 1. Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan Gram Yakni : Gram Positif Batang, Panjang Pendek, Besar Kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, ada pool korrel pada salah satu atau kedua ujungnya. 1. Biakan Koloni tersangka yang tumbuh pada media sebagai berikut :

Blood Agar Plate anhaemolytis Tellurite blood agar

:Koloni kecil-kecil,putih keruh,smooth, cembung,haemolytis atau

:Koloni kecil-kecil,abu-abu tengahnya hitam,hitam kelabu atau

hitam seluruhnya,mengkilat,smooth,cembung Loeffler Serum :Koloni subur, smooth,putih cream, sedikit cembung

Pembacaan dan interpretasi hasil disesuaikan terhadap sifat sifat spesifikasi bakteri Corynebacterium diptheriae seperti yang telah diutarakan sebelumnya. PASCA ANALITIK Melakukan sterilisasi terhadap berbagai alat-alat yang telah digunakan agar dapat steril dan tidak mengkontaminasi benda-benda yang lain dengan dimasukan ke dalam autoklaf Terhadap Media atau bahan-bahan hasil pemeriksaan yang infeksius dilakukan pemusnahan dengan pembakaran panas tinggi , dengan menggunakan incinerator. Mencuci tangan dengan sabun setelah memeriksa agar steril dari zat-zat yang infeksius 1. 5. SKEMA PEMERIKSAAN ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Corynebacterium diptheriae HARI 1 :

Spesimen ditanam pada Blood agar plate dan Tellurite Blood agar plate Masuk incubator 370C selama 24 jam

HARI 2 Koloni yang tersangka Corynobacterium diptheriae o Dibuat 2 preparat :

1. Satu dicat Gram

: untuk melihat adanya Gram (+) batang

2. Satu dicat Neisser : untuk melihat adanya granula bakteri Ditanam Subcultur di media Loeffler Serum blood agar tube atau BHI agar tube

HARI 3 Koloni yang tumbuh di Loeffler Serum atau Blood agar tube atau BHI agar tube, di buat smear dicat menurut Neisser untuk melihat ada tidaknya granula/poalkorrel. Selain itu juga di tanam di dalam media gula-gula dan media identifikasi yang lain. Masuk Inkubator 370C selama 24 jam

HARI 4 Dibaca dan dicatat pertumbuhan media gula dan media identifikasi. Setelah dilakukan tes kimia kemudian dicocokan dengan sifat-sifat Culturil dan Biochemisnya, serta Morphologisnya untuk menentukan diagnosisnya. BAB III PENUTUP KESIMPULAN v Bakteri Corynobacterium diptheriae : Gram (+) batang, panjang/pendek, besar/kecil, polymorph, tidak berspora, tidak berkapsul, tidak bergerak, bergranula yang terletak di salah satu atau kedua ujung badan bacteri. v Pemeriksaan dilakukan : Pemeriksaan Mikroskopis, Pemeriksaan Biakan bakteri, Tes Biokimia, Tes Virulensi. v Pemeriksaan Mikroskopis dengan pewarnaan gram dan neisser. v Biakan bakteri pada media, antara lain : Media Loeffler Agar, agar tellurite, agar darah, gula-gula, tellurite cair, Blood Tellurite Agar. v Tes biokimia Corynobacterium diptheriae memberikan hasil terhadap Glukosa, v Sakarosa, Amylum yakni sebagai berikut : C. Xerosis C. hofmanii +++ -C. diphteriae + +/-

v Tes virulensi dilakukan dengan dua cara yakni : in vivo dan in vitro