Anda di halaman 1dari 2

Pamungkas 08205244106 PRIVASI HARI INI ADALAH KONSUMSI Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sebuah artikel di surat

kabar, yang berjudul Budaya Malu Kini Mulai Bergeser; Ketika Aib Keluarga Mudah diumbar. Disebutkan bahwa manusia masa kini mengalami pergesaran nilai. Bergosip dan membicarakan aib atau permasalahan orang lain sudah menjadi kebiasaan dan keseharian. Masyarakat saat ini menganut konsumerisme. Paradigma moderat akan kebutuhan immaterial, menjadikan rasa ingin tahu akan aib orang lain menjadi berlebihan. Masyarakat dibentuk oleh media. Mereka dibentuk supaya mengamini bahwa bergosip dan mengumbar aib itu sesuatu yang lumrah. Perkembangan informasi dan teknologi, jejaring social laiknya facebook dan twitter semakin mempermudah masyarakat untuk mengumbar aib dan bergosip. Dunia yang tidak nyata (maya) menjadi suatu hal yang melebihi kenyataan. Di satu sisi, manusia yang digosipkan justru cenderung mengumbar segala sesuatu. Termasuk aib. Mereka melakukan pencitraan. Mereka ingin diakui bahwa mereka ada. Sehingga karena dorongan yang demikian mulailah mereka mengumbar aib, karena pencitraan yang berlebihan. Bila dikaitkan dengan budaya timur, terutama falsafah Jawa, kita mengenal istilah mikul dhuwur mendhem jero yang berarti menjunjung derajat orang tua dan keluarga, dan tidak menjelekkan atau malah mengumbar aib keluarga atau orang tua. Keadaan ini sangat berhubungan dengan pranata kekeluargaan, mata pencaharian, dan teknologi. Pranata kekeluargaan, berhubungan dengan solah bawa dalam bertutur kata, berperilaku, serta bertindak dalam keluarga, serta menjaga nama baik keluarga. Masyarakat Jawa mengenal istilah ajining dhiri saka ing lathi, ajining awak saka tumindak, ajining raga saka busana. Istilah ini mengajarkan kita supaya menjaga tutur kata, perilaku, serta tindakan, di mana saja dan kapan saja. Pranata mata pencaharian, ini berhubungan dengan media. Salah satunya contohnya adalah televisi. Infotaimen pun juga hanya melakukan pekerjaan mereka. Mencari informasi (gosip) para selebriti atau orang terkenal terkait kehidupan pribadi mereka. Ini merupakan pergeseran nilai. Di mana kehidupan

pribadi seseorang menjadi komoditi. Sehingga para pelaku infotaimen ini pun kadang keterlaluan dengan mengumbar aib pribadi seseorang tersebut. Pranata teknologi, membuat media untuk mengumbar aib dan bergosip semakin mudah. Ini adalah salah satu contoh penyalahgunaan fungsi teknologi. Facebook dan twitter menjadi media yang masif dalam hal tersebut. Bukankah masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama? Saya sangat yakin bahwa dalam agama pun juga telah diatur tentang ketidakbaikan mengumbar aib diri sendiri dan orang lain. Masyarakat Indonesia pun juga masyarakat yang berbudaya, dan tak ada budaya yang mengajarkan untuk bergosip dan mengumbar aib. Masyarakat kebanyakan telah terhegemoni masyarakat metropolitan. Dimana gosip dan mengumbar aib adalah sesuatu yang lumrah. Masyarakat yang berbudaya dan beragama telah terjangkit penyakit dan sampah metropolitan. Dan yang menjadi renungan, remaja yang menjadi calon penerus bangsa justru hari ini telah teracuni. Seharusnya masyarakat Indonesia, terutama Jawa bisa menyaring dan memilah mana yang baik dan yang buruk untuknya. Sebab masyarakat Jawa memiliki pegangan, yaitu falsafah Jawa, falsafah kehidupan yang masih kontekstual hingga saat ini. Bila ini diterapkan, tentu saja masyarakat yang ayem, tentrem, kerta raharja, bahagia lahir batin, selaras-serasi-seimbang dapat dicapai. Sebuah masyarakat madani/tauhid menurut ajaran Islam.