Anda di halaman 1dari 17

TUGAS TEKNIK KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

OLEH ; KELOMPOK V
WIDYA GEMA BESTARI (110405028) SIGIT PURWANTO (110405029) HENNI DIAN DIANA T (110405030) RANDY RASPUTRA (110405031) KELVIN HADINATAN(110405032) ILOAN PANDANG HM (110405033) JELSEN (110405034) YOS POWER AMBARITA (110405035)

TAHUN AJARAN 2011/2012 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1

DAFTAR ISI
Daftar Isi .......................................... 1. Pendahuluan . 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan .. 2. Sumber Pencemaran pada Industri Pengolahan Pupuk 3. Pencemaran dari Industri Pupuk dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia ............................................ . 3.1 Pupuk Organik yang Masih Berpotensi Tercemar . . 3.2 Amoniak ............................ 3.3 Timbal ... 3.4 Penggunaan Deterjen . 3.5 Nitrogen ... 4. Pengelolaan dan Pengolahan Limbah .. 4.1 Upaya Pengelolaan .... 4.2 Pelaksanaan Produksi Bersih .. 4.3 Upaya pengolahan(treatment) . 5. Kesimpulan dan Saran ..... 6. Daftar Pustaka ....... 2 3 3 5 6 7 7 8 9 9 10 12 12 13 14 16 17

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Limbah mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya.Limbah ini dikenal dengan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai bahan dalam jumlah relatif sedikit tapi mempunyai potensi mencemarkan/merusakkan lingkungan kehidupan dan sumber daya. Sebagailimbah, kehadirannya cukup mengkhawatirkan terutama yang bersumber dari pabrik industri bahan beracun dan berbahaya banyak digunakan sebagai bahan baku industri. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dankimia bahan itu sendiri, baik dari jumlah maupun kualitasnya.Melihat pada sifat-sifat limbah, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang diperlukan langkah pencegahan, penanggulangan dan pengelolaan.Industri merupakan salah satu aktivitas manusia. Dalam perkembangannyaindustri memberikan manfaat bagi kehidupan manusia seperti menyerap tenagakerja, menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan oleh manusia dansebagainya. Namun disamping itu proses produksi yang dijalankan denganmenggunakan teknologi dan bahan-bahan dapat membahayakan kehidupan.Apabila hal tersebut tidak dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan gangguan, penurunan kualitas kehidupan sampai terjadinya disaster .Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair ydigunakan mensuplai bahanorganik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman umumnya sedikit mengandung bahan berbahaya. Namun penggunaan pupuk kandang,limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos/pupuk organik cukup mengkhawatirkan karena banyak mengandung bahan berbahaya seperti misalnya logam berat dan asam-masam organik yang dapat mencemari
3

lingkungan.

Selama

proses

pengomposan,

beberapa

bahan

berbahaya

ini

justruterkonsentrasi dalam produk akhir pupuk. Untuk itu diperlukan seleksi bahandasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3).Di Indonesia sebenarnya pupuk organik itu sudah lama dikenal para petani. Mereka bahkan telah mengenal pupuk organik sebelum Revolusi Hijau turut melanda pertanian di Indonesia. Setelah Revolusi Hijau kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murahkarena di subsidi, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani sudah sangat tergantung kepada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian, ketika terjadi kelangkaan pupuk dan harga pupuk naik karena subsidi pupuk dicabut, serta belum lagi bahan dasar pupuk- pupuk tersebut yang mungkin saja berpotensi menimbulkan limbah yang membahayakan lingkungan.

1.2 Tujuan Untuk mengetahui lebih lanjut pada industri pembuatan pupuk, dimana dalam prosesnya ini akan kita ketahui tentang pencemaran-pencemaran yang mungkin saja terjadi. Di samping itu, tugas makalah ini dibuat sebagai pemenuhan tugas kepada dosen yang bersangkutan pada mata kuliah TK3.

BAB II SUMBER PENCEMARAN PADA INDUSTRI PENGOLAHAN PUPUK Industri pengolahan pupuk termasuk dalam kategori penghasil limbah B3,yang antara lain meliputi pabrik pembuatan, limbah padat, pabrik yangmenghasilkan zat buangan yang mencemari udara sehingga sampai kepadalingkungan daratan. Penggunaan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun zat pelarut (solvent-base). Kemudian pada pabrik yang terjadi ledakan atau kebocoran pada tanki amoniak.Dari pabrik juga tentunya akan ada penggunaan detergen yangmengandung bahanbahan seperti surfaktan (surface active agent) yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoranyang menempel pada permukaan bahan. Surfaktan pada deterjen pencuci pakaian dikategorikan sebagai anionik, umumnya tersusun dari alkyl benzene sulfonaterantai bercabang (ABS), alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS) dan AlphaOlefin Sulfonate (AOS). Nitrogen atau N2 di dalam pabrik kimia biasa digunakan sebagai media untuk melindungi bahan kimia yang sensitif terhadap pengaruh bahaya oksigen(O).

BAB III PENCEMARAN DARI INDUSTRI PUPUK SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN MANUSIA 3.1 Pupuk Organik yang masih berpotensi tercemar Pupuk anorganik secara temporer telah meningkatkan hasil pertanian,tetapi keuntungan hasil panen akhirnya berkurang banyak dengan adanya penggunaan pupuk ini karena adanya sesuatu yang timbul akibat adanya degradasi(pencemaran) lingkungan pada lahan pertanian. Alasan utama kenapa pupuk anorganik menimbulakan pencemaran pada tanah adalah karena dalam prakteknya banyak kandungan yang terbuang. Penggunaan pupuk buatan ( anorganik ) yangterus- menerus akan mempercepat habisnya zat- zat organik , merusak keseimbangan zat- zat makanan di dalam tanah, sehingga menimbulkan berbagai penyakit tanaman.Walau telah meminimalkan penggunaan bahan kimia (pestisida dan pupuk), belum ada jaminan produk pangan organik yang dihasilkan terbebas dari bakteri beracun. Penelitian mikrobiologis keamanan pangan organik yangdilakukan di IPB dengan meneliti 3 contoh sayuran yang diperoleh dari perkebunan yang berbeda, menunjukkan jika pengomposan pupuk organik kurangsempurna bisa berakibat hasil panennya berpeluang mengandung bakteri patogenseperti Salmonella dan Escherichia coli. Karena itu pencucian yang seksama(menggunakan air matang) penting untuk menjamin keamanan sayuran organik.Akibat pencemaran dari limbah industri dan pemakaian pupuk anorganik yang terlalu banyak secara terus menerus menyebabkan unsure hara yang ada didalam tanah menurun. Di negara Indonesia sendiri, sebagian besar lahan pertaniantelah berubah menjadi lahan kritis. Lahan pertanian yang telah masuk dalamkondisi kritis mencapai 66% dari total 7 juta hektar lahan pertanian yang ada diIndonesia. Kesuburan tanah di lahan- lahan yang menggunakan pupuk anorganik dari tahun ke tahun menurun.

3.2 Amoniak Sebagai suatu industri pembuatan pupuk, PT. Petrokimia Gresik menyadari akan adanya resiko bahaya yang sangat potensial seperti kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan. Bahaya yang memungkinkan dapat berdampak luas adalah apabila terjadi ledakan atau kebocoran pada tankiamoniak. Amoniak adalah bahan baku pembuatan urea, dalam pabrik terdapatkelebihan amoniak yang kemudian di tampung dalam tanki khusus penyimpanamoniak. Amoniak merupakan zat yang sangat valatile dengan titik didih normal -33OC pada tekanan atmosferis. Amoniak sendiri merupakan bahan racun yangdapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan tenggorokan. Bahaya terhadapmanusia yaitu pada konsentrasi NH3= 90 ppm, pH mencapai 11 dan ini merupakan racun (toxic ), sebagai gas amoniak menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, mata dan kulit. Amoniak tersebut dapat dikategorikan bahaya tinggi karena amonia mempunyai sifat anhydrous yaitu apabila amonia tersebut terkena tekanan atmosfir 1atm akan berubah fase menjadi uap. Tangki amonia di pabrik PT. Petrokimia Gresik ini pernah mengalami peledakan pada atap tangki padatahun 2001 dengan memakan korban dari pegawai PT. Petrokimia gresik sendirimaupun dari pihak masyarakat disekitar pabrik.Untuk melindungi karyawan dan masyarakat sekitar dari kemungkinanadanya paparan amoniak ke udara, maka secara rutin bagi laboratorium kimia PT.Pupuk Kaltim menganalisa gas pencemar secara rutin ke lokasi-lokasi sumber pencemar di pabrik dan area sekitar, termasuk ke lokasi pemukiman penduduk. Namun hal yang dikhawatirkan bagi semua adalah kegagalan operasi maupunfaktor lain yang menyebabkan terlepasnya gas amoniak ke udara dalam jumlah besar yang dipastikan dapat mengakibatkan kecelakaan industri.Faktor lain yang paling beresiko tinggi adalah jika tanki tersebutmeledak/pecah dan apalagi bila terjadi pada keduanya, maka lingkungan akanmenerima dampak yang sangat serius baik terhadap manusia maupun terhadap perairan sekitar, Amoniak memiliki 2 spesies kimia yaitu NH3(dalam bentuk gas)dan NH4+(dalam bentuk terionisasi). Dalam air kedua spesies ini berada dalam keseimbangan. NH3 + H2O NH4 + OH- . Kecelakaan oleh karena bocornya anhydrous amoniak dapat
8

berakibat kerusakan-kerusakan berantai yang prosesnya dapat sangat cepat terjadi. Demikian pula bila sejumlah anhydrous amoniak bebas di udara dan mencapai volume gas amoniak 16-17%, maka dapat timbul ledakan(explosion) ledakan ini menjadi sumber api terhadap semburan amoniak yang keluar dengan tekanan tinggi. Kebakaran amoniak akan segera meningkatkan suhu sekitar dan memacu kebakaran lain. Bilas uhu kritis dilampui tanpa ledakan, maka suhu sekitar akan meningkat secepatnyayang dapat mencapai suhu auto ignition pada 6510C. Bila ini terjadi sudah pastiakan merupakan bahaya besar bagi lingkungan. 3.3 Timbal (Pb) Tingginya kadar logam Pb dimungkinkan karena merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dari pihak PT Petrokimia Gresik dalam proses pengangkutan hasil industrinya yang limbahnya terbuang ke laut. Umumnya bahan bakar minyak mendapat zat tambahan tetraetyl yang mengandung Pb untuk meningkatkan mutu, sehingga limbah dari kapal-kapal tersebut dapat menyebabkan kadar Pb di perairan tersebut menjadi tinggi. Rendahnya kadar logam berat dimungkinkan karena adanya proses pengenceran oleh faktor pola pasang surut. Saat melakukan sampling , keadaan gelombang air laut diperkirakancukup besar, sehingga logam berat tersebut mengalami proses pengenceran cukuprendah. Timbal (Pb) merupakan salah satu pencemar yang dipermasalahkan karena bersifat sangat toksik dan tergolong sebagai bahan buangan beracun dan berbahaya. Kadar Pb di perairan Gresik telah melebihi batas maksimum baku mutu yaitu 0,03 ppm (PP RI Nomor 82 /2001) sehingga tergolong tercemar. Pada uji pendahuluan menunjukkan kadar Pb pada air tambak dekat laut, permukiman penduduk, dan industri masing-masing sebesar 0,049 ppm, 0,2137ppm dan0,1352 ppm. 3.4 Penggunaan Detergen Menurut Asosiasi Pengusaha Deterjen Indonesia (APEDI), surfaktananionik yang digunakan di Indonesia saat ini adalah alkyl benzene sulfonate rantai
9

bercabang (ABS) sebesar 40% dan alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS)sebesar 60%. Dibandingkan dengan LAS, ABS merupakan senyawa yang lebihsukar terurai secara alami. Oleh karenanya, pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masihdigunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena : harganya murah,kestabilannya dalam bentuk krim pasta dan busanya melimpah . Penggunaan deterjen dapat mempunyai risiko bagi kesehatan dan lingkungan. Risiko deterjen yang paling ringan pada manusia berupa iritasi(panas, gatal bahkan mengelupas) pada kulit terutama di daerah yang bersentuhanlangsung dengan produk. Hal ini disebabkan karena kebanyakan produk deterjenyang beredar saat ini memiliki derajat keasaman (pH) tinggi. Dalam kondisiiritasi/terluka, penggunaan produk penghalus apalagi yang mengandung pewangi, justru akan membuat iritasi kulit semakin parah.Dalam jangka panjang, air minum yang telah terkontaminasi limbahdeterjen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker (karsinogenik).Proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan klor akan membentuk senyawa klorobenzena yang sangat berbahaya.Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum,mengingat digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor) sebagai pembunuh kuman pada proses klorinasi. 3.5 Nitrogen Nitrogen atau N2di dalam pabrik kimia biasa digunakan sebagai mediauntuk melindungi bahan kimia yang sensitif terhadap pengaruh bahaya oksigen(O2). Sebagai contoh adalah lanketing tanki penyimpanan bahan mudah terbakar ( flammable material ) dan pipa/tank purging (N2purging ). Namun, ketika sebuah tanki misalnya akan dibuka untuk dilakukan clean-up atau maintenance, maka muncullah bahaya dari nitrogen sebagai gas inert.Keberadaan nitrogen mengganggu konsentrasi aman dari oksigen dalam tanki,meskipun manhole dari tanki sudah dibuka.. Kekurangan oksigen akibat konsentrasi
10

nitrogen yang berlebih, bias menyebabkan oxygen defisiensi, dengan resiko terburuk kematian.

11

BAB IV PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN LIMBAH 4.1 Upaya Pengelolaan Agroindustri tidak melulu membahas mengenai pengolahan bahan hasil pertanian untuk dijadikan suatu produk, tapi perlu juga membahas mengenai penanganan limbahnya, karena limbah itu sangat penting dan jika kita biarkantanpa penanganan akan berbahaya bagi lingkungan. Bagi lingkungan terdekat dari lokasi tangki penyimpan amoniak adalah perairan laut, dimana perlu mendapat perlindungan terhadap pencemaran. Air merupakan salah satu senyawa kimia yang penting dalam kehidupan dan peradaban manusia di bumi ini. Hal ini sebabkan oleh jumlah air yang banyak,sifat-sifat kimia dan fisika dari air yang sangat unik dan peranannya yang pentingdalam proses biologi. Parameter fisika digunakan untuk menentukan kualitas air yang meliputi cahaya, suhu, kecerahan/kekeruhan, warna, konduktifitas, salinitasdan lain-lain. Untuk itu perairan laut sekitar dan limbah industri, perlu diukur salinitasnya. Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat diperairan (Boyd,1988). Salinitas mengambarkan padatan total dalam air setelah semua karbonatdikonversi menjadi oxida.Agar dapat dilaksanakan secara efektif, sistem manajemen lingkunganharus mencakup beberapa unsur utama sebagai berikut : a)Kebijakan Lingkungan :pernyataan tentang maksud kegiatan manajemenlingkungan dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk mencapainya. b)Perencanaan : mencakup identifikasi aspek lingkungan dan persyaratan peraturan lingkungan hidup yang bersesuaian, penentuan tujuan pencapaian dan program pengelolaan lingkungan. c)Implementasi : mencakup struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab, training, komunikasi, dokumentasi, kontrol dan tanggap darurat. d) Pemeriksaan reguler dan Tindakan perbaikan : mencakuppemantauan, pengukuran dan audit.
12

e)Kajian manajemen : kajian tentang kesesuaian dan efektivitas sistem untuk mencapai tujuan dan perubahan yang terjadi diluar organisasibercabang (ABS) sebesar 40% dan alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS)sebesar 60%. Dibandingkan dengan LAS, ABS merupakan senyawa yang lebihsukar terurai secara alami. Oleh karenanya, pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masihdigunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena : harganya murah,kestabilannya dalam bentuk krim pasta dan busanya melimpah.Penggunaan deterjen dapat mempunyai risiko bagi kesehatan danlingkungan. Risiko deterjen yang paling ringan pada manusia berupa iritasi(panas, gatal bahkan mengelupas) pada kulit terutama di daerah yang bersentuhanlangsung dengan produk. Hal ini disebabkan karena kebanyakan produk deterjenyang beredar saat ini memiliki derajat keasaman (pH) tinggi. Dalam kondisiiritasi/terluka, penggunaan produk penghalus apalagi yang mengandung pewangi, justru akan membuat iritasi kulit semakin parah.Dalam jangka panjang, air minum yang telah terkontaminasi limbahdeterjen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker (karsinogenik).Proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksidengan klor akan membentuk senyawa klorobenzena yang sangat berbahaya.Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum,mengingat digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor) sebagai pembunuh kuman pada proses klorinasi. 4.2 Pelaksanaan Produksi Bersih 1) Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan melaluiupaya minimisasi limbah, daur ulang, pengolahan, dan pembuanganlimbah yang aman. 2) Mendukung prinsip pemeliharaan lingkungan dalam rangka daur hidup perusahaan.Dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktifitas melalui penerapan proses produksi, penggunaan bahan baku dan energI yang efisien.
13

3) Mencegah atau memperlambat degradasi lingkungan dan mengurangieksploitasi sumber daya alam melalui penerapan daur ulang limbah dan dalam proses yang akhirnya menuju pada upaya konservasi sumber daya alam. 4) Memberi peluang keuntungan ekonomi, sebab didalam ProduksiBersih terdapat strategi pencegahan pencemaranpada sumbernya ( sourcereduction end in process recycling ), yaitu mencegah terbentuknya limbah secara dini, dengan demikian dapat mengurangi biaya investasi yang harusdikeluarkan untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan lingkungan 5) Memperkuat daya saing produk di pasar global. 6) Meningkatkan citra perusahaan dan meningkatkan kepercayaan konsumenterhadap produk urea dan amoniak yang dihasilkan. 7) Mengurangi tingkat bahaya kesehatan dan keselamatan. 4.3 Melakukan pengolahan (Treatment) Minimisasi Limbah adalah upaya untuk mencegah dan/atau mengurangi timbulnya limbah, dimulai sejak pemilihan bahan, teknologi proses, penggunaan materi dan energi dan pemanfaatan produk sampingan pada suatu sistem produksi. Minimisasi limbah dapat dilakukan dengan cara reduce, reuse, recycle, danrecovery. 1) Reduce adalah upaya untuk mengurangi pemakaian/penggunaan bahan bakuseefisien mungkin didalam suatu proses produksi. Juga memperhatikan agar limbah yang terbuang menjadi sedikit. 2) Reuse adalah upaya penggunaan limbah untuk digunakan kembali tanpa mengalami proses pengolahan atau perubahan bentuk.Reuse dapat dilakukan didalam ataudiluar daerah proses produksi yang bersangkutan. 3) Recycle adalah upaya pemanfaatan limbah dengan cara proses daur ulang melalui pengolahan fisik atau kimia, baik untuk menghasilkan produk yang sama

14

maupun produk yang berlainan. Daur ulang dapat dilakukan didalam atau diluar daerah proses produksi yang bersangkutan. 4) Recovery adalah upaya pemanfaatan limbah dengan jalan memproses untuk memperoleh kembali materi/energi yang terkandung didalamnya.

15

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1) Industri merupakan salah satu aktivitas manusia. Dalam perkembangannyaindustri memberikan manfaat bagi kehidupan manusia seperti menyeraptenaga kerja, menghasilkan produkproduk yang dibutuhkan oleh manusia dan sebagainya. Namun disamping itu proses produksi yang dijalankan dengan menggunakan teknologi dan bahan-bahan dapat membahayakan kehidupan. Apabila hal tersebut tidak dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan gangguan, penurunan kualitas kehidupan sampai terjadinya disaster 2) Industri pengolahan pupuk termasuk dalam kategori penghasil limbah B3,yang antara lain meliputi pabrik pembuatan, limbah padat, pabrik yang menghasilkan zat buangan yang mencemari udara sehingga sampai kepada lingkungan daratan. Penggunaan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun zat pelarut (solvent-base).Kemudian pada pabrik yang terjadi ledakan atau kebocoran pada tanki amonia 3) Melakukan pengelolaan serta pengembangan teknologi dalam upaya minimasi serta pengolahan limbah.

16

DAFTAR PUSTAKA

http://tech.groups.yahoo.com/group/majalah/salam/message/56/ http://ilmuwanmuda.wordpress.com/pencemaran-tanah-oleh-pupuk/ http://fani46.multiply.com/journal/item/5 http://gbioscience05.wordpress.com/2008/05/26/indonesia-di-lintasan-limbah-b3- bahanberacunberbahaya/ http://aahabib.co.cc/info-kesehatan/bahaya-detejen-bagi-kesehatan/ http://www.petrokimiagresik.com/history.asp http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3240030 Sulanjana, Agung dkk. 2005. Makalah Industri Pupuk dan Amonia. Bandung;Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI. Goenawan. 1999. Kimia 2B. Jakarta: Gramedia Widiasrana Indonesia.Palar, H. 1994. P encemaran dan Toksikologi Logam Berat . Jakarta:

17