Anda di halaman 1dari 5

PEDOMAN PENGORGANISASIAN YANG TEPAT DAN TERARAH AKAN BERDAMPAK PADA EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PELAYANAN SERTA UPAYA

PEMBINAAN ,PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN MUTU DAPAT BERLANGSUNG DENGAN BAIK.


Manajemen Rumah sakit yang berorientasi pada efisiensi dan efektivitas serta peningkatan mutu pelayanan dapat dilaksanakan melalui pendekatan organisasi fungsionil berbentuk matriks yang didukung dengan segala perangkat organisasi yang diperlukan .ditetapkan dengan peraturan Menkes nomor : 1045/Menkes/Per/1X/2006( Pedoman Organisasi Rumah Sakit dilingkungan Departemen Kesehatan .Dengan harapan rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelayanan yang : Efktif, Efisiensi dan bermutu. Rumah sakit adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan rawat inap dan rawat jalan yaitu berupa pelayanan jangka pendek dan layanan jangka panjang yang terdiri dari : Observasi, Dianostik ,terapuitik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita sakit,cidera dan melahirkan .

Pelayan medik adalah upaya kesehatan perorangan meliputi


pelayanan :

Promotif Preventif, Kuratif dan rehabilitatif yang diberikan oleh tenaga medis sesuai standar pelayanan medis dengan memanfaatkan sumber daya dan fasilitas secara normal.

Pelayanan medik spesialistik dasar adalah termasuk:


Penyakit dalam , Kebidanan dan kandungan , Bedah , dan Kesehatan anak .

Pelayanan medik spesialistik penunjang adalah :


Anesthesi, Patologi klinik dan Radiologi

Tugas rumah sakit adalah melaksanaan:


Ppelayanan kesehatan Paripurna , Pendidikan dan Pelatihan .

Susunan Organsasi Rumah sakit


Ada lima klasifikasi rumah sakit : 1. 2. 3. 4. Rumah sakit Kelas A ( tipe A ). Rumah Sakit Kelas B : Pendidikan dan Non Pendidikan ( tipe B ) Rumah Sakit Kelas C ( tipe C) Rumah Sakit Kelas D.( tipe D )

Tipe A terdiri dari :


a. b. c. d. Direktur . 4 Direktorat masing-masing direktorat terdiri paling banyak 3 bidang . Masing-masing Bidang terdiri paling banyak 3 seksi Masing-masing Seksi terdiri paling banyak 3 Subbagian

Tipe Umum B terdiri dari :


1. 2. 3. 4. Direktur Membawahi 3 direktorat yang masing-masing direktorat terdiri paling banyak 3 bidang. Masing masing bidang terdiri paling banyak 3 seksi dan Masing-masing seksi terdiri paling banyak 3 subbagian

Tipe C terdiri dari :


1. Direktur yang membawahi paling banyak 2 bagian 2. Masing masing bagian terdiri paling banyak 3 seksi 3. Masing-masing seksi terdiri paling banyak 3 subbagian.

Tipe D terdiri dari :


1. Direktur yang membawahi 2 seksi 2. Masing-masing seksi paling banyak membawahi 3 subbagian

UNIT-UNIt NON STRUKTURAL .


Terdiri dari :

a.Satuan Pengawasan Interen ( SPI) adalah


1. Satuan Pengawas Intern (SPI ) adalah satuan kerja fungsionil bertugas melaksanakan pengawasan interen rumah sakit. 2. Satuan Pengawasan Interen berada dibawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan .

3. Dibentuk dan ditetapkan oleh pimpinan.

b.Komite Adalah wadah non struktural


Terdiri dari tenaga ahli atau profesi yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada pimpinan rumah sakit dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit . Komite ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit sesuai kebutuhan rumah sakit sekurang-kurang terdiri dari Komite Medik dan Hukum dan bertanggung jawab kepada pimpinan. Komite dipimpim seorang ketua yang diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan Pembentukan dan perubahan jumlah ditetapkan oleh pimipinan rumah sakit setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pelayanan Medik

c. Instlasi
Adalah unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayan,pendidikan dan penlitian rumah sakit . Pembentukan instalasi ditetakan oleh pimpinan sesuai kebuuhan dan dipimpin oleh seorang kepala diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan rumah sakit.yang dibantu oleh tenaga fungsional dan atau non medis Pembentukan dan perubahan jumlah dan jenis instalsi dilaporkan tertulis kepada Dirjen Yan Med. d.Kelompok Jabatan Fungsional. Bertugas sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarka aturan dan undang-undang. Terdiri dari sejumlah kelompok tenaga fungsional sesuai dengan bidang keahliannya jumlah mereka disesuaikan dengan kebutuhan dan beban kerja e.Staf Medik Fungsional ( SMF ) Terdiri dari kelompok dokter yang bekerja dibidang medis dalam jabatan fungsional yang bertugas melaksanakan : Diagnose , Pengobatan,Pencegahan akibat penyakit ,Peningkatan dan Pemulihan kesehatan ,Penyuluhan ,Pendidikan , Pelatihan ,Penelitian , dan pengembangan . Dalam melaksanaan tugasnya Staf Medik Fungsional menggunakan pendektan tim dengan tenaga profesi terkait

f.Eselonisasi
Eselonisasi untuk rumah sakit sesuai dengan klasfikasi nya : Rumah Sakit tipe A

1. Direktur Utama adalah jabatan struktural eselon 11 a.atau 11 b ( Direktur ) 2. Kepala Bidang ( Bagian ) adalah jabatan struktural eselon 111a 3. Kepala seksi ( subagian ) adalah jabatan struktural eselon 1V a. Rumah Sakit tipe B 1. Direktur Utama jabatan struktural 11 A (RSU Pendidikan ) dan 11 b untuk Non Pendididkan. 2. Direktur adalah jabatan struktural 111 a ( RSU Pendidikan ) dan 111b RSU non Pendidikan 3. Kepala bidang adalah jabatan struktural 111a rsu pendidikan ) dan 1V a ( RSU non Pendidikan 4. Subbagian dan Seksi jabatan struktural eselon 1V a RSU Pendidikan dan non pendidikan Rumah sakit tipe C. 1. Direktur adalah jabatan struktural eselon 111 .a 2. Kepala bidang adalah jabatan struktural eselon 111.b 3. Seksi dan subagian jabatan sruuktural eselon 1V. B Rumah Sakit tipe D . 1. Direktur adalah jabatan struktural eselon 111.b 2. Seksi dan subbagian adalah jabatan eseslon 1V.b.

Standar AkreditaSI Rumah Sakit


Sesuai dengan Undang-undang No.44 tahun 2009 pasal 40 ayat 1 menyatakan bahwa ,dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit Wajib dilakukan Akreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali.Meskipun Akreditasi Rumah Sakit telah berlangsung sejak 1995 dengan berbasis 5 pelayanan ,12 pelayanan 16 pelayanan ,namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta makin kritisnya masarakat Indonesia dalam menilai mutu pelayanan kesehatan , maka dianggap perlu dilakukan perubahan yang bermakna terhadap mutu rumah sakit di Indonesia. Perubahan tersebut tentunya harus diikuti dengan pembaharuan standar akreditasi rumah sakit yang lebih berkualitas dan menuju standar international .Sistim akreditasi sebagian besar mengacu kepada Joint Commision International( JCI).dan dilengkapi dengan Milinium Decelopment Goals ( MDG,s) meliputi PONEK ,HHIV, dan TB DOTS dan standar standar yang berlaku di Kementrian Kesehatan RI . Target yang akan dicapai 2011 hampir 60 % dan diharapkan tahu n 2014 diharapkan mencapai 100 % .Disini berperan Komisi Akreditasi Rumah Sakit ( KARS ) ,Organisasi Profesi Dinkes Propinsi /kabupaten /kota dalam membantu KemenkesRI untuk mencapai target kita bersama ditahun 2014

Standar akreditasi baru mengacu kepada :. 1. Buku internasional Prinsciples For Health care Standars ( A. Framework of requirementfor standars 3 th