Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM AVERTEBRATA AIR PRAKTIKUM III (FILUM MOLLUSCA)

OLEH:

NAMA STAMBUK PRODI KELOMPOK ASISTEN

: SUHARTIN T. : I1A310016 : MSP KELAUTAN : V (LIMA) : ZHUHRIANI

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2011

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Mollusca berasal dari bahasa Romawi molis yang berarti lunak. Jenis Mollusca yang umum dikenal ialah siput, kerang dan cumi-cumi. Anggota dari filum mollusca mempunyai bentuk tubuh yang sangat beragam, dari bentuk silindris seperti cacing dan tidak mempunyai kaki maupun cangkang, sampai bentuk hampir bulat tanpa kepala dan tertutup dua keeping cangkang besar. Tapi, ada juga yang bentuk tubuh mollusca simetri bilateral, tertutup mantel yang menghasilkan cangkang dan mempunyai kaki ventral. Secara umum, anggota filum mollusca mempunyai cangkang yang tersusun oleh kalsium karbonat yang digunakan untuk melindungi tubuhnya (Aslan dkk, 2008). Filum mollusca mempunyai daerah penyebaran yang luas dan kebanyakan hidup sejak periode cambrian, dimana terdapat lebih dari 100.000 spesies hidup dan 35.000 spesies fosil. Kebanyakan dijumpai di laut dangkal, beberapa pada kedalaman sampai 7.000 m, beberapa di air payau, air tawar dan darat (Suwignyo dkk. 2005). Filum mollusca mendapatkan namanya dari kata latin mollusca yang artinya lunak. Tetapi nampaknya nama ini tidak sesuai dengan kenyataan umumnya kelompok hewan ini, karena sifat utama filum mollusca adalah terdapatnya cangkang kapur yang keras (shell). Namun asal-usul nama itu dapat dicari mulai dari zamannya Aristotle. Hewan-hewan ini dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni mereka yang bercangkang dan mereka yang tak bercangkang. Yang terakhir ini termasuk cumi-cumi dan gurita (sekarang termasuk kelas cephalopoda) dan diketahui mempunyai sederetan nama, yang asalnya bernama malachia, tetapi kemudian berubah menjadi mollusca. Mereka yang bercangkang dimasukkan ke dalam testaceae. Sifat-sifat khusus filum mollusca yang berlaku sampai sekarang, dengan memisahkan teritip, brachiopoda dan tunicata keluar dari filum ini adalah adanya pembagian tubuh, suatu basis kepala kaki yang menampung massa visera (visceral mass) (Romimohtarto, 2007). Berdasarkan bentuk tubuh dan jumlah cangkangnya pada filum mollusca dibedakan atas delapan kelas yaitu Chaetodemomorpha, Neomeniomorpha, Monoplachopora, Polyplachopora, Gastropoda, Pelecypoda, Scapopoda, dan Chepalopoda (Nontji, 2005) 1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui bentuk secara morfologi dan anatomi serta dapat membedakan phylum Mollusca yang termasuk dalam kelas Gastropoda dan Ppelecypoda. Manfaat dari praktikum dapat melihat secara langsung bentuk secara morfologi dan anatomi, sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Molluska.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi 1. Burungo (Telescopium-telescopium) Menurut (Suwignyo, dkk.,2005) klasifikasi Burungo (Telescopium telescopium) adalah sebagai berikut:: Kingdom : Animalia filum : Mollusca Class : Gastropoda Ordo : Mesogastropoda Famili : Telescopinidae Genus : Telescopium Species : Telescopiu telescopium

(Sumber : Doc.Pribadi, 2011) Gambar 12. Morfologi Burungo(T. telescopium) 2. Kalandue (Polymesoda sp.) Menurut (Suwignyo, dkk.,2005) klasifikasi Kalandue (Polymesoda sp.) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Pelecypoda Ordo : Arcoida Famili : Arcoidacea Genus : Polymesoda Species : Polymesoda sp.

( Sumber : Doc Pribadi, 2011) Gambar 13. Kalandue (Polymesoda sp.)

3. Cumi-cumi (Loligo sp.) Menurut (Suwignyo, dkk.,2005) klasifikasi Cumi-cumi (Loligo sp.) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Scephalopoda Ordo : Polmonota Famili : Loligodae Genus : Loligo Species : Loligo sp.

(Sumber : Doc Pribadi, 2011) Gambar 14. Cumi-cumi (Loligo sp.) 4. Gurita (Octopus sp.) Menurut (Suwignyo, dkk.,2005) klasifikasi Gurita (Octopus sp.) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Scephalopoda Ordo : Octropoda Famili : Cetopodidae Genus : Octopus Species : Octopus sp.

(Sumber : Doc Pribadi, 2011) Gambar 15. Gurita (Octopus sp.)

2.2. Morfologi dan Anatomi Hewan dengan kelas gastropoda berjalan dengan perutnya. Kepala jelas terlihat, mempunyai satu atau dua tentakel. Sepasang diantaranya bersifat rektraktil dan dilengkapi sebuah mata pada ujungnya. Organ internal biasanya bersifat simetris dan terletak di dalam cangkangnya yang terpilih. Cangkang tunggal umumnya amat beragam, walau ada juga jenis-jenis yang tidak bercangkang. Arah putaran cangkang kebanyakan kearah kanan (dekstral) dan umumnya mempunyai operculum. Tipe cangkang yang berputar kearah kiri (sinistral) kebanyakan dijumpai pada jenis-jenis yang hidup di darat. Mantel berupa membrane tipis yang menyekresikan bahan cangkang. Anggota Plecypoda mempunyai tubuh berbentuk oval. Cangkang berbentuk lempengan berjumlah 8 buah, terletak disisi dorsal. Kepala agak sukar dibedakan dari bagian tubuh lainnya. Mata dan tentakel tidak dijumpai, mulut terletak dianterior pada sisi ventral. Hewan ini mampu beradaptasi pada sisi ekstrim. Hidup menempel pada permukaan batu atau substrat keras, memakan jenis-jenis alga yang menempel disubstrat tempat hidupnya (Aslan dkk, 2008). Morfologi dari filum mollusca yaitu mempunyai tubuh yang lunak dan tidak bersegmen. Ada yang mempunyai rangka luar dan ada yang tidak, ada yang disebut kaki yang merupakan alat gerak, baik untuk merayap ataupun digunakan sebagai senjata untuk menangkap mangsanya, (Nontji, 2005). Hewan bivalvi seperti kalandue (Polymesoda sp.) termasuk ke dalam kelas Pelecypoda. Tubuhnya berbentuk simetri bilateral, berbentuk bulat telur (oval). Bagian anterior lebih tumpul dibandingkan dengan bagian posteriornya, bagian anteriornya digunakan untuk menjulurkan kakinya sedangkan bagian dorsal merupakan tempat persendian cangkangnya. Cangkang terdiri atas tiga lapisan, yang berturutturut dari luar ke dalam yaitu lapisan periostrakum berfungsi melindungi jaringan bagian dalam, lapisan perismatik terdiri atas kristal kalsium karbonat (CaCO) berbentuk prisma dan lapisan nakreas merupakan lapisan terdalam yang terbentuk dari getah-getah yang dihasilkan oleh kelenjar pada sel-sel mantel. Cangkangnya yang menggelembung atau umbo berguna sebagai tempat pelekatan kedua cangkang yang membentuk semacam engsel dengan zat perekat berupa jaringan ikat padat (ligamen). Kedua cangkangnya dapat menutup kuat karena memiliki otot aduktor sebagai penghubung kedua cangkang. Pada hewan ini terdapat juga garis pertumbuhan dimana pertumbuhan hewan ini dapat dilihat dari garis-garis melingkar di bagian luar cangkang tersebut. Di bagian bawah cangkang terdapat mantel yang memiliki dua buah lubang yang disebut sifon ( Pratiwi, 2000). Tubuh Cephalopoda memanjang menurut sumbu dorsoventral, berbeda dengan tubuh mollusca pada umumnya memanjang menurut sumbuh anteroposterior. Cephalopoda tidak mempunyai bentuk kaki yang lebar dan datar seperti halnya mollusca lain. Bagian anterior kaki embrio Cephalopoda tumbuh menjadi serangkaian tangan atau tentakel yang mengelilingi mulut, dan bagian posteriornya membentuk corong (funnel atau sifon) berotot pada bukaan rongga mantel. Cangkang Cephalopoda umumnya mengecil dan terletak di dalam atau lenyap, kecuali pada Nautilus (Suwignyo dkk., 2005). Tubuh gurita (Octopus sp.) terbagi dalam kepala, bagian badan dan 8 tangan/tentakel. Binatang ini memiliki mata dan rahang yang tumbuh dengan

baik. Kulit banyak mengandung kromatofora yang berisi pigmen merah kuning dan hitam. Kromotofora ini dikendalikan oleh sistem syaraf. Warna tubuhnya dapat berubah-ubah mengikuti keadaan lingkungannya dan dapat mengeluarkan kolorasi pengaman. Dalam keadaan terancam warnah tubuh berubah dengan cepat dan berbintik-bintik. Pada gurita yang mati warna tubuhnya agak kelabu. Sebagai hasil kontraksi dari semua kromatofornya (Winarko, 2001 dalam Wekayanti 2006). Tubuh cumi-cumi (Loligo sp.) dibedakan atas kepala, leher dan badan. Di depan kepala terdapat mata yang besar dan tidak berkelopak. Mata ini berfungsi sebagai alat untuk melihat. Masih di dekat kepala tersebut sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ia ingin beregerak kebelakang, sifon akan menyempurnakan air ke arah depan, sehingga tubuhnya bertolak ke belakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya (Pustekom, 2005). 2.3. Habitat dan Penyebaran Habitat mollusca kebanyakan di laut dangkal dan beberapa ditemukan pada kedalaman sampai 7000 meter, penyebarannya banyak terdapat diperairan daratan dan tempat-tempat yang dangkal (Swignyo, 2005). Pada gastropoda habitat hidup terdapat di darat, perairan tawar dan terbanyak dilaut. Kelas Pelecypoda umumnya terdapat di dasar perairan yang berlumpur atau berpasir, beberapa hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, katu atau batu. (Aslan dkk, 2008). Gastropoda merupakan golongan yang paling berhasil menduduki berbagai habitat seperti dasar laut, pelagis, perairan tawar dan darat. Keong-keong yang termasuk dalam Kelas Gastropoda ada yang bisa menyesuaikan diri hidup dalam lingkungan yang kering. Mereka bisa terdapat di daerah pasang surut sekitar batas air tinggi. Separuh hari ia akan terbenam air pada saat pasang, tetapi separuh hari lainnya ia akan terpapar di udara bila air surut dan tidak mengalami kesulitan (Nontji, dkk. 2005). Pada kelas scephalopoda yakni cumi-cumi (Loligo sp.) hidup di laut dan berenang dengan bebas untuk mencari makan. Sedangkan gurita (Octopus sp.) tidak berenang seperti yang dilakukan oleh cumi-cumi, ia hanya merangkak dan bergerak kesana kemari mencari makan (Campbell, 1999). Kerang dari kelas pelecypoda mereka hidup menetap di dasar laut, ada yang membenamkan diri dalam kerangka karang-karang batu. Berbagai jenis melekatkan diri pada di dalam kerangka karang-karang batu. Berbagai jenis melekatkan diri ke substratnya dengan menggunakan organ bernama byssus yang berupa benang-benang kuat. Ada kerang yang bisa merangkak di dalam substratnya dan ada pula yang bisa berenang degan jalan menyemburkan air karena menggepakan kedua cangkangnya kuat-kuat (Nontji, 2002). 2.4. Reproduksi dan Daur Hidup Kebanyakan gastropoda adalah dioecious dengan sebuah gonad (ovari atau testis) terletak dekat saluran pencernaan dalam massa visceral. Pada archeogastropoda primitif, nephridium kanan berfungsi untuk jalan keluar sperma

dan telur. Telur dilindungi pembungkus semacam agar, pembuahan di luar, di air laut, dan menetas menjadi trocophore yang berenang bebas, kemudian menjadi veliger. Pada jenis gastropoda yang lain terjadi perkawinan (copulation) dan pembuahan di dalam, kemudian telur dibungkus semacam agar dan dikeluakan dalam bentuk rangkaian kalung, pita atau berkelompok, adapula telur yang dibungkus albumin dan dikelilingi kapsul atau cangkang serta dilekatkan pada substrat (Suwignyo dkk. 2005). Pelecypoda umumnya dioecious,mempunyai sepasang gonad yang teletak berdampingan dengan usus, kopulasi tidak ada. Beberapa jenis pelecypoda bersifat hermafrodit, menghasilkan telur dan sperma pada bagian yang berbeda dalam gonad yang sama dan mempunyain gonoduct yang sama. Pembuahan umunya eksternal, gamet dkeluarkan melalui sifon ekshalant. Pada beberapa jenis kerang, pembuahan terjadi dalam rongga supbranchia, dimana sperma dibawa aliran air masuk melalui sifon inhalant (Suwignyo dkk. 2005). Cephalopoda umumnya dioecious, gonad terletak di ujung posterior dan selalu terjadi perkawinan. Sperma yang dihasilkan oleh testis dialirkan ke seminal vesicle, dikumpulkan dan dibungkus dalam semacam kapsul yang disebut spermatofora kemudian semua spermatofora disimpan dalam kantung penyimpanan yang besar, yaitu kantung Needham yang mempunyai bukaan di rongga mantel sebelah kiri. Salah satu tangan coleid jantan bermodifikasi untuk memindahkan spermatofora dari kantung Needham ke dinding rongga mantel betina dekat oviduct (Suwignyo dkk., 2005). 2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan Cara makan gastropoda bermacam-macam, herbivora, karnivora, ciliary feeder, deposit feeder, parasit maupun scavenger. Gastropoda laut yang herbivora memakan ganggang laut dengan cara mengerok ganggang kecil-kecil.Gastropoda karnivora umumnya memakan kerang, siput lain dan echinodermata, beberapa diantaranya sampai masuk ke dalam liang dan memburu mangsanya (Suwignyo dkk. 2005). Pelecypoda (bivalvia) merupakan binatang pemakan tumbuh-tumbuhan kecil, mikroorganisme dan substrat, tetapi ia tidak mempunyai radula. Makanan berupa fitoplankton , zooplankton dan partikel-partikel organisme bersama-sama dengan air diisap oleh siphon dan disaring melalui insang (Romimohtarto, 2007). Semua cephalopoda adalah karnivora, mempunyai penglihatan yang tajam untuk mencari mangsa, dan menggunakan tangan atau tentakelnya untuk menangkap mangsa. Octopus sp menunggu mangsa di tempat persembunyiannya atau berburu mangsa di malam hari. Makananya berupa siput, ikan dan terutama kepiting yang ditangkap dengan tangan-tangannya kemudian dilumpuhkan memakai racun dari kelenjar ludahnya. Loligo sp. memangsa ikan dan udang pelagis dengan cara berenang cepat ke kawasan ikan mackerel muda, dan menangkap seekor ikan dengan tentakelnya (Suwignyo dkk. 2005). 2.6. Nilai Ekonomis Gastropoda mempunyai arti penting sebagai makanan berbagai ikan, burung, dan mamalia termasuk manusia. Gastropoda laut yang umumnya dimakan

adalah Haliotis (Abalone), selain sebagai lauk, abalon telah diekstrak dan dibuat sebagai makanan tambahan yang berfungsi untuk mencegah berbagai penyakit (Suwignyo dkk., 2005). Dari beberapa kelas dari filum mollusca, yaitu pada kelas scephalopoda yaitu cumi-cumi (Loligo sp.) dan gurita (Octopus sp.), pada kelas gastropoda yaitu burungo (Telescopium-telescopium), dan pada kelas pelecypoda yaitu kalandue (Polymesoda sp.) adalah sebagai sumber makanan karena mengandung protein hewani yang cukup tinggi. Selain itu juga cangkangnya juga dapat dijadikan sebagai bahan industri dan hiasan karena banyak yang berwarna indah dan terutama pada jenis tiram yang menghasilkan mutiara yang merupakan komuditas utama (Praweda, 2000).

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 20 November 2011 Pukul 13.00 WITA Sampai 17.00 WITA. Bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari. 3.2. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum filum Mollusca adalah sebagai berikut : Tabel 4 Alat dan Bahan Beserta Kegunaannya. pada Paktikum filum Mollusca. No. Alat dan Bahan Kegunaan A. Alat 1. Baki (Disseting - pan) Memotong bagian yang diamati. 2. Pisau (Scapel) Tempat meletakkan objek. 3. Alat tulis/buku gambar Untuk menulis objek 4. Kain lap Membersihkan objek 5. Wadah/toples Untuk tempat objek B. Bahan Burungo (T. telescopium) Kalandue (Polymesoda sp.) Cumi-cumi (Loligo sp.) Gurita (Octopus sp)

1. 2. 3. 4

Sebagai objek yang diamati Sebagai objek yang diamati Sebagai objek yang diamati Sebagai objek yang diamati

3.3. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut : Melakukan pengamatan pada organisme yang telah di ambil dari perairan. Meletakan organisme pada baki kemudian mengindentifikasi bagian-bagian organisme tersebut. Menggambarkan bentuk secara morfologi dan anatomi bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan Hasil Pengamatan pada pratikum ini adalah sebagai berikut : Pengamatan pada anatomi Kalandue (Polymesoda sp.)

Keterangan : 1. Mulut 2. Anus 3. shell 4. Gili 5. Food 6. Mantel

Gambar 16 Anatomi Kalandue (Polymesoda sp.) Pengamatan pada morfologi Kalandue (Polymesoda sp.)

Keterangan : 1. Umbo 2. Garis pertumbuhan 3. Apex

Gambar 17. Morfologi Kalandue (Polymesoda sp.) Pengamatan Morfologi pada Burungo (T. telescopium)

Keterangan : 1. Apex 2. Ulir 3. Aperture

Gambar 18. Morfologi Burungo (T. telescopium)

Pengamatan Morfologi pada Cumi-cumi (Loligo sp.)

Keterangan : 1. Tentakel 2. Mantle 3. Sirip 4. Lengan 5. Mata Gambar 19. Morfologi Cumi-cumi (Loligo sp.) Pengamatan Anatomi Pada Cumi-Cumi (Loligo Sp.)

Keterangan : 1 Tentakel 2 Mantle 3 Brain 4 Pen 5 Stomach 6 Gonad 7 Colum 8 Kidney 9 Anterior 10 Pingestive gland 11 Esophagus 12 Jaw Gambar 20. Anatomi Cumi-cumi (Loligo sp.) Pengamatan Morfologi pada Gurita (Octopus sp.)

Keterangan : 1. Kepala 2. Mata 3. Alat pengisap (sucker) 4. Mulut 5. Lengan 6. Tentakel Gambar 21. Morfologi Gurita (Octopus sp.)

4.2. Pembahasan Pada pengamatan kelas gastropoda yakni burungo (T. telescopium) nampak bentuk morfologinya yaitu apperture, operculum, eksoskeleton, garis pertumbuhan dan apex. Dari beberapa bagian atau bentuk morfologi tersebut masing-masing mempunyai fungsi tersendiri, hal ini diperkuat oleh pernyataan Suwignyo, dkk. (2005) bahwa apperture merupakan bukaan cangkang, dimana berfungsi sebagai tempat tersembulnya kepala dan kaki. Operculum pada hewan kelas gastropoda ini terbuat dari zat kapur atau zat tanduk yang lebih luas. Operculum ini terletak pada bagian yang melengkung yang terletak dekat lubang besarnya. Garis pertumbuhan pada hewan ini dapat digunakan untuk menentukan umur. Apex pada T. telescopium terdapat di bagian ujung dari cangkangnya yang berbentuk mengerucut. Cangkang pada T. telescopium merupakan cangkang luar yang biasa disebut dengan eksoskeleton. Pada pengamatan kelas pelecypoda yakni kalandue (Polymesoda sp.) nampak bentuk morfologi dan anatominya yaitu ligamen, umbo, garis pertumbuhan, pulp, otot adduktor posterior, dan otot adduktor anterior. Menurut Suwignyo, dkk, (2005) hewan ini mempunyai dua cangkang yang menyatu yang dapat membuka dan menutup. Pada bagian belakang (dorsal) tubuh hewan ini ditemukan suatu ujung yang mebentuk sudut tumpul yang disebut umbo. Garisgaris melingkar sekitar umbo menunjukkan garis pertumbuhan cangkang. Ligamen berbentuk semacam pita elastik yang terdiri dari bahan organik seperti zat tanduk sama dengan perostraktum, bersambungan dengan periostraktum cangkang. Kedua keping cangkang pada bagian dalamnya juga ditautkan oleh sebuah otot aduktor anterior dan sebuah otot aduktor posterior, yang bekerja secara antagonis dengan ligamen. Bila otot aduktor rileks, ligamen berkerut, maka kedua keping cangkang akan terbuka, demikian pula sebaliknya. Pada pengamatan kelas scephalopoda yakni cumi-cumi (Loligo sp.) kita melakukan pengamatan morfologi yang tampak dorsal dan tampak ventral. Pada pengamatan cumi-cumi (Loligo sp.) tampak dorsal nampak adanya tangan, sucker, mata, sirip, tentakel, badan dan rostrum, sedangkan pada bagian ventral nampak adanya sifon, tentakel dan mantel. Menurut Romimohtarto (2007) bahwa bagianbagian pada cumi-cumi (Loligo sp.) memiliki fungsi masing-masing, cumi-cumi ini mempunyai 8-10 buah tentakel dimana dua buah tentakel yang panjang digunakan untuk menangkap mangsanya dengan menggunakan sucker yang ada pada ujung tentakelnya. Pada bagian sekitar leher juga terdapat suatu organ yang menyerupai pipa yang disebut sifon yang digunakan untuk mengeluarkan zat sisa metabolisme, menyemburkan tinta hitamnya jika terdapat pemangsa dan sebagai alat untuk bergerak dalam air sehingga terlihat cumi-cumi bergerak menuju ke belakang. Mantel menyelimuti sekeliling tubuh, membentuk kerah yang agak longgar pada bagian leher. Pada pengamatan kelas scephalopoda yakni gurita (Octopus sp.) nampak bentuk morfologinya yaitu badan, funnel, jumbai, kepala, tangan, mata, bintik mata, dan sucker. Menurut Suwignyo, dkk, (2005) funnel pada Octopus sp. digunakan untuk menyemburkan air sehingga dapat bergerak lebih cepat dalam air, pada bagian kepala terdapat sepasang mata dan sepasang bintik mata yang digunakan untuk mengelabui mangsanya saat mencari makan sedangkan pada

bagian tentakelnya terdapat masing-masing sucker yang memanjang keseluruh tentakelnya yang digunkanan untuk menangkap mangsanya. Menurut Praweda, (2000) dari beberapa kelas dari filum mollusca, yaitu pada kelas scephalopoda yaitu cumi-cumi (Loligo sp.) dan gurita (Octopus sp.), pada kelas gastropoda yaitu burungo (T. telescopium), dan pada kelas pelecypoda yaitu kalandue (Polymesoda sp.) adalah sebagai sumber makanan karena mengandung protein hewani yang cukup tinggi. Selain itu juga cangkangnya juga dapat dijadikan sebagai bahan industri dan hiasan karena banyak yang berwarna indahdan terutama pada jenis tiram yang menghasilkan mutiara yang merupakan komuditas utama.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk morfologi pada kelas pelecypoda dalam hal ini T. telescopium, yaitu apperture, operculum, eksoskeleton, garis pertumbuhan dan apex. 2. Pada pengamatan kelas gastropoda (Polymesoda sp.) bentuk morfologinya terdiri dari umbo, ligamen, garis pertumbuhan, dorsal, ventral, anterior dan posterior. 3. Pada kelas gastropoda dan pelecypoda terdapat cangkang yang keras yang membedakan dengan kelas cephalopoda. 4. Pada pengamatan kelas Cephalopoda, tubuhnya lunak dan memliki tangan yang dilengkapi dengan sucker untuk menangkap mangsanya. 5.2. Saran Saran saya sebagai praktikan agar alat-alat yang akan digunakan dapat lebih dilengkapi agar lebih mendukung dalam praktikum-praktikum selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L.M, Harmin, H., Haslianti. 2011. Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Universitas Haluoleo, Kendari.

Brotowidjoyo, 2000. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta. Laitupa, O. P., 2002. Struktur Komunitas Fauna Echinodermata Pada Daerah Sub Litoral Desa Sorue jaya Kecamatan Soropia Kabupaten Kendari. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari. Noerhadi, Imoes., 2002. Studi Penyebaran dan Kepadatan Bulu Babi ( Diadema setosum) Pada Padang Lamun di Perairan Pantai Kelurahan Boneoge Kecamatan Lakuo Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari. Nontji, a., 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. Romimohtarto, K., dan Sri Juwana, 2005. Biologi Laut. Tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta. Ilmu Pengetahuan

Sartika, Dewi., 2002. Aspek Biologi Reproduksi Taripang Pasir (Holothuria scabra) di Perairan Pantai Desa Sorue Jaya Kecamatan Soropia Kabupaten Kendari Sulawesi Tenggara. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.
Suwignyo, S. 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya. Jakarta. Diposkan oleh Gian MSP08 (FPIK UNHALU).

LAMPIRAN

FILUM MOLLUSCA