Anda di halaman 1dari 9

TUGAS IKTIOLOGI IKAN TAWES

Dosen Pengampu: Drs. Trijoko, M.Si.

Oleh : Asterina Wulan Sari Ahmad Nawwar Syarif Nur Alif Trisnawan Sri Laksono Condro Negoro Egi Nurtalsyain Praditha Novianingrum 12/335195/PN/13030 12/335241/PN/13032 12/336252/PN/13038 12/336494/PN/13044 12/338129/PN/13050 12/340156/PN/13056

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2013

A. KLASIFIKASI DAN KARAKTERISASI IKAN TAWES Klasifikasi ikan tawes menurut Nelson (2006) adalah sebagai berikut : Kelas

Actinopterygii, Subkelas Neopterygii, Divisi Teleostei, Subdivisi Ostariclopeomorpha (Otocephala), Superordo Ostariophysi, Ordo Cypriniformes, Superfamily Cyprinoidea, Famili Cyprinidae, Subfamili Barbinae, Genus Barbonymus, Spesific name gonionotus, Spesies Barbonymous gonionotus. Ikan tawes (Barbonymus goniono Bleeker, 1850) adalah ikan sungai yang biasa dikonsumsi di daerah Asia Tenggara. Ukurannya sedang dan mudah dibudidayakan di kolamkolam. Menurut catatan FAO, ikan ini pernah diintroduksi ke Filipina (1956) dan ke India (1972). Ikan ini masih berkerabat dengan ikan nilem. Pieter Bleeker telah mengidentifikasi hewan ini pada abad ke-19 dan memberi nama berbeda untuk yang ditemukan di Indonesia (Barbus gonionatus, dengan alternatif Puntius gonionatus, Barbonymus gonionatus, serta Barbodes gonionatus, 1850), dan di Jawa (Barbus javanicus, dengan alternatif Puntius javanicus, 1855). Garibaldi (1996) merevisi P. gonionatus sebagai Barbus gonionatus, namun Kottelat (1999) merevisi kembali dengan menggabungkan kedua spesies dengan dua spesies lain sebagai satu spesies, Barbonymus gonionatus. Nama terakhir ini adalah nama yang dianggap valid(KKP, 2011) Ikan tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia terutama pulau Jawa. Hal ini juga menyebabkan tawes memiliki nama ilmiah Puntius javanicus. Namun, berubah menjadi Puntius gonionotus, dan terakhir berubah menjadi Barbonymus gonionotus. Ikan tawes memiliki nama local tawes (Indonesia), taweh atau tawas, lampam Jawa (Melayu). Di Danau Sidendreng ikan tawes disebut bale kandea (Amri dan Khairuman, 2008) Ikan tawes termasuk ke dalam family Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan nilem. Bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat kecil atau rudimeter. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5 buah dan 3-3 buah diantara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung. Pada mocong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil . Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu atau kekuningan, dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna oranye terang. Sirip dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang (Kottelat et al, 1993).

Sirip dengan struktur beberapa jari-jari sejajar atau melengkung ke ujung sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping. Ada tonjolan sangat kecil, memanjang dari tilang mata sampai ke moncong dan dari dahi ke antara mata. Sirip dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang, 3-3 sisik antara gurat sisi dan awal sirip perut (Kottelat et al, 1993). Minimal ada 4 jenis ikan tawes yang pernah ditemukan diperairan, meskipun masih ada beberapa diantaranya yang sulit ditemukan karena populasinya tidak begitu banyak, selain jarang masyarakat yang membudidayakanya, kehadiranya atau keberadaanya sering di abaikan. Namun ada juga jenis-jenis yang sudah sangat umum dan banyak ditemukan diperairan karena juga sudah bisa dibudidayakan oleh masyarakat. Malah jenis-jenis inilah yang menjadi bentu umum ikan tawes. Adapun keempat jenis ikan tawes tersebut dapat disebutkan antara lain:
1. Tawes Biasa

Ikan ini memiliki sisik yang berwarna kelabu dan sudah menjadi bentuk umum dari tawes yang yang sering di budidayakan di masyarakat. Tawes ini dengan mudah ditemukan pada para petani ikan diseluruh indonesia, misalnya, jakarta, jawa barat, jawa tengah ,(Ngrajek,Muntilan), dan lain-lain tempat.
2. Tawes Bule

Ikan ini memiliki sisik albino, dan jarang terdapat diperairan umum maupun dikolam-kolam masyarakat, namun ikan ini diduga mulai ada sejak tahun 1936.
3. Tawes Silap

Tawes silap mempunyai sisik yang berwarna putih kelabu, seperti tawes biasa, namun sisik yang berwarna putih ini bercampur dengan sisik yang berwarna keperakan, sehngga sulit membedakan ikan tawes silap ini dengan ikan tawes biasa. Seperti halnya ikan tawes bule , ikan tawes silap ini pun jarang ditemukan.
4. Tawes Kumpay

Seperti halnya ikan mas kumpay, ikan tawes kumpay mempunyai sirip dada dan sirip ekor yang relatif panjang. Ikan ini berwarna putih kelabu dan jarang ditemukan di kolam

B. DISTRIBUSI IKAN TAWES Ikan tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia. Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rawa-rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat banyak aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis ang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 22-28 C, serta ph 7. Ikan ini dapat ditemukan di dasar sungai mengalir pada kedalaman hingga lebih dari 15m, rawa banjiran dan waduk (Kottelat et al, 1993).
Ikan tawes ini pada alam aslinya merupakan ikan penghuni sungai yang biasanya bearus deras. Ikan ini mempunyai ketahanan hidup diair payau hingga 7 permil. Sebagai buktinya, ikan ini berkembang pesat di cengkareng (jakarta), yang dikenal berair asin sehingga ikan ini sangat cocok ontuk di pelihara diwaduk-waduk, kolam dengan air agak asin, dan sawah. Pada penebaran bibit ikan didaerah jawa tengah, waduk gajah mungkur misalnya, ikan tawes dipilih sebagai ikan yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan biak.

Ikan tawes adalah salah satu ikan favorit bagi pemancing air tawar, karena ikan tawes memiliki daging yang kenyal dan sedikit lemak. Ikan ini merupakan salah satu ikan asli Indonesia terutama pulau jawa, maka nama latinnya adalah Puntius Javanicus. Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai dan rawa rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen. Jika ditempatkan dalam air yang miskin oksigen ia dengan mudahnya mati. Meski sebenarnya ikan tawes adalah ikan yang termasuk herbivore atau pemakan tumbuhan, namun ikan tawes yang sudah dikembang biakkan di kolam dapat diberi makan pelet atau makanan alami berupa daunt talas. Perkembangan ikan di kolam akan jauh lebih cepat karena pola makan yang cukup dan teratur dan tujuannya adalah sebagai ikan konsumsi menyebabkan ikan tawes jarang di gunakan sebagai ikan pancingan di kolamkolam pancing(KKP, 2011). C. BIOLOGI IKAN TAWES Ikan tawes adalah termasuk ikan herbivore atau pemakan tumbuhan (Kottelat et al, 1993). Menurut Ardiwinata (1981), ikan tawes (Putius Javanicus Blkr) merupakan ikan herbivore, daun-daunan merupakan pakan yang penting bagi tawes. Menurut Mudjiman (2000), ikan tawes pada waktu masih benih suka makan plankton. Setelah dewasa ikan tawes

suka makan lumut dan pucuk-pucuk ganggang muda. Selain itu, ikan tawes juga makan daundaun tanaman lain, misalnya daun keladi, daun singkong, daun papaya. Tetapi sebetulnya yang dimakannya itu bukan tumbuh-tumbuhan belaka, tetapi jasad renik atupun plankton yang melekat pada yang termakan juga. Menurut Ardiwinata (1981), diantaranya adalah, 1. Ciliate 2. Spirulina 3. Oscillatoria 4. Navicula 5. Syndera 6. Scenedesmus 7. Difflugia 8. Euglena 9. Vorticella 10. Pediastrum 11. Arcella 12. Naupluus 13. Auguillula 14. Spirogyra 15. Gomphonema 16. Chaetonotus 17. Bosmeria 18. Rotifer Selain plankton, tawes yang ada di Rangel Bojonegoro menunjukkan bahwa tawes disana menyukai daging bekicot. Oleh karena itu, ikan tawes adalah binatang bertulang belakang dan dapat mudah menyesuaikan diri terhadap keadaan makanannya. Ikan wader mudah berkembang biak dalam kolam dengan rangsangan alami, sepanjang tahun. Di perairan umum memijah pada musim penghujan. Ikan matang telur pada umur kurang lebih 8 bulan dengan ukuran panjang 20 cm berat 175 gram dengan fekunditas berkisar antara 25.980 86.916 butir. Telur mengendap pada dasar perairan (demersal) dan menetas alam waktu 13-20 jam (KKP, 2008).

Seperti telah di singgung di atas, ikan tawes mempunyai telur yang bersifat demersal atau melayang didasar kolam. Maka tidak perlu disediakan alat penempel telur apapun bahan pembuat sarang karena induk ikan tawes ini tidak punya keahlian atau merawat keturunanya. Tetapi bukan berati kita boleh becerobah begitu saja dalam mempersiapkan kolam pemijahan justru disinilah kita ditantang untuk berfikir praktis namun tepat dalam menyediakan tempat pemijahan dengan melihan terlebih dahulu kebiasaan berkembangnya dialam.

Meskipun ikan tawes tersebut sudah diketahui bisa dipijahkan pada umur 6 bulan untuk jantan dan setahun untuk ikan betina, namun sebaiknya mempergunakan induk yang berumur lebih dari sepuluh bulan untuk jantan dan 14 bulan untuk betina. Induk jantan yang di pergunakan untuk pemijahan sebaiknya jangan terlalu tua dan tidak terlalu sering dikawinkan, sebagai batas yang ideal maka sebaiknya induk betina tidak lebih 6 kali perkawinan. Ikan yang sudah tua biasanya berwarna kusam, tidak becahaya sisiknya, selain harus cerah sisiknya pun harus tersusun dengan teratur dan relatif besar, jangan ada cacat pada badanya, sebab dikhawtirkan akan menularkan pada keturunanya. Sebaiknya dipilih induk yang gesit gerakanya yang menandakan badannya sehat.

Selain harus berbadan sehat persyaratan bentuk tubuh pun harus dipenuhi bagi ikan yang akan memasuki kolam pemijahan. Badan dilihat punggunya harus tinggi terlihat kokoh, dan tak terlihat adanya tulang yang bengkok atau cacat pada bagian insang, bentuk kepala membulat dan panjang dengan lubang anus terletak jauh di belakang, ini biasanya terlihat pada induk betina yang sudah matang gonad , ditambah lagi perut betina ini biasaya membulat jika sudah dipenuhi dengan telur, tingkah induk betina yang matang telur biasanya jinak sedangkan induk jantan sebaliknya , gesit, galak, sedikit garang dan terlihat enerjik.

Untuk membedakan induk jantan dan betina ikan tawes selain perbedaan bentuk perut bagi yang sudah matang gonad dapat juga dengan meraba pipi ikan yang akan dijadikan induk. Induk jantan mempunyai pipi yang kasar sedangka induk betina mempunyai pipi yang halus. Ikan jantan yang telah matang gonad akan mengeluarkan cairan berwarna putih seperti santan yang tidak lain adalah sperma, apabila kita mengurutnya dari arah perut kelubang dubur. Sedangka induk betina yang sudah matang gonad akan menunjukan bentuk badan jelek karena mengembangya perut selain kearah samping juga kearah perlepasan. Selain itu juga pada lubang gental berwarna kmerah-merahan atau terdapat bintik merah sebelah

belakangnya. Kalau kita menyepatkan diri untuk meraba perutnya ikan matang kelamin biasanya perutnya kenyal dan tidak mengembang.

Ikan tawes di kenal sebagai ikan yang mudah berkembang biak di alam, oleh karenanya tidak sulit juga mengembangkanya di kolam pemeliharaanya. Ikan ini dialam pada umumnya berbiak pada awal musim hujan, saat permukaan air naik yang menibulkan rangsangan karena adanya bau tanah, namun demikian ikan ini mudah dikawinkan disetiap saat tanpa mengenal musim dengan terlebih dulu melakukan manipulasi lingkungan. Ikan ini dapat dikembangkan tanpa mengalami kesulitan pada tempat berketinggian tidak lebih dari 1.100 m dari permukaan air lau, namun dari penelitian lebih jauh diperoleh keterangan bahwa ikan ini sangat jika dibiakan pada tempat dngan ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl.

Jika akan melakukan pemijahan, ikan ini tidak memerlukan alat bantu khusus untuk mempercepat proses pemijahan atau pun untuk melindungi telur-telurnya. Ini dikarenakan ikan tawes mempunyai telur yang bersifat demersal atau melayang didasar kolam. Sama sekali tidak berperekat seperti halnya telur ikan mas, maka bila air kolam tersebut kita gerakan telur ikan tawes yang tengelam di dasar kolam akan kembali melayang. Karena sifat telurnya yang demikian itu, maka untuk pemijahan ikan tawes secara terkontrol yang mempergunakan rangsangan exstra kalenjar hipofisa , telur-telurnya biasanya diteteskan pada corong penetasan yang dilengkapi dengan aliran air dari bawahnya, cara itu tidak lain untuk menjaga agar telur-telur ikan tawes tetap mengapung dan tidak terkumpul didasarnya yang menyebabkan telurnya membusuk.

D. BUDIDAYA IKAN TAWES

Budidaya ikan yang intensif merupakan suatu usaha pemeliharaan ikan dengan padat penebaran yang tinggi dan keharusan member pakan buatan. Salah satu jenis ikan yang dapat dibudidayakan secara intensif adalah ikan tawes. Budidaya ikan tawes tidak memerlukan modal yang besar. Ikan ini banyak digemari masyarakat karena memiliki daging cukup tebal, rasa daging yang enak, dan termasuk ikan prolific (Djajasewaka, 1985). Ikan tawes adalah ikan yang telah lama dibudidayakan karena cocok di Indonesia yang beriklim tropis. Sehingga ikan ini dapat dibudidayakan sepanjang tahun (Cahyono, 2011)

Dalam budidaya ikan, tak lepas dari pembibitan ikan sendiri, termasuk dalam pembibitan ikan tawes ini. Dalam pembibitan ikan tawes ini ada beberapa hal yang perlu di perhatikan seperti pemilihan induk, persiapan kolam, pelepasan induk, penetasan telur, pemungutan hasil benih ikan dan pendederan benih ikan.

Saat ini budidaya perikanan mengalami kendala dalam usaha pembenihan ikan (Priyambo, 2011). Permasalahan yang sering dihadapi adalah tingginya tingkat kematian dari larva ikan. Hal ini umumnya disebabkan karena kekurangan makanan pada saat kritis, yaitu pada masa pergantian dari makanan kuning telur ke makanan lain. Untuk mengatasi tingginya kematian ikan pada stadia larva ini perlu disediakan makanan yang sesuai dengan bukaan mulut larva (Haris, 1983). Dari penelitian yang sudah dilakukan,dari Tubifex sp. , Artemia sp. dan kutu air, pakan alami yang memberikan kelulusanhidupan larva ikan tawes yang tinggi adalah Tubifex sp. . Penelitian ini dilakukan oleh Jenitasari B.A, Sukendi, dan Nuraini yang telah di publikasikan dalam jurnal berjudul The Effect of Differential Natural Food Toward The Growth and Survival Rate of Tawes Larvae (Puntius Javanicus Blkr).

Setelah itu budidaya pembesaran, pembesaran ikan tawes biasanya dilakukan dengan menebarkan benih yang berukuran 8 cm dengan kepadatan 3-4 ekor/m2 , atau bisa juga dilangsungkan dari pendederan ikan yang berukuran 5 cm . ketinggian air dikolam ini berkisaran antara 40-60 cm dengan aliran air yang stabil dan debit air yang tidak terlalu besar . pembesaran ikan tawes ini dimaksudkan untuk mendapatkan ikan yang berukuran komsumsi dan jika memungkinkan mendapatkan indu-induk tawes baru. Pembesaran biasanya berlangsung cukup panjang yaitu antara 4-6 bulan, makanan tambahan harus diberikan setiap hari misalnya daun singkong, kangkung , dan dedak. Pemberian daun-daunan cukup diberikan dibeberapa tempat, tanpa perlu menyebarkan diseluruh permukaan kolam, sedangkan pemberian makanan dedak dapat disebarkan merata keseluruh kolam. Pemberian makanan ini sebaiknya dilakukan disore dan pagi hari. Ikan-ikan tawes sangat kelihatan sekali rakusnya sedang diberikan makanan tambahan.

Setelah ikan berumur 6 bulan sudah dapat dilakukan pemanenan atau dijadikan ikan lauk di meja makan, jika produksi ikan tawes meningkat maka jalan penyelamatanya selain sebagian di ambil sebagai induk baru, dapat juga diawetkan sebagai ikan asin yang sangat digemari oleh masyarakat, untuk pemasaran ikan tawes ini tidak begitu susah karena ikan ini sudah lama dikenal oleh masyarakat dan cukup banyak peminatnya.

Selain itu permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya pembesaran adalah penyediaan pakan buatan yang menhabiskan biaya cukup tinggi untuk pembelian pakan. Menurut Rasidi (1998), biaya pakan ini dapat mencapai 60-70% dari komponen biaya produksi. Salah satu alternative yang dapat dilakukan dengan membuat pakan buatan sendiri. Pembuatan pakan buatan ini menggunakan teknik yang sederhana dengan memanfaatkan sumber-sumber bahan baku local, termasuk pemanfaatan limbah hasil industry pertanian yang relative lebih murah.

Dalam pembuatan pakan buatan ini untuk budidaya wader, dari jurnal yang berjudul Komposisi Pakan Buatan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kandu ngan Protein Ikan Tawes (Puntius javanicus Blkr.) , didapatkan bahwasanya tepung ikan, tepung jagung, tepung daun turi, dedak dan repung kanji dapat digunakan sebagai pakan ikan tawes. Dari penelitian yang dilakukan, pakan buatan dengan komposisi 42% tepung ikan, 8% tepung jagung, 14% dedak, 30% tepung daun turi, 4% tepung kanji, dan 2% premix vitamin menghasilkan pertumbuhan ikan tawes paling baik, dan kandungan protein daging paling tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Amri dan Khairuman. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi. Agromedia. Jakarta Ardiwinata, R.O. 1981. Pemeliharaan Ikan Tawes. Penerbit Sumur. Bandung. Cahyono, B. 2011. Untung Berlipat Budidaya Tawes sebagai Bahan Baku Keripik. Lili Publisher. Yogyakarta. Djajasewaka, H. 1985. Pakan Ikan (Makanan Ikan). Edisi II. Penerbit CV Yasaguna. Jakarta. KKP. 2008. http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5385/Sudahkah-Anda-Tahu-Ikan-Tawes Barnoides-Goniotus/ diunduh pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2013 pukul 19.36 WIB KKP. 2011. http://www.kkp.go.id/ikanhias/index.php/products/price/12/Ikan-Tawes-Puntius Gonionotus/ diunduh pada hari Selasa tanggal 4 Juni 2013 pukul 11.46 WIB Kottelat, M., J.A Whitten, N.S. Kartikasari and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Dalhousie University. Canada. Mudjiman. 2000. Makanan Ikan. CV Simplex. Jakarta. Nelson, S joseph. 2006. Fishes of the World. Wiley. Canada. Priyambodo. 2001. Budidaya Pakan Alami Untuk Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.