Anda di halaman 1dari 13

BAB I : PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Tugas ini dibuat dalam rangka memenuhi tuntutan kompetensi dalam mata

kuliah Arsitektur Bali I. Tugas ini menjadi salah satu dari beberapa aspek penilaian yang ditentukan dalam mata kuliah ini. Selain itu, makalah ini juga menjadi syarat untuk mengikuti UTS dan UAS. Judul SEJARAH, PERKEMBANGAN DAN KONSEP ARSITEKTUR BALI dipilih karena dari segi bahasa penulisannya yang singkat padat dan jelas serta mudah dimengerti, juga menarik untuk dibaca. Bali memiliki beragam kebudayaan, mulai dari seni tari, seni tabuh, seni rupa dan seni bangunan. Bali terkenal memiliki bangunan tradisional yang bernafaskan agama, yang telah diikat dalam suatu aturan-aturan tertentu, yang kemudian dijadikan konsep dan pedoman dalam membangun Bali ke depan. Kita menyadari pula bahwa arsitektur di daerah Bali mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak zaman kerajaan hingga sekarang. Terbukti dari banyaknya ditemukan peninggalan berupa bangunan-bangunan tradisional Bali yang memiliki ciri khas tersendiri. Bangunan dengan corak arsitektur khas bali memiliki makna dan nilai estetika yang tinggi sehingga banyak yang terkenal sampai ke manca negara. Dari hal inilah kini mahasiswa arsitektur di Bali sebagai generasi akademis perlu mempelajari kembali Arsitektur Bali sehingga bisa memperoleh wawasan agar bisa menjaga, melestarikan dan mengembangkan Arsitektur Bali sebagai titipan para pendahulu kita kepada generasi selanjutnya. Disamping itu, agar dimasa depan bangunan tradisional Bali yang telah ada tetap lestari dan dapat menjadi simbol daerah Bali ditengah gempuran pengaruh globalisasi.

1.2. Rumusan Masalah


Ada beberapa rumusan masalah yang akan dikemukakan dalam makalah ini, diantaranya : Apakah pengertian arsitektur tradisional Bali? Bagaimana sejarah dan Perkembangan Arsitektur Bali ? Bagaimana gambaran umum dan konsep arsitektur Bali ?

1.3. Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyajikan informasi yang

berkaitan dengan perngertian arsitektur Bali dalam sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Serta gambaran-gambaran umum dan konsep yang ada dalam arsitektur Bali.

1.4. Manfaat
Manfaat yang didapat adalah dari penyusunan makalah ini antara lain : Mahasiswa dapat mengenal ciri khas arsitektur suatu daerah khususnya Bali Mahasiswa dapat memahami sejarah dan perkembangan arsitektur Bali Mahasiswa dapat megerti gambaran umum dan konsep arsitektur Bali sehingga bisa menjaga dan melestarikan Arsitektur Bali sebagai suatu titipan sekaligus menjadi identitas pembangunan di Bali

1.5. Metode
Metode yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian pustaka 2

BAB II : PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Arsitektur Bali


Arsitektur memiliki definisi yang sangat beragam tergantung dari sudt mana kita memandang arsitektur tersebut, apakah sebagai ilmu, sebagai seni, ruang, bentuk, gaya,fungsi dan lainnya. Arsitektur merupakan seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan atau metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan. Arsitektur adalah seni dan teknik bangunan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis danungkapan manusia beradab. Dari sudut kebudayaan, maka arsitektur merupakan hasil karya manusia atau perwujudan gagasan manusia berupa benda budaya yang digunakan untuk memnuhi kebutuhan akan kehidupannya baik jasmani maupun rohani. Jadi Arsitektur Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari zaman dahulu hingga sekarang, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud. Arsitektur tradisional Bali yang mengakar dalam masyarakat Bali yang memberikan identitas dan citra Bali yang kuat dan dapat dilihat dari proses, produk, dan penerimaan oleh masyarakat.

2.2 Sejarah dan Perkembangan a. Sejarah Arsitektur dalam Prinsip Spiritual di Bali

Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali. 3

Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14, juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.

Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh Samyaga. Lebih jauh dikemukakan, Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur, sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya. Dalam kisah tersebut, hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna. Kemudian secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur. Karenanya, tiap bangunan di bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma. Upacara demikian dilakukan mulai dari pemilihan lokasi, membuat dasar bagunan sampai bangunan selesai. Hal ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, bangunan memiliki jiwa bhuana agung (alam makrokosmos) sedangkan manusia yang menepati bangunan adalah bagian dari buana alit (mikrokosmos).Antara manusia (mikrokosmos) dan bangunan yang ditempati harus harmonis, agar bisa mendapatkan keseimbangan anatara kedua alam tersebut.Karena itu,mebuat bagunan harus sesuai dengan tatacara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Atas Kosala-kosali sebagai fengsui Hindu Bali.

b.

Sejarah dan Perkembangan Arsitektur Bali

Babakan sejarah tradisional Bali yang disajikan dalam berbagai naskah ternyata bervariasi . namun dalam kaitannya dengan perkembangan arsitektur maka babakan perkembangannya akan diambil menurut babakan sbb: Masa Prasejarah Masa bali Age Masa Bali Kuna Masa kekuasaan Majapahit Masa Penjajahan Belanda Masa Kemerdekaan

1)

Masa Prasejarah
1 Masehi masyarakat masih di bawah pohon ,goa,dan ranting pohon yang terolah tidak bisa bertahan lama,

Masa ini diperkirakan langsung sampai abad ke hidup secara nomaden. Kemudian mulai menetap akhirnya pada bangunan yang sangat sederhana dari secara teknis. Tentu saja bangunan semacam ini sehingga tidak ada peninggalan yang bisa dipelajari.

2)

Masa Bali Age

Masa ini dimulai dari saat keberhasilan Rsi Markendya dengan pengikut para transmigran dari jawa yang berasal dari orang-orang bangunan(Orang Age)membuka hutan di Bali. Karena keberhasilan ini maka mulai dibangun permukiman-permukiman didaerah-daerah subur dipegunungan dan juga mulai dibangun permukiman-permukiman didaerah-daerah subur dipegunungan dan juga mulai dibangun tempat-tempat peribadatan Hindu dengan sebuta n Hyang untuk istilah pura sekarang. Atas keberhasilan ini pula maka dimulai pembangunan Besakih tahap awal yang berasal dari kata basukiyang artinya selamat.para ahli dari berbagai aspek kehidupan juga didatangkan dari jawa yang menyangkut bidang-bidang pertanian,peternakan,irigasi,dan permukiman. Hubungan dengan Cina dan Jawa menjadi erat. Berita tentang kemakmuran Bali pada saat itu dicatat oleh pedagang cina dan juga pedagang Yunani. Hasil arsitektur permukiman pada masa ini masih terlihat pada desa-desa Bali Age di daerah pegunungan seperti Trunyan,Sukawana,Taro,Cempaga,Sidatapa dll. Masa ini diakhiri dengan mulai berdirinya kerajaan Bali Kuna dengan nama Singa Mandawa dengan raja pertamanya Kesari Warmadewa dengan raja pertamanya kesari Warmadewapada abad ke IX.

3)

Masa Bali Kuna

Puncak keemasanb dari masa ini adalah pada waktu pemerintahan raja Udayana Warmadewa yang memerintah bersama-sama permaisuri Dharmapatni. Pada masa ini ada keajaiban penting yang berkaitan dengan perkembangan arsitektur yaitu datangnya Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali. Menurut Buku Sejarah Bali kedatangan Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali. Menurut Buku Sejarah Bali kedatangan Mpu Kuturan pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu (putra udayana adik erlangga ). Mpu Kuturan mengadakan pembaharuan di bidang keagamaan sarana peribadatan dan permukiman. Beliau mulai menghidupkan kembali paham trimurti yang dipuja melalui pura Tri-Khayangan yang merupakan pengikat dalam satu desa adat. Dalam rumah tangga juga dikembangkan tempat pemujaan keluarga Rong Tiga atau sanggah kemulan dan Hyang Guru.Masa Bali Kuna ini berakhir dengan ditaklukannya Bali oleh Majapahit pada abad XIV. 4) Masa Majapahit Masa pemerintahan Majapahit di Bali dimulai dengan pengangkatan Sri Kresna kepakisan sebagai Adapati Bali dan di sampangan,Gianyar,Jaman Keemasan dicapai oleh penerus beliau yaitu raja Dalem Waturenggong.pada masa ini dating dari Jawa seorang tokoh agama Hindu yang beraliran Siwa .Beliau banyak mengadakan pembangunan keagamaan dan juga pembangunan masyarakat. Tempat pemujaan khusus untuk Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya diwujudkan dengan bangunan Padmasana. Pada waktu ini juga banyak dibangun pura-pura pantai dan juga kemudian dibangun pura-pura untuk menghormati beliau. Pada masa ini diintrodusir Asta Dasa Kosali sebagai dasar aturan pembangunan,masyarakat mulai digolongkan secara fungsional berdasarkan profesi dalam Catur Warna, dan mulai 5

dibangunBale Banjar sebagai sarana pengikat persatuan untuk kelompok masyarakat kecil. Akhirnya masa ini berakhir setelah Belanda di Bali banyak pusakasuci lontar diangkut keNegeri Belanda termasuk juga pustaka-pustaka. Beberapa puri yang juga sebagai symbol kekuasaan kerajaan Bali dihancurkan. Dalam bidang arsitektur diupayakan juga terjadi semacam perkawinan (Alkulturasi),yang menghasilkan bangunan-bangunan denmgan postur belanda dengan tatahias Bali. Hasil pembangunan pada masa ini beruopa kantor pemerintahan Belanda seperti kantor Residen,Kantor kontrolir,museum Bali. Bali hotel dan beberapa sekolah dan rumah pejabat Belanda. Masa ini berakhir dengan proklamasi kemerdekaan th 1945 dan lebih mantap lagi setelah penyerahan kedaulatan th.1949 maka mulailah babakan baru pada Masa Kemerdekaan.

5)

Masa Kemerdekaan

Merdeka masyarakat Bali juga diartikan merdeka dalam dalam membentuk corak bangunan. Pada awal masa ini banyak dibangun fasilitas kantor untuk pemerintahan dan juga rumah-rumah jabatan yang penampilannya ham. Hal ini dapat dimaklumi karena ketersediaan para perancang teramat sangat terbatas. Masyarakat umumnya suyka meniru hal-hal yang dianggap baik seperti apa yang dibangun oleh pemerintah dan seperti apa yang dimiliki oleh para pejabat. Sehingga badai perombakan bangunan-banguna tradisional Belanda,Bali dan digantikan dengan bangunan jenisKantoran.lama kelamaan timbul pula keperihatinan karena produk tradisional yang merupakan budaya daerah ini populasinya kian menyusut. Sampai akhirnya timbul kesadaran utuk menyelamatkan serta mengembangkan warisan budaya sebagaimana diaqmatkan dalam pasal 32 UUD 1945 .maka untuk itu mulailah dirintis suatu peraturan daerah yang mengandung misi mempertahankan dan mengembangkan inti dan gaya Arsitektur Tradisional Bali. Lahirlah pera No.2,3 dan 4 Th.1974 tentang Tata Ruang untuk Pembangunan,Lingkungan khusus dan bangunan-banguanan.

2.3 Gambaran Umum dan Konsep Gambaran Umum

Arsitektur Tradisional Bali bersumber dari ajaran ajaran serta tuntunan tentang merencanakan dan menciptakan ruang. Ajaran serta tuntutan tersebut mengandung nilai yang sangat mendasar, nilai filosofis, nilai religius serta nilai manusiawi yang termuat dalam lontar lontar. Konseptual perancangan arsitektur 6

tradisional Bali berdasarkan pada nilai tata ruang yang dibentuk oleh tiga sumbu berikut : a. Sumbu Cosmos : Bhur, Bhuah dan Swah (hydrosfir, litosfir dan atmosfir) b. Sumbu Ritual : Kangin dan Kauh (terbit dan terbenamnya matahari) c. Sumbu Natural : Utara dan Selatan (gunung dan laut) Arsitektur Bali tidak hanya berkaitan dengan pembangunan tempat suci spiritual seperti pura dan candi seperti pandangan orang awam, tetapi juga sangat mempengaruhi tata ruang, teknik, nilai estetis, ukuran hingga ritual yang digunakan dalam pembangunan. Arsitektur bali juga tidak hanya berfokus pada arsitektur Tradisional, tetapi juga pada pengembangan arsitektur modern sesuai perkembangan zaman namun masih mempertahankan konsep Arsitektur Bali. Foto berikut menjelaskan beberapa gambaran umum tentang Arsitektur Bali :

Gbr. 1 : rumah tradisional Bali khas Bali

Gbr. 2 : Bangunan meru

Gbr. 3 : karang gajah menjadi salah satu desa Ornamen khas di Bali

Gbr. 4 : pola pemukiman khas di Penglipuran, Bangli

Gbr. 5 : Pelinggih sbg tmpat bersthananya Bali Tuhan beserta manifestasinya

Gbr. 6 : Gerbang rumah khas

Gbr. 7 : Salah satu bentuk perkembangan Museum Indonesia Arsitektur Bali pada ornamennya bergaya arsitektur Bali

Gbr. 8 : Bangunan utama yang

Konsep Dasar

Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah: * Konsep Tri Hita Karana * Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga * Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala * Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu * Konsep proporsi dan skala manusia * Konsep kejujuran bahan bangunan * Asta Kosala Kosali * Asta Mandala

Penjelasan Beberapa Konsep dalam Arsitektur Bali :

1. Konsep Tri Hita Karana


Tri Hita Karana yang secara etimologi terbentuk dari kata : tri yang berarti tiga, hita berarti kebahagiaan, dan karana yang berarti sebab atau yang menyebabkan, 8

dapat dimaknai sebagai tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagian. Ketiga hubungan tersebut meliputi : 1. Prhyangan : Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, 2. Pawongan : Hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya, dan 3. Palemahan : Hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Selanjutnya ketiga hubungan yang harmonis itu diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, di mana dalam terminalogi masyarakat Bali diwujudkan dalam 3 unsur, yaitu : parahyangan, pawongan, dan palemahan. Dalam arsitektur Bali, hal ini sangat di utamakan dan selalu menjadi landasan pokok dalam membangun. Konsep Tri Hita Karana menjelaskan bagaimana suatu tatanan ruang arsitektur yang harmonis di antara ketiga unsur tersebut sehingga terjadilah penataan ruang yang seimbang.

2. Hirarki Ruang / Tri Angga/Tri Loka


Tri Angga adalah salah satu bagian dari Tri Hita Karana, (Atma, Angga dan Khaya). Tri Angga merupakan sistem pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali. 1. Utama, bagian yang diposisikan pada kedudukan yang paling tinggi, 2. Madya, bagian yang terletak di tengah 3. Nista, bagian yang terletak di bagian bawah, kotor, rendah

3. Asta Kosala Kosali


Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya. Asta Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang empunya rumah. Mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti: 9

-- Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas), -- Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka) -- Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)

4. Asta Bhumi
Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih. Tujuan Asta Bumi adalah a. Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi b. Mendapat vibrasi kesucian c. Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi

5. Konsep Tata Ruang Sanga Mandala


Konsep tata ruang Sanga Mandala juga lahir dari sembilan manifestasi Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam menuju kehidupan harmonis yang disebut Dewata Nawa Sanga (Meganada, 1990:58) Konsepsi tata ruang Sanga Mandala menjadi pertimbangan dalam

penzoningan kegiatan dan tata letak bangunan dalam pekarangan rumah, dimana kegiatan yang dianggap utama, memerlukan ketenangan diletakkan pada daerah utamaning utama (kaja-kangin), kegiatan yang dianggap kotor/sibuk diletakkan pada daerah nistaning nista (klod-kauh), sedangkan kegiatan diantaranya diletakkan di tengah (Sulistyawati. dkk, 1985:10). Dalam turunannya konsep ini menjadi Pola Natah (Adhika, 1994:24) 10

6. konsep manik ring cucupu


. Konsep manik ring cacupu adalah konsepdimana manusia harus selaras dengan alam. Seperti janin(manik) danrahim ibu(cacupu). Karena memiliki kesamaan unsur pembentuk

BAB III : PENUTUP


3.1 Kesimpulan Dari berbagai pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Arsitektur Bali yang telah ada dan berkembang sampai saat ini merupakan warisan sekaligus titipan dari para pendahulu yang menjadi salah satu identitas pembangunan di Bali yang harus dijaga dan dilestarikan selanjutnya. Arsitektur Bali memiliki Sejarah yang panjang berlandaskan konsep-konsep spiritual dan budaya yang menyatu dengan kehidupan
11

masyarakat sehingga tetap eksis hingga sekarang, oleh karena itu perlu dijadikan sebagai pedoman bagai generasi penerus khususnya arsitek Bali agar pembangunan di Bali kedepan tetap selaras dan harmonis dengan alam sesuai konsep yang ada. 3.2 Saran

Adapun beberapa saran yang ditujukan kepada semua pihak terkait dengan materi dalam makalah ini : Hendaknya pembangunan di Bali selalu berlandaskan konsep-konsep arsitektur Bali, walaupun pembangunan tersebut telah bersifat modern. Jangan sampai meninggalkan identitas Arsitektur Bali. Penataan ruang dan kota wilayah Bali hendaknya harus sesuai dengan Tri Hita Karana, sehingga masalah seperti banjir, tanah longsor, abrasi dan semacamnya dapat dicegah.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Putra, Gusti Made. 1996. Pengetahuan Arsitektur Tradisional Indonesia. Denpasar: Prodi Arsitektur Universitas Udayana.

12

Internet id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_Bali http://id.scribd.com/doc/25389132/Arsitektur-Tradisional-Bali http://ngeblogbelogan.blogspot.com/2011/11/konsep-arsitekturtradisional-bali.html http://arifuddinali.blogspot.com/2013/01/museum-di-taman-miniindonesia.html

13