Anda di halaman 1dari 3

Tatalaksana trombositopenia A.

Terapi Suportif Tindakan suportif merupakan hal yang penting dalam penatalaksanaan trombositopenia pada anak, di antaranya membatasi aktifitas fisik, mencegah perdarahan akibat trauma, menghindari obat yang dapat menekan produksi trombosit atau mengubah fungsinya, serta melakukan edukasi ke pasien dan keluarga. B. Terapi Farmakologis Secara umum penatalaksanaan pada kasus trombositopenia adalah sebagai berikut ; 1. Menghindari faktor penyebab 2. Terapi kausatif Keadaan trombositopenia dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya a. Gangguan produksi trombosit - Depresi selektif megakariosit karena obat, bahan kimia, atau infeksi virus - Sebagai bagian dari kegagalan fungsi sum-sum tulang seperti pada anemia aplastik, leukemia akut, dan mielosklerosis. b. Peningkatan destruksi trombosit - Immune thrombocytopenic purpura (ITP) - Immune thrombocytopenic purpura sekunder seperti pada systemic lupus erythematous, limfoma - Alloimune thrombocytopenic purpura, misalnya pada neonatal thrombocytopenic - Drug-induced immune thrombocytopenia - Disseminated intravascular coagulation c. Distribusi trombosit yang abnormal - Sindrom hipersplenism dapat menyebabkan kerusakan trombosit dimana terjadi pooling trombosit ke dalam limpa d. Terjadinya dilution loss Umumnya disebabkan oleh transfusi masif

Berdasarkan etiologi di atas, tatalaksana kausatif yang dapat diberikan diantaranya a. Jika terjadi gangguan pada produksi trombosit, maka terapi yang diberikan dapat berupa thrombopietin receptor agonist yang akan merangsang trombopoiesis. b. Peningkatan destruksi trombosit dapat terjadi karena faktor imun maupun faktor eksogen seperti obat-obatan. Terapi yang dapat diberikan pada kasus trombositopenia akibat imunologis adalah pemberian obat yang dapat menurunkan respon imun tubuh

diantaranya kortikosteroid dan imunosupresan, sedangkan pada kasus trombositopenia akibat obat-obatan dapat diterapi dengan menghentikan penggunaan obat penyebab, ataupun memberikan antidotum obat penginduksi trombositopenia. c. Pada kejadian ditribusi trombosit yang abnormal dengan predominasi di lien, maka terapi yang dapat diberikan adalah kortikosteroid karena umumnya sindrom hipersplenism diakibatkan oleh inflamasi dan faktor imunologi sehingga dapat ditekan dengan pemberikan kortikosteroid. Namun jika pemberian kortikosteroid tidak memberikan respon, maka dapat dilakukan tindakan splenektomi. 3. Pemberian imunoglobulin intravena dapat menurunkan respon imun sehingga dapat menmperbaiki jumlah trombosit. Imunoglobulin intravena (IVIG) pada dosis 0,8-1,0 g/kgBB/hari selama 1-2 hari dapat meningkatkan jumlah trombosit pada 95% pasien dalam 48 jam. IVIG diberikan untuk memicu respon berupa downregulation pada fagositosis yang dimediasi fragmen Fc pada trombosit yang terikat antibodi. IVIG harus diberikan pada pasien dengan indikasi jelas karena IVIG termasuk terapi yang cukup mahal dan dapat memberikan efek samping berupa sakit kepala, mual, dan meningitis aseptik. 4. Imunoglobulin anti D dapat diberikan pada pasien dengan rhesus positif. Terapi anti D intravena diberikan dengan dosis 50-75 g/kgBB dapat meningkatkan jumlah trombosit pada 80-90% pasien dengan rhesus positif dalam 48-72 jam. Ketika diberikan, anti D IV dapat menyebabkan anemia hemolitik ringan. Kelemahan terapi ini adalah bersifat tidak efektif pada pasien dengan Rhesus negatif dan terkadang dapat menyebabkan hemolisis. 5. Splenektomi dapat dilakukan untuk menghindari penghancuran trombosit oleh lien. Splenektomi diindikasikan jika terapi kortikosteroid tidak memberikan respon membaik. Splenektomi dapat dilakukan setelah terapi kortikosteroid diberikan dengan indikator diantaranya (1) jumlah trombosit kurang dari 50000/l setelah 4 minggu terapi, (2) jumlah trombosit tetap dibawah rata-rata selama 6-8 minggu, (3) jumlah trombosit normal, namun menurun jika dosis kortikosteroid diturunkan, (4) pasien dengan perdarahan intrakranial akibat ITP, dan (5) pada pasien yang tidak menunjukkan perbaikan jumlah trombosit setelah diterapi dengan transfusi trombosit dan pemberian kortikosteroid dan IVIG. 6. Transfusi trombosit, umumnya kurang dianjurkan, namun dapat diberikan pada pasien dengan keadaan perdarahan yang mengancam jiwa dan jumlah trombosit <50.000/ l, atau pada pasien dengan jumlah trombosit <10000/l tanpa gejala perdarahan.

Terapi pada kasus trombositopenia (ITP)

Sumber : Fogarty, P.F., Minichiello, T. Disorders of Hemostasis, Thrombosis, & Antithrombotic Therapy. Dalam Papadakis, M.A., McPhee, S.J., Current Medical Diagnosis and Therapy. The McGraw-Hill Companies, Inc. 2013; 538-563 Setyoboedi, B., Ugrasena, IDG. Purpura Trombositopenik Idiopatika pada Anak (Patofisiologi, Tata Laksana serta Kontroversinya). Dalam : Sari Pediatri, Vol. 6, No. 1, 2004: 16-22 Scott, J.P., Montgomery, R.R., Idiopathic (Autoimmune) Thrombocytopenic Purpura. Dalam Kliegman, R.M., et.al. Nelson Textbook of Pediatrics. Philadelphia. Elsevier Saunders. 2011