Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH KULTUR JARINGAN KRISAN

Disusun oleh: Nama NIM Asisten : Dian Rizki Fauziah : 115040201111234 : Putu Santiawan

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN MALANG 2013

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada bidang pertanian, perbanyakan tumbuhan atau perbanyakan bibit tumbuhan secara besar-besaran kadangkadang sangat diperlukan. Namun perbanyakan tumbuhan dengan teknik konvensional seringkali menghadapi kendala teknis, lingkungan maupun waktu. Sebagai contoh perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji memerlukan waktu yang relatif lama dan seringkali hasilnya tidak seperti tanaman induknya. Kendala lain yang juga sering muncul adalah gangguan alam, baik yang disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan penyakit maupun cekaman lingkungan yang dapat menggangu keberhasilan perbanyakan tanaman di lapangan. Sejalan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan terutama bidang teknologi, kendala-kendala tersebut dapat diatasi antara lain melalui teknik kultur jaringan. Kultur Jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri & bergenerasi menjadi tanaman lengkap.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari perbanyakan bibit dengan metode kultur jaringan adalah sebagai berikut : a) Memproduksi bibit tanaman dalam jumlah besar dalam waktu singkat b) Memproduksi bibit tanaman yang mirip seperti induk tanaman atau klon c) Mmeproduksi bibit tanaman yang bebas virus dan penyakit

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan Alat dan Pembuatan Media Induk In the plant tissue culture process, plant parts are cut into small pieces that will give rise to many more individual plants. Soil or hydroponically grown plants only need fertilizer (a source of K, N and P plus trace minerals), water, air and light to grow, because they can make their own sugar, amino acids, etc. Plant tissue cultures need an outside source of sucrose because the tissue culture cells go into shock when the explants are made. It helps to add vitamins in addition to the fertilizer and sucrose. (Toby, 2013) Media-making can be time-consuming. Nowdays, the plant tissue culture media most commonly used are available in the market as dry powders. The simplest method of preparing media is to dissolve these powders containing inorganic and organic nutrients in some quantity of distilled water. After the contens have been thoroughly mixed in water, sugar and agar (melted) other organic supplements are added. Finally, the volme is made up to one litre. The pH is adjusted and the medium autoclaved. (Razdan, 2003)

2.2 Pembuatan Media In Vitro Growth and development cell packaged mixtures of the better known media recipes. These are easy to make because they merely involve dissolving the packaged mix in a specified volume of water. These can be urchased as the salts, the vitamins, or the entire mix with or without PGRs, agar, and sucrose. Thre are convinent, less prone to individual error, and make keeping stock solutions unnecessary. However, they are more expensive thanmaking media from stratch. (Trigiano & Gray, 2011) The medium provides essential nutrients hat are incorporated into dividing cells, such as amino acids, fatty acids, sugars, ions, trace elements, vitamins, and cofactors, and

ions and molecules necessary to maintain the proper chemical environment for cells. (Mather & Roberts, 1984)

2.3 Isolasi dan Inokulasi Eksplan Before inoculation, disinfect hands and working area 75% alcohol. Using aseptic technique, sterilize the inoculating loop by running it hough a spirit lamp two or three times. Care must be taken to do everything under aseptic conditions. Immediatey after theinoculation, the mouth of the tube should be well flamed, the cotton plugs replaced and the tubes placed in an incubator at 320 C for growth. (Chang & Quimio, 1982) As described previously, the most risky process to microbial contamination is the inoculation of seed cultures. In general, microbial or plant cell suspension as seed (seed culture) is previously cultured in a smaller size bioreactor and transferred through inoculation tube or pipe connecting between bioreactor during an inoculation. (Gupta & Ibaraki, 2008)

2.4 Aklimatisasi The physiological and anatomical characteristics of micropropagated plantlets necessitate that they are gradually acclimatized to environment of the greenhouse or the field. Techniques that are most satisfactory for acclimatization address the changes towards lower relative humidity, higher light leaves, autotrophic growth, and septic environment hat are characteristic of the greenhouse and field. (Sathyanarayana & Vaghese, 2007)

III. PEMBAHASAN 3.1 Pembuatan Media Perbanyakan (Inokulasi/Penanaman) 3.1.1 Metode (Tahap Pelaksanaan/Cara Kerja) Hitung kebutuhan larutan induk pada media biakan dengan menggunakan rumus pengenceran

Siapkan larutan induk yang telah dihitung kebutuhannya (makro, mikro, vitamin, FE EDTA dan ZPT)

Campur bahan dasar (larutan induk) diatas ke dalam beaker glass, ditambah sucrosa dan aquades steril hingga volume media yang telah dihitung

Ukur pH 5,8; apabila dalam pengukuran pH kurang dari 5,8 maka ditambahkan (larutan basa) NaOH, sedangkan bila larutan media memiliki pH lebih dari 5,8 maka tambahkan (larutan asam) larutan HCI hingga media yang dibuat memiliki keasaman yang dikehendaki (5,8)

Tambahkan agar ke dalam media, diaduk hingga homogen dan dipanaskan sampai agar terlarut.

Siapkan botol/tabung kultur beserta tutupnya lalu tuangkan ke dalam botol masing-masing 15 ml media setiap botol dan tutup dengan segera.

Sterilkan dengan autoclave menggunakan tekanan 15 psi selama 25 menit dengan suhu 121 C

Setelah keluar dari autoklave segera masukkan ke dalam ruang simpan untuk menekan kontaminasi media.

3.2.2 Hasil dan Pembahasan

3 Mei 2013

18 Mei 2013

22 Mei 2013 Hasil pengamatan adalah parameter sebagai berikut : 1. % eksplan yang hidup

29 Mei 2013

Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa persentase eksplan yang hidup selama satu minggu adalah 0%. Diduga eksplan mati karena terkena kontaminasi oleh jamur. 2. % inisiasi tunas dan hari ke berapa tunas muncul Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa tidak adanya tunas yang muncul dari eksplan yang ditanam. Hal ini bisa terjadi dikarenakan eksplan mati karena terkontaminasi oleh jamur. 3. % inisiasi akar dan hari keberapa akar muncul Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa tidak adanya akar yang muncul dari eksplan yang ditanam. Hal ini bisa terjadi dikarenakan eksplan mati karena terkontaminasi oleh jamur. 4. % kontaminasi Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa eksplan mengalami kontaminasi secara keseluruhan atau 100% bagian eksplan. Berdasarkan ciri-cirinya yaitu munculnya serbuk putih dan lapisan berwarna hijau, kontaminasi yang terjadi disebabkan oleh jamur. Menurut George (1993) kultur yang telah terkontaminasi dapat diselamatkan dengan metode berikut: 1) Buka wadah yang berisi kultur terkontaminasi dan isi penuh dengan larutan 0.51% w/v sodium hypochlorite; 2) Biarkan selama 150 menit tergantung pada keganasan kontaminasi atau sensitivitas bahan tanaman; 3) Keluarkan kultur dari larutan kloring, potong bagian dasar dan buang daun-daun yang berlebihan; 4) Transfer ke media kultur yang baru

3.2 Pembuatan Stok Media MS

Siapkan timbangan analitik dan cup kertas. Baca cara penggunaan timbangan dengan seksama

Timbang bahan yang akan dijadikan larutan induk satu persatu dan melarutkannya masingmasing dengan aquades Setelah dilarutkan, tambahkan aquades sesuai dengan volume yang telah dihitung, lalu masukkan dalam botol penyimpanan sesuai dengan golongan senyawa masingmasing. Larutan induk adalah larutan yang akan dijadikan bahan dasar media tanam in vitro dimana terdiri dari larutan induk senyawa makro, larutan induk senyawa mikro, larutan induk senyawa besi dan unsur-unsur vitamin serta zat pengatur tumbuh. 3.3 Aklimatisasi Menyiapkan media aklimatisasi yang terdiri dari campuran bahan organik, tanah dan pasir (2:2:1) yang telah diayak halus kemudian disterilisasi dengan cara dikukus selama 1 jam.

Membersihkan plantlet dari agar (media) yang masih menempel di akar dengan cara di cuci dibawah air kran.

Ditanam dalam media, disemprot dengan air untuk menjaga kelembaban media dikerodong dengan plastik bening serta ditempatkan di tempat yang teduh

Penutupan dengan plastik selama 3 minggu sampai terbentuk daun baru.

Pengamatan terhadap plantlet : 1. Jumlah akar dan daun baru yang tumbuh 2. Saat terbentuknya daun baru

Aklimatisasi adalah kegiatan pemindahan plantlet (tanaman kecil) dari media in vitro ke media in vivo (lingkungan sebenarnya). Proses pemindahan ini memerlukan keadaan yang mendukung agar plantlet tidak mengalami stress lingkungan. Diantara kegiatan yang dilakukan adalah memberikan kelembaban tinggi hingga 80% dan struktur media remah serta kandungan nutrisinya yang memadai selama masa transisi plantlet.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa eksplan yang ditanam tidak dapat tumbuh atau dengan kata lain mati, hal ini dikarenakan adanya kontaminasi oleh jamur yang menghambat pertumbuhan eksplan. Diduga eksplan terkontam jamur dengan cara penyebaran pada saat penanaman eksplan ke botol kultur yang kurang steril. Kontaminasi jamur ditandai dengan adanya serbuk putih dan warna berubah menjadi kehijauan.

V. DAFTAR PUSTAKA

Chang, S. S.-T., & Quimio, T. H. (1982). Tropical Mushrooms: Biological Nature and Cultivation Methods. Hong Kong: Chinese University. Gupta, S. D., & Ibaraki, Y. (2008). Plant Tissue Culture Engineering. Netherlands: Springer.
George. 1993. Plant Propagation by Tissue Culture Part 1 The Technology. England : Exegetics Press.

Toby. (2013). Preparing Plant Tissue Culture Medium. Dipetik 05 2013, dari Laboratory Learning Techniques and Tips: http://carnegiescience.edu/first_light_case/horn/PTC/preptcmed.html Mather, J. P., & Roberts, P. E. (1984). Introduction to Cell and Tissue Culture. New York: A Division of Plenum Publishing Corporation. Razdan, M. K. (2003). Introduction to Plant Tissue Culture. Enfield, New Hampshire: Science Publisher, Inc. Sathyanarayana, B. N., & Vaghese, D. B. (2007). Plant Tissue Culture: Practices and New Experimental Protocol. New Delhi: I. K International Publishing: House Pvt. Ltd. Trigiano, R. N., & Gray, D. J. (2011). Plant Tissue Culture, Development, and Biotechnology. New York: CRC Press.

Kritik dan Saran Pelaksanaan Praktikum TPB Kultur Jaringan Kritik : Pada saat praktikum bahan mengalami kekurangan, jadi harus mengambil dahulu di lahan bawah. Hal ini menyita waktu praktikum

Saran : Untuk kedepannya harap dicek dahulu apakah bahan sudah tersedia, sehingga tidak menyita waktu praktikum yang ada.