Anda di halaman 1dari 2

Akulah Pembunuh Orang PKI (Memoar Seorang Algojo) Tuan jaksa jawab tuan jaksa Undang-undang mana bikinan

siapa Yang mengijinkan pejabat negara Menganiaya rakyat Dan menginjak hak-haknya (Ibunda, Wiji Thukul) Jangan dikira aku takut pada pengusutan atau penegakan keadilan. Perbuatanku pada masa lalu, bukan hanya menjadi kenangan tapi juga bayangan yang masih tegak berdiri. Aku tidak diburu oleh kesalahan melainkan merasa ditantang untuk kembali ke masa lampau. Waktu dimana kata revolusi seperti sebuah tuah yang mengalirkan kekuatan. Cukup berteriak revolusi maka tumbuh keyakinan ganas bahwa siapa yang menolak akan diberi imbalan hukuman. Aku berada dalam situasi seperti itu. PKI menjadi partai yang besar, karena ajakan dan dukungan massa yang mengalir deras. Aku mungkin bukan orang yang anti pada PKI tapi keadaan membuatku secara sadar ingin membasmi mereka. Waktu itu keadaanya begitu gawat: kalau kau tidak ikut serta dalam arus kebencian maka kau akan jadi korban. Apalagi aku hanya seorang prajurit yang hanya mengenal satu ketaatan, yakni taat pada perintah atasan. Perintah atasanku jelas dan lugas, cari orang PKI atau orang yang pernah berhubungan dengan mereka. Ternyata mencari orang jenis seperti itu begitu cepat dan mudah. Beberapa gerombolan anak-anak muda secara suka rela membantu kami dan bahkan ada saudara kandung yang rela mengumpan saudaranya sendiri untuk kami tangkap. Aku saat itu hampir tak percaya atas kekejian yang dilakukan oleh bangsaku sendiri. Tapi tugasku bukan untuk menanyakan situasi yang tak beres ini; tugasku hanya menangkap atau kalau perlu membunuh orang-orang PKI. Pemimpin kami bilang PKI telah memberontak, membangkang dan membunuh beberapa Jenderal. Berita Angkatan Bersenjata menginformasikan bagaimana PKI telah menganiaya dengan kejam tujuh Jenderal. Mereka dimasukkan dalam lubang sumur setelah sebelumnya tubuh mereka dicincang dan disiksa. Siapa yang tidak marah dengan berita beginian? Aku yang sejak semula benci dengan kata revolusi bukan hanya percaya pada berita itu, tapi juga merasa perlu untuk membalas dendam. PKI seperti iblis jahat yang mengintai nyawa orang-orang baik. PKI mengancam rakyat dan yang lebih penting bangsa secara keseluruhan. Pimpinanku memberi daftar nama-nama orang yang harus kuambil. Tiap malam dibantu dengan beberapa pemuda aku menjemput orang-orang yang dikategorikan sebagai PKI atau simpatisannya. Taktik kami tidak berubah, ada yang rumahnya perlu dilempari batu lebih dulu kemudian ada yang langsung kami ambil secara paksa. Untuk sejumlah orang yang memiliki kewibawaan atau popularitas aku akan bilang dengan tegas: bapak kami amankan! Jangan tanya kenapa aku tega membawa seorang ibu yang masih punya anak ke atas bak truk dan memenjarakannya. Jangan juga bilang aku tidak punya rasa kemanusiaan melihat orang dipenggal kepalanya dan aku hanya diam menyaksikannya. Kekejaman pada malam itu seperti sebuah upacara ritual yang diadakan untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan. Genangan dan bau darah yang menyengat seperti udara yang membuat nyaliku terus dipompa. PKI memang tidak kenal Tuhan dan kami yang menjadi penjagal seperti seekor setan yang berulah. Di masa tua ini aku ingin melupakan ingatan dan mimpi buruk yang memburu-buru. Di tengah malam buta sering aku melihat seorang anak duduk melihat dengan dingin ke arah mukaku. Seolah-olah ia ingin berteriak: kemana bapakku kau bawa? Anak itu dulu pernah menyaksikan bapaknya diseret oleh kawankawanku. Teriakan dan jeritannya yang lantang tidak membuat kami tergerak untuk melepaskan bapaknya, yang dulu sering bermain ketoprak untuk PKI. Bapak anak itu kemudian kami bunuh dan mayatnya kami tanam di bawah pohon pisang. Si anak katanya gila dan mati diterjang oleh truk. Ia tidak kuat menahan ejekan dan sikap sinis masyarakat. Jika Hitler memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membunuhi orang Yahudi, maka perburuan kami terhadap orang-orang PKI hanya memakan waktu bulanan. Prestasi membunuh itulah yang membuatku duduk di jabatan yang tugasnya mengontrol dan mewaspadai setiap pengaruh komunis. Aku pernah menangkap seorang guru yang lukisanya mirip dengan simbol PKI. Kusuruh bawahanku membawa guru itu ke markas dan disana ia kami introgasi sehari penuh. Aku juga menangkap dua mahasiswa yang mengedarkan novel orang-orang PKI. Tebal sekali novel itu, aku pun sejak dulu tidak terlalu suka baca, maka aku hanya bilang pada mereka: kalau kalian kami amankan. Untung Soeharto adalah

pemimpin yang suka sekali kalau rakyatnya ditangkap karena tuduhan PKI. Dalam benakku, PKI itu seperti virus demam berdarah, yang akan hidup di tempat dimana kemiskinan meraja-lela. Siapapun yang tak setuju dengan apa keputusan pemerintah, kami sebut itu PKI. Jentik PKI itu bisa merayap dan menempel dengan cepat pada lahan dimana kesenjangan, ketidak-adilan dan diskriminasi berjalan. Aku makanya tak terlalu tertarik untuk berdiskusi tentang komunisme kalau ada anak-anak muda yang mengajakku debat. Selain aku tak paham juga tidak ada gunanya. Bagiku hanya ada satu kata, untuk mereka yang bersimpati pada PKI, amankan dan penjarakan. Kini ada banyak buku yang beredar dan berusaha untuk menghidupkan kembali bayangan buruk yang kurasakan. Pembunuhan, pembantaian dan kekejian massal itu dilukiskan kembali. Aku kini bukan berada dalam posisi sebagai pelaku, tapi tersangka. Sebagai tersangka sejarah, aku tak boleh berdiam diri. Aku berusaha dan mengajak semua orang untuk menjadi pembela posisiku. Masih banyak anak-anak muda yang memiliki pikiran sama denganku, bahwa komunisme itu masih akan hidup dan masih mampu menarik anggota. Mereka malah dengan ganas memukuli setiap demonstrasi maupun siapa saja yang memakai kostum mirip dengan komunis. Tidak hanya itu, mereka memperagakan kembali prilaku pasukan mongol yang bodoh, yakni membakari buku. Jika dulu aku melakukan kekejaman karena memang kedudukanku sebagai prajurit, kini anak muda itu mengerjakanya karena minimnya pengetahuan. Tapi aku tak mau menyalahkan mereka, yang kupercaya, mereka membantu posisiku yang tersudut. Tidak saja anak-anak muda, tetapi juga ada intelektual yang dengan gagah bilang bahwa komunisme jauh lebih kejam daripada fasisme atau kapitalisme. Dicetaknya berbagai buku tentang kekejian komunisme; digelarnya diskusi tentang ancaman komunisme dan ditebarkannya spanduk seperti pada masa Orde Baru yang berbunyi: awas ancaman komunis! Cara tolol ini memang mujarab untuk menutupi kenyataan akan persoalan sebenarnya bangsa ini: kelaparan dan kemiskinan. Aku bisa tertawa terbahak-bahak saat seorang pejabat tiba-tiba bilang, kalau yang mengebom Bali adalah orang PKI. Aku memang benci pada PKI, tapi akal sehatku tentu tidak sejauh imaginasi pejabat yang keterlaluan ini. Dan terbukti bukan PKI yang melakukanya dan si pejabat itu sepertinya lupa kalau ia pernah berkata dusta. Jadi aku tidak terlalu takut dengan masa lalu yang kelam ini. Bangsa ini sudah lama mentoleransi kekejaman dan membiarkan para pelakunya untuk tidak bertanggung jawab. Aku hanya cemas dengan nuraniku. Dalam hati terdalam, aku tidak bisa berkelit bahwa tanganku pernah berbasuh darah. Sebuah cerpen yang dimuat di koran pernah mengisahkan bagaimana mayat seorang pembunuh PKI tak diterima di tanah pekuburan; ia menjadi pembunuh sepertiku. Kadang aku membayangkan, seandainya dulu aku menjadi korban, tentu keluargaku tidak bisa tumbuh seperti sekarang. Makmur, mapan dan berpengaruh. Di tengah gulita aku kadang terbangun dan terbayang bagaimana pembunuhan keji itu kulakukan. Aku mirip seperti veteran perang Vietnam yang terus diburu oleh wajah para mayat yang tak bersalah. Berhadapan dengan aktivis HAM aku masih bisa tegak berdiri menantang, tapi berdiri di depan nurani, aku bisu dan terdiam. Masa lalu itu seperti pertaruhan yang keji, antara bagaimana berdiri jujur berhadapan dengan korban atau tetap tegak angkuh sambil melupakan dusta masa lalu kita. Aku pernah ikut mendirikan bangsa ini. Ayahku adalah seorang ksatria, yang percaya bahwa tugas seorang serdadu adalah melindungi rakyatnya. Ia pernah ikut pak Dirman, seorang militer yang punya rasa kemanusiaan tinggi. Sejak kecil aku diajari olehnya bagaimana sikap dan watak seorang perwira. Dirinya harus menjadi kaca dari prilaku mulia dan berani untuk jujur terhadap segala apa yang dilakukanya. Martabat seorang serdadu bukan terletak dari pangkat dan senjatanya, tapi sejauh mana, masyarakat percaya dan terlindungi oleh kehadirannya. Jika boleh dibilang jujur aku malu dengan diriku sendiri. Kekayaan maupun kemapanan ini tidak terlalu banyak artinya, kalau aku masih melihat anak-anak muda mencemooh kami, orang-orang tua yang anaknya hilang meminta pertanggung-jawaban kami. Aku tak bisa terlalu lama memendam sikap pengecut dan terus lari dari tuntutan pertanggung-jawaban. Aku ingin mengakui bahwa aku pernah kejam, salah dan keliru! Aku hanya bisa mengucapkanya, bukan melakukanya.