Anda di halaman 1dari 2

BUKU 'ANARKI KAPITALISME': AKHIR KAPITALISME

Kapitalisme, kata itu sudah tidak asing bagi pendengaran kita. Bahkan, kita sering mengucapkannya seperti kata umpatan. Kapitalisme sudah identik dengan suatu sistem yang jahat, merusak, melanggengkan ketidakadilan, dan anti-manusia. Untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, kapitalisme musti dihancurkan. Demikianlah, kampanye anti-kapitalisme merunyak di mana-mana. Kapitalisme dengan sengitnya dihujat dan dilaknat sebagai sumber segala sumber persoalan yang mendera kita saat ini. Anehnya, sampai saat ini sistem kapitalisme masih survive.Pertanyaannya, kenapa sistem kapitalisme tampak begitu tangguh dan liat sehingga Francis Fukuyama sampai menyakininya sebagai the end of history, atau sampai ketika kita menentang globalisasi sebagai suatu wujud kapitalisme tingkat lanjut dianggap menentang hukum alam? Apakah kapitalisme itu sebenarnya? Dalam buku ini, penulis tidak sekedar menjelaskan konsep kapitalisme beserta logika yang bekerja dibaliknya, melainkan juga merivisi dalil-dalil Marxian yang selama menjadi rujukan utama dalam upaya memahami kapitalisme. Tidak hanya itu, penulis juga mengajukan suatu jalan alternatif, dengan mengambil inspirasi dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh Ivan Illich. Kapitalisme, ramal Marx, akan hancur dengan sendirinya oleh kontradiksi internalnya. Secara sederhana proses kehancuran itu dapat digambarkan sebagai berikut: Ketika mencapai tahap lanjut, perkembangan kapitalisme bertumpu kepada proses penggantian para pekerja oleh mesin-mesin; buruh-buruh hidup digantikan dengan buruh-buruh yang tak bernyawa. Dalam terminologi Marxis, terjadi peningkatan komposisi organik modal. Cara lain untuk mendeskripsikan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa industri menjadi semakin bersifat modal-intensif: mereka memakai jumlah kapital yang lebih besar untuk memproduksi volume komoditi yang sama. Mereka harus menghasilkan keuntungan dalam jumlah besar untuk menggantikan atau memperbaharui mesin-mesin produksi, dan pada saat yang bersamaan memberikan kompensasi atas investasi modal (yang sebagian besar merupakan pinjaman dari bank) pada tingkat bunga yang memuaskan para kreditor. Padahal, Marx menunjukkan bahwa cepat atau lambat tingkat rata-rata keuntungan akan menurun: modal dalam jumlah yang lebih besar digunakan untuk menghasilkan komoditas dalam volume yang sama, semakin banyak keuntungan yang berkurang dihubungkan dengan kapital yang dipergunakan. Dengan lain perkataan, produksi tak dapat terus menerus meningkat, tanpa suatu ketika mencapai suatu batas. Alhasil, ketika mencapai momen dimana tingkat keuntungan mulai menurun, keseluruhan sistem akan lumpuh: mesin-mesin tak dapat dibuat agar menghasilkan barang-barang yang dapat menciptakan tingkat keuntungan seperti yang biasa diperoleh, juga sebagai konsekuensinya, mesin-mesin tersebut tak dapat digantikan dengan tingkat harga yang sama seperti sebelumnya; dengan demikian industri mesin (salah satu di antaranya) mulai runtuh dan penurunan produksi secara progresif akan menyebar. Dalam terminologi Marxis, terjadi overakumulasi: bagian dari modal dalam proses produksi telah menjadi sedemikian besarnya (komposisi organiknya demikian tinggi) sehingga ia tak dapat mereproduksi dirinya lagi pada tingkat pertumbuhan yang normal. Produktivitas modal mengalami penyusutan. Nilai dari modal tetap, yang tak dapat dibuat untuk menghasilkan profit yang secukupnya, turun ke titik nol. Modal tersebut dalam kenyataannya akan musnah: mesin-mesin dibuang, pabrik-pabrik ditutup, buruh-buruh di PHK. Sistem sedang mengalami krisis. Namun, seperti kita tahu sampai saat ini sistem kapitalisme belum tergoyahkan. Malahan, sistem sosialismekomunis yang dianggap sebagai sistem tandingan terhadap kapitalisme mengalami kebangkrutan terlebih dahulu. Menurut penulis, kegagalan ramalan Marx disebabkan keberhasilan kaum kapitalis dalam menghindari krisis tersebut, yang dilakukan dengan cara: Meningkatkan jumlah barang-barang yang terjual; Meningkatkan bukan jumlah melainkan harga (nilai tukar) dari barang yang terjual, terutama dengan cara membuat barang-barang tersebut menjadi lebih rumit dan canggih. Kedua pendekatan tersebut tentu saja tidak terpisah sama sekali. Adalah sangat mungkin untuk meningkatkan penjualan dengan cara membuat produk yang memiliki jangka waktu penggunaan yang pendek, sehingga dengan demikian akan memaksa orang untuk lebih sering menggantinya; dan pada waktu yang bersamaan, produk-produk ter-sebut dapat dibuat menjadi lebih rumit dan mahal.

Dapat diramalkan bahwa tipe pertumbuhan semacam ini sekedar menjadi sebuah tingkatan kemajuan, dan bukan suatu solusi yang dapat bertahan lama. Menghindari jatuhnya tingkat keuntungan dan kejenuhan pasar dengan mempercepat perputaran modal, dan mengurangi kualitas produk akan menciptakan efek-efek yang bertentangan dengan tujuan aslinya (yang oleh para ekonom disebut sebagai efek sampingan). Di pihak lain, cara tersebut pada saat bersamaan akan menciptakan bentuk-bentuk kelangkaan baru, ketidakpuasan, dan bentuk kemiskinan yang baru pula. Rangkaian peristiwa yang menyebabkan terjadinya situasi demikian dapat diretas ke dalam dua fase: Selama fase pertama, produksi menjadi semakin tidak berguna, destruktif, dalam upaya untuk menghindari krisis over-akumulasi. Ia mempercepat kerusakan dari sumber daya-sumber daya yang tak dapat diperbaharui, tempat di mana ia bergantung; dan ia melakukan konsumsi berlebihan atas sumber dayasumber daya yang terbaharui (udara, air, hutan, tanah, dsb) dalam kecepatan yang membuat mereka juga akhirnya menjadi langka. Selama fase kedua, dihadapkan dengan situasi menipisnya sumber daya-sumber daya alam yang telah mereka rampok selama ini, industri dalam kebingungannya menciptakan upaya-upaya untuk mengatasi kelangkaan yang lahir akibat meningkatnya produksi dengan cara semakin mempertinggi produksi. Akan tetapi produk-produk dari proses industri yang bersifat ekstra ini tidak dimasukkan ke dalam konsumsi final; mereka dikonsumsi oleh industri itu sendiri. Ringkasnya, kita sedang menghadapi sebuah krisis over-akumulasi klasik, yang diperparah oleh suatu krisis reproduksi sehingga sebagaimana mestinya mengarah kepada semakin meningkatnya kelangkaan sumber daya-sumber daya alam. Solusi dari krisis ini tak dapat ditemukan di dalam pemulihan ekonomi, melainkan di dalam pembalikan dari logika kapitalisme itu sendiri. Logika kapitalisme cenderung menuju kepada maksimalisasi: menciptakan kemungkinan terbesar atas jumlah kebutuhan-kebutuhan dan mengupayakan pemenuhannya dengan jumlah terbesar yang mungkin atas barang-barang dan jasa-jasa yang dapat dipasarkan demi memperoleh kemungkinan profit yang paling besar dari aliran energi dan sumber daya. Akan tetapi kaitan antara lebih banyak dan lebih baik sekarang telah terputus. Lebih baik bisa jadi saat ini berarti lebih sedikit: menciptakan kebutuhan-kebutuhan sesedikit mungkin, memuaskannya dengan pengeluaran atau pembelanjaan terkecil atas material-material, energi dan kerja, dan menjatuhkan beban yang paling kecil terhadap lingkungan. Hal ini dapat dilakukan tanpa melakukan pemiskinan dan ketidakadilan sosial, tanpa mereduksi kualitas hidup, asalkan kita siap untuk menyerang sumber utama kemiskinan. Sumbernya tidak terletak pada kurangnya produksi, tetapi dalam karakteristik barang-barang yang diproduksi, pola konsumsi yang dipromosikan oleh kapitalisme, dan dalam situasi ketidaksamaan (inequality) yang mendorongnya. Kita hanya perlu mengubah pertumbuhan atau mengubah apa yang dihasilkan, metode produksi, definisi tentang kebutuhan-kebutuhan, metode untuk memuaskannya; pendeknya cara produksi dan cara hidup.