Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum yang dimaksud dengan dispneu adalah kesulitan bernapas.

Kesulitan bernapas ini terlihat dengan adanya kontraksi otot-otot pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya terjadi dengan lambat, akan tetapi dapat pula terjadi dengan cepat. Kesulitan bernapas disebabkan karena suplai oksigen kedalam jaringan tubuh tidak sebanding dengan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Dispneu, sensasi sesak napas atau pernapasan tidak memadai, adalah keluhan yang paling umum dari pasien dengan penyakit kardiopulmonari. Evaluasi keluhan rumit oleh fakta bahwa dalam beberapa keadaan sesak napas adalah konsekuensi normal menguras tenaga. Lebih jauh lagi, persepsi sesak napas bervariasi antara individu-individu pada tingkat yang sama kebugaran dan bekerja dan bahkan dalam individu yang sama melakukan pekerjaan yang sebanding pada waktu yang berbeda. Pada penyakit Negara, persepsi dispneu dapat sangat bervariasi diantara individu. Akibatnya, penilaian subyektif sensasi dispneu harus menyeimbangkan konsep kerja dan ventilasi fisiologis permintaan dengan persepsi individu sesak napas. Makalah ini akan membahas tentang Asuhan Keperawatan pada Klien Dispneu beserta terapinya. 1.2 Batasan Masalah Dalam menyusun makalah ini, dibatasi pada Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Dispneu beserta terapi dan pelaksanaanya di Ruang Interna RSD Dokter Haryoto Lumajang. 1.3 Tujuan a. Mengetahui Asuhan Keperawatan pada Ny S dengan Dispneu di Ruang Interna RSD Dokter Haryoto Lumajang b. Dapat mengerti dan paham terhadap efek terapeutik dan efek samping obat yang diberikan pada Ny S dengan Dispneu di Ruang Interna RSD Dokter Haryoto Lumajang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Dispnea atau sesak nafas merupakan keadaan yang sering ditemukan pada penyakit paru maupun jantung. Bila nyeri dada merupakan keluhan yang paling dominan pada penyakit paru. Akan tetapi kedua gejala ini jelas dapat dilihat pada emboli paru,bahkan sesak napas merupakan gejala utama pada payah jantung. Secara umum yang dimaksud dispnea adalah kesulitan bernapas,kesulitan bernapas ini terlihat dengan adanya kontraksi dari otot-otot pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya terjadi dengan lambat, akan tetapi dapat pula terjadi dengan cepat. Berat ringannya dispnea tidak dapat diukur dan kadang-kadang sulit untuk dinilai, sehingga dokter yang memeriksa akan timbul pertanyaan sebagai berikut: Dispnea merupakan suatu perasaan yang subyektif dari pasien atau berhubungan dengan suatu penyakit. Apakah yang dinilai ini bukannya suatu takipnea atau hiperpnea atau suatu tipe pernapasan yang lain, misalnya pernapasan cheyne stoke. Apakah yang terjadi bukannya hanya suatu rasa nyeri saja, sehingga penderita takut untuk bernapas dalam. Sulit untuk menilai apakah suatu dispnea bersifat fisiologi atau patologi. Akan tetapi terdapat beberapa pegangan untuk menilai dispnea yang patologi, yakni sebagai berikut: Berdasarkan riwayat penyakit apakah dispnea tersebut terjadi secara mendadak. Apakah dispnea tersebut terjadi secara berulang (recurrent). Waktu terjadinya dispnea menentukan pula apakah setelah bekerja berat atau terjadi tiba-tiba pada tengah malam. Sedangkan berdasarkan riwayat penyakit yang mendukung terjadimya dispnea yang bersifat subyektif, yakni bila terjadinya dispnea berhubungan banyak dengan umur, seperti misalnya dalam menjalankan pekerjaan yang tidak sebanding dengan usia.

2.1.1 Klasifikasi Dispnea Dispnea dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Inspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu inspirasi yang disebabkan oleh karena sulitnya udara untuk memasuki paruparu. Ekspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu ekspirasi yang disebabkan oleh karena sulitnya udara yang keluar dari paru-paru. Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan primer penyakit jantung. Exertional dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena olahraga. Exspansional dispnea, dispnea yang disebabkan oleh karena kesulitan exspansi dari rongga toraks. Paroksismal dispnea, yakni dispnea yang terjadi sewaktu-waktu, baik pada malam maupun siang hari. Ortostatik dispnea, yakni dispnea yang berkurang pada waktu posisi duduk. Pembagian tersebut di atas tidak berdasarkan atas klasifikasi etiologi maupun tipe dispnea, akan tetapi istilah-istilah tersebut sering dipergunakan. Berdasarkan etiologi maka dispnea dapat dibagi menjadi 4 bagian, yakni: Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena adanya kelainan pada jantung. Pulmunal dispnea, dispnea yang terjadi pada penyakit jantung. Hematogenous, dispnea yang disebabkan oleh karena adanya asidosis, anemia atau anoksia, biasanya dispnea ini berhubungan dengan exertional (latihan). Neurogenik, dispnea terjadi oleh karena kerusakan pada jaringan otototot pernapa 2.1.2 Fisiologi Yang dimaksud dengan dispnea adalah kesulitan bernapas yang disebabkan karena suplai oksigen ke dalam jeringan tubuh tidak

sebanding dengan oksigen kedalam jaringan tubuh tidak sebanding dengan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. 2.1.3 Patofisiologi dari dispnea yakni: Kekurangan oksigen (O2) a. Penyebab dari kekurangan oksigen dapat di bagi atas: Tekanan oksigen inspirasi yang rendah, misalnya pada tempat yang sangat tinggi, respirasi dengan gas-gas yang berbahaya, ruang dekompresi, atau karena bertambahnya volume dead space. Gangguan konduksi maupun difusi gas ke paru-paru. Gangguan pertukaran gas dan hipoventilasi.

b. Pertukaran gas di dalam paru-paru normal, tetapi kadar oksigen didalam paru-paru berkurang. c. Stagnasi dari aliran darah. Kelebihan Karbon Dioksida (CO2) Karena terdapatnya shunting pada COPD sehingga menyebabkan terjadinya aliran dari kanan ke kiri. Tingkat-Tingkat Dispnea Dispnea dapat dibagi atas dua dasar, yakni: Atas dasar klinis Pembagian ini berdasarkan New York Heart Association dan dapat dibagi menjadi empat tingkatan, yakni: Tingkat 1 : bila dispnea tidak membatasi aktivitas artinya kebutuhan oksigen baik pada masa istirahat maupun pada masa setelah latihan dapat dikompensasi oleh paru-paru. Tingkat 2 : terjadi pembatasan yang ringan darin fungsi paru, artinya pada penderita yang melakukan aktivitas fisik dapat terjadi dispnea, akan tetapi pada waktu istirahat tidak terjadi dispnea. Tingkat 3 : aktivitas fisik penderita sangat terbatas dan dengan aktivitas fisik yang ringan saja sudah dapat menimbulkan sesak napas. Tingkat 4 : dispnea terjadi pada keadaan istirahat. Kerja yang ringan akan memperberat keadaan dispneanya. Atas Dasar Pemeriksaan Paru-Paru Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni:

Obstruksi dispnea, yakni dispnea yang terjadi karena adanya kelainan dari fungsi obstruksi paru. Berdasarkan nilai restriktif maka dispnea dapat dibagi atas (angka-angka di bawah adalah presentase dari normal): Restriktiif normal Restriktif ringan sampai sedang Restriktif sedang Restriktif berat

Atas Dasar Terjadinya Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni: o Dispnea yand terjadi mendadak, biasanya disebabkan oleh karena emboli paru, pneumothoraks, atau obstruksi jalan napas. o Dispnea yang terjadi secara perlahan-lahan, biasanya disebabkan oleh karna payah jantung dan efusi pleura. Atas Dasar Respirasi Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni: o Dispnea inspirasi o Dispnea ekspirasi Evaluasi Dari pemeriksaan fisik terlihat bahwa pasien menggunakan otot-otot pernapasan tambahan. Ekspirasi maupun inspirasi tergantung kepada tipe dari dispnea. Pemeriksaan yang dilakukan adalah sangat luas, akan tetapi dapat digolongkan menjadi 7 bagian, yakni: o Tanda-tanda yang menyokong pada paru-paru Wheezing Ronchi Cuping hidung yang bergerak Sianosis EKG

o Tanda-tanda yang menyokong adanya dispnea

o Pemeriksaan laboratorium o Pemeriksaan fungsi paru dan analisis gas. o Pemeriksaan skantigrafi. o Pemeriksaan pemeriksaan infasif jantung.

2.2.

Asuhan Keperawatan

1.

Riwayat Kesehatan Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi data saat ini dan masalah yang lalu. Perawat mengkaji klien atau keluarga dan berfokus kepada manifestasi klinik dari keluhan utama, kejadian yang membuat kondisi sekarang ini, riwayat perawatan dahulu, riwayat keluarga dan riwayat psikososial. Riwayat kesehatan dimulai dari biografi klien, dimana aspek biografi yang sangat erat hubungannya dengan gangguan oksigenasi mencakup usia, jenis kelamin, pekerjaan (terutama yang berhubungan dengan kondisi tempat kerja) dan tempat tinggal. Keadaan tempat tinggal mencakup kondisi tempat tinggal serta apakah klien tinggal sendiri atau dengan orang lain yang nantinya berguna bagi perencanaan pulang (Discharge Planning). a. Keluhan Utama Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan klien tentang kondisinya saat ini. Keluhan utama yang biasa muncul pada klien gangguan kebutuhan oksigen dan karbondioksida antara lain : batuk, peningkatan produksi sputum, dyspnea, hemoptysis, wheezing, Stridor dan chest pain. 1) Batuk (Cough) Batuk merupakan gejala utama pada klien dengan penyakit sistem pernafasan. Tanyakan berapa lama klien batuk (misal 1 minggu, 3 bulan). Tanyakan juga bagaimana hal tersebut timbul dengan waktu yang spesifik (misal : pada malam hari, ketika bangun tidur) atau hubungannya dengan aktifitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah produktif atau non produktif, kongesti, kering. 2) Peningkatan Produksi Sputum. Sputum merupakan suatu substansi yang keluar bersama dengan batuk atau bersihan tenggorok. Trakeobronkial tree secara

normal memproduksi sekitar 3 ons mucus sehari sebagai bagian dari mekanisme pembersihan normal (Normal Cleansing Mechanism). Tetapi produksi sputum akibat batuk adalah tidak normal. Tanyakan dan catat warna, konsistensi, bau dan jumlah dari sputum karena hal-hal tersebut dapat menunjukkan keadaan dari proses patologik. Jika infeksi timbul sputum dapat berwarna kuning atau hijau, sputum mungkin jernih, putih atau kelabu. Pada keadaan edema paru sputum akan berwarna merah mudah, mengandung darah dan dengan jumlah yang banyak. 3) Dyspnea Dyspnea merupakan suatu persepsi kesulitan untuk bernafas/nafas pendek dan merupakan perasaan subjektif klien. Perawat mengkaji tentang kemampuan klien untuk melakukan aktifitas. Contoh ketika klien berjalan apakah dia mengalami dyspnea ?. kaji juga kemungkinan timbulnya paroxysmal nocturnal dyspnea dan orthopnea, yang berhubungan dengan penyakit paru kronik dan gagal jantung kiri. 4) Hemoptysis Hemoptysis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan. Perawat mengkaji apakah darah tersebut berasal dari paru-paru, perdarahan hidung atau perut. Darah yang berasal dari paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru distimulasi segera oleh refleks batuk. Penyakit yang menyebabkan hemoptysis antara lain : Bronchitis Kronik, Bronchiectasis, TB Paru, Cystic fibrosis, Upper airway necrotizing granuloma, emboli paru, pneumonia, kanker paru dan abses paru. 5) Chest Pain Chest pain (nyeri dada) dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru. Gambaran yang lengkap dari nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan nyeri pada pleura, muskuloskeletal, cardiac dan gastrointestinal. Paru-paru tidak mempunyai saraf yang sensitif terhadap nyeri, tetapi iga, otot, pleura parietal dan trakeobronkial tree mempunyai hal tersebut. Dikarenakan perasaan nyeri murni adalah subjektif, perawat harus menganalisis nyeri yang berhubungan dengan masalah yang menimbulkan nyeri timbul. b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan klien. Secara umum perawat menanyakan tentang : 1) Riwayat merokok : merokok sigaret merupakan penyebab penting kanker paru-paru, emfisema dan bronchitis kronik. Semua keadaan itu sangat jarang menimpa non perokok. Anamnesis harus mencakup hal-hal : a) Usia mulainya merokok secara rutin. b) Rata-rata jumlah rokok yang dihisap perhari. c) Usia melepas kebiasaan merokok. 2) Pengobatan saat ini dan masa lalu 3) Alergi 4) Tempat tinggal c. Riwayat Kesehatan Keluarga Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru sekurang-kurangnya ada tiga, yaitu : 1) Penyakit infeksi tertentu : khususnya tuberkulosa, ditularkan melalui satu orang ke orang lainnya; jadi dengan menanyakan riwayat kontak dengan orang terinfeksi dapat diketahui sumber penularannya. 2) Kelainan alergis, seperti asthma bronchial, menunjukkan suatu predisposisi keturunan tertentu; selain itu serangan asthma mungkin dicetuskan oleh konflik keluarga atau kenalan dekat. 3) Pasien bronchitis kronik mungkin bermukim di daerah yang polusi udaranya tinggi. Tapi polusi udara tidak menimbulkan bronchitis kronik, hanya memperburuk penyakit tersebut. 2. Review Sistem (Head to Toe) a. Inspeksi 1) Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk. 2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya. 3) Tindakan dilakukan dari atas (apex) sampai ke bawah. 4) Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, skar, lesi, massa, gangguan tulang belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis.

5) Catat jumlah, irama, kedalaman pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada. 6) Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan penggunaan otot bantu pernafasan. 7) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). ratio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD 8) Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1 : 2 sampai 5 : 7, tergantung dari cairan tubuh klien. 9) Kelainan pada bentuk dada : a) Barrel Chest Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP : T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema. b) Funnel Chest (Pectus Excavatum) Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfans syndrome atau akibat kecelakaan kerja. c) Pigeon Chest (Pectus Carinatum) Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat. d) Kyphoscoliosis Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax. Kiposis : meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan klien tampak bongkok. Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral

10) Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura. 11) Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan nafas. b. Palpasi Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal/tactile premitus (vibrasi). Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa, lesi, bengkak. Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri. Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara. c. Perkusi Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya dan pengembangan (ekskursi) diafragma. Jenis suara perkusi : Suara perkusi normal : Resonan (Sonor) Dullness : bergaung, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru normal. : dihasilkan di atas bagian jantung atau paru.

Tympany : musikal, dihasilkan di atas perut yang berisi udara. Suara Perkusi Abnormal : Hiperresonan : bergaung lebih rendah dibandingkan dengan resonan dan timbul pada bagian paru yang abnormal berisi udara. Flatness : sangat dullness dan oleh karena itu nadanya lebih tinggi. Dapat didengar pada perkusi daerah paha, dimana areanya seluruhnya berisi jaringan. d. Auskultasi

10

Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas normal, suara tambahan (abnormal), dan suara. Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih Suara nafas normal : a) Bronchial : sering juga disebut dengan Tubular sound karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut. Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. b) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada. c) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan. Suara nafas tambahan : d) Wheezing : terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring, musikal, suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang menyempit. e) Ronchi : terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, suara mengorok terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan produksi sputum f) Pleural friction rub : terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara : kasar, berciut, suara seperti gesekan akibat dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali klien juga mengalami nyeri saat bernafas dalam. g) Crackles Fine crackles : setiap fase lebih sering terdengar saat inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah-patah akibat udara melewati

11

daerah yang lembab di alveoli atau bronchiolus. Suara seperti rambut yang digesekkan. Coarse crackles : lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara lemah, kasar, suara gesekan terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan nafas yang besar. Mungkin akan berubah ketika klien batuk. 3. Pengkajian Psikososial Kaji tentang aspek kebiasaan hidup klien yang secara signifikan berpengaruh terhadap fungsi respirasi. Beberapa kondisi respiratory timbul akibat stress. Penyakit pernafasan kronik dapat menyebabkan perubahan dalam peran keluarga dan hubungan dengan orang lain, isolasi sosial, masalah keuangan, pekerjaan atau ketidakmampuan. Dengan mendiskusikan mekanisme koping, perawat dapat mengkaji reaksi klien terhadap masalah stres psikososial dan mencari jalan keluarnya. 4. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan gangguan oksigenasi yang mencakup ventilasi, difusi dan transportasi, sesuai dengan klasifikasi NANDA (2005) dan pengembangan dari penulis antara lain : 1. Bersihan Jalan nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Ventilasi) Adalah suatu kondisi dimana individu tidak mampu untuk batuk secara efektif. 2. Kerusakan pertukaran gas (Kerusakan pada fisiologi Difusi) Kondisi dimana terjadinya penurunan intake gas antara alveoli dan sistem vaskuler 3. Pola nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Transportasi) Adalah Suatu kondisi tidak adekuatnya ventilasi berhubungan dengan perubahan 2.3 pola nafas. Hiperpnea atau hiperventilasi akan menyebabkan penurunan PCO2 Prinsip Pemberian Obat Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat secara umum adalah sebagai berikut : 1. Tepat Penderita

12

Dalam memberikan obat, harus memastikan dan memeriksa identitas klien pada setiap kali pemberian obat. Apakah obat yang diberikan sesuai dengan penderitanya.

2. Tepat Obat Sebelum memberikan obat pada klien, perlu membaca kembali label obat serta interaksi obat dan memastikan kembali bahwa klien menerima obat yang telah diresepkan sesuai dengan penyakit yang derita. Dalam memberikan obat pada klien, sebaiknya mengecek obat pada saat menerima resep, akan memberikan pada klien dan pada saat pemberian pada klien agar tidak terjadi kesalahan memberikan obat. 3. Tepat Dosis Memastikan dan memeriksa dosis tertentu yang telah diresepkan dokter untuk klien dengan penyakit tertentu agar tidak terjadi over dosis atau under dosis yang dapat menimbulkan efek yang tidak dingin (efek skunder) 4. Tepat Waktu Memberikan obat yang telah diresepkan pada waktu-waktu tertentu serta memperhatikan kapan obat tersebut diberikan, sebelum makan atau sesudah makan. Misal: obat x diberikan dengan dosis harian 2 x sehari sebelum makan 5. Waspada Waspada terhadap efek samping yang ditimbulkan obat. 2.4 Terapi Obat- Obatan 2.4.1 Ringer Laktat (Cairan Kristaloid) Cara Kerja Obat Natrium klorida merupakan garam yang berperan penting dalam memelihara tekanan osmosis darah jaringan; Kalium Klorida merupakan garam terpilih untuk hipokalemia yang disertai hipokalemia; Natrium Laktat merupakan garam yang dibutuhkan untuk pelayanan darurat terhadap metabolik asidosis ; Kalsium klorida

13

merupakan garam yang penting untuk menjaga fungsi normal otot dan saraf Indikasi Sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang dalam keadaan asam basa berkesetimbangan atau asidosis ringan. Sebagai pilihan utama untuk mengatasi kehilangan cairan dalam keadaan darurat. Terapi pemeliharaan keseimbangan cairan pada keadaan pra, intra dan pasca operasi; untuk mengatasi dehidrasi cairan interstisial yang diberikan setelah pemberian pengganti cairan koloid. Cara Pemberian Injeksi intravena dengan kecepatan alir = 2,5 ml/kg BB/jam, yaitu sekitar 60 tetes / 70 kg BB/ menit atau 180 ml/ 70 kg BB/jam Kontra Indikasi Penderita dengan hiperhidrasi, hipernatremia, hiperkalimia penderita dengan gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati dan asidosis laktat. Efek Samping Reaksi yang mungkin terjadi karena larutannya atau cara pemberiannya, termasuk timbunya panas, iritasi, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosit atau flebitis vena yang meluas dari tempat penyuntikan dan ekstravasasi. Bila terjadi reaksi efek samping, pemakaian harus dihentikan dan dilakukan evaluasi terhadap penderita. Perhatian Jangan dicampur dengan larutan yang mengandung fosfat jangan digunakan bila botol rusak, larutan keruh atau berisi partikel. Peringatan Hati-hati bila diberikan pada penderita payah jantung, odem dengan retensi natrium sepsis parah, keadaan pra-pasca trauma, kerusakan hati, hiperkalemia dan keadaan retensi kalium. Pemberian secara intravena dapat menimbulkan solute overloading yang menibulkan pengeceran konsentrasi elektrolit serum. Overdehidrasi, keadaan kongesti dan edem plumonan. 2.4.2 Ranitidin Indikasi

14

Ranitidi digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan deudenum akut, refluk esofagitis, keadaan hipersekresi asam lambung patologis seperti pada sindroma ZollingerEllison. Hipersekresi pasca bedah. Dosis dan Cara Pemakaian Terapi oral Dewasa : Tukak lambung, deudenum dan refluk esofagitis, sehari 2 kali 1 tablet atau dosis tunggal 2 tablet menjelang tidur malam, selama 4-8 minggu. Untuk hipersekresi patologis, sehari 2-3 kali 1 tablet. Bila keadaan paah dosis dapat ditingkatkn sampai 6 tablet sehari dalam dosis terbagi. Dosis pemeliharaan sehari 1 tablet pada malam hari. Pada penderita gangguan fungsi ginjal dan kleren kretinin kurang dari 50 mg/menit, dosis sehari 1 tablet. Terapi parenteral Diberikan i.m. atau i.v. atau infus secara perlahan atau intermiten untuk penderita rawat inap dengan kondisi hipersekretori patologi atau tukak usus duabelas jari yang tidak sembuh-sembuh, atau bila terapi oral tidak memungkinkan. Dosis dewasa : Injeksi i.m. atau i.v. intermiten: 50mg setiap 6-8 jam jika diperlukan, obat dapat diberikan lebih sering, dosis tidak boleh melebihi 400 mg sehari. Jika ranitidine diberikan secara infus, 150mg ranitidine diinfuskan dengan kecepatan 6,25 mg/jam selama lebih dari 24 jam, pada penderita dengan sindrom Zollinger-Ellison atau kondisi hipersekretori lain, infus selalu dilalui dengan kecepatan 1 mg/kg per jam. Jika setelah 4 jam penderita masig sakit, atau sekresi asam lambung masih besar dari 10 mEq/jam,dosis ditambah 0,5 mg/kg per jam, lalu ukur kembali sekresi asam lambung. Pada penderita gagal ginjal dengan kliren kreatinin kurang dari 50 menit, dosis i.m. atau i.v. yang dianjurkan adalah 50 mg setiap 18-24 jam. Jika diperlukan, ubah dengan hati-hati interval dosis dari setiap 24 jam menjadi setiap 12 jam. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap ranitidine Efek Samping

15

2.4.3 Lasix

Kadang-kadang terjadi nyeri kepala, malaise, mialgia, mual dan pruritus. Konstipasi, pusing,sakit perut. Konfusion, hiperprolaktinemia, gangguan fungsi seksual, hepatitis (jarang). Rasa sakit di daerah peyuntikan pada pemberian secara i.m. Rasa terbakar pada pemberian secara i.v. Peringatan dan Perhatian Keamana pemakaian pada wanita hamil dan menyusui balum

dapat dipastikan. Pemberian harus hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal. Pemberian ranitidine pada penderita keganasan lambung dapat menutupi gejala-gejala penyakit ini. Keamanan dan efektifitas pada anak-anak belum dapat dipastikan (estabilised). Pengobatan penunjang akan mencegah kambuhnya tukak (ulkus). Hindari penggunaan pada penderita yang memiliki riwayat porfiria akut. Farmakologi : Golongan diuretik kuat. Digunakan dalam pengobatan oedema paru akibat gagal jantung kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak napas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja diresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama. Diuretika kuat menghambat resorpsi cairan dalam tubulus ginjal. Komposisi : Furosemida 10 mg/ml injeksi; 40 mg/tablet. Indikasi : Oedema, oliguria karena gagal ginjal. Peringatan : Kehamilan dan menyusui, dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia, memperburuk diabetes mellitus dan asam urat, gagal hati, pembesaran prostat, porifiria. Kontraindikasi :

16

Keadaan prakoma akibat sirosis hati, gagal ginjal dengan anuria. Gagal ginjal akut, komahepatikum, hipokalemia. Efek samping : Gangguan gastrointestinal, neprokalsinosis pada bayi prematur. Hiponatremia, hiokalemia, hipomagnesemia, alkalosis hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat, hipotensi, hiperglikemia; kadar kolesterol dan trigliserida plasma meningkat sementara. Jarang terjadi ruam kulit, fotosensitifitas dan depresi sumsum tulang (hentikan pengobatan), pankreatitis (dengan dosis parenteral yang besar), tinitus dan ketulian (biasanya karena pemberian dosis parenteral yang besar dan cepat serta pada gangguan ginjal). Interaksi obat : Bekerja dalam 1 jam setelah pemberian oral dan diuresis sempurna dalam 6 jam. Setelah pemberian intravena menunjakkan efek puncak dalam waktu 30 menit. Pendosisan : Oral, oedema, dosis awal 40 mg pada pagi hari, pemeliharaan 20 mg sehari atau 40 mg selang sehari, tingkatkan sampai 80 mg pada oedema yang resisten; anak 1 3 mg/kgBB sehari. Oliguria, dosis awal 250 mg sehari, jika diperlukan dosis lebih besar, tingkatkan bertahap dengan 250 mg, dapat diberikan setiap 4 6 jam sampai maksimal dosis himgga 2 g (jarang digunakan). Injeksi (IM/IV) lambat (tidak lebih dari 4 mg/menit) dosis awal 20 50 mg; anak 0,5 1,5 mg/kgBB sampai dosis maksimal sehari 20 mg. Infus intra vena pada oliguria, dosis awal 250 mg selama 1 jam (tidak lebih dari 4 mg/menit). Dosis efektif (sampai 1 g) dapat diulang setiap 24 jam. Sediaan, nama paten dan nama dagang : Dos 5 ampul @ 2 ml, dos 25 ampul @ 2 ml; tablet 10 x 10. Furosemide (Generik) Tablet 40 mg Arsiret (Meprofarm) Tablet 40 mg Diurefo (Pyridam) Tablet 40 mg Farsiretik (Ifars) Tablet 40 mg Farsix (Pratapa Nirmala) cairan injeksi 10 mg/ml; Tablet 40 mg Furosix (Pertiwi Agung) Cairan injeksi 10 mg/ml; Tablet 40 mg Gralixa (Graha) Tablet 20 mg, 40 mg Husamid (Gratia Husada) Kaptabs 40 mg

17

Impugan (Dumex Alpharma Indonesia) Tablet 40 mg Lasix (Hoechst Marion Roussel Indonesia) Cairan injeksi 20 mg/2 ml; Tablet 40 mg Ureix (Sanbe) Tablet Ss. 40 mg Yekasix (Yekatria) Tablet 40 mg

2.4.4 Ketorolac Kemasan & No Reg :.

Ketorolac 10 mg injeksi (1 box berisi 6 ampul @ 1 mL), No. Reg. : GKL0808514843A1 Ketorolac 30 mg injeksi (1 box berisi 6 ampul @ 1 mL), No. Reg. : GKL0808514843B1

Farmakologi :. Farmakodinamik Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat. Uji Klinis Beberapa penelitian telah meneliti efektivitas analgesik Ketorolac tromethamine intramuskular pada dua model nyeri pasca bedah akut; bedah umum (ortopedik, ginekologik dan abdominal) dan bedah mulut (pencabutan M3 yang mengalami impaksi). Penelitian ini merupakan uji yang dirancang paralel, dosis tunggal primer, yang membandingkan Ketorolac tromethamine dengan Meperidine (Phetidine) atau Morfin yang diberikan secara intramuskular. Pada tiap model, pasien mengalami nyeri sedang hingga berat pada awal penelitian. Jika dibandingkan dengan Meperidine 50 dan 100 mg, atau Morfin 6 dan 12 mg pada pasien yang mengalami nyeri pasca bedah, Ketorolac tromethamine 10, 30 dan 90 mg menunjukkan pengurangan nyeri yang sama dengan Meperidine 100 mg dan Morfin 12 mg. Onset aksi analgesiknya sebanding dengan Morfin. Durasi analgesia Ketorolac tromethamine 30 mg dan 90 mg lebih lama daripada narkotik. Berdasarkan pertimbangan efektivitas dan keamanan setelah dosis berulang, dosis 30 mg menunjukkan indeks terapetik yang terbaik. Suatu penelitian multisenter, multi-dosis (20 dosis selama 5 hari), pasca bedah (bedah umum) membandingkan Ketorolac tromethamine 30 mg dengan Morfin 6 dan 12 mg

18

dimana tiap obat hanya diberikan bila perlu. Efek analgesik keseluruhan dari Ketorolac tromethamine 30 mg berada di antara Morfin 6 mg dan 12 mg, walaupun perbedaan antara Ketorolac tromethamine 30 mg dan Morfin 12 mg tidak bermakna secara statistik. Tidak tampak adanya depresi napas setelah pemberian Ketorolac tromethamine pada uji klinis kontrol. Ketorolac tromethamine tidak menyebabkan konstriksi. Pada pasien pasca bedah, dibandingkan dengan plasebo : Ketorolac tromethamine tidak menyebabkan kantuk dan dibandingkan dengan Morfin, Ketorolac lebih sedikit menyebabkan kantuk. Farmakokinetik Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian intramuskular dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 2,2 mcg/ml setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 30 mg. Waktu paruh terminal plasma 5,3 jam pada dewasa muda dan 7 jam pada orang lanjut usia (usia rata-rata 72 tahun). Lebih dari 99% Ketorolac terikat pada konsentrasi yang beragam. Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah pemberian secara intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah linear. Kadar steady state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap 6 jam dalam sehari. Pada dosis jangka panjang tidak dijumpai perubahan bersihan. Setelah pemberian dosis tunggal intravena, volume distribusinya rata-rata 0,25 L/kg. Ketorolac dan metabolitnya (konjugat dan metabolit para-hidroksi) ditemukan dalam urin (rata-rata 91,4%) dan sisanya (rata-rata 6,1%) diekskresi dalam feses. Pemberian Ketorolac secara parenteral tidak mengubah hemodinamik pasien. Indikasi Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke analgesik alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus. Kontra Indikasi

Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini, karena ada kemungkinan sensitivitas silang.

19

Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat pemberian Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain. Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif. Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti. Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi. Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema atau bronkospasme. Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain. Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain. Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160 mmol/L). Riwayat asma. Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau hemostasis inkomplit, pasien dengan antikoagulan termasuk Heparin dosis rendah (2.5005.000 unit setiap 12 jam).

Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau garam lithium. Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi. Anak < 16 tahun. Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau ruam vesikulobulosa. Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal). Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko perdarahan.

Dosis :. Ketorolac ampul ditujukan untuk pemberian injeksi intramuskular atau bolus intravena. Dosis untuk bolus intravena harus diberikan selama minimal 15 detik. Ketorolac ampul tidak boleh diberikan secara epidural atau spinal. Mulai timbulnya efek analgesia setelah pemberian IV maupun IM serupa, kirakira 30 menit, dengan maksimum analgesia tercapai dalam 1 hingga 2 jam. Durasi median analgesia umumnya 4 sampai 6 jam. Dosis sebaiknya disesuaikan dengan keparahan nyeri dan respon pasien. Lamanya terapi : Pemberian dosis harian multipel yang terus-menerus secara intramuskular dan intravena tidak boleh lebih dari 2 hari karena efek samping dapat meningkat pada penggunaan jangka panjang. Dewasa Ampul : Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 1030 mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan. Harus diberikan dosis efektif

20

terendah. Dosis harian total tidak boleh lebih dari 90 mg untuk orang dewasa dan 60 mg untuk orang lanjut usia, pasien gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg. Lamanya terapi tidak boleh lebih dari 2 hari. Pada seluruh populasi, gunakan dosis efektif terendah dan sesingkat mungkin. Untuk pasien yang diberi Ketorolac ampul, dosis harian total kombinasi tidak boleh lebih dari 90 mg (60 mg untuk pasien lanjut usia, gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg). Instruksi dosis khusus Pasien lanjut usia Ampul : Untuk pasien yang usianya lebih dari 65 tahun, dianjurkan memakai kisaran dosis terendah: total dosis harian 60 mg tidak boleh dilampaui (lihat Perhatian). Anak-anak : Keamanan dan efektivitasnya pada anak-anak belum ditetapkan. Oleh karena itu, Ketorolac tidak boleh diberikan pada anak di bawah 16 tahun. Gangguan ginjal : Karena Ketorolac tromethamine dan metabolitnya terutama diekskresi di ginjal, Ketorolac dikontraindikasikan pada gangguan ginjal sedang sampai berat (kreatinin serum > 160 mmol/l); pasien dengan gangguan ginjal ringan dapat menerima dosis yang lebih rendah (tidak lebih dari 60 mg/hari IV atau IM), dan harus dipantau ketat. Analgesik opioid (mis. Morfin, Phetidine) dapat digunakan bersamaan, dan mungkin diperlukan untuk mendapatkan efek analgesik optimal pada periode pasca bedah awal bilamana nyeri bertambah berat. Ketorolac tromethamine tidak mengganggu ikatan opioid dan tidak mencetuskan depresi napas atau sedasi yang berkaitan dengan opioid. Jika digunakan bersama dengan Ketorolac ampul, dosis harian opioid biasanya kurang dari yang dibutuhkan secara normal. Namun efek samping opioid masih harus dipertimbangkan, terutama pada kasus bedah dalam sehari. Efek Samping Efek samping di bawah ini terjadi pada uji klinis dengan Ketorolac IM 20 dosis dalam 5 hari. Insiden antara 1 hingga 9% : Saluran cerna : diare, dispepsia, nyeri gastrointestinal, nausea. Susunan Saraf Pusat : sakit kepala, pusing, mengantuk, berkeringat. Peringatan dan Perhatian Seperti obat analgesik anti-inflamasi nonsteroid lainnya, Ketorolac dapat menyebabkan iritasi, ulkus, perforasi atau perdarahan gastrointestinal dengan atau tanpa gejala sebelumnya dan harus diberikan dengan pengawasan ketat pada pasien yang mempunyai riwayat penyakit saluran gastrointestinal.

21

Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan selama kehamilan, persalinan, kelahiran, dan pada ibu menyusui.

Peringatan khusus mengenai inkompatibilitas: Ketorolac ampul tidak boleh dicampur dalam volume kecil (mis. dalam spuit) dengan Morfin sulfat, Phetidine hydrochloride, Promethazine hydrochloride atau Hydroxyzine hydrochloride karena akan terjadi pengendapan Ketorolac tromethamine. Ketorolac ampul kompatibel dengan larutan normal saline, 5% dekstrosa, Ringer, Ringer-laktat, atau larutan Plasmalyte. Kompatibilitas dengan obat lain tidak diketahui. Perhatian Efek Renal : Sama seperti obat lainnya yang menghambat biosintesis prostaglandin, telah dilaporkan adanya peningkatan urea nitrogen serum dan kreatinin serum pada uji klinis dengan Ketorolac tromethamine. Efek Hematologis : Ketorolac menghambat agregasi trombosit dan dapat memperpanjang waktu perdarahan. Ketorolac tidak mempengaruhi hitung trombosit , waktu protrombin (PT) atau waktu tromboplastin parsial (PTT). Pasien dengan gangguan koagulasi atau yang sedang diberi terapi obat yang mengganggu hemostasis harus diawasi benar-benar saat diberikan Ketorolac. Efek Hepar : Bisa terjadi peningkatan borderline satu atau lebih tes fungsi hati. Pasien dengan gangguan fungsi hati akibat sirosis tidak mengalami perubahan bersihan Ketorolac yang bermakna secara klinis. Ketorolac tromethamine tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai medikasi prabedah, untuk mendukung anestesi atau analgesia obstetri. Belum ada data klinis mengenai keamanan dan efektivitas pemberian bersama Ketorolac tromethamine dengan obat anti-inflamasi nonsteroid lainnya. Ketorolac tidak dianjurkan digunakan secara rutin bersama dengan obat anti-inflamasi nonsteroid lain, karena adanya kemungkinan efek samping tambahan. Untuk pasien gangguan ginjal ringan : Fungsi ginjal harus dipantau pada pasien yang diberi lebih dari dosis tunggal IM, terutama pada pasien tua. Retensi cairan dan edema: Pernah dilaporkan terjadinya retensi cairan dan edema pada penggunaan Ketorolac. Oleh karena itu, Ketorolac harus hati-hati diberikan pada pasien gagal jantung, hipertensi atau kondisi serupa. Interaksi Obat

Pemberian Ketorolac bersama dengan Methotrexate harus hati-hati karena

22

beberapa obat yang menghambat sintesis prostaglandin dilaporkan mengurangi bersihan Methotrexate, sehingga memungkinkan peningkatan toksisitas Methotrexate.

Penggunaan bersama NSAID dengan Warfarin dihubungkan dengan perdarahan berat yang kadang-kadang fatal. Mekanisme interaksi pastinya belum diketahui, namun mungkin meliputi peningkatan perdarahan dari ulserasi gastrointestinal yang diinduksi NSAID, atau efek tambahan antikoagulan oleh Warfarin dan penghambatan fungsi trombosit oleh NSAID. Ketorolac harus digunakan secara kombinasi hanya jika benarbenar perlu dan pasien tersebut harus dimonitor secara ketat.

ACE inhibitor karena Ketorolac dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal yang dihubungkan dengan penggunaan ACE inhibitor, terutama pada pasien yang telah mengalami deplesi volume.

Ketorolac mengurangi respon diuretik terhadap Furosemide kira-kira 20% pada orang sehat normovolemik. Penggunaan obat dengan aktivitas nefrotoksik harus dihindari bila sedang memakai Ketorolac misalnya antibiotik aminoglikosida. Pernah dilaporkan adanya kasus kejang sporadik selama penggunaan Ketorolac bersama dengan obat-obat anti-epilepsi. Pernah dilaporkan adanya halusinasi bila Ketorolac diberikan pada pasien yang sedang menggunakan obat psikoaktif.

Anak-anak Keamanan dan efektivitas pada anak belum ditetapkan. Lanjut usia Pasien di atas 65 tahun dapat mengalami efek samping yang lebih besar daripada pasien muda. Risiko yang berkaitan dengan usia ini umum terdapat pada obat yang menghambat sintesis prostaglandin. Seperti halnya dengan semua obat, pada pasien lanjut usia harus dipakai dosis efektif yang terendah. Penyalahgunaan dan ketergantungan fisik Ketorolac tromethamine bukan merupakan agonis atau antagonis narkotik. Subjek tidak memperlihatkan adanya gejala subjektif atau tanda objektif putus obat bila dosis intravena atau intramuskular dihentikan tiba-tiba. Lain-lain Penyimpanan: Simpan pada suhu di bawah 30C, lindungi dari cahaya. HARUS DENGAN RESEP DOKTER 2.4.5 Captopril

23

KOMPOSISI CAPTOPRIL 12,5 mg Tiap tablet mengandung: Kaptopril 12,5 mg CAPTOPRIL 25 mg Tiap tablet mengandung: Kaptopril 25 mg CAPTOPRIL 50 mg Tiap tablet mengandung: Kaptopril 50 mg Farmakologi: Kaptopril terutama bekerja pada sistem RAA (Renin-AngiotensinAldosteron), sehingga efektif pada hipertensi dengan PRA (Plasma Renin Activity) yang tinggi yaitu pada kebanyakan hipertensi maligna, hipertensi renovaskular dan pada kira-kira 1/6-1/5 hipertensi essensial. Kaptopril juga efektif pada hipertensi dengan PRA yang normal, bahkan juga pada hipertensi dengan PRA yang rendah. Obat ini juga merupakan antihipertensi yang efektif untuk pengobatan gagal jantung dengan terapi kombinasi lain. Kombinasi dengan tiazid memberikan efek aditif sedangkan kombinasi dengan blocker memberikan efek yang kurang aditif. Indikasi:

Untuk pengobatan hipertensi sedang dan berat yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan kombinasi lain. Kaptopril dapat dipergunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lain terutama tiazid. Payah jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis.

Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap kaptopril dan obat-obat ACE inhibitor lainnya. Dosis: Dewasa: Hipertensi : Dosis awal adalah 12,5 mg-25 mg, 2-3 kali sehari.

24

Bila setelah 2 minggu belum diperoleh penurunan tekanan darah, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 50 mg, 2-3 kali sehari. Gagal jantung : Dosis awal adalah 25 mg, 3 kali sehari, sebaiknya dimulai dengan 12,5 mg, 3 kali sehari.

Efek samping: Umumnya kaptopril dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat timbul adalah ruam kulit, gangguan pengecapan, neutropenia, proteinuria, sakit kepala, lelah/letih dan hipotensi. Efek samping ini bersifat dose related dengan pemberian dosis kaptopril kurang dari 150 mg per hari, efek samping ini dapat dikurangi tanpa mengurangi khasiatnya. Efek samping lain yang pernah dilaporkan: umumnya asthenia, gynecomastia. Kardiovaskular : cardiac arrest, cerebrovascular accident/insufficiency, rhythm disturbances, orthostatic hipotension, syncope. Dermatologi : bullous pemphigus, erythema multiforme exfoliative dermatitis. Gastrointestinal : pankreatitis, glossitis, dispepsia. Hepatobiliary : jaundice, hepatitis, kadang-kadang nekrosis, cholestasis. Metabolit : symptomatic hyponatremia. Musculoskeletal : myalgia, myasthenia. Nervous/psychiatric : ataxia, confusion, depression, nervousness, somnolence. Respiratory : bronchospasm, eosinophilic pneumonitis, rhinitis, blurred vision, impotence. Seperti ACE inhibitor lainnya dapat menyebabkan sindroma termasuk: myalgia, arthralgia, interstitial nephritis, vasculitis, peningkatan ESR. Peringatan dan perhatian: 1. Neutropenia/agranulositosis: Neutropenia akibat pemberian kaptopril (jumlah neutrofil kurang dari 1000/mm3) 2 kali berturut-turut, bertahan selama obat diteruskan, insidensinya 0,02% (1/4544) pada penderita dengan fungsi ginjal (kreatinin serum > 2 mg/dl), dan menjadi 7,2% (8/111) pada penderita

25

dengan gangguan fungsi ginjal dan penyakit vaskular kolagen seperti lupus (SLE) atau skleroderma. Neutropenia muncul dalam 12 minggu pertama pengobatan, dan reversibel bila pengobatan dihentikan (90% penderita dalam 3 minggu) atau dosisnya diturunkan. Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan juga penderita yang mendapat obat-obat lain yang diketahui dapat menurunkan leukosit (obat-obat sitotoksik, imunosupressan, fenilbutazon dan lain-lain), harus dilakukan hitung leukosit sebelum pengobatan setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu. Mereka juga harus diberi tahu agar segera melapor kepada dokternya bila mengalami tanda-tanda infeksi akut (faringitis, demam), karena mungkin merupakan petunjuk adanya neutropenia. 2. Proteinuria/sindroma nefrotik: Proteinuria yang lebih dari 1 g sehari terjadi pada 1,2% (70/5769) penderita hipertensi yang diobati dengan kaptopril. Diantaranya penderita tanpa penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya hanya 0,5% (19/3573) yakni 0,2% pada dosis kaptopril < 150 mg sehari dan 1% pada dosis kaptopril > 150 mg sehari. Pada penderita dengan penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya meningkat menjadi 2,1% 946/2196), yakni 1% pada dosis kaptopril > 150 mg sehari. Sindroma nefrotik terjadi kira-kira 1/5 (7/34) penderita dengan proteinuria. Data mengenai insiden proteinuria pada penderita GJK belum ada. Glumerulopati membran ditemukan pada biopsi tetapi belum tentu disebabkan oleh kaptopril karena glumerulonefritis yang subklinik jugma ditemukan pada penderita hipertensi yang tidak mendapat kaptopril. Proteinuria yang terjadi pada penderita tanpa penyakit ginjal sebelumnya pengobatan tidak disertai dengan gangguan fungsi ginjal. Proteinuria biasanya muncul setelah 3-9 bulan pengobatan (range 4 hari hingga 22 bulan). Pada sebagian lagi, proteinuria menetap meskipun obat dihentikan. Oleh karena itu pada penderita dengan risiko tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan protein dalam urin sebelum pengobatan, sebulan sekali selama 9 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu. 3. Gagal ginjal/akut:

26

Fungsi ginjal dapat memburuk akibat pemberian kaptopril pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal sebelum pengobatan. Gejala ini muncul dalam beberapa hari pengobatan; yang ringan (kebanyakan kasus) reversibel atau stabil meski pengobatan diteruskan, sedangkan pada yang berat dan progresif, obat harus dihentikan. Gejala ini akibat berkurangnya tekanan perfusi ginjal oleh kaptopril, dan karena kaptopril menghambat sintesis A II intrarenal yang diperlukan untuk konstriksi arteriola eferen ginjal guna mempertahankan filtrasi glomerulus pada stenosis arteri ginjal. Gagal ginjal yang akut dan progesif terutama terjadi pada penderita dengan stenosis arteri tinggi tersebut, pemberian kaptopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal tunggal 93/8). Karena itu pada penderita dengan risiko tinggi tersebut, pemberian kaptopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal (kreatinin serum dan BUN), dan dosis kaptopril dimulai serendah mungkin. Bila terjadi azotemia yang progresif, kaptopril harus dihentikan dan gejala ini reversibel dalam 7 hari. 4. Morbiditas dan mortalitas pada fetus dan neonatus: Pemakaian obat penghambat ACE pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ pada fetus atau neonatus. Apabila pada pemakaian obat ini ternyata wanita itu hamil, maka pemberian obat harus dihentikan dengan segera. Pada kehamilan trimester II dan III dapat menimbulkan gangguan antara lain; hipotensi, Juga hipoplasia-tengkorak terjadi neonatus, anuria, deformasi gagal ginjal reversibel atau irreversibel dan kematian. dapat oligohidramnion, kraniofasial, perkembangan paru hipoplasi, kelahiran prematur, perkembangan, retardasi intrauteri, patenduktus arteriosus. Bayi dengan riwayat dimana selama didalam kandungan ibunya mendapat pengobatan penghambat ACE, harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oliguria dan hiperkalemia. Interaksi obat:

Pemberian obat diuretik hemat kalium (spironolakton-triamteren, anulona) dan preparat kalium harus dilakukan dengan hati-hati karena adanya bahaya hiperkalemia.

Penghambat enzim siklooksigenase sepeti indometasin, dapat menghambat efek kaptopril.

27

Disfungsi neurologik pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi kaptopril dan simetidin. Kombinasi kaptopril dengan allopurinol tidak dianjurkan, terutama gagal ginjal kronik.

2.4.6 Digoxin MEKANISME: Digoxin meningkatkan kekuatan dan kekuatan kontraksi jantung, dan berguna dalam pengobatan gagal jantung. Digoksin meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dengan menghambat aktivitas dari enzim (ATPase) yang mengontrol pergerakan kalsium, natrium dan kalium dalam otot jantung. ATPase menghambat peningkatan kalsium dalam otot jantung dan karena itu meningkatkan kekuatan kontraksi jantung. Digoxin listrik juga memperlambat konduksi antara atrium dan ventrikel jantung dan berguna dalam mengobati abnormal ritme atrium cepat seperti atrial fibrilasi, atrial bergetar, dan atrial takikardia. (Secara abnormal ritme atrium cepat dapat disebabkan oleh serangan jantung, kelebihan hormon tiroid , alkohol, infeksi, dan banyak kondisi lain.) Selama ritme atrium cepat, sinyal-sinyal listrik dari atrium cepat menyebabkan kontraksi ventrikel. Rapid ventrikel kontraksi tidak efisien dalam memompa darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke dalam tubuh, menyebabkan gejala kelemahan, sesak napas, pusing, dan bahkan sakit dada. Digoxin mengurangi gejala ini dengan menghalangi konduksi listrik antara atrium dan ventrikel, sehingga memperlambat kontraksi ventrikel. The FDA approved digoxin in 1975. Digoxin disetujui FDA pada tahun 1975. Persiapan: Tablet: 0,125, dan 0,25 mg; Elixir: 0.05, 0.25, dan 0,1 mg / ml. STORAGE: Digoxin harus disimpan pada suhu kamar, 59-86 F (15-30 C) dan terlindung dari cahaya. Diresepkan untuk: Digoxin digunakan untuk ringan hingga sedang kongestif gagal jantung dan untuk mengobati sebuah irama jantung abnormal disebut atrial fibrilasi. Dosis: Digoxin dapat diambil dengan atau tanpa makanan. Digoxin terutama dihilangkan oleh ginjal, sehingga dosis digoksin harus dikurangi pada pasien dengan disfungsi ginjal. Digoxin darah

28

digunakan untuk menyesuaikan dosis untuk menghindari toksisitas. Dosis awal yang biasa adalah 0,0625-0,25 mg per hari, tergantung pada usia dan fungsi ginjal. Dosis dapat ditingkatkan setiap dua minggu untuk mencapai respon yang dikehendaki. Interaksi Obat: Obat-obatan seperti verapamil (calan, Verelan, Verelan PM, Isoptin, Isoptin SR, Covera-HS), quinidine (Quinaglute, Quinide), Amiodarone (Cordarone), indometasin (Indocin, Indocin-SR), alprazolam (Xanax, Xanax XR, Niravam), spironolactone (aldactone), dan itraconazole (Sporanox) dapat meningkatkan kadar digoxin dan risiko toksisitas. [misalnya propranolol (Inderal, Inderal LA) atau calcium channel blockers (misalnya, verapamil), yang juga mengurangi denyut jantung, dapat menyebabkan perlambatan denyut jantung. Diuretic-induced [misalnya, dengan furosemide (Lasix)] penurunan kalium darah atau magnesium tingkat dapat mempengaruhi pasien untuk digoxin-induced ritme jantung abnormal. Saquinavir (Invirase) dan ritonavir (Norvir) meningkatkan jumlah digoksin dalam tubuh dan dapat menyebabkan toksisitas digoxin. KEHAMILAN: Tidak ada penelitian yang memadai pada wanita hamil. NURSING IBU: Digoxin di dalam ASI yang dikeluarkan pada konsentrasi sama dengan konsentrasi dalam darah ibu. Namun, jumlah total digoksin yang akan diserap dari air susu ibu oleh bayi mungkin tidak cukup untuk menyebabkan efek. Caution should be exercised by nursing mothers who are taking digoxin. Perhatian harus dilakukan oleh ibu-ibu menyusui yang mengambil digoxin. Efek Samping: Efek samping yang umum adalah mual, muntah, sakit kepala, pusing, kulit ruam, dan perubahan mental. Banyak efek samping digoksin tergantung dosis dan terjadi ketika tingkat darah di kisaran terapeutik yang sempit. Oleh karena itu, digoxin efek samping dapat dihindari dengan menjaga kadar darah dalam tingkat terapeutik. Efek samping yang serius yang berhubungan dengan digoxin termasuk blok jantung, denyut jantung yang cepat, dan memperlambat detak jantung. Digoxin juga telah dikaitkan dengan gangguan visual (penglihatan kabur atau kuning), sakit perut, dan pembesaran payudarara. Pasien dengan kadar kalium darah rendah dapat mengembangkan toksisitas digoxin bahkan ketika kadar digoxin tidak dianggap tinggi. Demikian pula, tinggi

29

kalsium dan magnesium rendah kadar darah dapat meningkatkan toksisitas digoksin dan menghasilkan gangguan serius dalam irama jantung.

2.4.7 Acetil salicylacid - Nama & Struktur Kimia Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik Nama Dagang - Aptor - Astika - Procardin - Aspilets - Bodrexin - Restor - Aspimec - Cardio Aspirin - Thrombo Aspilets : Merupakan C9H8O4 ester salisilat dari asam.

Indikasi Nyeri : Sakit kepala, nyeri-nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Nyeri & Demam : Penyakit Inflamasi : Dosis awal : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi dapat ditingkatkan 325mg-1,2g/hari. Dosis pemeliharaan : 3,6-5,4g/hari. Gejala Juvenile Arthritis : Dosis awal : Anak-anak dengan BB < 25kg : 60-130mg/kg BB/hari. Anak-anak dengan BB > 25kg : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi Dewasa : 650mg-1,3g setiap 8 jam, tidak lebih dari 3,9g/hari. Kontraindikasi Alergi terhadap Aspirin dan golongan salisilat Efek Samping

30

Reye's syndrome : Iritasi lambung karena bersifat asam. Pengaruh Terhadap Kehamilan : Terhadap Ibu Menyusui : Terhadap Anak-anak : Reyes Syndrome. Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Bentuk Sediaan Tablet Salut Tahan Asam 80 mg, 100 mg, 160 mg, Tablet Biasa 500 mg. Peringatan Reye's syndrome pada anak Swamedikasi nyeri dan demam. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Minum setelah makan dengan satu gelas air / susu. Mekanisme Aksi Asetilasi enzim PGHS. Monitoring Penggunaan Obat Munculnya efek samping.

31

BAB III DATA DAN ASUHAN KEPERAWATAN 3. 1 DATA 3.1.1 Catatan Harian Dokter NyS RM : 007116

32

No Tanggal 1. 26-0210

Jam 05.5 0

Keadaan Klinis Data subyektif:

Pengobatan Infus RL 15 tetes per menit

Sesak (+) 3 hari, nafas Pasang O2 ngongsrong (+) 2 hari, Pasang DC mua (+), muntah (-), Posisi semi fowler panas (+), batuk (+). Data obyektif: kesadaran composmentis. Tekanan darah: 110/80 mm Hg Nadi: 100x/menit RR: 32x/menit Thorax: ronchi +/+ Wheezing -/Abdomen: dalam bata normal. Extremitas: akral hangat A: obs. dispnea Sesak(+) Injeksi: ranitidine 2x1 ampul Exstra lasix ampul Lab: DL, OT, PT, ureum kreatinin.

Keadaan umum: sedang, ECG, GPA

2.

27-0210

16.4 5

Imobilisasi O2 nasal kanul : 2 liter per menit Semifowler Ketorolac 3x1 ampul Ranitidine 3x1 ampul Lasik 3x1 ampul Per oral: Digoxin 1x 0,25 Captopril 2x6,25 Observasi vital sign Imobilisasi O2 nasal kanul : 2 liter per menit Semifowler Ketorolac 3x1 ampul Ranitidine 3x1 ampul Lasik 3x1 ampul Per oral: Digoxin 1x 0,25

28-0210

08.0 0

Data subyektif: Sesak (+) 3 hari, nafas ngongsrong (+) 2 hari, mua (+), muntah (-), panas (+), batuk (+). Data obyektif: kesadaran composmentis. Tekanan darah: 110/80 mm Hg Nadi: 100x/menit RR: 32x/menit 33 Thorax: ronchi +/+ Wheezing -/-

Keadaan umum: sedang, -

Captopril 2x6,25 Observasi vital sign

3.1.2

Lembar Instruksi Dokter dan Laporan Perawat/Bidan Instruksi dokter laporan perawat/bidan Tanggal/jam Isi paraf nama 28/2/10 Sore terang perawat Keadaan umum lemah sesak(+) Terapi : infus RL Injeksi ketorolac Injeksi ranitidine. Keadaan umum Malam lemah,batuk,ses ak Terapi: infus RL, injeksi ranitidine. Keadaan umum 28/2/10 sore lemah sesak(+) Terapi : infus RL Injeksi ketorolac Injeksi ranitidine Keadaan umum lemah,batuk,ses Malam ak Terapi: infus RL, injeksi ranitidine. Keadaan umum lemah sesak(+)

Tanggal/jam Isi paraf nama terang dokter Malam 20.00 wib Batuk(+) Terapi : RL Injeksi : (-)

34

01/03/10

Terapi : infus RL Injeksi ketorolac Injeksi ranitidine Keadaan umum: lemah,batuk(+) Terapi: infus

Sore

RL, Injeksi lasix, injeksi ranitidine.

3.1.3

Data Laboratorium Ny.S Tanggal : 27-02-10 RM: 007116 Hasil Penelitian 11,6 5,940 3,87 50 35 Normal P 13,0 18,0 mg/dl L 14,0 18,0 mg/dl 3500 1000 /cmm L 4,5 6,5 juta/cmm P 3,0 6,0 juta/cmm L 0 5 /jam P 0 7 /jam L 40 54 % P 35 47 % Westergen Floweytometri Metode Floweytometri

Jenis Pemeriksaan Hematologi 1. Hemoglobin 2. Leukosit 3. Eritrosit 4. Laju endap darah 5. Hematokrit

35

6.Trombosit 7. Diffount

114.000 0/0/0/65/17/ 8

150.000 450.000 1 2 /0 1/ 3 5/54-62/25 33/3 7

FAAL HATI 8. SGOT 9. SGPT ELEKTROLIT ISE 10. Kalium serum 11. Natrium serum 12. Clorida serum FAAL GINJAL 13. BUN 14. Serum Kreatinin 15. Uric acid LEMAK 16. Cholesterol 17. Trigiiserida 18. HDL cholesterol 19. LDL kholesterol KADAR LEMAK 20. Gula Darah Puasa 3.1.4

19 25 4,0 137 98 14,5 1,04 5,6

Up to 37 m /ml Up to 40 m /ml 3,5 5,2 m Mol / I 135 146 m Mol / I 94 111 m Mol / I 10 20 mg / dl P 0,7 1,2 mg/dl L 0,8 1,5 mg /dl P 1,9 5,1 mg/dl L3,1 7,9 mg/dl

IFCC IFCC ISE ISE ISE Bartelot Jaffe PAP

99 104 19 59 104

< 250 mg/dl 60 165 mg/dl > 35 mg/dl < 150 mg/dl 63 115 mg/dl

600 PAP GPO PAP CHOD PAP CHOD PAP

Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan / penampilan / kesan umum klien : Keadaan lemah, akral hangat, klien terpasang infuse, klien terpasang kateter 2. Tanda tanda vital - Suhu tubuh - Denyut nadi - Tekanan darah - Respirasi 3. Pemeriksaan fisik Kepala : Bentuk simetris, tidak ada lesi : 36,5 C : 92 x /menit : 110/80 mmHg : 32 x /menit

36

Rambut Wajah Mata Hidung Telinga Mulut dan facing Leher

: Penyebaran merata, panjang, kotor dan beruban : Bentuk oval : Tidak ikterus : Tidak terpasang NGT : Bentuk simetris, tidak ada nodul : Mulut kering dan kotor : Tidak ada pembesaran

4. Pemeriksaan Integumen / kulit dan kuku : Kulit keriput, akral hangat, hidrasi kulit kurang, CRT < 2 detik, kuku tidak sianosis 5. Pemeriksaan payudara Tidak dilakukan pemeriksaan secara spesifik 6. Pemeriksaan Thorak dan Dada : Bentuk Thmrak normal chest, stridor (-) 7. Pemeriksaan Paru Inspeksi Palpasi Peckusi : Pergerakan dinding dada simetris : Vocal vemitus kanan / kiri : Terdengar suara resonan

Auskultasi : Ronchi +/+. Whezing (-) 8. Pemeriksaan Jantung : A / BT II ICS 2 kanan P / BT II ICS 2 kiri T / BT I ICS 3 kiri M / BT ICS 5 kiri 9. Pemeriksaan Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi : tidak ada bayangan vena, bentuk datar : terdenagar suara tympani : tidak terdapat nyeri tekan : S1, S2 tunggal : S2 tunggal : terdengar suara Ronchi +/+ : Whezing (-)

Auskultasi : Bising usus lemah 10. Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitar : a. Pemeriksaan genetalia Tidak ada pemeriksaan secara klinis b. Pemeriksaan anus Tidak ada pemeriksaan klinis 3.2 Asuhan Keperawatan

3.2.1 Pengkajian

37

A. Identitas Klien Dan Keluarga Inisial Pasien Umur Jenis Kelamin Agama Pendidikan Status Golongan darah Inisial Informan Hubungan Keluarga Umur Alamat Pekerjaan :B : Tn. B : Suami : 60 tahun : JL. Seruji RT 04 RW 01 : Ibu rumah tangga : Ny. S. : 56 tahun : Perempuan : Islam :: Kawin

B. Riwayat Pekerjaan Keluarga 1. Keluarga Utama - Keluhan saat MRS Pasien datang ke rumah sakit RSD dr. Haryoto dengan keluhan sesak dan mengalami kesulitan dalam bernapas. - Keluhan saat ini Pasien mengatakan sulit bernapas dan sesak 2. Riwayat penyakit sekarang Suami pasien mengatakan istrinya sesak sekitar 2 hari yang lalu, dan suaminya membawa ke rumah sakit RSD dr. Haryoto Lumajang. 3. Riwayat penyakit masa lalu Pasien sering sesak 4. Pola fungsi kesehatan : a. Pola persepsi dan tata laksana kesehatan Keluarga pasien mengatakan, sebelum MRS jika ada keluarga yang sakit langsung dibawah ke puskesmas. b. Pola nutrisi dan metabolik Sebelum MRS : pasien makan 3X sehari Selama MRS : pasien hanya makan 5 sendok setiap makan c. Pola eliminasi Sebelum MRS : Pasien BAB : 1 x sehari Pasien BAK : 4 6 x sehari Saat MRS : Pasien tidak BAB sejak MRS

38

Pasien BAK dengan terpasang kateter d. Pola tidur dan istirahat Pasien hanya terbaring di tempat tidur e. Pola Aktivitas dan Istirahat Aktivtas pasien terganggu karena badrest total f. Pola sensori dan pengetahuan Penatalaksanaan kesehatan dalam keluarga cukup baik apabila ada anggota keluarga yang sakit g. Pola hubungan Interpersonal dan peran Pasien tidak dapat menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. h. Pola persepsi dan gambaran diri - Gambaran diri : Pasien menerima keadaan sakitnya dengan sedikit pengelakan - Ideal diri - Identitas diri : Pasien pesimis akan lesembuhannya : Pasien mengaku bernama NY. S

- Harga diri - Peran

: Harga diri pasien turun karena tidak dapat menjalankan perannya. : Pasien merasa sedih

i. Pola preproduksi dan seksual Tidak dilakukan pemeriksaan secara spesifik j. Pola penanggulanagn stress Pasien merasa cemas dengan penyakitnya k. Pola nilai dan kepercayaan Pasien beragama Islam dan aktivitas ibadanya terganggu karena sakit yang dideritanya C. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan / penampilan / kesan umum klien Keadaan lemah, akral hangat, klien terpasang infuse, klien terpasang kateter 2. Tanda tanda vital - Suhu tubuh - Denyut nadi - Tekanan darah : 36,5 C : 92 x /menit : 110/80 mmHg

39

- Respirasi 3. Pemeriksaan fisik Kepala Rambut beruban Wajah Mata Hidung Telinga Mulut dan faring Leher

: 32 x /menit : Bentuk simetris, tidak ada benjolan : Penyebaran merata, panjang, kotor, dan tidak : Bentuk lonjong : Tidak Ikterus : simetris : Bentuk simetris, tidak ada nodul : bibir lembab : Tidak ada pembesaran

4. Pemeriksaan Integumen / kulit dan kutu Kulit keriput, akral hangat, CRT < 2 detik, kuku tidak sianosis 5. Pemeriksaan payudara Tidak dilakukan pemeriksaan secara spesifik 6. Pemeriksaan Thoraks / Dada : Bentuk thoraks normal chest stridor (-) 7. Pemeriksaan Paru I P P A : Pergerakan dinding dada simetris : Vocal vemitus kanan / kiri : Terdengar suara resonan : Ronchi +/+. Whezing (-) : S1, S2 tunggal : S2 tunggal : terdengar suara Ronchi +/+ : Whezing (-)

8. Pemeriksaan Jantung A / BT II ICS 2 kanan P / BT II ICS 2 kiri T / BT I ICS 3 kiri M / BT ICS 5 kiri 9. Pemeriksaan Abdoemen I P P A : tidak ada bayangan vena, bentuk datar : terdenagar suara tympani : tidak terdapat nyeri tekan : Porsing usus lemah

10. Pemeriksaan dan daerah sekitar a. Pemeriksaan Genetalia Tidak ada pemeriksaan secara klinis b. Pemeriksaan Anus Tidak ada pemeriksaan secara klinis

40

11. Pemeriksaan Muskulo ekeletal lekstemitas atas dan bawah Akral hangat Reflek patologi : Cardok : -/Babinski : +/Gordon : +/Opnhim : -/12. Pemeriksaan Neurologi Eyes : 1 visual : 1 Motori : 1 Reflek patologi Cardoc : -/Babinski : +/Gordon : +/Oponhim : -/D. Diagnosa Medis S.C.F Digiti III Manus Sinistra Ruptur Tendon Reflek fisiologi Patela : +/Achiles : +/Bisep : +/Trisep : +/Reflek fisiologi : Patela : +/Achiles : +/Bisep : +/Tricep : +/-

3.2.2

Analisa Data Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dispneu antara lain : a. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan bronkospasme (Lindajual C.;1995). b. Ketidak efektifan pola nafas yang berhubungan dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernafasan, (Hudak dan Gallo ;1997). c. Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas dan rasa takut sufokasi. (Lindajual C;1995). d. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit, (Susan Martin Tucker;1993). e. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan laju metabolik tinggi, dipsnea saat makan dan ansietas, (Hudak dan Gallo;1997)..

41

f. Resiko tinggi kelelahan yang berhubungan dengan retensi CO2 hipoksemia, emosi terfokus pada pernafasan dan apnea tidur, (Hudak dan Gallo;1997). Resiko tinggi ketidak patuhan yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi dan perawatan diri saat pulang,(Susan Martin Tucker;1993). No DATA 1 Tanggal 26-02-10 Data Subyektif : Klien mengatakan sesak dan sulit bernapas Data Obyektif : Keadaan klien lemah Klien hanya terbaring ditempat tidur Klien ngongsrong Klien sesak Klien terpasang O2 Batuk Kesadaran : Komposmentis Tekanan darah : 110/80 mmHg Nadi : 100 x /menit Respirasi : 32 x /menit Suhu : 36,5C PENYEBAB Bronkospasme MASALAH Ketidak efektifan bersihan jalan napas

Tanggal 26-02-10 Data Subyektif : - klien mengatakan sesak dan sulit bernapas Data Obyektif : Keadaan klien lemah Klien hanya terbaring ditempat tidur

Distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernapasan

Ketidak efektifan pola napas

42

Klien ngongsrong Klien sesak Klien terpasang O2 Batuk Kesadaran : Komposmentis Tekanan darah : 110/80 mmHg Nadi : 100 x /menit Respirasi : 32 x /menit Suhu : 36,5C

3.

Tanggal 26-02-10 Data Subyektif : - Klien mengatakan sesak dan sulit bernapas Data Obyektif : Keadaan klien lemah Klien hanya terbaring ditempat tidur Klien ngongsrong Klien sesak Klien terpasang O2 Batuk Kesadaran : Komposmentis Tekanan darah : 110/80 mmHg Nadi : 100 x /menit Respirasi : 32 x /menit Suhu : 36,5C

retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit

Kerusakan pertukaran gas

3.2.3

Prioritas Masalah Keperawatan Tanggal Teratasi Belum teratasi

No Dianogsa Tanggal Masuk 1 Ketidak efektifan bersihan jalan 26-02-10 nafas yang berhubungan dengan

43

bronkospasme 2 Ketidak efektifan pola nafas yang 26-02-10 berhubungan kerja pernafasan 3 Kerusakan pertukaran gas yang 26-02-10 berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit Belum teratasi dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat Belum teratasi

3.2.4 No 1

Rencana Tindakan Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil - Jalan napas menjadi efektif menentukan posisi yang nyaman sehingga memudahkan peningkatan pertukaran gas. dapat mendemontrasi kan batuk efektif dapat Intervensi - Kaji warna, kekentalan dan jumlah sputum - Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk. - Auskultasi paru sebelum dan sesudah tindakan - Lakukan fisioterapi dada dengan tehnik drainage postural,perkusi dan fibrasi dada. Rasional Karakteristik sputrum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi Batuk yang tidak terkontrol melelahkan dan inefektif serta menimbulkan frustasi Berkurangnya suara tambahan setelah tindakan menunjukan

Dianogsa Keperawatan Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan bronkospasme

44

menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi tidak ada suara nafas tambahan

- Dorong dan atau berikan perawatan mulut -

keberhasilan Fisioterpi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret. Hygiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut Takipnea, irama yang tidak teratur dan bernafas dangkal menunjukkan pola nafas yang tidak efektif Posisi semi fowler akan menurunkan diafragma sehingga

Ketidak efektifan pola nafas yang berhubungan dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernafasan

Klien mendemontrasikan pola nafas efektif - Frekuensi nafas yang efektif dan perbaikan pertukaran gas pada paru Menyatakan faktor penyebab dan cara adaptif mengatasi faktor-faktor tersebut

- Monitor frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan - Posisikan klien dada posisi semi fowler

- Alihkan perhatian individu dari pemikiran tentang keadaan ansietas dan ajarkan cara bernafas efektif - Minimalkan distensi gaster - Kaji pernafasan selama tidur - Yakinkan klien dan beri dukungan saat dipsnea -

memberikan pengembangan pada organ paru Ansietas dapat menyebabkan pola nafas tidak efektif Distensi gaster dapat menghambat kontraksi diafragma Adanya apnea tidur menunjukkan pola nafas yang tidak efektif Rasa raguragu pada klien dapat menghambat komunikasi terapeutik.

45

Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit

Klien akan mempertahankan pertukaran gas dan oksigenasi adekuat. - Frekuensi nafas 16 20 kali/menit - Frekuensi nadi 60-120 kali/menit - Warna kulit normal, tidak ada dipnea dan GDA dalam batas norma

- Pantauan status pernafasan tiap 4 jam, hasil GDA, pemasukan dan haluaran

untuk mengidentisifikasi indikasi kearah kemajuan atau penyimpangan dari hasil klien

- Tempatkan klien pada posisi semi fowler - Berikan terapi intravena sesuai anjuran

posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih baik

untuk memungkinkan rehidrasi yang cepat dan dapat mengkaji keadaan vaskuler untuk pemberian

- Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 l/mt selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2 - Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tanda-tanda toksisitas -

obat-obatan darurat pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernafasan pengobatanuntuk mengembalikan kondisi bronkus seperti kondisi sebelumnya untuk memudahkan bernafas dan mencegah etelektasis

3.2.5

Implementasi RM:007116 NO OX KEP. 1 IMPLEMENTASI Mengkaji warna, kekentalan dan jumlah

Ny.S TANGGAL 26-02-10

46

sputum Menginstruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk. Mengauskultasi paru sebelum dan sesudah tindakan 26-02-10 2 Melakukan fisioterapi dada dengan tehnik drainage postural,perkusi dan fibrasi dada. Mendorong dan atau berikan perawatan mulut Kolaborasi : Memonitor frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan

Memposisikan klien dada posisi semi fowler

Mengalihkan

perhatian

individu

dari

pemikiran tentang keadaan ansietas dan ajarkan cara bernafas efektif Meminimalkan distensi gaster Mengkaji pernafasan selama tidur Monitor frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan

Posisikan klien dada posisi semi fowler

47

Megalihkan

perhatian

individu

dari

pemikiran tentang keadaan ansietas dan ajarkan cara bernafas efektif 26-02-10 3 meminimalkan distensi gaster Mengkaji pernafasan selama tidur Kolaborasi : Memantauan status pernafasan tiap 4 jam, hasil GDA, pemasukan dan haluaran Menempatkan klien pada posisi semi fowler Memberikan terapi intravena sesuai anjuran Memberikan oksigen melalui kanula nasal 4 l/mt selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2 Memberikan toksisitas Kolaborasi : pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tanda-tanda

Catatan Perkembangan Ny.S No 1 Tanggal 27-02-10 Dianogsa Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan bronkospasme RM: 007116 Evaluasi S : - Klien mengatakan sesak dan batuk O : - Keadaan umum lemah - Napas ngongsrong - Ronchi (+) - RR = 32x/mnt - Tekanan darah : 120/60mmHg - Nadi : 84x /menit - Suhu : 36,5C A : - Masalah belum teratasi P : - Pertahankan Interverensi

48

27-02-10

Ketidak efektifan pola nafas yang berhubungan dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernafasan

S : - Klien mengatakan sesak dan batuk O : -Keadaan umum lemah - Klien masih terpasang O2 - Napas ngongsrong - Ronchi (+) - RR = 32x/mnt - Tekanan darah : 120/60mmHg - Nadi : 84x /menit - Suhu : 36,5C A : - Masalah belum teratasi P : - Pertahankan Intervensi S : - Klien mengatakan sesak dan batuk O : - Keadaan umum lemah - Napas ngongsrong - Ronchi (+) - RR = 32x/mnt - Tekanan darah : 120/60mmHg - Nadi : 84x /menit - Suhu : 36,5C A : - Masalah belum teratasi P : - Pertahankan Interverensi

27-02-10

Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit

49

BAB IV PEMBAHASAN Dispnea atau sesak merupakan keadaan yang sering ditemukan pada penyakit paru maupun penyakit jantung. Bila nyeri dada merupakan keluhan yang paling dominan dalam infark jantung, maka dispnea (sesak napas) merupakan hal yang dominan pada emboli paru,bahkan sesak napas merupakan gejala utama pada payah jantung. Secara umum yang dimaksud dengan dispnea adalah kesulitan bernafas. Kesulitan bernafas ini terlihat dengan adanya kontraksi dari otot-otot pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya terjadi dengan lambat, akan tetapi dapat pula terjadi dengan cepat. Dari hasil pengkajian yang didapatkan pada tanggal 26 februari 2010 di Ruang Interna RSD Dr. Haryoto Lumajang, Ny. S datang pada tanggal 26 februari 2010 jam 05.14 dengan kesadaran sedang,sesak (+) 3 hari, nafas ngongsrong, mual, muntah, panas, batuk.. Maka dari hasil pemeriksaan yang diperoleh pada Ny. S ditagakkan diagnosa medis Dyspneu. Dan diagnosa keperawatan yang didapatkan pada Ny. S a. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan bronkospasme (Lindajual C.;1995). b. Ketidak efektifan pola nafas yang berhubungan dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernafasan, (Hudak dan Gallo ;1997). c. Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas dan rasa takut sufokasi. (Lindajual C;1995). d. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit,(Susan Martin Tucker;1993). e. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan laju metabolik tinggi, dipsnea saat makan dan ansietas, (Hudak dan Gallo;1997).. f. Resiko tinggi kelelahan yang berhubungan dengan retensi CO 2 hipoksemia, emosi terfokus pada pernafasan dan apnea tidur, (Hudak dan Gallo;1997). Maka, untuk tindakan mandiri dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan dan rencana tindakan keperawatan serta evaluasi pada Ny. S seperti yang terterah di bab tiga pada Asuhan Keperawatan pada Ny S. Sedangkan untuk tindakan kolaborasi, terapi yang diberikan pada Ny S di ruang Interna RSD Dr. Haryoto Lumajang, antara lain :

50

Ringer laktat Diberikan secara r.v. dengan kecepatan aliran = 2,5 ml/kg BB/jam. Sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang dalam keadaan asam basa berketimbangan atau asidasis ringan. Sebagai pilihan utama untuk mengatasi kehilangan cairan dalam keadaan darurat pada Ny S. Ranitidin Diberikan secara IV dengan dosis 2x1 ampul. Ranitidin digunakan untuk menyembuhkan tukak lambung dan duodenum akut dan refluks esofagitis atau keadaan hiperskresi asam lambung patologis agar Ny S tidak mengalami peningkatan asam lambung yang mengakibatkan muntah.

Lasix diberikan secara injeksi 40 mg/tablet Golongan diuretik kuat. Digunakan dalam pengobatan oedema paru akibat gagal jantung kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak napas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja diresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama. Di gunakan pada Ny S untuk menghambat resorpsi cairan dalam tubulus ginjal. Ketorolac Diberikan 10 mg injeksi. merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer agar tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiate pada Ny S. Captopril Diberikan dengan dosis awal 12,5 mg-25 mg, 2-3 kali sehari.captopril juga efektif pada hipertensi dengan PRA yang normal, bahkan juga pada hipertensi dengan PRA yang rendah. Obat ini juga merupakan antihipertensi yang efektif untuk pengobatan gagal jantung dengan terapi kombinasi lain. Kombinasi dengan tiazid memberikan efek aditif sedangkan kombinasi dengan blocker memberikan efek yang kurang aditif pada Ny S. Digoxin Digoxin diberikan secara tablet pada Ny S dengan dosis 0,125, dan 0,25 mg dapat meningkatkan kekuatan dan kekuatan kontraksi jantung, dan berguna dalam pengobatan gagal jantung. Dosis digoxin dapat diambil dengan atau tanpa makanan. Acetil salicylad

51

Diberikan

kepada

Ny

dengan

dois

awal

2,4-3,6

g/hari

,untuk

mengurangiSakit kepala, nyeri-nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi. Asuhan keperawatan yang diberikan pada Ny S dengan diagnosa dyspnea di ruang Interna RSD Dr. Haryoto Lumajang selama Ny S masuk rumah sakit antara lain tindakan mandiri keperawatan dan kolaborasi sudah sesuai dengan teori asuhan keperawatan.

52

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada Ny S di ruang Interna RSD Dr. Haryoto Lumajang sesuai dengan teori, mulai dari pengkajian, analisa data, intervensi, implementasi dan evaluasi. 2. Perawat dapat mengerti dan memahami terhadap efek terapeutik dan efek samping obat yang telah diberikan pada Ny S di ruang Interna RSD Dr. Haryoto Lumajang dan terapi yang telah digunakan antara lain ringer laktat, ranitidine ,lasix, ketorolac, captopril, digoxin, acetil salicylad. 5.2 Saran Bagi perawat Agar perawat lebih tepat dalam pemberian asuhan keperawatan sesuai dengan intervensi, penguasaan keterampilan interpersonal intelektual dan teknikal serta kolaborasi dengan tim medis.

53

DAFTAR PUSTAKA Tabrani. 1996. Prinsip Gawat Paru Edisi II. Jakarta: EGC http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php? id=55&idc=8 http://www.hexpharmjaya.com/page/ketorolac.aspx http://blogs.unpad.ac.id/irman/?p=3

54