Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH MASA AKHIR DEWASA

diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik disusun oleh

Kelompok 7 :
Cheenia Oktriyani Rosi Windiani Rahayu Nia Andriani Mida Hamidah Ake Melansyah (063161111142) (063161111160) (063161111144) (063161111166) (063161111165)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Kelas D/ Semester 2

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI Jalan R. Syamsudin, SH. 50 Kota Sukabumi 43113 Telp. (0266) 218342 Fax. (0266) 218345 Website : www.ummi.ac.id e-mail : info@ummi.ac.id

2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat berdasarkan referensi buku yang kami baca dan apa yang kami paham untuk senantiasa dapat berbagi ilmu kepada pembaca secara tidak langsung. Makalah ini membahas tentang Masa Akhir Dewasa (late adulthood) yang dimana ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enam puluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peranperan sosial baru. Sehingga dengan dibahasnya materi ini oleh kelompok kami, kami harap dapat membantu mahasiswa untuk paham dan mengerti akan materi yang disampaikan dan dapat menambah pengetahuan para pembaca dalam perkuliahan Perkembangan Peserta Didik di Semester 2 ini. Tiada gading yang tak retak. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Sukabumi, 24 Juni 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................................ BAB I Pendahuluan 1 1 1 2 2 2 2 A. Latar Belakang Masalah .................................................................... B. Pembatasan Masalah ......................................................................... C. Perumusan Masalah .......................................................................... D. Tujuan Pembahasan .......................................................................... E. Manfaat Hasil Pembahasan ............................................................... F. Metode .............................................................................................. G. Sistematika Penulisan ....................................................................... BAB II Tinjauan Pustaka 3 5 7 7 9 i ii

A. Tugas Perkembangan Masa Akhir Dewasa ..................................... B. Studi Kasus Penyakit Alzheimer ....................................................... C. Penyebab Penyakit Alzheimer .......................................................... D. Gejala Penyakit Alzheimer ............................................................... E. Penanganan Penyakit Alzheimer ...................................................... BAB III Penutup

A. Kesimpulan ........................................................................................ B. Saran .................................................................................................. Daftar Pustaka ....................................................................................................

11 12 13

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Perkembangan Peserta Didik merupakan mata kuliah yang sangat penting dalam semester 2 ini, dimana kita yang nantinya sebagai calon pendidik harus mengetahui perkembangan peserta didik kita. Dalam proses pembelajaran seringkali kita menemukan kesulitan dalam memahami materi atau kurang mengerti materi yang disampaikan. Oleh karena itu, makalah ini mencoba menyajikan studi kasus tentang masa akhir dewasa dan tugas perkembangaanya. Dimana pada masa ini sebelum kita membahas tentang problematika pada Masa Akhir Dewasa tentunya kita harus mengetahui Tugas-tugas perkembangan pada masa tersebut dan baru kita mengulas studi kasus yang kami bahas yaitu Alzhaimer yang belum banyak orang mengetahuinya sebagai penyakit yang mematikan urutan ke-5 di Dunia. Penyakit yang masih di anggap sepele oleh sebagian masyarakat di Indonesia ini yang menjadi problematika yang kami bahas pada Masa Akhir Dewasa. Namun dalam makalah ini kami mencoba untuk memaparkannya secara lebih sederhana dan semoga lebih mudah untuk dimengerti dengan bersumber dari apa yang kami pahami dari referensi buku yang kami baca dan browsing internet tentang Problematika pada Masa Akhir Dewasa, yang nantinya juga dapat menambah wawasan pembaca tentang materi pokok kami bahas dalam makalah ini. B. Pembatasan Masalah

Makalah ini berisi tentang Problematika pada Masa Akhir Dewasa yang khususnya kami mengangkat studi kasus tenatang penyakit yang dibahas oleh kelompok 7 untuk jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh permasalahan antara lain: a) Apakah Tugas-tugas Perkembangan pada Masa Akhir Dewasa? b) Apakah Problematika pada Masa Akhir Dewasa ? c) Bagaimanakah Penanganan terhadap Problematika yang diberikan ?
D. Tujuan Pembahasan

1. Dapat mengetahui dan memahami tugas-tugas perkembangan pada Masa Akhir Dewasa 2. Dapat mengetahui dan memahami Problematika yang dibahas pada Masa Akhir Dewasa

3. Dapat mengetahui bagaimana penanganan terhadap problematika yang diberikan.


E. Manfaat Hasil Pembahasan

Setelah penulis mambahas materi ini penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, untuk memahami materi pada Masa Akhir Dewasa dan menambah wawasan tentang tugas-tugas perkembangan dan problematika pada Masa Akhir Dewasa, sehingga membuka pikiran kita untuk menjadi mahasiswa yang lebih kritis dalam memahami suatu materi yang disampaikan.
F. Metode

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan informasi dari internet atau browsing dan referensi dari berbagai buku yang kami dibaca.
G. Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari 3 Bab dan beberapa lembar lainnya.


Bab I adalah Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang Masalah, Pembahasan

Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Pembahasan, Manfaat Hasil Pembahasan, Metode, dan Sistematika Penulisan. Pada Bab II dijelaskan tentang Isi materi perkuliahan yang membahas tentang Tugas Perkembangan pada Masa Akhir Dewasa dan Problematika yang terjadi pada Masa Akhir Dewasa berikut dengan penanganannya. Bab III berisi tentang bagian Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggungjawaban disertakan pula Daftar Pustaka.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Tugas Perkembangan Masa Akhir Dewasa Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahanlahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994). Tugas-tugas perkembangan Masa Dewasa Lanjut (Masa Tua) a. Lebih mengamalkan diri dalam mengamalkan norma atau ajaran agama b. Mampu menyesuaikan diri dengan menurunnya kemampuan fisik dan kesehatan c. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga Robert Atchley menggambarkan 7 fase pensiun yaitu : Fase jauh (remote). Kebanyakan individu melakukan sesuatu untuk mempersiapkan fase pensiun Fase Dekat (near), pekerja mulai berpartisipasi dalam program pra-pensiun Fase Bulan madu, mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dan menikmati aktivitas dengan waktu luang yang lebih banyak. Fase kecewa, orang berusia lanjut menyadari bahwa bayangan pra-pensiun mereka tentang fase pensiun tidak realistis Fase reorientasi, mulai mengembangkan alternative kehidupan yang lebih realistis

Fase stabil, sudah memutuskan apa yang mereka pilih dan bagaimana menjalani pilihan tersebut. Fase akhir, peran mereka sudah bergantung karena mereka sudah tidak dapat berfungsi secara mandiri. d. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup (istri atau suaminya). e. Membentuk hubungan dengan orang lain yang seusia f. Memantapkan hubungan yang lebih harmonis dengan anggota keluarga (anak, menantu dan cucu) g. Membina pengaturan jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan sesuai dengan kebutuhannya. h. Menyesuaikan diri terhadap peranan-peranan sosial dengan cara yang luwes. Tugas-tugas perkembangan itu tadi pada dasarnya merupakan tuntutan atau harapan sosio-kultural dimana manusia itu hidup. Dalam masyarakat kita sejak dulu hingga kini tetap memilki harapan sesuai diatas sebagai sebagian penentu sebagai orang dewasa. Khusus mengenai hidup berkeluarga dalam masa dewasa terdapat dua hal pokok yang mendorong terciptanya hubungan hidup berkeluarga. Kebutuhan individu pada satu pihak dan tugas perkembangan pada lain pihak pemanduan antara keduanya menimbulkan energy yang membangkitkan gerak bagi individu orang dewasa untuk bersatu dalam satu jalinan hubungan berkeluarga. Diantara kebutuhan utama dan kuat yang mendorong individu orang dewasa untuk hidup berkeluarga adalah kebutuhan material, kebutuhan seksual, dan kebutuhan psikologis. Tetapi dari segi psikologis, kebutuhan utama dan terkuat untuk berkeluarga bagi orang dewasa adalah kebutuhan akan cinta, rasa aman, pengakuan, dan persahabatan. B. Studi Kasus Tentang Penyakit ALZHEIMER Masyarakat mengenal Alzheimer dengan istilah yang berbeda, yaitu kepikunan. Namun seringkali kepikunan pada orang lanjut usia dianggap wajar, padahal seharusnya penyakit ini segera ditangani oleh para ahlinya (dokter, psikater, dan psikolog). Alzheimer banyak dialami oleh orang lanjut usia, terutama usia 65 tahun ke atas. Waktu penyebaran penyakit Alzheimer pada seseorang bervariasi mulai dari 5 hingga 20 tahun, dan kematian yang terjadi seringkali disebabkan karena infeksi. Faktor resiko utama seseorang mengidap Alzheimer adalah usia, yaitu semakin tua usia seseorang (khususnya setelah usia 65 tahun)

maka semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Menurut National Alzheimer's Association (2003), penyakit Alzheimer menyerang hingga 10 % dari orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10 tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih dapat dipastikan mengidap Alzheimer. Sementara, pada orang yang memiliki faktor genetik turunan / bawaan dari orang tua, penyakit ini akan menyerang di bawah usia 65 tahun. Namun, kasus seperti ini cukup jarang ditemukan. Alzheimer Telah Menghancurkan Ibuku (Diambil dari kisah seorang anak yang menceritakan ibunya yang terkena penyakit Alzhaimer) Seorang anak yang mulai gelisah dengan apa yang dilakukan ibunya, ibunya bisa dibilang waktu mudanya ahli hitung-hitungan. Namun setelah diketahui ibunya menderita Alzhaimer, ibunya menjadi orang yang bahkan menghitung jari kaki saja tidak bisa. Pada awalnya, Ibunya hanya menunjukkan gejala-gejala lupa biasa, tapi makin lama makin sering. Diantaranya, urutan rukun sholat dan wudhu yang kacau, diulang-ulang atau terbalik-balik. Selanjutnya, untuk makan dan berpakaian saja harus dipandu. Keadaannya semakin buruk karena emosi Ibunya pun berubah drastis. Ibunya jadi mudah tersinggung, mudah marah, gampang bingung, murung, dan menarik diri. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya, atau jika ibunya mengalami kesulitan mengungkapkan maksudnya, ia bisa panik, menangis, bahkan histeri. Selanjutnya, buang air pun - besar maupun kecil - tidak terkontrol, sehingga sering mengompol dan pup tidak pada tempatnya. Dalam berkomunikasi sangat sulit. Karena Ibunya pun sulit mengungkapkan maksud dan pikirannya. Seolah banyak sekali yang ingin beliau katakan. Namun setiap kali kalimatnya terhenti karena tidak menemukan kata-kata, atau bisa jadi ide di benaknya pun raib. Mereka hanya bisa mengira-ngira meskipun tidak semuanya paham akan maksudnya. Selain itu, Ibunya hampir lupa identitas orang-orang disekitarnya, setiap saat mereka harus mengingatkan siapa mereka. Perubahan perilaku, perubahan emosi dan kepribadian, ditambah kesulitan komunikasi, merubah pola pergaulannya. Kecenderungan Ibunya menarik diri, dibarengi dengan penarikan diri sahabat-sahabatnya. Para sahabat yang dahulu sering bertandang ke rumah ibu, ngrumpi bersama, saling curhatkini merentangkan jarak. Karena banyak orang awam yang tidak mengerti tentang Alzhaimer, penyakit yang diderita ibunya. Alzheimer telah menggerogoti kemampuan intelektual Ibunya. Sampai ibunya meninggal.

Oleh karena itu dalam makalah ini kami ingin mengangkat studi kasus tentang Alzhaimer penyakit paling mematikan urutan ke 5 di dunia. Yang nyatanya Alzheimer merupakan silent killer yang tak boleh dianggap sepi. Berikut studi kasus kami mengenai penyakit Alzhaimer : 1. Penyakit Alzheimer Merupakan gangguan otak yang bersifat progresif yang dimulai dengan kehilangan daya ingat dan akhirnya menuju pada demensia total (hilangnya daya ingat dan kemampuan kognitif) yang bisa berujung pada berkematian. Walaupun penyakit alzheimer kebanyakan diderita usia lanjut yaitu orang yang sudah berumur sekitar 58 tahun, akan tetapi juga perlu berhati hati bagi anda yang masih berusia di bawah umur kisaran 58 tahun, karena tidak menutup kemungkinan penyakit alzheimer akan menyerang orang yang masih belum lanjut usia. 2. Penyebab penyakit Alzheimer 1) Dari hasil riset penyakit alzheimer yang dilakukan, diketahui bahwa pada Penyakit Alzheimer terjadi kehilangan sel saraf di otak di area yang berkaitan dengan fungsi daya ingat, kemampuan berpikir serta kemampuan mental lainnya. Keadaan penyakit alzheimer ini diperburuk dengan penurunan zat neurotransmiter, yang berfungsi untuk menyampaikan sinyal antara satu sel otak ke sel otak yang lain. Kondisi abnormal tersebut menjadi penyebab mengapa pada penyakit Alzheimer fungsi otak untuk berpikir dan mengingat mengalami kemacetan. 2) Penyebab penyakit alzheimer yang pasti belum diketahui. Beberapa alternatif penyebab penyakit alzheimer yang telah dihipotesis antara lain: intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, gangguan neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filamen, dan adanya presdiposisi herediter. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa memang ada peran faktor genetika, meskipun beberapa penelitian lain juga sudah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika. 3. Gejala Penyakit Alzheimer Gejala umum penyakit Alzheimer meliputi:

Gangguan memori dan berpikir, yaitu penderita penyakit Alzheimer kesulitan mengingat informasi baru. Pada tahap akhir penyakit, memori jangka panjang menghilang, dan penderita penyakit Alzheimer tidak dapat mengingat informasi pribadi, seperti tempat tanggal lahir, pekerjaan, atau nama-nama anggota keluarga dekat. Kebingungan. Penderita penyakit Alzheimer dapat tersesat ketika keluar rumah sendirian dan kadang tidak dapat mengingat dimana dia atau bagaimana dia bisa sampai disana. Lupa tempat menyimpan sesuatu, seperti kacamata, kunci, dompet, dll. Berpikir Abstrak. Penderita penyakit Alzheimer merasa tugas kantor atau studi-nya lebih sulit dikerjakan daripada biasanya. Kesulitan mengerjakan kebiasaan sehari-hari, seperti makan, mandi, berpakaian, dll. Perubahan kepribadian dan perilaku penderita penyakit Alzheimer. Menjadi mudah marah, tersinggung, gelisah, atau jadi pendiam. Kadang-kadang, menjadi bingung, paranoid, atau ketakutan. Penilaian yang buruk, seperti meninggalkan rumah pada malam hari yang dingin tanpa jaket atau sepatu, atau bisa pergi ke toko memakai baju tidur. Ketidakmampuan penderita penyakit Alzheimer untuk mengikuti petunjuk. Alzheimer mempengaruhi bagian otak yang bernama hippocampus yaitu bagian dari otak yang mengatur lokasi ingatan dan kecerdasan. Sebagai bagian dari penyakit alzheimer, neuron atau sel saraf dalam hippocampus menjadi kusut (saling terbelit) yang berakibat pada pembentukan plak dan kematian sel otak, terutama yang berhubungan dengan gangguan pembentukan ingatan baru dan gangguan pengambilan ingatan lama. Apabila seseorang mengidap beberapa dari gejala di atas, maka sebaiknya ia segera menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Menganalisa dan bersikap kritis dalam mengenali Alzheimer. Alzheimer dapat disebabkan karena faktor genetik dan faktornon genetik. Pada orang yang terkena Alzheimer karena faktor genetik (bawaan orang tua), mereka mengidap Alzheimer di bawah usia 65 tahun atau usia muda. Namun pada orang yang terkena Alzheimer akibat faktor non genetik, terutama yang paling banyak berpengaruh adalah faktor usia, maka semakin tua usia seseorang (khususnya di atas 65 tahun) akan semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, kasus penderita Alzheimer di bawah usia 65

tahun karena faktor genetik (bawaan orang tua) sangat jarang ditemukan , sementara yang seringkali / banyak ditemukan adalah kasus penderita Alzheimer di atas usia 65 tahun. Perbedaan Alzheimer dan penyakit ingatan lainnya. Untuk dapat membedakan Alzheimer dengan penyakit lainnya, Anda harus terlebih dahulu menguasai definisi Alzheimer dan gejalanya (yang telah diuraikan di atas) baru kemudian melakukan perbandingan dengan kasus penyakit terjadi. Apabila penyakit tersebut benar-benar sesuai dengan definisi dan gejala Alzheimer, bukan hanya sekedar mirip atauserupa, maka penyakit tersebut dapat dipastikan adalah penyakit Alzheimer. 4. Penanganan penyakit Alzheimer Penanganan terhadap penyakit Alzheimer dapat dilakukan melalui 2 pendekatan: pharmacological dan nonpharmacological. Berdasarkan pendekatan pharmacological, penanganan yang dilakukan terhadap Alzheimer dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, satu-satunya obat yang dapat digunakan adalah obat-obat yang mengandung acetylcholinestrase rivastigmine, dan galantamine. (AchE) inhibitor seperti: tacrine, donepezil HCL,

Pemakaian obat-obatan ini harus merujuk pada anjuran yang dikemukan oleh dokter / psikiater. Karena pemakaian obat-obatan ini ditentukan oleh dosis, dan waktu pemberian, serta memiliki efek samping. Pengobatan lain yang dapat digunakan namun masih dipertanyakan mengenai keefektifannya adalah ginkgo biloba, vitamin E, C, dan B. Pendekatan nonpharmacological melakukan penanganan terhadap penyakit Alzheimer tanpa menggunakan obat-obatan, tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengatur/memanage tingkah laku dan gejala kognitif pasien. Tujuan sekunder dari pendekatan ini adalah untuk mengurangi beban caregiver (pengasuh atau perawat, biasanya dari pihak keluarga pasien pasien). tidak mampu Penanganan dengan samping menggunakan pengobatan pendekatan atau tidak nonpharmacological sangat bermanfaat ketika pengobatan tidak dapat dilakukan karena mentoleransi efek menyetujui/mengikuti instruksi pengobatan, atau membantah pengobatan. Pendekatan nonpharmacological dilakukan dengan menggunakan terapi, seperti: terapi behavioral management techniques, the pleasant event schedule (PES), music therapy, strategi/ modifikasi lingkungan, animal assisted therapy, morning bright light therapy, ECT. Melalui pendekatan nonpharmacological ini, penderita Alzheimer menjadi lebih mengenal, dan lebih siap menghadapi penyakitnya, serta lebih dapat me-manage dirinya sendiri (Litchtenberg, dkk., 2003).

Dalam melakukan penanganan terhadap penderita Alzheimer, yang paling berperan penting adalah caregiver dan keluarga. Caregiver dan keluarga akan sangat menentukan apakah penyakit penderita Alzheimer tersebut akan semakin memburuk dengan drastis ataukah memburuk namun dengan sangat lambat karena kemunduran akibat penyakit tersebut dapat diperlambat oleh caregiver. Caregiver berperan dalam memotivasi penderita Alzheimer, pada caregiver yang mengalami stres dalam menangani penderita Alzheimer, maka kondisi penderita Alzheimer yang ditanganinya akan semakin memburuk dalam waktu yang cepat. Disini menunjukkan bahwa caregiver dan penderita Alzheimer dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan tanggung jawab caregiver untuk mengasuh penderita Alzheimer, mulai dari makan, pengobatan, mandi, dsb. setiap hari, maka tidak heran jika caregiver mengalami stres bahkan tidak jarang juga sampai depresi. Oleh karena itu, caregiver sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk dari para ahli melalui pendekatan nonpharmacological, sehingga penderita Alzheimer caregiver dapat lebih siap menghadapi penderita Alzheimer, lebih memahami penderita Alzheimer dan siap merawatnya.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan

Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Dalam makalah ini kami membahas studi kasus tentang Alzhaimer yang merupakan gangguan otak yang bersifat progresif yang dimulai dengan kehilangan daya ingat dan akhirnya menuju pada demensia total (hilangnya daya ingat dan kemampuan kognitif) yang bisa berujung pada berkematian. Walaupun penyakit alzheimer kebanyakan diderita usia lanjut yaitu orang yang sudah berumur sekitar 58 tahun, akan tetapi juga perlu berhati hati bagi anda yang masih berusia di bawah umur kisaran 58 tahun, karena tidak menutup kemungkinan penyakit alzheimer akan menyerang orang yang masih belum lanjut usia. Penyebabnya karena terjadi kehilangan sel saraf di otak di area yang berkaitan dengan fungsi daya ingat, kemampuan berpikir serta kemampuan mental lainnya. Keadaan penyakit alzheimer ini diperburuk dengan penurunan zat neurotransmiter, yang berfungsi untuk menyampaikan sinyal antara satu sel otak ke sel otak yang lain. Kondisi abnormal

tersebut menjadi penyebab mengapa pada penyakit Alzheimer fungsi otak untuk berpikir dan mengingat mengalami kemacetan, mempengaruhi bagian otak yang bernama hippocampus yaitu bagian dari otak yang mengatur lokasi ingatan dan kecerdasan. Sebagai bagian dari penyakit alzheimer, neuron atau sel saraf dalam hippocampus menjadi kusut (saling terbelit) yang berakibat pada pembentukan plak dan kematian sel otak, terutama yang berhubungan dengan gangguan pembentukan ingatan baru dan gangguan pengambilan ingatan lama. Penanganannya bisa mennggunakan 2 pendekatan yang pertama, pharmacological dan nonpharmacological. Pharmacological pengobatan penanganan yang dilakukan terhadap Alzheimer dilakukan dengan menggunakan obat-obatan. Nonpharmocological melakukan penanganan terhadap penyakit Alzheimer tanpa menggunakan obat-obatan, tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengatur/me-manage tingkah laku dan gejala kognitif pasien.
B. Saran

Dalam berusaha melengkapi makalah ini, tentu ada sesuatu yang kurang dan kami sebagai penulis baik dari pembahasan ataupun dari segi tulisan menyadari akan hal demikian. Maka dari itu kami akan berusaha lebih baik dengan selalu mengedapankan sumber-sumber yang lebih layak sebagai reverensi. Kami sangatlah mengharapkan masukan baik berupa kritik ataupun saran sehingga dapat menjadi sebuah instropeksi dari karya kami juga sebagai semangat dan landasan baru untuk terus berinovasi dalam berkarya.

DAFTAR PUSTAKA
Juntika Nurihsan, Achmad & Agustin, Mubiar. (2011). Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Refika Aditama Japardi, Iskandar. (2002). Penyakit Alzheimer. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara
http://immabook.blogspot.com/2011/02/alzheimer-moment-to-remember.html http://umum.kompasiana.com/2009/09/24/alzheimer-telah-menghancurkan-ibuku/ http://fpsikologi.wisnuwardhana.ac.id/index.php? option=com_content&view=article&id=6:alzheimer-anda-yakin-anda-tahualzheimer&catid=2:artikel&Itemid=11