Anda di halaman 1dari 8

Perkembangan Anak dan Permasalahannya

Manusia terus berkembang selama hidupnya., pada umumnya perkembangan adalah: spesifik dan berbeda antaraanak-anak dan dewasa. Perkembangan anaka merupakan hasil dari maturasi organorgantubuh terutama susunan syaraf pusat. Perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan

biofisikopsikososial dan faktor genetik. Dalam perkembangan terdapat berbagai tahapan yang dilalui anak untuk menuju usia dewasa. Tahapan yang terpenting adalah pada masa 3 tahun pertama, karena pada 3 tahun pertama ini tumbuh kembang berlangsung dengan pesat dan menentukan mas depan anak kelak. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik, kognitif, emosi, bahasa, motorik (kasar dan halus), personal sosial dan adaptif. Berbagai masalah gangguan perkembangan dapat timbul. Deteksi dini dan intervensi dini sangat membantu agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin. Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak sangat besar artinya.

Ciri-ciri Perkembangan Anak Perkembangan anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Perkembangan dimulai pada masa pranatal dan proses belajar dimulai setelah lahir. Sering dikira bahwa proses belajar baru dimulai pada saat anak masuk sekolah formal. Padahal proses belajar sudah dimulai sebelum anak masuk sekolah. Oleh karena itu perhatian terhadap perkembangan dan proses belajar harus dimulai pada waktu prenatal dan pasca natal dan ini berlangsung terus. 2. Perkembangan mempunyai berbagai dimensi yang saling berhubungan. Perkembangan termasuk fisik, kognitif, sosial, spiritual, dan emosional saling mempengaruhi satu sama lain dan semuanya tumbuh secara simultan. Kemajuan di satu bidang akan mempengaruhi kemajuan di bidng lainnya. Kemajuan di satu bidang akan mempengaruhi kemajuan di bidang lainnya. Sebaliknya bila terdapat kesalahan/ keterlambatan pada satu bidang akan berdampak pula pada bidang yang lain. Sebagai contoh, pada anak yang malnutrisi kemampuan untuk belajar sering kurang percaya diri, dan sebagainya. Sehingga anak memerlukan program yang mengacu pada pengertian bahwa perkembangan adalah sesuatu

holistik, yang memperhatikan anak secara utuh baik pada kesehatan, nutrisi, kognitif maupun pada kebutuhan sosial-emosional. Oleh karena itu intervensi harus memberikan perhatian yang terintegrasi, yang meliputi perhatian terhadap kebutuhan untuk perlindungan, makanan, kesehatan, kasih sayang, interaksi dan stimulasi, rasa aman yang konsisten serta permainan yang memungkinkan anak untuk bereksplorasi. Semua elemen ini harus ada untuk mendukung perkembangan anak. 3. Perkembangan berlangsung pada tahap yang dapat diramalkan dan proses belajar terjadi pada sekuen yang dapat dimengerti; tetapi terdapat variasi yang besar dari individu dalam kecepatan perkembangan dan cara belajarnya. Ini penting untuk orang tua agar menggunakan cara yang sesuai dengan pola perkembangan anaknya. Tidak hanya dalam bidang kognitif, tetapi juga afektif, persepsi, dan motorik. Segala aktivitas harus memberikan tantangan terhadap perkembangan sesuai dengan umurnya. Tidak ada manfaatnya mengajarkan konsep dan memberikan tugas sebelum perkembangan anak siap untuk itu. Intervensi yang terintegrasi dalam mengoptimalkan perkembangan sosial, emosional, spiritual, dan kognitif dapat memberikan keuntungan dalam proses belajar. 4. Perkembangan dan belajar berlangsung berkelanjutan sebagai hasil dari interaksi dengan orang, benda dan lingkungan di sekitarnya. Peran orang dewasa baik di rumah maupun di tempat lain dalam mendukung proses belajar anak, adalah memberi kesempatan pada anak untuk bekerja dengan benda yang konkrit, mempunyai kesempatan memilih, melakukan eksplorasi pada benda itu atau ide, bereksperimen dan mendapatkan suatu penemuan. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewas di dalam lingkungan yang aman, sehingga memberikan anak keamanan dan kenyamanan. 5. Anak sebagi peserta yang aktif dalam proses perkembangan dan belajarnya. Proses belajar dan perkembangan yang terkait akan mempengaruhi bagaimana anak membangun pengetahuannya sendiri, bukan informasi yang tidak tepat dari orang deawsa. Ketrampilan sebagai dasar membangun pengetahuan akan meningkat dengan praktek. Oleh karena itu anak harus diberi kesempatan membangun pengetahuannya melalui eksplorasi, interaksi dengan bahan dan meniru peran. Oleh karena itu intervensi harus termasuk kesempatan pada anak untuk belajar sambil praktek, terlibat dalam pemecahan masalah, dan belajar bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Kesempatan untuk terlibat aktif dalam kegiatan sehari-hari di

rumah atau pada suatu tempat yang lebih terorganiser di luar rumah, seperti Taman Bermain, Taman Kanak-kanak atau sekolah formal lainnya.

Masalah Perkembangan Anak Masalah perkembangan yang sering timbul, antara lain: 1. Gangguan Perkembangan Fisik Untuk mengetahui masalah tumbuh kembang fisik pada anak, perlu pemantau yang kontinu. Dengan pemantauan berat badan, tinggi badan (proporsi), lingkar kepala, umur tulang, dan pertumbuhan gigi, maka dapat diketahui adanya suatu kelainan tumbuh kembang fisik seorang anak. Pemantauan berat badan dengan menggunakan KMS(Kartu Menuju Sehat), maka kita dapat mengetahui pola pertumbuhan anak. Bila grafik berat badan lebih dari 120% kemungkinan akibat dari obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan di bawah garis normal, kemungkinan anak kurang gizi, deprivasi, menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal. Berat badan terhadap tinggi badan di bawah persentil ke lima, menunjukkan indikator adanya kurang gizi yang akut. Setelah bebeapa bulan kekurangan kalori, tingi bdan terhadap umur akan menurun (stunting), sehingga proporsi berat terhadap tinggi badan akan kembali normal. Proporsi tubuh mengikuti sekuen perubahan yang teratur dalam perkembangan anak. Proporsi dapat diketahui dengan mengukur bagian bawah tubuh yaitu mulai dari simfisis pubis sampai ke lantai (B) dan bagian atas tubuh adalah tinggi badan dikurangi bagian bawah tubuh (A). Ratio antara A/B adalah sekitar 1,7 pada bayi baru lahir, 1,3 pada umur 3 tahun, dan 1,0 setelah umur 7 tahun. Ratio A/B yang lebih besar dari normal adalah khas untuk shortlimb dwarfism atau adanya kelainan tulang seperti pada ricket. Lingkar kepala dapat dipantau dengan menggunakan grafik lingkar kepala dari Nellhaus. Besarnya lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan serebrospinalis. Pada lingkar kepala yang lebih besar dari normal kemungkinan karena hidrosefalus, megaensefali, hidranensepali, efusi subdural, tumor otak, penyakit Canavan, bayi besar, keturunan, variasi normal. Pada anak yang menderita malnutrisi kronis dan berat sering disertai lingkar kepala yang kecil, dan berakibat kurangnya kemampuan kognitif di kemudian hari. Maturasi tulang diketahui melalui umur tulang. Baku yang sering digunakan adalah menurut Greulich dan Pyle, yang memerlukan foto tangan kiri dan sendi tangan kiri, foto lutut kiri kadang-kadang ditambahkan pada anak yang lebih muda. Sedangkan metode Sontag memerlukan foto setiap sendi besar

dari bagian kiri tubuh. Umur tulang mempunyai korelasi dengan stadium pubertas dan berguna untuk memprediksi tinggi badandewasa pada remaja yang mengalami maturitas didi atau lambat. Pada perawakan pendek karena keturunan (familial short stature), umur tulang adalah normal sesuai dengan umur kronologis. Sedangkan pada pertumbuhan yang terlambat, perawakan pendek akibat kelainan endokrin dan kurang gizi, maka umur tulang adalah lebih rendah. Pertumbuhan/ erupsi gigi terlambat, dapat disebabkan oleh hipotiroid, hipoparatiroid, keturunan, dan tersering adalah idiopatik. Sedangkan penyebab tanggalnya gigi yang dini, dapat karena histiositosis X, siklik neutropenia, trauma, dan idiopatik. Nutrisi, gangguan metabolisme, sakit yang lama, obat-obat tertentu seperti tetrasiklin dapat mengakibatkan perubahan warna gigi dan kelainan pertumbuhan enamel gigi. Gangguan pengelihatan antara lain : maturitas visual yang terlambat (anak yang normal intelegensi visual terjadi sekitar umur 6 bulan), gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna dan kebutaan akibat dari ulkus kornea, katarak, glaucoma, neuritis optik, hipoplasia nervus optikus, retinoblastoma, fibroplasia v\nervus optikus, fibroplasias retrolental. Sedangkan ketulian pada anak dibedakan antara tuli konduksi dan sensorineural. Tuli konduksi seringkali akibat dari otitis media. Sedangkan tuli sensorineural akibat dari kelainan conginetal (hipotiroid conginetal, rubella conginetal), faktor perinatal (prematuritas, hiperbilirubinemia, asfiksi berat), dan faktor pasca natal (gondongan/mumps, meningitis oleh karena H. Influenza, luka bakar). Deteksi dini gangguan penglihatan dan pendengaran sangat penting. 2. Gangguan Perkembangan Motorik Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini yaitu : a. Faktor keturunan Pada keluarga tersebut perkembangan motorik rat-rata lambat b. Faktor lingkungan Anak yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar, misalnya anak yang terus digendong atau ditaruh di baby walker terlalu lama, juga anak yang mengalami deprivasi maternal sering mengalami keterlambatan motorik. c. Faktor kepribadian Anak yang penakut, takut jatuh

d. Retardasi mental Sebagian besar anak dengan retardasi mental mengalami keterbatasan gerak motorik. e. Kelainan tonus otot Anak dengan palsi serebral, sering terjadi keterbatasan perkembangan motorik akibat dari spastisitas, athetosis, ataksia atau hipotonia. Kelemahan tendon dan kelainan pada sumsum tulang belakang (gross spinal defects), juga sering disertai dengan keterlambatan motorik. f. Obesitas Walaupun obesitas dapat mengakibatkan gangguan perkembangan motorik, tetapi tidak semua anak dengan obesitas mengalami keterlambatan motorik. g. Penyakit neuromuscular Pada anak yang menderita penyakit Duchenne muscular berjalan. h. Buta Anak yang buta sering terlambat berjalan, kemungkinan akibat dari tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Sedangkan gangguan motorik halus lebih sedikit variasinya. Gangguan perkembangan motorik halus sering menyertai retardasi mental dan palsi serebral. 3. Gangguan perkembangan bahasa Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai faktor yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensi rendah, kurang interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, faktor keluarga, kembar, psikosis, gangguan laterasi, maslah-masalah yang berhubungan dengan disleksia dan afasia. Sedangkan gagap, dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas, faktor keluarga/ termasuk anak yang meniru cara bicara keluarganya yang gagap, gangguan laterasi, rasa tidak aman, faktor konstitusi, dan kepribadian anak. Selain itu gangguan bicara dapat juga disebabkan oleh bibir sumbing atau sumbing palatum, maloklusi, adenoid, dan serebral palsi. Frenulum lidah (tounge-tie) yang pendek juga dapat mengakibatkan gangguan bicara. 4. Gangguan fungsi vegetatif a. Gangguan makan Ruminasi dystrophy sering terlambat

Pica Bulimia Anoreksia nervosa

b. Gangguan fungsi eliminasi Enuresis Encopresis

c. Gangguan tidur Dissomnia Parasomnia

d. Gangguan kebiasaan Temasuk fenomena akibat pelampiasan stress, seperti membentur-benturkan kepala, menggoyang-goyangkan tubuh, menghisab jari, menggigit kuku, mencabut rambut, menggerakkan gigi, memukul-mukul atau mencubit salah satu bagian tubuhnya, manipulasi tubuh, mengulang kata-kata, menahan nafas, aerofagia, dan tiks. 5. Kecemasan Kecemasan pada umumnya merupakan bagian dari perkembangan. Tetapi bila kecemasan ini berlebihan sehingga mempunyai efek terhadap interaksi sosial dan perkembangan anak, maka merupakan hal yang patologis yang memerlukan suatu intervensi. Contoh : fobia sekolah, kecemasan berpisah (separation anxiety disorder), fobia sosial (childhood-onset social phobia), kecemasan setelah trauma (post-traumatic stress disorder). 6. Gangguan suasana hati (mood disorder) Sering pda anak-anak dan remaja. Gangguan tersebut antara lain adalah major depression yang ditandai dengan disforia, kehilangan minat, sukar tidur, sukar konsentrasi, dan nafsu makan yang terganggu. Pada disthymic disorder, kelainan disforia lebih intermien dari major depression, dengan periode suasana hati yang normal, dapat berlangsung beberapa hari sampai minggu, kelainan ini lebih kronis. Bipolar disorder, adalah ditandai dengan suasana hati yang cepat berubah. 7. Bunuh diri dan percobaan bunuh diri Merupakan penyebab kematian nomor dua pada remaja di negara barat. Bunuh diri sering merupakan penyelesaian masalah psikologi dan lingkungan bagi remaja.

8. Gangguan kepribadian yang terpecah (Disruptive behavioural disorder) Kelainan ini mungkin sebagai akibat dari frustasi dan kemarahan. Contohnya adalah bebohong, membangkang, temper tantrum, dan agresif. 9. Gangguan perilaku seksual Gangguan perilaku seksual antara lain transsexualism, transvestism dan homoseksual 10. Gangguan perkembangan pervasive dan psikosis pada anak Gangguan perkembangan pervasive meliputi autisme (gangguan komunikasi verbal dan nonverbal, gangguan perilaku, dan interaksi sosial), kelainan Asperger (gangguan interaksi sosial, perilaku yang terbatas dan diulang-ulang, obsesif), childhood disitegrative disorder(demensia Heller), dan kelainan Rett ( kelainan x-linked dominan pada anak perempuan). 11. Disfungsi neurodevelopmental pada anak usia sekolah Disfungsi susuna saraf pusat sering disertai dengan kemampuan akademik yang di bawah normal, kelainan perilaku dan masalah dalam interaksi sosial. Kelainan ini antara lain adalah ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder), dan disleksia. 12. Kelainan saraf dan psikiatrik akibat dari trauma otak Trauma otak meningkatkan resiko gangguan intelektual maupun psikiatris, terutama bila trauma berat. Kelainan yang didapat pada waktu prenatal akibat ibu yang kecanduan obat terlarang, peminum alkohol dan perokok berat juga salah satu penyebabnya. Selain itu dapat sebagai akibat dari infeksi (ensefalis dan meningitis), kecelakaan, intoksikasi, genetik, penyakit metabolik, dan penyakit idiopatik yang menyerang otak 13. Penyakit psikosomatik Konflik psikologik dapat memberikan gejala somati yang disebut sebagai psikosomatik. Contoh penyakit psikosomatik adalah kelaina konversi, hipokondriasis, sindrom Munchausen by proxy, reflex sympatetic dysthropy. Sebagaimana tenaga yang berkecimpung dalam perkembangan anak, hal-hal yang telah disampaikan di atas harus mendapat perhatian yang sebaik-baiknya. Berbagai masalah tumbuh kembang anak dapat timbul pada stiap tahapan perkembangan anak. Oleh karena itu pemantauan yang berkesinambungan dan kerjasama multidisiplin sangat diperlukan. Demikian pula keterlibatan orang tua atau pengasuh anak dalam membina tumbuh kembang anak sangat diperlukan, agar tumbuh kembang anak optimal. Juga peran masyarakat dan

pemerintah dalam penyediaan anggaran dan fasilitas sangat diharapkan, demi masa depan bangsa yang sangat tergantung pada generasi penerusnya.

14.