Anda di halaman 1dari 18

Karakteristik Hipogonadisme Sekunder, Primer, dan Kompensata pada Pria Menua : Bukti Studi Penuaan Pria di Eropa ABSTRAK

Abdelouahid Tajar, Gianni Forti, Terence W. O'Neill, David M. Lee, Alan J. Silman, Joseph D. Finn, Gyo rgy Bartfai, Steven Boonen, Felipe F. Casanueva, Aleksander Giwercman, S. Thang Han, Krzysztof Kula, Fernand Labrie, Michael EJ Ramping, Neil Pendleton, Margus Punab, Dirk Vanderschueren, Ilpo T. Huhtaniemi, Frederick CW Wu, dan Kelompok EMAS

Konteks : Diagnosis hipogonadisme onset lanjut (late-onset hypogonadism / LOH) pada pria menua dengan penurunan testosteron (T) terkait usia saat ini tidak terkarakteristik dengan baik. Tujuan : Tujuan kami adalah untuk menyelidiki apakah berbagai bentuk hipogonadisme dapat dibedakan pada pria menua. Desain : Penelitian ini adalah survei cross-sectional pada 3369 pria berusia 40-79 tahun di delapan pusat masyarakat di Eropa. Metode : Empat karakteristik subjek penelitian ditentukan meliputi : eugonadal (T yang normal dan normal LH), sekunder (T rendah dan LH rendah / normal), primer (T rendah dan LH meningkat), dan hipogonadisme kompensata (T normal dan LH meningkat). Hubungan antara status gonad dengan faktor risiko potensial dan gejala klinis yang timbul diselidiki dengan model regresi bertingkat. Hasil: Di antara subyek penelitian, sebanyak 11,8, 2,0 dan 9,5 % subyek masingmasing digolongkan ke dalam kategori hipogonadisme primer, sekunder, dan Karakteristik kompensata. Pria yang lebih tua lebih cenderung menderitaHipogonadisme hipogonadisme Sekunder, primer Primer, dankompensata Kompensata pada Pria [Rasio risiko relatif (RRR) 3,04; P 0,001] dan hipogonadisme (RRR 2,41; Menua : Bukti Studi hipogonadisme Penuaan Pria di P 0,001). Indeks massa tubuh 30 kg/m2 dikaitkan dengan terjadinya Eropa sekunder (RRR 8,74; P 0,001). Komorbiditas dihubungkan dengan hipogonadisme baik primer maupun sekunder. Gejala seksual lebih umum terjadi pada hipogonadisme Tajar, Gianni Forti,pada Terence sekunder dan primer, sedangkan gejala Abdelouahid fisik lebih cenderung terjadi hipogonadisme kompensata. W. O'Neill, David M. Lee, Alan J. Silman,

Joseph D. Finn, Gyo rgy Bartfai, Steven Boonen, Felipe F. Casanueva, Aleksander Giwercman, S. Thang Han, Krzysztof Kula, Fernand Labrie, Michael EJ Ramping, Neil Pendleton, Margus Ilpo Punab, T. Dirk

Hasil: Di antara subyek penelitian, sebanyak 11,8, 2,0 dan 9,5 % subyek masing-masing digolongkan hipogonadisme ke dalam kategori dan

primer,

sekunder,

kompensata. Pria yang lebih tua lebih cenderung menderita hipogonadisme primer [Rasio risiko relatif (RRR) 3,04; P 0,001] dan hipogonadisme kompensata (RRR 2,41; P 0,001). Indeks massa tubuh 30 kg/m2 dikaitkan dengan terjadinya hipogonadisme sekunder (RRR 8,74; dihubungkan baik primer P 0,001). dengan maupun

Vanderschueren,

Huhtaniemi,

Frederick CW Wu, dan Kelompok EMAS

Konteks : Diagnosis hipogonadisme onset lanjut (late-onset hypogonadism / LOH) pada pria menua dengan penurunan

testosteron (T) terkait usia saat ini tidak terkarakteristik dengan baik. Tujuan : Tujuan kami adalah untuk menyelidiki apakah berbagai bentuk

Komorbiditas hipogonadisme

sekunder. Gejala seksual lebih umum terjadi pada hipogonadisme sekunder dan primer, sedangkan gejala fisik lebih cenderung terjadi pada hipogonadisme kompensata.

hipogonadisme dapat dibedakan pada pria menua. Desain : Penelitian ini adalah survei crosssectional pada 3369 pria berusia 40-79 tahun di delapan pusat masyarakat di Eropa.

Metode

Empat

karakteristik

subjek

penelitian ditentukan meliputi : eugonadal (T yang normal dan normal LH), sekunder (T rendah dan LH rendah / normal), primer (T rendah dan LH meningkat), dan

hipogonadisme kompensata (T normal dan LH meningkat). Hubungan antara status gonad dengan faktor risiko potensial dan gejala klinis yang timbul diselidiki dengan model regresi bertingkat.

BAB I PENDAHULUAN

rendah atau tidak ada sama sekali (hipogonadotropik) (Gould, 2007). Pria dengan obesitas juga biasanya

A. Latar Belakang Testosterone memerankan peran

memiliki karakteristik profil hormon yang digambarkan sebagai

penting dalam perkembangan fisiologis, fungsi seksual, reproduksi, pertumbuhan rambut, tulang dan kulit, dan pada metabolisme otot, eritropoiesis, kadar lemak dan kolesterol, serta karakteristik seksual sekunder. Produksi testosteron menurun sesuai dengan bertambahnya usia, 20% pria > 60 tahun dan 30 40 % pria > 80 tahun memiliki kadar

''hyperestrogenic

hypogonadotropic

hipogonadisme''. Obesitas merupakan penyakit kronis yang mengakibatkan terganggunya fisik, kesejahteraan

psikologis dan mungkin berkontribusi untuk mengurangi kesuburan juga terkait dengan penurunan sirkulasi tingkat

androgen. Penurunan tingkat androgen / testosteron sebanding dengan tingkat obesitas (Hammoud et al., 2006). yang akan berakibat pada terjadinya

testosteron serum yang subnormal pada saat dewasa muda (Faiman, 2011). Hipogonadisme pada pria terjadi karena defisiensi atau kekurangan

andropause dan infertilitas.

sekresi testosteron yang terjadi secara alami dengan peningkatan usia, atau karena malfungsi hipotalamus, kelenjar pituitari maupun testis. Hipofungsi testis dapat terjadi primer dalam testis

(hipogonadisme primer) atau akibat defisiensi hormon gonadotropik kelenjar hipofisis (hipogonadisme sekunder).

Penderita dengan hipogonadisme primer biasanya mengalami peningkatan kadar gonadotropin sedangkan (hipergonadotropik) mereka dengan

hipogonadisme sekunder memiliki kadar

BAB III PEMBAHASAN

Berbeda dengan studi terdahulu yang hanya melibatkan pengukuran hormone T saja, pada penelitian ini ditetapkan dua ambang batas untuk membantu menegakkan

Penelitian tentang

ini

mendeskripsikan hipogonadisme

diagnosis LOH yaitu kadar T (10,5 nmol / liter) dan kadar LH (9,4 U / liter). Sehingga kriteria pengelompokkan karakteristik

karakteristik

sekunder, primer dan kompensata pada pria menua. Sebelum penelitian dilakukan,

subyek pada penelitian ini adalah sebagai berikut : eugonadal (T 10,5 nmol / liter dan LH 9,4 U / liter), hipogonadisme sekunder (T < 10,5 nmol / liter dan LH 9,4 U / liter), hipogonadisme primer (T < 10,5 nmol / liter dan LH > 9,4 U / liter), dan hipogonadisme kompensata (T 10,5 nmol / liter dan LH > 9.4 U / liter). Penelitian perbedaan ini juga menganalisis tersebut

pedoman universal untuk mendiagnosis lateonset hypogonadism (LOH) pada pria menua masih belum jelas dan kontroversial. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk

menyelidiki berbagai bentuk hipogonadisme pada pria menua dan mengetahui dilakukan

karakteristiknya.

Penelitian

dengan desain cross sectional pada 3369 pria berusia 40-79 tahun di Eropa, dengan mengelompokkan subyek penelitian ke

keempat

kelompok

berdasarkan gejala yang timbul dari subyek penelitian. Sebanyak 11,8, 2,0 dan 9,5 % subyek dari keseluruhan masing-masing digolongkan hipogonadisme ke dalam kategori dan

dalam empat karakteristik meliputi : 1. Kelompok eugonadal, ditandai dengan kadar hormone T dan LH yang normal 2. Kelompok hipogonadisme sekunder, ditandai dengan kadar hormone T yang rendah dan kadar LH rendah/normal 3. Kelompok hipogonadisme primer,

primer,

sekunder,

kompensata. Pria yang lebih tua lebih cenderung menderita hipogonadisme primer [Rasio risiko relatif (RRR) 3,04; P 0,001] dan hipogonadisme kompensata (RRR 2,41; P 0,001). Indeks massa tubuh 30 kg/m2 berhubungan dengan terjadinya

ditandai dengan kadar hormone T yang rendah dan LH meningkat 4. Kelompok hipogonadisme kompensata ditandai dengan kadar hormone T normal dan LH meningkat.

hipogonadisme sekunder (RRR 8,74; P 0,001). Komorbiditas juga dihubungkan dengan hipogonadisme baik primer maupun

sekunder. Gejala seksual lebih umum terjadi pada hipogonadisme sekunder dan primer, sedangkan gejala fisik lebih cenderung terjadi pada hipogonadisme kompensata. Secara umum penelitian ini telah menjawab kebutuhan akan kriteria

pria menua yang memiliki gejala yang dicurigai sebagai LOH dapat dibedakan menurut endokrin, gejala klinis dan faktor predisposisinya. Kombinasi dari pengukuran hormone endokrin, timbulnya gejala, dan faktor predisposisi inilah yang berperan dalam terbentuknya sindrom klinis LOH.

diagnostik LOH serta klasifikasinya dengan terperinci. Hipogonadisme dahulu

diklasifikasikan hanya ke dalam kelompok hipogonadisme primer dan sekunder saja, namun pada penelitian ini telah dijelaskan adanya hipogonadisme kompensata kompensata. merupakan

Subjek dan Metode Subjek Sebanyak 3.369 pria berusia 40-79 tahun direkrut dari delapan pusat di Eropa meliputi : Manchester (Inggris), Leuven (Belgia), Malmo (Swedia), Tartu (Estonia), Ldz '(Polandia), (Italia), Szeged dan (Hungaria), Santiago de

Hipogonadisme

keadaan subklinis terpisah yang dapat berkembang menjadi hipogonadisme primer (Tajar et al., 2010). Meskipun kadar hormone T masih ditemukan normal pada pria dengan hipogonadisme kompensata sehingga gejala seksual belum muncul, akan tetapi telah terjadi peningkatan kadar

Florence Compostela

(Spanyol).

Orang-orang

diundang melalui surat undangan untuk kuesioner wawancara, penilaian tinggi dan berat badan, beberapa pengukuran lainnya, dan tes darah puasa. Persetujuan etik untuk studi ini diperoleh sesuai dengan persyaratan institusi lokal di setiap pusat. Perincian metodologi EMAS dijelaskan di tempat lain (13). Kuesioner dan pengukuran antropometri Informasi kesehatan pribadi dan status dengan

hormone LH dan cenderung timbul gejala fisik pada pria dengan hipogonadisme kompensata. Hipogonadisme sekunder

dihubungkan dengan obesitas sedangkan hipogonadisme primer berhubungan dengan bertambahnya usia. Dengan bertambahnya Indeks Massa Tubuh dan juga usia akan semakin meningkatkan resiko terjadinya hipogonadisme sekunder dan primer.

didokumentasikan

kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta termasuk SF-36 V2 (14) dan kuesioner yang telah divalidasi mengenai fungsi seksual

Kesimpulan dari penelitan tersebut adalah

(EMAS-SFQ) (15). Tinggi, berat badan, dan lingkar pinggang diukur dengan

Penggunaan angka 10,5 nmol / liter sebagai ambang batas kadar T mengacu pada studi terdahulu (18, 19). Nilai ambang LH berhubungan dengan nilai pada sentil 97.5th (bagian atas batas normal) di kelompok usia termuda (40-44 tahun) pada analisis kohort kami (setelah eksklusi; lihat pada bagian Hasil).

menggunakan instrumen standar yang telah dikalibrasi. Indeks massa tubuh (BMI) dihitung sebagai berat badan (kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (meter persegi). Pengukuran Hormon Sampel darah vena puasa di pagi hari diambil. Pengukuran hormon T dan estradiol (E2) dilakukan dengan metode kromatografi gas dan spektrometri massa (16). Kadar LH dan SHBG (Sex Hormone Binding Globulin) diukur dengan analisis imunokimia (Roche

Multilevel

regresi

(20)

yang

menyesuaikan variabel acak, digunakan untuk menjelaskan hierarki desain studi. Hubungan antara status gonad dan faktor risiko dinilai dengan menggunakan regresi multilevel multinomial dengan eugonadal sebagai status gonad rujukan. Lima faktor kunci yang dimasukkan sebagai factor pencetus tetap meliputi: usia (kontinu), BMI [Dikategorikan sebagai < 25 kg/m2 (acuan), 25 - < 30 kg/m2, dan 30 kg/m2], Status merokok [Dikategorikan sebagai perokok dan bukan perokok (acuan)], konsumsi alkohol [Dikategorikan sebagai konsumsi 5 atau < 5 hari/minggu (acuan)] dan komorbiditas [Dikategorikan sebagai tidak ada (acuan) atau minimal satu gangguan yang dilaporkan] (Tabel 1) Hubungan antara status gonad dan gejala klinis hipogonadisme diteliti

electrochemiluminescence E170

Diagnostics, Mannheim, Jerman) (3). Kadar T bebas / free T (fT) berasal dari kadar total T, SHBG, dan konsentrasi albumin (17). Metode Statistik Variabel kategori status gonad dibuat berdasarkan data EMAS menggunakan dua ambang batas: kadar T (10,5 nmol / liter) dan kadar LH (9,4 U / liter). Terdapat empat kategori meliputi normal atau eugonadal (T 10,5 nmol / liter dan LH 9,4 U / liter), hipogonadisme sekunder (T < 10,5 nmol / liter dan LH 9,4 U / liter), hipogonadisme primer (T < 10,5 nmol / liter dan LH > 9,4 U / liter), dan hipogonadisme kompensata (T 10,5 nmol / liter dan LH > 9.4 U / liter).

menggunakan model regresi logistik biner multilevel dengan variabel gejala sebagai hasilnya. Enam gejala (tiga gejala fisik dan

tiga gejala seksual) dikelompokkan dalam penelitian ini (21). Keenam gejala tersebut meliputi penurunan ereksi pagi hari,

(T, dehydroepiandrosterone, antiandrogen, agonis GnRH, dan agen psycholeptic) atau antikonvulsan, sehingga terdapat 3219

penurunan hasrat seksual, disfungsi ereksi, penurunan aktivitas berat, penurunan

peserta (rata-rata usia SD, 59,7 11,0 tahun) pada analisis sampel (Tabel 1). Hubungan antara kadar T dan LH

kemampuan berjalan lebih dari 1 km, dan tidak dapat membungkuk. (rincian dalam Lampiran Tambahan diterbitkan sebagai data tambahan pada The Endocrine Society di Jurnal Online. Gejala disesuaikan untuk usia

ditunjukkan pada Gambar. 1 di mana keempat kategori status gonad dibedakan menurut ambang batas T dan LH. Mayoritas subyek (76,7%) adalah eugonadal,

sedangkan 11,8, 2, dan 9,5% mengalami masing-masing hipogonadisme sekunder, primer, dan kompensata. Proporsi pria dengan hipogonadisme primer dan

(kontinu) dan kemudian diatur untuk BMI (kontinu), alcohol, status merokok, dan konsumsi status

komorbiditas,

pernikahan. Interaksi antara usia dan status gonad diperiksa untuk semua gejala dan kemudian dimasukkan dalam analisis jika ditemukan hubungannya secara statistik signifikan. multinominal Hasil logistik dari biner multilevel dinyatakan

kompensata meningkat berdasarkan usia dari 0,1-5,4% dan dari 2,8 -21,1%, masingmasing (Gambar 1). Namun, prevalensi hipogonadisme sekunder tidak meningkat secara signifikan berdasarkan usia (10,9% pada usia 40-49 tahun; 10,4% pada usia 7079 tahun). Kelompok pria pada hipogonadisme primer (usia 70,0 9,0 tahun) dan kompensata (usia 67,3 9,9 tahun) usianya lebih tua daripada kelompok pada eugonadal (usia 58,5 10,7 tahun, P < 0,001; Tabel 1).

sebagai rasio risiko relatif (RRR) atau odds rasio (OR), dengan dan interval kepercayaan 95% (CI). Semua analisis statistic dilakukan menggunakan STATA Intercooled versi 9.2 (Stata-Corp, College Station, TX). Hasil Kategori hipogonadisme Dari 3369 peserta EMAS, 150 dieksklusikan karena penyakit hipofisis, testis, atau adrenal atau penggunaan obat yang mempengaruhi fungsi hipofisis/testis

BMI

pada

kelompok

hipogonadisme

sekunder (30,8 4,8 kg / m2) lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Kadar

hormone T terendah berada pada kelompok hipogonadisme primer (T 7.5 2,5 nmol /

liter; fT 138,7 59,8 pmol / liter) dan sekunder (T 8,7 1,6 nmol / liter, fT 194,4 45.6) (Tabel 1 dan Gambar. 2). Kelompok hipogonadisme kompensata memiliki kadar hormon T yang normal (17,9 5,4 nmol / liter) dan kadar fT yang sedikit lebih rendah (265,1 81,4 pmol / liter) dibandingkan dengan kelompok eugonadal (314,7 77,5 pmol / liter). Rata-rata kadar LH tertinggi berada pada kelompok hipogonadisme
n

Tabel 1. Karakteristik Subjek: seluruh kohort dan setelah dikategorisasi

berdasarkan status gonad


Se lur uh ko ho rt 31 19 Eug ona d Hipog onadi sme sekun der 375 (11,8 %) Hipog onadi sme prime r 63 (2,0% ) Hipog onadi sme terko mpen sasi 303 (9,5% ) p
a

primer (18,0 10,3 U / liter) dan kompensata (14,1 6,5 U / liter) (P < 0,001) tapi tidak berbeda pada kelompok
Mea n (SD) Usia (th)

243 6 (76, 7%)

hipogonadisme

sekunder

dibandingkan

dengan kelompok eugonadal. Kelompok hipogonadisme kompensata memiliki ratarata kadar SHBG tertinggi (60.1 25,2 nmol / liter) dan proporsi terbesar perokok (26,5%) (Tabel 1 dan Gambar. 2). Kadar E2 juga lebih tinggi pada kelompok

59 .7 (1 1. 0) 17 3. 7 (7. 3) 83. 6 (1 4.0 ) 27. 7 (4. 1) 16. 6 (6. 0)

58, 5 (10, 7) 174 ,1 (7,3 ) 82, 6(1 3,1)

59,4 (10,4)

70,0 (9,0)

67,3 (9,9)

0 , 0 0 0 , 3 5 0 , 0 0 0 , 0 0 0 , 0 0

Ting gi (m)

173,3 (7,4)

170,5 (6,6)

172,2 (7,2)

hipogonadisme kompensata (84,88 29,32 pmol / liter).


Berat (kg)

92,8 (17,2)

84,2 (12,3)

79,7 (13,0)

BMI (kg/ m2) T Total (nmo l/liter

27, 3 (3,8 ) 17, 8 (5,3 )

30,8 (4,8)

29,0 (3,9)

26,8 (3,6)

8,7 (1,6)

7,5 (2,5)

18,3 (5,6)

) fT (pmo l/liter ) LH (U/lit er) SHB G (nmo l/liter ) E2 (pmo l/liter ) Juml ah Suby ek (%) Pero kok 68 2 9( 21, 4) 73 9 (2 3,1 ) 521 (21, 6) 67 (18,1) 5 (8,1) 80 (26,5) 0 , 0 0 0 , 6 2 29 2.3 (8 7.3 ) 6.2 (4. 3) 42. 8 (1 9.7 ) 74. 1 (2 5.1 ) 314 ,7 (77, 5) 5,2 (1,8 ) 43, 2 (17, 9) 75, 9 (24, 0) 194,4 (45,6) 138,7 (59,8) 265,1 (81,4) 0 , 0 0 0 , 0 0 0 , 0 0 0 , 0 0 Statu s perni kaha n Pasa ngan, tingg al terpis ah Tida k ada pasa ngan ESF Q : penu runa n ereks i pagi hari MM AS : disfu ngsi ereks i ESF Q : penu runa n hasra t seksu al SF36 penu runa n aktiv itas 19 5 (6, 3) 156 (6,6 ) 17 (4,7) 2 (3,5) 18 (6,3) 0 , 0 0

4,4 (1,9)

18,0 (10,3)

14,1 (6,5)

26,5 (12,3)

40,1 (18,5)

60,1 (25,2)

25 7 (8, 3) 11 95 (3 8,6 )

181 (7,6 ) 829 (35, 1)

41 (11,3)

8 (14,0)

25 (8,7)

0 , 1 3 0 , 0 0

57,2 (17,8)

54,8 (25,4)

84,9 (29,3)

159 (44,5)

37 (66,1)

153 (53,5)

90 5 (2 9,6 ) 84 2 (2 7,1 )

607 (26, 0)

111 (31,4)

29 (55,8)

142 (50,5)

0 , 0 0

Kons umsi alkoh ol > 5 hari/ ming gu Morb iditas 1/>

553 (22, 8)

90 (24,5)

18 (28,6)

66 (22,0)

594 (25, 1)

94 (26,3)

30 (51,7)

115 (39,7)

0 , 0 0

15 82 (5 0,0 )

109 1 (45, 5)

225 (61,0)

51 (83,6)

192 (64,7)

0 , 0 0

76 7 (2 4,2 )

504 (21, 0)

110 (29,8)

28 (45,2)

115 (38,6)

0 , 0 0

berat SF 36 penu runa n kema mpua n berja lan >1 km SF 36 tidak dapat mem bung kuk 23 1 (7, 3) 132 (5,5 ) 35 (9,6) 12 (19,4) 46 (15,4) 0 , 0 0

20 1 (6, 3)

122 (5,1 )

31 (8,4)

7 (11,3)

35 (11,8)

0 , 0 0

ESFQ ; EMAS Kuesioner Fungsi Seksual; MMAS, Massachusetts Male Aging Study, SF36, Domain Survei Kesehatan Formulir pendek V2 (http://www.qualitymetric.com). Nilai-nilai yang hilang dieksklusikan dari analisis. Nanomoles per liter dapat dikonversi ke nanogram per desiliter dengan membaginya dengan 0,03467. a P nilai ANOVA untuk usia, analisis uji kovarians (usia disesuaikan) untuk variabel kontinyu dan X2 untuk variabel kategori. b Kondisi kesehatan yang dilaporkan termasuk kondisi jantung, tekanan darah tinggi, kanker sebelumnya, bronkitis, asma, ulkus peptikum, epilepsi, diabetes, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakit prostat, dan stroke. c Referensi kategori (hidup dengan istri atau pasangan).

Gambar 1. Garis vertikal sesuai dengan total T = 10,5 nmol / liter, dan garis horizontal sesuai dengan LH = 9,4 liter U /. Mayoritas subyek (76,7%) adalah eugonadal, 11,8% mengalami hipogonadisme sekunder, 2,0% mengalami hipogonadisme primer, dan 9,5% mengalami hipogonadisme kompensata. Proporsi pria dengan hipogonadisme primer dan kompensata masing-masing meningkat berdasarkan usia selama empat dekade dari 0.1-5,4% dan dari 2.821.1% (inset). Prevalensi hipogonadisme sekunder berdasarkan usia tidak meningkat secara signifikan (8,2% pada 40-49 tahun; 8,8% pada 70-69 tahun). Nanomoles per liter dapat dikonversi ke nanogram per desiliter dengan membagi nilai tersebut dengan 0,03467.

Gambar 2. Distribusi (kotak dan plot whisker) dari T total, ft, LH, dan SHBG pada kelompok hipogonadisme eugonadal (n=2436, 76,7%),

sekunder (n=375, 11,8%), primer (n=63, 2,0%), dan terkompensasi (n=303 , 9,5%). Nanomoles per liter dapat dikonversi ke nanogram per desiliter dengan membagi nilai tersebut dengan 0,03467.

dan variabel lain (Tabel 2), efek acak pusat menjadi tidak signifikan.

Faktor Risiko Pria dengan BMI tinggi lebih mungkin untuk mengalami hipogonadisme sekunder dengan RRR masing-masing 3,30 (P < 0,001) dan 8,74 (P < 0,001) untuk BMI 25 sampai dengan kurang dari 30 kg/m2 dan 30 kg/m2 atau lebih, (Tabel 2). Mereka yang melaporkan lebih
BMI 25 dan <30 kg/m2 dari satu kondisi BMImasing-masing 30 kg/m2 komorbiditas memiliki RRR Perokok 1,44 (P 0,01) dan 2,25 (P 0,05) untuk Usia Seluruh Sampel

Tabel 2.Hubungan antara Status Hipogonad, Usia, Komorbiditas dan Gaya Hidup
RRR (95 % CI) Hipogonadisme sekunder Hipogonadisme primer

Hipogonad kompensat

0.97 (0.86 1.09 3.30 (2.135.12)d 8.74 (5.6113.60)d 0.91 (0.671.23) 1.31 (0.99 1.73)

3.04 (2.13 4.32)d 1.82 (0.83 4.02) 2.37 (1.015.58)b 0.69 (0.271.78) 1.39 (0.772.49)

2.41 (2.0

0.77 (0.5

0.73 (0.5

1.91 (1.4

hipogonadisme sekunder Konsumsi dan primer. LakiAlkohol 5 laki yang lebih tua lebih mungkin memiliki
1 hipogonadisme primer Komorbiditas atau kompensasi, Eksklusi Perokok masing-masing dengan RRR dari 3,04 (P hari/minggu

0.91 (0.6

1.44 (1.111.87)c

2.25 (1.104.64)b

1.16 (0.8

0,001) dan 2,41 (P 0,001) per dekade (Tabel Usia 2). Hipogonadisme sekunder berkaitan BMI tidak 25 dan <30 kg/m2 dengan usia. Mereka yang saat ini menjadi BMI 30 kg/m2 perokok memiliki RRR 1,91 (P < 0,001)
Konsumsi hari/minggu untuk berada di kelompok hipogonadisme Alkohol

0.95 (0.831.08) 3.11 (1.915.06)d 7.33 (4.4712.00)d

3.15 (2.144.62)d 1.70 (0.733.97) 2.39 (0.975.86) 1.21 (0.64 2.28)

2.76 (2.3

0.78 (0.5

0.70 (0.4

5 1.31 (0.96 1.77)


1.55 (1.16 2.07)c

0.94 (0.6

kompensata. Namun, eksklusi sebesar Komorbiditas 1682 perokok saat ini tidak mengubah hasil di atas yang menggunakan seluruh sampel (Tabel 2). Terdapat perbedaan yang signifikan antara pusat-pusat tersebut dalam prevalensi status gonad (P < 0,001). Namun, setelah penyesuaian untuk usia, BMI, komorbiditas,

2.50 (1.135.53)b

1.11 (0.8

Model multinomial multilevel mempertimbangkan hirarki dari desain. RRR menunjukkan kemungkinan pengklasifikasian dalam salah satu kategori hasil hipogonadisme sekunder, primer, atau kompensata dibandingkan dengan kategori acuan eugonadal dalam hubungannya dengan variabel bebas (misalnya BMI). Sehingga, RRR yang lebih tinggi dari 1 mengindikasikan peningkatan risiko hipogonadisme vs eugonadism sebagai satu perubahan variabel bebas dengan variabel lain dalam model konstan. Sebagai contoh, RRR dari 8,74 menunjukkan bahwa pria dengan BMI 30 kg/m2 atau lebih tinggi 8,7 kali lebih mungkin dikategorikan sebagai hipogonadisme sekunder dibandingkan dengan pria dengan BMI

kurang dari 25 kg/m2.Model disesuaikan untuk pusat, dan varians efek acak untuk kedua model adalah 0,04 (SE 0,03). Interpretasi RRR menyerupai OR yang diberikan oleh model regresi logistik. a Usia yang mempengaruhi : peningkatan 10 tahun b P < 0,05 c P < 0,01 d P < 0,001 (kelompok acuan adalah kelompok eugonadal)

Diskusi Telah kami laporkan sebelumnya

bahwa perubahan fungsional multilevel Gejala Kemungkinan seksual dan fisik peningkatan terkait gejala dengan dalam aksis hipotalamus-hipofisis-testis

(HPT) secara spesifik berhubungan dengan faktor risiko yang berinteraksi dengan kronologis usia dalam kontribusinya

hipogonadisme sekunder dan primer (Tabel 3). Setelah penyesuaian usia dan kovariat lainnya, hanya penurunan ereksi pagi hari dan penurunan hasrat seksual tetap dalam

terhadap penurunan kadar T selama masa transisi pria setengah baya (3). Kami sekarang memperluas pengamatan ini untuk menentukan apakah keadaan klinis mereka dapat memperbaiki penilaian LOH menjadi kategori diagnostik fungsional / anatomi yang terpisah dalam hubungannya dengan kadar T dan LH yang berbeda. Telah dikemukakan bahwa di dalam praktek klinis pengukuran gonadotropin merupakan hal yang terbatas untuk mendeteksi

signifikan,

masing-masing,

hipogonadisme sekunder dan primer. Pria dalam kelompok hipogonadisme primer lebih mungkin untuk memiliki hasrat

seksual rendah (OR 3,68; P < 0,01), terlepas dari usia, karena efek interaksi yang signifikan antara usia dan status gonadal (Tabel 3). Gejala fisik terkait dengan hipogonadisme primer (khususnya) dan sekunder; hubungan ini bertahan setelah dilakukan penyesuaian usia, tapi tidak pada penyesuaian model seluruhnya. Kelompok hipogonadisme kompensata menunjukkan kemungkinan peningkatan gejala seksual dan fisik (Tabel 3). Setelah penyesuaian untuk usia dan kovariat lainnya, tiga gejala fisik dan bukan gejala seksual, tetap signifikan.

hipogonadisme pada pria menua (22). Namun, hasil kami menunjukkan bahwa perubahan T dan / atau LH ke dalam kategori yang berbeda menunjukan

karakteristik yang penting. Hipogonadisme sekunder Penelitian ini menegaskan bahwa satusatunya pencetus paling kuat untuk

terjadinya kadar T yang rendah adalah obesitas, dengan komorbiditas juga

berkontribusi. Tidak hanya kelompok orang-

orang ini merupakan kelompok dengan usia termuda dari tiga kategori LOH, tetapi juga prevalensi hipogonadisme sekunder tidak meningkat berdasarkan usia. Meskipun efek negatif dari penuaan fungsi testis dapat itu sendiri terhadap dimoderasi oleh

Penurunan ereksi pagi hari Disfungsi Ereksi Penurunan hasrat seksual Disesuaikan dengan usia Penurunan ereksi pagi hari Disfungsi Ereksi Penurunan hasrat seksual Disesuaikan dengan usia, BMI, status perokok, konsumsi alcohol, komorbiditas, dan status pernikahan Penurunan ereksi pagi hari Disfungsi Ereksi Penurunan hasrat seksual Gejala Fisik Tidak disesuaikan Penurunan aktivitas berat

1.57 (1.251.98)d 1.38 (1.08 1.77)b 1.10 (0.851.44)

3.77

3.83

3.50

1.55 (1.211.98)d 1.34 (1.011.77)b 0.97 (0.711.32)

1.85

1.39

peningkatan kompensasi LH untuk beberapa tahun (lihat di bawah), obesitas, terlepas dari usia, tampaknya terkait dengan disregulasi hipotalamus / hipofisis dimana tidak terdapat mekanisme kompensasi fisiologis untuk menunda efek yang tak terkendali.

3.78

1.42 (1.09 1.86)c 1.15 (0.851.56) 0.97 (0.70 1.35)

1.76

Peningkatan aromatisasi hormone T ke estradiol dalam jaringan lemak, resistensi insulin sentral dan perifer (25), dan produksi sitokin pro inflamasi (TNF-dan IL-6) dari adiposit (26) seluruhnya berpotensi untuk menggagalkan fungsi fungsi hipotalamus dan

1.38

3.68

1.70 (1.322.19)d

3.38

aksis reproduksi dan mengurangi

Penurunan kemampuan berjalan 1.92 (1.29 2.86)c > 1 km Tidak dapat membungkuk Disesuaikan dengan usia Penurunan aktivitas berat
1.67 (1.28 2.17)d 1.91 (1.26 2.92)c

4.42

kadar SHBG.

2.55

1.58

Penurunan kemampuan berjalan 1.88 (1.252.83)c > 1 km

2.12

Tabel 3.Hubungan Gejala (Seksual dan Fisik) dengan status hipogonad


Variabel terikat Hipogonadisme sekunder Gejala Tidak disesuaikan

Tidak dapat membungkuk

1.89 (1.232.90)c

1.29

Disesuaikan dengan usia, BMI, OR (95 % CI) status perokok, konsumsi alcohol, dan komorbiditas Hipogonadisme primer Hipogonadisme 1.26 (0.94 1.69) Penurunan aktivitas berat kompensata Penurunan kemampuan berjalan 1.15 (0.721.85) > 1 km Tidak dapat membungkuk
1.06 (0.651.72)

1.37

1.81

1.13

Model multilevel regresi logistic dengan gejala sebagai hasil a Model melibatkan interaksi antara usia dengan status hipogonadal, OR pada rata-rata usia (60 tahun) b P < 0,05 c P < 0,01 d P < 0,001

tersebut dirujuk ke dokter keluarga mereka untuk penilaian lebih lanjut dengan maksud untuk penyelidikan hipofisis jika tidak ada penjelasan yang masuk akal untuk

Peningkatan gejala seksual dan fisik pada kelompok hipogonadisme sekunder hanya spesifik pada kadar T yang rendah setelah menyesuaikan BMI dan faktor perancu lainnya. Mengingat bahwa hal tersebut tidak tergantung sekunder dalam analisis dari usia,

hipogonadisme hipogonadotropik tersebut. Tujuh menderita penyakit sistemik serius (misalnya kanker, gagal ginjal, atau gagal jantung) yang dianggap cukup untuk

menekan axis HPT, dari orang-orang ini, dua telah meninggal dunia. Dua (dengan kadar prolaktin, fungsi tiroid, dan ferritin yang normal) tidak dilakukan penyelidikan hipofisis lebih lanjut yang dianggap perlu oleh dokter mereka.

hipogonadisme didefinisikan

sebagaimana ini, tidak

mengalami onset yang terlambat. Hal ini berhubungan dengan obesitas dan kondisi co-morbid pada segala usia. Pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa disfungsi

hipotalamus / hipofisis yang berhubungan dengan obesitas pada laki-laki dengan hipogonadisme sekunder berpotensi

berbanding terbalik dengan penurunan berat badan (27), inhibitor aromatase atau

antiestrogen (28), sehingga muncul terapi alternatif yang rasional sampai kepada terapi penggantian T yang simtomatik. Kami telah mengeksklusikan pria dengan penyakit hipofisis dan mereka yang menerima analog GnRH untuk pengobatan kanker prostat dari analisis kohort ini. Pada pria dengan kadar T di bawah 5 nmol / liter, hipogonadisme sekunder meningkatkan

kemungkinan mengalami penyakit okultisme hipofisis (26). Semua dari sembilan orang

tersebut Kesimpulan : Pria menua yang memiliki gejala yang dicurigai sebagai LOH dapat dibedakan menurut endokrin, gejala klinis dan faktor predisposisinya. Hipogonadisme sekunder dihubungkan dengan obesitas dan hipogonadisme primer didominasi dengan usia. Hipogonadisme kompensata dapat dipertimbangkan sebagai keadaan klinis yang terpisah terkait dengan penuaan. Klasifikasi LOH pada kategori yang berbeda dengan menggabungkan kadar LH dengan T dapat meningkatkan diagnosis dan

sedang dipertimbangkan

untuk

mendapatkan terapi penggantian androgen (5) meskipun masih terdapat kurangnya pemahaman tentang patofisiologi yang

mendasari mekanisme atau faktor-faktor etiologi dan kurangnya kriteria valid untuk mendefinisikan sindrom yang dianggap

sebagai late-onset hipogonadisme (LOH) (6, 7), berbagai istilah telah digunakan untuk menjelaskan andropause, keadaan tersebut pria, meliputi sindrom

menopause

defisiensi androgen dari penuaan pria. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kriteria pasien yang tepat, kemungkinan keberhasilan, dan risiko potensi terapi empiris pada populasi menua yang semakin

manajemen LOH (J Clin Endocrinol 95 Metab: 1810-1818, 2010).

Kadar hormon testosteron (T) yang bersirkulasi pada pria menurun secara progresif sekitar 0,4-2% per tahun dari dekade ketiga (1-3). Gejala-gejala yang meliputi penurunan massa dan kekuatan otot, energi, mood, libido, fungsi ereksi, dan kepadatan tulang (4), merupakan gejala khas dari adanya defisiensi androgen pada

meningkat (7, 8). Pasien dengan hipogonadisme klasik secara rutin diklasifikasikan sebagai

hipogonadisme sekunder (akibat disfungsi axis hipotalamus-hipofisis) dengan kadar T yang rendah dan gonadotropin yang rendah atau normal, sedangkan hipogonadisme primer (akibat disfungsi testis) ditandai dengan kadar T rendah dan kadar

hipogonadisme patologis akibat penyakit hipofisis atau testis pada pasien muda. Upaya untuk menjelaskan hubungan antara penurunan kadar hormon T dengan penuaan telah menunjukkan hubungan yang lemah (4). Meskipun demikian, peningkatan

gonadotropin yang meningkat. Mengingat bahwa etiologi yang mendasari dan

pengelolaan klinis untuk hipogonadisme sekunder dan primer berbeda, mungkin akan sangat informatif untuk membedakan pria menua dengan diagnosis LOH ke dalam

jumlah pria menua yang memiliki gejala

kategori

hipogonadisme

yang

berbeda

DAFTAR PUSTAKA

berdasarkan kadar T dan LH. Dalam studi sebelumnya (3, 9, 10), proporsi yang signifikan pada pria menua telah menunjukkan kadar gonadotropin yang tinggi dan kadar T dalam kisaran normal. Hal ini menimbulkan kemungkinan Anders Juul1 and Niels E.Skakkebk, 2002. Androgens and the ageing male. Human Reproduction., 8 (5), 423433. Araujo A., A Odonnell., D Brambilla., W Simpson., C Longcope., A M Matsumoto., J Mckinlay. (2004) Prevalence and Incidence of Androgen Deficiency in MiddleAged and Older Men: Estimates from the Massachusetts Male Aging Study. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism., 89 (12), 5920-26. Asthana S., S Bhasin., R Butler., H Fillit., J Finkelstein., S M Harman., L Holstein., S G Korenman., A M Matsumoto., J E Morley., P Tsitouras., R Urban. 2004. Masculine Vitality: Pros and Cons of Testosterone in Treating the Andropause. Journal of Gerontology: Medical Sciences., 59A (5), 461-5. Bain, J. (2001) Andropause Testosterone replacement therapy for aging men. Canadian Family Physician., 47, 91 97. Baziad, A. 2003. Andropause : Menopause dan Andropause. Ed I. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo., 196-213. Brooks, J.H. and Reddon, J.R. 1996. Serum testosterone in violent and nonviolent young offenders. J. Clin. Psychol., 52, 475-483. Faiman, Charles. Hypogonadism. 2011. Available Male at :

kompensasi, atau subklinis, hipogonadisme yang akhirnya dapat berkembang menjadi hipogonadisme primer. Sebuah situasi yang serupa juga dikenali dalam axis hipofisistiroid di mana kadar TSH yang tinggi, terhadap kadar hormon tiroid yang normal, adalah ciri khas hipotiroidisme subklinis (11, 12). Dalam studi ini, kami menyelidiki apakah faktor-faktor risiko spesifik dan gejala klinis dapat membedakan antara hipogonadisme sekunder, primer, dan

kompensata secara biokimia dari peserta studi European Male Ageing Study (EMAS), sebuah studi berbasis komunitas terhadap para pria paruh baya dan lanjut usia (13).

http://www.clevelandclinicmeded.co m/medicalpubs/diseasemanagement/ endocrinology/male-hypogonadism/ Accessed at 14th September 2011 at 05.35 am Frederick C.W. Wu, M.D., Abdelouahid Tajar, Ph.D., Jennifer M. Beynon, M.B., Stephen R. Pye, M.Phil., Alan J. Silman, M.D., Joseph D. Finn, B.Sc., Terence W. O'Neill, M.D., Gyorgy Bartfai, M.D., Felipe F. Casanueva, M.D., Ph.D., Gianni Forti, M.D., Aleksander Giwercman, M.D., Ph.D., Thang S. Han, M.D., Ph.D., Krzysztof Kula, M.D., Ph.D., Michael E.J. Lean, M.D., Neil Pendleton, M.D., Margus Punab, M.D., Ph.D., Steven Boonen, M.D., Ph.D., Dirk Vanderschueren, M.D., Ph.D., Fernand Labrie, M.D., Ph.D., and Ilpo T. Huhtaniemi, M.D., Ph.D. for the EMAS Group. 2010. Identification of Late-Onset Hypogonadism in Middle-Aged and Elderly Men. N Engl J Med 2010; 363:123-135 July 8, 2010 Gould, Duncan C. 2007. A novel metereddose 2% testosterone gel treatment for male hypogonadism. Vol. 4, No. 4, pp. 419427, December 2007 Guyton, Arthur C., Hall, John E. 1997. Fungsi Reproduksi dan Hormonal Pria (dan Kelenjar Pineal) : Fisiologi Kedokteran. Ed IX. Jakarta, ECG, 1265 81. Hammoud, A.O., M. Gibson., C. M. Peterson., B. D. Hamilton., Douglas T. Carrell. 2006. Obesity and Male Reproductive Potential. Journal of Andrology., 27 (5).

Hurtmutetal, P., Buvat J. (2006) Standart Practice in Sexual Medicine. Blackwell Publishing., 39. Judiwati, Rina., R Itishom., H Winarso. 2007. Physiological Aspects of Testosterone Administration In Andropause. Majalah Ilmu Faal Indonesia., 6, 32 33. Khosla, S., L.J Melton., E.J Atkinson., W.M O'Fallon. 2001. Relationship of serum sex steroid levels to longitudinal changes in bone density in young versus elderly men. J. Clin. Endocrinol. Metab., 86, 3555 - 61. Lue, T. 2000. Erectile Dysfunction. New England Journal Of Medicine., 342, 1802-1813. Matsumoto, A. M. 2002. Andropause: Clinical Implications of the Decline in Serum Testosterone Levels With Aging in Men. Journal of Gerontology: Medical Sciences., 57A (2), M76 M99. Schweiger, U., Deuschle, M., Weber, B., Korner, A., Lammers, C.H., Schmider, J., Gotthardt, U. and Heuser, I. 1999. Testosterone, gonadotropin, and cortisol secretion in male patients with major depression. Psychosom. Med., 61, 292-296. Sherwood, L. 2001. Fisiologi Reproduksi Pria. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke System. Ed.2. Jakarta. EGC, 697703. Tajar Abdelouahid, Gianni Forti, Terence W. ONeill, David M. Lee, Alan J. Silman, Joseph D. Finn, Gyo rgy Bartfai, Steven Boonen, Felipe F.

Casanueva, Aleksander Giwercman, Thang S. Han, Krzysztof Kula, Fernand Labrie, Michael E. J. Lean, Neil Pendleton, Margus Punab, Dirk Vanderschueren, Ilpo T. Huhtaniemi, Frederick C. W. Wu, dan Grup EMAS. 2010. Characteristics of Secondary, Primary, and Compensated Hypogonadism in Aging Men: Evidence from the European Male Ageing Study. J Clin Endocrinol Metab, April 2010, 95(4):18101818 Traish, A., Andre G., Robert F., Farid S. 2009. The Dark Side of Testosterone Deficiency: I. Metabolic Syndrome and Erectile Dysfunction. Journal of Andrology., 30 (1), 10 22.