Anda di halaman 1dari 3

KELABU IDEOLOGI INSAN NKRI

Oleh: Dwi Marga Purnama Saputra (11.8255) Agus Januri (11.8208)

Sebagai Negara yang memilki beragam budaya, etnis, suku, kepercayaan, bahasa, dan bahkan sumber daya alam. Indonesia menjadi sebuah negara yang memilki daya tarik tersendiri. Pancasila muncul dan lahir sebagai perekat kebhinekaan tersebut dan juga

sekaligus sebagai watak, karakter serta pandangan hidup bangsa. Pancasila merupakan konsensus dasar yang menjadi syarat utama terwujudnya bangsa yang demokratis dan merupakan titik pertemuan yang lahir dari suatu kesadaran bersama. Tentu saja kesadaran tersebut muncul dari kesediaan untuk berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan esensi dan substansi dari pancasila, yang walaupun sejatinya istilah-istilah tersebut belum mampu mengejawantahkan secara komprehensif makna yang terkandung dalam Pancasila. Ada yang menyebutkan pancasila sebagai dasar negara, pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, pancasila sebagai ideologi nasional, pancasila sebagai pilar kenegaraan, dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu bermuara pada konsensus bahwa pancasila merupakan buah pemikiran yang sungguh menakjubkan yang lahir dari para pendiri bangsa yang sangat kreatif, imajinatif, dan cemerlang yang mampu merumuskan, meramu dan menyepakati pilihan yang pas tentang dasar negara sesuai dengan karakter bangsa, sangat orisinil, menjadi sebuah negara modern yang berkarakter religius, tidak sebagai negara sekuler juga negara agama. Rumusan konsepsinya benar-benar di orientasikan pada dan sesuai dengan karakter bangsa. Mereka bukan hanya mampu menyingkirkan pengaruh gagasan negara patrimonial yang mewarnai sepanjang sejarah nusantara prakolonial, namun juga mampu meramu berbagai pemikiran politik yang berkembang saat itu secara kreatif sesuai kebutuhan masa depan modern anak bangsa. Tidak heran jika banyak intelektual ataupun negara-negara lain yang memuji prestasi monumental pendiri Republik Indonesia tersebut. Maka, pantaslah sebuah pandangan yang mengatakan bahwa Pancasila tidak bisa diubah karena sama dengan mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Pada era reformasi, Pancasila justru banyak dipersoalkan oleh sejumlah anak bangsa. Saat terjadi krisis yang mengakibatkan keterpurukan di semua bidang kehidupan, Pancasila dijadikan kambing hitam. Menurut mereka, hanya liberalisme dan kapitalisme yang terbukti memenangkan perang ideologi dunia yang akan bisa menyelamatkan Indonesia. Bahkan, ada salah seorang tokoh yang terang-terangan menyatakan diri Aku seorang neoliberalis.

Sementara yang lain berani mengatakan, tinggalkan Pancasila, ikutlah neolib. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, dewasa ini mulai terjadi kemerosotan pemahaman dan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila. Ini terbukti dari hasil survey yang dilakukan harian kompas, dan dirilis pada 1 Juni 2008; 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun tidak bisa menyebutkan sila-sila Pancasila secara benar dan lengkap; 42,7 persen responden berusia 3045 tahun salah menyebut sila-sila Pancasila, dan responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 persen salah menyebutkan kelima sila Pancasila1. Data diatas sungguh merupakan sebuah pukulan yang sangat berat bagi Bangsa Indonesia, terutama bagi meraka yang memahami betul pentingnya nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih setelah berbagai ideologi hasil produk barat berkembang dan mulai memasuki sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks keindonesiaan. Sebut saja, modernisme, liberalisme, kapitalisme, sekularisme dan lain sebagainya, dimana ideologi-ideologi tersebut semakin menyamarkan dan mendistorsi pemahaman mengenai ideologi bangsa yaitu Pancasila. Nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Pancasila bagi anak bangsa seakan sudah menjadi barang usang yang sudah tidak layak lagi untuk diimplementasikan dalam kehidupan. Terjadinya dekadensi moral, di sana-sini muncul semacam disorientasi, penolakan, konflik, pesimisme, apatisme demoralisasi, dehumanisasi, kemarahan, dan bahkan kebencian, yang kesemua itu merupakan manifestasi dari minimnya pengamalan nilai-nilai Pancasila, dan hal tersebut menjadi problem utama bangsa yang terus berkelanjutan sampai saat ini. Terutama bagi kalangan pemuda. Secara normatif, mengenal, memahami serta dapat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sebuah keharusan, sebab di tangan para pemuda tonggak estafet perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita luhur dan tujuan bangsa yang tertuang baik dalam Pembukaan UUD 1945 maupun butir-butir pancasila akan dilanjutkan. Namun ironisnya, para Pemuda di era reformasi demokrasi ini seolah telah kehilangan arah, identitas dan jati diri selaku bangsa Indonesia, mereka seakan terjebak dan terkungkung oleh gemerlapnya modernisasi, yang menjadikannya cenderung hedonis dan oportunis, bahkan menghalalkan segala cara untuk dapat mewujudkannya. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat yang terjadi secara simultan dan terus menerus sedikit banyak juga berdampak pada rendahnya kesadaran pemuda dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila.
1

Survei dilakukan pada 28-29 Mei 2008 melalui telepon dengan 835 responden berusia 17 tahun lebih yang dipilih secara acak dari Buku Petunjuk Telepon Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Jayapura; lihat Kompas 1 Juni 2008.

Banyak pihak yang kemudian mengusulkan perlunya melakukan peremajaan atau revitalisasi pemahaman atas Pancasila dengan alasan sudah mulai terjadi kemorosotan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila terutama dikalangan para pemuda. Bila gejala ini terus dibiarkan, apalagi ditambah gejolak politik yang tak kunjung usai, penerimaan dan kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila akan semakin merosot. Bila itu terjadi, dapat memicu krisis kebangsaan yang jauh lebih serius. Dengan demikian, penyegaran pemahaman baru mengenai Pancasila kian relevan. Agenda baru tersebut bukan sekedar soal bagaimana rakyat Indonesia bisa kembali menghapal Pancasila secara baik dan benar. Jauh lebih penting dari itu adalah upaya sungguh-sungguh agar Pancasila dapat menjadi doktrin operaisonal yang bisa memecahkan masalah kebangsaan dan kenegaraan. Singkat kata, Pancasila haruslah didiskusikan atau didialogkan oleh segenap elemen bangsa agar menjadi energi seluruh bangsa. Semakin besar pihak atau komponen bangsa memahami pancasila, semakin besar pula energi yang terbentuk untuk mecapai cita-cita bersama berbangsa dan bernegara sehingga pancarannya akan menerangi masa depan bangsa. Dalam konteks itulah Pancasila perlu mendapatkan perhatian, terutama fungsinya yang tidak hanya berhenti menjadi komitmen bersama, melainkan harus dipahami sebagai visi bangsa yang terus diupayakan untuk diwujudkan. Pancasila harus pula difahami sebagai citacita yang keberadaannya merupakan rambu-rambu dalam menyelenggarakan negara.

KOMENTAR