Anda di halaman 1dari 20

chi2

Diare adalahdefekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja (Haroen) Diare diartikan sebagai suatu keadaandimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yangterjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair (Suradi)

Lingkungan kebersihan lingkungan & perorangan Gizi pemberian makanan Kependudukan insiden diare pd daerah kota yg padat/ kumuh lebih Pendidikan pengetahuan ibu Perilaku masyarakat kebiasaan2 Sosial ekonomi

1.

Faktor infeksi a. Infeksi enteral infeksi pada GIT (penyebab utama) Bakteri : Vibrio cholerae, Salmonella spp, E. coli dll Virus : Rotavirus (40-60%), Coronavirus, Calcivirus dll Parasit: Cacing (Ascaris, Oxyuris,dll), Protozoa (Entamoba histolica,Giardia Lambia, dll) Jamur (Candida Albicans) b. Infeksi parenteral infeksi di luar GIT (OMA, BP, Ensefalitis,dll)

2.

3.
4.

Faktor malabsorbsi : KH, Lemak, P Faktor makanan : basi/ beracun, alergi Faktor psikologis : takut dan cemas

VIRUS masuk enterosit (sel epitel usus halus) infeksi & kerusakan fili usus halus

Enterosit rusak diganti oleh enterosit baru (kuboid/ sel epitel gepeng yg blm matang) fungsi blm baik Fili usus atropi tdk dpt mengabsorbsi makanan & cairan dgn baik Tek Koloid Osmotik motilitas DIARE

BAKTERI NON INFASIF (Vibrio cholerae, E. coli patogen) masuk lambung duodenum berkembang biak mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lap lendir) bakteri masuk ke membranmengeluarkan (cAMP) meransang sekresi cairan usus, menghambat absobsi tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut volume usus dinding usus teregang DIARE

BAKTERI INFASIF (Salmonella spp, Shigella spp, E. coli

infasif, Champylobacter) prinsip perjalanan hampir sama, tetapi bakteri ini dapat menginvasi sel mukosa usus halus reaksi sistemik (demam, kram perut) dan dapat sampai terdapat darah Toksin Shigella masuk ke serabut saraf otak kejang

Diare osmotik : diare akibat adanya bahan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus hiperosmoler hiperperistalsis Diare sekretorik : terjadi akibat stimulasi primer dari enterotoksin atau oleh neoplasma Diare akibat gangguan motilitas usus : gangguan pada kontrol otonomik

Hipokalemia, Asidosis metabolik, Kejang, Alkalosis metabolik Gangguan sirkulasi darah Syok hipovolemik Gangguan gizi Hipoglikemia, Malnutrisi energi protein, Intolerasi laktosa sekunder

Berdasarkan BB Ringan pe BB < 5 % Sedang pe BB 5 10 % Berat pe BB > 10 % Menurut Haroen Noerasid (modifikasi) Ringan Rasa haus & Oliguria ringan Sedang Tanda diatas + turgor kulit, ubun2 & mata cekung Berat Tanda diatas + somnolen, sopor, koma, syok, nafas kussmaul

Berdasarkan ketonusan cairan

Dehidrasi Isotonis
Kehilangan air dan Na dalam proporsi yang sama Merupakan dehidrasi yang terjadi karena diare Tanda sangat cepat, haus ekstremitas dingin dan berkeringat, kesadaran menurun dan muncul gejala syok hipovolemik

Dehidrasi Hipertonis
Terdapat kekurangan cairan air dan Na tetapi proporsi kehilangan air lebih banyak (Na >150 mmol/L) Tanda anak sangat haus,iritabel

Dehidrasi Hipotonis
Terdapat kekurangan cairan air dan Na tetapi proporsi kehilangan Na lebih banyak (Na >130 mmol/L) Tanda anak letargi, kejang

Riwayat

Jumlah dan konsistensi tinja Muntah Rasa haus Episode diare

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum klien gelisah, mudah marah, lemah, kesadaran Tandatanda vital BB Status hidrasi CRT, kecekungan ubun-ubun, Urin Output, Mukosa membran,Turgor kulit, Kecekungan kelopak mata, Air mata Tanda2 hipokalemi Bising usus, distensi usus, Menurunnya kemampuan kontraksi otot Pola pernafasan Pernafasan Kussmaul

Makroskopis dan mikroskopis Ph dan kadar gula dalam tinja Kultur dan uji resistensi

Pemeriksaan tinja

Pemeriksaan keseimbangan asam basa AGD Urinalisis : Bj, endapan Pemeriksaan kadar ureum kreatinin faal ginjal Pemeriksaan keseimbangan cairan & elektrolit Hb-Ht, Na, K, Ca dan F Pemeriksaan intubasi duodenum EKG menilai deplesi elektrolit (biasanya kalium)

Defisit volume cairan Resiko tinggi gangguan keseimbangan asam basa Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan Resiko tinggi gangguan integritas kulit Resiko tinggi injuri : kejang Kurang pengetahuan orang tua SESUAIKAN DENGAN KONDISI KLIEN

Berikan cairan sesuai indikasi Jumlah

Syok

Dehidrasi Berat

20-30 cc/kgBB (guyur dan boleh diulang s.d 3X sampai teratasi), jika teratasi Untuk 1st 24 jam hitung cairan sesuai kebutuhan, 50% diberikan 8 jam dikurangi waktu pemberian inisial, 50% diberikan pada waktu sisa

Dehidrasi Sedang Dehidrasi Ringan

20-30 cc/kgBB (2-4 jam) 70-80 cc/kgBB (20-22 jam) 50 -100 cc/kgBB (2-4 jam) Setiap BAB 50-100 cc (< 24 bulan), 100-200 cc (> 24 bulan) 25-50 cc/kgBB (2-4 jam) Setiap BAB 50-100 cc (< 24 bulan), 100-200 cc (> 24 bulan)

Pilihan Cairan Beri Rl (utama) atau NaCl Jika pasiennya tidak dapat makan diberi Dekstros dan RL Jika muntah2 maka berikan Dekstros dan NaCl, tetapi jika pasien muntah + diare utamakan RL Oralit Cara Pemberian IV Untuk dehidrasi berat Enteral Untuk dehidrasi ringan, sedang tetapi anak tidak mau/ tidak dapat minum atau jika kesadaran menurun Oral Bila kesadaran anak baik, anak mau minum, biasanya diberikan untuk dehidrasi ringan dan sedang

Observasi kondisi fisik klien terutama status hidrasi Kolaborasi Pemeriksaan labolaturium Medikasi : antibiotik, antiparasitik Penkes Pemberian Cairan Berikan ASI eksklusif 4-6 bulan Menjaga kebersihan payudara

Terus menyusui bayi ketika sedang sakit maupun ketika sehat Cara menjaga ASI supaya tetap baik dikonsumsi bayi jika Ibu bekerja Jenis dan jumlah cairan yang dapat diberikan kepada anak jika anak diare, DLL

Diet

Berikan makanan tambahan sesuai dengan usia anak Berikan diet secara bervariasi Cara memasak dan menyajian makanan yang sehat (misal: menggunakan cangkir daripada botol, wadah harus bersih, makanan hangat, DLL)
Penggunaan air

Air yang digunakan untuk makan/ minum harus direbus matang Sumber air dan jamban yang layak
Perilaku sehat

Cuci tangan

Terima kasih