Anda di halaman 1dari 1

Nama : Nanda Febri N. R.

NIM : 122074057 Kelas : PB 2012 Mitos Kera di Sungai Brantas Desa Ngujang
Jika Anda sempat berkunjung ke Tulungagung, sebuah kabupaten di bagian barat propinsi Jawa Timur, sempatkanlah untuk mampir di desa Ngujang. Desa yang terletak persis di bantaran Sungai Brantas menawarkan wisata alternatif yang sayang untuk dilewatkan khusunya bagi pecinta fauna. Tepat di bantaran kali Brantas di pinggir jalan raya yang menghubungkan Tulungagung dan Kediri terdapat habitat monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis. Bagi para penggemar kesenian topeng monyet pasti hapal dengan ciri dan karakteristik monyet ini. Dalam bahasa Jawa mereka akrab disebut munyuk. Terus apa istimewanya melihat monyet ini?? Itulah yang tidak biasa di desa Ngujang ini. Karena monyet ini hidup di habitat yang tidak biasa, sebuah areal pemakaman. Ya, monyet ini hidup liar berkelompok di areal kuburan. Karena habitatnya yang tidak biasa itu, banyak mitos yang mengiringi mereka. Tidak sekedar species primata biasa yang kerap jadi obyek olok - olokan dan sumpah serapah. Banyak selentingan yang menyebut mereka sebagai makhluk jadi jadian. Entah bagaimana awalnya, tiba - tiba muncul rasa ingin tahu tentang keberadaan monyet - monyet desa Ngujang itu. Menurutnya, monyet - monyet merupakan jelmaan siluman. Dan jumlah mereka tetap alias tidak bertambah maupun berkurang dari dulu. Dalam bahasa ilmiah, angka kelahiran monyet itu sama dengan dengan angka kematiannya. Tentu itu hanyalah mitos warga sekitar. Dan kepercayaan seorang warga desa yang akrab dengan tahayul. Yang pasti terbuat penasaran karenanya. Kesan angker terasa. Selain susananya yang sepi juga areal kuburannya yang banyak ditumbuhi banyak pohon sono besar nan rindang. Seolah menandakan ada "penghuni" yang mendiami pohon - pohon itu. Dan bila dikaitkan dengan mitos yang beredar, di areal pemakaman itu terdapat rumah yang di dalamnya berisi makam islam. Dengan penutup semacam kain yang diikatkan di nisannya khas makam - makam keramat. Yang lebih bikin bergidik, "makam spesial" itu berhias patung - patung manusia dan hewan. Semacam patung dewi - dewi dari mitologi Jawa. Tidak selamanya wisata monyet Ngujang itu sepi, ada saja dua tiga pengunjung yang sengaja mampir. Para pengunjung itu dengan melemparkan makanan ke arah monyet - monyet itu. Seperti terbiasa dengan kehadiran manusia, para monyet itu pun menyambutnya dengan melahap tiap remahan makannan yang disuguhkan. Tentu itu merupakan rezeki bagi para monyet, karena habitat mereka di areal pemakaman yang tidak umum itu tidak menyediakan makanan alami yang bisa sewaktu - waktu dikonsumsi. Pantaslah bila areal tersebut terasa angker. Tapi apakah benar mereka jelmaan siluman?? Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikan.