Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sesuai dengan trend global, saat ini di negeri kita mulai bermunculan berbagai produk pangan yang berlabel kesehatan, dengan sasaran konsumen mulai balita sampai lansia. Salah satu produk pangan kesehatan yang muncul di pasaran adalah makanan yang mengandung serat - yang dalam ilmu pangan dikenal sebagai dietary fibre. Salah satu pesan yang sering muncul dalam produk pangan berserat adalah kemampuannya untuk mengurangi kesulitan buang air besar, alias sembelit (constipation). Seharusnya konsumsi serat bukan hal yang harus dipromosikan di negeri kita, karena toh sejah dulu kita telah mengenal dan mengkonsumsinya dari berbagai sumber, khususnya sayuran, buah, dan biji-bijian. Jika setiap hari kita telah mengkonsumsi serat lebih dari 35 gram, sebenarnya kita sudah tak membutuhkan tambahan lagi. Namun demikian, pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini tengah berlangsung secara dramatis, khususnya pada mereka yang tinggal di perkotaan. Sesuai dengan irama hidupnya orang kota cenderung meningggalkan produk-produk pangan konvensional yang umumnya kaya akan serat. Kesempatan inilah yang dibidik oleh para produsen makanan kesehatan. Serat dalam makanan (dietary fibre) bukanlah suatu kelompok bahan pangan yang memiliki sifat kimia yang mirip. Meskipun umumnya tergolong karbohidrat yang kompleks, namun berdasarkan sifat kimiawi sebenarnya mereka sangat heterogen. Ada yang berasal dari polisakarida penyusun dinding sel tumbuhan (struktural): selulosa, hemiselulosa dan pektin. Adapula yang termasuk polisakarida nonstruktural: getah (secreted & reserve gums). Kelompok lain adalah polisakarida asal rumput laut (agar, carrageenans & alginates).

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan karbohidrat beserta penggolongannya ? 2. Apa yang dimaksud dengan oligosakarida beserta golongannya ? 3. Bagaimana cara pembuatan oligosakarida ? 1.3. Tujuan 1. 2. 3. Mengetahui pembagian golongan karbohidrat Mengetahui pembagian gologan oligosakarida Mengetahui proses pembuatan oligosakarida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karbohidrat Tumbuhan merupakan sumber karbohidrat yang diperlukan makhluk. Dalam tumbuhan hijau, karbohidrat terbentuk. Karenanya tumbuhan disebut sebagai produsen. Dengan demikian tumbuhan merupakan sumber makanan makhluk termasuk manusia. Karbohidrat merupakan senyawa penting bagi makhluk hidup; ia memberikan sebagian energi yang diperlukan bagi tubuh. Selain itu, karbohidrat juga menjadi sumber karbon dalam sintesa senyawa biomolekul, sel, dan jaringan sel dalam tubuh. Karbohidrat adalah polihidroksidehida dan keton polhidroksil atau turunannya. Selain itu juga disusun oleh dua sampai delapan monosakarida yanag dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum berupa CnH2nOn atau mendekati Cn(H2O)n, yaitu karbon yang engalami hidratasi. Di alam, karbohiddrat merupakan hsasil sintesa CO2 dan H2O dengan pertolongan sinar matahari dan hijau daun (klorofil). Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur. Karbohidrat berasal dari pengertian atom karbon yang terhidrasi dengan rumus (CH2O)n. Tetapi pengertian ini sebenarnya sudah tidak tepat lagi karena banyak senyawa karbohidrat yang tidak mengandung atom hidrogen dan oksigen dengan perbandingan 2:1, misalnya gula deoksiribosa yang mempunyai rumus C5H10O4. Disamping itu banyak pula karbohidrat yang mengandung atom lain seperti, nitrogen, sulfur dan lain-lain yang menunjukkan tidak sesuainya dengan rumus karbohidrat tersebut. Walaupun demikian, nama karbohidrat sampai sekarang masih terus dipergunakan. Penggolongan karbohidrat : Karbohidrat dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu karbohidrat sederahana dan karbohidrat kompleks atau dapat pula menjadi 3 macam, yaitu:

Pada kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua macam, yaitu pentosa yang tersusun dari 5 atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari 6 atom karbon (fruktosa/levulosa, glukosa dan galaktosa). Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas enam (6) rantai atau cincin karbon. Atom atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atuai cincin ini secara terpisah atau sebagai gugus hidroksil (OH). Ada tiga (3) jenis heksosa yang penting, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, 6 atom oksigen. Perbedaanya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom hidrogen dan oksigen disekitar atom-atom karbon. Perbedaan dalam susunan atom ini menyebabkan perbedaan dalam tingkat kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga monosakarida ini. Monosakarida yang terdapat di alam pada umumnya terdapat dalam bentuk isomer dekstro (D). Gugus hidroksil ada karbon nomor 2terletak disebelah kanan. Struktur kimia dapar berupa struktur terbuka dan struktur cincin. Monosakarida yang mempunyai lima (5) atom karbon yang disebut pentosa, seperti ribosa dan anaribosa. 1. Glukosa, dinamakan dekstrosa atau gula anggur, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur, buah, sirup jagung, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa, dan laktosa pada hewan dan

manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber energi. 2. Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, dalah gula paling manis. Fruktosa memiliki rumus kimia yang sama dengan glukosa, yaitu C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. 3. Galaktosa, tidak terdapat bebas di alam seperti halnya fruktosa dan glukosa, akan tetapi terdapat dalam tubuh sebagai hasil pencernaan laktosa. 4. Manosa, jarang terdapat di dalam makanan. 5. Pentosa, merupakan bagian sel-sel semua bahan makanan alami. Jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak penting sebagai sumber energi. Struktur glukosa dan fruktosa dugunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (-CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dekstrosa yang memiliki gugus keton (C=O). 1.2 Oligosakarida Oligosakarida adalah kabohidrat berantai pendek yang dibangun 5 oleh beberapa unit monosakarida merupakan gabungan dari molekul-molekul monosakarida yang jumlahnya antara 2 (dua) sampai dengan 8 (delapan) molekul monosakarida. Sehingga oligosakarida dapat berupa disakarida, trisakarida dan lainnya. Oligosakarida secara eksperimen banyak dihasilkan dari proses hidrolisa polisakarida dan hanya beberapa oligosakarida yang secara alami terdapat di alam.

Oligosakarida yang paling banyak digunakan dan terdapat di alam adalah bentuk disakarida seperti maltosa, laktosa dan sukrosa. Oligosakarida sebagian terdapat secara alami dalam sayur-sayuran dan buah-buahan sementara sebagian lainnya dapat diproduksi secara sintetis melalui hidrolisis polisakarida atau melalui penggunaan teknologi enzim. Beberapa makanan secara alamiah mengandung oligosakarida. Misalnya, fruktooligosakarida (FOS) dapat ditemukan dalam bawang, bawang putih, asparagus, dan kacang kedelai mengadung soybean oligosakarida. Oligosakarida bersifat sangat mudah larut dalam air atau pelarut polar lainnya. Oligosakarida yang terdiri dari dua molekul disebut disakarida, bila tiga molekul disebut triosa, bila sukrosa terdiri dari molekul glukosa dan fruktosa, laktosa terdiri dari molekul glukosa dan galaktosa. Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik. Ikatan ini terbentuk antara gugus hidroksil dari atom C nomor satu yang juga disebut karbon anomerik dengan gugus hidroksil dan atom C pada molekul gula yang lain. Ikatan glikosidik biasanya terjadi antara atom C no. 1 dengan atom C no. 4 dengan melepaskan 1 mol air. Ada tidaknya sifat pereduksi dari suatu molekul gula ditentukan oleh ada tidaknya gugus hidroksil (OH) bebas yang reaktif. Sukrosa tidak mempunyai gugus OH bebas yang reaktif karena keduanya sudah saling terikat, sedangkan laktosa mempunyai OH bebas pada atom C no. 1 pada gugus glukosanya. Karena itu, laktosa bersifat pereduksi sedangkan sukrosa bersifat non pereduksi. Sukrosa adalah oligosakarida yang berperan penting dalam pengolahan makanan dan banyak terdapat pada tebu, bit, siwalan, dan kelapa kopyor. Pada pembuatan sirup, gula pasir (sukrosa) dilarutkan dalam air dan dipanaskan, sebagian sukrosa akan terurai menjadi glukosa dan fruktosa, yang disebut gula invert. Gula invert tidak dapat berbentuk kristal karena kelarutan fruktosa dan glukosa sangat besar. Oligosakarida dapat diperoleh dari hasil hidrolisis polisakarida dengan bantuan enzim tertentu atau hidrolisis dengan asam. Pati dapat dihidrolisisi dengan enzim amilase menghasilkan maltosa, maltotriosa, dan isomaltosa. Bila pati dihidrolisis dengan enzim transglukosidase akan dihasilkan suatu oligosakarida dengan derajat polimerisasi yang lebih besar. Senyawa ini disebut dekstrin yang sangat

larut dalam air dan dapat mengikat zat-zat hidrofobik sehingga dipergunakan sebagai food additive untuk memperbaiki tekstur bahan makanan.

Penggolongan oligosakarida : a. Disakarida Sesuai namanya, disakarida merupakan gabungan dari 2 satuan monosakarida. Rumus molekul disakarida adalah C12H22O11. Ada 3 isomer penting yang menjadi kelompok disakarida, yaitu sukrosa, maltosa, dan laktosa.Ketiga senyawa ini bila dihidrolisis akan terurai menjadi satuan pembentuknya masingmasing. Ada empat (4) jenis disakarida, yaitu sukrosa atau sakarosa, maltosa, laktosa, dan trehaltosa. Disakrida terdiri atas dua unit disakarida yang terikat satu sama lain melelui reaksi kondensasi. Kedua monosakrida saling mengikat berupa ikatan glikosidik melalui satu atom oksigen. Ikatan glikosidik in biasanya terjadi antara atom C nomor 1 dengan atom C nomor 4 dan membentuk ikatan alfa, dengan melepas satu molekul air. Hanya karbohidrat yang unit monosakaridanya terikat dalam bentuk alfa yang dapat dicernakan. Disakarida dapat dipecah kembali menjadi dua (2) molekul monosakrida melalui reaksi hidrolisis. Glukosa terdapat pada ke empat jenis disakarida; monosakrida lainnya adalah fruktosa dan galaktosa. Berdasarkan sifat pengreduksinya disakarida digolongkan menjadi dua yaitu : 1. Disakarida yang tidak mempunyai sifat reduksi a. Sukrosa Sukrosa atau sakarosa adalah oligosakarida yang tersusun dari dua polimer monosakarida yaitu Glukosa dan Fruktosa. Sukrosa memiliki rumus molekul yang hampir sama dengan laktosa dan maltosa tapi berbeda pada struktur molekul. Sukrosa tidak mempunyai sifat pereduksi karena tidak mempunyai gugus OH bebas yang reaktif.

Sukrosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Secara komersial gula pasir 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan melalui proses penyulingan dan kristalisasi. Sukrosa mempunyai peranan sangat penting dalam proses pengolahan makanan. Sukrosa diperoleh dari hasil pengolahan tetes tebu, nira kelapa, siwalan (lontar), dll. Sukrosa juga dapat di hidrolisis menjadi komponen penyusunnya yaitu fruktosa dan glukosa. Pada umumnya, sukrosa berbentuk butiran-butiran kristal halus dan sedikit kasar. Tapi jika dipanaskan dengan sedikit penambahan air, sukrosa akan terurai menjadi glukosa dan fruktosa yang biasa di sebut dengan istilah gula invert. b. Trehalosa suatu disakarida [a-D-glucopyranosyl-a-D-glucopyranoside) dari dua molekul glukosa yang terikat melalui ikatan a-1,1. Trehalosa seperti juga maltosa, terdiri atas dua mol glukosa dan dikenal sebagai gila jamur. Sebagian 15% bagian kering jamur terdiri aras trehalosa. Dalam proses pencernaan, laktosa akan dicerna dengan bantuan enzim laktase hingga terurai menjadi gula sederhana penyusunnya yaitu glukosa dan galaktosa yang dapat segera diserap oleh usus dan dirubah menjadi kalori dalam proses metabolisme tubuh. 2. Disakarida yang mempunyai sifat reduksi a. Maltosa Maltosa atau maltobiosa adalah disakarida yang terbentuk bila pati (Amilum) di hidrolisis oleh amilase. Maltosa adalah terbentuk dari dua molekul glukosa. ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus OH glikosidik dan dengan demikian mempunyai sifat pereduksi. gula ini tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terrbentuk pada setiap pemecahan pati. b. Laktosa

Laktosa adalah kelompok disakarida yang terdapat dalam susu. Laktosa merupakan disakarida yang berasal dari kondensasi antara galaktosa dan glukosa, yang membentuk ikatan glikosida14-. Bersifat reduktif karena memiliki gugus hidroksil (OH) bebas yang reaktif. Laktosa merupakan gula utama dalam ASI. Terdapat juga dalam air susu binatang menyusui (mamalia). Air susu sapi dan manusia mengandung skitar 5% laktosa. Hidrolisis laktosa menghasilkan D-glukosa dan D-galaktosa dalam jumlah yang sama. Dalam metabolisme tubuh manusia yang normal, laktosa dihidrolisis secara enzimatis menjadi D-glukosa dan Dgalaktosa c. Selobiosa Selobiosa adalah kelompok disakarida yang terdiri atas dua molekul glukosa yang mempunyai ikatan glikosidik antara atom karbon 1 dengan atom karbon 4. b. Trisakarida Trisakarida adalah oligosakarida yang tersusun atas 3 unit

monosakarida. Trisakarida dibedakan atas trisakarida pereduksi (contoh: manotriosa, robinosa, dan ramninosa) dan trisakarida nonpereduksi (contoh: rafinosa, gentianosa, dan melezitosa). c. Tetrasakarida Tetrasakarida adalah oligosakarida yang tersusun atas 4 unit monosakarida. Contohnya: stakiosa dan skorodosa. d. Pentasakarida Pentasakarida adalah oligosakarida yang tersusun atas 5 unit monosakarida. Contohnya: verbaskosa 2.3. Pembuatan Oligosakarida

Proses ini bertujuan untuk mengubah suspensi pekat granula pati menjadi larutan dekstrin yang larut pada viskositas rendah untuk memudahkan penanganan dalam alat-alat pemindah serta memudahkan pengubahan menjadi glukosa dengan enzim glukoamilase. Slurry pati jagung (30-40%) dimasukkan ke dalam pompa, digelatinisasi dan diatur pHnya hingga 5,3-6,5 dan suhunya 105-1100C ditambahkan termamyl (bakteri thermophilic -amylosa) 0,3-0,6 kg termamyl/ton pati serta cofactor Ca 2+ (CaCl2) yang berfunsi untuk meningkatkan toleransi enzim amilase terhadap panas. Pada tahap tersebut seluruh pati telah diubah sehingga nilai dekstroeqivalen (DE) sekitar 15-20, dan viskositasnya menurun (semakin cair). Produk dari proses liquifikasi adalah campuran dari beberapa oligosakarida yang mengandung sedikit mono,di-, dan trisakarida yang biasa digunakan dalam sweetening process.

BAB III KESIMPULAN 1. Karbohidrat adalah polihidroksidehida dan keton polhidroksil atau turunannya yang digolongkan menjadi : monoskarida, oligosakarida dan polisakarida. 2. Oligosakarida adalah kabohidrat berantai pendek yang dibangun 5 oleh beberapa unit monosakarida merupakan gabungan dari molekul-molekul monosakarida yang jumlahnya antara 2 (dua) sampai dengan 8 (delapan) molekul monosakarida. Oligosakarida terdiri dari disakarida, trisakarida, tetrasakarida, pentasakarida hingga oktasakarida. 3. Pembuatan oligosakarida disebut juga likuifikasi yang bertujuan untuk mengubah suspensi pekat granula pati menjadi larutan dekstrin yang larut pada viskositas rendah untuk memudahkan penanganan dalam alat-alat pemindah serta memudahkan pengubahan menjadi glukosa dengan enzim glukoamilase.

TUGAS FARMAKOGNOSI

OLIGOSAKARIDA
DISUSUN OLEH : Cut Alina Zahra Desi Purnama Sari Aini Savitri Herli Yulwitara Mayasari Nur Azisah Puspita Dewi Rini Tarisma 121524053 121524054 121524058 121524059 121524061 121524063 121524073 121524077 Muhammad Nasarah Rahmi Tama Wardhani Rizki Maya Sari Nola Awal Lukita Sari Arieska Fhona Silvia Yolanda Ristina Hasibuan Juli Pahrianisa Margaret Dwi Forta 121524078 121524079 121524081 121524082 121524083 121524084 121524085 121524086 121524087

Trie Kurnia Waldini 121524064 Embot F. Nainggolan 121524075

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013