Anda di halaman 1dari 61

BAB II LANDASAN TEORI

A.

Gambaran Umum Upaya Guru Beranjak dari amanah pembukaan Undang-undang 1945, dapat dipahami bahwa Pemerintah Negara Republik Indonesia dibentuk antara lain dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melibatkan semua elemen masyarakat, maka salah satu unsur yang sangat penting keterlibatannya dalam hal ini adalah pendidik pada semua jenjang pendidikan dalam melayani hak warga Negara untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan yang bermutu tampa diskriminasi.1 Berbicara tentang pendidikan tidak terlepas dari peranan seorang pendidik2 atau gurudalam melakukan proses pembelajaran di sekolah dengan tujuan memperoleh kualitas pendidikan yang baik. Sebab pada akhinya tinggi rendahnya kualitas pendidikan senantiasa dikaitkan dengan pekerjaan guru secara professional. Ketika luaran sekolah mampu memperlihatkan prestasi dengan kualitas yang tinggi maka gurulah yang pertama mendapat pujian tetapi sebaliknya jika luaran sekolah mengalami kemunduran dengan prestasi yang mengecewakan dengan standar kelulusan dibawah 50 % praktis guru pulalah yang pertama dikecam dan disalahkan. Disinilah terlihat betapa peranan guru memegang posisi sentral. Peranan guru dan upaya guru adalah satu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan sebab berdasarkan peranannya, guru melakukan upaya sesuai peranan itu sendiri, Setiap kali dibicarakan peranan guru maka setiap
1

Lihat, H. Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional Dan Beretika, Cet. II, (Yogyakarta,

grha guru printika. 2009), h. 1 Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi guru, dosen, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Ibid, h. 2
2

kali itu pula dibicarakan upaya guru peranan pada dataran konsep dan fungsi sementara upaya pada dataran operasional jadi seorang tidak akan mungkin melakukan upaya tampa jelas peranannya, demikian pula seorang gurutidak akan mungkin melakukan upaya pembelajaran tampa jelas perananya, secara pungsional ia adalah seorang guru tetapi tanggung jawabnya harus melakukan upaya sesuai tuntutan fungsi dan tanggung jawab guru. Guru dalam kapasitasnya sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu keberhasilan setiap usaha pendidikan, sehingga setiap perbincangan mengenai kebijakan

pendidikan seperti halnya pembaruan kurikulum, sertifikasi dan pelatihan guru, sampai pada akhirnya menciptakan luaran berkualitas sabagai out foot sekolah, semua ini masuk dalam rangkaian pengertian bahwa eksistensi seorang guru sangat signifikan dalam menentukan corak luaran dunia pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan pendidikan baik ditinjau dari segi proses belajar maupun ditinjau dari segi hasil belajar tidak semata ditentukan pihak sekolah, pola struktur danisi kurikulumnya, tetapi lebih ditentukan oleh kopentensi guru itu sendiri3 Untuk itu penulis perlu mengetengahkan hal yang sangat prinsifil terkait dengan guru, jabatannya sebagai tenaga professional, kompetensi dan profesi guru, peran, tugas dan tanggung jawab guru, serta etika dan kepribadian guru. a. Jabatan Guru Sebagai Tenaga Profesional

Tugas pendidik secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan berbagai perkembangan potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektif.4Ini berarti bahwa guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam

Lihat, Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Cet.VI; Jakarta; PT.Bumi Aksara, 2009), hal. 36 4 Abdul Hadis dan Hj. Nur hayati.B, Manajemen Mutu Pendidikan, (Cet.I; Badung; CV.Alfabeta, 2010), hal. 22

mengemban tugasnya. Dengan sendirinya ia harus memiliki keahlian khusus terkait dengan guru sebagai suatu perofesi yang harus dimilikinya dalam jenjang pendidikan apapun ia adanya.5 Gelar guru dimadrasah biasa dipakai beberapa istilah atau gelar sebagai nama lain yang biasa disandang oleh guru yaitu antara lain: 1. Mualimundibaca Muallim ( )bisa diartikan yang mengajarkan Ilmu pengetahuan, gelar ini merupakan nama lain dari guru bahkan Nabi sendiri yang mengatakan dirinya sebagai Muallim, pernah sekali waktu Rasul masukMasjid tibatiba melihat dua kelompok pengajian yang satunya mengaji Al-quran dan kelompok yang satunya lagi belaja-mengajar dan nabi mengatakan keduanya sama-sama baik (sambil menunjuk) kedua kelompok itu,salah satu misi diutusnya saya oleh Allah adalah untuk mengajar Sambil duduk bersama kelompok orang yang belajat mengajar itu6. 2. Murabbi( )berarti Pengatur atau Pemelihara kata murabbi sebagai salah satu sifat Allah yang diharapkan bisa juga mengilhami sifat guru dalam menjalankan tugasnya, dimana cakupan pengertiannya memiliki hubungan dari sisi tujuan Allah sebagai rab.Tuhan sebagai Rab al-Alamin dan Rab al-Nas, yakni Yang Mengatur alam ini, atau Yang Memelihara alam ini dan Yang Mengatur manusia atau mendidik manusia. Dengan eksistensi guru sebagai pendidik yang senantiasa mendidik peserta

Lihat, ibid., hal. 36 Lihat. Yusuf Khatir Hasan al-Suriy, Asalib al-Rasul s.a.w fi al-dawah wa al-tarbiyah, ( Suriyah; Shunduq altakaful;1991), hal. 13
6

didiknya, supaya lebih lanjut mampu menumbuhkan kreativitas yang dimiliki peserta didik.7 Seorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan ketaqwaan yang tinggi dikatakan juga rabbani,kata ini masih seakar dari kata rabmengenai hal ini Prof.Dr.Hamka dalam tafsir belau mengatakan : (mereka itu adalah Ulama yang menerima waris dari Nabi).8 3. Kata mursyid ( ) biasa digunakan dalam kelompok thariqah (tasawuf atau guru pembimbing kerohanian), di samping kata mursyid9 4. Kata muaddib ( )adalah gelar lain dariguru, seorang yang melakukan pengemblengan Mental menuju pembentukan Akhlaq yang mulia atau seorang yang melakukan upaya pembentukan moral bangsa.10 5. () kata ini juga sering di pakai untuk menyapa guru bahkan beloh dikatakan sudah menjadi bahasa gaul untuk penggunaan kata lain dari guru. 6. ( ) kata ini merupakan kata yang dipakai menggantiuntuk sebutan guru, hampir sama dengan kata lainnya. 7. ( ) kata ini jauh lebih popular dari kata-kata lain yagn biasa digunakan untuk sebutan seorang guru seperti Murabbi, Muaddib, Muallim, Mudarris dan Mursyid,

Lihat, H. Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional Dan Beretika,(Cet. II, Yogyakarta, grha guru

printika. 2009), hal. 1, lihat juga shahi bukhari pada bab ilmu hal.10 dikatakan :sifat rabbaniy adalah sifat yang mengatur dan memelihara manusiadengan pendidikan penuh kasih sayang Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Tafsir al-azhar, Jilid II (Cet.V, Singapura, Kerjaya Printing Industries Pte Ltd; 2003) hal. 822 9 H. Abd. Rahman Getteng,op.cit., hal. 7 10 Ibrahim Anis, ad,s al, al-mujam al-wasit, jilid I, (Cet.II, Dar al-Maarif, Kairo, 1972 M/1392 H.), hal. 9
8

gelar Ustadz ini merupakan gelar ilmiyah pada tingkat perguruan tinggi yang berkwalifikasi tinggi.11 Sebutan lain dari nama-nama guru diatas justru menunjuk fungsinya masingmasing berdasarkan maksud yang sebenarnya. Yang bisa disimpulkan bahwa seoarang guru sedapat mungkin melakukan pengajaran, pengaturan, penbimbing, pembentuk moral, motivator pembelajaran, penentu kebijakan. Kesemua ini merupakan term guru dalam konteks pendidikan Islam mengindikasikan bahwa pencapaian tujuan pendidikan baik secara eksplisit maupun implisit akan tercapai sesuai dengan peran term di atas.12 b. Syarat yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan pendidikansebab diharapakan mampumemberi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni; (1) Sarana gedung, (2) Buku yang berkualitas, (3) Guru dan tenaga kependidikan yang professional. c. Ciri-Ciri Pokok Pekerjaan Profesional sebagai berikut: 1. Memiliki latar belakang pendidikan yang jelas spesifikasinya, strata pendidikan yang telah didapatkannya tidak cukup hanya pada tingkat sarjana saja tetapi ia lebih disibukkan dengan kegiatan penunjang, maka khusus untuk pekerjaan guru salah satu cirinya secara profesional adalah banyak disibukkan oleh pendidikan dan pelatihan serta berbagai kegiatan kelompok guru seperti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan lain sebagainya, selain dari pengakuan akademis yang dimilikinya.

dalam referensi asli pada kitab al-mujam al-wasit tersebut dapat dijadikan acuan sebagai alasan mengenai gelar guru sebagai Ustadz. Lihat, ibid , hal. 17 12 H. Abd. Rahman Getteng,op.cit., hal. 7

11

2. Memiliki tanggung jawab ilmiah sesuai latar belakang pendidikan yang dimilikinya, sehingga kinerjanya terukur dan berhasil yang dengan sendirinya melahirkan kewibawaan tersendiri peda guru yang bersangkutan. 3. Memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap hal-hal yang berbau pendidikan, baik itu berupa tantangan terhadap pendidikan maupun berupa dikungan.13 d. Mengajar Sebagai Pekerjaan Profesional Ada beberapa ciri-ciri dan karakteristik proses mengajar yang perlu diketahui guru dalam melakukan tugasnyasecara profesional sebagai berikut: 1. Mengajar adalah sebuah aktifitas yang membutuhkan keterampilan khusus, tidak hanya didasarkan pada keinginan seperti apa yang disebut orang tiba masa tiba akal, atau didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan subyektif dengan membebani tugas peserta didik sesuai keinginan guru. Tetapi harusdidasarkan pada perencanaan pengajaran konstruktif yang sudah diatur sedemikian rupa sesuai tugas, fungsi dan tanggung jawab guruserta harus dipertanggung jawabkan secara ilmia. 2. Upaya guru dalam menggembleng dan mengarahkan potensi peserta sampai ia bisa mencapai keberhasilan adalah sesuatu yang mutlak. Tidak boleh ada kata kegagalan dalam hal ini, sebab kegagalan guru melakukan pembelajaran berarti kegagalan dalam membentuk satu generasi.Itulah sebabnya sehingga guru harussabar dan tekun melakukan pekerjaan ini walaupun sampai memerlukan waktu yang cukup lama. Dan inilah makna professonal yang harus ada selalu tertanam dalam diri dan prilaku seorang guru.

Lihat, ibid,. hal.9. lihat juga, Wahjosumidjo, kepemimpinan kepala sekolah, (Cet. III, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002), hal.37

13

3.

Guru sebagai tenaga profesional seharusnya banyak mengetahui ilmu-ilmu penunjang disamping materi yang diajarkannya seperti halnya Psikologi perkembangan manusia, sosiologi dan antropologi utamnya bahagian yang membahas pemahaman tentang teori-teori perubahan tingkah laku,kemampuan merancang berbagai media dan sumber belajar, mendesain strategi pembelajaran, mengevaluasinya dan lain-lain.

4.

Seorang guru harus mengikuti dinamika perkembangan ilmu pengetahuan yang seyogyanya disesuaikan dengan dinamika perkembangan masyarakat. Tidak tinggal statis dan bermasa bodoh, merasa puas dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya tampa menambah dan memperkaya telaahan yang sudah ada sebelumnya.14

B. Peran dan Fungsi Guru Jabatan guru merupakan spesialisasi tersendiri yang sudah menjadi profesi sebab memburtuhkan keahlian khusus sebagai guru. Orang yang tidak memiliki keahlian khusus guru jelas ia tidak mampu melakukan aktifitas pembelajaran dengan baik, oleh karena berbagai syarat-syarat khusus yang tidak dipenuhinya, dengan demikian guru yang professional harus memiliki syarat khusus tersebut serta menguasai seluk beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.15

Lihat, ibid,. hal.10. lihat juga; Oemar Hamalik, op,cit, hal.2-7. Lihat juga; Abdul Hadis dan Hj. Nur hayati.B,), op.cit,. hal. 7-11. Lihat juga, Materi sosialisasi dan pelatihan kurikulun tingkat satuan pelajaran (KTSP), departemen pendidikan nasional, Jakarta, januari 2007, hal. 276 yang mengupas antara lain bahwa untuk menciptakan perwujudan system dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu maka harus diwujudkan peningkatan kemampuan akademik dan profesional serta peningkatan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan
15

14

H. Abd. Rahman Getteng,op.cit., hal. 21

Peranan Guru tidak hanya terkait dengan persoalan kedinasan tetapi juga terkait dengan persoalan non kedinasan adapun yang terkait dengan bentuk pengabdian. Maka ada tiga jenis tugas dan fungsi guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.16 Terkait dengan fungsi dan peranan guru maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: a. Guru sebagai Pendidik dan Pengajar Adapun Peranan Guru sebagai Pendidik dan Pengajar akan terselenggara dengan baik bila guru memenuhi syarat-syarat kepribadian dan penguasaan ilmu. Memeliki kecerdasan emosional, memiliki rasa tanggung jawab untuk memajukan anak didik, bersikap realistis, bersikap jujur, serta bersikap terbuka dan peka terhadap perkembangan, terutama terhadap inovasi pendidikan. Sehubungan dengan itu pula sangat perlu diperhatikan penguasaannya terhadap bahan pelajaran serta ilmu-ilmu yang bertalian dengan mata

pelajaran/bidang studi yang diajarkannya, menguasai teori dan pendidikan, teori evaluasi dan psikologi belajar, dan sebagainya.17 Pelaksanaan peran ini menuntut keterampilan tertentu, yakni: 16 17

Terampil dalam menyiapkan bahan pelajaran. Terampil menyusun satuan pelajaran. Terampil menyampaikan ilmu kepada murid. Terampil menggairahkan semangat belajar murid. Terampil memilih dan menggunakan alat peraga pendidikan. Terampil melakukan penilaian hasil belajar murid.

Lihat, ibid Oemar Hamalik, op.cit., hal. 42-45

Terampil menggunakan bahasa yang baik dan benar. Terampil mengatur disiplin kelas, dan berbagai keterampilan lainnya.18

b.

Guru sebagai Anggota Masyarakat Untuk melaksanakan peran ini, seharusnya guru harus memiliki syarat-syarat

kepribadian dan syarat penguasaan ilmu tertentu. Seperti halnya guru harus bersikap terbuka, tidak otoriter, tidak angkuh, bersikap ramah terhadap siapa pun, suka menolong di mana pun dan kapan saja, serta simpati dan empati terhadap pimpinan, teman sejawat, dan para siswa. Agar guru bisa berintraksi langsung dengan masyarakat, dia perlu menguasai psikologi social, khususnya mengenai hubungan antar manusia dalam rangka dinamika kelompok. Sebagai anggota masyarakat, guru memiliki keterampilan, seperti: keterampilan dalam membina kelompok, keterampilan bekerjasama dalam kelompok, dan keterampilan menyelesaikan tugas bersama dalam kelompok.19 Kaitannya peran guru sebagai anggota masyarakat bertujuan untuk mengembangkan hubungan efektif dengan masyarakat setempat, adalah untuk melibatkan orang tua dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan sekolah, seyogyanya hubungan ini dikembangkan terus sebagai sebuah hubungan sosial demi kelancaran proses pembelajaran.20

c. Guru sebagai Pemimpin Peranan kepemimpinan akan berhasil apabila guru memiliki kepribadian, seperti: pengetahuan manajerial yang cukup, kondisi fisik yang sehat, percaya pada diri sendiri,
ibid. Lihat, ibid 20 lihat, Wahjosumidjo, kepemimpinan kepala sekolah, op.cit., hal. 334, Lihat juga, Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Cet. I, Bandung, CV. Wacana Prima. 2007), hal. 118
19 18

memiliki ethos kerja yang baik, gemar dan dapat cepat mengambil keputusan, bersikap objektif dan mampu kontrol emosi, serta bertindak adil. Selain dari itu, guru harus

menguasai teori tentang kepemimpinan dan dinamika kelompok, menguasai prinsip-prinsip hubungan masyarakat, menguaai teknik berkomunikasi, dan menguasai semua aspek kegiatan organisasi persekolahan. Untuk itu guru harus memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan sebagai pemimpin, seperti: bekerja dalam tim, bertindak selaku penasihat dan orang tua bagi muridmuridnya, keterampilan melaksanakan rapat, diskusi, dan membuat keputusan yang tepat, cepat, rasional, dan praktis.21 d. Guru sebagai Pelaksana Administrasi Ringan Peranan ini juga memiliki syarat-syarat kepribadian, seperti jujur, teliti dalam bekerja, rajin, korespondensi, penyimpanan arsip dan ekspedisi, dan administrasi pendidikan, keterampilan tersebut hendaknya diaplikasikan dalam proses operasional sekolah.22 Peran guru disini merupakan bahagian dari pelaksanaan dan pengelolaan administrasi pendidikan secara komprehensif yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan dan pelaporan dengan

memanfaatkan berbagai pasilitas yang tersedia, dimana prinsif kerjasama dilandasi oleh kesadaran spiritual menjadi dasar untuk semuanya dalam mencapai tujuan pendidikansecara efektif dan efisien.23

21

Oemar Hamalik, op.cit., hal. 42-45 ibid.Lihat, 23 Daryanto , Administrasi Pendidikan, (Cet. V, Jakarta, PT.Rineka Cipta. 2008), hal. 8
22

C. Tanggung Jawab Guru Sebagai Pendidik Tanggung jawab guru sebagai pendidik pada dasarnya tanggung jawab dari setiap orang tua. Orang tualah sebagai pendidik pertama dan utama. Seorang menetapkan dirinya sebagai guru berarti telah menetapkan pilihan sebagai guru dan bukanlah pekerjaan yang mudah dan tugas ringan. Sebab harus mampu mengemban tanggung jawab dan amanah, walaupun itu sangat berat. Firman Allah SWT. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka (QS. Al-Tahrim (66:6)24 Guru pada dasarnya memliki keluarga secara implisit terkait dangan tugasnya yaitu peserta didik yang menjadi titipan amanah dari Allah, kata : disini tidak

hanya berarti haqiqi yaitu berarti keluarga saja, tetapi juga berarti majasi yaitu semua tugas dan tanggung jawab pekerja, karyawan, pegawai dan lain sebagainya.25 Kewajiban yang diterima guru dari para orang tua pada hakikatnya adalah perwujudan dari amanah Allah, amanah orang tua, bahkan amanah dari masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, penerimaan guru terhadap amanah para orang tua dalam mendidik anak-anaknya dapat dipertanggungjawabkan. Namun tidak berarti bahwa tanggung jawab orang tua berakhir setelah diserahkan kepada guru, bahkan tanggung jawab orang tua tidak pernah berakhir sepanjang hayat.26

Hadiayah Raja Fahd Abdul Aziz, al-Quran al-Karim, (Ce. 6262. Madinah al-Munawwarah, Lajnah alMurajaah . 1405. H), hal. 560. (QS. Al-Tahrim (66:6) 25 Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, op.cit., jilid 10, hal.7506-7512 26 Nabi bersabda : Sesungguhnya kalian adalah pengembala (pemimpin), dan setiap kalian akan dimintai tanggung jawabnya tentang kepemimpinan (HR. Bukhari Muslim).

24

Tanggung jawab guru sebagai pendidik sebagaimana diketengahkan oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamid, bahwa Mereka itu amanah Allah di sisi anda dan titipan umat di hadapan anda yang diserahkan kepada anda sebagai anak-anak agar anda mengembalikan mereka sebagai orang yang diserahkan kepada anda sebagai jasad agar anda meniupkan roh di dalamnya dan sebagai kata-kata anda mengisinya dengan makna-makna, dan sebagai wadah agar anda mengisinya dengan keutaaman dan marifat/ilmu pengetahuan.27 Guru mampu melaksanakan tanggung jawabnya apabila dia memiliki kompetensi yang diperlukan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen. Setiap tanggung jawab memerlukan sejumlah kompetensi yang lebih kecil dan lebih khusus. Tanggung jawab yang harus diemban oleh guru pada umumnya, khususnya guru agama dengan fungsinya yang meliputi: 1) 2) 3) 4) Tanggung jawab Moral, Tanggung jawab dalam bidang pendidikan, Tanggung jawab guru dalam bidang kemasyarakatan, dan Tanggung jawab dalam Bidang Keilmuan.28 Tanggung jawab guru sebagai pendidik sangat besar sesuai dengan amanah dan tanggung jawab yang dipikulnya sangat besar pula. Jalan yang ditempuh para guru tidak mudah dan tugas mereka tidaklah ringan. Sebab mereka telah sanggup mengemban amanah. Mereka berhak mendapat penghargaan, padahal ia memiliki tanggung jawab. Seorang guru pada hakikatnya adalah pelaksana amanah dari orang tua sekaligus amanah Allah SWT, amanah masyarakat, dan amanah pemerintah dan akan dipertanggung jawabkan kepada pemberi amanah dalam hal ini didepan Allah SWT, dengan segala kelebihan dan kekurangannya hanya Dialah yang maha tahu mana diantara peran dan tanggung jawab kita yang dapat dispensasi ampunan dan mana pula yang tetap dihisab.
27 28

H. Abd. Rahman Getteng, op.cit., hal. 41 Oemar Hamalik, op.cit., hal. 42

D. Kompetensi dan profesi guru a. Kompetensi Guru Masalah kompetensi merupakan salah satu factor penting dalam pembinaan guru sebagai suatu jabatan profesi. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan bahwa guru wajib memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadan, kompetensi social, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (pasal 10 ayat 1). Wina Sanjaya (2008) mengemukakan bahwa guru sebagai jabatan professional diharapkan bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensikompetensi yang ditetapkan dalam undang-undang. Kompetensi-kompetensi tersebut meliputi: 1. Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan

pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi: a) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; b) Pemahaman terhadap peserta didik; c) Pengembangan kurikulum/silabus; d) Perancangan pembelajaran; e) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; f) Pemanfaatan teknologi pembelajaran; g) Evaluasi belajar; dan

h) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2. Kompetensi Kepribadian, sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang: a) Mantap; b) Stabil; c) Dewasa; d) Arif dan bijaksana; e) Berwibawa; f) Berakhlak mulia; g) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; h) Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan i) Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. 3. Kompetensi Sosial, merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk: a) Berkomunikasi lisan, tulisan, dan atau isyarat;

b) Mengusahakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan d) Bergaul secara santun dengan masyarakat. 4. Kompetensi Profesional, merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran dan secara luas dan mendalam. Keempat kompetensi guru yang ditetapkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen tersebut secara toritis dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, akan tetapi secara praktis

sesungguhnya keempat jenis kompetensi tersebut tidak mungkin dapat dipisah-pisahkan. Di antara empat jenis kompetensi itu salang menjalin secara terpadu dalam diri guru. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Keempat kompetensi tersebut terpadu dalam karakteristik tingkah laku guru. Kompetensi-kompetensi yang ditetapkan untuk dimiliki setiap guru sebagai penyandang jabatan professional menjadi program unggulan yang dikembangkan LPTK sebagai satu-satunya lembaga yang diberikan tugas oleh pemerintah untuk

menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan non kependidikan. b. Profesi Guru Sikun Pribadi dalam Oemar Hamalik (2006) mengemukakan bahwa: Profesi itu pada hakikatnya adalah suatu janju terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, terpanggil untuk menjabar pekerjaan itu. Guru sebagai jabatan professional memerlukan berbagai keahlian khusus. Sebagai suatu profesi, maka harus memenuhi kriteria profesional. Oemar Hamalik (2006) mengemukakan kriteria profesional guru sebagai berikut: 1. Fisik Sehat jasmani dan rohani, tidak mempunyai cacat tubuh yang bisa menimbulkan ejekan/cemoohan atau rasa kasihan dari anak didik. 2. Mental/kepribadian

Berkepribadian/berjiwa Pancasila, mempu menghayati GBHN, mencintai bangsa dan sesame manusia dan rasa kasih sayang kepada anak didik, berbudi pekerti yang luhur, berjiwa kreatif, dan dapat memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal, mampu menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tanggung rasa, mampu

mengembangkan kreativitas dan tangung jawab yang besar akan tugasnya, mampu mengembangkan kecerdasan yang tinggi, bersifat terbuka, peka, dan inovatif, menunjukkan rasa cinta kepada profesinya, ketaatannya akan disiplin, dan memiliki sense of humour. 3. Keilmiahan/pengetahuan Memahami ilmu yang dapat melandasi pembenrukan pribadi, memahami ilmu pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik, mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik, memahami, menguasai serta mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan, memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang-bidang yang lain, senang membaca buku-buku ilmiah, mampu memecahkan persoalan secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi, dan memahami prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar. 4. Keterampilan Mampu berperan sebagai organisator proses belajar mengajar, mampu menyusun bahanbahan pelajaran atas dasar pendekatan strukturan, interdisipliner, fungsional, behavior, dan teknologi, mampu menyusun garis-garis besar program-program pengajaran (GBPP), dan mampu memecahkan medasari seseorang yang berkaitan dengan efektifitas kerja individu dalam pekerjaannya.

Demikian beberapa hal yang sekiranya perlu mendapat perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang yang berhubungan dengan usaha mempersiapkan dan melakukan pembinaan kompetensi profesional para guru.

E. Etika dan kepribadian guru M.Amin Abdullah (2005) mengartikan etika sebagai ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk. Jadi, bias dikatakan etika berfungsi sebagai teori perbuatan baik dan buruk (ethis atau ilm al-akhlaq al-karimah),praktiknya dapat dilakukan dalamdisiplin filsafat. Etika dapat dipakai dalam arti nilai yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok dalam mengatur tingkah lakunya atau lazim dikenal dengan istilah kode etik misalnya kode etik guru, kode etik pegawai negeri, kode etik jurnalistik, dan lain-lain. Kata etika diidentikkan dengan kepribadian yang berarti sifat hakiki seseorang yang tercermin pada sikap dan perbuatannya, yang membedakan dirinya dengan orang lain (Muhibuddin S, 1989). ETIKA KEPRIBADIAN (KODE ETIK GURU) Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU Nomor 14 Tahun 2005). Jika dilihat dari segi tugas dan tanggung jawab guru, maka pada hakikatnya tugas dan tanggung jawab yang diembannya adalah perwujudan dari amanah Allah, amanah orang tua, bahkan amanah dari masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, amanah yang diamanatkan kepadanya mutlak harus dipertanggungjawabkan. Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyerahkan amanah kepada yang berhak menerimanya (profesional). (QS.al-Nisa (4):58). Muhammad al-Basir al-Ibrahim, dalam wasiatnya kepada para pendidik (guru) mengatakan Anda sekalian duduk di atas singgasana pengajaran ke atas singgasana para raja. Rakyatnya adalah anak-anak umat, karena itu, perlakukanlah mereka dengan kelemahlembutan dan kebaikan, dan naiklah bersama mereka dari fase kesempurnaan dalam pendidikan menuju fase kesempurnaan dalam menuju fase yang lebih sempurna lagi. Mereka itu amanah Allah di sisi anda dan titipan umat di hadapan anda, yang diserahkan kepada anda sebagai jasad agar anda meniupkan ruh kedalamnya, dan sebagai kata-kata, anda mengisinya dengan makna-makna, dan sebagai wadah agar anda mengisinya dengan keutamaan dan marifah (ilmu pengetahuan) (Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dalam Ahmad Syaihu dkk. 2002) Karena pentingnya tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan kepada guru dalam mengantarkan peserta didiknya agar berhasil sebagaimana yang diharapkan, maka guru perlu memiliki etika kepribadian atau kode etik antara lain: 1. Ilmu 2. Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan. Guru pun harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar,. Kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jumlah anak didik sangat meningkat, sedang jumlah guru jauh dari mencukupi, maka terpaksa menopang untuk sementara, yakni menerimah guru yang belum berijazah. Tetepi dalam keadaan normal ada patokan bahwa makin

tinggi pendidikan guru makin baik pendidikan dan pada gilirannya maka tinggi pula derajat masyarakat. 2. Sehat jasmani a. Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang berpenyakit menular, misalnya, sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Di samping itu, guru yang berpenyakit tidak akan bergairah mengajar. Kesehatan fisik (jasmani) sangat penting bagi seseorang terlebih lagi bagi seorang pemimpin termasuk guru mengingat bahwa tugasnya yang memerlukan kerja fisik. AL-Quran menyebut unsur fisik ini sebagaimana firman Allah: b. Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi rajamu dan

menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh (jasmani) yang perkasa (QS. albaqarah (2):247). c. Pentingnya kesehatan jasmani bagi seorang guru karena sangat mempengaruhi semangat kerja. Guru yang sakit-sakitan kerapkali terpaksa absen dan tentunya merugikan anak didik. 3. Berkelakuan baik a. Budi pekerti guru sangat penting dalam pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi model teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan ini hanya bisa dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia pula. Guru yang tidak berakhlak mulia tidak mungkin dipercaya untuk mendidik. Yang dimaksud dengan akhlak mulia dalam ilmu pendidikan Islam adalah akhlak yang sesuai

dengan ajaran Islam. Seperti dicontohkan oleh pendidik utama, Nabi Muhammad saw. Di antara akhlak mulia guru tersebut adalah mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerjasama dengan guru-guru lain, masyarakat, utamanya para orang tua anak didik. b. Di Indonesia, untuk menjadi guru diatur dengan beberapa persyaratan, yakni berijazah, professional, sehat jasmani dan rohani, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian luhur, bertanggung jawab, dan berjiwa nasionalis. Persyaratan bagi seorang guru lebih lengkap lagi diatur dalam Undang-Undang Negara RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. c. SYARAT-SYARAT KEPRIBADIAN GURU DALAM ISLAM d. Syarat-syarat yang harus dimiliki guru pada umumnya dan khususnya guru agama (Islam) dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam antara lain: e. 1. AL-Kanani dalam Ramayulis (2005) mengemukakan persyaratan seorang pendidik terdiri dari tiga macam, yakni syarat yang berkenaan dengan dirinya sendiri, syarat yang berkenaan dengan pelajaran pedagogis didaktis, dan syarat yang berkenaan dengan peserta didiknya. f. a. Syarat yang berkenaan dengan dirinya g. Berkenaan dengan diri guru, di antaranya dituntut untuk senantiasa sadar akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuatan selama memegang amanat ilmiah yang diamanatkan oleh Allah SWT, Karenanya itu tidak boleh mengkhianati amanat itu, dan harus merendahkan diri kepada Allah

SWT, dan hendaknya memelihara kemuliaan ilmu. Di antara syarat-syaratnya adalah: i. Guru hendaknya bersafat zuhud; ii. Guru hendaknya tidak tamak terhadap kesenangan duniawi; iii. Guru hendaknya tidak mengkomersilkan ilmunya untuk kepentingan sesaat; iv. Guru hendaknya menghindari hal-hal yang hina menurut pandangan

syara; 4. 5.

6. Guru dikatakan sebagai pendidik. Pendidik merupakan tenaga professional yang tugas bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tunggi.29 Jabatan guru sebagai tenaga professional sebaiknya tidak hanya ditilik dari sisi kecerdasan semata tetapi juga harus dilihat dari segi keterampilan emosional sehingga melahirkan sebuah kepribadian y ang kaya dengan muatan etika yang baik, dan inilah salah

satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan guru disamping faktor lainnya. merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat30. Dengan

29 30

Lihat Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. h. 27 Op,cit, hal, 1

demikian guru adalah seseorang yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam kualitas sumber daya manusianya Fungsi atau upaya seorang guru dalam melakukan aktivitasnya sebagai seorang pendidik perlu menekankan standar proses, hal ini terkait dengan keberadaan guru yang berfungsi sebagai director of learning (direktur belajar). Artinya, setiap guru diharapkan mampu mengarahkan kegiatan proses pembelajaran yang efektif sehingga tercapai target pembelajaran dengan demikian sudah berhasil mencapai kinerja akademik31. Dengan demikian, tercapai pula target pendidikan nasional yang berfungsi

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.32 Peranan guru dalam dunia semakin jelaslah bahwa eksistensinya semakin diperhadapkan pada berbagai persoalan-persoalan yang semakin kompleks, sementara beban dan tanggung jawab yang tinggi harus ia emban, di sini pulalah akan terlihat dengan sendirinya kompetensi seorang guru yang harus menangani berbagai persoalan secara professional. Tugas dan tanggung jawab guru jika dilihat pada dataran yang lebih luas akan menghadapi konsekuensi logis pada gilirannya mampu dilaluinya dengan sangat enteng sebab fungsi-fungsi khusus yang menjadi bagian integral (menyatu) dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang oleh para guru sudah ia miliki sebagai persiapan sebelumterjun

31 32

Lihat Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

melaksanakan aktivitas pembelajaran. Menurut Gagne, setiap guru berfungsi sebagai : a). Designer of instruction (perancang pengajaran), b). Manager of instruction (pengelola pengajaran) dan c). Evaluator of student learning (penilai prestasi belajar siswa)33.

1. Guru sebagai Designer of Instruction (perancang pengajaran) Fungsi guru sebagai designer of instruction (perancang pengajaran) menghendaki guru untuk senantiasa mampu dan siap merancang kegiatan belajar mengajar yang berhasilguna dan berdayaguna. Untuk merealisasikan fungsi tersebut, setiap guru memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar. Rancangan tersebut sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut ; a). memilih dan menentukan bahan pembelajaran. b). merumuskan tujuan penyajian bahan pembelajaran. c). memilih metode penyajian bahan pembelajaran yang tepat dan d). menyelenggarakan kegiatan evaluasi prestasi belajar.

2. Guru sebagai Manager of Instruction (pengelola pengajaran) Fungsi guru ini menghendaki kemampuan guru dalam mengelola (menyelenggarakan dan mengendalikan) seluruh tahapan proses belajar mengajar. Di antara kegiatan-kegiatan pengelolaan proses belajar mengajar, yang terpenting ialah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdayaguna dan berhasilguna. Selain itu kondisi dan situasi tersebut perlu diciptakan sedemikian rupa agar proses komunikasi, baik dua arah maupun multiarah antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dapat berjalan secara demokratis. Alhasil, baik guru sebagai pengajar maupun siswa

33

Ibid

sebagai pelajar dapat memainkan upaya masing-masing secara integral dalam konteks komunikasi instruksional yang kondusif (yang membuahkan hasil).

3. Guru sebagai Evaluator of Student Learning (penilai) Fungsi ini menghendaki guru untuk senantiasa mengikuti perkembangan taraf kemajuan prestasi belajar atau kinerja akademik siswa dalam setiap kurun waktu pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan evaluasi prestasi belajar itu seperti kegiatan belajar itu sendiri, yakni kegiatan akademik yang memerlukan kesinambungan. Evaluasi, idealnya berlangsung sepanjang waktu dan fase kegiatan belajar selanjutnya. Artinya, apabila hasil evaluasi tertentu menunjukkan kekurangan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan merasa terdorong untuk melakukan kegiatan pembelajaran perbaikan (relearning). Sebaliknya, bila evaluasi tertentu menunjukkan hasil yang memuaskan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan termotivasi untuk meningkatkan volume kegiatan belajarnya agar materi pelajaran lain yang lebih kompleks dapat pula dikuasai. Selanjutnya, informasi dan data kemajuan akademik yang diperoleh guru dari kegiatan evaluasi (khususnya evaluasi formal) seyogyanya dijadikan feed back (umpan balik) untuk melakukan penindaklanjutan proses belajar mengajar. Hasil kegiatan evaluasi juga seyogyanya dijadikan pangkal tolak dan bahan pertimbangan dalam memperbaiki atau meningkatkan penyelenggaraan proses belajar mengajar pada masa yang akan datang. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar tidak akan statis, tetapi terus meningkat hingga mencapai puncak kinerja akademik yang sangat didambakan itu. Sementara itu menurut Syaiful Bahri Djamarah; fungsi dan pernan guru meliputi sebagai inisiator, korektor, inspirator, informatory, mediator,

demonstrator, motivator, pembimbing, fasilitator, organisator, evaluator, pengelola kelas dan supervisor.34 a. Inisiator, yaitu guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar mengajar dan ide-ide tersebut merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. b. Korektor, yaitu guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. c. Inspirator, yaitu guru harus bisa memberikan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik. d. Informator, yaitu guru sebagai pelaksana cara belajar informatif, laboratorium studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. e. Mediator, yaitu guru dapat diartikan sebagai penegah dalam kegiatan belajar siswa. f. Demonstrator, yaitu dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat dipahami oleh anak didik. Apalagi anak didik yang mempunyai intelegensi yang sedang atau rendah. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami tersebut, maka guru harus berupaya membantunya dengan cara memperagakan apa yang diajarkan. g. Motivator, yaitu upaya guru sebagai pemberi dorongan kepada siswa dalam meningkatkan kualitas belajarnya. h. Pembimbing, yaitu jiwa kepemimpinan bagi guru dalam upaya ini lebih menonjol.Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dicita-citakan. i. Fasilitator, yaitu guru memberikan fasilitas (kemudahan) dalam proses belajar mengajar, sehingga interaksi belajar mengajar berlangsung secara komunikatif, aktif dan efektif.

Syaful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Diodik Dalam Interaksi Edukatif, (Cetakan ke I. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta, 2000) h. 43-48 bandingkan dengan pendapat Oemar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitankesulitan Belajar, Bandung Tarsito 1980). H. 115-120

34

j. Organisator, yaitu guru mempunyai kemampuan mengorganisasi komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar. Semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efesiensi dalam belajar pada diri siswa. k. Evaluator, yaitu ada kecenderungan bahwa upaya evaluator guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi belajar siswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik, tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. l. Pengelola kelas, yaitu guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. m. Supervisor, yaitu guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau kedudukan yang ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau keterampilan-keterampilan yang dimilikinya.

Guru sebagai salah satu komponen pendidikan dan pembelajaran yang punya upaya penting dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran secara maksimal dituntut kemampuan dan keahlian dalam bidang tersebut, jadi upaya guru merupakan kemampuan dan usaha dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabbya. Dalam rangka ini guru tidak sematamata sebagai pengajar yang transfer of knowledge, tetapi juga sebagai pendidik yang transfer of values dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pembelajaran dan menuntun siswa dalam belajar untuk mencapai prestasi yang maksimal35.

35

Davies, K. Ivor ; The Management of Learning (London: McGraw Hill Book Company. 1971) h. 71

Upaya guru sebagai pengajar dan pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran (proses belajar mengajar) di kelas yang bertanggung jawab untuk merencanakan, mengelola, mengarahkan, dan menciptakan suasana belajar siswa yang menyenangkan. Secara umum guru itu harus memenuhi dua ketegori yang memiliki capability dan loyality, yakni guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi. Dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas keguruan yang tidak semata didalam kelas, tapi sebelum dan sesudah di luar kelas. Rosyada, menyatakan bahwa : Guru yang baik harus memiliki tujuh kriteria yaitu: (1) sifat; antusias, stimulatif, (2) pengetahuan yang memadai, (3) penyampaiannya mencakup semua unit bahasan, (4) menyempaikan informasi secara jelas dan terang, (5) harapan , membuat siswa akuntabel, (6) reaksi guru terhadap siswa, menerima berbagai masukan, risiko, dan tantangan, (7) manajemen, perencanaan dan organisasi kelas36.

Dalam situasi pengajaran atau dalam proses belajar mengajar guru adalah figur sentral yang kuat dan beribawa tetapi juga harus selalu dapat menunjukkan sikap bersahabat dengan peserta didik. Guru adalah pengambil keputusan (decition maker) yang harus dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam berbagai situasi dan untuk kepentingan pendidikan. Pemahaman tentang kemampuan awal, cara belajar anak serta kepribadian anak secara menyeluruh juga akan dipakai untuk landasan dalam pengambilan keputusan dalam proses belajar mengajar, yang menyangkut pemberian materi atau pengayaan, sehingga guru dapat mengetahui daya serap dan kemampuan peserta didik terhadap prestasi belajarnya.

36

Dede, Rosyada; Paradigma Pendidikan Demokratis (Jakarta, Prenada Media, 2004) h. 113

Muhibbin Syah menyatakan bahwa: Guru yang berkualitas adalah guru yang berkompotensi, yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak37. Suryosubroto menyatakan bahwa: Kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu; (1) kemampuan merencanakan pengajaran, (2) kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, (3) kemampuan mengevaluasi penilaian pengajaran38. Hasil prestasi yang dicapai oleh guru dalam pelaksanaan tugas, Muhibbin Syah mengemukakan suatu model posisi guru dalam proses belajar mengajar sebagai berikut39:

Guru Mengajar

Siswa belajar

Perubahan tingkah laku positif kognitif, afektif dan psikomotor siswa

Gambar 1: Model Posisi Belajar Siswa

Model posisi belajar siswa menunjukkan bahwa aktifitas dan efektifitas mengajar guru merupakan unsur penting yang dapat mempengaruhi usaha atau prilaku dalam belajar. Prilaku belajar siswa pada hakekatnya akan menentukan prestasi belajar siswa yang bersangkutan dalam bentuk perubahan tingkah laku positif yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran, usaha atau tindakan yang paling tepat adalah kemampuan mengevaluasi pembelajaran. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah selesainya kegiatan pembelajaran selama dua semester. Dengan demikian tingkat ketercapaian tujuan

37 38

Muhibbin Syah; Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Op. Cit. h. 229 B. Suryosubroto; Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. (Jakarta: Rineka Cipta Suryosubroto, 1997) h. 26 39 Muhibbin Syah; Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Op. Cit. h. 235

pendidikan dan pengajaran yang dituangkan dalam tujuan instruksional khusus dapat diketahui termasuk target yang semestinya harus dicapai oleh sisiwa40. Dengan evaluasi pembelajaran dapat diketahui perkembangan prestasi belajar siswa yang tentu saja tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan siswa akan tetapi juga bisa disebabkan oleh kemampuan guru41. Dari penjelasan tersebut berarti melalui evaluasi pembelajaran, prestasi belajar siswa dapat dijadikan sebagai bahan untuk menilai kemampuan guru itu sendiri dan hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam usaha melakukan tindakan pendidikan dan pengajaran berikutnya. Penilaian prestasi pembelajaran dapat dilaksanakan dalan dua tahap yaitu tahap jangka pendek yakni penilaian dilaksanakan guru pada akhir proses belajar mengajar yang disebut penilaian formatif dan jangka panjang yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar berlangsung beberapa kali pada periode waktu tertentu yang disebut penilaian sumatif (ulangan semester)42. Menurut Sudjana ada tiga sasaran pokok evaluasi pembelajaran yaitu ; (1) Segi tingkah laku, artinya yang menyangkut sikap, minat dan perhatian, keterampilan siswa sebagai akibat proses belajar mengajar, (2) segi sisi pendidikan artinya penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru dalam proses belajar mengajar, (3) segi yang menyangkut proses belajar mengajar itu sendiri, proses belajar mengajar itu perlu diadakan penilaian secara objektif daru guru sebab baik atau tidaknya proses belajar mengajar akan menentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai oleh siswa43. Untuk mendapat hasil evaluasi prestasi yang baik dari siswa, seorang guru harus memberikan motivasi belajar terhadap siswa. Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-

40 41

Nana, Sudjana: Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru, t.th) h. 112 Muhibbin Syah; Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Op. Cit. h. 113 42 Nana, Sudjana.: Loc. Cit 43 Nana, Sudjana.: Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Op. Cit h. 113

aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Mc. Donald mengemukakan; motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan

tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen atau cirri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang oleh adanya tujuan44 Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungking melakukan aktivitas belajar. Motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi Ektrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar45.

Bagi siswa yang selalu memerhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena didalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang
Sobry Sutikno ; Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa di www.bruderfic.or.id/h129/peran-Guru-dalam-membangkitkan motivasi-belajar-seiswa.html (on line) diakses 7 Januari 2008 45 Ibid
44

demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memerhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi didalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini tugas guru adalah membangkitkan motivasi kepada sisiwa sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut: 1) Menjelaskan tujuan belajar ke siswa. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan instruksional khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. 2) Hadiah Hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Disamping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. 3) Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi beajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. 4) Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan dan pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. 5) Hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. 6) Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke siswa. 7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik. 8) Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok. 9) Menggunakan metode yang bervariasi, dan 10) Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran46.

E. Indikator Penilaian Upaya Guru Memahami suatu istilah diperlukan dasar uraian dan dukungan teoritis yang menmyertainya. Istilah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penilaian keberhasilan guru dilihat dari hasil kinerjanya terkait perannya sebagai pendidik47. Para pakar Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) telah banyak mengupas tentang pengertian penilaian kinerja (performance apprasian). Diantaranya Schuler dan Jackson mengemukakan bahwa: penilaiankinerja adalah suatu system formal dan terstruktur yang

46 47

Ibid Schuler (et.al) ; Manajemen Sumber Daya Manusia (Menghadapi Abad ke 21), (jilid VI, Ed.6, Jakarta,

1997) h. 3

mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan perkerjaan, perilaku, dan hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran48.

Sementara Zweig mengemukakan bahwa: Performance appraisal is the process used by management to inform employees individually how well they are doing in the eyes of the company Formal Performance appraisal is a process established to evaluate employee performance regulary and systematically at all levels49. Dalam pandangan Zweig bahwa penilaian kinerja diartikan sebagai suatu proses yang digunakan oleh pihak manajemen untuk memberikan informasi kepada para karyawan secara individual tentang bagaimana hasil pekerjaan mereka dipandang dari kepentingan perusahaan. Penilaian kinerja formal adalah suatu proses yang ditetapkan untuk mengevaluasi kinerja karyawan secara teratur dan sistematis atas seluruh tingkatan pekerjaa/jabatan. Pendapat senada yang dikemukakan oleh Prawirosentano bahwa: Penilaian kinerja adalah suatu proses penilaian formal atas hasil kerja seseoranmg karyawan yang dilaksanakan oleh seorang penilai, dimana hasilnya disampaikan kepada direksi, atasannya dan kepada karyawan itu sendiri, kemudian dimasukkan ke dalam file dokumen kepegawaian50. Mencermati dari pendapat Schuler dan Jackson, Zweig, dan Prawirosentano, maka penilaian kinerja guru dapat dirumuskan sebagai proses penilaian secara formal dan sistematis yang dilaksanakan oleh pihak manajemen lembaga pendidikan (sekolah/madrsah) atau petugas yang diangkat/ditunjuk sebagai penilai, dimana hasil penilaian tersebut dijadikan sebagai bahan informasi untuk guru dan lembaga pendidikan yang bersangkutan berkenaan dengan kepentingan peningkatan kualitas pendidikan dan pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran.

48 49

Schuler & Jackson (et.al) ; Loc Cit Suyadi Prawirosentani ; Op. Cit h. 241-215 50 Ibid h. 217

F. Prilaku Kenakalan Remaja Versus Prestasi Belajar G. Berbagai Macam Kenakalan Remaja H. Upaya Guru Mata Pelajaran Agama Islam Mengatasi Kenakalan Remaja Pada Madrasah Aliyah DDI Alliritengae Kab. Maros. I. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa Pengenalan guru terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah sangat penting. Hal ini akan banyak bermanfaat bagi guru dalam upaya membantu siswa untuk mencapai prestasi belajar yang optimal disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Berbagai studi menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: faktor internal dan faktor eksternal dari diri siswa atau dari lingkungan51. Purwanto mengemukakan bahwa: untuk memehami kegiatan proses belajar mengajar, sehingga peningkatan prestasi belajar siswa perlu melakukan analisis pendekatan sistem, sekaligus melihat adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Pendekatan sistem, kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut52:

Instrumen Input

Raw Input

Teaching - Learning Process

Output

Eviromental Input

Gambar 2 : Pendekatan sistem kegiatan proses belajar mengajar


51 52

Nana, Sudjana ; Dasar-Dasar Proses Belajar mengajar. Op. Cit h. 39 Purwanto. M. Galim ; Psikologi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992) h. 106

Didalam proses belajar mengajar disekolah yang dimaksudkan; (1) raw input adalah siswa, (2) instrument input adalah kurikulum atau bahan pelajaran, (3) teaching learning process adalah proses belajar mengajar, (4) environmental input adalah lingkungan, (5) output adalah tamatan/keluaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah: 1. Faktor internal, meliputi: (a) Faktor Jasmaniah (fisiologis), baik bersifat bawaan maupun yang diperoleh (b) Faktor psikologis, terdiri dari: 1) Faktor intelektif, yaitu faktor potensial (kecerdasan dan bakat) dan faktor kecakapan nyata (prestasi yang dimiliki), 2) Faktor non intelektif, berupa unsure-unsur kepribadian tertentu seperti: sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. (c) Faktor kematangan fisik maupun psikis. 2. Faktor eksternal, meliputi: (a) Faktor sosial terdiri dari: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan kelompok. (b) Faktor budaya (adat-istiadat, iptek, kesenian dan sebagainya) (c) Faktor lingkungan fisik (fasilitas rumah, belajar dan sebagainya) (d) Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan53. Beragam faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa pada gambar 2 secara garis besarnya adalah faktor dari dalam dan faktor dari luar. Keberadaan faktor luar sangat dipengaruhi lingkungan yang tercipta dalam proses sosial dan faktor yang telah dirancang

53

Usman, (ed.al); Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja rosdakarya; 1993)

h. 10

sedemikian rupa menunjang kondisi prestasi belajar siswa yang memadai (instrumental). Fokus penelitian ini adalah faktor instrumental yang lebih fokus kepada keberadaan tenaga pengajar. Purwanto mengemukakan bahwa: beberapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa dapat digambarkan sebagai berikut54:

Fisik Lingkungan Spiritual Luar Kurikulum/bahan Pelajaran Guru/Pengajar Sartabna/fasilitas Administrasi

Instrumental

Faktor Kondisi Pisik Fisiologis Kondisi Panca Indra Dalam Bakat Minat Kecerdasan Motivasi Kemampuan Kognitif

Psikologis

Gambar 3 : Ikhtisar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Mengacu dari faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dari Usman (et.al) dan Purwanto tersebut diatas, Sudjana sendiri menyatakan bahwa prestasi belajar siswa disekolah, 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh faktor

54

Purwanto, M. Galim ; Psikologi Pendidikan. Op. Cit. h. 107

lingkungan55. Ini didasarkan dari hasil penelitiannya dibidang pendidiksn kependudukan yang menyatakan; bahwa diantara faktor lingkungan yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar siswa adalah kualitas pembelajaran meliputi tiga unsure, yaitu: kemampuan guru, karakteristik kelas, dan karakteristik guru. Diantara ketiga unsur tersebut, kemampuan guru memberikan kontribusi yang paling besar yaitu 76,6 persen dengan rincian: 32,43 persen dari kemampuan mengajar, 32,58 persen dari penguasaan materi pelajaran, dan 8,60 persen dari sikap guru56.

55 56

Nana, Sudjana ; Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Op. Cit h. 39 Ibid h. 40-43

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto. Yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian mengurut kebelakang melalui data tersebut untuk menemukan faktor-faktor yang mendahului atau menentukan sebab-sebab yang mungkin dapat menjelaskan atas peristiwa yang akan diteliti. Melalui penelitian ini dilakukan penelaahan terhadap keadaan yang sedang ada dalam diri subyek penelitian. Dengan demikian peneliti hanya akan mencoba menetukan hubungan dan pengaruh yang terjadi diantara variabelvariabel yang ada57. Bila dilihat dari jenis datanya penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif karena menggunakan data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan serta merujuk dari beberapa pendapat dan pertanyaan dari responden untuk mendukung hasil penelitian58. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan survei yang pengumpulan data utamanya menggunakan wawancara dan questioner (angket) melalui sejumlah sampel yang diambil dari suatu populasi. Kerlinger mengemukakan bahwa: Penelitian survei mengkaji populasi yang besar maupun yang kecil dengan menyeleksi serta mengkaji sampel-sampel ayng dipilih dari populasi itu, untuk menemukan insidensi, distribusi dan interelasi dari variabel-variabel sosiologis dan psikologis59.

Sugiono ; Statistik untuk Penelitian (Cet. V; Bandung: Alfabeta, 2003) h. 3 Ibid h. 7 59 Kerlinger, F. N. Foundation and Behavior Research Alih bahasa; Simatupang Landung, R, Azas-azas Penelitian Behavior (Yogyakarta; Gajah Mada University Press, 2000) h. 660
58

57

Berdasarkan bentuk permasalahannya, maka penelitian ini termasuk penelitian dekskriptif asosiatif, metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui atau menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel yang lain. Metode ini berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrolkan suatu

gejala/peritiwa60.

B. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan pada penelitian survey ini adalah pendekatan pedagogis, psikologis, religious dan yuridis. Pertama, pendekatan Paedogogis ini dimaksudkan untuk mempertimbangkan dan memperhitungkan aspek manusiawi yang di hubungkan dengan kebutuhan pendidikan, terkhusus pada guru dan siswa. Kedua; pendekatan psikologis, dengan pendekatanini penelitian di arahkan aktualisasi pemahaman, aktualisasi tingkah laku manusia dengan menyimpulkan realisasi akhlak terpuji, sebagai pembentukan pribadi, sikap watak individu yang baik secara menyeluruh. Ketiga, pendekatan Religius, digunakan untuk

peningkatan dan pencapaian hasil prestasi belajar siswayang hasil outputnya seorang siswa yang intelek dan berakhlak karimah. Keempat, pendekatan Yuridis digunakan untuk memberikan penjelasan dalam penelitian ini bahwa penelitian ini memliki dasar dab landasan yang kuat dengan mengacu pada Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Pembentukan Komite Sekolah ditiap Satuan Pendidikan.

C. Sumber Data Penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis sumber data, yaitu:
Sugiyono, Statistik untuk Penelitian; (-; Bandung, Alfabeta; 1997) h. 35 lihat juga Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif (Cet. VIII; Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), h. 49 Lihat juga Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta: Rineka 1991), h. 11
60

1. Data primer, merupakan data yang diambil langsung dari para informan dan responden yang hal ini, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bagian umum, guru dan pengurus sekolah sebagai informan melalui interview/wawancara dab data dari responden siswa kelas VI melalui penyebaran kuesioner (angket). 2. Data sekunder, pengambilan data dalam bentuk dokumen-dokumen yang telah ada. Data ini berupa dokumentasi penting menyangkut profil sekolah, dokumen kurikulum, dokumen nilai prestasi siswa, petunjuk teknis pengembangan silabus, serta perangkat pembelajaran pendidikan dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan penelitian penulis.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Salah satu langkah yang sangat penting dalam suatu penelitian adalah menentukan populasi, karena dalam populasi diharapkan adanya sejumlah data yang sangat penting dan berguna bagi pemecahan masalah yang telah dirumuskan pada rumusan masalah penelitian. Sugiono memberikan defenisi populasi sebagai berikut: Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan, dengan kata lain populasi adalah keseluruhan obyek yang akan diteliti61. Sedangkan S. Margono memberikan defenisi populasi yaitu: seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan62. Dan Suharsimi Arikunto memberikan pengertian populasi adalah keseluruhan obyek penelitian63.

61 62

Sugiono ; Statistik untuk Penelitian Op. Cit h. 55 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Cet. IV; Jakarta Rineka Cipta, 1996) h. 118. 63 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Cet. V; Jakarta: Rineka 2000), h. 128.

Dalam penelitian ini populasi adalah guru yang bertugas mengajar aktif di Madrasah Tsanawiayah (MTs) Negeri Model Makassar pada tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 65 orang dan pengurus Komite Sekolah Madrasah Tsanawiayah (MTs) Negeri Model Makassar periode kepengurusan tahun 2003 2008 berjumlah 11 orang serta siswa yang berjumlah 1100 orang yang tersebar di 28 kelas yaitu kelas VII sebanyak 9 kelas dengan jumlah siswa 356 orang, kelas VIII sebanyak 10 kelas dengan jumlah siswa 389 orang dan kelas IX sebanyak 9 kelas dengan jumlah siswa 355 orang64.

2. Sampel Menurut Suharsimi Arikunto, bahwa sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti65. Oleh karena sampel merupakan bagian dari populasi maka sampel yang diambil harus mencerminkan keadaan umum dari populasi. Adapun dalam penelitian ini, penulis menggunakan sampel yang dapat mewakili populasi. Untuk pengambilan sampel guru berdasarkan data polpulasi diatas 65 guru, penulis menggunakan teknik purposive sampling atau sampel bertujuan66. Pengambilan sampel dengan teknik seperti ini dimaksudkan dengan pertimbangan tertentu. Dalam kaitannya hal ini jumlah sampel guru yang dijadikan penelitian oleh penulis adalah guru yang mengajar di kelas IX/ 1 IX/9 yang berjumlah 27 orang, kemudian yang dijadikan informan sebanyak 13 orang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru bidang studi. Untuk sampel siswa berdasar penyebaran populasi diatas yang berjumlah 1100 orang, penulis menggunakan gabungan tiga teknik pengambilan sampel yaitu: teknik purposive

65

Data diolah dari sumber yang diperoleh dari Bagian TU MTs Negeri Model Makassar April 2008 Suharsimi Arikunto; Op. Cit., h. 117 66 Ibid Op. Cit, h. 115.

64

sampling atau sampel bertujuan67. Pengambilan sampel dengan teknik seperti ini dimaksudkan dengan pertimbangan tertentu. Kaitannya dengan hal ini, pemilihan sampel dari siswa kelas IX dilakukan dengan pertimbangan bahwa bagi siswa kelas IX, waktu belajar disekolah kurang lebih dua setengah tahun adalah masa yang cukup proporsional untuk menilai prestasi belajar siswa. Selain itu, mengambil keseluruhan kelas sebagai populasi akan menyebabkan sangay banyaknya sampel yang harus dipilih, sementara waktu dan tenaga terbatas. Kemudian teknik proporsional sampling atau pengambilan sampel secara berimbang. Teknik ini digunakan untuk memperoleh sampel yang representatif68. Pengambilan jumlah sampel ini didasarkan pada pendapat Suharsimi Arikunto yang menyatakan bahwa Jika subyek lebih dari 100 maka diambil antara 10 15% atau 20 -25% dari total populasi. Dan Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakter yang sama yang mewakili populasi69. Dalam hal ini, kelas IX sendiri terbagi atas 9 kelas dengan jumlah siswa 355 orang, sehingga pengambilan sampel sebanyak 25 % x 355 orang = 88,75 orang, dibulatkan menjadi 90 orang siswa, yang kemudian disebut sebagai responden. Jumlah ini ditentukan seimbang dengan jumlah seswa dari setiap kelas. Kemudian teknik random sampling atau sampel acak70. Untuk memenuhi 90 orang anggota sampel dipilih secara acak dari masing-masing kelas, karena setiap subyek dalam penelitian ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Teknik yang digunakan mengambil sampel secara acak adalah dengan mengundi 90 orang siswa dari 355 populasi melalui gulungan kertas sebanyak jumlah masing-masing kelas, yang ditulis
67

Ibid Op. Cit, h. 134.

68 69

Ibid, h. 129 Ibid, h. 134 70 Ibid, h. 126

kata sebagai responden sebanyak 10 gulungan, siswa yang mengambil gulungan kertas tertulis responden akan dijadikan responden dan di catat namanya, sedang yang mengambil kertas gulungan kosong tidak dijadikan responden.

E. Variabel Penelitian dan Desain Penelitian Variabel yang akan dikaji (diteliti) dalam penelitian ini adalah variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat). Variabel independen adalah peranan guru yang diberi simbol X1 dan peranan komite sekolah diberi simbol X2, sedangkan variabel dependen adalah prsetasi belajar siswa yang diberi simbol Y. Desain penelitian, melibatkan hubungan antara variabel dalam penelitian ini adalah interaktif atau hubungan sebab akibat dalam hal ini variable independen mempengaruhi variabel dependen. Untuk lebih jelasnya bentuk hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dapat diperlihatkan pada gambar berikut ini:

X1 X1 X1
Gambar 4: variabel independen dan variabel dependen

Keterangan: X1 X2 Y = Peranan guru = Peranan Komite Sekolah = Prestasi belajar siswa

F. Defenisi Operasional Variabel Penelitianini dilakukan untuk mengiji sejauh mana pengaruh peranan guru dan komite sekolah terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiah (MTs) Negeri Model Makassar. Adapun definisi operasional masing-masing variabel adalah sebagai berikut: 1. Peranan guru dalam proses pembelajaran kepada siswa, yang mencakup : a. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan didalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). b. Guru sebagai pelaksana (oraganizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, dimana ia bertindak sebagai seorang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demoktatik dan humanistik (manusiawi) selama proses berlansung (during teaching problems). c. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan criteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. Sedangkan peran guru dilihat dari kinerjanya adalah kemampuan seorang guru sebagai pengelola (pengajar dan pendidik) yang harus dilaksanakan disekolah secara bertanggung jawab dan layak yang berhubungan dengan kedudukannya sebagai pejabat fungsional untuk mewujudkan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Adapun indicator kinerja guru adalah: (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, (3) kemampuan mngevaluasi/penilaian pembelajaran.

2. Komponen dan indicator kinerja Komite Sekolah terkait pada peran yang dilakukannya, yakni sebagai badan pertimbangan (advisory agency) , pendukung (supporting agency), pengawas (controlling agency), dan badan mediator (mediator agency). Berkaitan dengan peran Komite Sekolah tercakup didalamnya pelaksanaan sebagai fungsi badan-badan tersebut dan fungsi manajemen pendidikan. 3. Prestasi belajar siswa bisa dilihat pada nilai raport yang dipahami sebagai nilai (ukuran) kuantitatif yang tertulis diberikan oleh guru kepada siswa atas aktivitas belajar yang diikutinya dalan mata pelajaran tertentu sebagai indikator efektifitas proses pendidikan dan pembelajaran guru yang bersangkutan selama tahun pelajaran yang berlangsung.

G. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang amat penting dan strategis kedudukannya dalam keseluruhan kegiatan penelitian, karena data yang diperlukan untuk menjawab rumusan masalah penelitian diperoleh melalui instrumen. Berikut ini instrumen yang peneliti gunakan, yaitu: 1) Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Ada dua jenis observasi,yaitu observasipartisipatif dan observasi non partisipatif. Observasi partisipatif yaitu pengamatan secara langsung, dalam hal ini penelitian menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati sehingga dapat memperoleh imformasi apa saja yang dibutuhkan, termasuk yang dirahasiakan sekalipun. Observasi partisipatif tersebut difokuskan pada masalah yang menjadi perhatian penelitian atau yang sangat relevan

dengan fokus penelitian. Di dalam melakukan observasi partisipatif peneliti menggunakan instrument blangko dan catatan kecil71. Sedangkan observasi non partisipatif yaitu pengamatan yang dilakukan tidak dan melakukan peninjauan lokasi ketika sewaktu-waktu membutuhkan beberapa data yang berkaitan dengan penelitian. Penulis juga mengupayakan observasi perbandingan denga tidak hanya menfokuskan observasi pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negri Model Makassar, tetapi mencoba melihat peranan guru dan Komite Sekolah pada sekolah lain. Hasil perbandingan ini di mungkinkan menjadi data pendukung yang penting untuk melihat perannya guru dan Komite Sekolah. Meskipun hasil pembahasan penelitian ini hanya menfokuskan pada objek atau lokasi penelitian utama yang telah ditetapkan. 2) Interview atau wawancara,yaitu pengumpulan data melalui dialog secara langsung dengan objek (informan) yang dapat memberikan data-data yang dibutuhkan. Terkait dengan itu, wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang menyangkut deskripsi penelitian separti sejarah berdirinya sekolan, tahundidirikan, dan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai peranan guru dan komite sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat, serta proses dan hasil yang dicapai terhadap peningkatan prestasi belajar siswa, yang ditujukan kepada pihak-pihak yang berkompoten, serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang memang diperlukan untuk melengkapi data-data yang sudah ada.

3) Angket (kuesioner) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Adapun instrument penelitian yang dipergunakan

71

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Cet. XI: Jakarta Rineka 1998), h. 12-

34

adalah metode angket yaitu pedoman angket yang berisi pertanyaan, dengan bentuk kuesioner tertutup dalam artian telah tersedia jawaban dalam bentuk pilihan ganda. 4) Dokumentasi, yaitu penulis mengambil sejumlah data yang berkenaan atau berhubungan dengan masalah penelitian ini. Penerapan teknik dokumentasi dalam arti luas hanya mengumpulkan arsip dokumen juga buku-buku teori yang relevan untuk digunakan sebagai bahan peyempurnaan penelitian.

Dari penjelasan tersebut diatas instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tesis ini berupa: a. Lembaran kuesioner (angket) kepada sampel siswa sebanyak 90 orang untuk mengukur variabel peranan guru dan Komite Sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. b. Pedoman wawancara kepada sampel gur dan pengurus Komite Sekolah sebagai informan dengan menggunakan metode purposive sampling atau sampel bertujuan denga pertimbangan terbatasnya waktu dari peneliti sehingga pemilihan sampel guru sebanyak 13 orang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wakil dari guru bidang studi, dan dari pengurus Komite Sekolah sebanyak 6 orang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan beberapa anggota Komite Sekolah sebagai informan. c. Ceklis untu data observasi yang peneliti lakukan saat pengamatan pada kegiatan yang dilakukan oleh guru dan pengurus Komite Sekolah dalam melakukan tigasnya di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Model Makassar.

Untuk intrumen kuesioner kepada responden siswa disusun dan diberikan dalam bentuk tertutup dengan menyediakan lima alternative jawaban sebagai pilihan responden siswa untu

menilai peranan guru yang mengajar dikelasnya (kelas IX/1 IX/9) dan peranan pengurus Komite Sekolah dalam membantu mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Model Makassar yang siswa ketahui. Selanjutnya variabel peranan guru dan Komite sekolah tersebut diukur dalam skala Likert dengan lima macam kategori dan menggunakan kata-kata sebagai berikut; Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KK), Jarang (JR), dan Tidak Pernah (TP). Skor jawabang responden untuk masing-masing kategori pilihan secara berturut-turut adalah 5, 4, 3, 2, 1 untuk butir pertanyaan positif, sedangkan untuk butir pertanyaan negatif diberikan skor sebaliknya, yaitu 1, 2, 3, 4, 5. Skor tersebut merupakan skor yang sifatnya ordinal, sehingga perlu ditransformasi ke dalam skor yang sifatnya interval. Hal ini dilakukan dengan membobot setiap kategori untuk setiap butir pertanyaan.

Untuk mengukur validitas instrument kuesioner (angket) dalam penelitian ini digunakan rumus korelasi product moment dari Pearson, dengan rumus;

NXY (X) (y)

rxy = (NX2 (X)2) (NY2 (Y)2)

Keterangan; rxy X Y X2 Y2 = koefisien korelasi antara skor total = skor total X = skor total Y = jumlah kuadrat skor X = jumlah kuadrat skor Y

XY N

= jumlah X dan Y = jumlah sampel

Dikarenakan penelitian ini menggunakan 2 (dua) variabel independen maka hasil rumus rxy diatas dimasukkan pada rumus korelasi ganda (R) dibawah ini:

r2X1.Y + r2X2.Y - 2(rX1.Y)(rX2.Y)(rX1.X2) rxy = ( 1 - r2X1.X2)

Sedangkan untuk realibilitas instrument digunakan rumus Spearman-Brown berikut:

2 .rxy r11 = (1 + rxy)

Keterangan: r11 rxy = realibilitas instrument = rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan intrumen72.

Proses perhitungan rumus-rumus tersebut diatas untuk hasil regresi, korelasi, validitas dan reabilitas dengan bantuan perangkat lunak program SPSS (statistical product and server solution) for Windows seri 16.0.1.

72

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Cet. 13: Jakarta Rineka 2006), h. 180

Dari hasil perhitungan yang dilakukan menggunakan rumus kolerasi product moment pearson dengan bantuan perangkat lunak program SPSS for windows seri 16.0.1 diperoleh nilai hasil kolerasi masing-masing instrumen dengan skor totalnya. Hasil kolerasi dibandingkan dengan nilai r dari tabel kritis dengan taraf = 5 persen. Keputusan pengujian dinyatakan valid jika r hasil korelasi skor total dengan skor masing-masing instrument lebih besar atau sama dengan r dari tabel kritis. Kisi-kisi instrument berupa kuesioner kepada siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Indikator Peranan Guru: Perencanaan pembelajaran Proses pembelajaran Evaluasi mengajar Jumlah Peranan Komite Sekolah: sebagai badan pertimbangan sebagai badan pendukung sebagai badan pengawas sebagai badan penghubung Jumlah Prestasi belajar siswa Dilihat dari raport siswa Jumlah Semester ganjil dan genap 90 siswa 90 1 s/d 8 9 s/d 16 17 s/d 25 26 s/d 35 1 s/d 7 8 s/d 29 30 s/d 35 7 22 6 35 8 8 9 10 35 Nomor Butir Jumlah Butir

Pengujian validitas dan reabilitas kisi-kisi penyebaran instrument angket menggunakan metode Guttman Split-half coefisien. Dari perhitungan menggunakan software SPSS for windows seri 16.0.1 didapatkan reabilitas untuk butir-butir pertanyaan peranan guru sebanyak 35 soal adal 6 soal reabilitasnya lebih kecil dari r tabel, namun secara keseluruhan nilai reabilitasnya sebesar 0,692 lebih besar dari r tabel
(0,207)

sedangkan untuk uji reabilitas pada butir-butir pertanyaan

peranan Komite Sekolah sebanyak 35 soal ada 10 soal yang reabilitasnya lebih kecil dari r tabel namun secara umum reabilitas peranan Komite Sekolah sebesar 0,636 dan nilai ini lebih besar dari r tabel (0,207). Dengan membandingkan kedua besaran tersebut ternyata besaran reabilitas hasil hitungan lebih besar dari r kritis (0,207), artinya kisi-kisi penyebaran butir-butir soal untuk peranan guru dan Komite Sekolah sudah valid dan reliable atau handal.

H. Teknik dan Prosedur Analisa Data Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran peranan guru, Komite Sekolah, dan prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis inferensial digunakan untuk menguji hipotesis pengaruh peranan guru dan Komite Sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Untuk keperluan tersebut digunakan rumus persamaan analisis regresi ganda sebagai berikut; Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan: Y X1 X2 a b = prestasi belajar siswa = peranan guru = peranan Komite Sekolah = konstanta = koefisien hubungan peranan guru dan Komite Sekolah terhadap peningkatan prestasi belajar siswa73.

73

Sugiono. : Statistik untuk Penelitian (Cet.- : Bandung: Alfabeta, 2002) h. 244.

Proses perhitungan rumus tersebut diatas untuk hasil analisis regresi ganda dilakukan dengan bantuan perangkat lunak program SPSS for Windows seri 16.0.1. Penggunaan prosuder dalam penelitian ini lebih disesuaikan dengan analisis kebutuhan dan kemampuan peneliti sendiri tanpa bermaksud mengurangi prosedur yang berlaku. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan 1) Tahap persiapan Pada tahap ini pelaksanaan penelitian dimulai dengan studi pendahuluan pada lokasi penelitian, yakni dengan mengunjungi lokasi penelitian untuk mengetahui peranan guru dan Komite Sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negri Model Makassar, mengurus administrasi dan izin penelitian, selama dua bulan (Pebruari s/d Maret 2008). 2) Tahap pengumpulan data Pada tahap ini diawali dengan melakukan studi pustaka. Dalam hal peneliti mencari data sebanyak mungkin dengan jalan membaca literature buku-buku yang ada hubungannya dengan persoalan yang diabahas. Selanjutnya disusun rencana serta instrument-instrumen penelitian yang berupa observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi 74. Dan melakukan penelitian di Madrasah Tsanawiah (MTs) Negeri Model Makassar selama 3 bulan (April s/d Juli 2008). 3) Pengolahan data Pengolahan data memerlukan waktu dua bulan (Agustus s/d September 2008) dengan tahap pengolahan data sebagai berikut: a. Tahap Editing

74

Husaini Usman (et. Al), Metodologi Penelitian Sosial (Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 73.

Tahap ini merupakan penyelesaian data atas kemungkinan kesalahan jawaban yang diberikan oleh para responden, untuk direvisi atau diperbaiki agar diperoleh data yang lebih sempurna. b. Tahap Koding Tahap ini merupakan tahap pemberian kode-kode tertentu terhadap data yang terkumpul dari lapangan guna memudahkan proses pengklarifikasian data. c. Tahap Tabulasi d. Tahap ini dimaksudkan untuk mengelompokkan jawaban-jawaban responden yang serupa secara sistematis yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel tunggal. Secara teknis penulisan tesis ini mengacu kepada pedoman penulisan karya ilmiah tahun 2007 yang diterbitkan oleh Biro Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar75.

I. Uji Persyaratan Instrumen 1. Uji Validitas Suatu instrument dikatakan valid apabila menunjukkan kesahihan suatu yang hendak diukur dan mampu mengungkapkan data variabel yang akan diteliti secara tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiono yang mengatakan bahwa Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur yang seharusnya diukur76. Validitas yang digunakan dalam angket ini adalah validitas konstruktif, yang pengujian validitasnya dilakukan dengan melakukan analasis tiap butir pertanyaan. Proses pengujian dilakukan dengan cara menganalisis setiap item dalam masing-masing aspek dari persepsi

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Biro Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tahun 2007). 76 Sugiono. : Statistik untuk Penelitian. Op. Cit h. 99 lihat juga Suharsimi Arikunto; Prosedur Penelitian. Op. Cit. h. 168.

75

tentang perlunya peranan guru (X1) dan perlunya peranan majelis madrasah (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y). Dengan proses perhitungannya menggunakan software SPSS for Windows seri 16.0.1.

2. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa instrument cukup dapat dipercaya untuk di gunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument itu sudah baik77. Pada penelitian ini, analisis reliabilitas menggunakan pengujian reliabilitas internal dengan rumus Spearmen-Brown dan Guttman (spilthalf Method) yang

pehitunganyadilakukan dengan software SPSS for windows seri 16.0.1. untuk mengetahui tinggi rendahnya reliabilitas (r) menggunakan kriteria berikut : Nilai di atas 1,00 :sempurna Nilai (0,80-1,00) :tinggi sekali Nilai (0,60-0,80) :tinggi Nilai (0,40-0,60) :sedang Nilai (0,20-0,40) :rendah Nilai (0,00-0,20) :rendah sekali78

77 78

Suharsimi Arikunto; Prosedur Penelitian, Op. Cit h. 180. Ibid

OUT LINE

UPAYA GURU MATA PELAJARAN AGAMA ISLAM DALAM MENGATASI PRILAKU KENAKALAN SISWA MADRASAH ALIAH DDI ALLIRITENGAE DI KABUPATEN MAROS

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Defenisi Operasional Variabel D. Tujuan Penelitian E. Tinjauan Pustaka F. Metodologi Penelitian G. Garis Besar Isi Tesis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Upaya Guru Mata Pelajaran Agama Islam 1. Upaya Guru Mata Pelajaran Agama Islam dalam menangatasi Kenakalan Siswa Madrasah Aliyah DDI Alliritengae Kabupaten Maros a. Upaya Guru Mata Pelajaran Agama Islam secara fungsional b. Tantangan Guru Mata Pelajaran Agama Islam dalam mengatasi prilaku kenakalan siswa Madrasah Aliyah DDI Alliritengae

2. Eksistensi

Guru

Mata

Pelajaran

Agama

Islam

ditengah-tengah

stakeholder pendidikan

B. Potret kenakalan Siswa Madrasah Aliyah DDI Alliritengae Maros. 1. Gambaran kenakalan siswa secara umum

Kabupaten

2. Kenakalan siswa di Kabupaten Maros, khususnya siswa Madrasah Aliyah DDI Alliritengae Kabupaten Maros

C. Tindakan Guru Mata Pelajaran Agama Islam 1. Tindakan Preventif 2. Tindakan Represif 3. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Variabel Penelitian B. Subjek Penelitian C. Instrumen Penelitian D. Teknik Pengumpulan Data E. Teknik Analisa Data F. Indikator Keberhasilan G. Tujuan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian B. Pembahasan

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan B. Implikasi/Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional Dan Beretika, Cet. II, Yogyakarta, grha guru printika. 2009

Abu Lubabah Husain, Al-Tarbiyah Fi Al-Sunnah Al-Nabawiyah, Riyad, Dar Alliwa, t.th Ahmad tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Cet.VII, Bandung, PT.Remaja Rosdakarya, 2007

Ade Armando, Mengupas Batas Pornografi, Copyright, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Jakarta: ISBN;979-3247-20-7, t.th A.Qadri A. Aziziy, Pendidikan Agama Untuk Membangun Etika Sosial, Cet.II Semarang ; CV. Aneka Ilmu; 2002

Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alernatif Pendekatan, Cet. IV, Jakarta, Fajar Interpratama Ofset, 2008

Burhan Bugis, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Cet.3; Jakarta: Kencana, 2008

Kartini Kartono. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, Jakarta : CV. Rajawali, 1986

Maqsood, Rugayyah Waris, 2004, Menyentuh Hati Remaja, Bandung, PT. Mizan Pustaka

Muhammad Ali. 2004, Psikologi Remaja Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2009, Muhammad Ali dan Mohammad Asrori, AKSARA,2009 Psikologi Remaja, Cet. V, Jakarta:PT.BUMI

Muhammad, Husain Fadhullah, Sayyid. 1995, Dunia Remaja, Tanya Jawab Seputar Pergaulan dan Problematika Remaja terjemahan dari buku Dunya asy-Syabab, Bandung : Pustaka Hidayah,

Pustaka Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, PT. Balai Pustaka, 2009

Ruqayyah Waris Maqsood, Menyentuh Hati Remaja, Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2004

Ridwan Saidi, 1983, Islam dan Moralitas Pembangunan, Jakarta, PT. Pustaka Panjimas, 1984

Sattu Alang, Kesehatan Mental Dan Terapi Islam, Cet. I, Makassar: CV.BERKAH UTAMI, 2001

Sanapiah, Faisal, 1989, Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada 1999

Sudarsono. 1991, Kenakalan Remaja Jakarta : PT. Asdi Mahasatya, 2004

Suhardi, Bergiat Dalam Penelitian Ilmiah Remaja, Jogjakarta, FLAMINGGO, 2009 Suharsimin Arikunto, Prosedur Penelitian Cet. 11; Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1998

Syafrudin, 1993, Mengenal dan Memehami Masalah Remaja, Jakarta, PT. Pustaka Antara

Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2004

Syafrudin, Mengenal dan Memahami Masalah Remaja, Jakarta, Pustaka Antara, 1993

Yusuf, Syamsu. 2004, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya

Zakiah DarajatMembina Nilai-Nilai Moral di Indonesia Jakarta, Bulan Bintang, 1977

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: BP.DHARMA BHAKTI, 2003

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Cet. I; Jakarta; PT.SINAR GRAFIKAK 2006

http://www,anneahira.com/narkoba/Indeks.htm. diakses tangga l 7 maret 2010

Ahmad azat rajah, usul ilmi al-nafsi, cet.7, 1968, hal. 520 " " : :