Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II DIODA SEBAGAI PENYEARAH

Oleh

Nama NIM Kelompok

: I Putu Adi Susanta : 1108255009 : I

Tanggal Praktikum : 24 April 2012 Dosen Asisten Dosen : Drs. Ida Bagus Alit Paramartha, MSi. : 1. Ni Wayan Meri Monika Sari 2. Ni Luh Meri Handayani

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2012

I.

Tujuan Tujuan dari percobaan ini adalah: 1. Mempelajari sifat dan penggunaan diode sebagai penyearah arus 2. Mempelajari penggunaan osiloskop

II.

Dasar Teori 2.1 Osiloskop Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang dapat memetakan sinyal listrik. Pada kebanyakan aplikasi, grafik yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana sinyal berubah terhadap waktu. Layar osiloskop dibagi atas 8 kotak skala besar dalam arah vertikal dan 10 kotak dalam arah horizontal. Tiap kotak dibuat skala yang lebih kecil. Sejumlah tombol pada osiloskop digunakan untuk mengubah nilai skala-skala tersebut. Osiloskop Dual Trace dapat memperagakan dua buah sinyal sekaligus pada saat yang sama. Cara ini biasanya digunakan untuk melihat bentuk sinyal pada dua tempat yang berbeda dalam suatu rangkaian elektronik. Kadang-kadang sinyal osiloskop juga dinyatakan dengan 3 dimensi. Sumbu vertical (Y) merepresentasikan tegangan V dan sumbu horizontal (X) menunjukkan besaran waktu t. Tambahan sumbu Z merepresentasikan intensitas tampilan osiloskop. Tetapi bagian ini biasanya diabaikan karena tidak dibutuhkan dalam pengukuran.

Gambar 2.1 Tampilan osiloskop

Wujud/bangun dari osiloskop mirip sebuah pesawat televisi dengan beberapa tombol pengatur. kecuali terdapat garis-garis (grid) pada layarnya. Osiloskop sangat penting untuk analisa rangkaian elektronik. Osiloskop penting bagi para montir alat-alat listrik, para teknisi dan peneliti pada bidang elektronika dan sains karena dengan osiloskop kita dapat mengetahui besaranbesaran listrik dari gejala-gejala fisis yang dihasilkan oleh sebuah transducer. Kegunaan osiloskop yaitu: Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya terhadap waktu Mengukur frekuensi signal yang berosilasi Mengecek jalannya suatu signal pada sebuah rangkaian listrik Membedakan arus AC dengan arus DC Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu

Gambar 2.2 Osiloskop 2.2 Dioda Dalam elektronika, diode adalah komponen aktif bersaluran dua (diode termionik mungkin memiliki saluran ketiga sebagai pemanas). Diode mempunyai dua elektroda aktif dimana isyarat listrik dapat mengalir, dan kebanyakan diode digunakan karena karakteristik satu arah yang dimilikinya. Diode varicap (VARIable CAPacitor/kondensator variabel) digunakan sebagai kondensator terkendali tegangan.

Sifat kesearahan yang dimiliki sebagian besar jenis diode seringkali disebut karakteristik menyearahkan. Fungsi paling umum dari diode adalah untuk memperbolehkan arus listrik mengalir dalam suatu arah (disebut kondisi panjar maju) dan untuk menahan arus dari arah sebaliknya (disebut kondisi panjar mundur). Karenanya, diode dapat dianggap sebagai versi elektronik dari katup pada transmisi cairan.

Gambar 2.3 Diode Diode sebenarnya tidak menunjukkan kesearahan hidup-mati yang sempurna (benar-benar menghantar saat panjar maju dan menyumbat pada panjar mundur), tetapi mempunyai karakteristik listrik tegangan-arus tak linear kompleks yang bergantung pada teknologi yang digunakan dan kondisi penggunaan. Beberapa jenis diode juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk penggunaan penyearahan. Saat ini diode yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium.

Gambar 2.4 Simbol diode Sebagian besar diode saat ini berdasarkan pada teknologi pertemuan p-n semikonduktor. Pada diode p-n, arus mengalir dari sisi tipe-p (anoda) menuju sisi tipe-n (katoda), tetapi tidak mengalir dalam arah sebaliknya.

Tipe lain dari diode semikonduktor adalah diode Schottky yang dibentuk dari pertemuan antara logam dan semikonduktor (sawar Schottky) sebagai ganti pertemuan p-n konvensional. Karakteristik arustegangan dari diode, atau kurva IV, berhubungan dengan perpindahan dari pembawa melalui yang dinamakan lapisan penipisan atau daerah pemiskinan yang terdapat pada pertemuan p-n di antara semikonduktor. Ketika pertemuan p-n dibuat, elektron pita konduksi dari daerah N menyebar ke daerah P dimana terdapat banyak lubang yang menyebabkan elektron bergabung dan mengisi lubang yang ada, baik lubang dan elektron bebas yang ada lenyap, meninggalkan donor bermuatan positif pada sisi-N dan akseptor bermuatan negatif pada sisi-P. Daerah disekitar pertemuan p-n menjadi dimiskinkan dari pembawa muatan dan karenanya berlaku sebagai isolator. Walaupun begitu, lebar dari daerah pemiskinan tidak dapat tumbuh tanpa batas. Untuk setiap pasangan elektron-lubang yang bergabung, ion pengotor bermuatan positif ditinggalkan pada daerah terkotori-n dan ion pengotor bermuatan negatif ditinggalkan pada daerah terkotori-p. Saat penggabungan berlangsung dan lebih banyak ion ditimbulkan, sebuah medan listrik terbentuk di dalam daerah pemiskinan yang memperlambat penggabungan dan akhirnya menghentikannya. Medan listrik ini menghasilkan tegangan tetap dalam pertemuan.

Gambar 2.5 Berbagai jenis diode semikonduktor 2.3 Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang Rangkaian penyearah gelombang merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mengubah arus bolak-balik (Alternating Current/AC) menjadi arus searah (Direct Current/DC). Komponen elektronika yang berfungsi sebagai penyearah

adalah diode, karena diode memiliki sifat hanya memperbolehkan arus listrik melewati-nya dalam satu arah saja. Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang merupakan rangkaian

penyearah sederhana yang hanya dibangun menggunakan satu diode saja, seperti diilustrasikan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.6 Rangkaian penyearah setengah gelombang Prinsip kerja dari rangkaian penyearah setengah gelombang ini adalah pada saat setengah gelombang pertama (puncak) melewati diode yang bernilai positif menyebabkan diode dalam keadaan forward bias sehingga arus dari setengah gelombang pertama ini bisa melewati diode. Pada setengah gelombang kedua (lembah) yang bernilai negatif menyebabkan diode dalam keadaan reverse bias sehingga arus dan setengah gelombang kedua yang bernilai negatif ini tidak bisa melewati diode. Keadaan ini terus berlanjut dan berulang sehingga menghasilkan bentuk keluaran gelombang seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.7 Grafik penyearah setengah gelombang

Dari gambar di atas, gambar kurva D1-anoda (biru) merupakan bentuk arus AC sebelum melewati diode dan kurva D1-katoda (merah) merupakan bentuk arus AC yang telah dirubah menjadi arus searah ketika melewati sebuah diode. Pada gambar tersebut terlihat bahwa ketika gelombang masukan bernilai positif, arus dapat melewati diode tetapi ketika gelombang masukan bernilai negatif, arus tidak dapat melewati diode. Karena hanya setengah gelombang saja yang bisa di searah-kan, itu sebabnya mengapa disebut sebagai Penyearah Setengah Gelombang. Rangkaian penyearah setengah gelombang ini memiliki kelemahan pada kualitas arus DC yang dihasilkan. Arus DC rata-rata yang dihasilkan dari rangkaian ini hanya 0,32 dari arus maksimum-nya, jika dituliskan dalam persamaan matematika adalah sebagai berikut : IAV = 0,32IMAX .............................................. (1)

Oleh sebab itu rangkaian penyearah setengah gelombang lebih sering digunakan sebagai rangkaian yang berfungsi untuk menurunkan daya pada suatu rangkaian elektronika sederhana dan digunakan juga sebagai demodulator pada radio penerima AM. 2.4 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh Ada beberapa jenis rangkaian penyearah gelombang penuh dimana rangkaian penyearah ini dapat menyearahkan satu gelombang penuh (puncak dan lembah). Dua rangkaian penyearah gelombang penuh yang sering digunakan dalam dunia elektronika adalah penyearah gelombang penuh menggunakan rangkaian diode jembatan dan yang kedua adalah penyearah gelombang penuh menggunakan center tap design. Rangkaian diode jembatan adalah rangkaian penyearah gelombang penuh yang paling populer dan paling banyak digunakan dalam rangkaian elektronika. Rangkaian diode jembatan menggunakan empat diode sebagai penyearah-nya seperti diperlihatkan pada gambar berikut.

Gambar 2.8 Rangkaian penyearah gelombang penuh Prinsip kerja dari rangkaian diode jembatan ini adalah ketika arus setengah gelombang pertama terminal AC-Source bagian atas bernilai positif, sehingga arus akan mengalir ke beban (R-Load) akan melalui D2 (forward bias) dan dari R-Load akan dikembalikan ke AC-Source melalui D3. Hal ini diperlihatkan pada ilustrasi gambar di bawah ini, dimana jalur arus yang di searah-kan diberi warna merah.

Gambar 2.9 Ilustrasi rangkaian diode jembatan setengah gelombang pertama Sedangkan pada setengah gelombang kedua, terminal AC-Source bagian bawah yang kini bernilai positif sehingga arus yang mengalir ke beban (R-Load) akan melalui D4 (forward bias) dan dari R-Load akan dikembalikan ke ACSource melalui D1. Hal ini diperlihatkan pada ilustrasi gambar di bawah ini, dimana jalur arus yang di searah-kan diberi warna merah.

Gambar 2.10 Ilustrasi rangkaian diode jembatan setengah gelombang kedua Sehingga setengah gelombang pertama dan kedua dapat di searah-kan dan inilah mengapa rangkaian diode jembatan ini disebut sebagai rangkaian Penyearah Gelombang Penuh. Sedangkan rangkaian penyearah gelombang penuh yang menggunakan center tap design digunakan pada sumber arus bolak-balik (AC) yang memiliki Center Tap (CT) contohnya pada transformator CT. Pada rangkaian penyearah gelombang penuh center tap design hanya menggunakan dua diode sebagai penyearah-nya. Contoh penyearah center tap design diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.11 Penyearah center tap design

Prinsip kerja dari rangkaian penyearah center tap design ini adalah pada saat arus setengah gelombang pertama pada AC-Source1 bernilai positif, maka arus akan mengalir ke beban (R-Load) melalui D1 (forward bias). Sedangkan pada arus setengah gelombang pertama pada AC-Source2 bernilai negatif akan ditahan (blocking) oleh D2 (reverse bias) sehingga tidak dapat mengalir ke beban, hal ini diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar 2.12 Prinsip kerja penyearah center tap design Pada arus setengah gelombang kedua pada AC-Source1 bernilai negatif sehingga arus ditahan (blocking) oleh D1 (reverse bias) dan tidak dapat mengalir ke beban, tetapi sebaliknya pada saat arus setengah gelombang kedua pada ACSource2 bernilai positif, maka arus akan mengalir ke beban (R-Load) melalui D2 (forward bias). Sehingga menghasilkan penyearah gelombang penuh dari AC ke DC, seperti diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar 2.13 Prinsip kerja center tap design setengah gelombang kedua Arus DC rata-rata yang dihasilkan dari rangkaian penyearah gelombang penuh ini adalah dua kali dari arus rata-rata yang dihasilkan oleh penyearah setengah gelombang yakni :

IAV = 0,64 IMAX

.................................................................................

(2)

Jika AC dan CT disearahkan, hasilnya akan diperoleh dua arus searah (DC) dengan dua polaritas yang berbeda atau biasa disebut sebagai Penyearah Gelombang Penuh Polaritas Ganda.

Gambar 2.14 Penyearah gelombang penuh polaritas ganda Dari rangkaian di atas dapat dihasilkan arus searah (DC) dengan dua polaritas yang berbeda yakni (+)VDC dan (-)VDC. Biasanya penyearah jenis ini banyak digunakan pada rangkaian catu daya penguat suara (audio amplifier). Memperhalus Keluaran Penyearah Gelombang Penuh Kurva keluaran arus dan tegangan dari penyearah gelombang penuh terlihat tidak linear dan ini mengakibatkan timbul-nya noise. Noise yang dihasilkan pada penyearah gelombang penuh ini masih tinggi dan tidak layak untuk digunakan sebagai catu daya perangkat elektronika yang membutuhkan noise rendah. Oleh sebab itu untuk memperhalus keluaran dari penyearah gelombang agar menghasilkan keluaran yang linear dan noise yang rendah maka keluaran harus disaring (filtering) menggunakan kapasitor.

Gambar 2.15 Penempatan kapasitor Kapasitor yang digunakan untuk memperhalus keluaran penyearah gelombang penuh adalah kapasitor dengan kapasitas yang besar (Electrolytic Capacitor / Elco), antara beberapa ratus mikro farad sampai dengan beberapa farad. Berikut ini merupakan bentuk keluaran dari rangkaian penyearah gelombang penuh yang di plot berdasarkan nilai C-Filter yang digunakan. Keterangan: AC-Source = 12VAC-50Hz D1 D4 = 1N4007 R-Load = 1k

Gambar 2.16 Bentuk keluaran dengan berbagai macam kapasitor

Dari perbandingan kurva di atas terlihat bahwa semakin besar nilai C-Filter yang gunakan maka keluaran tegangan DC dari penyearah gelombang penuh semakin halus dan linear. III. Alat dan Bahan 1. Osiloskop 2. Voltmeter 3. Rangkaian penyearah setengah dan satu gelombang 4. Multimeter

IV. Prosedur Percobaan

Gambar 4.1 Rangkaian penyearah Untuk penyearah setengah gelombang, penyearah setengah gelombang tanpa perata dihubungkan dan diamati bentuk gelombang pada osiloskop. Tegangan rangkaian diukur dengan menggunakan voltmeter. Kemudian perata dihubungkan dan diamati bentuk gelombang pada osiloskop.puncak dan lembah dibaca pada osiloskop. Untuk penyearah satu gelombang, penyearah satu gelombang tanpa perata dihubungkan dan diamati bentuk gelombang pada osiloskop. Tegangan rangkaian diukur dengan menggunakan voltmeter. Kemudian kapasitor dihubungkan dan diamati bentuk gelombang pada osiloskop.puncak dibaca pada osiloskop. Untuk menentukan tegangan puncak, sumber AC diukur dengan menggunakan voltmeter.

V.

Data Pengamatan 5.1 Gambar Penyearah Setengah Gelombang Tanpa Perata.

5.2

Gambar Penyearah Setengah Gelombang dengan Perata.

5.3

Gambar Penyearah Satu Gelombang Tanpa Perata.

5.4

Gambar Penyearah Satu Gelombang dengan Perata.

5.5

Tabel Tegangan Rangkaian pada Penyearah Setengah Gelombang Tanpa Perata V (Volt) 10,3 10,4 10,3 10,4 10,2

Percobaan I II III IV V

5.6

Tabel Tegangan Rangkaian pada Penyearah Setengah Gelombang dengan Perata. V (Volt) 15,9 15,9 16 16,1 16,3

Percobaan I II III IV V

5.7

Tabel Tegangan Rangkaian pada Penyearah Satu Gelombang Tanpa Perata. V (Volt) 9,71 9,70 9,72 9,70 9,73

Percobaan I II III IV V

5.8

Tabel Tegangan Rangkaian pada Penyearah Satu Gelombang dengan perata V (Volt) 13,57 13,61 13,60 13,59 13,58

Percobaan I II III IV V

VI. Analisa 6.1 Perhitungan 6.1.1 Penyearah Setengah Gelombang 1. Perhitungan nilai terbaik dari tegangan setengah gelombang tanpa perata.

V1 V2 V3 V4 V5 5
10,3 10,4 10,3 10,4 10,2 5 51,6 5

V 10 ,32 volt

2.

Perhitungan nilai tegangan sebenarnya dari rangkaian penyearah setengah gelombang dengan perata.

V puncak

V1 V2 V3 V4 V5 5
15,9 15,9 16 16,1 16,3 5 80,2 5

V puncak

V puncak

V puncak 16 ,04

Maka:

16 ,04 3,14

V 5,11 volt

6.1.2 Penyearah Satu Gelombang 1. Perhitungan nilai terbaik dari tegangan satu gelombang tanpa perata.

V1 V2 V3 V4 V5 5
9,71 9,70 9,72 9,70 9,73 5

,V

V1 V2 V3 V4 V5 5
48,56 5

V 9,71 volt

2.

Perhitungan nilai tegangan satu gelombang dengan perata

V puncak

V1 V2 V3 V4 V5 5
13,57 13,61 13,60 13,59 13,58 5
67,95 5 67,95 5

V puncak

V puncak

V puncak

V puncak 13,59

Maka:

13,59 3,14

V 4,33 volt

6.2

Ralat 6.2.1 Ralat V untuk penyearah setengah gelombang tanpa perata.

No. 1 2 3 4 5

(volt)
10,3 10,4 10,3 10,4 10,2

(volt)
10,32 10,32 10,32 10,32 10,32

(volt)
-0,02 0,08 -0,02 0,08 -0,12

(volt)
0,0004 0,0064 0,0004 0,0064 0,0144

= 0,028

(v v )
n(n 1)

0,028 5(5 1)

0,028 0,0014 0,0374 20

(V v) (10 ,32 0,0374 )volt

Ralat nisbi =

v 0,0374 x100 % x100 % 0,363% V 10 ,32

Ralat praktikum = 100%-0,363% = 99,64 %

6.2.2 Ralat V untuk penyearah setengah gelombang dengan perata. No. 1 2 3 4 5 (volt)
15,9 15,9 16 16,1 16,3

(volt)
16,04 16,04 16,04 16,04 16,04

(volt)
-0,14 -0,14 -0,04 0,06 0,26 0,0196 0,0196 0,0016 0,0036 0,0676

(volt)

= 0,112

(v v )
n(n 1)

0,112 5(5 1)

0,112 0,0056 0,0748 20

(V v) (16 ,04 0,0748 )volt

Ralat nisbi =

v 0,0748 x100 % x100 % 0,47% V 16 ,04

Ralat praktikum = 100% - 0,47% = 99,53346 %

6.2.3 Ralat tegangan puncak penyearah satu gelombang tanpa perata. No. 1 2 3 4 5 (volt) 9,71 9,7 9,72 9,7 9,73 (volt) 9,712 9,712 9,712 9,712 9,712 (volt) -0,002 -0,012 0,008 -0,012 0,018 (volt) 4E-06 0,000144 6,4E-05 0,000144 0,000324

0,00068

(v v )
n(n 1)

0,00068 5(5 1)

0,00068 3,4E - 05 0,000152 20

(V v) (9,712 0,000152 )volt

Ralat nisbi =

v 0,000152 x100 % x100 % 0,00157% V 9,712

Ralat praktikum = 100% - 0,00157% = 99,998 %

6.2.4 Ralat V untuk penyearah setengah gelombang dengan perata. No. 1 2 3 4 5 (volt) 13,57 13,61 13,6 13,59 13,58 (volt) 13,59 13,59 13,59 13,59 13,59 (volt) -0,02 0,02 0,01 0 -0,01 (volt) 0,0004 0,0004 1E-04 0 1E-04

=0,001

(v v )
n(n 1)

0,001 5(5 1)

0,001 5E - 05 0,000224 20

(V v) (13,59 0,000224 )volt

Ralat nisbi =

v 0,000224 x100 % x100 % 0,001645% V 13,59

Ralat praktikum = 100% - 0,001645% = 99,998 %

6.3

Grafik

Grafik Hubungan Penyearah dengan Tegangan


1200 tegangan X 10-2(volt) 1000 800 600 400 200 0 1/2 gelombang tanpa perata 1/2 gelombang dengan perata 1 gelombang tanpa perata 1 gelombang dengan perata

penyearah

VII. Pembahasan Dalam percobaan dioda sebagai penyearah arus digunakan tiga objek percobaan yaitu rangkaian penyearah yang berfungsi yaitu mengubah arus AC (arus bolak balik) menjadi arus DC (arus searah). Osiloskop berfungsi sebagai penampil gelombang tegangan pada rangkaian penyearah, dan voltmeter berfungsi sebagai pengukur tegangan antara rangkaian tersebut. Pada percobaan pertama yaitu penyearah setengah gelombang, dengan input yaitu arus listrik bolak-balik mempunyai tegangan puncak sebesar (10,32 0,0374)volt bentuk gelombang rangkaian penyearah setengah gelombang tanpa perata yang tampak pada osiloskop adalah seperti gelombang pada umumnya yaitu sinusoidal tetapi hilang di bagian kartesius negatifnya atau bisa disebut juga gelombang setengah periode dan setelah dihubungkan peratanya maka gambar gelombang setengah periode yang hilang akan menjadi sebuah garis miring. Hal ini membuktikan bahwa diode adalah sebagai penyearah arus. Dalam rangkaian penyearah setengah gelombang, hasil penyearah hanya pada bagian positif yaitu setengah dari panjang gelombang dari tegangan bolak-balik. Rangkaian penyearah setengah gelombang ini tidak efisien karena cuma setengah arus saja yang dimanfaatkan. Untuk itu setengah arus sisanya harus disearahkan kembali.

Pada percobaan kedua yaitu penyearah satu gelombang, dengan input yaitu arus listrik bolak-balik dengan tegangan puncak yaitu sebesar (13,59 0,000224)volt bentuk gelombang rangkaian penyearah satu gelombang tanpa perata yang tampak pada osiloskop adalah gelombang sinusoidal tanpa adanya pemutusan pada salah satu kartesius. Itu terjadi karena dua bagian arus sudah disearahkan (satu gelombang). Dan setelah kapasitor dihubungkan, salah satu bagian gelombang akan menjadi garis miring sehingga gelombang hanya pada satu bagian kartesius saja. Rangkaian ini lebih efisien dibandingkan dengan rangkaian penyearah setengah gelombang tetapi rangkaian ini memiliki kelemahan yaitu banyaknya noise yang terjadi pada rangkaian. Untuk mereduksi noise-noise tersebut pada rangkaian dipasang sebuah kapasitor yang berfungsi sebaga filter untuk menyaring noise yang ada pada rangkaian sehingga rangkaian penyearah gelombang penuh layak untuk digunakan pada catu daya perangkat elektronika yang membutuhkan noise rendah. VIII. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada percobaan kali ini yaitu: 1. Dioda adalah komponen yang fungsinya sebagai penyearah arus dari AC menjadi DC 2. Rangkaian penyearah yaitu rangkaian yang pada bagiannya terdapat diode dan berfungsi sebagai penyearah arus AC menjadi DC 3. Bila perata tidak dihubungkan, penyerah setengah gelombang akan membentuk gelombang sinusoidal setengah periode dan jika dihubungkan gelombang akan menjadi sinusoidal satu periode. 4. Bila perata tidak dihubungkan, penyerah satu gelombang akan membentuk gelombang sinusoidal satu periode dan jika dihubungkan gelombang akan menjadi sinusoidal satu periode dengan puncaknya membentuk garis miring. 5. Nilai tegangan rangkaian yang ditunjukkan oleh voltmeter pada penyearah setengah gelombang adalah (10,32 0,0374)volt . 6. Nilai tegangan rangkaian yang ditunjukkan oleh voltmeter pada penyearah satu gelombang adalah (13,59 0,000224)volt .

DAFTAR PUSTAKA

Paramartha, ida bagus ali., putu erika winasri .2012.Penuntun Praktikum Fisika Dasar.Bali. Laboratotium Fisika Dasar Universitas Udayana. Serway Jewett, Physics for scientist and engineers 6th edition, year 2004

Resnick, Haliday. 1991. Fisika Jilid I ( terjemahan). Jakarta: Erlangga Sedra, A dan Smith, K. 2004. Microelectronic circuits 5th edition. Oxford University Press.

Shortly, George and Dudley Williams. Principles of Collage Physics, Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs. N.J. : USA.