Anda di halaman 1dari 11

Proposal Perencanaan Kesehatan MARASMUS

Disusun Oleh: Andi Hidayat, S.Ked 04108705043

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya 2011

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas makalah yang berjudul

: Perencanaan Program Pelayanan Kesehatan Pada Marasmus

Oleh

: Andi Hidayat (04108705043)

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 21 November 2011 16 Januari 2012.

Palembang, Desember 2011 Pembimbing,

Dr. Dr. H. Fachmi Idris, M.Kes.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, rasa syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas karunia dan rahmat-Nya jualah tugas proposal dengan judul Perencanaan Program Pelayanan Kesehatan pada Marasmus ini dapat diselesaikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. H. Fachmi Idris, M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan ilmunya baik dalam menyelesaikan proposal ini, maupun pada kesempatan lainnya.Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan proposal ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan. Penulis berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat dalam merencanakan program pelayanan kesehatan pada Marasmus. Amin.

Palembang, Desember 2011

Penulis

PENDAHULUAN
I. Pengertian dan Prevalensi Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang sering ditemui pada Balita. Penyebabnya multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan serta ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi dan keadaan ekonomi yang tidak menguntungkan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis; untuk menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit lain. Pencegahan terhadap marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein dan penatalaksanaan di rumah sakit yang dibagi atas: tahap awal, tahap penyesuaian dan rehabilitasi. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 825 juta orang yang menderita gizi buruk pada tahun 20002002, dan 815 juta diantaranya hidup di negara berkembang. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (balita). Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas (Survei Sosial dan Ekonomi Nasional) tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8,8%. Dari anak yang menderita gizi buruk tersebut ada 150.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit.1 Masalah gizi kurang dan gizi buruk terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota. Pada saat ini masih terdapat 110 Kabupaten / Kota dari 440 Kabupaten / Kota di Indonesia yang mempunyai prevalensi di atas 30% (berat badan menurut umur). Menurut WHO keadaan ini masih tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data statistik kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, enam persen atau sekira 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun (balita). Depkes juga telah melakukan pemetaan dan hasilnya menunjukkan bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di

Indonesia. Indikasinya 2-4 dari 10 balita menderita gizi kurang. Marasmus merupakan keadaan di mana seorang anak mengalami defisiensi energi dan protein sekaligus. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan. Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di negara-negara berkembang. Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yang terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di negara berkembang berkaitan dengan defisiensi energidanproteinsekaligus. Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Arif di RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di lndonesia. II. Faktor-faktor penyebab Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor tersebut saling berkaitan. Secara langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama dan anak menderita penyakit infeksi. Anak yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai, dan sanitasi / kesehatan lingkungan kurang baik, serta akses pelayanan kesehatan terbatas. Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus2 Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut: 1. Masukan makanan yang kurang,3,4,5 Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.

2. Infeksi4,5,6 Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital. 3. Kelainan struktur bawaan3,5 Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas. 4. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus3,7 Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat.
5. Pemberian ASI3,7

Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
6. Gangguan metabolik3,7

Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance.


7. Tumor hypothalamus3

Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah disingkirkan.
8. Penyapihan8

Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus.
9. Urbanisasi8

Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus; meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.

Faktor risiko yang berpengaruh dalam terjadinya marasmus ditinjau dari teori Blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu : faktor biologi, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan dan faktor perilaku. Faktor biologi 1. Prematuritas 2. BBLR 3. Gangguan metabolik 4. Usia balita 5. Mutasi gen permanen. Faktor lingkungan 1.Tingkat pendidikan rendah yang sehingga Faktor pelayanan Faktor perilaku 1. Kurang pengetahuan tentang sarana kandungan ASI Kurang pengetahuan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif sampai usia anak 6 bulan 3. Kurangnya pengetahuan tentang makanan pendamping ASI yang bergizi.

kesehatan 1. Kurangnya pengetahuan tenaga kesahatan

masyarakat kurang 2. Kurangnya mengetahui tentang yang bergizi 2.Lingkungan dengan sanitasi yang yang kurang baik 3.Kemiskinan melanda Indonesia mengakibatkan banyak memenuhi kebutuhan pangan 4.Kurangnya lapangan pekerjaan sehingga masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangan 5.Masih tabu menganut atau hal dalam pantangan tidak dalam keluarga yang tidak dapat makanan sehat memadai.

dan prasarana yang 2. dan 3. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi gizi kurang (marasmus) 4. Ketidak terjangkauan pelayanan kesehatan karena yang posisi penduduk 5. Kurangnya edukasi dari dokter untuk kontrol ulang ke poli gizi terhadap penderita marasmus yang sudah keluar dari rumah sakit. letaknya jauh dari pemukiman

menggunakan makanan tertentu dan adat kebiasaan yang merugikan.

III.

Faktor yang paling berpengaruh. Faktor yang sangat berpengaruh terjadinya marasmus adalah kurangnya pengentahuan masyarakat mengenai makanan yang sehat dan bergizi serta ketidakmampuan masyarakat dalam membeli makanan akibat kemiskinan .

IV.

Akar-akar permasalahan. Akar masalah marasmus sangat berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga.

V.

Akar masalah utama. Yang menjadi akar permasalah utama tingginya angka kejadian gizi buruk marasmus di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dan pemberdayaan wanita, para ibu khususnya, dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Keadaan tersebut semakin memperberat kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai.

VI.

Rencana program kegiatan. Pilihan program untuk menurunkan angka kejadian kwashiorkor adalah 1. Pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi Pemberdayaan keluarga adalah proses dimana keluarga-keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan gizi bekerja bersama-sama menanggulangi masalah yang mereka hadapi. Cara terbaik untuk membantu mereka adalah ikut berpartisipasi dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Upaya perbaikan gizi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kemandirian dengan fokus keluarga mandiri sadar gizi dengan harapan mereka dapat

mengenal dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan operasional yang dilaksanakan adalah: 1. 2. Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka survey mawas diri masalah gizi keluarga. Asuhan dan konseling gizi Pada akhir tahun 2005, 50% institusi pelayanan kesehatan telah melaksanakan asuhan dan konseling gizi bagi keluarga dengan tenaga profesional dengan menggunakan tatalaksana asuhan dan konseling gizi. 2. Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memerangi kelaparan dan peduli terhadap masalah gizi yang muncul di masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penanggulangan masalah gizi makro, sehingga akan tercipta komitmen yang baik antara masyarakat dan petugas. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat adalah: a. Pemberdayaan ekonomi mikro Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor terutama dalam rangka income generating b. Advocacy Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan baik teknis maupun non teknis dari pemerintah daerah setempat untuk memobilisasi sumber daya masyarakat yang dimiliki c. Fasilitasi Memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka memperlancar kegiatan penanggulangan gizi makro berbasis masyarakat, misalnya home economic set untuk PMT. 3. Pemberdayaan Petugas Agar kualitas pelayanan gizi meningkat, maka diharapkan para petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan serangkaian kegiatan dalam

peningkatan peran petugas yaitu antara lain dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan baik melalui kegiatan workshop dan capacity building. 4. Subsidi langsung Subsidi diberikan dalam bentuk paket dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan kepada balita gizi buruk dan ibu hamil kurang energi kronis. Dari program kerja diatas, cara terbaik dalam menangani kasus marasmus yaitu dengan cara memberikan edukasi kepada ibu-ibu tentang makanan yang sehat bergizi dan pentingnya ASI eksklusif hingga umur anak 6 bulan, serta memberikan pengetahuan tentang cara pemberian MP ASI bagi anak-anak balita. Selain itu diperlukan kerja sama lintas sektoral karena masalah marasmus ini disebabkan oleh banyak faktor. Kemiskinan adalah yang paling mendasar. Kemiskinan menyebabkan masyrakat tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Oleh karena itu peran pemerintah sangat besar dalam melakukan berbagai program gerakan penyadaran dan pemberdayaan masyarakat. Membuka lapangan pekerjaan yang baru merupakan salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan.

Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat

Bina Gizi Masyarakat, Sistem Kewaspadaan Dini KLB-Gizi Buruk,Jakata.2008


http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/SKD-KLB-gibur.pdf.

Diakses tanggal 28 November 2011.


2. Mc. Laren, DS. Protein Fatergi Malnutrition. Classification Pathogenesis, Prevalence

and Prevention. In-Mc Laren. DS, Burman D (eds) Text Book of Pediatric Nutrition, 2nd ed Churchill Livingstone, Edinburgh London1982; pp 103-13.
3. Hutchison JH. Failure To Thrive In Infancy, In : Hutchison JH. (ed).Practical

Pediatric Problem, 5th ed. Lloyd Luke Ltd, London 1980; pp 112-8.
4. Jeliffe DB. Infant Nutrition in the Subtropical and Tropical. World Health

Organization Genewa 1955; pp. 112-115.


5. Nelson WE. Malnutrition. In Nelson WE. (ed) Mitchell Nelson Text Book of

Pediatrics 5th ed.WB Saunders Co. Philadelphia & London 1950; pp. 377-80.
6. Hansen JDL, Buchanan N, Pettifor JM. Protein Energy Malnutrition (PEM) Sign and

Symptoms, Pathology, Diagnostic Tests and Treatment. In : Me Laren DS, Batman D. (eds) Text Book of Pediatric Nutrition, 2nd ed Edinburgh, London 1982; pp. 114-41.
7. Davidson SS, Passmore R. Protein Calorie Malnutrition. In: Human Nutrition and

Dietetic, 4th ed. The English Language Book Society and Churchill Livingstone London 1972; pp. 386-9.
8. Sai FT. Protein Calorie Malnutrition. In Maegraith, BG, Gilles, H.M. (ed).

Management and Treatment-of Tropical Diseases I si ed. Blackwell Scientific Publications Oxford and Edinburgh 1971; pp. 399-408.