Anda di halaman 1dari 39

Presentasi Kasus

APPENDISITIS

Identitas Pasien
Nama

: Tn. R Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 14 tahun Alamat : Jl.masjid, kampung gedong.Jaktim. Agama : Islam Pekerjaan : Pelajar

Anamnesis
Keluhan Utama

: Nyeri perut kanan bawah

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan nyeri pada perut bagian kanan bawah, dirasakan 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Nyeri yang dirasakan pertama kali timbul pada daerah ulu hati kemudian menjalar ke daerah sekitar perut dan akhirnya menetap di bagian perut kanan bawah. Nyeri yang dirasakan semakin lama semakin hebat dibandingkan pertama kali keluhan ini timbul. Nyeri terutama dirasakan jika pasien sedang berjalan. Pasien mengatakan apabila berjalan, pasien lebih nyaman dengan posisi sedikit membungkuk.

Riwayat Penyakit Sekarang


Disamping keluhan nyeri perut kanan bawah, pasien mengeluhkan adanya demam sejak mulai timbulnya nyeri. Adanya rasa mual diikuti dengan timbulnya muntah diakui oleh pasien. Penurunan nafsu makan juga dirasakan oleh pasien sejak timbulnya keluhan. BAK dirasakan tidak ada kelainan dan BAB mencret, berbau busuk, dan berlendir disangkal. Pasien masih bisa kentut.

Riwayat batuk-batuk lama yang disertai dengan keringat pada malam hari atau minum obat rutin yang membuat kencing berwarna merah disangkal oleh pasien.

Riwayat penurunan berat badan drastis

disangkal oleh pasien. Pasien juga mengalami keputihan sejak lama yaitu > 2 tahun, tidak gatal dan tidak berbau, konsistensi encer sedikit berlendir, berwarna putih kekuningan. Pasien tidak mempunyai keluhan terlambat haid dan haidnya teratur tiap bulan, hari pertama mens terakhirnya tanggal 10 Maret 2009. Nyeri yang berasal dari pinggang yang menjalar ke perut disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :


+ 7 bulan SMRS pasien mengalami nyeri pada

perut kanan bawah yang terjadi secara mendadak dan disertai dengan mual muntah, kemudian pasien meminum obat warung dan sakitnya menjadi berkurang, namun tidak hilang. Bila pasien tidak meminum obat tersebut maka sakitnya timbul lagi. Sakit yang hilang timbul tersebut terus berlangsung selama 7 bulan, dan dirasakan memberat pada 3 hari sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga pasien yang pernah menderita

penyakit seperti ini.

Anamnesis Sistem
Sistem Cerebrospinal

penglihatan dobel (-) Sistem Cardiovaskular : Berdebar-debar (-), nyeri dada (-) Sistem respiratorius : Batuk (-), sesak nafas (-) Sistem Gastrointestinal : Mual (+), muntah(+), nyeri perut kanan bawah (+), nyeri suprapubik (-) Sistem Urogenital : Nyeri saat BAK (-), sering BAK (-), rasa tidak puas saat BAK, tidak bisa BAK (-), sering BAK malam hari (-), BAK menetes (-), BAK campur darah (-), keputihan (+) Sistem Integumentum : Gatal (-), edem (-) Sistem Musculoskeletal : Kelemahan anggota gerak (), kelumpuhan anggota gerak(-)

: Nyeri kepala (-), pusing (-),

Pemeriksaan Fisik
STATUS GENERALIS

Keadaan Umum : Baik Kesadaran

Vital Sign

: E4V5M6 = GCS 15 Compos Mentis TD: 120/70 mmHg, N : 80 x/menit, R : 20 x/menit, S : 36,8 C.

Kepala Mata
Hidung Mulut Leher

: Konj. Anemis -/-, sklera ikterik -/-, reflek pupil +/+ : Epistaksis -/-, deviasi septum (-) : Tidak ada kelainan : Trakhea ditengah, pembesaran KGB (-)

Thorak
Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: Hemitorak simetris kanan dan kiri dalam keadaan statis dan dinamis : Fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri, Nyeri tekan (-) : Sonor pada kedua hemitorak : Pulmo : SN.Vesikuler kanan = kiri normal, ronki -/wheezing -/Cor : Bunyi jantung I -II murni reguler, murmur (-), Gallop (-)

Abdomen : Inspeksi : Supel, tak ada massa/benjolan, tak ada sikatrik, gambaran dan gerak usus tidakterlihat. Palpasi : Nyeri tekan kuadran kanan bawah (+), hepar/ lien tak teraba Perkusi : Timpani, nyeri ketok costovertebra (-)/(-). Auskultasi : BU (+) normal Extremitas :
Superior dextra dan sinistra :
Inspeksi

: Simetris, kelemahan anggota gerak (-), clubbing finger (-)/(-), edem (-)/(-). Palpasi : Teraba hangat (+)/(+), Edem (-)/(-), nyeri tekan (-)/(-)
Inferior dextra dan sinistra :
Inspeksi
Palpasi

: Simetris, kelemahan anggota gerak (-), Udema (-)/(-) : Teraba hangat (+)/(+), Edem (-),nyeri tekan (-)/(-)

Status Lokalis
Regio Abdominal

Inspeksi

: Perut tidak membuncit, darm countor tidak ada, venektasi tidak ada,sikatrik tidak ada. Auskultasi : Bising usus (+) normal Palpasi : Nyeri tekan (+) kuadran kanan bawah, hepar dan lien tidak teraba, defans muskular tidak ada, tidak teraba massa, ballotement tidak ada, buli-buli tak teraba. Perkusi : Timpani diseluruh lapangan abdomen Nyeri Ketok Costovertebrae (-/-)

Regio Abdomen Kuadran Kanan Bawah


Inspeksi : Tidak tampak massa dan pembesaran, tidak

ada sikatriks Palpasi : Nyeri tekan titik Mc Burney (+), tidak teraba massa.
Obturator Sign: nyeri (+) Psoas Sign : nyeri (+) Rebound Sign : nyeri (+) Rovsing Sign : negatif

Regio Anal Inspeksi : Tidak tampak massa. Palpasi : Nyeri tekan (-). Rectal toucher : Tonus sfingter ani baik, ampula rekti tidak kolaps, mukosa rectum licin, nyeri tekan di daerah jam 9 -11 Hand Scoon : feces (+), darah (-), lendir (-).

Differensial Diagnosa
Infeksi Panggul (salpingitis)
Limfadenitis Mesenterika

Pemeriksaan Penunjang
DARAH RUTIN

Hb : 13,7 Lekosit : 17.100 Trombosit : 229.000 Hematokrit : 40 Eritrosit : 4,77 Waktu perdarahan : 2 Waktu pembekuan : 830

N : 14-18g/dl N : 4000-11000 N : 150-400.000 N : 40-50% N : 3,5 5,6 N : 1-3 menit N : 9-11 menit

KIMIA KLINIK

SGOT : 18 SGPT : 16 Kolesterol total: 201 Ureum : 15 Creatinin : 0,67 GDS : 112

N : Pr : 0-31 N : Pr : 0-32 N : 100-220 mg/dl N : 10-40 mg/dl N : 0,6-1,2 mg/dl N : < 140 mg/dl

Lk : 0-37 U/L Lk : 0-42 U/L

Kimia Urin Berat Jenis urin pH urin Nitrit urin Glukosa urin Protein urin Keton urin Urobilinogenurin Bilirubin urin Mikroskopis urin

: 1,025 : 5,5 : negatif : negatif : negatif : positif (+++) : positif (++) : negatif

N : 1,002 1,030 N : 4,8 7,5 N : negatif N : negatif mg/dl N : negatif mg/dl N : negatif mg/dl N : 0,2 1 mg/dl N : negatif

Eritrosit :13 Leukosit :46 Sel Epitel : 25 30 Bakteri : negatif Kristal : negatif Silinder : negatif Test kehamilan: negatif

N : < 1 /lpk N : < 6 /lpk N : negatif N : negatif N : negatif

Diagnosa
Appendisitis kronis eksaserbasi akut

Penatalaksanaan

Konservatif : Istirahat tirah baring, analgetik, antibiotik Operatif : Appendiktomi Rehabilitatif : Motivasi bila sedang sakit, istirahat, mobilisasi jangan terlalu berat dulu

Prognosis
Ad Vitam
Ad Sanam Ad Functionam Ad Cosmeticam

: bonam : bonam : bonam : Scar pada bekas

operasi

Komplikasi

Appendicitis Perforasi Nekrosis dinding Appendix Massa Periappendiculer

APPENDICITIS

Pendahuluan
Penyakit yang sering dijumpai sehingga harus dicurigai sebagai keadaan yang paling mungkin menjadi penyebab nyeri akut abdomen Sering ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda
Insidensi tertinggi pada laki-laki pada usia 10-14

tahun, sedangkan pada perempuan pada usia 15-19 tahun

Appendicitis
Appendicitis adalah suatu peradangan pada appendix. Peradangan ini pada umumnya disebabkan oleh infeksi yang akan

menyumbat appendix

Anatomi Appendix
Suatu pipa tertutup yang sempit

yang melekat pada secum (bagian awal dari colon) Disebut juga dengan appendix vermiformis atau umbai cacing Terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis Vaskularisasinya berasal dari a.appendicularis cabang dari a.ileocolica, cabang dari a. mesenterica superior.

Patofisiologi
Appendicitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan

infeksi pada appendix. Beberapa keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen appendix oleh mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke appendix yang berasal dari secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fecalith Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam lumen appendix. Obstruksi lumen appendix disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding appendix sehingga terjadi proses infeksi. Tubuh melakukan perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman tersebut. Proses ini dinamakan inflamasi.

Patofisiologi
Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai

dinding appendix, appendix dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan menyebar mengenai abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi kuman sampai ke organ pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan mengakibatkan obstruksi pada salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi invasi kuman, tubuh akan membatasi proses tersebut dengan menutup appendix dengan omentum, usus halus atau adnexsa, sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Appendix yang ruptur juga dapat menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga terjadi septicemia.

Patofisiologi
Appendix yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan

perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang lagi dan disebut mengalami eksaserbasi akut .

Gejala Klinis

Nyeri Abdominal Mual-muntah biasanya pada fase awal. Nafsu makan menurun. Obstipasi dan diare pada anak-anak. Demam,

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :

Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendiculer Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu: Nyeri tekan di Mc. Burney. Nyeri lepas. Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal . Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang. Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata

Palpasi :

Auskultasi :

Pemeriksaan Colok Dubur


Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan

colok dubur

Tanda-Tanda Khusus
Psoas Sign Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di abdomen kanan bawah .

Tanda-Tanda Khusus
Rovsing Sign Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan bawah

Tanda-Tanda Khusus
Obturator Sign Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan bawah

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Abdominal X-Ray USG Abdomen Barium Enema CT-Scan Laparoskopi

Diagnosa Banding
Gastroenteritis Limfadenitis Mesenterica Peradangan Pelvis Kehamilan Ektopik Diverticulitis Batu Ureter Batu Ginjal

Penatalaksanaan
Bila diagnosis appendicitis akut telah ditegakkan, maka harus segera dilakukan appendektomi. Hal ini disebabkan perforasi

dapat terjadi dalam waktu < 24 jam setelah onset appendicitis.Penundaan tindakan pembedahan ini sambil diberikan antibiotik dapat mengakibatkan terjadinya abses atau perforasi

Prognosis
Mortalitas adalah 0,1% jika apendisitis akut tidak pecah

dan 15% jika pecah pada orang tua. Kematian biasanya dari sepsis, emboli paru, atau aspirasi; prognosis membaik dengan diagnosis dini sebelum rupture dan antibiotic yang lebih baik. Morbiditas meningkat dengan ruptur dan usia tua. Komplikasi dini adalah septik. Infeksi luka membutuhkan pembukaan kembali insisi kulit yang merupakan predisposisi terjadinya robekan. Abses intraabdomen dapat terjadi dari kontaminasi peritonalis setelah ganggren dan perforasi. Fistula fekalis timbul dari nekrosis suatu bagian dari sekum oleh abses atau konstriksi dari jahitan kantong atau dari pengikatan yang tergelincir. Obstruksi usus dapat terjadi dengan abses lokulasi dan pembentukan adhesi. Komplikasi lanjut mencakup pembentukan adhesi dengan obstruksi mekanis dan hernia.