Anda di halaman 1dari 18

A.

Pengertian Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD), merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang. (Malloy & Freeman 2000). RDS adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik (Stark,1986). RDS adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disesae (Suryadi, 2001). RDS adalah suatu sindrom kegawatan pada pernafasan yang terdiri atas gejala dispneu, pernafasan cepat lebih dari 60 kali permenit, sianosis, merintih pada saat ekspirasi; terdapat retraksi pada suprasternal, interkostal dan epigastrium. Pada penyakit ini terjadi perubahan paru yaitu berupa pembentukan jaringan hialin pada membran paru yang rusak. Kerusakan pada paru timbul akibat kekurangan komponen surfaktan pulmonal. Surfaktan adalah suatu zat aktif yang memberikan pelumasan pada ruang antar alveoli sehingga dapat mencegah pergesekan dan timbulnya kerusakan pada alveoli yang selanjutnya akan mencegah terjadinya kolaps paru. (Yuliani, 2001)

B.

Etiologi Penyebab kelainan ini secara garis besar adalah kekurangan surfaktan, suatu zat aktif pada alveoli yang mencegah kolaps paru.RDS seringkali terjadi pada bayi prematur, karena produksi surfaktan, yang dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, baru mencapai jumlah cukup menjelang cukup bulan. Makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadinya RDS. Kelainan merupakan penyebab utama kematian bayi prematur. Adapun penyebab-penyebab lain yaitu:

1.

Kelainan bawaan/kongenital jantung atau paru-paru. Bila bayi mengalami sesak napas begitu lahir atau 1-2 hari kemudian, biasanya disebabkan adanya kelainan jantung atau paru-paru. Hal ini bisa terjadi pada bayi dengan riwayat kelahiran normal atau bermasalah, semisal karena ketuban pecah dini atau lahir prematur. Pada bayi prematur, sesak napas bisa terjadi karena adanya kekurangmatangan dari organ paru-paru. Paruparu harusnya berfungsi saat bayi pertama kali menangis, sebab saat ia menangis, saat itu pulalah

bayi mulai bernapas. Tapi pada bayi lahir prematur, karena saat itu organnya tidak siap, misalnya gelembung paru-paru tak bisa mekar atau membuka, sehingga udara tidak masuk. Itu sebabnya ia tak bisa menangis. Ini yang namanya penyakit respiratory distress syndrome (RDS). Tidak membukanya gelembung paru-paru tersebut karena ada suatu zat, surfactan, yang tak cukup sehingga gelembung paru-paru atau unit paru-paru yang terkecil yang seperti balon tidak membuka. Ibaratnya, seperti balon kempis. Gejala pada kelainan jantung bawaan adalah napas sesak. Ada juga yang misalnya sedang menyusui atau beraktivitas lainnya, mukanya jadi biru dan ia jadi pasif. Jadi, penyakitnya itu utamanya karena kelainan jantung dan secondary-nya karena masalah pernapasan. Jadi, biasanya sesak napas yang terjadi ini tidak bersifat mendadak. Walaupun demikian, tetap harus segera dibawa ke dokter.

2.

Kelainan pada jalan napas/trakea. Kelainan bawaan/kongenital ini pun paling banyak ditemui pada bayi. Gejalanya, napas sesak dan napas berbunyi grok-grok. Kelainan ini terjadi karena adanya hubungan antara jalan napas dengan jalan makanan/esophagus. Kelainan ini dinamakan dengan trackeo esophageal fistula. Akibat kelainan itu,ada cairan lambung yang bisa masuk ke paru-paru. Tentunya ini berbahaya sekali. Sehingga pada usia berapa pun diketahuinya, harus segera dilakukan tindakan operasi. Tak mungkin bisa menunggu lama karena banyak cairan lambung bisa masuk ke paruparu. Sebelum operasi pun dilakukan tindakan yang bisa menolong jiwanya, misal dengan dimasukkan selang ke jalan napas sehingga cairan dari lambung tak bisa masuk. Biasanya sesak napasnya tampak begitu waktu berjalan 1-3 jam setelah bayi lahir. Nah, bila ada sesak napas seperti ini, prosedur yang harus dilakukan adalah dilakukan foto rontgen segera untuk menganalisanya.

3.

Tersedak air ketuban. Ada juga penyakit-penyakit kelainan perinatologi yang didapat saat kelahiran. Karena suatu hal, misalnya stres pada janin, ketuban jadi keruh dan air ketuban ini masuk ke paru-paru bayi. Hal ini akan mengakibatkan kala lahir ia langsung tersedak. Bayi tersedak air ketuban akan ketahuan dari foto rontgen, yaitu ada bayangan kotor. Biasanya ini diketahui pada bayi baru lahir yang ada riwayat tersedak, batuk, kemudian sesak napasnya makin lama makin berat. Itulah mengapa, pada bayi baru lahir kita harus intensif sekali menyedot lendir dari mulut, hidung atau

tenggorokannya. Bahkan jika tersedak air ketubannya banyak atau massive, harus disedot dari paru-paru atau paru-parunya dicuci dengan alat bronchowash. Lain halnya kalau air ketubannya jernih dan tak banyak, tak jadi masalah. Namun kalau air ketubannya hijau dan berbau, harus disedot dan dicuci paru-parunya. Sebab, karena tersedak ini, ada sebagian paru-parunya yang tak bisa diisi udara/atelektasis atau tersumbat, sehingga menyebabkan udara tak bisa masuk. Akibatnya, jadi sesak napas. Biasanya kalau di-rontgen,bayangannya akan terlihat putih. Selain itu, karena tersumbat dan begitu hebat sesak napasnya,ada bagian paru-paru yang pecah/kempes/pneumotoraks. Ini tentu amat berbahaya. Apalagi kejadiannya bisa mendadak dan menimbulkan kematian. Karena itu bila sesak napas seperti ini, harus lekas dibawa ke dokter untuk mendapatkan alat bantu napas/ventilator.

4.

Pembesaran kelenjar thymus. Ada lagi napas sesak karena beberapa penyakit yang cukup merisaukan yang termasuk kelainan bawaan juga. Gejalanya tidak begitu kuat. Biasanya bayi-bayi ini pun lahir normal, tak ada kelainan, menangisnya pun kuat. Hanya saja napasnya seperti orang menggorok dan semakin lama makin keras, sampai suatu saat batuk dan berlendir. Kejadian ini lebih sering dianggap karena susu tertinggal di tenggorokan. Namun ibu yang sensitif biasanya akan membawa kembali bayinya ke dokter. Biasanya kemudian diperiksa dan diberi obat. Bila dalam waktu seminggu tak sembuh juga, baru dilakukan rontgen. Penyebabnya biasanya karena ada kelainan pada jalan napas, yaitu penyempitan trakea. Ini dikarenakan adanya pembesaran kelenjar thymus. Sebetulnya setiap orang punya kelenjar thymus. Kelenjar ini semasa dalam kandungan berfungsi untuk sistem kekebalan. Letaknya di rongga mediastinum (diantara dua paru-paru). Setelah lahir karena tidak berfungsi, maka kelenjar thymus akan menghilang dengan sendirinya. Namun adakalanya masih tersisa: ada yang kecil, ada juga yang besar; baik hanya satu atau bahkan keduanya. Nah, kelenjar thymus yang membesar ini akan menekan trakea. Akibatnya, trakea menyempit dan mengeluarkan lendir. Itu sebabnya napasnya berbunyi grok-grok dan keluar lendir, sehingga jadi batuk. Pengobatannya biasanya dilakukan dengan obat-obatan khusus untuk mengecilkan kelenjar thymus agar tidak menekan trakea. Pemberian obat dalam waktu 2 minggu. Kalau tak menghilang, diberikan lagi pengobatan selama seminggu. Sebab, jika tidak diobati, akan menganggu pertumbuhan si bayi. Berat badan tak naik-naik, pertumbuhannya kurang, dan harus banyak minum obat.

5.

Kelainan pembuluh darah. Ada lagi kelainan yang gejalanya seperti mendengkur atau napasnya bunyi (stridor), yang dinamakan dengan vascular ring. Yaitu,adanya pembuluh darah jantung yang berbentuk seperti cincin (double aortic arch) yang menekan jalan napas dan jalan makan. Jadi, begitu bayi lahir napasnya berbunyi stridor. Terlebih kalau ia menangis, bunyinya semakin keras dan jelas. Bahkan seringkali dibarengi dengan kelainan menelan, karena jalan makanan juga terganggu. Pemberian makanan yang agak keras pun akan menyebabkannya muntah, sehingga anak lebih sering menghindari makanan padat dan maunya susu saja. Pengobatannya, bila setelah dirontgen tidak ditemui kelenjar thymus yang membesar, akan diminta meminum barium untuk melihat apakah ada bagian jalan makan yang menyempit. Setelah diketahui, dilakukan tindakan operasi, yaitu memutuskan salah satu aortanya yang kecil.

6.

Tersedak makanan. Tersedak atau aspirasi ini pun bisa menyebabkan sesak napas. Bisa karena tersedak susu atau makanan lain, semisal kacang. Umumnya karena gigi mereka belum lengkap, sehingga kacang yang dikunyahnya tidak sampai halus. Kadang juga disebabkan mereka menangis kala mulutnya sedang penuh makanan. Atau ibu yang tidak berhati-hati kala menyusui, sehingga tiba-tiba bayinya muntah. Mungkin saja sisa muntahnya ada yang masih tertinggal di hidung atau tenggorokan. Bukankah setelah muntah, anak akan menangis? Saat menarik napas itulah, sisa makanan masuk ke paru-paru. Akibatnya, setelah tersedak anak batuk-batuk. Mungkin setelah batuk ia akan tenang, tapi setelah 1-2 hari napasnya mulai bunyi. Bahkan bisa juga kemudian terjadi peradangan dalam paru-paru. Anak bisa panas karena terjadi infeksi. Yang sering adalah napas berbunyi seperti asma dan banyak lendir. Biasanya setelah dilakukan rontgen akan diketahui adanya penyumbatan/atelektasis. Pengobatan dapat dilakukan dengan bronkoskopi, dengan mengambil cairan atau makanan yang menyumbatnya. Selain makanan, akan lebih berbahaya bila aspirasi terjadi karena minyak tanah atau bensin, meski hanya satu teguk. Ini bisa terjadi karena kecerobohan orang tua yang menyimpan minyak tanah/bensin di dalam botol bekas minuman dan menaruhnya sembarangan. Bahayanya bila tersedak minyak ini, gas yang dihasilkan minyak ini akan masuk ke lambung dan menguap, kemudian masuk ke paru-paru, sehingga bisa merusak paru-paru. Akan sangat berbahaya pula kalau dimuntahkan, karena akan

langsung masuk ke paru-paru. Jadi, kalau ada anak yang minum minyak tanah/bensin jangan berusaha dimuntahkan, tapi segera ke dokter. Oleh dokter, paru-parunya akan dicuci dengan alat bronkoskop.

7.

Infeksi. Selain itu sesak napas pada bayi bisa terjadi karena penyakit infeksi. Bila anak mengalami ISPA (Infeksi saluran Pernapasan Akut) bagian atas, semisal flu harus ditangani dengan baik. Kalau tidak sembuh juga, misalnya dalam seminggu dan daya tahan anak sedang jelek, maka ISPA atas ini akan merembet ke ISPA bagian bawah, sehingga anak mengalami bronkitis, radang paru-paru, ataupun asmatik bronkitis. Gejalanya, anak gelisah, rewel, tak mau makan-minum, napas akan cepat, dan makin lama melemah. Biasanya juga disertai tubuh panas, sampai sekeliling bibir biru/sianosis, berarti pernapasannya terganggu. Penyebabnya ini akan diketahui dengan pemeriksaan dokter dan lebih jelasnya lagi dengan foto rontgen. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. Biasanya kalau bayi sudah terkena ISPA bawah harus dilakukan perawatan di rumah sakit. Setelah diobati,umumnya sesak napas akan hilang dan anak sembuh total tanpa meninggalkan sisa, kecuali bagi yang alergi.

C.

Manifestasi Klinis Ciri khas RDS adalah hipoksemia yang tidak dapat diatasi selama bernapas spontan. Frekuensi pernapasan sering kali meningkat secara bermakna dengan ventilasi menit tinggi. Sianosis dapat atau tidak terjadi. Hal ini harus diingat bahwa sianosis adalah tanda dini dari hipoksemia. Gejala klinis utama pada kasus RDS adalah:

1.

Distres pernafasan akut: takipnea, dispnea , pernafasan menggunakan otot aksesoris pernafasan dan sianosis sentral.

2. 3. 4. 5.

Batuk kering dan demam yang terjadi lebih dari beberapa jam sampai seharian. Auskultasi paru: ronkhi basah, krekels halus di seluruh bidang paru, stridor, wheezing. Perubahan sensorium yang berkisar dari kelam pikir dan agitasi sampai koma. Auskultasi jantung: bunyi jantung normal tanpa murmur atau gallop (YasminAsih Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: Hal 128)

1. 2. 3.

Cemas, merasa ajalnya hampir tiba Tekanan darah rendah atau syok (tekanan darah rendah disertai oleh kegagalan organ lain) Penderita seringkali tidak mampu mengeluhkan gejalanya karena tampak sangat sakit.

D. 1. 2. 3. E. 1.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan hasil Analisa Gas Darah : Hipoksemia ( pe PaO2 ) Hipokapnia ( pe PCO2 ) pada tahap awal karena hiperventilasi Hiperkapnia ( pe PCO2 ) menunjukkan gagal ventilasi Alkalosis respiratori ( pH > 7,45 ) pada tahap dini Asidosis respiratori / metabolik terjadi pada tahap lanjut Pemeriksaan Rontgent Dada : Tahap awal ; sedikit normal, infiltrasi pada perihilir paru Tahap lanjut ; Interstisial bilateral difus pada paru, infiltrate di alveoli Tes Fungsi paru : Pe komplain paru dan volume paru Pirau kanan-kiri meningkat Penatalaksanaan Memberikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar tetap dalam batas normal (36,5o-37oC) dengan cara meletakkan bayi dalam incubator. Kelembapan ruangan juga harus adekuat.

2.

Pemberian oksigen. Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-hati karena berpengaruh kompleks pada bayi premature. pemberian oksigen yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi seperti fobrosis paru,dan kerusakan retina. Untuk mencegah timbulnya komplikasi pemberian oksigen sebaiknya diikuti dengan pemeriksaan analisa gas darah arteri. Bila fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas darah arteri tidak ada, maka oksigen diberikan dengan konsentrasi tidak lebih dari 40% sampai gejala sianosis menghilang.

3.

Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk mempertahankan homeostasis dan menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan diberikan glukosa 5-10% dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur dan berat badan ialah 60-125 ml/kgBB/hari. Asidosis metabolic yang selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO3 secara intravena yang

berguna untuk mempertahankan agar pH darah 7,35-7,45. Bila tidak ada fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas darah, NaHCO3 dapat diberi langsung melalui tetesan dengan menggunakan campuran larutan glukosa 5-10% dan NaHCO3 1,5% dalam perbandinagn 4:1 4. Pemberian antibiotic. bayi dengan PMH perlu mendapat antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder. dapat diberikan penisilin dengan dosis 50.000-100.000 U/kgBB/hari atau ampisilin 100 mg/kgBB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5 mg/kgBB/hari. 5. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan eksogen (surfaktan dari luar). Obat ini sangat efektif tapi biayanya sangat mahal.

F. 1. a.

Komplikasi Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi : Ruptur alveoli Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak, pneumomediastinum,

pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan RDS yang tiba2 memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi. b. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat respirasi. c. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular Perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik. d. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.

2. a.

Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi : Bronchopulmonary Dysplasia (BPD) Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A.

b.

Retinopathy premature

Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya infeksi

AKUT RESPIRATORY DISTRESS SINDROME


AKUT RESPIRATORY DISTRESS SINDROME Kegawatan pernafasan ( Respiratory Distress syndrome ) pada anak merupakan penyebab utama kematian pada bayi baru lahir, diperkirakan 30% dari semua kematian neonatus disebabkan oleh penyakit ini atau komplikasinya. Penyakit ini terjadi pada bayi prematur, insidennya berbanding terbalik dengan umur kehamilan dan berat badannya. 60-80% terjadi pada bayi yang umur kehamilannya kurang dari 28 minggu, 15-30% pada bayi antara 32-36 minggu, sekitar 3% pada bayi yang lebih dari 37 minggu. Tingginya angka kejadian tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi para tenaga kesehatan, mahasiswa S1 keperawatan yang merupakan calon tenaga kesehatan profesional, yang nantinya akan selalu berhubungan dengan penderita atau anak dengan resiko menderita RDS, harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dalam mencegah dan membantu mengatasi tersebut dan dapat dipertanggungjawabkan pada pasien dan tim kesehatan lain.

A.

PENGERTIAN Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) adalah perkembangan yang immatur pada

sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai hyaline membran disease ( HMD ). (Suriadi, 2001).

B.

ETIOLOGI Dihubungkan dengan usia kehamilan, semakin muda seorang bayi, semakin tinggi

Resiko RDS sehingga menjadikan perkembangan yang immatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru.

RDS terdapat dua kali lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan, insidens meningkat pada bayi dengan faktor faktor tertentu, misalnya: ibu diabetes yang melahirkan bayi kurang dari 38 minggu, hipoksia perinatal, lahir melalui seksio sesaria. C. PATHOFISIOLOGI Pada bayi dengan RDS, dimana tidak adanya kemampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka. RDS pada bayi yang belum matur menyebabkan gagal pernafasan karena immaturnya dinding dada, parenchim paru, dan immaturnya endotellium kapiler yang menyebabkan kolaps paru pada akhir ekspirasi. Pada kasus yang terjadi akibat tidak adanya atau kurangnya, atau berubahnya komponen surfaktan pulmoner. Surfaktan suatu kompleks lipoprotein, adalah bagian dari permukaan mirip film yang ada di alveoli, untuk mencegahnya kolapsnya alveolus tersebut. surfaktan dihasilkan oleh sel-sel pernafasan tipe II di alveoli. Bila surfakatan tersebut tidak adekuat, akan terjadi kolaps alveolus dan mengakibatkan hipoksia dan retensi CO2 mengakibatkan asidosis Kemudian terjadi konstriksi vaskuler pulmoner dan penurunan perfusi pilmoner, yang berakhir sebagai gagal nafas progresif, terjadi hipoksemia progresif yang dapat menyebabkan kematian. ( Nelson,2000). D. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. E. 1. MANIFESTASI KLINIK Takipneu Retraksi interkostal dan sternal Pernafasan cuping hidung Sianosis sejalan dengan hipoksemia Menurunya daya compliance paru (nafas ungkang- ungkit paradoksal ) Hipotensi sistemik (pucat perifer, edema, pengisian kapiler tertunda lebih dari 3 sampai 4 detik ) Penurunan keluaran urine Penurunan suara nafas dengan ronkhi Takhikardi pada saat terjadinya asidosis dan hipoksemia. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Foto thoraks

a. b. c. d. e. 2. 3. 4.

Pola retikulogranular difus bersama bronkhogram udara yang saling tumpah tindih. Tanda paru sentral batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk. Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkena (bayi dari ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung kongestif ) Bayangan timus yang besar. Bergranul merata pada bronkhogram udara, yang menandakan penyakit berat jika terdapat pada beberapa jam pertama. Gas Darah Arteri menunjukan asidosis respiratory dan metabolik yaitu adanya penurunan pH, penurunan PaO2, dan peningkatan paCO2, penurunan HCO3. Hitung darah lengkap, Perubahan Elektrolit, cenderung terjadi penurunan kadar: kalsium, natrium, kalium dan glukosa serum F. KOMPLIKASI

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Pneumothorak Pneumomediastinum Hipotensi Menurunya pengeluaran urine Asidosis Hiponatremi Hipernatremi Hipokalemi Disseminated intravaskuler coagulation ( DIC ) Kejang Intraventricular hemorhagi Infeksi sekunder.

13. murmur G. ASIDOSIS merupakan suatu kondisi terjadinya pelepasan ion Hidrogen ( H+ ) yang berlebihan dalam darah sehingga terjadi penurunan pH darah dalam tubuh. pH darah dalam tubuh mempunyai nilai normal : 7,38-7,42 dengan pemeriksaan AGD ( analisa gas darah ). bila kurang dari nilai normal disebut dinamakan asidosis, sedangkan bila lebih dari normal disebut alkalosis. Berat ringannya tergantung tinggi rendahnya rentang perubahanya.

Kolaps paru pada kasus RDS dapat menyebabkan asidosis karena terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia dan Retensi CO2. oksigenasi jaringan menurun sehingga terjadi metabolisme anaerobik yang menimbulkan asam laktat dan asam organik lain yang menyebabkan terjadinya asidosis metabolik. H. PENATALAKSANAAN 1. Memberikan lingkungan yang optimal.Suhu tubuh harus selalu diusahakan agar tetap dalam batas normal ( 36,50-370C ) dengan cara meletakkan bayi dalam inkubator. Kelembapan ruangan juga harus adekuat ( 70-80%) 2. Pemberian oksigen . Pemberian oksigen harus hati-hati karena berpengaruh kompleks terhadap bayi prematur. Untuk mencegah timbulnya komplikasi tersebut pemberian O2 sebaiknya diikuti dengan pemeriksaan analisa gas darah. Rumatan PaO2 antara 50-80mmHg dan PaCO2 antara 40 dan 50 mmHg, dengan rumatan O2 2L. 3. Pemberian cairan dan elektrolit. Pada permulaan diberikan glukose 5-10% 60-125 ml/kgBB/hari. Asidosis yang selalu dijumpai Harus segera dikoreksi dengan NaHCO3 secara intravena, dengan rumus pemberian : NaHCO3( mEq ) =Defisit basa X 0.3 X BB bayi. 4. 5. Pemberian antibiotik, untuk mnecegah infeksi sekunder. Dapat diberikan penissilin dengan dosis 50000-100000 U/kgBB/hari dengan atau tanpa gentamicin3-5/kgBB/hari. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan eksogen melalui endotrakheal tube. Obat ini sangat efektif.

DAFTAR PUSTAKA Cecily. L Betz. 2002. Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta. EGC Nelson. E Waldo. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jilid I.Jakarta. EGC Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. EGC Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I.Jakarta. CV Agung Seto

G. PENGKAJIAN

TINJAUAN

KEPERAWATAN

Keadaan-keadaan berikut biasanya terjadi saat periode latent saat fungsi paru relatif masih terlihat normal (misalnya 12 24 jam setelah trauma/shock atau 5 10 hari setelah terjadinya sepsis) tapi secara berangsur-angsur memburuk sampai tahapan kegagalan pernafasan. Gejala fisik yang ditemukan amat bervariasi, tergantung daripada pada tahapan mana diagnosis dibuat.

AKTIVITAS Subyektif :

& Menurunnya

ISTIRAHAT tenaga/kelelahan Insomnia

SIRKULASI Subyektif Obyektif lanjut Heart Bunyi jantung Disritmia Kulit dan membran : normal dapat mukosa : rate pada terjadi, mungkin fase : awal, S2 ECG dingin. takikardi (komponen sering biasa biasa pulmonic) dapat : : Riwayat pembedahan jantung/bypass cardiopulmonary, fenomena embolik (darah, udara, lemak) Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya hipoksemia), hipotensi terjadi pada stadium (shock). terjadi terjadi normal lanjut)

tetapi pucat,

menunjukkan terjadi (stadium

Cyanosis

INTEGRITAS Subyektif Obyektif : : Keprihatinan/ketakutan, Restlessness, agitasi, perasaan gemetar, dekat iritabel, dengan perubahan

EGO kematian mental.

MAKANAN/CAIRAN Subyektif Obyektif : : Kehilangan Formasi selera edema/perubahan bowel makan, berat nausea badan sounds

Hilang/melemahnya

NEUROSENSORI Suby./Oby. : Kelambanan Gejala mental, truma disfungsi kepala motorik

RESPIRASI Subyektif : Riwayat Kesulitan Obyektif : aspirasi, bernafas Respirasi merokok/inhalasi akut : atau rapid, gas, infeksi khronis, pulmolal air swallow, diffuse hunger grunting

Peningkatan kerja nafas ; penggunaan otot bantu pernafasan seperti retraksi intercostal atau substernal, nasal flaring, meskipun kadar oksigen tinggi.

Suara nafas : biasanya normal, mungkin pula terjadi crakles, ronchi, dan suara nafas bronkhial Perkusi Penurunan Peningkatan fremitus (tremor dada dan vibrator : tidak pada dada Dull diatas seimbangnya yang ditemukan area ekpansi dengan cara konsolidasi dada palpasi.

Sputum Pallor Penurunan

encer, atau kesadaran,

berbusa cyanosis confusion

RASA Subyektif : Adanya riwayat trauma tulang/fraktur, sepsis, transfusi darah, episode

AMAN anaplastik

SEKSUALITAS Suby./Oby. : Riwayat kehamilan dengan komplikasi eklampsia

KEBUTUHAN Subyektif Discharge Plan bepergian, STUDY ABGs/Analisa Pulmonary Shunt Alveolar-Arterial Lactic Gradient Acid Chest gas Function Measurement (A-a : : Riwayat ingesti

BELAJAR obat/overdosis

Ketergantungan sebagai efek dari kerusakan pulmonal, mungkin membutuhkan asisten saat shopping, self-care. DIAGNOSTIK X-Ray darah Test (Qs/Qt) gradient) Level

PRIORITAS 1. 2. 3. 4. 5. Mempertahankan Memberikan Memberikan informasi nutrisi support tentang Memperbaiki/mempertahankan fungsi respirasi optimal dan

KEPERAWATAN oksigenasi komplikasi fungsi dan kebutuhan pernafasan keluarga pengobatan

Meminimalkan/mencegah adekuat untuk emosi proses penyembuhan/membantu kepada penyakit, prognose, pasien dan

TUJUAN 1. 2. 3. 4. 5. Bebas Memandang Proses penyakit, secara prognosis Bernafas spontan Suara sari realistis dan therapi dengan nafas terjadinya terhadap dapat tidal volume

KEPERAWATAN adekuat bersih/membaik komplikasi situasi dimengerti

DIAGNOSA 1.

KEPERAWATAN

Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal,

peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk 2. dengan atau tanpa sputum, cyanosis.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli,

hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan,

cyanosis, 3. 4. 5.

perubahan

ABGs,

dan

A-a

Gradient.

Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan penggunaan deuritik, ke-luaran cairan kompartemental Resiko tinggi kelebihan volome cairan berhubungan dengan edema pulmonal non Kardia.

Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran balik vena dan penurunan curah

jantung,edema,hipotensi. 6. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan pertukaran gas tidak adekuat,pening katan sekresi,penurunan untuk oksigenasi dengan adekuat atau kelelahan.

kemampuan 7.

Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor

fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa 8. tidak berdaya, ketakutan, gelisah.

Defisit pengetahuan , mengenai kondisi , terafi yang dibutuhkan berhubungan dengan kurang informasi, salah dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan , menyatakan masalahnya.

presepsi

PERENCANAAN Dx 1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk Tujuan Intervensi Independen 1. R/ 2. Catat Penggunaan Observasi perubahan otot-otot dari dalam bernafas dapat dan meningkatkan dada dan pola usaha dalam nafasnya bernafas fremitus Pasien dapat mempertahankan Pasien Mengeluarkan Memperlihatkan tingkah jalan nafas dengan bunyi nafas yang dari tanpa mempertahankan jalan jernih dan ronchi dengan atau tanpa sputum, cyanosis. : (-)

bebas sekret laku

dispneu kesulitan nafas :

interkostal/abdominal/leher penurunan

pengembangan

peningkatan

R/ Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan dan adanya cairan dapat meningkatkan fremitus 3. Catat karakteristik dari suara nafas

R/ Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang tracheo branchial dan juga karena adanya cairan, mukus 4. atau Catat sumbatan lain karakteristik dari dari saluran nafas batuk

R/ Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada penyebab dan etiologi dari jalan nafas. Adanya sputum dapat 5. R/ 6. dalam Pertahankan posisi jumlah tubuh/posisi jalan yang kepala nafas dan banyak, gunakan bagian jalan tebal nafas dan tambahan dengan bila purulent perlu paten

Pemeliharaan

nafas

Kaji kemampuan batuk, latihan nafas dalam, perubahan posisi dan lakukan suction bila ada indikasi

R/ Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi perkembangan atelektasis dan infeksi paru 7. R/ Kolaboratif 1. Berikan oksigen, cairan IV ; tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi Peningkatan Peningkatan cairan oral per oral intake dapat jika mengencerkan memungkinkan sputum

R/ 2. R/ 3. R/ 4.

Mengeluarkan Berikan Dapat Berikan berfungsi fisiotherapi dada

sekret therapi sebagai misalnya :

dan

meningkatkan aerosol,

transport ultrasonik

oksigen nabulasasi sekret indikasi

bronchodilatasi postural drainase,

dan perkusi

mengeluarkan dada/vibrasi jika ada

Meningkatkan Berikan

drainase

sekret

paru,

peningkatan :

efisiensi aminofilin,

penggunaan albuteal

otot-otot dan

pernafasan mukolitik

bronchodilator

misalnya

R/ Diberikan untuk mengurangi bronchospasme, menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi

Dx 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, Tujuan Intervensi Independen 1. R/ 2. Kaji Takipneu status adalah pernafasan, mekanisme catat peningkatan untuk respirasi hipoksemia atau dan perubahan peningkatan pola usaha nafas nafas cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient. :

Pasien dapat memperlihatkan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat dengan nilai ABGs normal Bebas dari gejala distress pernafasan :

kompensasi

Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles, dan wheezing

R/ Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli kapiler. Wheezing terjadi karena 3. bronchokontriksi Kaji atau adanya mukus adanya pada jalan nafas cyanosis

R/ Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut, bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik, cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas 4. R/ 5. R/ Observasi adanya somnolen, dapat istirahat tenaga pasien, adalah confusion, menyebabkan yang apatis, dan iritabilitas cukup mengurangi ketidakmampuan dari dan penggunaan vasokontriksi. beristirahat miokardium nyaman oksigen

Hipoksemia Berikan Menyimpan

Kolaboratif 1. R/ 2. R/ 3. R/ 4. R/ Berikan Memperlihatkan obat-obat jika ada Untuk Peningkatan Berikan Memaksimalkan humidifier pertukaran oksigen oksigen dengan secara terus masker menerus CPAP dengan jika tekanan ada yang indikasi sesuai IPPB oksigenasi dada yang bronchodilator dan progresif ekspektorant ARDS

Berikan ekspansi Review kongesti indikasi seperti steroids, paru

pencegahan meningkatkan X-ray paru antibiotik, mencegah

Dx 3 Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan penggunaan deuritik, keluaran cairan kompartemental Tujuan :

Pasien dapat menunjukkan keadaan volume cairan normal dengan tanda tekanan darah, berat badan, urine output pada Intervensi Independen 1. Monitor vital signs seperti tekanan darah, heart rate, denyut nadi (jumlah dan volume) batas normal. :

R/ Berkurangnya volume/keluarnya cairan dapat meningkatkan heart rate, menurunkan tekanan darah, dan volume denyut 2. Amati perubahan kesadaran, turgor kulit, nadi kelembaban membran mukosa dan karakter menurun. sputum

R/ Penurunan cardiac output mempengaruhi perfusi/fungsi cerebral. Deficit cairan dapat diidentifikasi dengan penurunan 3. Hitung turgor intake, kulit, output membran dan mukosa balance cairan. kering, Amati sekret insesible kental. loss

R/ Memberikan informasi tentang status cairan. Keseimbangan cairan negatif merupakan indikasi terjadinya deficit cairan. 4. R/ Perubahan Timbang yang drastis berat merupakan badan tanda penurunan setiap total body hari water

Kolaboratif 1. Berikan cairan IV dengan observasi ketat

R/ Mempertahankan/memperbaiki volume sirkulasi dan tekanan osmotik. Meskipun cairan mengalami deficit, pemberian 2. R/ Elektrolit cairan IV dapat meningkatkan kongesti paru yang elektrolit dapat berkurang sebagai dapat merusak sesuai efek therapi fungsi respirasi indikasi deuritik.

Monitor/berikan khususnya pottasium

penggantian dan sodium

Dx 4. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa Tujuan Pasien Mengakui dan dapat mau mengungkapkan mendiskusikan perasaan rileks dan cemasnya rasa cemasnya secara mulai tidak berdaya, ketakutan, gelisah. : verbal berkurang

ketakutannya,

Mampu menanggulangi, mampu menggunakan sumber-sumber pendukung untuk memecahkan masalah yang

dialaminya. Intervensi Independen: 1. Observasi R/ 2. peningkatan pernafasan, agitasi, dapat kegelisahan dan kestabilan emosi. :

Hipoksemia

menyebabkan

kecemasan.

Pertahankan lingkungan yang tenang dengan meminimalkan stimulasi. Usahakan perawatan dan prosedur tidak waktu berkurang Bantu oleh meningkatkan dengan relaksasi dan pengawetan energi yang istirahat. digunakan. meditasi.

menggaggu R/ 3. Cemas

teknik

relaksasi,

R/ Memberi kesempatan untuk pasien untuk mengendalikan kecemasannya dan merasakan sendiri dari pengontrolannya. 4. R/ Identifikasi Menolong persepsi mengenali pasien asal dari pengobatan yang yang dilakukan dialami

kecemasan/ketakutan

5. R/ 6. Langkah

Dorong awal dalam

pasien mengendalikan situsi

untuk perasaan-perasaan dan hal

mengekspresikan yang tersebut teridentifikasi harus

kecemasannya. dan terekspresi.

Membantu

menerima

ditanggulanginya.

R Menerima stress yang sedang dialami tanpa denial, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik. 7. Sediakan informasi tentang keadaan yang sedang dialaminya.

R/ Menolong pasien untuk menerima apa yang sedang terjadi dan dapat mengurangi kecemasan/ketakutan apa yang tidak diketahuinya. Penentraman hati yang palsu tidak menolong sebab tidak ada perawat maupun pasien tahu hasil 8. Identifikasi akhir tehnik pasien yang dari digunakan sebelumnya permasalahan untuk menanggulangi rasa itu. cemas.

R/ Kemampuan yang dimiliki pasien akan meningkatkan sistem pengontrolan terhadap kecemasannya Kolaboratif 1. Memberikan sedative sesuai indikasi dan monitor efek yang merugikan.

R/ Mungkin dibutuhkan untuk menolong dalam mengontrol kecemasan dan meningkatkan istirahat. Bagaimanapun juga efek samping seperti depresi pernafasan mungkin batas atau kontraindikasi penggunaan.

Dx 5. Defisit pengetahuan , mengenai kondisi , terafi yang dibutuhkan berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi Tujuan Intervensi Independen 1. Berikan pembelajaran dari apa yang dibutuhkan pasien. Berikan informasi dengan jelas dan dimengerti. Kaji untuk kerjasama dengan cara pengobatan di rumah. Meliputi hal yang dianjurkan. Pasien dapat menerangkan secara dengan verbal benar tanda hubungan diet, dan antara proses dan penyakit cara dan dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan , menyatakan masalahnya. : terafi

Menjelaskan Mengidentifikasi

pengobatan gejala yang untuk

beraktivitas medis up :

membutuhkan

perhatian

Memformulasikan

rencana

follow

potensial

R/ Penyembuhan dari gagal nafas mungkin memerlukan perhatian, konsentrasi dan energi untuk menerima informasi baru. Ini meliputi tentang proses penyakit yang akan menjadi berat atau yang sedang mengalami penyembuhan. 2. Sediakan informasi masalah penyebab dari penyakit yang sedang dialami pasien.

R/ ARDS adalah sebuah komplikasi dari penyakit lain, bukan merupakan diagnosa primer. Pasien sering bingung oleh 3. perkembangan itu, dalam k esehatan sistem respirasi sebelumnya.

Instruksikan tindakan pencegahan, jika dibutuhkan. Diskusikan cara menghindari overexertion dan perlunya

mempertahankan pola istirahat yang periodik. Hindari lingkungan yang dingin dan orang-orang terinfeksi. R/ Pencegahan perlu dilakukan selama tahap penyembuhan. Hindari faktor yang disebabkan oleh lingkungan seperti merokok. 4. Reaksi alergi atau infeksi yang mungkin terjadi untuk mencegah komplikasi berikutnya.

Sediakan informasi baik secara verbal atau tulisan mengenai pengobatan misalnya: tujuan, efek samping, cara , dosis dan kapan diberikan

pemberian

R/ Merupakan instruksi bagi pasien untuk keamanan pengobatan dan cara-cara pengobatan dapat diikutinya. 5. Kaji kembali konseling tentang nutrisi ; kebutuhan makanan tinggi kalori

R/ Pasien dengan masalah respirasi yang berat biasanya kehilangan berat-badan dan anoreksia sehingga kebutuhan nutrisi 6. Bimbing meningkat dalam untuk melakukan penyembuhan. aktivitas.

R/ Pasien harus menghindari kelelahan dan menyelingi waktu istirahat dengan aktivitas dengan tujuan meningkatkan stamina 7. dan cegah hal yang membutuhkan oksigen yang banyak

Demonstrasikan teknik adaptasi pernafasan dan cara untuk menghemat energi

selama aktivitas.

R/ Kondisi yang lemah mungkin membuat kesulitan untuk pasien mengatur aktivitas yang sederhana. 8. Diskusikan follow-up care misalnya kunjungan dokter, test fungsi sistem pernafasan dan tanda/gejala yang evaluasi/intervensi.

membutuhkan

R/ Alasan mengerti dan butuh untuk follow up care sebaik dengan apa yang merupakan kebutuhan untuk meningkatkan partisipasi pasien dalam hal medis dan mungkin mempertinggi kerjasama dengan medis. 9. R/ Kaji rencana Mendukung untuk mengunjungi selama pasien seperti periode kunjungan perawat

penyembuhan

DAFTAR

PUSTAKA

Cherniack. 1997. Terapi Mutakhir Penyakit Saluran Pernafasan. Dr. Lyndon Saputra (Ed). EGC : Jakarata

Doengoes, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan Perawatan Pasien. EGC.

dan Pendokumentasian Jakarta.

Hudak, Gallo. 1997. Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik.Ed.VI. Vol.I. EGC.

Jakarta.