Anda di halaman 1dari 23

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Alamat Pendidikan terkahir

: Tn. A : 39 Tahun : Laki-laki : Buruh : Islam : Ds. kalibaru kecamatan tengah tani : SMA

II.

ANAMNESA

Keluhan Utama

: Nyeri pada kepala samping sebelah kanan

Keluhan Tambahan

: Sesak

Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang ke IGD RSUD Gunung Jati pada tanggal 16 desember 2012 dengan keluhan kepala belakang sebelah kanan berbenjol. Sebelumnya OS mengalami kecelakaan lalu lintas 4 hari yang lalu. Kecelakaan terjadi motor dengan motor. berdasarkan pengakuan istri pasien, kepala OS bagian belakang terbentur dinding, dan OS tidak menggunakan helm. Selain itu, dada OS juga terbentur mendahului kepala pasien. Setelah kecelakaan terjadi, Os langsung tidak sadarkan diri. Dari hidung dan telinga keluar darah, dan pada mata tampat seperti ada
1

perdarahan. Selain benjol pada dada pasien, juga terdapat lebam pada punggung, leher belakang, mata dan siku. Setelah kecelakaan terjadi, Os langsung dibawa ke Rumah Sakit Mitra Plumbon. di Rumah sakit Os mendapat perawatan dan selama satu hari Os belum juga sadarkan diri. Saat setelah Os sadar, Os tampak kebingungan dan gelisah, dan Os masih dapat melihat. Setelah beberapa hari di Rumah Sakit Mitra

Plumbon, Os di rujuk ke Rumah Sakit Gunung Jati untuk rencana tindakan operasi. Dan pada tanggal 21 desember 2012 Os dilakukan tindakan operasi.

Riwayat Penyakit Dahulu : Os mengaku belum pernah mengalami benturan di kepala sebelumnya, Di bagian belakang maupun bagian lainnya.

III.

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Vital Sign : Apatis, gelisah. GCS: E4V3M6 = 13 : Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu Kepala Mata : 120/90 : 81 kali/menit : 22 kali/menit : 37 C

: Normocephal, tampak hematom a/r temporal dextra : Konjungtiva anemis (-/-) Eksoftalmus (+/-)
2

Racoon eyes (+/+) THT : Kedua telinga lapang, tidak keluar cairan Hidung simetris, rhinorrhea (-) Tenggorokan tidak hiperemis Leher : JVP tidak meningkat Tidak ada pembesaran KGB, tidak ada pembesaran thyroid Thoraks : Cor BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo vesikuler +/+, Wheezing -/-, Ronki -/Abdomen Ekstremitas : Datar, Bising Usus (+) : Ekstremitas atas : Akral hangat Ekstremitas bawah : Akral hangat Edema - Status Lokalis Inspeksi Palpasi Perkusi : Hematom Os temporal dextra : Nyeri tekan (+) : Tidak dilakukan -

Status Neurologis Kesadaran Rangsang Meningeal : Apatis, Gelisah, GCS E4 V3 M6 = 13 : Kaku Kuduk (-), Brudzinsky I/II (-/-), Kernig (-)

Pemeriksaan N.Cranialis N I (N. Olfactorius) : Tidak dilakukan

N II (N. Opticus)

:RCL (+/+)

RCTL (+/+)

N III, IV, VI (N. Occulomotorius, N. Trochlearis, N. Abdusen) Gerakan bola mata Pupil Kelopak mata : Mata kanan dan kiri dalam batas normal : Isokor , bulat. : lebam pada mata kanan dan kiri

N V (N. Trigeminus) tidak dilakukan

N VII ( N. Fasialis): Tidak dilakukan

N VIII ( N. Vestibulo-Cochlearis) Tidak dilakukan

N IX, X ( N. Glossopharingeus, N. Vagus ) Gerakan menelan baik,


4

Posisi uvula berada di tengah

N XI ( N. Accesorius) Sulit dilakukan

N XII ( N. Hipoglossus ) Tidak ada deviasi lidah

Fungsi Motorik Kekuatan otot : - Ekstremitas superior dextra dan sinistra baik - Ekstremitas inferior dextra dan sinistra baik Fungsi Sensorik Raba Nyeri : Ekstremitas superior ( / ) Ekstremitas inferior ( / ) : Ekstremitas superior ( / ) Ekstremitas inferior DIAGNOSA SEMENTARA Moderate Head injury Fraktur Basis Cranii fossa Anterior ( / )

IV.

Pemeriksaan Penunjang

CT-SCAN : Tampak gambaran EDH

Lab darah rutin


7

PEMERIKSAAN HEMATOLOGI Hemoglobin Lekosit Eritrosit Hematokrit Trombosit KIMIA DARAH GDS Ureum Kreatinin SGOT SGPT Kalium Natrium Chlorida Calsium

12/9/2012 13,2 9,8 4,72 39,6 287 83 43,7 0,87 44 88 4,10 155 111 9,65

RUJUKAN 11,0 18,8 4,0 11,0 4,0 6,2 35 55 150 400 < 140 10-50 0,5-1,1 <21 <22 3,6-5,5 135-155 98-108 8,1-10,4

SATUAN g/dl ribu/ul juta/ul vol% ribu/ul mg/dL mg% mg% Mmol/l Mmol/l Mmol/l Mg/dl

V.

RESUME Seorang laki-laki 19 Tahun, datang dengan keluhan kepala bagian belakang benjol dan lebam, dan OS mengalami penurunan kesadaran dan juga sesak. Os Post kecelakaan lalu lintas dan membentur dinding pada kepala bagian belakang dan dada. GCS: 14. Pusing(+), Muntah(-), Pingsan(+). Keluar darah dari hidung dan telinga. Hasil CT-SCAN menunjukkan EDH (+).

VI.

DIAGNOSA KERJA Moderate head injury Epidural Hematom (EDH) temporal dextra

VII.

TERAPI Perawatan luka


8

IVFD Nacl 0,9% Head up 30-40 O2 4-6 L/menit Observasi kesadaran (GCS), nadi, tekanan darah, respirasi suhu Manitol 3x125 mg inj. kalnex 3x500 mg iv inj. ceftriaxon 2x1 gr iv inj. Gentamisin 2x80 mg iv inj. ketorolak

Operasi: Craniotomy VIII. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : Dubia ad bonam

EPIDURAL HEMATOM (EDH) Anatomi

Bagian cranium yang membungkus otak (neurocranium / brain box) menutupi otak, labirin, dan telinga tengah.and middle ear. Tabula eksterna dan tabula interna dihubungkan oleh tulang kanselosa dan celah tulang rawan (diplo). Tulang-tulang yang membentuk atap cranium (calvaria) pada remaja dan orang dewasa terhubung oleh sutura dan kartilago (synchondroses) dengan kaku.

10

Sutura coronaria memanjang melintasi sepertiga frontal atap cranium.Sutura sagitalis berada pada garis tengah, memanjang ke belakang dari sutura coronaria dan bercabang di occipital untuk membentuk sutura lambdoidea.Daerah perhubungan os frontal, parietal, temporal, dan sphenoidal disebut pterion, di bawah pterion terdapat percabangan arteri meningeal media.Bagian dalam basis cranii membentuk lantai cavitas cranii, yang dibagi menjadi fossa anterior, fossa media, dan fossa posterior.

1. Fossa anterior dibentuk oleh os frontal di bagian depan dan samping, lantainya dibentuk oleh os frontale pars orbitale, pars cribriformis os ethmoidal, dan bagian depan dari alae minor os sphenoid. Fossa ini menampung traktus olfaktorius dan permukaan basal dari lobus frontalis, dan hipofise. Fossa anterior dan media dipisahkan di lateral oleh tepi posterior alae minor os sphenoidale, dan di medial oleh jugum sphenoidale. Pada fossa cranii anterior terdapat sinus frontalis di bagian depan, alae minor os sphenoidale yang dengan bersama-sama pars orbitalis os

11

frontal membentuk atap orbita dengan struktur-struktur di midline, diantaranya terdapat crista galli, pars cribriformis dan pars sphenoidal. 2. Fossa media lebih dalam dan lebih luas daripada fossa anterior, terutama ke arah lateral. Di bagian anterior dibatasi oleh sisi posterior alae minor, processus clinoideus anterior, dan sulcus chiasmatis.Di belakang dibatasi oleh batas atas os temporal dan dorsum sellae os sphenoid. Di lateral dibatasi oleh pars squamosa os temporalis, os parietal dan alae major os sphenoid. Merupakan tempat untuk permukaan basal dari lobus temporal, hipotalamus, dan fossa hipofiseal di tengah.Di kedua sisi lateralnya terdapat tiga foramina (foramen spinosum, foramen ovale, dan foramen rotundum). Pars anterior dinding lateral fossa media dibentuk oleh alae major os sphenoidal. Sisa dinding lateral lainnya dibentuk oleh pars squamosa os temporal yang merupakan tempat processus mastoideus dan mastoid air cells serta kanalis auditorius eksternus. Pyramid petrous mengandung membrane tympani, tulang-tulang pendengaran (malleus, incus, dan stapes), dan cochlea pada telinga dalam. Fossa media dan fossa posterior dibatasi satu sama lain di lateral oleh bagian atas os petrosus, dan di medial oleh dorsum sellae. 3. Fossa posterior adalah fossa yang terbesar dan terdalam merupakan tempat untuk cerebellum, pons, dan medulla. Di bagian anteromedial dibatasi oleh dorsum sellae yang melanjutkan diri menjadi clivus. Bagian anterolateral dibatasi oleh sisi posterior pars petrosa ossis temporalis, di lateral oleh os parietal, dan di posterior oleh os occipital. Lubang paling besar yang ada di basis cranii terdapat pada os occipital yaitu foramen magnum, dilalui oleh medulla oblongata. Meatus akustikus interna terdapat pada bagian posteromedial pars petrosa ossis temporalis. Foramen jugular berada di kedua sisi lateral foramen magnum.Foramen jugular dilalui oleh vena jugularis yang perluasan ke anterior dari sinus sagitalis superior dan melanjutkan diri menjadi sinus transversus dan sinus sigmoideus. Anatomi Meningen Otak Secara konvensional, dura mater diuraikan sebagai dua lapisan, lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Lapisan endosteal tidak lebih dari suatu periosteum yang menutupi permukaan dalam tulang tulang kranium. Pada foramen magnum lapisan endosteal tidak berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Pada sutura, lapisan endosteal berlanjut dengan
12

ligamentum sutura. Lapisan endosteal paling kuat melekat pada tulang diatas dasar kranium. Lapisan meningeal merupakan duramater yang sebenarnya. Lapisan meningeal merupakan membrane fibrosa kuat, padat menutupi otak, dan melalui foramen magnum berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Lapisan meningeal ini memberikan sarung tubuler untuk saraf saraf kranial pada saat melintas melalui lubang lubang kranium. Kedalam lapisan meningeal membentuk empat septa, yang membagi rongga kranium menjadi ruang ruang yang berhubungan dengan bebas dan merupakan tempat bagian bagian otak. Falx serebri merupakan lipatan duramater yang berbentuk sabit, terletak dalam garis tengah antara dua hemispherium serebri. Ujung anteriornya melekat ke Krista frontalis interna dan Krista galli. Bagian posterior yang lebar bercampur di garis tengah dengan permukaan atas tentorium serebelli. Sinus sagitalis superior berjalan dalam tepi bagian atas yang terfiksasi; sinus sagitalis inferior berjalan pada tepi bagian bawah yang konkaf, dan sinus rektus berjalan disepanjang perlekatannya dengan tentorium serebelli. (4)Tentorium serebelli merupakan lipatan duramater berbentuk sabit yang membentuk atap diatas fossa kranialis posterior, menutupi permukaan atas serebellum dan menokong lobus occipitalis hemisperium serebri. Berdekatan dengan apex pars petrosus os temporale, lapisan bagian bawah tentorium membentuk kantong kearah depan dibawah sinus petrosus superior, membentuk suatu resessus untuk n. trigeminus dan ganglion trigeminal. Falx serebri dan falx serebelli masing masing melekat ke permukaan atas dan bawah tentorium. Sinus rektus berjalan di sepanjang perlekatan ke falx serebri; sinus petrosus superior, bersama perlekatannya ke os petrosa; dan sinus transverses, disepanjang perlekatannya ke os occipitalis. Falx serebelli merupakan suatu lipatan duramater berbentuk sabit, kecil melekat ke krista occipitalis interna, berproyeksi kedepan diantara diantara dua hemispherium serebelli. Diaphragma Sella merupakan suatu lipatan duramater sirkuler, membentuk atap untuk sella tursika. Persarafan Duramater Persarafan ini terutama berasal dari cabang n.trigeminus, tiga saraf servikalis bagian atas, bagian servikal trunkus simpatikus dan n.vagus. resptor reseptor nyeri dalam dura mater diatas tentorium mengirimkan impuls melalui n.trigeminus, dan suatu nyeri kepala dirujuk ke kulit dahi dan muka. Impuls nyeri yang timbul dari bawah tentorium dalam fossa kranialis posterior berjalan melalui tiga saraf servikalis bagian atas, dan nyeri kepala dirujuk kebelakang kepala dan leher.
13

Pendarahan Duramater Banyak arteri mensuplai duramater, yaitu; arteri karotis interna, arteri maxillaries, arteri paringeal asenden, arteri occipitalis dan arteri vertebralis. Dari segi klinis, yang paling penting adalah arteri meningea media, yang umumnya mengalami kerusakan pada cedera kepala. Arteri meningea media berasal dari arteri maxillaries dalam fossa temporalis, memasuki rongga kranialis melalui foramen spinosum dan kemudian terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. Arteri ini kemudian terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. Arteri ini kemudian berjalan ke depan dan ke lateral dalam suatu sulkus pada permukaan atas squamosa bagian os temporale. Cabang anterior (frontal) secara mendalam berada dalam sulkus atau saluran angulus antero inferior os parietale, perjalanannya secara kasar berhubungan dengan garis gyrus presentralis otak di bawahnya. Cabang posterior melengkung kearah belakang dan mensuplai bagian posterior duramater. Vena vena meningea terletak dalam lapisan endosteal duramater. Vena meningea media mengikuti cabang cabang arteri meningea media dan mengalir kedalam pleksus venosus pterygoideus atau sinus sphenoparietalis. Vena terletak di lateral arteri. Sinus Venosus Duramater,Sinus sinus venosus dalam rongga kranialis terletak diantara lapisan duramater. Fungsi utamanya adalah menerima darah dari otak melalui vena vena serebralis dan cairan serebrospinal dari ruang ruang subarachnoidea melalui villi arachnoidalis. Darah dalam sinus sinus duramatr akhirnya mengalir kedalam vena vena jugularis interna dileher. Vena emissaria menghubungkan sinus venosus duramater dengan vena vena diploika kranium dan vena vena kulit kepala. Sinus Sagitalis Superior menduduki batas atas falx serebri yang terfiksasi, mulai di anterior pada foramen caecum, berjalan ke posterior dalam sulkus di bawah lengkungan kranium, dan pada protuberantia occipitalis interna berbelok dan berlanjut dengan sinus transverses. Dalam perjalanannya sinus sagitallis superior menerima vena serebralis superior. Pada protuberantia occipitalis interna, sinus sagitallis berdilatasi membentuk sinus konfluens. Dari sini biasanya berlanjut dengan sinus transverses kanan, berhubungan dengan sinus transverses yang berlawanan dan menerima sinus occipitalis. Sinus sagitalis inferior menduduki tepi bawah yang bebas dari falx serebri, berjalan kebelakang dan bersatu dengan vena serebri magna pada tepi bebas tentorium cerebelli membentuk sinus rektus. Sinus rekrus menempati garis persambungan falx serebri dengan tentorium serebelli, terbentuk dari persatuan sinus sagitalis inferior dengan vena serebri magna, berakhir membelok kekiri
14

membentuk sinus transfersus. Sinus transverses merupakan struktur berpasangan dan mereka mulai pada protuberantia occipitalis interna. Sinus kanan biasanya berlanjut dengan sinus sagitalis superior, dan bagian kiri berlanjut dengan sinus rektus. Setiap sinus menempati tepi yang melekat pada tentorium serebelli, membentuk sulkus pada os occipitalis dan angulus posterior os parietale. Mereka menerima sinus petrosus superior, vena vena serebralis inferior, vena vena serebellaris dan vena vena diploika. Mereka berakhir dengan membelok ke bawah sebagai sinus sigmoideus. Sinus sigmoideus merupakan lanjutan langsung dari sinus tranversus yang akan melanjutkan diri ke bulbus superior vena jugularis interna. Sinus occipitalis merupakan suatu sinus kecil yang menempati tepi falx serebelli yang melekat, ia berhubungan dengan vena vena vertebralis dan bermuara kedalam sinus konfluens. Sinus kavernosus terletak dalam fossa kranialis media pada setiap sisi corpus os sphenoidalis. Arteri karotis interna, dikelilingi oleh pleksus saraf simpatis, berjalan kedepan melalui sinus. Nervus abdusen juga melintasi sinus dan dipisahkan dari darah oleh suatu pembungkus endothelial. Sinus petrosus superior dan inferior merupakan sinus sinus kecil pada batas batas superior dan inferior pars petrosus os temporale pada setiap sisi kranium. Setiap sinus kavernosus kedalam sinus transverses dan setiap sinus inferior mendrainase sinus cavernosus kedalam vena jugularis interna. Arachnoidea Mater. Arachnoidea mater merupakan membran tidak permeable, halus, menutupi otak dan terletak diantara pia mater di interna dan duramater di eksterna. Arachnoidea mater dipisahkan dari duramater oleh suatu ruang potensial, ruang subdural, terisi dengan suatu lapisan tipis cairan, dipisahkan dari piamater oleh ruang subarachnoidea, yang terisi dengan cairan serebrospinal. Permukaan luar dan dalam arachnoidea ditutupi oleh sel sel mesothelial yang gepeng. Pada daerah daerah tertentu, arachnoidea terbenam kedalam sinus venosus untuk membentuk villi arachnoidalis. Villi arachnoidalis bertindak sebagai tempat cairan serebrospinal berdifusi kedalam aliran darah. Arachnoidea dihubungkan ke piamater oleh untaian jaringan fibrosa halus yang menyilang ruang subarachnoidea yang berisi cairan. Cairan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus choroideus dalam ventrikulus lateralis, ketiga dan keempat otak. Cairan ini keluar dari ventrikulus memasuki subarachnoid, kemudian bersirkulasi baik kearah atas diatas permukaan hemispherium serebri dan kebawah disekeliling medulla spinalis.

15

Piamater otak Piamater merupakan suatu membrane vaskuler yang ditutupi oleh sel sel mesothelial gepeng. Secara erat menyokong otak, menutupi gyri dan turun kedalam sulki yang terdalam. Piamater meluas keluar pada saraf saraf cranial dan berfusi dengan epineurium. Arteri serebralis yang memasuki substansi otak membawa sarung pia mater bersamanya. Piamater membentuk tela choroidea dari atap ventrikulus otak ketiga dan keempat, dan berfusi dengan ependyma untuk membentuk pleksus choroideus dalam ventrikulus lateralis, ketiga, dan keempat otak. Definisi Epidural Hematom (EDH) Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara meningen (membran duramter) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma. Duramater merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak dan medulla spinalis. Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar duramater dan hematoma dimaksudkan sebagai masa dari darah. Etiologi Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala, biasanya disertai dengan fraktur pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. Epidural hematom juga bisa disebabkan akibat pemakaian obat obatan antikoagulan, hemophilia, penyakit liver, penggunaan aspirin, sistemik lupus erimatosus, fungsi lumbal. Spinal epidural hematom disebabkan akibat adanya kompresi pada medulla spinalis. Gejala klinisnya tergantung dimana letak terjadinya penekanan. Patofisiologi Cedera kepala yang berat dapat merobek, meremukkan atau menghancurkan saraf, pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Bisa terjadi kerusakan pada jalur saraf, perdarahan atau pembengkakan hebat. Perdarahan, pembengkakan dan penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh pertumbuhan massa di dalam tengkorak. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas, maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak. Karena posisinya di dalam tengkorak, maka tekanan cenderung mendorong otak ke bawah, otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang
16

menghubungkan otak dengan batang otak, keadaan ini disebut dengan herniasi. Sejenis herniasi serupa bisa mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen magnum) kedalam medulla spinalis. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang otak mengendalikan fungsi fital (denyut jantung dan pernafasan). Cedera kepala yang tampaknya ringan kadang bisa menyebabkan kerusakan otak yang hebat. Usia lanjut dan orang yang mengkonsumsi antikoagulan, sangat peka terhadap terjadinya perdarahan di sekeliling otak. Perdarahan epidural timbul akibat cedera terhadap arteri atau vena meningeal. Arteri yang paling sering mengalami kerusakan adalah cabang anterior arteri meningea media. Suatu pukulan yang menimbulkan fraktur kranium pada daerah anterior inferior os parietal, dapat merusak arteri. Cidera arteri dan venosa terutama mudah terjadi jika pembuluh memasuki saluran tulang pada daerah ini. Perdarahan yang terjadi melepaskan lapisan meningeal duramater dari permukaan dalam kranium. Tekanan intrakranial meningkat, dan bekuan darah yang membesar menimbulkan tekanan pada daerah motorik gyrus presentralis dibawahnya. Darah juga melintas ke lateral melalui garis fraktur, membentuk suatu pembengkakan di bawah m. temporalis. Apabila tidak terjadi fraktur, pembuluh darah bisa pecah juga, akibat daya kompresinya. Perdarahan epidural akan cepat menimbulkan gejala gejala, sesuai dengan sifat dari tengkorak yang merupakan kotak tertutup, maka perdarahan epidural tanpa fraktur, menyebabkan tekanan intrakranial yang akan cepat meningkat. Jika ada fraktur, maka darah bisa keluar dan membentuk hematom subperiostal (sefalhematom), juga tergantung pada arteri atau vena yang pecah maka penimbunan darah ekstravasal bisa terjadi secara cepat atau perlahan lahan. Pada perdarahan epidural akibat pecahnya arteri dengan atau tanpa fraktur linear ataupun stelata, manifestasi neurologik akan terjadi beberapa jam setelah trauma kapitis. Manifestasi Klinis Saat awal kejadian, pada sekitar 20% pasien, tidak timbul gejala apa apa. Tapi kemudian pasien tersebut dapat berlanjut menjadi pingsan dan bangun bangun dalam kondisi kebingungan. Beberapa penderita epidural hematom mengeluh : - Sakit kepala - keluar darah dari hidung
17

- Keluar darah dari telinga - Lebam dan kemerahan pada mata - Muntah muntah - Kejang kejang - Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan menyebabkan keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis. Penderita akan merasa kebingungan dan berbicara kacau, lalu beberapa saat kemudian menjadi apneu, koma, kemudian meninggal. - Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya peningkatan tekanan intara kranial, dimana gejalanya dapat berupa :

Hipertensi Bradikardi bradipneu

- kontusio, laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma - dilatasi pupil, lebam, pupil yang terfixasi, bilateral atau ipsilateral kearah lesi, adanya gejala gejala peningkatan tekanan intrakranial, atau herniasi. - Adanya tiga gejala klasik sebagai indikasi dari adanya herniasi yang menetap, yaitu:

Coma Fixasi dan dilatasi pupil Deserebrasi

- Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai adanya epidural hematom
18

Diagnosa Adanya gejala neurologis merupakan langkah pertama untuk mengetahui tingkat keparahan dari trauma kapitis. Kemampuan pasien dalam berbicara, membuka mata dan respon otot harus dievaluasi disertai dengan ada tidaknya disorientasi (apabila pasien sadar) tempat, waktu dan kemampuan pasien untuk membuka mata yang biasanya sering ditanyakan. Apabila pasiennya dalam keadaan tidak sadar, pemeriksaan reflek cahaya pupil sangat penting dilakukan. Pada epidural hematom dan jenis lainnya dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intra kranial yang akan segera mempengaruhi nervus kranialis ketiga yang mengandung beberapa serabut saraf yang mengendalikan konstriksi pupil. Tekanan yang menghambat nervus ini menyebabkan dilatasi dari pupil yang permanen pada satu atau kedua mata. Hal tersebut merupakan indikasi yang kuat untuk mengetahui apakah pasien telah mengalami hematoma intrakranial atau tidak. Untuk membedakan antara epidural, subdural dan intracranial hematom dapat dilakukan dengan CT Scan atau MRI. Dari hasil tersebut, maka seorang dokter ahli bedah dapat menentukan apakah pembengkakannya terjadi pada satu sisi otak yang akan mengakibatkan terjadinya pergeseran garis tengah atau mid line shif dari otak. Apabila pergeserannya lebih dari 5 mm, maka tindakan kraniotomi darurat mesti dilakukan. Pada pasien dengan epidural spinal hematom, onset gejalanya dapat timbul dengan segera, yaitu berupa nyeri punggung atau leher sesuai dengan lokasi perdarahan yang terjadi. Batuk atau gerakan -gerakan lainnya yang dapat meningkatkan tekanan pada batang tubuh atau vertebra dapat memperberat rasa nyeri. Pada anak, perdarahan lebih sering terjadi pada daerah servikal (leher) dari pada daerah toraks. Pada saat membuat diagnosa pada spinal epidural hematom, seorang dokter harus memutuskan apakah gejala kompresi spinal tersebut disebabkan oleh hematom atau tumor. CT19

Scan atau MRI sangat baik untuk membedakan antara kompresi pada medulla spinalis yang disebabkan oleh tumor atau suatu hematom. Diagnosa Banding - Subdural hematom - Intraserebral Hematom Penatalaksanaan Primary Survey A. Airway Pembersihan jalan nafas, pengawasan vertebra servikal hingga diyakini tidak ada cedera. B. Breathing Penilaian ventilasi dan gerakan dada, gas darah arteri C. Circulation Penilaian kemungkinan kehilangan darah, pengawasan secara rutin tekanan darah pulsasi nadi, pemasangan IV line D. Dysfunction Penilaian GCS (Glasgow Coma Scale) secara rutin Secondary survey E Exposure Identifikasi seluruh cedera, dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari depan dan belakang. Setelah menyelesaikan resusitasi cardiovaskuler awal, dilakukan pemeriksaan fisis menyeluruh pada pasien. Alat monitor tambahan dapat dipasang dan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Nasogastric tube dapat dipasang kecuali pada pasien dengan kecurigaan cedera nasal dan basis cranii, sehingga lebih aman jika digunakan orogastric tube. Evaluasi untuk cedera cranium dan otak adalah langkah berikut yang paling penting. Cedera kulit kepala atau trauma kapitis yang sudah jelas memerlukan pemeriksaan dan tindakan dari bagian bedah saraf. Tingkat kesadaran dinilai berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS), fungsi pupil, dan kelemahan ekstremitas.
20

Perawatan di bagian Emergensi - Pasang oksigen (O2), monitor dan berikan cairan kristaloid untuk mempertahankan tekanan sistolik diatas 90 mmHg. - Pakai intubasi, dengan menggunakan premedikasi lidokain dan obat obatan sedative misalnya etomidate serta blok neuromuskuler. Intubasi digunakan sebagai fasilitas untuk oksigenasi, proteksi jalan nafas dan hiperventilasi bila diperlukan. - Elevasikan kepala sekitar 30O setelah spinal dinyatakan aman atau gunakan posisi trendelenburg untuk mengurangi tekanan intra kranial dan untuk menambah drainase vena. - Berikan manitol 0,5 1 gr/ kg iv. Bila tekanan darah sistolik turun sampai 90 mmHg dengan gejala klinis yang berkelanjutan akibat adanya peningkatan tekanan intra kranial. - Hiperventilasi untuk tekanan parsial CO2 (PCO2) sekitar 30 mmHg apabila sudah ada herniasi atau adanya tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (ICP). - Berikan phenitoin untuk kejang kejang pada awal post trauma, karena phenitoin tidak akan bermanfaat lagi apabila diberikan pada kejang dengan onset lama atau keadaan kejang yang berkembang dari kelainan kejang sebelumnya. Terapi obat obatan Gunakan Etonamid sebagai sedasi untuk induksi cepat, untuk mempertahankan tekanan darah sistolik, dan menurunkan tekanan intrakranial dan metabolisme otak. Pemakaian tiophental tidak dianjurkan, karena dapat menurunkan tekanan darah sistolik. Manitol dapat digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial dan memperbaiki sirkulasi darah. Phenitoin digunakan sebagai obat propilaksis untuk kejang kejang pada awal post trauma. Pada beberapa pasien diperlukan terapi cairan yang cukup adekuat yaitu pada keadaan tekanan vena sentral (CVP) > 6 cmH2O, dapat digunakan norephinephrin untuk mempertahankan tekanan darah sistoliknya diatas 90 mmHg.
21

Berikut adalah obat obatan yang digunakan untuk terapi pada epidural hematom:

Diuretik Osmotik

Misalnya Manitol : Dosis 0,5 1 gr/ kg BB iv. Kontraindikasi pada penderita yang hipersensitiv, anuria, kongesti paru, dehidrasi, perdarahan intrakranial yang progreasiv dan gagal jantung yang progresiv. Fungsi : Untuk mengurangi edema pada otak, peningkatan tekanan intrakranial, dan mengurangi viskositas darah, memperbaiki sirkulasi darah otak dan kebutuhan oksigen.

Antiepilepsi

Misalnya Phenitoin : Dosis 17 mg/ kgBB iv, tetesan tidak boleh lebihn dari 50 (Dilantin) mg/menit. Kontraindikasi; pada penderita hipersensitiv, pada penyakit dengan blok sinoatrial, sinus bradikardi, dan sindrom Adam-Stokes. Fungsi : Untuk mencegah terjadinya kejang pada awal post trauma. Analgetik Antibiotik

Komplikasi

Kelainan neurologik (deficit neurologis), berupa sindrom gegar otak dapat terjadi dalam beberapa jam sampai bebrapa bulan. Kondisi yang kacau, baik fisik maupun mental Kematian

PROGNOSA Prognosa biasanya baik, kematian tidak akan terjadi untuk pasien pasien yang belum koma sebelum operasi. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural hematom dengan kesadaran yang menurun. 20% terjadi kematian terhadap pasien pasien yang mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan.

22

Daftar Pustaka
1. http://www.emedicine-epidural hematoma: articly by Daniel D Price, MD.

2. Snell R.S. Neurologi Klinik. Editor, Sjamsir, edisi ke dua, cetakan pertama, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 1996. hal 521-532. 3. Mardjono M., Sidarta P., dalam Neurologi Klinis Dasar, cetakan kedelapan, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 2000. hal 255-256. 4. http://www.emedicine-case-based-pediatrics.htm. 5. Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi revisi. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC, 1997 6. Saul, Thomas G. 2005. Management of Head Injury.

23