Anda di halaman 1dari 16

SISTEM EKSKRESI MANUSIA

Disusun untuk memenuhi tugas Konsep Dasar IPA 1

Oleh :

1. Ely Windiasti 2. Erna Widyawati 3. Hernisita Wijayanti 4. Indri Pebiyani H 5. Muhajirin Aziz

K7112075 K7112078 K7112105 K7112112 K7112147

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

EKSKRESI

Eksresi adalah proses pengeluaran zat sisa metabolisme baik berupa zat cair dan zat gas. Zat-zat sisa zat sisa itu berupa urine (ginjal), keringat (kulit), empedu (hati), dan CO2 (paruparu). Zat-zat ini harus dikeluarkan dari tubuh karena jika tidak dikeluarkan akan mengganggu bahkan meracuni tubuh. Selain ekskresi, ada juga defekasi dan sekresi. Defekasi adalah pengeluaran zat sisa hasil proses pencernaan berupa feses(tinja) melalui anus. Sedangkan sekresi adalah pengeluaran oleh sel dan kelenjar yang berupa getah dan masih digunakan oleh tubuh untuk proses lainnya seperti enzim dan hormon.

GINJAL

Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di rongga perut sebelah kanan dan kiri ruas tulang belakang. Letak ginjal sebelah kiri lebih tinggi dari ginjal sebelah kanan. Itu karena di atas ginjal sebelah kanan terdapat hati yang berukuran besar. Bentuk ginjal seperti biji kacang berwarna merah keunguan dengan panjang sekitar 10 cm dan berat sekitar 200 gram. Ginjal dibungkus oleh semacam selaput tipis yang disebut kapsul.

Fungsi ginjal:

Menyaring zat-zat sisa metabolisme dari dalam darah yang dikeluarkan dalam bentuk urin.

Mempertahankan dan mengatur keseimbangan air dalam tubuh. Menjaga tekanan osmosis dengan cara mengatur konsentrasi garam dalam tubuh. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dengan cara mengeluarkan kelebihan asam atau basa melalui urin.

Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme seperti urea, kreatinin, dan amonia melalui urine.

Bagian-bagian ginjal: 1. Korteks (kulit ginjal), terdapat jutaan nefron yang terdiri dari badan malphigi. Badan malphigi tersusun atas glomerulus yang diselubungi kapsula Bowman dan tubulus (saluran) yang terdiri dari tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, dan tubulus kolektivus. 2. Medula (sumsum ginjal), terdiri atas beberapa badan berbentuk kerucut (piramida). Di sini terdapat lengkung henle yang menghubungkan tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distal. 3. Rongga ginjal (pelvis), merupakan tempat bermuaranya tubulus yaitu tempat penampungan urin sementara yang akan dialirkan menuju kandung kemih melalui ureter dan dikeluarkan dari tubuh melalui uretra. Proses pembentukan urine dalam bentuk skema: Darah dari aorta menuju glomerulus (filtrasi atau penyaringan) protein tetap berada di pembuluh darah dan terbentuk urin primer yang mengandung air, garam, asam amino, glukosa dan urea tubulus kontortus proksimal (reabsorpsi atau penyerapan kembali) menyerap glukosa, garam, air, dan asam amino. Terbentuk urin sekunder yang mengandung urea tubulus kontortus distal (augmentasi atau pengeluaran zat) melepaskan zat-zat yang tidak berguna atau berlebihan ke dalam urin dan terbentuk urin sebenarnya tubulus kolektivus rongga ginjal ureter kandung kemih uretra urine keluar tubuh. Jadi, pembentukan urine dibagi menjadi 3 tahap, yaitu filtrasi (penyaringan), reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (pengeluaran zat).

Zat-zat yang terkandung dalam urin:


Air. Kurang lebih 95%. Urea, asam urat, dan amonia dan merupakan sisa pembongkaran protein. Empedu yang memberikan warna kuning pada urine. Garam. Zat yang bersifat racun atau berlebihan lainnya.

Faktor yang memengaruhi jumlah urine yang keluar: 1. Jumlah air yang diminum. 2. Banyaknya garam yang harus dikeluarkan dari darah agar osmosisnya seimbang. 3. Pengaruh hormon antidiuretik(ADH) atau hormon vasopresin. Yaitu hormon yang mengatur kadar air dalam darah. 4. Iklim/musim/cuaca. Ketika musim hujan(dingin) produksi urin berlebihan, ketika musim kemarau(panas) produksi urin berkurang. 5. Stimulus atau saraf. Gangguan dan kelainan pada ginjal: 1. Uremia tertimbunnya urea dalam darah sehingga mengakibatkan keracunan. 2. Albuminuria urine mengandung albumin(protein) yang disebabkan oleh kerusakan pada glomerulus. 3. Diabetes insipidus penyakit kekurangan hormon vasopresin atau hormon antidiuretik(ADH) yang mengakibatkan hilangnya

kemampuan mereabsorpsi cairan. Akibatnya, penderita bisa mengeluarkan urine berlimpah mencapai 20 liter. 4. Diabetes melitus terdapat glukosa dalam urine. Terjadi karena menurunnya hormon insulin yang dihasilkan pankreas.

5. Nefritis

gangguan pada ginjal karena infeksi bakteri streptococcus sehingga protein masuk ke dalam urine.

6. Batu ginjal 7. Gagal ginjal

adanya endapan garam kalsium di dalam kantong kemih ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga harus dibantu dengan cuci darah atau cangkok ginjal.

8. Hematuria

urin mengandung darah karena adanya kerusakan pada glomerulus.

KULIT

Kulit merupakan salah satu alat ekskresi. Karena kulit mengeluarkan keringat. Keringat keluar melalui pori-pori kulit. Keringat mengandung air dan garam-garam mineral.

Fungsi kulit:

Alat pengeluaran (ekskresi) dalam bentuk keringat. Pelindung tubuh dari gangguan fisik (sinar, tekanan, dan suhu), gangguan biologis (jamur), dan gangguan kimiawi.

Mengatur suhu badan. Tempat pemberntukan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan sinar matahari. Tempat menyimpan kelebihan lemak. Sebagai indra peraba.

Bagian-bagian kulit:

1. Epidermis (lapisan kulit ari) Merupakan bagian terluar yang sangat tipis. Bagian ini terdiri dari dua lapisan, yaitu: a. Lapisan tanduk/stratum korneum

Lapisan paling luar dan tersusun dari sel yang telah mati. Mudah terkelupas. Tidak memiliki pembuluh darah dan syaraf sehingga tidak terasa sakit dan tidak mengeluarkan darah bila lapisan ini mengelupas.

b. Lapisan malpighi

Tersusun dari sel-sel hidup. Terdapat pigmen yang memberikan warna kulit dan melindungi dari sinar matahari. Terdapat ujung syaraf.

2. Dermis (lapisan kulit jangat) Lapisan dermis lebih tebal dibandingkan lapisan epidermis. Di lapisan ini terdapat bagianbagian berikut:

Pembuluh darah untuk mengangkut zat-zat makanan ke rambut. Kelenjar keringat menghasilkan keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori kulit. Ujung syaraf. Yang terdiri dari korpuskulus pacini (reseptor tekanan), korpuskulus meissners (reseptor raba/sentuhan), korpuskulus ruffini (reseptor panas), reseptor rasa nyeri, dan korpuskulus Krause (reseptor dingin).

Kelenjar minyak. Menghasilkan minyak yang berfungsi untuk meminyaki rambut dan kulit agar tidak kering.

Kantong rambut merupakan tempat tertanamnya akar rambut.

4. Jaringan bawah kulit (subkutaneus) Pada jaringan ini terdapat lemak yang berfungsi menahan panas tubuh dan melindungi tubuh bagian dalam dari benturan. Proses Keluar Keringat

Keringat itu keluar dari kelenjar keringat yang terdapat di lapisan kulit, terletak di dekat kelenjar lemak.

Keringat dikontrol oleh sistem saraf otonom, yang artinya itu adalah itu terjadi diluar kontrol kesadaran kita. Hal ini dapat menjelaskan kenapa keringat juga keluar di saat seseorang gugup atau ketakutan. Ini juga menjelaskan keadaan orang yang hiperhidrosis, berkeringat banyak.

keringat keluar berfungsi sebagai salah satu sistem pembuangan zat metabolit dan sisa metabolisme, terutama yang bersifat larut air. Selain itu keluar keringat ini juga berfungsi sebagai pendingin di kala seseorang merasa kepanasan, untuk keseimbangan suhu tubuh. Pada beberapa individu, seperti yang sistem metabolisme atau yang sistem keseimbangan dalam tubuhnya tidak baik, keluar keringat ini sebenarnya amat membantu.

Keluarnya keringat bisa memperbaiki keadaan. Pada orang-orang yang gemuk ataupun yang jarang olah raga juga bisa gampang berkeringat, itu karena ambang kerja organ begitu rendah dan sistem metabolisme yang tidak bagus sehingga dengan sedikit kerja / bergerak saja sudah bisa mengeluarkan keringat. Ini bisa jadi juga telah ada masalah

dengan kerja jantung. Makanya pada beberapa orang yang punya masalah jantung, tangannya pasti berkeringat.

Untuk keadaan Gemuk adalah diet dan olah raga. Sekarang, yang manakah yang menyebabkan keadaan ananda yang selalu berkeringat ini ? keadaan panas kah ? stres ? atau ananda ini memang orang yang hiperhidrolis? atau ananda orang yang gemuk ? Seperti yang telah kami utarakan di atas, bahwa produksi keringat ini diatur oleh kerja sistem saraf otonom.

Makanya di sini kami perlu sarankan untuk menghindari stres. Stres ini mempengaruhi sistem saraf, termasuk otonom. Minum banyak air putih akan sangat membantu untuk mengganti kehilangan air yang keluar dari kelenjar keringat itu. Kalau tidak diimbangi dengan ini, yang ada tubuh malah bisa mengalami dehidrasi. Walaupun keringat ini keluar diatur oleh sistem saraf otonom, dan dipengaruhi oleh keadaan-keadaan seperti yang telah kami ungkapkan sebelumnya, ada suatu cara yang bisa dikatakan jitu untuk mengendalikan keluarnya keringat.

Cara yang dikembangkan oleh para ahli akufuntur, dengan cara menekan / mematikan sistem saraf yang berkaitan dengan proses keluarnya keringat. Mungkin anda tertarik dengan cara ini ? Kalau begitu, ananda bisa langsung berkonsultasi dengan ahli akupuntur di klinik akupuntur terdekat. Tapi tentunya cara ini bisa dilakukan kalau memang tidak ada faktor lain, seperti penyakit, yang menyebabkan banyaknya keringat yang keluar. Lakukan pola hidup sehat, minimal ini dapat memperbaiki keseimbangan dan sirkulasi cairan tubuh serta sistem metabolisme.

Olah raga yang teratur membantu kelancaran sirkulasi darah dan kerja otot jantung. Olah raga dapat juga membantu kelancaran pengeluaran zat-zat racun, baik melalui keringat dan melalui sistem pembuangan akhir (urin dan feses). Jadi tubuh menjadi lebih bugar dan sehat.

Faktor-faktor pemicu keringat: 1. Peningkatan aktifitas tubuh 2. peningkatan suhu lingkungan 3. guncangan emosi 4. syaraf

Gangguan pada kulit: Jerawat merupakan gangguan pada kelenjar minyak yang umumnya dialami oleh anak remaja. 1. Scabies atau kudis merupakan penyakit kulit karena tungau(Sarcoptes scabies). 2. Pruvitus kutanea merupakan penyakit kulit dengan gejala timbul rasa gatal yang dipicu oleh iritasi saraf sensorik perifer. 3. Eksim atau alergi merupakan penyakit kulit karena infeksi atau iritasi bahan luar yang termakan atau menyentuh kulit. 4. Gangren adalah kelainan pada kulit yang disebabkan oleh matinya sel-sel jaringan tubuh. Ini disebabkan oleh suplai darah yang buruk di bagian tertentu salah satunya akibat penekanan pada pembuluh darah tertentu(seperti balutan yang terlalu ketat).

PARU-PARU

Paru-paru juga merupakan salah satu alat ekskresi. Karena paru-paru mengeluarkan gas CO2 dan uap air.

Fungsi paru-paru: Paru-paru berfungsi sebagai pertukaran oksigen dan karbondioksida yang tidak dibutuhkan tubuh. Selain itu masih banyak lagi fungsi paru-paru diantaranya penjaga keseimbangan asam basa tubuh. bila terjadi acidosis, maka tubuh akan mengkompensasi dengan mengeluarkan banyak karbondioksida yang bersifat asam ke luar tubuh. Dalam sistem ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan Karbondioksida (CO2) dan Uap air (H2O). Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung. Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan. Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk kedalam darah melalui kapiler darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh haemoglobin untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh. Hemoglobin yang terdapat dalam butir darah merah atau eritrosit ini tersusun oleh senyawa hemin atau hematin yang mengandung unsur besi dan globin yang berupa protein.

Pengangkutan CO2 sebagai hasil zat sisa metabolisme, diangkut oleh darah dapat melalui 3 cara yakni sebagai berikut: 1. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2). 2. Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari seluruh CO2). 3. Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). 4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Oksigenasi a. Saraf otonomik b. Hormone dan obat c. Alergi pada saluran napas d. Perkembangan e. Lingkungan f. Perilaku 1. Faktor Fisiologis Setiap kondisi yang mempengaruhi kardiopulmunar secara langsung akan mempengaruhikemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Proses fisiologi selain yang mempengaruhi proses oksigenasi pada klien termasuk perubahan yang mempengaruhi kapasitas darah untuk membawa oksigen, seperti anemia, peningkatan kebutuhan metabolisme, seperti kehamilan dan infeksi. 2. Faktor Perkembangan Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi oksigenasi jaringan. Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-

kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas. 1) Bayi premature : yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan 2) Bayi dan toodler : adanya resiko infeksi saluran pernafasan akut 3) Anak usia sekolah dan remaja : resiko saluran pernafasan dan merokok 4) Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru 5) Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosclerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun

3. Faktor Perilaku Perilaku atau gaya hidup baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan oksigen.Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi pernafasan meliputi: nutrisi, latihan fisik, merokok, penyalahgunaan substansi. 1) Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang terlalu tinggi lemak menimbulkan arteriosclerosis 2) Exercise (olahraga berlebih) :Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen 3) Merokok : nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan coroner 4) Substance abuse (alkohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depesi pusat pernafasan

4. Faktor Lingkungan 1. Tempat kerja (polusi) 2. Suhu lingkungan 3. Ketinggian tempat dari permukaan laut 5. Faktor Psikologi Stres adalah kondisi di mana seseorang mengalami ketidakenakan oleh karena harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak dikehendaki (stresor). Stres akut biasanya terjadi oleh karena pengaruh stresor yang sangat berat, datang tiba-tiba, tidak terduga, tidak dapat mengelak, serta menimbulkan kebingungan untuk mengambil tindakan. Stress akut tidak hanya berdampak pada psikologis nya saja tetapi juga pada biologisnya , yaitu mempengaruhi sistem fisiologis tubuh, khususnya organ tubuh bagian dalam yang tidak dipengaruhi oleh kehendak kita. Jadi, stres tersebut berpengaruh terhadap organ yang disyarafi oleh syaraf otonom.

Hipotalamus membentuk rantai fungsional dengan kelenjar pituitari (hipofise) yang ada di otak bagian bawah. Bila terjadi stres, khususnya stres yang akut, dengan cepat rantai tersebut akan bereaksi dengan tujuan untuk mempertahankan diri dan mengadaptasi dengan cara dikeluarkannya adrenalin dari kelenjar adrenal tersebut. Nah, adrenalin inilah yang akan mempengaruhi alat dalam tubuh yang tidak dipengaruhi oleh kehendak kita.Terjadinya kegagalan dalam proses suplai oksigen ke organ-organ tersebut karena organ-organ tubuh dalam bekerja selalu membutuhkan oksigen secara teratur dalam jumlah yang cukup, dan oksigen tersebut dibawa oleh darah yang mengalir ke organ-organ tersebut. 5. Ansietas atau kecemasan yang terlalu tinggi juga akan meningkatkan laju metabolisme tubuh dan kebutuhan akan oksigen. Tubuh berespons terhadap ansietas dan stress lain dengan meningkatkan frekuensi kedalaman pernafasan. Kebanyakan individu dapat beradaptasi, tetapi beberapa individu yang mengalami penyakit kronik seperti infark miokard tidak dapat mentoleransi kebutuhan oksigen akibat rasa cemas.

Gangguan pada paru-paru:

Asma atau sesak nafas. Disebabkan alergi terhadap benda-benda asing yang masuk hidung.

Kanker paru-paru. Disebabkan oleh kebiasaan merokok atau terlalu banyak menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum, dan radiasi ionisasi yang memengaruhi pertukaran das di paru-paru.

Emfisema adalah penyakit pembengkakan alveolus yang menyebabkan saluran pernafasan menyempit.

HATI

Hati merupakan salah satu alat ekskresi karena hati mengeluarkan urea dan amonia ke luar tubuh. Hati terletak di rongga perut bagian kanan di bawah diafragma. Hati berwarna merah tua kecoklatan dengan berat sekitar 2 kg. Protein dalam tubuh setelah mengalami metabolisme akan menghasilkan zat-zat sisa yang mengandung nitrogen. Metabolisme protein akan menghasilkan asam amino yang selanjutnya diuraikan menjadi NH4OH dan senyawa NH3. Senyawa terakhir tersebut bersifat racun bagi sel sehingga harus segera dibuang. NH3 dalam sel segera diikat oleh karbon dioksida (CO2) dan asam amino ornitin membentuk asam amino sitrulin. Asam-asam amino ini tidak bersifat racun, relatif kecil sehingga masih dapat berdifusi meninggalkan sel masuk aliran darah dan akhirnya ke hati. Sitrulin yang masuk ke hati selanjutnya diubah oleh enzim sitrulin transaminase menjadi arginin, dan arginin akan diubah oleh enzim arginase menjadi ornitin kembali dan urea. Urea keluar dari hati bersama aliran darah dan kemudian akan disaring melalui glomerulus dalam ginjal, dan keluar bersama urine. Ornitin yang dihasilkan kemudian digunakan kembali untuk menetralisasi NH3. Proses perubahan dari ornitin ke ornitin kembali merupakan suatu siklus dan disebut siklus Krebs Ornitin atau siklus Krebs Urea

Ada kurang lebih 10 juta sel eritrosit (sel darah merah) yang dilepaskan tiap detik dari tempat pembuatannya, dan sebanyak itu pula yang rata-rata harus dirombak lagi. Eritrosit yang

telah tua akan menjadi rusak dan harus segera dibinasakan di hati. Ada sel-sel khusus yang bertugas menangkap atau merombak eritrosit tua tersebut yang disebut histiosit. Hemoglobin yang terkandung dalam eritrosit yang telah tua akan dipecah menjadi heme dan globin. Heme terdiri atas zat besi (Fe) dan cincin porfirin. Zat besi tersebut kemudian diambil dan disimpan di hati selanjutnya disimpan dalam sumsum tulang untuk pembentukan sel darah merah baru. Cincin porfirin diubah menjadi biliverdin dan direduksi lagi menjadi bilirubin. Bilirubin dilepaskan ke dalam darah. Di dalam usus, bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang kemudian oleh ginjal dalam bentuk urine. Urobilinogen memberikan warna kuning pada urine, sedangkan urobilinogen dan bilirubin memberi warna kuning pada tinja/feses.

Fungsi hati:

Menyimpan glikogen(gula otot) yang merupakan hasil pengubahan dari glukosa karena hormon insulin.

Menetralkan racun. Membentuk protrombin(untuk pembekuan darah). Tempat pengubahan provitamin A menjadi vitamin A. Tempat pembentukan urea dan amonia yang berasal dari pemecahan protein yang rusak yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh melalui urin.

Tempat pembentukan sel darah merah pada janin. Sebagai organ ekskresi yang bertugas merombak eritrosit(sel darah merah).

Gangguan pada hati: 1. Penyakit wilson merupakan penyakit keturunan dengan kadar zat tembaga dalam tubuh yang berlebihan sehingga mengakibatkan gangguan fungsi hati. 2. Hepatitis merupakan radang atau pembengkakan hati. 3. Sirosis merupakan penyakit hati yang kronis dan mengakibatkan guratan pada hati sehingga hati menjadi tidak berfungsi.