Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan. Perbandingan luas daratan dan perairan di bumi adalah 1:3. Luas daerah Kalimantan Barat adalah 146.760 km2, yang berarti hampir mencapai seperlima dari luas pulau Kalimantan seluruhnya, atau lebih luas dari pulau Jawa bersama pulau Madura. Kalimantan Barat memiliki pantai yang sangat berpotensi sebagai tempat berbagai kegiatan yang berupa pariwisata, budidaya perikanan, dan daerah pemukiman. Oleh karena itu diperlukan usaha agar pantai tersebut tetap terjaga dan berfungsi sebagaimana mestinya. Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai. Salah satu pantai yang berpotensi di daerah Kalimantan Barat adalah Pantai Kura-Kura Tanjung Gundul. Pantai tersebut merupakan daerah budidaya perikanan dan pariwisata yang strategis. Pantai ini harus dijaga kelestariannya sehingga diperlukan suatu pengukuran parameter oseanografi disekitar perairan pantai itu. Kuliah lapang ini mencoba untuk mengkaji ilmu oseanografi yang terdapat diperairan Pantai Kura-Kura Tanjung Gundul untuk melakukan pengukuran gelombang, pasang surut, arus, dan angkutan sedimen.

1.2 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian kuliah lapang ini adalah: 1. Mengetahui angkutan sedimen yang terdapat di susur pantai (di dalam dan di luar) dan di tolak pantai (di dalam dan di luar) 2. Mengetahui tinggi gelombang sigifikan, periode rata-rata dan sudut datang gelombang 3. Mengetahui MSL (Mean Sea Level) 4. Mengetahui kondisi arus (kecepatan dan arah) pada saat pasang tertinggi, surut terendah, surut menuju pasang dan pasang menuju surut

BAB II DASAR TEORI


2.1 Gelombang Gelombang merupakan gerakan partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan orbital secara bersamaan disebabkan oleh tranmisi energi serta waktu. Pengertian gelombang laut (ideal) adalah pergerakan naik turunnya muka air laut yang membentuk lembah dan bukit mengikuti gerak sinusoidal. Ketika gelombang mencapai pantai, seringkali diikuti dengan peningkatan ketinggian gelombang karena laut semakin dangkal sedangkan volume air yang mengalir dalam jumlah yang sama. Gelombang dipengaruhi oleh banyak faktor: 1) Angin: a) Kecepatan angin b) Panjang/jarak hembusan angin c) Waktu (lamanya) hembusan angin 2) Geometri laut (topografi atau profil laut dan bentuk pantai) 3) Gempa (apabila terjadi tsunami) sangat kecil/minor Terlihat diatas bahwa pada kenyataan gelombang laut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kondisi atmosfer. Kondisi angin tentu saja salah satunya cuaca yaitu kondisi sesaat dari atmosfer meliputi : suhu, tekanan (angin), uap air (awan) dan hujan.

Gambar 2.1 Pergerakan Gelombang (Sumber: Anonim,2008)

Keterangan: 1 = Arah angin 2 = Puncak gelombang (peak) 3 = Lembah gelombang (trough) Bentuk gelombang akan berubah sesuai dengan kedalaman dasar laut. Pada lokasi B bentuk perputaran gelombang berupa elips, semakin dangkal maka semakin elips. Apabila tinggi gelombang masih cukup tinggi maka gelombang akan pecah di pantai. Pada gelobang laut ini air hanya naik turun, namun tidak ada pergerakan atau aliran. Sedangkan pada gelombang tsunami, karena gelombangnya cukup panjang (jarak titik titik puncak (2 ke 2 berikutnya) cukup panjang maka ketika sampai di pinggir pantai akan semakin tinggi yang menyebabkan gelombang tsunami ini akan terkesan menyapu pantai.

Gambar 2.2 Gerak Suatu Gelombang yang Berada Pada Sistem Koordinat x-y, dan Menjalar Searah Sumbu x (Sumber: Anonim,2008) Pengertian gelombang yang dijelaskan di atas merupakan gelombang periode singkat (wave of short period), yang biasanya dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut. Selain tipe gelombang diatas, terdapat juga gelombang periode panjang (wave of long period) yang mempunyai periode lebih lama dari gelombang yang disebabkan oleh angin. Beberapa proses alam yang terjadi dalam waktu yang bersamaan akan membentuk variasi muka air laut dengan periode

yang panjang. Yang termasuk dalam kategori gelombang periode panjang, antara lain: gelombang pasang surut (astronomical tide/tidal wave), gelombang tsunami, dan gelombang badai (storm wave). 2.2 Pasang Surut (Pasut) Pasang surut merupakan fenomena naik dan turunnya permukaan laut secara pereodik yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari. Fenomena lain yang berhubungan dengan pasang surut adalah arus pasang surut, yaitu gerak badan air menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan surut. Gelombang pasang surut (pasut) adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dengan planet-planet lain terutama dengan bulan dan matahari. Gelombang ini mempunyai periode sekitar 12,4 jam dan 24 jam. Gelombang pasut juga mudah diprediksi dan diukur, baik besar dan waktu terjadinya. Sedangkan gelombang tsunami dan gelombang badai tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Berdasarkan faktor pembangkitnya, pasang surut dapat dibagi dalam dua kategori yaitu: pasang purnama (pasang besar, spring tide) dan pasang perbani (pasang kecil, neap tide). Pada setiap sekitar tanggal 1 dan 15 (saat bulan mati dan bulan purnama) posisi bulan-bumi-matahari berada pada satu garis lurus (Gambar 2), sehingga gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling memperkuat. Dalam keadaan ini terjadi pasang purnama dimana tinggi pasang sangat besar dibanding pada hari-hari yang lain.

) Gambar 2.3 Pasang Purnama (Sumber: Anonim,2008)

Sedangkan pada sekitar tanggal 7 dan 21, dimana bulan dan matahari membentuk sudut siku-siku terhadap bumi (Gambar 3) maka gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling mengurangi. Dalam keadaan ini terjadi pasang perbani, dimana tinggi pasang yang terjadi lebih kecil dibanding dengan hari-hari yang lain.

Gambar 2.4 Pasang Perbani (Sumber: Anonim,2008) Jarak antara matahari dan bumi lebih jauh daripada jarak antara bumi dan bulan, maka gaya tarikmenarik antara bumi dan matahari diperkirakan hanya sebasar 46%, sedangkan 54% merupakan gaya tatik-menarik antara bumi dan bulan. Sehingga gravitasi bulan tersebut merupakan pembangkit utama pasang surut. Pembangkit pasang surut dijelaskan dengan teori gravitasi universal yang menyatakan bahwa pada sistem dua benda dengan massa m1 dan m2 akn terjadi gaya tarik-menarik sebesar F. Di antara keduanya yang besarnya sebanding dengan perkalian massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. F= g m1.m2 Fenomena pembangkit pasang surut menyebabkan perbedaan tinggi permukaan air laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu dari bumi, bulan dan matahari. Pada saat kedudukan matahari segaris dengan sumbu bumi-bulan, maka terjadi pasang maksimum pada titik di permukaan bumi yang berada disumbu kedudukan relatif bumi, bulan dan matahari. Tipe Pasang Surut di bedakan menjadi 3 ( tiga) yaitu :

1) Pasang surut diurnal (harian tunggal) terjadi dari satu kali kedudukan permukaan air tertinggi dan satu kali kedudukan permukaaan air terendah dalam satu hari pengamatan. 2) Pasang surut semi-diurnal (harian ganda) terjadi dua kali kedudukan permukaan air tertinggi dan dua kali kedudukan permukan air terendah dalam satu kali pengamatan. 3) Pasang surut tipe campuran yaitu terjadi dari gabungan diurnal dan semidiurnal. Arus pasang surut merupakan gerak horisontal badan air menuju dan menjauhi pantai seiring dengan naik dan turunnya muka air laut yang disebabkan oleh gaya-gaya pembangkit pasang surut. Kecepatan arus pasang surut maksimum terjadi pada saat antara air laut tinggi dan rendah. Dengan demikian periode kecepatan arus pasng surut akan mengikuti periode pesang surut yang membangkitkannya. Pengamatan pasang surut dilakukan untuk memperoleh tinggi muka air laut disuatu lokasi. Tinggi rendahnya permukaan air laut saat pasang surut didaerah bisa di ukur dengan menggunakan sebuah papan palm (tidak pole) yang di beri garis-garis setiap 1dm (10cm) pengukuran dilakukan selama 24 jam terus menerus dan pencatatan tingginya permukaan air laut dilakukan tiap jam. Perbedaan antara puncak pasang tertinggi dengan air surut terendah disebut sebagai panjang air yang bisa mencapai dari beberapa meter hingga puluhan metr, dalam skala global Mean Sea Level. Secara teoritis dipengaruhi oleh faktor geoid, meteorologis, eustatik dan elemen-elemen hidrografi. Aliran arus yang terjadi pada saat berlangsungnya proses pasang dan surut disebut sebagai arus pasang dan arus surut. 2.3 Arus Arus merupakan gerakan massa air laut ke arah horisontal dalam skala besar. Besar kecilnya kecepatan arus sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) Kecepatan Angin

Kecepatan angin dapat menimbulkan gaya gesek dipermukaan laut. Arus permukan yang ditimbulkan disebut sebagai driff corrents. Jenis arus ini banyak terjadi disekitar permukaan perairan pantai. 2) Tahanan Dasar Makin tinggi tahanan dasar maka arus akan semakin lemah. 3) Gaya Coriolis Timbul akibat gerak rotasi bumi dan posisi bumi dalam mengitari matahari dan berperan dalam menentukan arah arus. Besarnya gaya Coriolis (F) ini sangat tergantung pada parameter Coriolis (f) dan kecepatan arus rata-rata (v) di suatu lokasi. Untuk parameter (f) diformulasikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut : f = 2 (sin ) ..............................................1)

Dengan : = kecepatan sudut poros bumi selama 1x rotasi dalam sehari (= 7,3x 10 -5 det-1)

= lintang geografis
Dengan demikian besarnya gaya Coriolis dapat ditulis dalam formula sederhana sebagai berikut : F = f.v........................................................2) 4) Perbedaan densitas Arus yang timbul sebagai akibat perbedaan densitas dinamakan sebagai Geostrophic Currents. Pada dasarnya arus ini bersama dengan drift currents membentuk arus umum atau arus horizontal atau arus permukaan yang sering kita ukur di lapangan. Gerak naik dan turunnya permukaan air laut karena pasut pada wilayah perairan dan interaksinya dengan batas-batas perairan tempat pasut tersebut terjadi menimbulkan gerak badan air ke arah horizontal. Fenomena ini disebut sebagai arus pasut (tidal stream / tidal current) yaitu gerak horizontal badan air menuju dan menjauhi pantai pantai seiring dengan

naik dan turunnya muka laut yang disebabkan oleh gaya-gaya pembangkit pasut.

BAB III METODOLOGI


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pelaksanaan kuliah lapang dilaksanakan di Pantai Kura-Kura Desa Tanjung Gundul Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang. Kuliah lapang dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 25 Juni 2009 sampai 27 Juni 2009. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Hidrooseanografi 3.2.1.1 Sedimentasi Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Meteran 2) Perangkap sedimen sebanyak 24 stasiun 3) Plastik sampel 3.2.1.2 Gelombang Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Tiang ukur 2) Stopwatch 3) Kompas geologi 3.2.1.3 Pasang surut (Pasut) Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Tiang pasut 2) Stopwatch 3.2.1.4 Arus Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Layang-layang arus 2) Stopwatch 3) Kompas geologi 3.3 Prosedur Praktikum

10

3.3.1 Hidrooseanografi 3.3.1.1 Sedimentasi 1) Perangkap sedimen sebanyak 24 stasun dipasang dengan jarak masingmasing stasiun adalah 50 m selama 24 jam pada dasar pantai dari Timur ke Barat pada jam 06.00 WIB 2) Perangkap sedimen diangkat pada jam 06.00 WIB 3) Sedimen yang terperangkap dari masing-masing perangkap dimasukkan ke dalam plastik sampel yang telah disediakan dan ditandai arahnya 4) Sedimen dikeringkan dan ditimbang secara terpisah 5) Massa kering dari sedimen dicatat 3.3.1.2 Gelombang 1) Tiang ukur ditancapkan pada dasar pantai 2) Pergerakan naik ( puncak ) dan turun ( lembah ) gelombang dibaca pada tiang ukur pada posisi sebelum gelombang pecah sebanyak 51 kali 3) Gelombang yang terbentuk dihitung dalam selang waktu yang ditentukan untuk mengukur periode gelombangnya 4) Hasil pengukuran diolah. 3.3.1.3 Pasang Surut (Pasut) 1) Tinggi muka air laut yang tertera pada tiang pasut dicatat setiap jam. 2) Hasil pengukuran diolah. 3.3.1.4 Arus 1) Tali diukur dengan meteran sepanjang 5 m yang dihubungkan dengan layang-layang arus 2) Layang-layang arus dilepaskan dan pada waktu yang bersamaan stopwatch arah arus dihidupkan 3) Diamati dan kompas geologi diarahkan mengikuti arah arus tersebut 4) Stopwatch dihentikan setelah tali pada layang-layang arus tersebut meregang 5) Waktu yang tertera pada stopwatch dan sudut yang ditunjukkan kompas geologi dicatat.

11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

12

4.1 Hasil 4.1.1 Sedimen

H istog ramD ata Ang kutan S edim en


30 20 10 volum e (m l) 0 -10 -20 -30 -40 no sta siun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Utara Selatan

Gambar 4.1 Grafik Angkutan Sedimen Susur Pantai

H istog ramData Ang kutan S edim en


30 20 10 volum e (m l) 0 -10 -20 -30 -40 no sta siun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Utara Selatan

Gambar 4.2 Grafik Angkutan Sedimen Susur Pantai 4.1.2 Gelombang

13

Grafik hubung an T rata-rata deng an H s


18 16 14 T ra ta-rata& Hs 12 10 8 6 4 2 0 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 08.00 10.00 12.00 Trata-rata Hs

W a ktu peng a m a ta n

Gambar 4.3 Histogram Tinggi Gelombang Signifikan dan Periode Rata-Rata

4.1.3 Pasang surut (Pasut)

Grafik pasangsurut
400 350 300 eleva si pa sa ngsurut 250 200 150 100 50 0 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 11.00 12.00 wa ktu peng a m a ta n

Gambar 4.4 Grafik Pasang Surut 4.1.4 Arus

14

Grafik Kecepatan dan Arah Arus


0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0
,0 0 ,0 0 ,0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 0 0 8 12 16 19 21 23 0 1 03 05 07 0 9 11

08,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00

Kecepatan Arus (m/s)

Waktu pengamatan

Gambar 4.5 Histogram Kecepatan terhadap Arah Arus

Grafik Kecepatan dan Arah Arus Terhadap Pasang Surut


0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0
08 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 .00

Kecepatan Arus (m/s)

400 350 300 250 200 150 100 50 0

Kecepatan(m/s) Tinggi Muka Air

Waktu Pengamatan

Gambar 4.6 Hubungan Kecepatan dan Arah Arus Terhadap Pasang Surut

15

4.2 Pembahasan 4.2.1 Sedimen Dari data angkutan sedimen maka akan dilihat perubahan garis pantai Pantai Kura-Kura Tanjung Gundul. Hal ini terjadi karena pengaruh ombak baik itu menuju susur pantai maupun ke tolak pantai. Pengukuran dilakukan dengan 24 stasiun pengamatan dan tiap stasiun berjarak 50 m. 1) Pada stasiun 1 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 2) Pada stasiun 2 sedimen jauh lebih banyak di dapatkan dari arah timur dibandingkan dari arah barat. Sedangkan Untuk tolak pantai lebih banyak dihasilkan dari arah utara daripada dari arah selatan. 3) Pada stasiun 3 sedimen tidak ada dari arah timur dan terdapat 7 ml dari arah barat. Sedangkan untuk tolak pantai, dari arah utara lebih banyak angkutan sedimen daripada arah selatan. 4) Pada stasiun 4 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 5) Pada stasiun 5 tidak dihasilkan angkutan sedimen dari arah susur pantai. Sedangkan untuk daerah tolak pantai dihasilkan sedimen yang hampir sama banyaknya baik dari arah utara maupun selatan. Nilainya hanya berbeda 1 ml lebih banyak arah selatan. 6) Pada stasiun 6 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 7) Pada stasiun 7 terdapat angkutan sedimen jauh lebih banyak dari arah barat daripada arah timur. Sedangkan untuk daerah tolak pantai, arah selatan hanya lebih banyak 2 ml daripada arah utara.

16

8) Pada stasiun 8 diperoleh angkutan sedimen yang lebih banyak dari arah barat daripada arah timur. Sedangkan untuk daerah tolak pantai, lebih banyak dari arah selatan dari pada arah utara. 9) Pada stasiun 9 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 10) Pada stasiun 10 terdapat angkutan sedimen hanya dari arah timur sebanyak 9,6 ml dan tidak terdapat angkutan sedimen dari arah barat. Untuk daerah tolak pantai angkutan sedimen diperoleh dari arah selatan sebanyak 0,2 ml dan tidak terdapat dari arah utara. 11) Pada stasiun 11 ada angkutan sedimen dari arah barat sebanyak 2,2 ml dan tidak terdapat dari arah timur. Untuk daerah tolak pantai terdapat 1 ml dari arah utara dan 3,2 ml dari arah selatan. 12) Pada stasiun 12 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah timur sebanyak 8 ml dan terbawa dari arah barat sebanyak 0,8 ml, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah selatan sebanyak 2,2 ml dan terbawa dari arah utara sebanyak 1,8 ml. 13) Pada stasiun 13 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah barat sebanyak 8 ml dan terbawa dari arah timur sebanyak 1 ml, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah utara sebanyak 10,2 ml dan tidak terdapat dari arah selatan. 14) Pada stasiun 14 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 15) Pada stasiun 15 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah barat sebanyak 7,2 ml dan terbawa dari arah timur sebanyak 1 ml, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah selatan sebanyak 11 ml dan terbawa dari arah utara sebanyak 4,2 ml.

17

16) Pada stasiun 16 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah timur sebanyak 10 ml dan terbawa dari arah barat sebanyak 5,8 ml, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah utara sebanyak 25 ml dan terbawa dari arah selatan sebanyak 5 ml. 17) Pada stasiun 17 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah timur sebanyak 0,8 ml dan tidak terdapat dari arah barat, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah selatan sebanyak 5 ml dan terbawa dari arah selatan sebanyak 0,2 ml. 18) Pada stasiun 18 angkutan sedimen susur pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah barat sebanyak 5,6 ml dan terbawa dari arah timur sebanyak 3 ml, sedangkan angkutan sedimen tolak pantai (di dalam pantai) yang terangkut lebih banyak dari arah selatan sebanyak 2,8 ml dan tidak terdapat angkutan sedimen dari arah utara. 19) Pada stasiun 19 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 20) Pada stasiun 20 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 21) Pada stasiun 21 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 22) Pada stasiun 22 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut. 23) Pada stasiun 23 tidak terdapat angkutan sedimen karena perangkap sedimennya tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh arus atau ombak yang membawa perangkap sedimen tersebut.

18

24) Pada stasiun 24 angkutan sedimen lebih banyak diperoleh dari arah timur sebanyak 2,4 ml dan dari arah barat sebanyak 1 ml. Sedangkan untuk daerah tolak pantai diperoleh angkutan sedimen lebih banyak dari arah selatan sebanyak 3,8 ml dan dari arah utara sebanyak 2,2 ml. Jadi untuk total keseluruhan sedimen diperoleh untuk daerah susur pantai lebih banyak dari arah timur daripada dari arah barat. Dari arah timur diperoleh sebesar 84,5 ml dan dari arah barat diperoleh 82,8 ml sehingga selisihnya adalah 0,7 ml. Sedangkan untuk daerah susur pantai diperoleh sedimen dari arah utara sebanyak 130,6 ml dan dari arah selatan diperoleh 102,4 ml. Sehingga sedimen lebih banyak dihasilkan dari arah utara dengan selisih sebesar 28,2 ml dari arah selatan. Setelah itu diperoleh nilai massa total dari angkutan sedimen yang diperoleh. Dari arah utara diperoleh massa total 121,2 g. Sedangkan dari arah selatan diperoleh massa total 121,2 g pula. Untuk angkutan sedimen yang datang dari arah timur didapat angkutan sedimen sebanyak 90,2 g. Sedangkan dari arah barat sebanyak 86,2 g. 4.2.2 Gelombang Dari gambar 4.3 diperoleh histogram tinggi gelombang signifikan yang tertinggi terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 10.00 WIB sepanjang 15,9 cm sedangkan tinggi gelombang signifikan yang terendah terjadi pada tanggal 27 Juni 2009, pukul 12.00 WIB sepanjang 6,1 cm. Dari gambar 4.3 diperoleh histogram periode rata-rata gelombang periode tertinggi terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 18.00 WIB selama 10,7 sekon sedangkan yang terendah terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 12.00 WIB selama 2,3 sekon. Dari kedua histogram tinggi dan periode gelombang dipengaruhi oleh kecepatan angin, lama hembusan angin, dan fetch. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar. Hal ini dapat disebabkan oleh kecepatan angin di

19

wilayah Indonesia umumnya rendah terutama di daerah Khatulistiwa. Dan dari data pengukuran tinggi gelombang yang diperoleh dapat diketahui sudut datang gelombang adalah sudut yang dibentuk oleh arah datangnya gelombang terhadap garis pantai. Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi atau gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah. 4.2.3 Pasang surut (Pasut) Pengambilan data pasut dilakukan untuk memperoleh data tinggi muka air laut di pantai Teluk Karang daerah Sedau. Pengamatan ini dilakukan setiap jam. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh pasang tertinggi 355 cm dan surut terendah 98 cm. Berdasarkan data yang telah di peroleh, pasutnya termasuk tipe harian tunggal (diurnal tipe) dengan satu kali pasang dan satu kali surut selama 24 jam. Tetapi hal ini tidak bisa di jadikan sebagai patokan karena pengamatan hanya dilakukan selama 3 hari, karena seharusnya pengamatan dilakukan minimal selama lima belas hari. Untuk mengetahui pasut secara pasti dapat di cari dengan menggunakan metode adminalti. Angin dengan kecepatan besar (badai, storm) yang terjadi di atas permukaan laut bisa membangkitkan fluktuasi muka air laut yang besar di sepanjang pantai. Apalagi jika badai tersebut cukup kuat dan daerah pantai dangkal dan luas. Panjang fetch membatasi waktu yang diperlukan gelombang untuk terbentuk karena Besarnya perubahan elevasi muka air tergantung pada kecepatan angin, fetch, kedalaman air, dan kemiringan dasar. Fetch adalah panjang daerah di atas mana angin berhembus dengan kecepatan dan arah konstan pengaruh angin

20

(mempengaruhi waktu untuk mentransfer energi angin ke gelombang). Fetch ini berpengaruh pada periode dan tinggi gelombang yang dibangkitkan. Gelombang dengan periode panjang akan terjadi jika fetch besar atau panjang. 4.2.4 Arus Berdasarkan hasil pengukuran arus pasut pada pantai Kura-Kura menunjukkan bahwa kecepatan berkisar antara 0,016722 m/s sampai dengan 0,135135 m/s. Kecepatan maksimumnya yaitu 0.135135 m/s yang terjadi pada tanggal 27 Juni 2009, pukul 07.00 WIB yaitu pada saat pasang menuju surut. Kecepatan minimumnya yaitu 0,01672 m/s yang terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 10.00 WIB yaitu pada saat surut menuju pasang.

21

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 1) Histogram tinggi gelombang signifikan yang tertinggi terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 10.00 WIB sepanjang 15,9 cm dan histogram periode rata-rata gelombang periode tertinggi terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 18.00 WIB selama 10,7 sekon 2) Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh pasang tertinggi 355 cm dan surut terendah 98 cm 3) Berdasarkan hasil pengukuran arus pasut, kecepatan minimumnya yaitu 0,016722 m/s yang terjadi pada tanggal 26 Juni 2009, pukul 10.00 WIB yaitu pada saat surut menuju pasang. Kecepatan maksimumnya yaitu 0,135135 m/s yang terjadi pada tanggal 27 Juni 2009, pukul 07.00 WIB yaitu pada saat pasang menuju surut. 5.2 Saran 1) Sebaiknya alat-alat hidrooseanografi yang digunakan disiapkan oleh panitia 2) Untuk penelitian berikutnya sebaiknya dilaksanakan di lokasi yang berbeda agar dapat informasi yang lebih luas tentang pengukuran gelombang, pasang surut, arus, dan angkutan sedimen.

22

Lampiran 1 : Hidrooseanografi
1) Sedimentasi Tabel Data Angkutan Sedimen Lintas Pantai
No. Stasiun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 volume (ml) Timur Barat 0 0 -46 0,2 0 7 0 0 0 0 0 0 -1,2 41 -1,5 5 0 0 -9,6 0 0 2,2 -8 0,8 -1 8 0 0 -1 7,2 -10 5,8 -0,8 0 -3 5,6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -2,4 1 -84,5 82,8 Selisih 0 -45,8 7 0 0 0 39,8 3,5 0 -9,6 2,2 -7,2 7 0 6,2 -4,2 -0,8 2,6 0 0 0 0 0 -1,4 -0,7

23

Tabel Data Angkutan Sedimen Susur Pantai


No. Stasiun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 volume (ml) Utara Selatan 0 0 11 -0,6 26 -2,6 0 0 27 -28 0 0 11 -13 11 -25 0 0 0 -0,2 1 -3,2 1,8 -2,2 10,2 0 0 0 4,2 -11 25 -5 0,2 -5 0 -2,8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,2 -3,8 130,6 -102,4 Selisih 0 10,4 23,4 0 -1 0 -2 -14 0 -0,2 -2,2 -0,4 10,2 0 -6,8 20 -4,8 -2,8 0 0 0 0 0 -1,6 28,2

24

2) Gelombang
tanggal 26/06/2009 pkl 08.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 =330 puncak 37 37 37 36 40 44 38 35 36 37 31 34 36 36 38 40 40 38 40 37 37 33 35 38 38 39 35 35 34 33 35 36 34 35 37 38 36 37 36 35 37 35 34 35 t=4'51 dtk lembah 30 29 29 29 27 31 30 30 31 32 30 31 30 31 30 30 30 29 29 27 31 32 29 29 27 33 33 32 31 32 30 32 32 29 29 30 29 31 28 29 30 29 31 31 tinggi 7 8 8 7 13 13 8 5 5 5 1 3 6 5 8 10 10 9 11 10 6 1 6 9 11 6 2 3 3 1 5 4 2 6 8 8 7 6 8 6 7 6 3 4 pkl 10.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 =305 puncak 13 15 14 15 20 22 27 23 15 15 10 7 11 15 18 27 22 17 20 18 9 18 17 22 19 9 11 13 11 12 15 12 10 15 13 15 11 15 8 8 8 18 13 11 t=4'59 dtk lembah 3 5 4 5 4 2 5 5 7 5 6 5 1 4 3 5 1 5 5 5 6 6 6 4 4 2 3 2 8 5 6 7 5 1 2 2 5 3 4 3 3 2 2 3 tinggi 10 10 10 10 16 20 22 18 8 10 4 2 10 11 15 22 21 12 15 13 3 12 11 18 15 7 8 11 3 7 9 5 5 14 11 13 6 12 4 5 5 16 11 8

25

45 46 47 48 49 50 51

34 35 34 35 34 34 33

30 30 31 29 30 30 31

4 5 3 6 4 4 2

45 46 47 48 49 50 51

9 11 12 7 7 12 17

4 2 5 2 3 3 5

5 9 7 5 4 9 12

26

pkl 12.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 pkl 16.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8

=310 puncak 48 46 46 45 54 49 44 45 49 50 42 40 42 45 45 48 46 44 45 44 39 45 40 37 41 41 40 44 45 48 44 43 43 43 44 40 41 45 42 41 40 41 40 38 44 44 42 40 41 45 43 =305 puncak 74 71 72 73 75 70 77 71

t=1'55 dtk lembah 35 35 36 39 38 37 38 39 35 36 35 35 37 33 31 31 36 36 35 36 34 32 35 36 38 36 37 36 35 35 36 35 36 35 34 34 37 35 37 38 37 36 38 39 39 35 38 39 39 35 37 t= 7'38 dtk lembah 60 63 59 61 64 63 61 63

tinggi 13 11 10 6 16 12 6 6 14 14 7 5 5 12 14 17 10 8 10 8 5 13 5 1 3 5 3 8 10 13 8 8 7 8 10 6 4 10 5 3 3 5 2 -1 5 9 4 1 2 10 6

pkl 14.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 pkl 18.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8

=230 puncak 66 63 66 66 65 71 64 67 68 66 66 66 67 68 69 67 67 66 66 66 67 66 67 68 69 70 69 75 73 66 66 69 68 67 66 66 77 69 67 69 68 72 66 71 67 71 71 71 68 70 69

t=5'25 dtk lembah 56 59 56 57 55 60 57 62 59 61 56 59 57 59 57 58 58 58 61 59 60 57 57 59 59 58 56 58 59 59 58 58 63 60 59 58 59 58 59 58 59 58 59 61 58 58 63 59 59 58 61

tinggi 10 4 10 9 10 11 7 5 9 5 10 7 10 9 12 9 9 8 5 7 7 9 10 9 10 12 13 17 14 7 8 11 5 7 7 8 18 11 8 11 9 14 7 10 9 13 8 12 9 12 8

tinggi 14 8 13 12 11 7 16 8

=280 puncak 77 75 74 74 75 73 74 78

t=9'07 dtk lembah 61 62 63 68 66 69 65 65

tinggi 16 13 11 6 9 4 9 13

27

27/06/2009 pkl 08.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 =35 puncak 59 59 59 59 60 58 57 59 61 59 58 58 59 58 57 58 56 57 56 60 58 58 61 61 60 60 57 60 58 57 59 57 58 59 60 59 60 58 58 58 57 60 59 t=4'25 dtk lembah 53 54 55 56 54 55 54 54 56 55 55 52 54 55 55 53 55 54 54 53 52 53 51 51 54 53 51 52 55 54 55 54 53 52 56 55 56 55 54 54 55 55 52 pkl 10.00 no 6 5 4 3 6 3 3 5 5 4 3 6 5 3 2 5 1 3 2 7 6 5 10 10 6 7 6 8 3 3 4 3 5 7 4 4 4 3 4 4 2 5 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 =330 puncak 59 58 58 58 58 63 61 60 58 58 58 58 59 59 58 58 58 61 59 59 59 58 58 59 59 57 60 59 59 59 60 62 60 58 57 57 57 58 59 58 59 58 58 t=6'30 dtk lembah 54 54 54 54 52 53 53 54 56 55 54 54 54 54 56 55 54 55 55 52 53 55 55 54 52 55 55 56 55 51 55 54 51 53 55 54 54 54 54 54 51 52 53

tinggi

tinggi 5 4 4 4 6 10 8 6 2 3 4 4 5 5 2 3 4 6 4 7 6 3 3 5 7 2 5 3 4 8 5 8 9 5 2 3 3 4 5 4 8 6 5

28

44 45 46 47 48 49 50 51

58 58 58 60 68 58 58 58

54 55 52 52 53 51 54 52

4 3 6 8 15 7 4 6

44 45 46 47 48 49 50 51

58 60 59 57 58 59 60 61

51 51 51 52 54 53 51 50

7 9 8 5 4 6 9 11

pkl 12.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

=335 puncak 41 39 40 40 39 39 41 41 40 40 40 41 41 39 40 40 38 41 38 39 39 39 38 39 41 40 38 39 38 40 41 37 39 39 37 38

t=6'54 dtk lembah 35 34 35 35 36 36 35 36 34 35 34 37 36 34 35 34 35 33 33 32 34 34 34 33 34 33 35 34 34 33 36 33 35 34 34 35

tinggi 6 5 5 5 3 3 6 5 6 5 6 4 5 5 5 6 3 8 5 7 5 5 4 6 7 7 3 5 4 7 5 4 4 5 3 3

29

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

38 37 37 40 38 39 39 41 40 41 39 38 38 37 38

34 33 34 35 34 33 34 33 33 33 35 34 35 35 35

4 4 3 5 4 6 5 8 7 8 4 4 3 2 3

Dari tabel 1-9 diambil 1/3 data pkl =330 08.00 t=4'51 dtk puncak lembah no (cm) (cm) 1 40 27 2 44 31 3 40 29 4 38 27 5 40 30 6 40 30 7 37 27 8 38 29 9 38 29 10 38 29 11 38 29 12 37 29 13 37 29 14 37 29 15 38 30 16 36 28 17 37 30 jlh H1/3 Hs T Trata-rata

pkl 10.00 tinggi (cm) 13 13 11 11 10 10 10 9 9 9 9 8 8 8 8 8 7 161 9,470588 291 5,705882 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

=305 puncak 27 27 22 22 23 22 20 18 18 20 15 18 15 17 18 15 17

t=4'59 dtk lembah 5 5 1 2 5 4 4 2 3 5 1 5 2 5 6 3 5 jlh H1/3 Hs T Tratatinggi 22 22 21 20 18 18 16 16 15 15 14 13 13 12 12 12 12 271 15,94118 299 5,862745

30

rata t=1'55 dtk lembah 31 38 31 36 35 35 32 35 37 33 35 36 36 35 34 35 35 jlh H1/3 Hs T Tratarata pkl 14.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 t=5'25 dtk lembah 59 58 58 59 56 58 58 59 57 58 58 60 58 58 56 56 55 jlh H1/3 Hs T Tratarata

pkl 12.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

=310 puncak 48 54 45 50 49 48 45 48 49 45 46 46 46 45 44 45 45

tinggi 17 16 14 14 14 13 13 13 12 12 11 10 10 10 10 10 10 209 12,29412 115 2,254902

=230 puncak 77 75 72 73 69 71 70 71 69 70 69 71 69 69 66 66 65

tinggi 18 17 14 14 13 13 12 12 12 12 11 11 11 11 10 10 10 211 12,41176 325 6,372549

pkl 16.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

=305 puncak 82 85 79 77 77 74 79 79 72 75 77 76 76 76 73 79 79

t= 7'38 dtk lembah tinggi 61 21 65 20 63 16 61 16 62 15 60 14 65 14 66 13 59 13 62 13 64 13 64 12 64 12 64 12 61 12 67 12 67 12 jlh H1/3 240

pkl 18.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

=280 puncak 80 80 79 77 79 78 77 75 78 75 78 78 80 80 77 75 77

t=9'07 dtk lembah 63 63 63 61 63 63 63 62 65 62 65 65 68 68 65 63 66 jlh H1/3

tinggi 17 17 16 16 16 15 14 13 13 13 13 13 12 12 12 12 11 235

31

Hs T Tratarata 27/06/2009 pkl 08.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 =35 puncak 61 61 60 60 60 60 59 59 58 59 60 58 58 60 57 58 58

14,1176 5 458 8,98039 2

Hs T Tratarata

13,8235 3 547 10,7254 9

t=4'25 dtk lembah 51 51 52 52 53 53 52 52 51 53 54 52 52 54 51 52 52 jlh H1/3 Hs T Trata-rata t=6'54 dtk lembah 33 33 32 34 33 33 33 35 35 34 34 34 33 33

tinggi 10 10 8 8 7 7 7 7 7 6 6 6 6 6 6 6 6 119 7 265 5,196078

pkl 10.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

=330 puncak 62 61 63 60 60 61 59 59 59 59 59 60 58 58 60 61 59

t=6'30 dtk lembah 51 50 53 51 51 53 51 51 51 52 52 53 51 52 54 55 53 jlh H1/3 Hs T Tratarata

tinggi 11 11 10 9 9 8 8 8 8 7 7 7 7 6 6 6 6 134 7,882353 390 7,647059

pkl 12.00 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

=335 puncak 41 41 39 41 40 40 40 41 41 40 40 40 39 39

tinggi 8 8 7 7 7 7 7 6 6 6 6 6 6 6

32

15 16 17

41 39 40

35 34 35 jlh H1/3 Hs T Tratarata

6 5 5 104 6,117647 414 8,117647

Trata-rata 5,7 5,8 2,3 6,4 9 10,7 5,2 7,6 8,1

Hs 9,5 15,9 12,3 12,4 14,1 13,8 7 7,9 6,1

waktu pengamatan 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 08.00 10.00 12.00

3) Pasang Surut (Pasut) Tabel Data Pasut No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Tanggal 25/06/2009 Pukul 19,00 20,00 21,00 22,00 23,00 24,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 11,00 P1 68 65 35 P2 348 335 310 275 258 242 235 234 239 255 252 253 250 245 238 222 209 P3

26/06/2009

172 155 94 83 81 90 100 102 102 98 96 70 69 58

33

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 4) Arus

27/06/2009

12,00 13,00 14,00 15,00 16,00 17,00 18,00 19,00 20,00 21,00 22,00 23,00 24,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 11,00 12,00

14 46 70 76 78 70 50 25 273 250

220 235 259 285 325 350 355 343 343 323 300 116 98 235 234 236 243 255 255 256 255 245 233 215 215

64 87 103

82 76 84 90 102 104 104 104 94 78 69 69

Tabel Data Arus


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pukul 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 Panjang Tali (m) 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Waktu (s) 291 299 116 200 80 71 233 281 100 301 Kecepatan(m/s) 0,017182 0,016722 0,043103 0,025 0,0625 0,070423 0,021459 0,017794 0,05 0,016611 Arah () 330 305 310 10 10 25 30 20 10 309 Keterangan arah TL T U TL U S B U TL U

34

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

69 65 102 103 171 80 39 45 37 53 64 90 62 157

0,072464 0,076923 0,04902 0,048544 0,02924 0,0625 0,128205 0,111111 0,135135 0,09434 0,078125 0,055556 0,080645 0,031847

295 312 20 305 230 75 345 45 295 10 305 55 265 275

U TL TL BL U TL T T B B BL BL U U

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2007, peta topografi, http://geocities.com/ourormed/tutorial_4.htm, dikunjugi pada tanggal 25 mei 2007. Munir, Moch, 2003, Geologi Lingkungan, Edisi 1, Bayumedia Publising, Malang. Poerbandono, der Nat, & Djunarsjah, E, 2005, Survei Hidrografi, Refika Adimata, Bandung. Sapie, B, dkk,___, Catatan Kuliah Geologi Fisika, itb, Bandung. Wibisono, M.S, 2005, Pengantar Ilmu Kelautan, PT. Grasindo, Jakarta.

35

36