Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Air susu Ibu (ASI) sebagai makanan alamiah merupakan makanan yang terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindari bayi dari berbagai penyakit infeksi. Pemberian ASI juga mempunyai pengaruh emosional yang luar biasa yang mempengaruhi hubungan batin ibu dan anak serta

perkembangan jiwa si anak. (Sidi Ieda Poernomo Sigit, 2007). Kemajuan informasi yang makin tinggi terutama gencarnya iklan susu formula yang akan mempengaruhi konsumen seolah-olah susu formula mampu menggantikan ASI merupakan suatu fenomena yang mengancam pertumbuhan dan perkembangan anak manusia

khususnya anak Indonesia. Selain itu tingginya aktivitas atau pekerjaan ibu di luar rumah semakin mendorong penggunaan susu formula untuk menggantikan ASI. Hal ini sesungguhnya sudah mengancam masa depan anak Indonesia . (Mesang, C.J 2005 : haI 2l) Kebijakan negara Indonesia melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI, maka setiap RS. yang mempunyai program pelayanan neonatus harus mengikuti Sepuluh Langkah

menuju keberhasilan menyusui seperti yang tertera pada pernyataan WHO/Unicef tahun 1989 (Alexander, JO. 2007, hal : 128). Pada peringatan Pekan ASI sedunia tahun 2002, telah dicanangkan kembali gerakan masyarakat peduli ASI oleh Presiden RI maka Departemen Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan standar pelayanan minimal (SPM) berdasarkan SK Menkes Nomor 1457 /Menkes/SKIXI2003 10 Oktober 2003, ASI Eksklusif masuk dalam daftar SPM sebagai indikator Indonesia sehat 2010 dengan target pencapaian ASI Eksklusif 80 % (Depkes RI. 2003) Kendala yang dihadapi dalam upaya pemberian ASI eksklusif adalah adanya praktik tradisional yang memberikan madu pada bayi baru lahir segera setelah lahir, hal ini terbukti merugikan kesehatan bayi baru lahir, selain praktek tradisional tersebut tidak berhasilnya pemberian ASI juga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor sosial ekonomi, perubahan sosial budaya (ibu bekerja, meniru teman, merasa ketinggalan),faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik, tekanan batin), faktor fisik ibu (sakit), faktor perilaku ibu (pendidikan, pengetahuan, dan sikap), faktor petugas kesehatan (pengetahuan dan sikap) dan meningkatnya promosi susu formula. (Soetjiningsih, 2007). Keberhasilan menyusui ini dapat di capai apabila ibu percaya diri dan dibantu dengan lingkungan sekeliling ibu untuk menyusui. Sebaliknya bila lingkungan tidak mendukung terutama saat bayi baru lahir ibu terganggu oleh promosi susu formula, maka ibu menjadi sukar

untuk mantap atau berhasil menyusui sehingga terjadilah kegagalan menyusui. Dengan demikian lingkungan menjadi faktor penentu kesiapan dan kesediaan ibu untuk menyusui bayinya. Apakah lingkungan sekitarnya mendukung ASI, tidak peduli atau justru menghalangi pemberian ASI. Pemahaman ini perlu dikaji agar kita bisa lebih mengetahui alasan ibu untuk menyusui atau tidak menyusui bayinya. (Sidi Ieda Poernomo Sigit, 2007). Hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008 - 2009 di peroleh data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup 64 % dan total bayi yang ada, persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi yaitu 46 % pada usia 2 3 bulan dan 14 % pada usia 4 5 bulan yang lebih memprihatinkan 13 % bayi di bawah 6 bulan telah diberi susu formula 1 dari 3 bayi usia 2 3 bulan diberi makanan tambahan (Majalah Kedokteran, Vol 14 Ukrida, 2006). Berdasarkan profil Dinas Kesehatan di Sulawesi Selatan tahun 2009 cakupan ASI eksklusif adalah 61.62 % dan pada tahun 2010 cakupan ASI eksklusif adalah 71.48%, serta pada tahun 2011 cakupan ASI eksklusif mencapai 73.48% Sementara di Puskesmas Makkasau yang menjadi tempat penelitian data asi eksklusif tiha tahun terakhir, yakni pada tahun 2009 bayi ASI eksklusif mencapai 68,12 dari 894 bayi yang terdata, tahun 2010 bayi ASI eksklusif meningkat mencapai

71,42 dari 912 bayi yang terdata dan pada tahun 2011 bayi ASI eksklusif meningkat lagi mencapai 72,23 dari 945 bayi yang terdata. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian

khususnya studi tentang beberapa faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar dengan batasan penelitian antara lain pengetahuan, sikap, pendidikan, lingkungan sosial dan tingkat sosial ekonomi. Sehingga hasil penelitian ini diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk para bidan dalam meningkatkan asuhan kebidanan pada ibu menyusui. B. Perumusan Masalah Uraian ringkas dalam latar belakang memberikan dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar?. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar.

2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu dengan

pemberian ASI pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar. b. Diketahuinya hubungan antara sikap ibu dengan pemberian ASI pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar. c. Diketahuinya hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar. d. Diketahuinya hubungan antara lingkungan sosial ibu dengan pemberian ASI pada bayi lahir normal di Puskesmas Makkasau Kota Makassar.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat institusi a. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan diperpustakaan STIKes YAPIKA MAKASSAR b. Merupakan informasi bagi puskesmas untuk menyusun strategi dalam penyusunan kebijakan mengenai ASI

2. Manfaat ilmiah a. Memeperkaya khasanah ilmu penegetahuan b. Merupakan salah satu bahan acuan bagi peneliti berikutnya

3. Manfaat praktis Merupakan pengalaman berharga bagi penulis serta dapat menjadi salah satu rujukan dalam penentuan kebijakan upaya peningkatan pemberian ASI pada bayi di Kota Makassar.