Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan, pendidikan memegang peranan penting karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sejalan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak perhatian khusus diarahkan kepada perkembangan dan kemajuan pendidikan guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan pembaharuan sistem pendidikan. Menurut Nurhadi (2001: 1) ada tiga komponen yan perlu disoroti dalam pembaharuan pendidikan yaitu pembahuruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan efektifitas metode pembelajaran. Kurikulum harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan, tidak oerload, dan mampu mengakomodasi keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Kualitas pembelajaran juga harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dengan cara penerapan strategi atau metode pembelajaran yang efektif di kelas dan lebih memberdayakan potensi siswa.

Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak dapat didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperole siswa rendah. Sejalan dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru mempunyai kebebasan dalam metode pembelajaran yang akan diterapkan. Dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bervariasi dan dapat menigkatkan peran serta siswa dalam pembelajaran. Dari sini maka harus dirancang dan dibangun suasana kelas sedemikian rupa, sehingga siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi satu dengan yang lain. Salah satu metode pembelajaran yang berkembang saat ini adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran ini menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswa-siswa saling bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Siswa dalam kelompok kooperatif belajar berdiskusi, saling membantu, dan mengajak satu sama lain untuk mengatasi masalah belajar. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa untuk aktif dan saling memberi dukungan dalam kerja kelompok untuk menuntaskan materi masalah dalam belajar. Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Model Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip

belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru dapat memperbaiki kesalahannya. Dalam pembelajaran model Group Investigation, interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mental yang baru. Dalam pembelajaran inilah kooperatif dalam memainkan peranannya dalam memberi kebebasan kepada pembelajar untuk berpikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan produktif. Pola pengajaran ini akan menciptakan pembelajaran yang akan diinginkan, karena siswa sebagai obyek pembelajar ikut terlibat dalam penentuan pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul KEEKTIPAN MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 ENREKANG

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.

Seberapa

besar hasil belajar matematika Siswa Kelas

SMP Negeri 5 Enrekang

dengan menggunakan model kooperatif tipe group investigation?


2. Seberapa besar hasil belajar matematika Siswa Kelas

SMP Negeri 5

Enrekang yang tanpa investigation?

menggunakan model kooperatif tipe group

3. Apakah penggunaan model kooperatif tipe group investigation? lebih efektif dalam pembelajaran matematika dari pada pengajaran matematika secara konvensional (tanpa menggunakan model model

pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation) pada Siswa Kelas SMP Negeri 5 Enrekang ? C. Tujuan Penelitian
a.

Untuk mengetahui efektifitas pengajaran konvensional

(tanpa

menggunakan model model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation)dalam rangka meningkatkan hasil belajar matematika

meningkatkan hasil belajar matematika pada Siswa Kelas Negeri 5 Enrekang.


b.

SMP

Untuk

mengetahui

efektifitas

model

model

pembelajaran

kooperatif tipe Group Investigation dalam rangka meningkatkan hasil belajar matematika meningkatkan hasil belajar matematika

pada Siswa Kelas c.

SMP Negeri 5 Enrekang.

Untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang cxengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif dari pada yang diajar dengan menggunakan pengajaran konvensional.

D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagi siswa; Dengan menerapkan metode pembelajaran Group Investigation siswa

dapat menerima pengalaman belajar yang lebih bervariasi sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika. 2. Bagi Guru; Menambah masukan tentang alternatif pembelajaran sehingga dapat memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan profesional guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Bagi sekolah; Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran pada waktuwaktu yang akan datang.

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Pengertian Belajar Belajar dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju kepribadian seutuhnya. Belajar adalah proses untuk mendapatkan pengetahuan. Menurut Walker belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dalan nilai-sikap. Sedangkan Cronbach menyatakan bahwa belajar itu merupakan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar adalah suatu cara mengamati

membaca, meniru, mengintimasi, mencoba sesuatu, mendengar, dan mengikuti arah tertentu (dalam Riyanto, 2009: 5). Muhibbin Syah (Rosdiana, 2008: 12) mengemukakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sedangkan menurut Slameto (Nasriani, 2009: 9) menyatakan bahwa: Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Adapun prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Slameto (Riyanto: 2009: 63), yaitu: 1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi 6 aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional. 2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional. 3. Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.

4. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya. Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus dilakukan. Disamping itu, siswa dapat menggunakan potensi otak untuk melakukan pekerjaannya, mengeluarkan ide/ gagasan, memecahkan masalah dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan menarik hati dalam belajar untuk mempelajari sesuatu dengan baik. Berdasarkan uraian di atas, maka belajar dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan pengetahuan melalui segenap rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sadar yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman.

B. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien (Muhaimin dalam Riyanto, 2009: 131). Rusman (2011: 144) menyatakan bahwa pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, pembelajaran merupakan jalannya kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Suatu pembelajaran akan berdaya guna bila guru menggunakan berbagai prinsip termasuk menumbuhkan adanya saling percaya antara guru dan anak didik, terutama memperhatikan kebutuhan individu anak didik agar tak mengganggu belajarnya. Pada dasarnya pembelajaran dilangsungkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan hal ini bisa terlaksana dengan baik jika didukung oleh empat unsur yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode, alat (media), dan penilaian. Pembelajaran yang dilaksanakan harus bertumpu pada enam pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO. Menurut Wiji Suwarno (Restika Parendrarti, 2010: 26), enam pilar pembelajaran tersebut adalah learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), learning to live together (belajar untuk menjalani hidup bersama), learning how to learn (belajar bagaimana cara mengembangkan potensi diri), dan learning throughout life (belajar terus menerus sepanjang masa). Pembelajaran bertujuan mengembangkan potensi siswa secara optimal yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat.

C. Hasil Belajar Matematika Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai setelah mengalami proses belajar dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari

10

sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar yang merupakan bukti dari hasil usaha yang telah dilakukan. Menurut Oemar Hamalik (http://definisipengertian.blogspot.com: 2011) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan menurut Nana Sudjana (Restika Parendrarti, 2009: 18) hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan demikian jika pencapaian hasil belajar itu tinggi, dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar itu berhasil. Pengujian bahan pelajaran matematika oleh guru kepada siswa dalam kegitan belajar mengajar matematika disekolah dimaksudkan agar siswa dapat menguasainya dengan baik. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran. Salah satu alat ukur yang biasa digunakan adalah berupa tes. Hasil pengukuran dengan menggunakan tes merupakan salah satu indikator keberhasilan siswa yang dapat dicapai dalam usaha belajarnya. Jadi, yang dimaksud dengan hasil belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah mengikuti proses pembelajaran matematika dalam kurun waktu tertentu. D. Model Pembelajaran Kooperatif

11

Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Menurut Holubec dalam Nurhadi, 2003:60). Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memeiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. 2. Siswa bekerja dalam team untuk menuntaskan materi belajar Team terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi, sedang, dan rendah. 3. Bila memungkinkan, anggota team merupakan campuran suku, budaya, dan jenis kelamin. 4. Sistem penghargaan diorientasikan baik pada kelompok maupun individu. Menurut Barbara (Juhraihan,2007:8) belajar kooperatif adalah strategi pembelajaran kelompok kecil yang digunakan untuk : 1. 2. Meningkatkan kemampuan akademik melalui kolaborasi kelompok. Memperbaiki hubungan antara siswa yang berbeda latar belakang etnik, jenis kelamin, dan kemampuannya. 3. Mengembangkan kelompok. 4. Mendorong proses demokrasi di kelas. Pembelajaran kooperatif melatih siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Hal ini dapat memberikan peluang kepada siswauntuk saling berinterksi dengan bertanya dan berbagi (shering) pemahaman konsepketerampilan untuk memecahkan masalah melalui

12

konsep kepada teman kelompoknya sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai. Diskusi merupakan salah satu metode yang dapat mengaktifkan siswa dan memungkinkan siswa menguasai konsep atau memecahkan suatu masalah melalui proses yang memberi kesmpatan berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Adapun keuntungan dari model pembelajaran kooperatif menurut Johnson (Nurhadi,2003:63) adalah : 1. 2. 3. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati. Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan. 4. Memungkinkan terbentuknya dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen. 5. 6. Menghilangkan sikap mementingkan diri sendiri. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial. Terdapat enam langkah-langkah atau tahapan dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajaran model kooperatif yaitu: Fase-fase Fase I Menyampaikan memotivasi siswa. tujuan dan Guru Tingkah Laku Guru menyampaikan semua tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Guru menyajikan informasi kepada

Fase II Menyajikan informasi.

siswa

dengan cara demonstrasi atau lewat bahan

13

Fase III Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok Fase IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase V Evaluasi kelompok-

bacaan. Guru menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka Guru mengevaluasi hasil belajar

tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersenta

Fase VI Memberikan penghargaan

sekan hasil kerjanya Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

E. Group Investigation Group Investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa

14

untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam metode Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group Investigation adalah: a. Membutuhkan Kemampuan Kelompok. Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja. b. Rencana Kooperatif. Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.

15

c.

Peran Guru. Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar diantara

kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok. Para guru yang menggunakan metode Group Investigation umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas. Untuk mengoptimalkan pencapaian hasil pembelajaran kooperatif dengan metode group investigation, maka guru perlu memahami prinsip-prinsip penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar. Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Seleksi topik Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task

16

oriented groups) yang beranggotakan 4 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik. b. Merencanakan kerjasama Para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) diatas. c. Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. d. Analisis dan Sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. e. Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat

17

dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru. f. Evaluasi Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya. Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam pembelajaran yang

menggunakan metode Group Investigation untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut, (Slavin, 1995) dalam Siti Maesaroh (2005:29-30): Enam Tahapan Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation. Tahap I Mengidentifikasi topik dan selidiki. membagi siswa ke dalam heterogenitas. Tahap II Merencanakan tugas. dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai. Tahap III Membuat penyelidikan. Siswa mengumpulkan, menganalisis dan Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan Kelompok dibentuk berdasarkan Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka

mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan

18

mengaplikasikan

bagian

mereka

ke

dalam

pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok. Tahap IV Mempersiapkan akhir. Tahap V Mempresentasikan akhir. Tahap VI Evaluasi. Melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran. Keberhasilan dari penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks, diantaranya: 1. 2. Pembelajaran berpusat pada siswa, Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, tugas Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan. tugas Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.

Kelompok lain tetap mengikuti.

19

3. 4.

Siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, Adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Group Investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran

kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Adapun keunggulan metode group ivestigation yaitu: 1. merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks 2. dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri 3. memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan 4. memberi kebebasan kepada siswa untuk berfikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan produktif. 5. Menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok

20

Sedangkan kelemahan dari metode group investigation yaitu: metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. F. Model Pembelajaran Konvensional Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang dimulai dengan pertemuan secara klasik. Berisi penyampaian materi dan hal-hal yang dianggap perlu kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Pada pengajaran konvensional komunikasi terjadi hanya antara guru dan siswa, sehingga siswa tidak dapat terlibat secara aktif. Russefendi (Mukhlis dalam Gita, 2009: 17) mengemukakan bahwa pelaksanaan pengajaran konvensional pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya lebih mengutamakan hafalan dari pengertian dan pengajaran berpusat pada guru. Dengan demikian guru mendominasi proses belajar mengajar di kelas dengan kata lain siswa cenderung pasif. Langkah-langkah pembelajaran dalam menggunakan metode pembelajaran konvensional sebagai berikut: 1. Guru menyampaiakan materi pelajaran 2. Guru menjelaskan materi pelajaran 3. Guru menuliskan contoh 4. Guru memberikan soal-soal latihan G. Evektivitas

21

Istilah efektivitas pada umumnya menyangkut letak harapan yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan. Chun dan Magison (Gita, 2009: 20) mengemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengarunya, kesannya), manjur yang dapat membawa hasil. Kemudian Mulyasa (Gita, 2009: 20) menyatakan bahwa efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan orang yang dituju. Selanjutnya Said (Wicaksono, 2009) mengemukakan bahwa efektivitas berarti berusaha untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, sesuai pula dengan rencana, baik dalam penggunaan data, sarana, maupun waktunya atau berusaha melalui aktivitas tertentu baik secara fisik maupun non fisik untuk memperoleh hasil yang maksimal baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dari pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai. Jadi, metode pembelajaran yang diterapkan dalam suatu pengajaran khususnya dalam pengajaran matematika dikatakan efektif apabila hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. H. Kerangka Berpikir Kegiatan belajar mengajar (KBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna, dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pengajar bertanggung

22

jawab merencanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran. Proses belajar mengajar bukanlah hal yang sederhana, karena siswa tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil yang baik maka perlu adanya model dan pendekatan dan metode dalam belajar mengajar, karena pendekatan dan model dan metode yang baik dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya merupakan upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar oleh siswa dan guru. Model group investigation dipandang efektif karena akan

memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran karena mengembangkan potensi anak untuk belajar secara mandiri, kerena dasarnya yang kuat. Pencapaian tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran dapat digambarkan dalam kerja latihan secara bertahap. KERANGKA BERPIKIR PENELITIAN

Proses Belajar Mengajar

Diterapkan model pembelajaran Konvensional

Diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation

Tes

Tes

23

Hasil Belajar

Hasil Belajar

Hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif dari pada hasil belajar yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang

I. Hipotesis Penelitian Berdasarkan masalah, kajian teori, dan kerangka berfikir maka dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut: Hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif dari pada hasil belajar yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Enrekang. Untuk kebutuhan pengujian statistik maka dirumuskan hipotesis statistik sebagai berikut: Ho : lawan H1 :

Keterangan:

24

: parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang. : parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran Konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang.

BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang betujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar matematika siswa terhadap kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional dan hasil belajar matematika

25

siswa yang menggunakan model pembelajaran tipe group investigation pada kelas VII SMPN 5 Enrekang. 2. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan melibatkan dua kelompok. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Desain dalam penelitian ini adalah Pre-test and Post-test Group (Suharsini Arikunto,2003:85). Didalam desain ini observasi dilakukan 2 kali yaitu sebelum eksperimen ( 01 ) disebut pre-test, dan perlakuan atau treatmen sesudah eksperimen ( 0 2 ) disebut post-test, dengan model sebagai berikut:
01 X 0 2

Keterangan:
01 : Pre-test

X : Perlakuan

0 2 : Post-test

B. Definisi Operasional Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah didefinisikan sebagai skor hasil belajar matematika yang diperoleh siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang melalui model pembelajajaran kooperatif tipe group investigation dan model pembelajaran konvensional.

26

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang tahun ajaran 2011/2012 yang terdiri dari 3 kelas. 2. Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Random Sampling. Adapun langkah-langkah pengambilan sampel sebagai berikut: 1. Dari 3 kelas yang ada di siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang diambil 2 kelas secara acak untuk dijadikan sampel dengan pertimbangan kelas homogen. 2. Dari 2 kelas yang dipilih secara Random Sampling, satu kelas untuk kelas eksperimen dan satu kelas untuk kelas kontrol. D. Instrumen Penelitian . Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Tes Akhir, yaitu tes yang diberikan kepada siswa dengan tujuan mengukur tingkat keberhasilan siswa yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. 2. Lembar Observasi, yang bertujuan untuk memperhatikan aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

27

3. Angket siswa yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelajaran matematika dan penerapan pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pemberian tes hasil belajar kepada masing-masing responden pada kedua kelompok (eksperimen dan kontrol). Pemberian tes dilakukan setelah kedua kelompok diberikan perlakuan (treatment). Skor pada tes hasil belajar yang terkumpul itulah yang merupakan data hasil belajar yang selanjutnya akan dianalisis dalam penelitian ini. F. Teknik Analisis Data Data yang terkumpul berupa skor hasil belajar yang dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif yang digunakan adalah tabel, grafik, mean, median, modus, standar deviasi, dan perhitungan persentase. Statistik deskriptif digunakan untuk mengungkapkan keadaan sampel atau mendeskripsikan karakteristik responden. Adapun standar yang digunakan dalam skala lima menurut ketentuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Gita Maya Gatri, 2010: 30) yaitu:

No

Skor

Kategori

28

1 2 3 4 5

0,00 34,00 35,00 54,00 55,00 69,00 70,00 84,00 85,00 100,00

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan

untuk

menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik statistik ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian. Untuk keperluan ini digunakan uji kesamaan rata-rata yaitu statistik Uji-t, jika memenuhi syarat normalitas. Adapun kriteria model pembelajaran kooperatif tipe group

investigation dinyatakan lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional sebagai berikut: Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 5 Enrekang yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation berada di atas rata-rata keberhasilan mengajar (KKM) SMP Negeri 5 Enrekang, yaitu 65. hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

29

DAFTAR PUSTAKA

Chairani, Zahra.2011. Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematik. www. google.com, . Gita Maya Gatry, 2009. Efektivitas Pembelajaran Matematika Melaui Pendekatan Pembeajaran Matematika Realistik Pada Pokok Bahasan Pecahan Di Kelas VII SMP Negeri 25 Makassar. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Makassar: FKIP Unismuh Makassar. Haling, Abdul. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM. Hasan, M. Iqbal.2003. Pokok-pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensial). Jakarta: PT. Bumi Aksara. http://definisi-pengertian.blogspot.com: 2011 Lithanta, Agus.2011. Alat Peraga Perkalian Model Matrik Sebagai Media Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan. www. google.com. Nasriani, 2009. Efektivitas Pembelajaran Matematika Dengan Penerapan Quantum Lerning Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pujananting Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru. Skripsi Unismuh Makassar: Tidak Diterbitkan. Restika Parendrarti, 2009. Aplikasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams-Games-Tournament) Dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi: UMS. (online) Rohani. HM, Ahamad.2004 Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Rosdiana, 2008. Pengaruh Penerapan Metode Permainan Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri 38 Bonto Perak Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep. Skripsi: UIN Alauddin Makassar. Rusman.2011. Pendekatan dan Model Pembelajaran. www. google.com, Rusman.2011.Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Uno, Hamzah B.2008. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

30

Yatim Riyanto, 2009. Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai referensi bagi pendidik dalam implementasi pembelajaran yang efektif dan berkualitas . Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hanafiah, N dan Suhana, C. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Sagala, S. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta http://ipotes.wordpress.com/2008/04/28/pembelajaran-kooperatif-tipe-groupinvestigation-gi/

31

PROPOSAL PENELITIAN

KEEVEKTIPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 ENREKANG

32

OLEH: TITIN HARYANTI K.10536 2540 08

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2009