Anda di halaman 1dari 15

Bab.

4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


BAB 4. Interferensi Saluran Bersama (Co channel Interference) Konsep seluler menjadikan komunikasi wireless memiliki karakteristik jangkauan BS kecil, daya yg di pancarkan BS rendah, dan spektrum frekuensi menjadi efisien Dgn diterapkannya konsep pengulangan frekuensi (frekuensi reuse), yaitu frekuensi Sama yg di pakai BS lain. Interferensi saluran bersama atau dalam bahasa Inggrisnya, co-channel interference, adalah satu kejadian dalam sistem terestrial dimana terdapat dua kanal atau lebih yangbekerja dengan frekuensi sama, yang masing-masing saling terganggu dan mengganggu. Akibat keadaan itu, maka satu receiver akan menangkap beberapa kanal tertentu daridua atau lebih pemancar yang juga bekerja pada frekuensi tersebut. Tingkat atau level penerimaannya bergantung dari jarak dua atau lebih pemancar ituberada dari receiver bersangkutan. Akibat dari interferensi tersebut akan sepenuhnya mengganggu komunikasi bila level sinyal utama yang diterima ( = C ) lebih kecil dari batas tertentu, sehingga ratio C/N atau C/I tidak lebih kecil dari 18 dB (= C/I 18 dB) , dimana N adalah level noise total pada penerimaan, dan I adalah level sinyal interferensi total dari beberapa pemancar. Kembali pada konteks interferensi co-channel dalam jaringan seluler. Dua BTS atau lebih yang bekerja dengan frekuensi sama tidak akan berinterferensi bila jarak satu sama lainnya cukup jauh. Jarak tersebut harus memenuhi hubungan :

dimana : K = faktor reuse yang bergantung pada sistem, GSM 4 R = radius sel, km D = jarak antara dua sel dengan frekuensi co-channel, km sebetulnya adalah jarak dua titik yang berada pada sistem koordinat yang tidak saling tegak lurus (non orthogonal coordinate).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


Koordinat tegak lurus yang kita kenali adalah Cartesius1. Koordinat yang dimaksudkan adalah koordinat yang bertumpu pada bentuk hexagonal atau segienam beraturan, sehingga sumbu koordinat membentuk sudut 60O (bukan 90 derajat). Koordinat ini digunakan untuk menentukan letak titik pusat setiap hexagon

Gbr-4.1 Jarak antara sel co-channel Pemakaian frequency reuse menjadikan kapasitas komunikasi seluler meningkat. Pengembangan komunikasi seluler di masa depan menjadi sangat mudah karena Dapat dilakukan dengan penambahan BS tanpa menyebabkan bertambahnya spektrum Frekuensi. Inilah keunggulan dari komunikasi seluler dibanding sistem komunikasi wireline yang ada sekarang. 4.1. FREQUENCT REUSE Daerah cakupan pelayanan sistem seluler terbagi atas daerah-daerah kecil yg disebut sel, dari Setiap sel terdapat BS. Kumpulan beberapa sel disebut Cluster.Setiap BS yg bersebelahan Menggunakan sekumpulan frekuensi yg berbeda dgn sel yg disebelahnya. Frekuensi yg sama dpt Digunakan oleh sel lain di mana jarak kedua sel yg menggunakanfrekuensi yg sama sedemikian Sehingga pengaruh interferensi anatarkanal dapat di minimalkan. Gambar di bawah memperlihatkan konsep Pemakaian frekuency reuse pd komunikasi Seluler. Label sel yg sama menunjukan pemakain Sekelompok frekuency kanal

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


Gbr-4.2 Konsep Frequency reuse Cakupan daerah pelayanan (coverage area) pd komunikasi seluler berbentuk Tidak beraturan. Pada prakteknya cakupan daerah pelayanan sangat di pengaruhi Oleh kondisi permukaan tanah, propogasi gelombang dan kondisi sekelilinginya. Untuk pendekatan analisis, cakupan daerah pelayanan pd mulanya didekati sbg Bentuk hexagonal, persegi empat dan segitiga Pendekatan daerah pelayanan bentuk hexagonal memiliki beberapa keuntungan antara lain : 1. Tidak adanya tumpang tindih daerah pelayanan 2. BS yang di perlukan sedikit 3. Antena yg di gunakan pada BS adalah antena omni-directional dan cakupan hexagonal mendekati cakupan antena omni-directional tersebut. 4. Biaya yg lebih murah di banding dgn bentuk segi empat atau segi tiga. Jarak minimum antar sel yg di perbolehkan pemakain frekuensi yg sama pd sel lain sangat di Pengaruhi oleh beberapa hal berikut : 1. Jumlah co-channel sel yg di perlukan 2. Entuk Geografis 3. Tinggi antenna 4. Daya yg di pancarkan oleh BS. Penggunaan ulang frekuensi yang dimaksudkan adalah menggunakan kanal radio pada frekuensi yang sama dalam satu kawasan layanan oleh beberapa BTS. Jarak antara satu BTS dengan BTS yang bersangkutan diatur cukup jauh sedemikan untuk menghidari interferensi. Dalam satu kawasan layanan lokasi, letak beberapa BTS itu mengikuti satu pola tertentu yang disebut pola pengulangan frekuensi (frequency reuse pattern) yang dinyatakan oleh satu faktor, K,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

Gbr.4.3 Sistem koordinat Hexagonal Memperlihatkan sistem koordinat pad hexagonal, terlihat bahwa jarak D antara C1(u1v1) dan C2(u2v2) dapat di nyatakan sebagai :

Jarak frequency reuse D dgn bentuk hexagonal dinyatakan oleh :

Di mana N adalah jumlah sel dalam satu cluster. Bentruk pola pemakaian frekuency Reuse Di perlihatkan pd gambar 4. Untuk Nilai N = 4,7,12 dan 19 Pada gambar 4.4. memberikan nilai D sebagai berikut : a. N = 4 , maka D = 3.46 R b. N = 7 , maka D = 4.6 R c. N = 12, maka D = 7 R d. N = 19, maka D = 7.55 R

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

Gbr.4.4 Pola pemakaian Frequency reuse utk N = 4, 7, 12, dan 19 Bila jumlah total kanal full-duplex sebanyak U, dan setiap sel memiliki Beberapa grup yg terdiri atas K kanal, dan banyaknya sel adalah N, Maka diperoleh hubungan U=kN Yg menyatakan jumlah kanal radio yg dpt di gunakan dlm komunikasi Seluler. Sekumpulan N sel dalam satu sistem di sebut cluster Bila cluster di ulang sebanyak M kali, maka jumlah total kanal dalam sistem C dinyatakan oleh C=MkN=UM Selain menyatakan jumlah sel dalam satu cluster, N menyatakan ukuran cluster. Bila N di Perkecil, sedang daerah cakupan tetap maka di perlukan banyak cluster yg berarti kapasitas Sistem meningkat. Bila ukuran cluster besar maka perbandingan antara jari-jari sel terhadap Sel co-channel adalah besar. Sebaliknya bila ukuran cluster kecil maka jarak antarsel makin dekat, Dalam perancangan, di pilih nilai N sedemikian rupa sehingga kapasitas sistem tetap Besar. Faktor fequency reuse dinyatakan oleh 1/N. 4.2. INTERFERENSI DAN KAPASITAS KOMUNIKASI SELULER Unjuk kerj komunikasi seluler sangat dibatasi oleh kehadiran interferensi Sumber-sumber yg dpt menyebabkan interferensi adalah : 1. MS lain dalam satu sel

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


2. Panggilan dalam proses dari sel sebelah 3. BS lain yg beroperasi pada frekuensi yg sama 4. Peralatan lain. Interferensi pd kanal suara dpt menyebabkan cross talk, sedang pd kanal Kontrol dpt menyebabkan call blocking. Ada 2 macam interferensi yaitu, 1. Interferensi antarkanal atau co-channel interferensi (CCI) 2. Interferensi kanal sebelah atau adjacent channel interference. 4.2.1. Co-Channel Interference Interferensi ko-kanal atau CCI disebabkan oleh sel yg menggunakan frekuensi Yg sama, Dimana sel ini disebut sbg sel co-channel. CCI ini tidak dapat dihilangkan dgn memperbesar Daya pembawa di pemancar. Ini karena, bila daya dinaikkan maka akan menaikkan daya Interferensi yg berasal dari sel co-channel. Untuk menghilangkan pengaruh interferensi, maka Jarak sel co-channel harus dipisahkan sedemikian sehingga secara fisik tidak terpengaruh oleh propogasi gelombang. CCI tidak dipengaruhi oleh daya pemancar tetapi merupakan fungsi jari-jari sel, R dan jarak Sel co-channel, D. Parameter co-channel reuse, Q di definisikan sebagai perbandingan D/R Yang dinyatakan sebagai : Q = D / R = 3. N Semakin besar Q, maka semakin besar jarak sel co-channel yg akan mengurangi pengaruh Interferensi. Nilai Q yg besar juga akan meningkatkan kualitas transmisi disebabkan dgn Mengecilnya level co-channel interference. Nilai Q yg kecil menyebabkan kapasitas sistem Meningkat karena ukuran cluster menjadi kecil. Perbandingan sinyal terhadap interfernce atau signal to interference ratio (SIR) dinyatakan oleh :

Seperti telah diketahui bahwa daya yg diterima oleh suatu receiver akan semakin turun dgn Makin jauh jarak receiver dari transmitter. Dapat di katakan untuk daya yg disebabkan oleh Suatu sumber penginterferensi pada komunikasi seluler sebanding dgn jarak sebagai D-n,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


Dimana n adalah faktor rugirugi propogasi (2<n<5). Untuk jumlah kanal penyebab interferensi I=6, didapat nilai SIR sebagai :

Untuk sistem dgn jarak kanal penyebab interferensi adalah sama (Dk = D) Didapat :

Q= 6 S
1/n

I
4.2.2. Adjacent Channel Interference Interferensi kanal sebelah disebabkan oleh interferensi sinyal yg berasal Dari sel sebelah. Penyebab adjacent channel interferensi adalah karena Tidak sempurnanya frekuensi operasi dari filter pada receiver. Penggunaan Receiver ini mengakibatkan frekuensi yg berdekatan dapat lolos dari filter. Interferensi ini akan menjadi masalah yg serius bila kanal yg bersebelahan Dari pengguna tersebut mentransmisikan informasi pd frekuensi yg sangat Dekat dgn frekuensi pengguna. Fenomena ini disebut sebagai efek near-far Dimana daya dari transmisitter yg terdekat menganggu kerja dari receiver ketika menerima sinyal dari transmitter yg jauh. Efek dari adjacent channel Interference dpt di perkecil dgn proses filterisasi yg baik dan pembagian kanal (channel assignment) yg baik. Channel assignment dilakukan dgn memberikan jarak frekuensi pemisah yg cukup besar antara satu kanal dgn kanal yg lainnya. 4.2.3. Pengendalian Daya untuk mengurangi interferensi. Pada komunikasi seluler, level daya yg di transmisikan oleh MS dikendalikan oleh BS dilakukan Untuk menjamin bahwa setiap MS mentransmisikan daya yg kecil dgn tetap menjamin kualitas Link yang baik pada reverse channel (kanal balik, yaitu kanal komunikasi dari MS ke BS). Pengendali daya bukan hanya memperpanjang umur bateri pesawat MS tetapi juga memperkecil S/I secara dramatik pada kanal balik dari sistem. Setelah rancangan penyebaran penggunaan frekuensi dengan prinsip pola reuse frequency di atas kertas selesai, dan kemudian diimplementasikan pada satu kawasan yang masuk dalam perencanaan, maka ada kemungkinan masih dapat terjadi interferensi cochannel.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


Oleh karena itu yang pasti dalam hal ini, harus dilakukan survey lapangan, sampai sejauh mana kondisi interferensi tersebut. Kalau memang ternyata nilai C/I sangat lebih kecil dari 18 dB (nilai batas ambang), maka langkah penanganan harus dilakukan. Selama ini terdapat dua alternatif cara yang ditempuh, yaitu, 1. Penggunaan antena sektor 2. Pengaturan arah condong antena (antenna downtilt) 4.2.3.1. Penggunaan antena sektor Antena sektor merupakan satu solusi yang dapat digunakan untuk mengurangi pengaruh interferensi co-channel berkaitan dengan pola radiasi yang dimilikinya. Dengan dilengkapinya reflektor pada antena dipolenya, maka pola radiasi kearah belakang menjadi sangat kecil sehingga mempunyai faktor perbandingan antara level pancaran kedepan dan level pancaran kebelakang (front-to-back ratio) yang besar.

Gbr-4.5 Beberapa tipe antenna BTS Perbandingan beberapa tipe antena yang digunakan pada BTS ditunjukkan padaGbr-4.5. Nampak pada Gbr-4.5, bahwa tipe antena yang paling kecil proteksinya terhadap pengaruh interferensi adalah tipe omni, sedang yang cukup baik adalah tipe sektor dengan sudut 60O. Dalam hal ini, yang sering diterapkan pada praktek operasional di lapangan adalah tipe sektor dengan sudut 120O.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

Sebagai ilustrasi pengaruh pengurangan co-channel interference dengan menggunakan antena Sektor Pada ilustrasi Gbr-4.6(a) nampak bahwa mobile-station (MS) berada di wilayah layanan dengan masing-masing sel Yang menggunakan antena omni. Pada gambar tersebut, dua sel yang bekerja dengan frekuensi sama, yaitu E1 dan E2. Ketika MS menuju ke perbatasan sel E1 dan D dalam proses mengembara (roaming), MS dapat menerima dua pancaran dengan frekuensi sama, yaitu yang berasal dari E1 dan E2. Sehingga terjadi interferensi.

Gbr-4.6(a) nampak bahwa mobile-station (MS) Tetapi bila kemudian digunakan antena sektor sebagai ganti antena omni pada seluruh sel dalam kawasan tersebut seperti ditunjukkan pada Gbr-4.7(b), maka interferensi akan dicegah karena back-lobe antena sektor yang kecil. Ketika MS yang semula berada pada sektor dengan frekuensi EA dan melakukan roaming menuju ke perbatasan sel E1 dan D, maka MS beralih bekerja dengan frekuensi EC , sementara sektor yang berada pada sel E2 yang menghadap MS bekerja dengan frekuensi EA. Salah satu sektornya yang bekerja dengan frekuensi EC (back-lobe atau side-lobe) tidak cukup kuat mencapai MS. Dengan demikian interferensi sulit terjadi pada sistem sel yang menggunakan antena sektor.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

Gbr-4.7(b), maka interferensi akan dicegah karena back-lobe antena sektor yang kecil. Ternyata tinggi antena juga berperan dalam proses co-channel interference, Makin tinggi menara antena, makin besar kemungkinan terjadi intreferensi tersebut, sehingga tinggi menara menjadi faktor yang juga dipertimbangkan. 4.2.3.2. Pengaturan arah condong antena Antena seluler terutama antena sektor dilengkapi dengan bagian mekanik pada sistem pemasangannya (antenna mounting) yang memungkinkan pengaturan arah condong antena (antenna downtilt), seperti ditunjukkan pada Gbr-8. Dengan sistem tersebut antena seluler dapat ditundukkan sampai lebih dari 5O. Dengan pengaturan (yang sangat diperhitungkan dan hati-hati) tersebut maka radius area cakupan dapat berkurang dan dapat mengatasi co-channel interference. Walaupun tindakan ini efektif untuk sel kecil (radius sekitar 500 meter), tetapi banyak juga dilakukan pada sel yang mempunyai radius lebih besar sampai 2 km. Downtilt akan efektif mengurangi : 1. 2. 3. Area cakupan sel yang memberikan kemungkinan kerapatan trafik meningkat, Interferensi co-channel dan adjacent channel dari sel yang lain, Dan mencegah interferensi co-channel bagi MS.

Besarnya sudut condong ditentukan sederhana dengan menggunakan rumusan ilmu ukur sudut sebagai yang ditunjukkan pada persamaan (4-8) berikut ini,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

10

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

Gbr-4.8 Pemasangan antena dgn Pengaturan downtilt.

Pada banyak pengalaman, penundukan antena dapat terjadi dengan sendirinya akibat bencana angin ribut. Sementara Pengerjaan pengaturan arah condong antena tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk antena yang mempunyai gain diatas 6 dB.Perlakuan downtilt dilakukan pada penginstalan BTS yang baru, dan pada saat berikutnya setelah operasional karena adanya kasus interferensi. Sudut condong tidak boleh lebih dari 15O. Contoh soal 4-2. Satu BTS yang mempunyai radius layanan 2 km, dan tinggi menara antena yang diperbolehkan pada kawasan tersebut adalah 40 m. Tentukan nilai kecondongan antena pada saat instalasi pertama. Jawaban : Sesuai dengan persamaan diatas, maka sudut kecondongan antena yang harus dilakukan adalah,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

11

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro


Dalam melakukan downtilt antena, patokan yang diambil adalah, berapa jauh radius cakupan yang akan dibuat dimana MS berada paling jauh. Pola radiasi vertikal dari antena BTS setelah dilakukan pengaturan sudut condong, ditunjukkan pada Gbr-4.9. Pada gambar nampak notasi H, adalah field strength relatif arah lurus horizontal yang disebut sebagai far-field strength.

Gbr-4.9 Pola radiasi antena yang di-downtilt Contoh soal 4-3. Misalnya BTS pada soal nomor-2 mempunyai pola radiasi vertikal seperti ditunjukkan pada Gbr-5.0. Tentukan nilai far-field-strength terhadap field strength maksimumnya untuk kasus pencondongan antena itu ? Jawaban : Sesuai dengan hasil soal nomor-2, yaitu penyondongan antena sebesar 1,15 O; maka nilai far-field-strength nya adalah ( ... dB) terhadap maksimum field strength sesuai pola radiasi Gbr-5.0.

Gbr-5.0 Pola radiasi vertikal antena sel ATTACHMENT :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

12

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

13

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

14

Bab.4 Interferensi Saluran Bersama Fakultas Teknik Elektro

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Agung Yoke B, ST

PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL

15