Anda di halaman 1dari 3

Tatalaksana SLE

Tabir surya, profilaksis endokarditis

artritis AINS Hidroksilorokuin Jika berlanjut

demam

Kelainan kulit dan mukosa Alopesia Cepat Lelah

Kelainan profil lipid Diet Olahraga Minyak ikan

Proteinuria persisten Hipertensi Peningkatan BUN, kreatinin C3 dan C4 tetap rendah

Kelainan SSP

indometasin

Jika berlanjut

Steroid dosis tinggi atau siklofosfamid intravena

hidroksiklorokuin

+metroteksat

+ steroid

Jika berlanjut

Biopsi ginjal

+statin

Kelas I

Kelas II dan IV

Kelas V

Kelas VI

steroid

Steroid dosis tinggi atau siklofosfamid intravena Alternative : MMF, azatiopirin

Steroid, MMF, siklosforin

Monitoring ketat Dialysis dan cangkok ginjal

Terapi Spesifik SLE bersifat individual dan berdasarkan pada tingkat keparahan penyakit. Obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) Peranan utama OAINS dalam SLE adalah mengatasi keluhan muskoskletal, seperti myalgia, arthralgia atau artritis. Salisilat cendrung menimbulkan peningkatan kadar transaminase serum maka fungsi hati harus dipantau secara teratur. Salisilat merupakan indikasi kontra untuk trombositopenia dan gangguan hemostasis.

Hidroksiklorokuin Hidroksiklorouin sering digunakan sebagai terapi tambahan bersama dengan glukokortikoid atau untuk pengobatan lupus discoid. Pada suatu studi obat ini dapat mengurangi frekuensi dan keparahan episode SLE dibandingkan placebo. Hidrosikloruin juga dapat membuat perubahan lipid plasma yang diinduksi oleh glukokortikoid. Dengan adanya efek samping berupa toksisitas retina, maka pada penggunaan obat ini kesehatan mata harus dipantau.

Glukokortikoid Merupakan terapi farmakologi utama dan sebagian besar anak memerlukan prednisone oral atau prednisolone atau metilprednisolon intravena pada fase tertentu SLE. Penggunaan obat ini meliputi terapi inisial, taperung off dan pemeliharaan. Dosis dan frekuensi terapi inisial bergantung pada keparahan penyakit dan system organ yang dapat timbul akibat terapi. Pemakaian jangka lama harus diimbangi dengan pemantauan komplikasi yang dapat timbul akibat terapi. Dosis rendah cukup untuk mengatasi anemia hemolitik akut, gangguan SSP, penyakit paru dan lupus nefritis. Setelah mepiiy9ldpv7opngatasi manifestasi akut, dosis glukokortikoid harus diturunkan secara perlahan disertai pemantauan klinis dan laboratorium. Penilaian adekuasi terapi berdasarkan pada respon klinis, pemeriksaan sel darah putih, trombosit, hemoglobin, komplemen serum, kadar antibody anti-dsDNA dan urinalisis. Penggunaan terapi tambahan seperti obat sitotoksik berdasarkan pada respon terhadap obat steroid, ketergantungan steroid dan toksisitas steroid. Preparat kostikosteroid dipilih berdasarkan potensi dan waktu paruh yang disesuaikan dengan kondisi dengan kondisi penderita. Pada prinsipnya dipilih jenis obat yang mempunyai efek antiinflamasi kuat dan waktu paruh sependek mungkin, dengan efek samping (retensi cairan dan elektrolit hipertensi) sesedikit mungkin, dalam dosis minimum, dan mudah dipergunakan. Obat yang paling memenuhi kriteria diatas adalah prednisolone, dengan alternative prednisone atau metilprednisolon tergantung dari efek apa yang diinginkan untuk penderita. Obat dengan waktu paruh pendek lebih efektif bila diberikan dalam dosis terbagi, dan bila waktu paruhnya panjang lebih baik diberikan dalam dosis tunggal. Agen imunosupresif Agen imunosupresif sering diperlukan untuk mengontrol SLE dan memperbaiki kualitas hidup. Pada suatu studi, penggunaan imunosupresif bersama dengan prednisone memberikan hasil yang lebih baik. Azatiopirin merupakan agen lini kedua yang sering digunakan. Peran azatiopirin kemungkinan dalam penatalaksanaan penyakit yang resisten atau tergantung dengan steroid dengan atau tanpa nefritis kelasIII atau IV. Siklofosfamid sering digunakan pada SLE yang berat, khususnya Lupus nefritis, penyakit berat dan gangguan SSP. Kombinasi dengan prednisone oral juga efektif dalam mencegah penyakit berkembang dan menjaga fungsi ginjal. Modulasi Biologi

Immunoglobulin intravena (IVIG) telah digunakan secara terbatas pada SLE dewasa yang refakter, namun penggunaannya pada anak belum pernah dilaporkan. Penggunaan IVIG dapat menurunkan kadar antibody anti-dsDNA. Plasmaferesis merupakan pilihan lain dalam mengatasi pasien dengan kadar kompleks imun yang beredar di sirkulasi dalam jumlah banyak dan tidak efektif terhadap kortikosteroid atau siklofosfamid. Penggunaan antibody monoclonal sebagai terapi SLE juga masih dikembangkan.