Anda di halaman 1dari 29

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. 2. Tanda-tanda Anemia: a. Lesu, lemah, letih, lelah dan lalai (5L) b. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang. c. Gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat. 3. Dampak Anemia a. Pada Anak-anak 1) Menurunnya kemampuan dan konsentrasi belajar. 2) Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak. 3) Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena daya tahan tubuh menurun.

b. Pada Wanita

1) Menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit. 2) Menurunkan produktivitas kerja. 3) Menurunkan kebugaran. c. Pada Remaja Putri 1) Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar. 2) Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal. 3) Menurunkan kemampuan fisik. 4) Mengakibatkan muka pucat. d. Ibu hamil 1) Menimbulkan pendarahan sebelum atau sesudah persalinan. 2) Meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah atau BBLR (<2,5 Kg). 3) Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan atau bayinya. 4. Klasifikasi Anemia Gizi a. Anemia Gizi Besi Zat gizi besi (Fe) merupakan inti molekul hemoglobin yang merupakan unsur utama dalam sel darah merah, maka kekurangan pasokan zat gizi besi menyebabkan menurunnya produksi hemoglobin.

Akibatnya,

terjadi

pengecilan

ukuran

(microcytic),

rendahnya

kandungan hemoglobin (hypochromic), serta berkurangnya jumlah sel darah merah. b. Anemia Gizi Vitamin E Anemia defisiensi vitamin E dapat mengakibatkan integritas dinding sel darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis (pecahnya sel darah merah). Karena vitamin E adalah faktor esensial bagi integritas sel darah merah. c. Anemia Gizi Asam Folat Anemia gizi asam folat disebut juga anemia megaloblastik atau makrositik; dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit dan belum matang. Penyebabnya adalah kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Padahal kedua zat itu diperlukan dalam pembentukan nucleoprotein sumsum tulang. d. Anemia Gizi Vitamin B12 Anemia ini disebut juga pernicious, keadaan dan gejalanya mirip dengan anemia gizi asam folat. Namun, anemia jenis ini disertai gangguan pada system alat pencernaan bagian dalam. Pada jenis yang kronis bisa merusak sel-sel otak dan asam lemak menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan saraf berubah. Dikhawatirkan, penderita akan mengalami gangguan kejiwaan. untuk proses pematangan sel darah merah dalam

10

e.

Anemia Gizi Vitamin B6 Anemia ini disebut juga siderotic. Keadaannya mirip dengan anemia gizi besi, namun bila darahnya diuji secara laboratoris, serum besinya normal. Kekurangan vitamin B6 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin.

f.

Anemia Pica Penderita memiliki selera makan yang tidak lazim, seperti makan tanah, kotoran, adonan semen, serpihan cat, atau minum minyak tanah. Tentu saja perilaku makan ini akan memperburuk penyerapan zat gizi besi oleh tubuh.

B. Anemia Gizi Besi 1. Pengertian Anemia Gizi Besi Anemia gizi besi adalah keadaan dimana kadar Hb dalam darah lebih rendah dari normal, akibat kekurangan zat besi. 2. Standar Penentuan Anemia Gizi Besi Tabel 2.1 Standar Penentuan Anemia Gizi Besi (WHO)20 Kelompok Umur Hb dalam Darah (g/dl) 6 Bulan -5 tahun <11 6-18 tahun <12 Wanita dewasa <12 Wanita dewasa hamil <11 Laki-laki dewasa <13

11

C. Patofisiologi Anemia Tanda-tanda dari anemia gizi dimulai dengan menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan dengan meningkatnya kapasitas pengikatan zat besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi heme dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin serum. Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Hb12.

D. Hemoglobin 1. Pengertian Hemoglobin (Hb) Hemoglobin merupakan suatu protein yang kompleks, yang tersusun dari protein globin dan suatu senyawa bukan protein yang dinamai hem. Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia. 2. Fungsi Hemoglobin

12

Dalam sel darah merah hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen (O2). Dengan banyaknya oksigen yang dapat diikat dan dibawa oleh darah, dengan adanya Hb dalam sel darah merah, pasokan oksigen keberbagai tempat di seluruh tubuh, bahkan yang paling terpencil dan terisolasi sekalipun akan tercapai. 3. Batas Normal Terendah Nilai Hemoglobin Tabel 2.2 Batas normal terendah nilai hemoglobin (WHO 1972)8 Usia Kadar Hb (g/dl) Anak usia 6 bulan-5 tahun 11,0 Anak usia 6-18 tahun 12,0 Wanita dewasa 12,0-14,0 4. Prosedur Pemeriksaan Hb metode Cyanmethemoglobin a. Reagensia 1) Larutan kalium ferrosianida (K3Fe(CN)6 0,6 mmol/l 2) Larutan kalium sianida (KCN) 1,0 mmol/l b. Alat 1) Pipet darah 2) Tabung cuvet 3) Kolorimeter c. Prosedur kerja 1) Masukkan campuran reagen sebanyak 5 ml ke dalam cuvet. 2) Ambil darah kapiler seperti pada metode sahli sebanyak 0,02 ml dan masukkan ke dalam cuvet diatas, kocok dan diamkan selama 3 menit.

13

3) Baca pada kolorimeter pada lambda 546.

d. Perhitungan 1) 2) Kadar Hb = absorpsi x 36,8 gr/dl/100 ml Kadar Hb = absorpsi x 22,8 mmol/l 15

E. Zat Besi (Fe) 1. Pengertian Zat Besi Zat besi merupakan microelemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam hemopoesis (pembentukan darah), yaitu dalam sintesa hemoglobin (Hb). Jumlah total besi dalam tubuh rata-rata 4-5 gram, lebih kurang 65 persennya dijumpai dalam bentuk hemoglobin. Sekitar 4 persennya dalam bentuk mioglobin, 1 persen dalam bentuk macam-macam senyawa heme yang meningkatkan oksidasi intraseluler, 0,1 persen bergabung dengan protein transferin dalam plasma darah dan 15-30 persen terutama disimpan dalam system retikuloendotelial dan sel parenkim hati, khususnya dalam bentuk feritin10. Tubuh sangat efisien dalam penggunaan besi, sebagian besi dalam bentuk feri direduksi menjadi fero. Hal ini terjadi dalam suasana asam di dalam lambung dengan adanya HCl dan vitamin C yang terdapat dalam makanan. 2. Zat Besi Dalam Tubuh

14

Zat besi dalam tubuh terdiri dari dua bagian, yaitu yang fungsional dan yang reserve (simpanan). Zat besi yang fungsional sebagian besar dalam bentuk hemoglobin (Hb), sebagian kecil dalam bentuk myoglobin dan jumlah yang sangat kecil tetapi vital adalah hem enzim dan non hem enzim. Zat besi yang ada dalam bentuk reserve tidak mempunyai fungsi fisiologi selain daripada sebagai buffer yaitu menyediakan zat besi kalau dibutuhkan untuk kompartmen fungsional. Apabila zat besi cukup dalam bentuk simpanan, maka kebutuhan akan eritropobesis (pembentukan sel darah merah) dalam sumsum tulang akan selalu terpenuhi. Dalam keadaan normal, jumlah zat besi dalam bentuk reserve ini adalah kurang lebih seperempat dari total zat besi yang ada dalam tubuh. Zat besi yang disimpan sebagai reserve ini, berbentuk feritin dan hemosiderin, terdapat dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Pada keadaan tubuh memerlukan zat besi dalam jumlah banyak, misalnya pada anak yang sedang tumbuh (balita), wanita menstruasi dan wanita hamil, jumlah reserve biasanya rendah. Pada bayi, anak dan remaja yang mengalami masa pertumbuhan, maka kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan perlu ditambahkan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat basal. 3. Metabolisme Zat Besi Untuk menjaga badan supaya tidak anemia, maka keseimbangan zat besi di dalam tubuh perlu dipertahankan. Keseimbangan disini

15

diartikan bahwa jumlah zat besi yang dikeluarkan dari badan sama dengan jumlah besi yang diperoleh tubuh dari makanan. Suatu skema metabolisme zat besi untuk mempertahankan zat besi di dalam tubuh, dapat dilihat pada skema berikut:
Makan 10 mg Fe

Usus Halus 1 mg

Tinja 9 mg Fe

Fe dalam Darah (Turn over 35 mg)

Hati Disimpan sebagai Feritrin, 1 mg

Sumsum Tulang 34 mg Hemoglobin

Seluruh Jaringan

Sel-sel Mati Dikeluarkan melalui kulit, sal. Pencernaan dan air seni 1 mg Gambar 2.1: Metabolisme Zat Besi

Hilang Bersaman Menstruasi

Setiap hari turn over zat besi ini berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya harus didapatkan dari makanan. Sebagian besar yaitu sebanyak 34 mg didapat dari penghancuran sel-sel darah merah tua, yang kemudian disaring oleh tubuh untuk dapat dipergunakan lagi oleh sumsum tulang untuk pembentukan sel-sel darah merah baru. Hanya 1 mg zat besi dari penghancuran sel-sel darah merah tua yang dikeluarkan oleh tubuh melalui

16

kulit, saluran pencernaan dan air kencing. Jumlah zat besi yang hilang lewat jalur ini disebut sebagai kehilangan basal (iron basal losses). 4. Fungsi Besi a) Metabolisme energi Di dalam tiap sel, besi bekerja sama dengan rantai protein pengangkut elektron, yang berperan dalam langkah-langkah akhir metabolisme energi. b) Kemampuan belajar Pollitt pada tahun 1970-an terkenal akan penelitiannya yang menunjukan perbedaan antara keberhasilan belajar anak-anak yang menderita anemia gizi besi dan anak-anak yang sehat. Penelitian di Indonesia oleh Soemantri (1985) dan Almatsier (1989) menunjukan peningkatan prestasi belajar pada anak-anak sekolah dasar bila diberikan suplemen besi. Hubungan defisiensi besi dengan fungsi otak dijelaskan oleh Lozoff dan Youdim pada tahun 1988. Kadar besi dalam darah meningkat selama pertumbuhan hingga remaja. Kadar besi yang kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat diganti setelah dewasa. Defisiensi besi berpengaruh negatif terhadap fungsi otak, terutama terhadap fungsi sistem neurotransmitter (pengantar saraf). Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. c) Sistem kekebalan tubuh

17

Besi memegang peranan dalam sistem kekebalan tubuh. d) Pelarut obat-obatan Obat-obatan tidak larut air oleh enzim yang mengandung besi dapat dilarutkan hingga dapat dikeluarkan dari tubuh. 5. Angka kecukupan besi yang dianjurkan : Tabel 2.3 Angka kecukupan besi rata-rata yang dianjurkan (per orang per hari)17 Golongan Umur Berat Tinggi Badan Besi (mg) (wanita) Badan (kg) (cm) 13-15 46 153 19 16-19 50 154 25 F. Remaja Masa remaja dikenal dengan masa pubertas dan merupakan suatu periode kehidupan yang dinamis. Masa remaja yaitu usia 10-19 tahun (WHO) merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut dengan masa pubertas. Pada masa remaja putri ditandai dengan mulainya menstruasi. Pada wanita masa pubertas dimulai pada usia 10 tahun dan mencapai puncak di usia 12 tahun. Sedangkan pada remaja pria terjadi mulai usia 12 tahun dan puncaknya 14 tahun. Lama pubertas pada remaja putri rata-rata berkisar selama empat tahun dengan interval antara 1,5 8 tahun. Kebutuhan zat gizi pada masa ini sejalan dengan laju pertumbuhan. Dimana kebutuhan zat gizi yang paling tinggi saat terjadi pertumbuhan maksimal. Sebagai individu yang berada di masa transisi, gaya hidup remaja mengalami

18

perubahan termasuk pola makan. Bila pola makan tidak sesuai dengan gizi yang baik maka remaja biasa menderita anemia19. Kebutuhan zat besi pada wanita tiga kali lebih besar daripada laki-laki karena setiap bulannya wanita menstruasi yang secara otomatis mengeluarkan darah. Itulah sebabnya wanita membutuhkan zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya ke keadaan semula19. Wanita pada umumnya memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki, karena terjadi menstruasi dalam jumlah pendarahan sekitar 50cc 80cc setiap bulan, dan mereka ini kehilangan zat besi sebesar 30 mg 40 mg. Secara umum faktor anemia pada remaja putri antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis, asupan zat besi tidak cukup, kurangnya mengkosumsi bahan makanan hewani, kebiasaan diet untuk mengurangi berat badan, adanya pantangan, penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi.

G. Pola makan Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada usia remaja banyak perubahan yang terjadi. Selain perubahan fisik karena bertambahnya jaringan lemak dalam tubuh, juga terjadi perubahan hormonal. Perubahan-perubahan itu mempengaruhi kebutuhan gizi dari makanan mereka. Sungguhpun pada usia remaja tumbuh kembang tubuh berlangsung lambat bahkan akan terhenti menjelang usia 18 tahun tidak berarti faktor gizi pada usia ini tidak memerlukan perhatian lagi. Sifat energik pada usia remaja

19

menyebabkan aktivitas fisik tubuh meningkatkan sehingga kebutuhan energi juga akan meningkat. Selain itu keterlambatan tumbuh kembang tubuh pada usia sebelumnya akan dikejar pada usia ini. Ini berarti pemenuhan kecukupan gizi sangat penting agar tumbuh kembang tubuh berlangsung dengan sempurna. Menurut penelitian Tanner dan Davis ternyata kecepatan puncak pertambahan tinggi badan untuk anak laki-laki adalah pada usia 13,5 tahun dan pada anak perempuan pada usia 11,5 tahun. Perubahan komposisi tubuh pada usia remaja merupakan faktor penting yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada usia remaja. Demikian juga pengaruh hormonal yaitu sekresi hormon estrogen dan progesterone pada wanita dan testoseron pada anak lakilaki. Datangnya menstruasi pada anak perempuan pada usia remaja sering merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi seperti anemia gizi. Faktor penyebab masalah gizi pada usia remaja Berbagai bentuk gangguan gizi pada usia remaja sering terjadi. Selain kekurangan energi dan protein anemia gizi dan defisiensi berbagai vitamin juga sering terjadi. Sebaliknya juga masalah gizi lebih (overnutrition) yang ditandai oleh tingginya jangka obesitas pada remaja terutama di kota-kota besar. Berbagai faktor yang memicu terjadinya masalah gizi pada usia remaja antara lain adalah: 1. Kebiasaan makan yang buruk

20

Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja. Mereka makan seadanya tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka. 2. Pemahaman gizi yang keliru Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja terutama wanita remaja. Hal itu sering menjadi penyebab masalah, karena untuk memelihara kelangsingan tubuh mereka menerapkan pengaturan

pembatasan makanan secara keliru. Sehingga kebutuhan gizi mereka tak terpenuhi. Hanya makan sekali sehari atau makan makanan seadanya, tidak makan nasi merupakan penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan mendorong terjadinya gangguan gizi. 3. Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu. Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu saja menyebabkan kebutuhan gizi tak terpenuhi. Keadaan seperti itu biasanya terkait dengan mode yang tengah marak dikalangan remaja. Ditahun 1960 an misalnya remaja-remaja di Amerika Serikat sangat menggandrungi makanan berupa hot dog dan minuman coca cola. Kebiasaan ini kemudian menjalar ke remaja-remaja diberbagai negara lain termasuk di Indonesia. 4. Promosi yang berlebihan melalui media masa Usia remaja merupakan usia disana mereka sangat mudah tertarik pada hal-hal yang baru. Kondisi itu dimanfaatkan oleh pengusahan makanan

21

dengan mempromosikan produk makanan mereka, dengan cara yang sangat mempengaruhi para remaja. Lebih-lebih jika promosi itu dilakukan dengan menggunakan bintang film yang menjadi idola mereka. 5. Masuknya produk-produk makanan baru yang berasal dari negara lain secara Bebas membawa pengaruh terhadap kebiasaan makanan para

remaja. Jenis-jenis makanan siap santap (fast food) yang berasal dari negara barat seperti hot dog, pizza, humberger fried chichken dan French fries, berbagai jenis makanan berupa kripik (junk food) sering dianggap sebagai gimbal kehidupan modern oleh para remaja. Keberatan terhadap berbagai jenis fast food itu terutama karena kadar lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi disamping kadar garam. Zat-zat gizi itu memicu terjadinya berbagai penyakit kardiovaskuler pada usia muda. Lihat tabel yang memuat kandungan lemak. Lemak jenuh dan kolesterol serta garam pada tiap prosi makanan fast food yang dijual di Indonesia. Kebutuhan Gizi Pada Usia Remaja Tabel berikut ini memuat perkiraan kebutuhan berbagai zat gizi pada usia remaja. Anjuran kecukupan gizi pada usia remaja (13-18 tahun) Jenis kelamin Lakilaki Wanita Umur (thn) 13 15 16 19 13 15 Berat (kg) 45 56 46 Kebutuhan zat gizi Protein Vit. A (gr) (RE) 64 600 66 62 600 500

Energi (kal) 2400 2500 2100

Fe (mg) 17 23 19

22

16 19

50

2000

51

500

25

Kebutuhan gizi remaja dan eksekutif muda relatif besar, karena mereka masih mengalami pertumbuhan. Selain itu, remaja umumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi dibanding usia lainnya, sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak. 6. Protein Kebutuhan protein juga meningkat pada masa remaja, karena proses pertumbuhan yang sedang terjadi dengan cepat. Pada awal masa remaja, kebutuhan protein remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, karena memasuki masa pertumbuhan cepat lebih dulu. Pada akhir masa remaja, kebutuhan protein laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh. Kecukupan protein bagi remaja 1,5 2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein remaja dan dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki. Makanan sumber protein hewani bernilai biologis lebih tinggi dibandingkan sumber protein nabati, karena komposisi asam amino esensial yang lebih baik, dari segi kualitas maupun kuantitas. Berbagai sumber protein adalah: daging merah (sapi, kerbau, kambing), daging putih (ayam, ikan, kelinci), susu dan hasil olahannya (keju, mentega, yakult), kedele dan hasil olahannya (tempe, tahu), kacang-kacangan, dan lain-lain.

23

7. Kalsium Kebutuhan kalsium pada masa remaja relatif tinggi karena akselerasi muscular, skeletal/kerangka dan perkembangan endokrin lebih besar dibandingkan masa anak dan dewasa. Lebih dari 20 persen pertumbuhan tinggi badan dan sekitar 50 persen massa tulang dewasa dicapai pada masa remaja. AKG kalsium untuk remaja dan dewasa muda adalah 600-700 mg per hari untuk perempuan dan 500-700 mg untuk lakilaki. Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lainlain. 8. Besi Kebutuhan zat besi pada remaja juga meningkat karena terjadinya pertumbuhan cepat. Kebutuhan besi pada remaja laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan peningkatan konsentrasi haemoglobin (Hb). Setelah dewasa, kebutuhan besi menurun. Pada perempuan, kebutuhan yang tinggi akan besi terutama disebabkan kehilangan zat besi selama menstruasi. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih rawan terhadap anemia besi dibandingkan laki-laki. Perempuan dengan konsumsi besi yang kurang atau mereka dengan kehilangan besi yang meningkat, akan mengalami anemia gizi besi. Sebaliknya defisiensi besi mungkin merupakan limiting factor untuk

24

pertumbuhan pada masa remaja, mengakibatkan tingginya kebutuhan mereka akan zat besi. Hal lain yang perlu diingat, adalah bioavailability dari makanan umumnya sangat rendah yaitu <10 persen. Sumber besi dari hewani mempunyai bioavailability yang lebih tinggi dibandingkan sumber nabati. Status besi dalam tubuh juga mempengaruhi efisiensi penyerapan besi. Pada remaja dengan defisiensi besi maka penyerapan besi akan lebih efisien dibandingkan yang tidak defisiensi besi. Yang dapat meningkatkan penyerapan besi dari sumber nabati adalah vitamin C serta sumber protein hewani tertentu (daging dan ikan). Sedangkan zat yang dapat menghambat penyerapan besi antara lain adalah cafein, tannin, fitat, zinc, dan lain-lain. AKG besi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 19-26 mg setiap hari, sedangkan untuk laki-laki 13-23 mg per hari. Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah hati, daging merah (sapi, kambing, domba), daging putih (ayam, ikan), kacang-kacangan, sayuran hijau. 9. Seng (Zinc) Seng diperlukan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja, terutama untuk remaja laki-laki. AKG seng adalah 15 mg per hari untuk remaja dan dewasa muda perempuan dan laki-laki. 10. Vitamin Kebutuhan vitamin juga meningkat selama masa remaja karena pertumbuhan dan perkembangan cepat yang terjadi. Karena kebutuhan energi meningkat, maka kebutuhan beberapa vitamin pun meningkat,

25

antara lain yang berperan dalam metabolisme karbohidrat menjadi energi seperti vitamin B1, B2 dan Niacin. Untuk sintesa DNA dan RNA diperlukan vitamin B6, asam folat dan vitamin B12, sedangkan untuk pertumbuhan tulang diperlukan vitamin D yang cukup. Dan vitamin A, C dan E untuk pembentukan dan penggantian sel. Ada beberapa zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh remaja: 1. Secara fisik terjadi pertumbuhan yang sangat cepat ditandai dengan peningkatan berat dan tinggi badan. Pertumbuhan yang sangat cepat dimulai pada usia 10-11 tahun pada cewek, mereka akan mengalami kenaikan berat badan sebesar 16 kg dan tinggi badan 16 cm. Sebaliknya pada cowok, peningkatan berat dan tinggi badan terjadi pada usia 12-13 tahun, yaitu 20 kg dan 20 cm. 2. Mulai berfungsi dan berkembangnya organ-organ reproduksi, misalnya tumbuhnya payudara, berkembangnya vagina, penis, bulu-bulu di sekitar kemaluan dan ketiak, dan menstruasi untuk cewek. Kalau kita tidak memperhatikan kebutuhan gizi, maka akan merugikan

perkembangan selanjutnya. Terutama pada cewek karena nantinya akan menyebabkan menstruasi tidak lancar, gangguan kesuburan, rongga panggul tidak berkembang sehingga sulit ketika melahirkan, kesulitan pada saat hamil dan ngidam, serta air susu ibu (ASI) tidak bagus. 3. Perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang mempengaruhi jumlah konsumsi makanan dan zat-zat gizi, yaitu:

26

1) Dimulainya masa mencari identitas diri, keinginan untuk dapat diterima oleh teman sebaya, dan mulai tertarik dengan lawan jenis menyebabkan kita sangat menjaga penampilan. Semua itu sangat mempengaruhi pola makan kita, misalnya karena takut gemuk kita sarapan dan makan siang atau hanya makan sekali sehari. Padahal itu semua merugikan karena sudah pasti selain kita merasa lapar, juga pertumbuhan dan perkembangan tubuh kita akan terhambat. 2) Kebiasaan ngemil yang rendah gizi (kurang kalori, protein, vitamin, dan mineral) seperti makanan ringan yang saat ini banyak dijual di toko-toko. Camilan tersebut dapat mengurangi selera makan. Alhasil, kita hanya mengonsumsi camilan tak bergizi. Sebaiknya, kalau mau ngemil pilih jenis makanan ringan yang bergizi, seperti: roti, kacang rebus, dan buah-buahan. 3) Kebiasaan makan makanan siap saji (fast food) yang juga komposisi gizinya tidak seimbang, yaitu terlalu tinggi kandungan kalorinya, efeknya kita jadi mudah gemuk. 4) Kebiasaan tidak makan pagi dan malas minum air putih. Dari hasil penelitian ditemukan orang yang sarapan pagi daya ingatnya akan lebih baik, dapat berpikir jernih dan memiliki tenaga untuk beraktivitas. Mengatur Makanan pada Usia Remaja Berikut ini beberapa petunjuk dalam mengatur makanan pada usia remaja.

27

1. Jagalah berat badan agar ada pada tingkat yang normal. Hindarkan berat badan terlalu rendah yaitu dibawah 80% dan berat normal atau berat badan yang terlalu tinggi (lebih dan 120% berat badan normal). Kekurusan atau twiggy yang melambangkan kelangsungan dan kecantikan wanita akan mendorong terjadinya berbagai defisiensi gizi seperti anemia gizi, defisiensi vitamin, dan sebagainya. 2. Upayakan agar tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang seimbang dengan kebutuhan tubuh, baik zat gizi makro maupun mikro. Makanan sesuai syarat empat sehat merupakan keharusan untuk menjamin terpenuhinya kecukupan gizi. 3. Pantangan terhadap jenis-jenis makanan tertentu yang tidak berdasar sebaiknya tidak dilakukan, kecuali atas dasar indikasi medis. 4. Berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang kaya akan berbagai vitamin dan mineral sangat dianjurkan untuk memelihara kesehatan kulit. 5. Makanan yang kadar lemaknya tinggi dan makanan yang terlalu manis sebaiknya dihindari agar kulit selalu tampak halus dan tidak berminyak. 6. Bagi remaja pria kecukupan protein dan energi harus terpenuhi agar otot-otot tubuh dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. 7. Hindarilah kesukaan yang berlebihan terhadap hanya makananmakanan tertentu saja, untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan berbagai zat gizi. Makanan fast food, baik lokal maupun yang berasal

28

dari luar negeri tidak dilarang, asalkan tidak terlalu sering sehingga meniadakan makanan lengkap di rumah. 8. Kebiasaan ngemil atau senang makan makanan kecil memungkinkan tubuh memperoleh tambahan energi sehingga tanpa disadari intake energi ke dalam tubuh melebihi kebuthan dan dampaknya berupa bertambahnya timbunan lemak dalam tubuh. Kebiasaan seperti itu akan memudahkan terjadinya obesitas pada usia remaja. 9. Kebiasaan makanan yang teratur mulai sarapan pagi, makan siang dan makan malam dengan menu yang memenuhi syarat empat sehat dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan adalah cara yang paling baik dalam memelihara kesehatan dan kelangsingan tubuh. Meniadakan salah satu dari tiga macam makanan lengkap itu untuk tujuan apapun, sangat tidak dianjurkan. Tubuh akan mengalami kekosongan masukan zat gizi untuk jangka waktu yang relatif lama, yang bukan tidak mungkin membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh. Makanan yang kita konsumsi harus mengandung zat-zat yaitu sebagai berikut: 1) Sumber energi yang sering disebut sumber tenaga bisa diperoleh dari sumber karbohidrat, seperti beras, jagung, ubi kayu, talas, mie, kentang, dan roti, minyak, margarine, dan santan yang mengandung lemak. 2) Sumber protein disebut juga zat pembangun yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan badan juga, pembentuk jaringan-

29

jaringan baru, dan pemeliharaan tubuh. Selain itu, protein juga berguna untuk menjernihkan pikiran, dan meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan. Sumber protein diperoleh dari sumber hewani (daging, ayam, ikan, dan telur) dan nabati (tumbuh-tumbuhan seperti kacangkacangan, biji-bijian, tahun dan tempe). Kita jangan terpaku kalau protein itu harus makan daging atau ayam. Kalau enggak ada, protein nabati juga tidak kalah kandungan proteinnya untuk proses perkembangan dan pertumbuhan badan. 3) Lemak berguna sebagai cadangan energi, pelarut vitamin A, D, E, dan K, pelumas persendian, pertumbuhan dan pencegahan peradangan kulit, pemberi cita rasa pada makanan. Lemak bisa diperoleh dari minyak goreng, mentega, susu, daging, dan ikan. Makanan berlemak yang berlebihan seperti gajih, daging berlemak, kulit ayam, susu berlemak, keju, dan mentega tidak disarankan karena bisa mengganggu kesehatan. 4) Vitamin dapat diperoleh dari sayuran dan buah-buahan. Kandungan vitamin dan mineral pada buah dan sayuran bermanfaat untuk mengatur pengolahan bahan makanan serta menjaga keseimbangan cairan tubuh. Biasanya banyak remaja yang kurang suka makan sayuran dan buah-buahan. Padahal, asam folat, B12, A, C, D, dan E. bila perlu kita juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dengan makan tablet-tablet vitamin yang dijual.

30

5) Mineral sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan selama masa pubertas dan remaja. Misalnya, kalsium diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan otot-otot. Makanan sumber kalsium bisa diperoleh dari susu (dan hasil olahannya), makanan yang difermentasi (tempe, oncom, tauco, dan sebagainya), ikan-ikanan (ikan teri dan sebagainya). Selain itu, tubuh kita juga membutuhkan mineral Zn (seng) untuk pertumbuhan dan kematangan seksual. Makanan sumber seng bisa diperoleh dari ikan, kerang-kerangan, dan sayur-sayuran. Kebutuhan zat besi pada cowok akan meningkat pada saat proses kematangan seksual. Sementara pada cewek terjadi pada saat menstruasi karena pada saat menstruasi zat besi akan keluar bersama darah menstruasi. Kekurangan zat besi dalam makanan sehari-hari secara terus menerus dapat menimbulkan penyakit anemia (kurang darah). 6) Serat berfungsi untuk memudahkan proses buang air besar, membuang racun-racun dalam tubuh, dan mencegah kegemukan. Serat bisa diperoleh dari sayur-sayuran, buah-buahan dan agar-agar. Yang perlu kita perhatikan supaya tetap sehat saat ini dan nanti sampai kita tua adalah hal-hal berikut: 1) Kita perlu makanan dengan menu seimbang, yaitu menu yang beraneka ragam dalam jumlah dan takaran yang sesuai sehingga memenuhi kebutuhan gizi. Menu makanan harus mengandung sumber karbohidrat, protein, lemak vitamin dan mineral.

31

2) Biasakan sarapan. Tidak harus nasi, tapi bisa bubur ayam, bubur kacang hijau, mie dan sayur, susu, atau roti. 3) Kurangi ngemil yang tidak sehat, ganti dengan makanan yang lebih bergizi atau buah-buahan 4) Makanlah makanan sumber zat besi. Makan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi, hindari minum teh atau kopi setelah makan (paling tidak satu jam setelah makan). 5) Minum air bersih dan matang minimal 8 gelas setiap hari 6) Gunakan garam beryodium 7) Lakukan olah raga secara teratur 8) Lakukan olahraga secara teratur. 9) Jangan merokok dan menggunakan obat-obatan terlarang. 10) Jangan memakai bumbu penyedap karena akan merugikan kesehatan 11) Buang air besar yang teratur membantu penyerapan zat gizi dan kelancaran proses pencernaan

32

H. Kerangka Teori Pendapatan Keluarga Pengetahuan Tentang anemia Konsumsi Zat besi Status Gizi Asupan Zat Besi Pola Makan

Pendidikan Ibu Pelayanan Kesehatan

Sindrom Malabsorbsi (gastritis, ulkus peptikum)

Penyerapan Zat besi

Kejadian Anemia

Diare Pertumbuh an fisik Aktivitas Fisik Pendarahan Kebutuhan Zat Besi

Menstruasi Cacingan

Kehilangan Zat Besi

Gambar 2.2: Kerangka Teori (Sumber: Arlinda Sari Wahyuni : 2004, dengan modifikasi)

33

I. Kerangka Konsep Berdasarkan teori diatas beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia mengingat keterbatasan waktu dan variabel-variabel yang sulit diukur, maka peneliti hanya memfokuskan pembahasan beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia yaitu tingkat pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan tentang anemia, tingkat pendidikan ibu dan pelayanan kesehatan. Sesuai dengan tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri, maka susunan kerangka konsep penelitian dapat dilihat dibawah ini: Variabel Independen Pola makan Variabel Dependen Kejadian Anemia

34

J. Defenisi Operasional
No 1 Variabel Kejadian Anemia Definisi operasional Alat ukur Cara Hasil Skala

parameter digunakan luas menetapkan

yang Hb Digital secara untuk

ukur ukur ukur Pemeriks tidak Nominal aan Hb anemia Hb > 10 -12 mg % - Anemia bila Hb <

prevalensi anemia

2.

Pola makan

kebutuhan berbagai kuesioner zat gizi pada usia remaja

Angket

10 mg% Baik : skor mean Tidak baik skor mean : <

ordinal

Gambar 3.9 Definisi operasional penelitian pola makan terhadap kejadian anemi remaja putri K. Hipotesis Ha: Ada hubungan pola makan terhadap kejadian anemia remaja putri di SMA N 4 Pariaman tahun 2011

35

Ho: Tidak ada hubungan pola makan terhadap kejadian anemia remaja putri di SMA N 4 Pariaman tahun 2011