Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM III

I. Identitas a. Judul Praktikum b. Tujuan Praktikum : Identifikasi Anion pada Sampel Padat Non-Logam : Mengamati dan mengidentifikasi anion penyusun sampel berdasarkan jenis gas yang dihasilkan oleh asam c. Hari, tanggal d. Jurusan/Fakultas II. Pendahuluan Secara analitik untuk menentukan jenis zat dalam suatu cuplikan dapat dilakukan dengan analisis terhadap cuplikan tersebut. Analisis yang dilakukan meliputi tiga jenis pemeriksaan, diantaranya: 1. pemeriksaan pendahuluan 2. pemeriksaan ion logam (kation) 3. pemeriksaan anion dalam larutan. Dari ketiga jenis pemeriksaan tersebut, pemeriksaan dilakukan sesuai dengan jenis zat yang akan dianalisis. Jenis zat yang akan dianalisis biasanya berupa zat padat non-logam, zat cair, zat padat logam (alloy), dan zat yang tak larut. Untuk menganalisis anion yang terdapat pada suatu cuplikan dapat dilakukan dengan analisis pendahuluan. Analisis anion diawali dengan uji pendahuluan untuk memperoleh gambaran mengenai ada tidaknya anion tertentu atau kelompok anion yang memiliki sifat-sifat yang sama. Setelah dilakukan uji pendahuluan selanjutnya diikuti dengan proses analisis yang merupakan uji spesifik dari anion tertentu. Beberapa uji pendahuluan dan uji identifikasi dapat dilakukan dalam fasa padatan, tetapi untuk memperoleh validitas pengujian yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan larutan (Ibnu, dkk 2004). Berdasarkan sifat dari beberapa anion yang oleh asam akan diuraikan menghasilkan gas yang dapat dikenal. Maka anion dapat diidentifikasikan dengan menggunakan senyawa asam yang ditambahkan pada sampel yang berbentuk padat maupun cair. Salah satu senyawa asam yang dapat digunakan untuk : Selasa, 2 Maret 2010 : Pendidikan Kimia/MIPA

mengenal anion penyusun sampel adalah asam sulfat. Asam ini merupakan asam kuat yang dalam pelarut air akan terionisasi hampir sempurna menghasilkan ion hidronium (H3O-). Dengan adanya anion lain dalam asam sulfat memungkinkan terbentuknya senyawa asam yang baru. H2SO4 + 2H2O X- + H3O+ 2H3O+ + SO42HX + H2O

Sebagian dari senyawa asam yang terbentuk mudah menguap dan yang lainnya mudah terurai menghasilkan oksida asam yang berwujud gas. Sifat-sifat ini dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi jenis anion sisa asam dengan mengenali sifat dari uap asam atau gas dari hasil penguraian asamnya. Hasil reaksi identifikasi terhadap jenis gas atau uap yang dihasilkan oleh senyawa tertentu yang bereaksi dengan asam sulfat pekat atau encer adalah sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji dengan Asam Sulfat Pekat Hasil Uji dengan Asam Sulfat Pekat No Hasil Pengamatan Simpulan 1 Menghasilkan gas tidak berwarna, Uap HCl dari klorida berbau, dan berasap di udara, dan bila kontak dengan batang gelas yang basah oleh ammonia (NH4OH) 2 akan menghasilkan gas berwarna Gas HBr dan Br2 dari bromidanya

kabut putih. Menghasilkan

merah, membentuk kabut di udara 3 dan berbau pedas. Menghasilkan gas berwarna kuning kehijauan, berbau tajam, memucatkan lakmus dan membirukan kertas saring yang dibasahi dengan larutan KI. . 4 Menghasilkan uap (kabut) asam 2 Gas HNO2 dan NO2 dari nitrat Gas Cl2 dari klorida dalam pemberian oksidator

berbau tajam dan berwarna coklat kemerahan 5 Menghasilkan uap violet disertai bau tajam dari SO2 atau H2S. 6 Menghasilkan gas berwarna kuning, dalam keadaan dingin berbau khas dan dengan 7 pemanasan baunya lebih tajam Menghasilkan gas tidak berwarna, Gas CO dan CO2 dari oksalat mengeruhkan air kapur, dibakar memberikan nyala biru, dan tidak menghitam. 8 Menghasilkan bau cuka. CH3COOH dari asetat Gas ClO2 dari klorat Gas HI dan I2 dari iodida

Tabel 2. Hasil Uji dengan Asam Sulfat Encer Hasil Uji dengan Asam Sulfat Encer No Hasil Pengamatan Simpulan 1 Menghasilkan gas tidak Gas CO2 dari CO32- atau HCO3berwarna, tidak berbau dan membuat keruh air kapur. 2 Menghasilkan gas berwarna merah coklat, mengubah warna kertas saring yang dibasahi larutan KI dan amilum menjadi biru. 3 Menghasilkan gas berwarna kuning kehijauan, berbau tajam, memerahkan dan selanjutnya memucatkan kertas lakmus, serta Gas Cl2 dari hipoklorit Gas NO2 dari nitrit

mengubah warna kertas saring yang dibasahi dengan larutan KI dan amilum menjadi biru. 4 Menghasilkan gas tidak berwarna dan berbau tajam, mengubah warna kertas saring yang dibasahi oleh larutan K2Cr2O7 menjadi hijau dan menghilangkan warna fuschin 5 Menghasilkan gas tidak Gas H2S dari sulfida Gas SO2 dari sulfit

berwarna, berbau busuk telur, mengubah warna kertas saring yang dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2 menjadi hitam dan bila 6 dibasahi dengan larutan Gas HCN dari sianida atau dari larutan heksasianoferat II dan III CdSO4 berubah menjadi kuning. Menghasilkan gas tidak berwarna, bila dibakar menghasilkan nyala berwarna ungu dan bersifat sangat beracun 7 Menghasilkan gas tidak berwarna, membuat nyala api membesar 8 Menghasilkan gas tidak berwarna, berbau pedas dan membuat keruh air kapur. Gas CO2 dan HCNO dari sianat Gas O2 dari peroksida dan alkali peroksida

III. Metode

III.1

Alat dan Bahan Tabel 3. Alat dan Bahan Bahan H2SO4 encer H2SO4 pekat Larutan fuschin Larutan K2Cr2O7 Larutan Jumlah Secukupnya Secukupnya Secukupnya Secukupnya Secukupnya

Alat Jumlah Tabung reaksi 8 buah dan raknya Batang gelas 1 buah Pipa pengalir 1 buah gas Gelas kimia 100 1 buah mL Spatula 1 buah

Gelas kimia 250 1 buah mL Plat tetes 1 buah Penjepit kayu 1 buah Gelas ukur 10 1 buah mL Pipet tetes 1 buah Kertas lakmus secukupnya biru Kertas saring Pemanas secukupnya 1 buah

Pb(CH3COO)2 Sampel padat Secukupnya non-logam FeS(s), Na2SO3(s), KCN(s),NaNO2(s) KBr(s),NaCl(s) KClO3(s)

Sampel Unknown

Secukupnya

III.2

Prosedur Kerja a. Membersihkan alat yang akan digunakan. b. Mengisi tabung reaksi dengan 2 mL H2SO4 encer dan menambahkan 1 sendok spatula sampel padat non- logam yang telah diketahui. c. Mengamati perubahan kimia yang terjadi dan bila perlu dilakukan pemanasan. d. Mencatat sifat fisika gas yang dihasilkan seperti bau, warna, dan bentuk gas. e. Mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan Ca(OH)2 dan mencatat perubahannya. 5

III.2.1 Identifikasi dengan H2SO4 encer

f. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas saring yang telah dibasahi larutan KI beramilum dan mencatat perubahan fisiknya. g. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan K2Cr2O7 berasam dan mencatat perubahan fisik yang terjadi. h. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan Pb(CH3COO)2 dan mencatat perubahan fisik yang terjadi. i. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas lakmus biru dan mencatat perubahan yang terjadi. j. Menangkap gas yang dihasilkan dengan nyala api dan mencatat perubahan fisiknya. k. Mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan fuschin dan mencatat perubahan fisiknya. l. Melakukan langkah b sampai dengan k untuk sampel unknown. III.2.2 Identifikasi dengan H2SO4 pekat a. Mengisi tabung reaksi dengan 2 mL H2SO4 pekat dan menambahkan 1 sendok spatula sampel padat non-logam yang telah diketahui. b. Mengamati perubahan fisika yang terjadi dan memanaskan secara perlahan bila belum terjadi perubahan fisika. c. Mencatat sifat fisik gas yang dihasilkan seperti bau, warna, dan bentuk gas. d. Menangkap gas yang dihasilkan dengan batang gelas yang telah dibasahi oleh NH4OH dan mencatat perubahan fisik yang terjadi. e. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan KI beramilum dan mencatat perubahan fisik yang terjadi. f. Menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas lakmus merah atau biru dan mencatat perubahan fisik yang terjadi. IV. Hasil dan Pembahasan

IV.1 No 1

Hasil Pengamatan Tabel 4. Hasil Pengamatan Reagent H2SO4 encer Perlakuan Dicampurkan Hasil pengamatan Menghasilkan gas yang tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Penangkapan gas dengan kertas saring yang dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2. Penangkapan gas dengan kertas dibasahi K2Cr2O7. Pengaliran gas ke larutan fuschin. Warna larutan fuschin menghilang. Menghasilkan tajam. Penangkapan gas dengan kertas dibasahi K2Cr2O7. Pengaliran gas ke larutan fuschin. Warna larutan fuschin menghilang. Menghasilkan gas yang gas yang saring oleh yang larutan Kertas saring yang dibasahi dengan larutan K2Cr2O7 menjadi hijau. gas yang saring oleh yang larutan Kertas saring yang dibasahi dengan Pb(CH3COO)2 hitam. Kertas saring yang dibasahi dengan larutan K2Cr2O7 menjadi hijau kebiruan. larutan menjadi

Sampel FeS

Na2SO3

H2SO4 encer

Dicampurkan

tidak berwarna dan berbau

KCNO

H2SO4 encer

Dicampurkan Mengaliran kapur.

tidak berwarna (terbentuk gelembung gas) dan berbau pedas. Menghasilkan gas berwarna

dihasilkan ke dalam air

NaNO2

H2SO4

Dicampurkan 7

encer Penangkapan gas dengan kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI dan beramilum. 5 Unknow H2SO4 encer Dicampurkan+dipanaskan

coklat. Kertas saring yang dibasahi dengan larutan yang dibasahi oleh larutan KI dan beramilum menjadi biru. Menghasilkan berbau Penangkapan gas dengan batang gelas yang Kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Kertas tidak berubah warna. ditambahkan NH4OH. Penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Penangkapan gas dengan kertas saring yang Kertas yang larutan Kertas tidak berubah warna. saring yang Warna larutan fuschin hijau. dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2. Penangkapan gas dengan kertas dibasahi K2Cr2O7. Penangkapan gas dengan kertas dibasahi oleh larutan KI dan beramilum. Pengaliran gas ke larutan fuschin. saring oleh menjadi berubah tajam, gelembung larutan

gas yang tidak berwarna, berwarna bening. tidak terbentuk kabut.

warna dari orange menjadi

menghilang.

NaNO2

H2SO4 pekat

Dicampurkan.

Membentuk gas berwarna coklat. Bereaksi dengan cepat. Terbentuk larutan menjadi kuning. Terbentuk gelembung.

Penangkapan gas dengan batang gelas yang ditambahkan NH4OH. Penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Penangkapan gas dengan kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI dan beramilum. 7 KBr H2SO4 pekat Penangkapan gas dengan batang gelas yang ditambahkan NH4OH. Penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. 8 NaCl H2SO4 pekat Dicampurkan. Dicampurkan.

Menghasilkan kabut.

Kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Warna kertas menjadi coklat padam.

Larutan menjadi kuning. Terbentuk gelembung gas. Menghasilkan kabut.

Kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Terbentuk larutan menjadi kuning.

Penangkapan gas dengan batang gelas yang ditambahkan NH4OH. Penangkapan gas dengan 9

Menghasilkan kabut.

Kertas lakmus biru berubah

kertas lakmus biru. Penangkapan gas dengan kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI dan beramilum. 9 KClO3 H2SO4 pekat Dicampurkan.

menjadi merah. Warna merah. kertas menjadi

Terbentuk larutan menjadi kuning dan gelembung gas.

Penangkapan gas dengan batang gelas yang ditambahkan NH4OH. Penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Penangkapan gas dengan kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI dan beramilum. 10 Unknow H2SO4 pekat Dicampurkan.

Tidak Menghasilkan kabut.

Kertas lakmus biru sedikit berubah menjadi merah. Warna kertas menjadi merah padam.

Menghasilkan pedas, larutan

gelembung berwarna

gas berwarna merah, berbau kuning kemerahan. Penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Penangkapan gas dengan batang gelas yang ditambahkan NH4OH. Kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Terbentuk kabut.

IV.2

Pembahasan

10

Analisis anion pada sampel padat non-logam dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa asam. Senyawa asam yang digunakan adalah asam sulfat. Asam sulfat merupakan asam yang dalam pelarut air dapat terionisasi menghasilkan ion hidronium (H3O+), ion hidronium ini yang bakan bereaksi dengan anion dari sampel yang akan diuji. Asam sulfat yang digunakan dalam pratikum ini adalah asam sulfat encer dan asam sulfat pekat. Analisis anion dengan menggunakan asam sulfat encer atau pekat diawali dengan pencampuran sampel padat non-logam ke dalam tabung reaksi yang telah berisi asam sulfat. Dari pencampuran tersebut jika tidak terjadi perubahan sifat fisiknya maka dapat dilakukan pemanasan sampai terbentuk gas. Reaksi antara sampel dengan asam sulfat secara umum dapat dituliskan sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O X- + H3O+ 2H3O+ + SO42HX + H2O

Gas yang dihasilkan merupakan senyawa asam yang sebagian menguap. Uap asam inilah yang dapat diidentifikasi selanjutnya sesuai dengan prosedur kerja untuk menentukan anion penyusun sampel. Untuk uji dengan menggunakan asam sulfat encer maka langkah selanjutnya adalah dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan Ca(OH) 2. Gas yang dihasilkan juga diidentifikasi dengan cara yang berbeda yaitu gas ditangkap kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, larutan K2Cr2O7, larutan Pb(CH3COO)2, dengan kertas lakmus biru, dengan nyala api, dan dialirkan ke dalam larutan fushin secara terpisah sesuai dengan prosedur kerja. Begitu juga pada analisis anion padat non-logam dengan asam sulfat pekat, pada uji dengan asam sulfat pekat langkah-langkah yang ditempuh setelah pencampuran sampel dengan asam sulfat pekat lebih sederhana dibandingkan dengan uji menggunakan asam sulfat encer. Pada uji dengan asam sulfat pekat, setelah dihasilkan uap dari senyawa asam karena pencampuran sampel dengan asam sulfat maka dilanjutkan dengan tahap

11

identifikasi yang lebih sederhana. Tahap yang dimaksud diantaranya yaitu dengan menangkap gas yang dihasilkan dengan batang gelas yang telah dicelupkan ke dalam larutan NH4OH, ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, dan menangkap gas dengan kertas lakmus. Tahapan-tahapan tersebut dilakukan secara berurutan sesuai dengan prosedur kerja. Dari tahapan-tahapan secara umum yang dilakukan pada analisis anion dengan asam sulfat dapat dilihat bahwa dalam analisis tersebut digunakan beberapa sampel larutan sebagai penguji uap asam yang terdapat pada sampel. Larutan yang dimaksud diantaranya, larutan K2Cr2O7, larutan Pb(CH3COO)2, larutan Ca(OH)2, larutan fuschin, dan larutan KI. Karakteristik dari larutan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

No 1

Nama larutan Larutan K2Cr2O7

Gambar

Keterangan Larutan berwarna orange

12

larutan Pb(CH3CO O)2

Larutan berwarna putih

larutan fuschin

Larutan berwarna merah padam

larutan KI

Larutan berwarna bening

Berdasarkan tabel hasil pengamatan, dapat dijelaskan bahwa dalam praktikum ini dilakukan identifikasi anion terhadap beberapa sampel.

13

Proses identifikasi anion tersebut dilakukan secara berurutan dan berpedoman pada prosedur kerja yang telah ada. Beberapa sampel yang dimaksud antara lain Na2SO3, KCNO, NaNO2, KBr, NaCl, KClO3, dan sampel unknown. Identifikasi dengan asam sulfat (H2SO4) encer Identifikasi dengan asam sulfat encer hanya dapat dilakuakan pada sampel padatan dari senyawa FeS, Na2SO3, KCNO, dan NaNO2. Hal ini disebabkan karena kurangnya waktu dalam praktikum. Berikut ini akan dijelaskan untuk masing-masing sampel tersebut. a. Sampel FeS Untuk identifikasi pada sampel FeS. Pertama-tama kedalam tabung reaksi dimasukkan sampel H2SO4 encer, kemudian tambahkan sampel FeS hingga larutan menjadi keruh dan terbentuk endapan abu-abu. Saat larutan dikocok, terbentuk gas yang tidak berwarna. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bau seperti telur busuk yang tercium. Setelah dilakukan pemanasan, kondisi larutan tidak mengalami perubahan, yaitu tetap dalam bentuk larutan berwarna putih keruh dengan endapan berwarna abu-abu serta tetap dihasilkan gas yang tidak berwarna dengan bau seperti telur busuk. Namun intensitas bau yang dihasilkan lebih tajam daripada sebelum dipanaskan. Identifikasi selanjutnya adalah dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam Ca(OH)2 dengan menggunakan pipa pengalir gas. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan Ca(OH) 2. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion CO32- dan ion HCO3- sehingga gas yang dihasilkan tidak mengandung CO2. Selain itu, ion sianat (OCN-) juga tidak terdapat dalam sampel karena tidak terjadi kekeruhan pada saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Apabila gas yang dihasilkan mengandung CO2, maka larutan Ca(OH)2 akan menjadi keruh karena CO2 dan akan bereaksi dengan Ca(OH)2 menghasilkan CaCO3, sesuai dengan reaksi berikut: Ca(OH)2(aq) + CO2(g) 14

CaCO3(s) + H2O(l)

CaCO3 yang dihasilkan akan dapat mengeruhkan larutan. Identifikasi berikutnya adalah menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan KI beramilum. Hal ini bertujuan agar gas yang dihasilkan dapat ditangkap oleh kertas dan bereaksi dengan larutan KI beramilum tersebut. Pada uji ini ternyata tidak mengubah warna kertas saring tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion ClO- dan ion NO2-. Identifikasi selanjutnya adalah dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7. Dengan uji ini ternyata tidak mengubah warna kertas saring. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion SO32-. Jika pada sampel mengandung ion SO32- maka kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7 akan menjadi berwarna hijau yang dihasilkan dari Cr3+ seperti reaksi dibawah ini: 3SO33- + Cr2O72- +8H+ 2Cr3+ + 3SO42- + 4H2O

Setelah identifikasi tersebut, dilakukan identifikasi berikutnya yaitu dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan Pb(CH3COO)2. Pada uji ini dihasilkan warna hitam pada kertas saring. Hal ini karena pada awalnya, FeS bereaksi dengan H2SO4 menghasilkan gas H2S yang berbau seperti telur busuk, sesuai dengan reaksi: FeS + H2SO4 H2S + FeSO4

Selanjutnya, gas H2S yang dihasilkan akan bereaksi dengan Pb(CH3COO)2 pada kertas saring, dengan reaksi sebagai berikut: H2S + Pb(CH3COO)2 PbS + CH3COOH

Warna hitam yang terdapat pada kertas saring merupakan endapan PbS. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan kertas

15

lakmus biru yang diletakkan pada ujung tabung reaksi. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna kertas lakmus biru menjadi berwarna merah. Hal ini menunjukkan pada reaksi tersebut dihasilkan gas yang bersifat asam yaitu gas H2S, sesuai dengan reaksi berikut: FeS + H2SO4 H2S + FeSO4

Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan nyala api yang berasal dari bunsen dimana ujung tabung reaksi diletakkan dekat dengan nyala api tersebut. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan intensitas nyala api. Hal ini menunjukkan bahwa pada reaksi tersebut tidak dihasilkan gas O2 yang dapat memperbesar intensitas nyala api. Identifikasi terakhir yang dilakukan pada sampel ini yaitu dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan fuchsin. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan fuchsin. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion SO 32. Apabila pada sampel mengandung ion SO32-, maka akan dapat mengubah warna larutan fuchsin menjadi berwarna agak pudar dari sebelumnya serta akan membentuk sejenis senyawa adisi. b. Sampel Na2SO3 Untuk identifikasi pada sampel NaO3 dapat dilakukan dengan beberapa tahapan sesuai dengan prosedur kerja. Sampel NaSO3 pertama-tama dimasukkan kedalam tabung reaksi bersama dengan larutan H2SO4 encer. Saat larutan dikocok, terbentuk gas yang tidak berwarna. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bau yang menyengat. Adapun bau yang menyengat tersebut berasal dari senyawa H 2SO3 yang sebagian menguap. Adapun reaksinya sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O 2H3O+ + SO42SO32- + 2H3O+ H2SO3 + 2H2O Setelah dilakukan pemanasan, kondisi larutan tidak mengalami perubahan serta tetap dihasilkan gas yang tidak berwarna dengan bau

16

mengengat. Namun intensitas bau yang dihasilkan lebih tajam dari sebelum dipanaskan. Hal ini karena pada saat dipanaskan laju reaksi akan meningkat, sehingga bau yang dihasilkan lebih menyengat dari sebelum dipanaskan. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam Ca(OH)2 dengan menggunakan pipa pengalir gas. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan Ca(OH) 2. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion CO32- dan ion HCO3- sehingga gas yang dihasilkan tidak mengandung CO2. Selain itu, ion sianat (OCN-) juga tidak terdapat dalam sampel karena tidak terjadi kekeruhan pada saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Apabila gas yang dihasilkan mengandung CO2, maka larutan Ca(OH)2 akan menjadi keruh karena CO2 akan bereaksi dengan Ca(OH)2 menghasilkan CaCO3, sesuai dengan reaksi berikut: Ca(OH)2(aq) + CO2(g) CaCO3(s) + H2O(l)

CaCO3 yang dihasilkan akan dapat mengeruhkan larutan. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan KI beramilum. Pada uji ini tidak mengubah warna kertas saring tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion ClO - dan ion NO2-. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna kertas saring tersebut dari orange menjadi hijau. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut terdapat ion SO32-. Warna hijau yang dihasilkan pada kertas saring berasal dari Cr3+. Adapun reaksinya sebagai berikut: 3SO33- + Cr2O72- +8H+ 2Cr3+ + 3SO42- + 4H2O

17

Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan Pb(CH3COO)2. Pada uji ini tidak terjadi perubahan warna pada kertas saring tersebut dan tidak tercium adanya bau seperti telur busuk. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak mengandung gas H2S. Apabila pada larutan terdapat gas H2S maka akan terjadi perubahan warna pada kertas sarirng menjadi berwarna hitam yang berasal dari endapan PbS, sesuai dengan reaksi berikut: H2S + Pb(CH3COO)2 PbS + CH3COOH

Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan kertas lakmus biru yang diletakkan pada ujung tabung reaksi. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna kertas lakmus biru menjadi berwarna merah. Hal ini menunjukkan pada reaksi tersebut dihasilkan gas yang bersifat asam yaitu gas H2S, sesuai dengan reaksi berikut: SO32- + 2H3O+ H2SO3 + 2H2O Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan nyala api yang berasal dari bunsen dimana ujung tabung reaksi diletakkan dekat dengan nyala api tersebut. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan intensitas nyala api. Hal ini menunjukkan bahwa pada reaksi tersebut tidak dihasilkan gas O2 yang dapat memperbesar intensitas nyala api. Identifikasi terakhir yang dilakukan pada sampel ini yaitu dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan fuchsin. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna larutan fuchsin tersebut dari merah padam menjadi agak pudar. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut terdapat ion SO32-. Larutan fuchsing tersebut selanjutnya akan bereaksi dengan ion SO32- membentuk suatu senyawa adisi. c. Sampel KCNO Sampel KCNO pertama-tama dimasukkan kedalam tabung reaksi bersama dengan larutan H2SO4 encer. Saat larutan dikocok, terbentuk

18

gelembung gas pada larutan dan terbentuk gas yang tidak berwarna. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bau yang menyengat. Adapun bau yang menyengat tersebut berasal dari senyawa HCNO yang sebagian menguap. Adapun reaksinya sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O 2H3O+ + SO42CNO- + H3O+ HCNO + H2O Setelah dilakukan pemanasan, kondisi larutan tidak mengalami perubahan serta tetap dihasilkan gas yang tidak berwarna dengan bau mengengat. Namun intensitas bau yang dihasilkan lebih tajam dari sebelum dipanaskan. Hal ini karena pada saat dipanaskan laju reaksi akan meningkat, sehingga bau yang dihasilkan lebih menyengat dari sebelum dipanaskan. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam Ca(OH)2 dengan menggunakan pipa pengalir gas. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna pada larutan Ca(OH) 2 menjadi agak keruh dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut mengandung ion sianat (OCN-) sehingga gas yang dihasilkan mengandung CO2. Gas CO2 akan bereaksi dengan Ca(OH)2 menghasilkan CaCO3, sesuai dengan reaksi berikut: Ca(OH)2(aq) + CO2(g) CaCO3(s) + H2O(l) CaCO3 yang dihasilkan akan dapat mengeruhkan larutan. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan KI beramilum. Pada uji ini tidak mengubah warna kertas saring tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion ClO - dan ion NO2-. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7. Pada uji ini tidak mengubah warna kertas saring tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion SO 32-. Jika pada sampel mengandung ion SO32- maka kertas saring yang telah ditetesi larutan

19

K2Cr2O7 akan menjadi berwarna hijau yang dihasilkan dari Cr3+ seperti reaksi dibawah ini: 3SO33- + Cr2O72- +8H+ 2Cr3+ + 3SO42- + 4H2O Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan Pb(CH3COO)2. Pada uji ini tidak terjadi perubahan warna pada kertas saring tersebut dan tidak tercium adanya bau seperti telur busuk. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak mengandung gas H2S. Apabila pada larutan terdapat gas H2S maka akan terjadi perubahan warna pada kertas sairng menjadi berwarna hitam yang berasal dari endapan PbS, sesuai dengan reaksi berikut: H2S + Pb(CH3COO)2 PbS + CH3COOH Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan kertas lakmus biru yang diletakkan pada ujung tabung reaksi. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna kertas lakmus biru menjadi berwarna merah. Hal ini menunjukkan pada reaksi tersebut dihasilkan gas yang bersifat asam yaitu gas H2S, sesuai dengan reaksi berikut: KCNO + H2SO4 HCNO + K2SO4 Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan nyala api yang berasal dari bunsen dimana ujung tabung reaksi diletakkan dekat dengan nyala api tersebut. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan intensitas nyala api. Hal ini menunjukkan bahwa pada reaksi tersebut tidak dihasilkan gas O2 yang dapat memperbesar intensitas nyala api. Identifikasi terakhir yang dilakukan pada sampel ini yaitu dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan fuchsin. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan fuchsin. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion SO32. Apabila pada sampel mengandung ion SO32-, maka akan dapat mengubah warna larutan fuchsin menjadi berwarna agak pudar dari sebelumnya serta akan membentuk sejenis senyawa adisi.

20

d. Sampel NaNO2 Sampel NaNO2 pertama-tama dimasukkan kedalam tabung reaksi bersama dengan larutan H2SO4 encer. Saat larutan dikocok, terbentuk larutan berwarna biru dan gas yang berwarna coklat. Adapun gas berwarna coklat berasal dari senyawa HNO 2 yang sebagian menguap. Adapun reaksinya sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O 2H3O+ + SO42NO2- + H3O+ HNO2 + H2O Setelah dilakukan pemanasan, kondisi larutan tidak mengalami perubahan serta tetap dihasilkan gas berwarna coklat. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam Ca(OH)2 dengan menggunakan pipa pengalir gas. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan Ca(OH) 2. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion CO32- dan ion HCO3- sehingga gas yang dihasilkan tidak mengandung CO2. Selain itu, ion sianat (OCN-) juga tidak terdapat dalam sampel karena tidak terjadi kekeruhan pada saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Apabila gas yang dihasilkan mengandung CO2, maka larutan Ca(OH)2 akan menjadi keruh karena CO2 akan bereaksi dengan Ca(OH)2 menghasilkan CaCO3, sesuai dengan reaksi berikut: Ca(OH)2(aq) + CO2(g) CaCO3(s) + H2O(l) CaCO3 yang dihasilkan akan dapat mengeruhkan larutan. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan KI beramilum. Pada uji ini gas yang dihasilkan ditangkap oleh kertas saring yang telah ditetesi dengan larutan KI beramilum sehingga mengubah warna kertas saring tersebut menjadi biru. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion NO2-. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7. Pada uji ini tidak mengubah warna kertas saring tersebut. Hal ini menunjukkan

21

bahwa pada larutan tersebut tidak terdapat ion SO 32-. Jika pada sampel mengandung ion SO32- maka kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7 akan menjadi berwarna hijau yang dihasilkan dari Cr3+ seperti reaksi dibawah ini: 3SO33- + Cr2O72- +8H+ 2Cr3+ + 3SO42- + 4H2O Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menutup ujung tabung reaksi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan Pb(CH3COO)2. Pada uji ini tidak terjadi perubahan warna pada kertas saring tersebut dan tidak tercium adanya bau seperti telur busuk. Hal ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut tidak mengandung gas H2S. Apabila pada larutan terdapat gas H2S maka akan terjadi perubahan warna pada kertas sairng menjadi berwarna hitam yang berasal dari endapan PbS, sesuai dengan reaksi berikut: H2S + Pb(CH3COO)2 PbS + CH3COOH Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan kertas lakmus biru yang diletakkan pada ujung tabung reaksi. Pada uji ini dihasilkan perubahan warna kertas lakmus biru menjadi berwarna merah. Hal ini menunjukkan pada reaksi tersebut dihasilkan gas yang bersifat asam yaitu gas H2S, sesuai dengan reaksi berikut: NaNO2 + H2SO4 HNO2 + Na2SO4 Selanjutnya identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan nyala api yang berasal dari bunsen dimana ujung tabung reaksi diletakkan dekat dengan nyala api tersebut. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan intensitas nyala api. Hal ini menunjukkan bahwa pada reaksi tersebut tidak dihasilkan gas O2 yang dapat memperbesar intensitas nyala api. Identifikasi terakhir yang dilakukan pada sampel ini yaitu dengan mengalirkan gas yang dihasilkan ke dalam larutan fuchsin. Pada uji ini tidak dihasilkan perubahan warna pada larutan fuchsin. Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut tidak mengandung ion SO32. Apabila pada sampel mengandung ion SO32-, maka akan dapat

22

mengubah warna larutan fuchsin menjadi berwarna agak pudar dari sebelumnya serta akan membentuk sejenis senyawa adisi. Identifikasi dengan asam sulfat (H2SO4) pekat Dalam praktikum ini, karena waktu yang cukup terbatas maka identifikasi dengan menggunakan H2SO4 pekat, hanya dapat dilakukan pada sampel NaNO2, KBr, NaCl, KClO3, dan Unknown. a. Sampel NaNO2 Untuk sampel NaNO2 dilakukan beberapa perlakuan. Awalnya larutan H2SO4 pekat dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan kristal NaNO2. Ketika sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi asam sulfat pekat dan dipanaskan terbentuk gelembung-gelembung gas yang berwarna merah kecoklatan, berbau tajam, gelembung-gelembung gas tersebut terbentuk dengan sangat cepat, dan warna larutan berubah dari putih menjadi biru muda. Reaksi yang terjadi antara asam sulfat dengan NaNO2 dapat dituliskan sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O NO2- + H3O+ 2H3O+ + SO42HNO2(g) + H2O

Untuk mengidentifikasi gas yang dihasilkan, pertama-tama gas yang dihasilkan tersebut ditangkap dengan batang gelas yang telah dimasukkan ke dalam larutan NH4OH sehingga terjadi reaksi sebagai berikut: HNO2(g) + NH4OH(aq) NH4NO2(g) + H2O

NH4NO2 merupakan gas yang berupa uap kabut. Kemudian gas atau uap dari reaksi awal yaitu reaksi antara asam sulfat pekat dengan NaNO2 tersebut ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan KI yang beramilum dengan cara meletakkan kertas saring di atas mulut tabung reaksi, ternyata kertas

23

saring mengalami perubahan warna menjadi kuning. Ini menunjukkan bahwa sampel yang diuji mengandung nitrit (NO2-). Untuk langkah selanjutnya gas yang dihasilkan dari campuran tersebut ditangkap dengan kertas lakmus biru . Kertas lakmus biru diletakkan di atas mulut tabung reaksi dan terlihat bahwa kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Ini menandakan bahwa pada pencampuran asam sulfat pekat dengan NaNO2 dihasilkan asam yaitu asam nitrit. Dari perlakuan yang telah dilakukan pada gas yang dihasilkan dari pencampuran antara asam sulfat pekat dengan NaNO 2 didapatkan bahwa suatu sampel yang mengandung gas HNO2 dan NO2 akan menghasilkan uap atau kabut asam berbau tajam, berwarna kuning kecoklatan, dan memerahkan kertas lakmus. b. Sampel KBr Identifikasi sampel KBr dengan menggunakan asam sulfat pekat diawali dengan memasukkan sampel KBr ke dalam tabung reaksi yang telah berisi asam sulfat pekat. Dari pencampuran ini dihasilkan gelembung-gelembung gas, berbau pedas, dan warna larutan berubah dari bening menjadi orange. Reaksi yang terjadi antara KBr dengan asam sulfat pekat yaitu:

H2SO4 + 2H2O Br - + H3O+

2H3O+ + SO42HBr (g) + H2O

Gelembung gas yang dihasilkan dari reaksi di atas diidentifikasi dengan beberapa perlakuan. Pertama, gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi oleh larutan NH 4OH sehingga terjadi reaksi sebagai berikut: HBr (g) + NH4OH(aq) NH4Br (g) + H2O

NH4Br yang dihasilkan merupakan kabut di udara.

24

Kedua, gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan KI beramilum. Kertas saring yang dibasahi dengan larutan KI beramilum berwarna putih dan setelah diletakkan di mulut tabung reaksi ternyata warna kertas saring tersebut tidak berubah warna. Ini berarti, pada sampel tidak mengandung gas Cl 2. Selanjutnya tahap ketiga yaitu dengan menangkap gas yang dihasilkan dengan kertas lakmus biru. Dari perlakuan ini ternyata kertas lakmus biru berubah warna dari biru menjadi merah. Ini menandakan bahwa gas yang dihasilkan bersifat asam yaitu asam bromida. Dari perlakuan yang telah dilakukan pada gas yang dihasilkan dari pencampuran antara asam sulfat pekat dengan KBr didapatkan bahwa suatu sampel yang mengandung gas HBr dan Br2 akan menghasilkan uap atau kabut di udara, berbau pedas, larutan berwarna orange, dan memerahkan kertas lakmus. c. Sampel NaCl Identifikasi sampel NaCl dengan menggunakan asam sulfat pekat dilakukan dengan beberapa tahapan. Dimulai dengan memasukkan sampel NaCl ke dalam tabung reaksi yang telah diisi asam sulfat pekat kemudian dipanaskan. Dari pencampuran ini akan dihasilkan gas yang berwarna sedikit kuning, berbau tajam, dan larutan berwarna agak kuning. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O Cl - + H3O+ 2H3O+ + SO42HCl (g) + H2O

Selanjutnya gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi oleh NH4OH. Dari perlakuan ini ternyata tidak dihasilkan kabut di udara. Perlakuan selanjutnya adalah dengan menangkap gas yang dihasilkan dengan menggunakan kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI. Kertas saring yang dibasahi oleh larutan KI tersebut berubah warna dari putih menjadi biru. Ini menandakan bahwa terdapat CI2 pada gas tersebut.

25

Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah dengan menangkap gas dihasilkan tersebut dengan kertas lakmus biru. Caranya yaitu kertas lakmus biru diletakkan di mulut tabung reaksi sehingga gas atau uap yang dihasilkan terhalang dan bereaksi dengan kertas lakmus biru. Dari tahapan ini didapatkan perubahan warna pada kertas lakmus dari biru menjadi merah. Ini menandakan bahwa gas tersebut mengandung asam yaitu asam klorida. Dari perlakuan yang telah dilakukan pada gas yang dihasilkan dari pencampuran antara asam sulfat pekat dengan NaCl didapatkan bahwa suatu sampel yang mengandung gas Cl2 akan menghasilkan gas yang berwarna sedikit kuning, berbau tajam, memerahkan lakmus, dan membirukan kertas saring yang telah dibasahi larutan KI. d. Sampel KClO3 Sama halnya dengan sampel padat non-logam dengan uji asam sulfat pekat lainnya bahwa langkah awal yang dilakukan adalah memasukkan sampel ke dalam tabung reaksi yang telah berisi asam sulfat pekat dan kemudian dipanaskan. Dari langkah awal ini akan terlihat beberapa perubahan yaitu terbentuknya gelembung-gelembung gas, berbau tajam, dan larutan berwarna agak kuning. Gelembung gas yang terbentuk karena adanya uap dari senyawa asam yang terbentuk. Reaksi dari pembentukan senyawa asam yang menguap tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: H2SO4 + 2H2O ClO3 - + H3O+ 2H3O+ + SO42HClO3 (g) + H2O

Uap atau gas yang diperoleh tersebut diidentifikasi dengan beberapa tahapan. Pertama, dilakukan penangkapan gas dengan batang gelas yang telah dimasukkan ke dalam larutan NH 4OH. Dari tahapan ini ternyata tidak dihasilkan kabut di udara karena reaksi yang terjadi yaitu: HClO3 (g) + NH4OH(aq) NH4ClO3 (g) + H2O

26

Gas NH4ClO3 yang terbentuk tidak membentuk kabut. Selanjutnya dilakukan tahapan berikutnya yaitu menangkap gas dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan KI beramilum. Didapatkan bahwa dari tahapan tersebut ternyata warna kertas saring tidak berubah. Ini berarti dalam sampel tidak mengandung klorida. Selanjutnya dilakukan tahapan yang terakhir yaitu penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Kertas lakmus biru ternyata berubah menjadi merah, ini menandakan bahwa gas tersebut bersifat asam yaitu HClO3. Dari perlakuan yang telah dilakukan pada gas yang dihasilkan dari pencampuran antara asam sulfat pekat dengan KClO3 didapatkan bahwa suatu sampel yang mengandung gas HClO3 akan menghasilkan gas yang berwarna agak kuning, berbau tajam, dan memerahkan lakmus. Identifikasi sampel unknown a. Uji dengan asam sulfat encer Pengujian sampel yang terakhir adalah uji sampel unkown. Sampel Unknown ini berupa kristal berwarna putih. Untuk menguji anionanion yang mungkin terdapat dalam sampel ini, maka pertama dilakukan uji dengan larutan H2SO4 encer. Adapun beberapa perlakuan yang diberikan untuk sampel uknown. Mula-mula larutan H2SO4 encer dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian sampel unknown dimasukkan ke dalam tabung reaksi tersebut dan terbentuk larutan yang berwarna kuning, tidak terbentuk gas tetapi masih ada kemungkinan gas yang dihasilkan tidak berwarna. Kemudian larutan tersebut dipanaskan sehingga menghasilkan gelembung gas yang tidak berwarna dan berbau tajam. Selanjutnya, gas yang timbul diidentifikasi untuk mengetahui kandungan anion yang terdapat pada sampel tersebut. Gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 dan didapatkan bahwa larutan Ca(OH)2 tersebut tidak keruh. Ini menandakan bahwa sampel unknown tersebut tidak mengandung CO3- atau HCO3-, dan CNO-. Langkah selanjutnya adalah penangkapan gas dengan kertas saring yang telah dibasahi larutan KI beramilum. Dari tahapan ini ternyata

27

kertas saring tidak berubah warna. Ini berarti sampel tidak mengandung NO2- dan ClO-. Berikutnya gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi oleh larutan K2Cr2O7 dan ternyata kertas saring tersebut berubah warna dari kuning menjadi hijau. Ini menandakan bahwa sampel mengandung SO32-. Selanjutnya gas yang dihasilkan tersebut ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh larutan Pb(CH3COO)2 dan dihasilkan kertas saring tidak berubah warna. Ini yang menandakan bahwa sampel tidak mengandung sulfida. Selanjutnya, dilakukan penangkapan gas dengan menggunakan kertas lakmus biru. dari hasil perlakuan tersebut, kertas lakmus biru berubah menjadi berwarna merah. Hal ini menandakan bahwa sampel menghasilkan senyawa asam. Uji terakhir yang digunakan yaitu gas yang terbentuk dialirkan ke dalam larutan fuschin. Saat tabung reaksi diberi pipa pengalir gas dan ujung pipa dimasukkan ke dalam larutan fuschin ternyata terjadi perubahan yaitu larutan fuschin yang awalnya berwarna merah menjadi hilang. Dapat disimpulkan bahwa dalam sampel unknown tersebut mengandung ion sulfit (SO3-2) dari gas SO2. Dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk mengidentifikasi uap atau gas yang dihasilkan dari pencampuran antara sampel dengan asam sulfat encer dapat disimpulkan bahwa pada sampel mengandung sulfit yaitu ion SO3-2. b. Uji dengan asam sulfat pekat Ketika sampel unknown dimasukkan ke dalam asam sulfat pekat dihasilkan gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna, berbau pedas dan tajam, dan larutannya berwarna kuning kemerahan.Kemudian dilakukan identifikasi untuk mengetahui anion yang terkandung pada sampel unknown tersebut. Tahapan berikutnya yang dilakukan adalah penangkapan gas dengan menggunakan batang gelas yang telah dimasukkan ke dalam larutan NH4OH dan dihasilkan kabut di udara. Ini berarti pada sampel mengandung ion Br-. Kemudian gas yang dihasilkan juga ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh

28

larutan KI beramilum dan ternyata kertas saring tersebut tidak berubah warna. Ini berarti sampel tidak mengandung klorida. Identifikasi terakhir dilakukan dengan penangkapan gas dengan kertas lakmus biru. Kertas lakmus biru berubah menjadi merah, berarti gas tersebut bersifat asam. Sifat asam ini berasal dari senyawa asam yang sebagian menguap. Dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk mengidentifikasi uap atau gas yang dihasilkan dari pencampuran antara sampel dengan asam sulfat pekat dapat disimpulkan bahwa pada sampel mengandung juga mengandung ion Br-.

V. Kesimpulan Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anion penyusun suatu sampel dapat diketahui berdasarkan jenis gas yang dihasilkan ketika sampel yang mengandung anion tersebut terurai menjadi kation dan anion. Dimana anion yang ada dalam sampel tersebut diuraikan oleh asam menghasilkan gas yang mempunyai ciri khas. Setiap anion apabila diuraikan oleh asam akan menghasilkan gas yang memiliki karakteristik tertentu baik itu dari warna maupun bau gas serta akan memberikan hasil yang berbeda-beda baik pada uji terhadap kertas saring dibasahi dengan larutan KI beramilum/ Pb(CH3COO)2 / larutan K2Cr2O7 serta terhadap lakmus biru dan juga dalam larutan Ca(OH)2. Karakteristik ataupun ciri yang spesifik dari gas yang dihasilkan inilah yang membedakan antara anion satu dengan anion yang lainnya. VI. Jawaban Pertanyaan 1. Identifikasi tersebut diatas menggunakan asam sulfat. Jelaskan apakah mungkin menggunakan asam klorida? Jawab: Pada identifikasi tersebut, dapat digunakan asam klorida dalam mengidentifikasi anion dari padatan. Namun, asam klorida lebih terbatas cakupan anionya daripada reagent asam sulfat. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sifat asam klorida yang hanya mampu bersifat sebagai asam, berbeda dengan H2SO4 yang

29

memiliki keistimewaan, yakni selain bersifat sebagai asam juga mampu bertindak sebagai oksidator kuat. Pada uji identifikasi ion Br-dan I- misalnya, asam klorida tidak mampu menggantikan reagent asam sulfat. Hal terjadi karena dalam kondisi tersebut diperlukan reagent yang bersifat sebagai oksidator kuat, yaitu H2SO4. Dengan demikian, uji identifikasi anion yang memerlukan oksidator kuat dari H2SO4 tidak dapat digantikan oleh HCl. Tetapi identitifikasi, ion CH3COO- dapat dilakukan dengan menggunakan HCl, karena dalam identifikasi tersebut hanya diperlukan asam untuk mengidentifikasi ion CH3COO-. akan tetapi, untuk mengantisipasi apabila tidak tersedia H2SO4, dapat digunakan HNO3 sebagai oksidator kuat pengganti H2SO4. 2. Untuk prosedur 4.1.b diatas, tuliskan reaksi lengkap yang terjadi! Jawab: Pada prosedur 4.1.d terjadi reaksi sebagai berikut: CO2(g) + Ca2+(aq) + 2OH-(aq) CaCO3(s) + H2O(l) Reaksi lengkapnya adalah sebagai berikut. CO2(g) + Ca(OH)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l)

VII.Daftar Pustaka Selamat, I Nyoman dan I Gusti Lanang Wiratma. 2004. Penuntun Pratikum Kimia Analitik. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja. Selamat, I Nyoman dan I Gusti Lanang Wiratma. 2001. Buku Penuntun Belajar Kimia Analatik Kualitatif. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja. Vogel, A. I. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro . Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.

30

Anda mungkin juga menyukai