Unsur Intrinsik Cerpen

1. Tema : 2. Amanat :
      

Percintaan

dan

takdir

Dalam menghadapi hal apapun harus bersikap dewasa dan berpikir panjang. Sabarlah dalam menjalani kehidupan ini. Percaya dengan takdir Allah SWT Jangan menggunakan kekerasan dalam bertindak Patuhilah dan hormati orang tua kita Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi Jangan melamun dan tak fokus sewaktu pelajaran Campuran

3. Alur : 4. Setting :
     

Kamar tari pukul 17.15 Kelas sehabis jam istirahat sekolah Jam 7 malam di ruang menonton TV Kamar setelah sholat isyak Rumah di jalan Araya Jam 15.00 di rumah Tari

5. Penokohan/perwatakan :
       

Tari : sabar, tabah, tertutup, kuat, taat beribadah, pelamun. Audra : tidak dewasa, perhatian, pemalu Yanti : medok, baik, perhatian, suka, melucu, setia kawan Bapak : keras kepala, pemaksa, egois, suka memukul, mudah emosi Bunda : sabar, penyayang, perhatian, lemah lembut, rela berkorban Bejo : Usil, medok, nakal Bu Tartik : Pemarah, tegas, killer Papa : Egois pandang : Orang ketiga serba tahu

6. Sudut

berkulit cokelat. Tak heran kalau Tari terkadang berdiam diri di kelasnya. Karena capek. pemalu. Malas ah! Ia sekejap langsung menyembunyikan benda kenangannya dengan Audra itu di dompetnya. Huh. ia selonjoran di kasur bunga mawarnya itu.” “Ooo. Tapi ia sulit untuk memutuskan putus atau tidak pada saat itu. Bapak. wajahnya yang bersih. Daripada ia teringat dengan kekerasan bapaknya. dia yang terlalu seperti anak kecil? Kenangan itu masih tertempel di otak Tari. Memang sosok Audra yang seperti anak kecil. Bodohnya aku! Cewek berambut panjang hitam itu mengeluh. maka dibawah ini akan dipublikasikan contoh cerpennya kepada teman-teman semuanya. ditambah dengan Tari yang sejak pulang dari sekolah tadi tak keluar-keluar dari kamarnya. saat sosok yang dikenangnya itu memberikan surat kepadanya. berkhayal seandainya ia bisa lebih berpikir dewasa lagi. pintar. Selama ini semenjak putus dengan Audra. lagi pusing aku. Adapun contoh cerpen ini sendiri berjudul "Takdir". seandainya! Adu. Namun yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Itu berarti adzan magrib semakin dekat. dan bertubuh tinggi itu bukan termasuk tipe Tari. tamparan bapaknya ke bundanya itu sampai menggerakkan gendang telinganya. Wajah gelisahnya membuat dirinya penuh dengan misteri. yang menandakan jam istirahat telah usai. Tari kembali melirik buku bututnya. dia melulu. Tapi sesungguhnya ia termasuk perempuan sabar dan kuat karena ia dapat bertahan dengan kondisin keluarga seperti itu. makanya kowe kok nggak sholat dhuha. Padahal jam dinding hadiah dari temannya sudah menunjukkan pukul 17.” . Plak!! Batin Tari tergoncang. Tapi ia malah teringat oleh mantannya. Kenapa aku dulu menyia-nyiakannya. Namun Tari masih tetap duduk terenung di bangkunya sampai Yanti sobatnya itu membangunkannya dari lamunannya. Bapak! Cukup! Tari berlari menangis. biasanya kowekan rajin gitu. Tari menggumam. “Tar!” “Ei. Ditariknya foto tu dari dompetnya.15. Iih. namun penyesalan yang menginjak-nginjak batinnya nggak pergi-pergi juga. Aduh! Susahnya. ia sering berkhayal. Tet tet tet! Bunyi bel sekolah Tari berdenting. Surat yang isinya mengajak Tari putus dengannya. kurang bersyukur? Atau. Gerimis tak berhenti juga.ya? Ga dewasa. ia mending terlintas kenangannya dengan Audra. ia membanting napas kesal isi buku yang dibacanya dari tadi belum masuk juga ke otaknya. kowe kok ngelamun aja toh?” “Iya nih.Contoh Cerpen Setelah mempublikasikan contoh unsur intrinsik cerpen diatas.

“Tariiiii. “Ono opo ya ma “Iya ya. Ini berawal dari Bejo yang menepuk bahu Tari. Batas bercerita tetap ada. Tapi………… Di lain posisi. Dan siang itu meskipun Tari mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. akhirnya Tari dapat tersenyum yang sejak kemarin ia terus menangis dan bersedih karena bapaknya itu menampar bundanya yang tak sengaja mengingatkan bapaknya untuk tidak merokok dan pulang malam.“He. guru paling killer di sekolah. Tentu saja Tari nggak akan mengatakan ke Yanti kalau ia sedang sedih dan menangisi takdirnya. Kamu jangan menganggu pelajaran Ibu!” muka Tari yang memerah membuat dirinya tampak habis makan 100 cabe merah keriting yang biasa dilihatnya di dapur ketika ia memasak dengan bundanya. Huh malangnya nasibku. Mereka terlihat sedang berpikir sesuatu. itu itu Audra!” Yanti menyoel-nyoel Tari. Eiiiiihh!! Teriakannya membuat sekelas gaduh dan kaget. aku tuh udah putus dengannya! Tari menyela sobatnya denan menahan ketawa sebab melihat wajah Yanti yang berekspresi kayak “Aming” komedian itu. Tet tet tet tet tet tet………… . tapi pikirannya masih melayang kemana-mana.” “Oh. Yan. Bu Tartik memarahi Tari abis-abisan. My God!” “Bilang apa kamu tadi ?” “Ndak Bu. “Tari! Maju ke depan. apa gara-gara aku ?” Tari ?” Teman sebangku Yanti dan yang tak lain adalah Audra mencetuskan kata-kata seperti itu. Seandainya Audra masih menjadi kekasihku! pasti masalahku akan reda dengan adanya dirinya. “Tar. Dan Tari tak ingin sobatnya itu bersedih lantaran kehidupannya yang menyedihkan. ndak!” Semua teman Tari tertawa sambil menahan ketawa karena tak ingin Bu Tartik mendengar ketawa mereka. hihihihi. ngelamun aja. Dan membuat Yanti terkejut dan berpikir apa sebenarnya mereka berdua masih saling suka. Tapi dengan kelucuan sahabatnya itu. Padahal gara-gara dia Tari dipanggil ke depan oleh Bu Tartik. namun tidak dengan Yanti dan Audra. kesambet lo entar!” Bejo pura-pura tak ngerti kesalahannya. kamu itu! Kalau kamu tidak ingin mengikuti pelajaran saya. Ihiir!! Yanti menyindir sobatnya itu. ada apa dengan Tari. Paan sih! Kalau kamu suka dia jangan kayak gini dong! Alah yang suka aku apa kowe.

kamu nggak pulang Dra ?” Tari mengalihkan suasana dan itu berhasil. tak harus berbuat apa. kamu kenapa ?” Oh My God. Yanti dengan tas merah stroberinya itu langsung menyambar Tari. emang kowe tuh!” “Eeemang!!!” Tari menggoda sobatnya itu dan merangkulnya agar Yanti s egera pulang dengannya. aku tadi lagi mikirin Audra tapi gara -gara Bejo tukang usil itu. “Aku nggak apa-apa kok Dra! Aku cuma cuma…….” “Kamu bisa tunangan dulu dan setelah lulus dari kuliah. Jam 7 malam ………… Bapak sedang menonton TV dan bapak memanggil Tari. Jika Bapak sudah bicara A. “Tapi Pak. “Ya uda. “Duduk kamu! Ketua kelas pimpin doa!” “Iya Bu. Tari tak tahu harus bagaimana.” “Ooo. aku jadi dicereweti Bu Tartik deh. . Audra! Tari yang semula cemberut langsung bersinar-sinar ketika Audra menghampiri dan perhatian kepadanya. bel sekolah yang memengakkan telinga itu menyelamatkan hidupnya hari ini. aku pulang dulu ya.. aku lagi pusing aja. akhirnya mereka mengikutinya.Untung penderitaan Tari berhenti juga. Setelah Bu Tartik keluar dari kelas. Tapi begitu melihat Bu Tartik. teman-temannya juga terselamatkan. sini!Bapak mau ngomong.” Audra melirik Tari dengan senyumnya yang bisa membuat Tari mabuk kepayang. Bejo pun mengikutinya dari belakang. Tak hanya Tari. masak mau dilamar.” “Cuma ngelamunin kamu Dra. saya masih sekolah. “Tar. nggak sih. Tari bingung! Tari harus bagaimana ya Allah ? Bunda mengetuk pintu kamar Tari dan setelah bunda masuk. kamu baru menikah dengannya!” Bapak tidak mau mendengar alasan apapun dari Tari. mereka terlibat dalam pembicaraan. jadi besok kamu harus langsung pulang setelah jam sekolah selesai.” Bejo menyela perkataan Tari namun Yanti membela sobatnya. Tak biasanya bapak mau bicara dengan Tari. Besok akan ada keluarga teman Bapak yang mau melamarmu.” Tari dan ketua kelasnya menyahut bersama.” “Nggak nggak. Karena mereka ingin sekali tak mengikuti pelajaran ini. maka Tari harus mengikutinya. “Bejo! kowe ojo ngono. kowe bener-bener pusing ta ?” “Ehmm. Tar kowe kenapa? “Iya. Lalu mereka harus masih menunggu kendaraan warna biru berlabelkan “AMG”(Arjosari-Gadang) itu. Tari.

Selamat datang! Silahkan masuk. ia terlalu capek. yang penting sekarang kamu siap-siap untuk sore nanti!” “Pa!!!” Jam di kamar Tari sudah menunjukkan pukul 15. dia baik buat kamu! Terserah alasan kamu apa. Bapak menyambut keluarga itu. Ini merupakan takdir atau hanya kebetulan saja. Bun! Aku nggak mau pake kebaya ini. “Papa. ia melempar kebaya berwarna putih jika dipakenya akan pas di badannya yang ramping itu. Apa kamu?kamu?? Tari terheran dengannya. Audra juga tak masuk. aku Audra!” Dia memang Audra. Capek menangis semalaman.“Sabar ya anakku. Oh. Tari langsung memeluk Audra dan …………… “Tar. takdir macam apakah ini? Secara reflek. Tari akhirnya keluar dan menemui keluarga pelamarnya.Aku “Aku juga Dra. mantanku. Keesokan harinya Tari tak masuk sekolah karena untuk masuk. “Ya benar. anak laki-laki dari keluarga itu terlihat murung dan malas sama seperti Tari. aku sayang kamu!” sayang kamu!” . Di sebuah rumah di jalan araya itu.00 dan sebentar lagi ia akan dilamar. Entah apa alasannya. Bunda selalu disini menemanimu. Mendadak sebuah sedan hijau masuk pelan ke halaman rumah Tari dan berhenti tepat di depan teras. ia serasa mau pingsan di tempat.” Mereka menangis berdua. aku mau dengan perjodohan ini hanya karena agar Bunda tak disakiti Bapak! Tari memperjelas alasannya kepada Bundanya. Ketika Tari bertatap muka dengan anak laki-laki berjas hitam dengan kerah terbuka yang terlihat tampan saat itu. Audra tak mau dijodohkan!” “Nak. ia segera memakai sepatu highheels warna putih mengkilat itu dengan buru-buru. Meskipun terpaksa. ada perbincangan antar keluarga. Bapak mempersilahkan mereka masuk. Dibantu dengan bunda. Bunda. Namun ada yang aneh.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.