Anda di halaman 1dari 16

VISUM ET REPERTUM

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bantuan dokter kepada kalangan hukum yang paling sering dan sangat diperlukan adalah pemeriksaan korban untuk pembuatan Visum et Repertum (VeR) atau lebih sering disingkat visum saja. Melalui jalur inilah umumnya terjalin hubungan antara pihak yang membuat dan memberi bantuan dengan pihak yang meminta dan menggunakan bantuan. Visum adalah jamak dari visa, yang berarti dilihat dan repertum adalah jamak dari repere yang berarti ditemukan atau didapati, sehingga terjemahan langsung dari VeR adalah yang dilihat dan ditemukan. 1 Walaupun istilah ini berasal dari bahasa latin namun sudah dipakai sejak jaman belanda dan sudah demikian menyatu dalam bahasa indonesia dalam kehiduapn seharihari. Jangankan kalangan hukum dan kesehatan, masyarakat sendiripun akan segera menyadari bahwa visum pasti berkaitan dengan surat yang dikeluarkan dokter untuk kepentingan polisi dan pengadilan. Di Belanda sendiri istilah ini tidak dipakai. 1 Ada usaha untk mengganti istilah VeR ini ke bahasa indonesia seperti yang terlihat dalam KUHAP, dimana digunakan istilah keterangan dan keterangan ahli untuk pengganti visum. Namun usaha demikian tidak banyak berguna karena sampai saat ini ternyata istilah visum tetap saja dipakai oleh semua kalangan. 1 Baik didalam Kitab Hukum Acara Pidana yang lama, yaitu RIB (Reglemen Indonesia yang diper-Baharui) maupun Kitab Undang-undah Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak ada satu pasalpun yang memuat perkataan VeR. Hanya didalam lembaran negara tahun 1937 no.350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan bahwa Visum et Repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana. 2 Dari rumah sakit pemerintah maupun swasta sampai ke puskesmas, setiap bulan ada ratusan pemeriksaan yang harus dilakukan dokter untuk membuat visum yang diminta oleh penyidik. Yang paling banyak adalah visum untuk luka karena perkelahian,

penganiayaan, dan kecelakaan lalu lintas, selanjutnya visum untuk pelanggaran kesusilaan atau perkosaa, kemudian diikuti visum jenazah. Visum yang lain seperti visum psikiatri, visum untuk korban keracunan, atau penentuan keraguan siapa bapak seorang anak (disputed parenity), biarpun tidak banyak namun merupakan pelayanan yang dapat dilakukan doter juga. 1 1.2 Tujuan Menjelaskan pengertian Visum et Repertum, cara permintaan dan pencabutan visum, dan hukum yang berkaitan dengan Visum et Repertum. Serta membahas tentang jenisjenis visum baik untuk visum korban hidup maupun korban meninggal.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Visum et Repertum Dalam undang-undang terdapat satu ketentuan hukum yang menuliskan langsung tentang Visum et Repertum, yaitu pada Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1937 No.350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan: Pasal 1: Visa reperta seorang dokter, yang dibuat baik atas sumpah jabatan yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajaran di negeri belanda ataupun di Indonesia, merupakan alat bukti yang sah dalam perkara-perkara pidana, selama visa reperta tersebut berisikan keterangan mengenai hal-hal yang dilihat dan ditemui oleh dokter pada benda yang diperiksa. 1 Pasal 2: (1) Pada dokter yang tidak pernah mengucapkan sumpah jabatan baik di negeri Belanda ataupun di Indonesia, sebagai tersebut dalam pasal 1 diatas, dapat mengucapkan sumpah sebagai berikut: saya bersumpah (berjanji), bahwa saya sebagai dokter akan membuat pernyataanpernyataan atau keterangan-keterangan tertulis yang diperlukan untuk kepentingan peradilan dengan sebenar-benarnya menurut pengetahuan saya yang sebaik-baiknya. Semoga tuhan yang maha pengasih dan penyayang melimpahkan kekuatan lahir dan batin 1 Bila dirinci isi Staatsblad ini mengandung makna: Setiap dokter yang telah disumpah waktu menyelesaikan pendidikannya di negeri belanda ataupun di Indonesia, ataupun dokter-dokter lain berdasarkan sumpah khusus dapat membuat VeR VeR mempunyai daya bukti yang syah/alat bukti yang syah dalam perkara pidana VeR berisi laporan tertulis tentang apa yang dilihat, ditemukan pada bendabenda/korban yang diperiksa.

Ketentuan dalam Staatsblad ini sebetulnya merupakan terobosan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dokter dalam membuat visum, yaitu mereka tidak perlu disumpah tiap kali sebelum membuat visum. Seperti dikteahui setiap keerangan yang akan disampaikan untuk pengadilan haruslah keterangan dibawah sumpah. Dengan adanya ktetantuan ini, maka sumpah yang telah diikrarkan dokter waktu menamatkan pendidikannya, dianggap sebagai sumpah yang syah untuk kepentingan membuat VeR biarpun lafal dan maksudnya berbeda. Oleh karena itu sampai sekarang pada bagian akhir cisum, masih dicantumkan ketetntuan hukum ini untuk mengingatkan yang membuat maupun yang menggunakan visum, bahwa dokter waktu membuat visum akan bertindak jujur dan menyampaikan tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan korban menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. 1 Pada seminar lokakarnya VeR di Medan ahun 1981 pengertian visum dirumuskan lebih jelas, yaitu: laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, memuat pemberitaan tentang segala hal (fakta) yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia (hidup atau mati) atau benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa dengan pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut. 1

2.2 Dasar Hukum Visum et Repertum Dasar hukum Visum et Repertum dalam Kitab Undang-undah Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 133 (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 2

Dalam KUHAP kedudukan atau nilai VeR adalah satu alat bukti yang sah KUHAP pasal 184 Alat bukti yang sah adalah: a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keteragan terdakwa. 1 Pasal 186 Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan Pasal 187 (c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarka keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi kepadanya. 2 2.3 Fungsi dan Peran Visum et Repertum Visum et Repertum dapat berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Sebagaimana yang tertulis dalam Pasal 184 KUHAP, Visum et Repertum merupakan alat bukti yang sah dalam proses peradilan, yang berupa keterangan ahli, surat, dan petunjuk. Dalam penjelasan Pasal 133 KUHAP, dikatakan bahwa keterangan ahli yang diberikan oleh dokter spesialis forensik merupakan keterangan ahli, sedangkan yang dibuat oleh dokter selain spesialis forensik disebut keterangan. Hal ini diperjelas pada Pedoman Pelaksanaan KUHAP dalam Keputusan Menteri Kehakiman RI No.M.01.PW.07.03 Tahun 1982 yang menjelaskan bahwa keterangan yang dibuat oleh dokter bukan ahli merupakan alat bukti petunjuk. Dengan demikian, semua hasil Visum et Repertumyang dikeluarkan oleh dokter spesialis forensik maupun dokter bukan spesialis forensik merupakan alat bukti yang sah sesuai dengan Pasal 184 KUHAP. 3 Di dalam Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah tersebut berturut-turut adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Beban pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut berbedansesuai dengan urutannya. Sebagai contoh, keterangan saksi harus lebih dipercaya oleh hakim bila dibandingkan dengan keterangan terdakwa. Demikian halnya dengan keterangan ahli yang

diberikan oleh seorang dokter spesialis forensik tentunya akan mempunyai beban

pembuktian yang lebih besar bila dibandingkan dengan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan spesialis forensik. Sehingga, kedudukan Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter spesialis forensik masih lebih tinggi dibandingkan dengan Repertum yang dibuat oleh dokter bukan spesialis forensik.
4

Visum et

Visum et Repertum juga dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti karena segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis telah diuraikan di dalam bagian Pemberitaan. Karena barang bukti yang diperiksa tentu saja akan mengalami perubahan alamiah, seperti misalnya luka yang telah sembuh, jenazah yang mengalami pembusukan atau jenazah yang telah dikuburkan yang tidak mungkin dibawa ke persidangan, maka Visum et Repertummerupakan pengganti barang bukti tersebut yang telah diperiksa secara ilmiah oleh dokter ahli. 4 Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan suatu duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru. Sesuai dengan Pasal 180 KUHAP, hakim tersebut dapat meminta kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti jika memang timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. 4 2.4 Jenis-jenis Visum et Repertum Berdasarkan waktu pemberiannya visum untuk orang hidup dapat dibedakan atas: (1) Visum seketika (definitive). Visum yang langsung diberikan setelah korban selesai diperiksa. Visum inilah yang paling banyak dibuat oleh dokter. (2) Visum sementara. Visum yang diberikan pada korban yang masih dalam perawatan. Biasanya visum sementara ini diperlukan penyidik untuk menentukan jenis kekerasan, sehingga dapat menahan tersangka atau sebagai petunjuk dalam menginterogasi tersangka. Dalam visum semsentara ini belum ditulis kesimpulan. (3) Visum lanjutan. Visum ini diberikan setelah korban sembuh atau meninggal dan merupakan lanjutan dari visum semsentara yang telah diberikan sebelumnya. Dalam visum ini harus dicantumkan nomr dan tanggal dari visum sementara yang telah diberikan. Dalam visum ini dokter telah membuat kesimpulan. Visum lanjutan tidak perlu dibuat oleh dokter yang membuat visum sementara, tetapi oleh dokter yang terakhir merawat penderita.1

Berdasarkan objek yang diperiksa, Visum et Repertum dibagi menjadi dua yaitu: (1) Objek psikis Visum et Repertum berupa objek psikis ialah Visum et Repertum psikiatrikum. Visum et Repertum ini perlu dibuat karena adanya pasal 44 (1) KUHP yang berbunyi Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit tidak dipidana 2 Jadi yang dapat dikenakan pasal ini tidak hanya orang yang menderita penyakit jiwa (psikosis), tetapi juga orang dengan retardasi mental. Apabila penyakit jiwa (psikosis) yang ditemukan, maka harus dibuktikan apakah penyakit itu telah ada sewaktu tindak pidana tersebut dilakukan. Tentu saja, jika semakin panjang jarak antara saat kejadian dengan saat pemeriksaan, maka akan semakin sulit bagi dokter untuk menentukannya sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan. Demikian pula jenis penyakit jiwa yang bersifat hilang timbul juga akan mempersulit pembuatan kesimpulan dokter. 3 Visum et Repertum psikiatrikum dibuat untuk tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana, bukan bagi korban sebagaimana Visum et Repertum lainnya. Selain itu, Visum et Repertumpsikiatrikum menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga manusia. Oleh karena Visum et Repertum psikiatrikum menyangkut masalah dapat dipidana atau tidaknya seseorang atas tindak pidana yang dilakukannya, maka lebih baik pembuat Visum et Repertum psikiatrikum ini adalah dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum. 3 (2) Objek fisik, yang dapat dibagi menjadi dua yaitu A. Visum et Repertum orang hidup a. Visum et Repertum perlukaan atau keracunan Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat parahnya luka atau sakitnya tersebut. Terhadap setiap pasien, dokter harus membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya. Umumnya, korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik atau pejabat kepolisian, sehingga mereka datang

dengan membawa serta surat permintaan Visum et Repertum. Sedangkan para korban dengan luka sedang dan berat akan datang ke dokter atau rumah sakit sebelum melapor ke penyidik, sehingga surat permintaan Visum et Repertum-nya akan datang terlambat. Keterlambatan surat permintaan Visum et Repertumini dapat diperkecil dengan diadakannya kerja sama yang baik antara dokter atau institusi kesehatan dengan penyidik atau instansi kepolisian. 3 Dalam membuat kesimpulan dalam kasus perlukaan dokter sebaiknya menentukan juga derajat keparahan luka yang dialami korban atau disebut juga derajat kualifikasi luka. Ini sebagai usaha untuk membantu yudex facti dalam menegakkan keadilan. 1 Kualifikasi luka yang dapat dibuat dokter adalah menyatakan pasien mengalami luka ringan, sedang, atau berat. 1 Yang dimaksud dengan luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan halangan dalam menjalankan mata pencaharian, tidak mengganggu kegiatan sehari-hari. Sedangkan luka berat harus disesuaikan dengan ketentuan dalam undang-undang yaitu yang diatur dalam KUHP pasal 90. Luka sedang adalah keadaan luka diantara luka ringan dan luka berat. 1 KUHP pasal 90 Luka berat berarti: (1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut. (2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian. (3) Kehilangan salah satu panca indra (4) Mendapat cacat berat (5) Menderita sakit lumpuh (6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih (7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. 1,2 Penganiayaan ringan diatur dalam KUHP pasal 352 dan penganiayaan sedang diatur dalam KUHP pasal 351 ayat 1.

KUHP pasal 352 (1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda empat ribu lima ratus rupiah. 1 KUHP pasal 351 (1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah (2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat dyang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun (3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. 1 b. Visum et Repertum korban kejahatan susila Pada umumnya, korban kejahatan susila yang dimintakan Visum et Repertum-nya kepada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP. Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP meliputi perzinahan, pemerkosaan, persetubuhan pada wanita yang tidak berdaya, dan persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur. 2 Untuk kepentingan adanya peradilan, persetubuhan, dokter adanya berkewajiban untuk

membuktikan

kekerasan, serta usia

korban. Selain itu, dokter juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan psikiatri atau kejiwaan sebagai akibat dari tindak pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. 2

B. Visum et Repertum orang mati (jenazah) Visum et Repertum jenazah dibuat terhadap korban yang meninggal. Tujuan pembuatan Visum et Repertumini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematian. Jenazah yang akan dimintakan Visum et Repertum-nya harus diberi label yang memuat identitas mayat, di-lak dengan diberi cap jabatan, yang dikaitkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. Pada surat permintaan Visum et Repertum-nya harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta, apakah hanya pemeriksaan luar jenazah atau pemeriksaan bedah jenazah (autopsi) (Pasal 133 KUHAP). 1,2 a. Visum et Repertum dengan pemeriksaan luar Pemeriksaan luar jenazah adalah pemeriksaan berupa tindakan tanpa merusak keutuhan jaringan jenazah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan teliti dan sistematik, serta kemudian dicatat secara rinci, mulai dari bungkus atau tutup jenazah, pakaian, benda-benda di sekitar jenazah, perhiasan, ciri-ciri umum identitas, tanda-tanda tanatologi, gigi geligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar. Apabila penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka kesimpulan Visum et Repertum menyebutkan jenis luka atau kelainan yang ditemukan dan jenis kekerasan penyebabnya, sedangkan sebab matinya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah jenazah. Bila dapat diperkirakan, lama mati sebelum pemeriksaan (perkiraan kesimpulan. b. Visum et Repertum dengan pemeriksaan luar dan dalam Bila juga disertakan pemeriksaan autopsi, maka penyidik wajib memberi tahu kepada keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Autopsi dilakukan jika keluarga korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga korban (Pasal 134 KUHAP). Jenazah yang diperiksa dapat juga berupa jenazah yang didapat dari penggalian kuburan (Pasal 135 KUHAP).3 waktu kematian) dapat dicantumkan dalam bagian

10

Pemeriksaan

autopsi

dilakukan

menyeluruh

dengan

membuka

rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan lain sebagainya. Dari

pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan penyebabnya, dan perkiraan waktu kematian. 3 2.5 Struktur Visum et Repertum Visum et Repertum terdiri dari 5 kerangka dasar yang terdiri dari: 1. Pro justitia Menyadari bahwa semua surat baru sah dipengadilan bila dibuat diatas kertas materai dan hal ini akan menyulitkan bagi dokter bila setiap visum yang dibuatnya harus memakai kertas bermaterai. Berpedoman kepada peraturan pos, maka bila dokter menulis pro-justitia dibagian atas visum, maka itu sudah dianggap sama dengan kertas materai. 2. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa, siapa yang diperiksa, saat pemeriksaan (tanggal, hari, dan jam), dimana diperiksa, mengapa diperiksa, dan atas permintaan siapa visum itu dibuat. Data diri korban diisi sesuai degnan yang tercantum dalam permintaan visum. 3. Pemeriksaan Bagian terpenting dari visum sebetulnya terletak pada bagian ini, karena apa yang dilihat dan ditemukan dokter sebagai terjemahan dari Visum et Repertum itu terdapat pada bagian ini. Pada bagian ini dokter melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif. Biasanya pada bagian ini dokter menuliskan luka, cedera, dan kelainan pada tubuh korban seperti apa adanya. Misalnya didapati suatu luka dokter menuliskan dalam visum suatu luka mulai dari panjang, lebar, dalam, tepi luka, dan jarak luka. 4. Kesimpulan Untuk pemakai visum, ini adalah bagian yang terpenting, karena diharpkan dokter dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban menurut keahliannya. Pada korban luka perlu penjelasan tentang jenis kekerasan, hubungan sebab-akibat

11

dari kelainan, tentang derajat kualifikasi luka, berapa lama korban dirawat dan bagaimana harapan kesembuhan. Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu penjelasan tentang tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan, kesadaran korban serta bila perlu umur korban. 5. Penutup Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan tersebut dibuat dengan sejujur-jujurnya dan mengingat sumpah. 1 Selain dari 5 bagian diatas, Visum et Repertum dapat juga disertakan lampiran foto. Lampiran foto terutama perlu untuk memudahkan pemakai visum memahami laporan yang disampaikan dalam visum. Pada luka yang sulit disampaikan dengan kata-kata, dengan lampiran foto akan memudahkan pemakai visum memahami apa yang ingin disampaikan dokter. 1 2.6 Tata Cara Permohonan dan Pencabutan Visum et Repertum Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat Visum et Repertum. Syarat Visum et Repertum korban hidup yaitu: (1) Harus tertulis, tidak boleh secara lisan (2) Surat permohonan visum harus diserahkan langsung kepada dokter dari penyidik, tidak boleh dititip melalui korban atau keluarga korban. Juga tidak diperbolehkan melalui jasa pos (3) Bukan kejadian yang sudah lewat (4) Ada alasan mengapa korban dibawa kedokter (5) Ada identitas korban (6) Ada identitas peminta (7) Mencantumkan tanggal permintaannya (8) Korban diantar oleh polisi atau jaksa Jika korban sudah meninggal dunia, sesuai dengan KUHP pasal 133 maka permintaan dilakukan secaraq tertulis dan disebutkan secara jelas apakah untuk pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat, serta pada saat mayat dikirim kerumah sakit harus diberi label mayat yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat.

12

Pada kenyataanya dilapangan sering terjadi ketidak pahaman dari pihak penegak hukum tentang tata cara permohonan visum kepada dokter, sehingga dapat menyebabkan kerugian pada pihak korban. Maka dari itu diterbitkan instruksi polisi

No.Pol.INS/E/20/IX/75 tentang tata cara permohonan/pencabutan Visum et Repertum. Pada dasarnya penarikan/pencabutan Visum et Repertum tidak dapat dibenarkan. Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya diberikan oleh komandan kesatuan paling rendah tingkat Komres dan untuk kota hanya oleh DANTES.

13

BAB 3 PENUTUP
-

Visum et repertum terdapat dalam lembaran negara tahun 1937 No. 350 pasal 1 dan pasal 2. Dokter yang telah disumpah dapat membuat VeR, dimana didalam VeR berisi laporan tertuis tentang apa yang dilihat dan diemukan pada benda/korban yang diperiksa Dasar hukum dari Visum et Repertum terdapat dalam KUHAP pasal 133, 184, 186, dan 187. Fungsi dari Visum et Repertum adalah berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan, jiwa, dan juga orang yang telah meninggal. Visum et Repertum juga dapat dianggap sebagai barang bukti yang sah karena segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis telah diuraikan dalam bagian pemberitaan. Serta keterbatasan barang bukti yang diperiksa pasti akan mengalami perubahan alamiah sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa kepengadilan.

Jenis-jenis visum et Repertum: o Berdasarkan waktu pemberian 1. Visum seketika (definitif) 2. Visum sementara 3. Visum lanjutan o Berdasarkan objek yang diperiksa 1. Objek psikis 2. Objek fisik a) Korban hidup keracunan/perlukaan kejahatan susila

b) Korban meninggal Pemeriksaan luar Pemeriksaan luar dan dalam

14

Struktur visum et repertum: 1. Pro justititia 2. Pendahuluan 3. Pemeriksaan 4. Kesimpulan 5. Penutup

Tata cara permohonan visum korban hidup: 1. Harus tertulis, tidak boleh lisan 2. Surat diantar langsung oleh penyidik, tidak boleh dititip atau melalui pos 3. Bukan kejadian yang sudah lewat 4. Ada alasan mengapa korban dibawa kedokter 5. Ada identitas korban 6. Ada identitas peminta 7. Mencantumkan tanggal permintaan 8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa

Jika korban meninggal, sesuai dengan KUHAP pasal 133 ayat 3: 1. Harus diperlakukan secara baik 2. Diberi label (identitas mayat, dilak, dan diberik cap jabatan) diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lain mayat.

Sesuai dengan instruksi polisi No.Pol.INS/E/20/IX/75 tentang tata cara permohonan/ pencabutan Visum et Repertum, pada dasarnya pencabutan VeR tidak dapat dibenarkan. Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya diberikan oleh komandan kesatuan paling rendah tingkat Komres dan untuk kota hanya oleh DANTES.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Amir, Prof. Dr. Amri. 2005. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Percetakan Ramadhan: Medan. 2. Idries, Dr. Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Binapura Aksara: Jakarta Barat. 3. Budiyanto A, Widiatmaka W, sudiono S, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia: Jakarta. 4. Afandi. 2010. Visum et Repertum pada Korban Hidup. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal: FK UNRI

16