Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial yang berjudul Laporan Tutorial Kasus Skenario D BLOK XVIII Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat sebagai tugas kompetensi kelompok. Shalawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman. Penulis menyadari bahwa laporan tutorial ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa mendatang. Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormt dan terima kasih kepada : 1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan. 2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual. 3. dr. Hj. Siti Hildani Thaib, M.Kes selaku tutor kelompok 6 4. Teman-teman sejawat 5. Semua pihak yang membantu penulis. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada semua orang yang telah mendukung penulis dan semoga laporan turotial ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Palembang, Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Cover ............................................................................................... i Kata Pengantar ................................................................................................. 1 Daftar Isi .......................................................................................................... 2 BAB I : Pendahuluan 1.1 1.2 BAB II Latar Belakang .................................................................. 3 Maksud dan Tujuan .......................................................... 3

: Pembahasan 2.1 2.2 2.3 Data Tutorial .................................................................... 4 Skenario ............................................................................ 4 Seven Jump Step 2.3.1 Klarifikasi Istilah-Istilah ....................................... 4 2.3.2 Identifikasi Permasalahan ..................................... 5 2.3.3 Analisis masalah .................................................... 6 2.3.4 Hipotesis .............................................................. 7 2.3.5 Kerangka Konsep ................................................. 8 2.3.6 Sintesis .................................................................. 9 2.3.7 Resume ................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 25

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Blok Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat adalah blok kedelapan belas dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario D memaparkan kasus Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja. yang

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari materi tutorial ini, yaitu : 1. Sebagai laporan tugas kelompok yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah palembang 2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario mengenai kasus Managemen Puskesmas dengan metode analisis dan diskusi kelompok 3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Data Tutorial 6 Tutor Tanggal Waktu Moderator Sekretaris meja Sekretaris papan Peraturan dalam Tutorial : dr. Hj. Siti Hildani Thaib, M.kes : 21 Mei dan 23 Mei 2013 : 13.00 s.d selesai : Ricky Dwi Putra : N. Novi Kemala Sari : Desi Ratna Sari :

1. Alat komunikasi dinonaktifkan 2. Semua anggota tutorial aktif dalam diskusi kelompok 3. Semua peserta menyampaikan pendapat dengan sopan

2.2 Skenario D Blok XVIII Desa Jati Rejo yang terletak di pinggir sungai Musi dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa. Mata pencaharian penduduk selain bercocok tanam juga bekerja sebagai buruh di pabrik penggilingan padi tanpa menggunakan alat pelindung diri. Masyarakat Desa Jati Rejo memanfaatkan air sungai sebagai sumber air minum, mandi, cuci dan kakus. Berdasarkan data Puskesmas Jati Rejo didapatkan penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat adalah ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit. Kepala Puskesmas berencana memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menurunkan angka kejadian penyakit tersebut dan pada pekerja dan pemilik pabrik untuk menurunkan angka kejadian penyakit akibat kerja di pabrik tersebut.

2.3 Data Seven Jumps 2.3.1 Klarifikasi Istilah 1. Alat pelindung diri : Alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadap kecelakaan kerja dan paparan dari polusi 2. Mata pencaharian : Pekerja yang tetap yang bisa membiayai kehidupan mereka

3. Pabrik : Suatu tempat produksi yang mengelolah suatu benda menjadi sebuah produk sehingga mendapat nilai tambah 4. Puskesmas : Unit pelaksana kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan 5. ISPA : Infeksi Saluran pernafasan Akut yang berlangsung selama 14 hari, disebabkan oleh mikroorganisme/ virus 6. Diare : Buang air besar dengan frekuensi 3x/hari dengan konsistensi feses cair 7. Hepatitis A : Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis A yang penularannya lewat kotoran/ tinja 8. Penyakit Kulit : Penyakit pada kulit yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri dan fungi 9. Penyuluhan : Suatu cara untuk memberitahukan pengetahuan kepada masyarakat untuk mengubah perilaku dan pola pikir yang lebih baik

2.3.2. Identifikasi Masalah 1. Desa Jati Rejo yang terletak di pinggir sungai Musi dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa. Mata pencaharian penduduk selain bercocok tanam juga bekerja sebagai buruh di pabrik penggilingan padi tanpa menggunakan alat pelindung diri. 2. Masyarakat Desa Jati Rejo memanfaatkan air sungai sebagai sumber air minum, mandi, cuci dan kakus. 3. Berdasarkan data Puskesmas Jati Rejo didapatkan penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat adalah ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit. 4. Kepala Puskesmas berencana memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menurunkan angka kejadian penyakit tersebut dan pada pekerja dan pemilik pabrik untuk menurunkan angka kejadian penyakit akibat kerja di pabrik tersebut.

2.3.3 Analisis Masalah 1. Desa Jati Rejo yang terletak di pinggir sungai Musi dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa. Mata pencaharian penduduk selain bercocok tanam juga bekerja sebagai buruh di pabrik penggilingan padi tanpa menggunakan alat pelindung diri. a. Apa hubungan pemukiman dan pekerjaan penduduk dengan resiko terjadinya penyakit? b. Bagaimana kriteria dari pabrik yang baik? c. Apa saja alat- alat yang digunakan untuk pelindungan diri? d. Apa dampak bagi buruh pabrik jika tidak menggunakan alat pelindung diri? e. Berapa jumlah penduduk yang bisa dilayani oleh puskesmas?

2. Masyarakat Desa Jati Rejo memanfaatkan air sungai sebagai sumber air minum, mandi, cuci dan kakus. a. Apa hubungan pemanfaatan air sungai dengan penyakit yang dialami masyarakat tersebut? b. Bagaimana kriteria air bersih yang baik untuk digunakan? c. Bagaimana kriteria sumber air yang baik? d. Bagaimana kriteria jamban dan tmpt penampungan kotoran yang baik? e. Apa saja macam- macam jamban? f. Bagaimana dampak penggunaan air sungai sebagai sumber air minum? g. Bagaimana pandangan islam tentang kesehatan?

3. Berdasarkan data Puskesmas Jati Rejo didapatkan penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat adalah ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit. a. Bagaimana cara menentukan angka kejadian penyakit terbanyak di suatu wilayah puskesmas? b. Bagaimana usaha pencegahan penyakit tersebut? c. Bagaimana hubungan perjalanan alamiah dan penularan penyakit (ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit)?

4. Kepala

Puskesmas

berencana

memberikan

penyuluhan

kepada

masyarakat untuk menurunkan angka kejadian penyakit tersebut dan pada pekerja dan pemilik pabrik untuk menurunkan angka kejadian penyakit akibat kerja di pabrik tersebut. a. Bagaimana strategi puskesmas untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi yang diderita masyarakat? b. Apa saja penyakit yang dapat ditimbulkan oleh pabrik tersebut? c. Bagaimana cara K3 untuk mencegah penyakit tersebut? d. Bagaimana peran K3 terhadap penyakit akibat kerja? e. Undang- undang apa saja yang mengatur pelaksanaan K3 di Puskesmas?

2.3.4 Hipotesis Masyarakat Desa Jati Rejo mengalami ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit kemungkinan disebabkan oleh pencemaran udara dari lingkungan kerja dan pencemaran air sungai.

2.3.5 Kerangka Konsep


MCK di sungai

Pencemaran Air

Pabrik penggilingan padi mengeluarkan polusi


Pekerja tidak menggunakan APD

Air sungai sebagai sumber air utama

Pencemaran Udara

Diare

Hepatitis A

ISPA

Penyakit kulit

Penyakit terbanyak di Desa Jati rejo

Penyuluhan kesehatan

2.3.6 Sintesis 1. Desa Jati Rejo yang terletak di pinggir sungai Musi dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa. Mata pencaharian penduduk selain bercocok tanam juga bekerja sebagai buruh di pabrik penggilingan padi tanpa menggunakan alat pelindung diri. a. Apa hubungan pemukiman dan pekerjaan penduduk dengan resiko terjadinya penyakit? Jawab : Masyarakat yang mayoritas bermukim di pinggiran sungai menafaatkan air sungai sebagai sumber air utama dan MCK menyebabkan kualitas air sungai menurun dan tidak bisa dikatakan sebagai air sehat jadi jika air sungai kotor dan tercemar, bisa menjadi sarana penularan penyakit. Pada kasus dapat menimbulkan penyakit diare dan hepatitis A Bekerja sebagai buruh pabrik di penggilingan padi tanpa menggunakan alat pelindung diri, seperti yang diketahui, debu yang dihasilkan dari proses penggilingan padi dapat mengganggu pernafasan. Debu hasil kegiatan penggilingan padi akan menganggu penglihatan, mengakibatkan iritasi mata, menganggu pernafasan dapat menimbulkan ISPA (Iritasi Saluran Pernafasan Atas).

b. Bagaimana kriteria dari pabrik yang baik? Jawab : 1. Dapat mengelolah limbah dengan baik 2. Jauh dari pemukiman penduduk 3. Menerapkan sistem K3 4. Memberikan asuransi kepada pekerja pabrik

c. Apa saja alat- alat yang digunakan untuk pelindungan diri? Jawab : 1. Alat pelindung mata Mata harus terlindung dari panas, sinar yang menyilaukan dan debu. Berbagai jenis kacamata pengaman mempunyai kegunaan yang berbeda. Kacamata debu berguna
9

melindungi mata dari bahaya debu, bram (tatal) pada saat menggerinda, memahat dan mengebor. Kacamata las berguna melindungi mata dari bahaya sinar yang menyilaukan (kerusakan retina mata) pada saat melaksanakan pengelasan. Kacamata las dapat dibedakan terutama pada kacanya, antara pekerjaan las asetilin dan las listrik. Kacamata las listrik lebih gelap dibandingkan dengan kacamata las asetilin. Selain kacamata las terdapat juga kedok yang lazim disebut helm las atau kacamata las yang dipadukan dengan topi. 2. Alat pelindung kepala Topi adalah alat pelindung kepala secara umum, bila kita bekerja pada mesin-mesin yang berputar, topi melindungi terpuntirnya rambut oleh putaran mesin bor atau rambut terkena percikan api pada saat mengelas. 3. Alat pelindung telinga/Ear plug Alat pelindung telinga ialah alat yang melindungi telinga dari gemuruhnya mesin yang bising, juga penahan bising dari letupan / letusan. 4. Pelindung hidung dan mulut Ditempat- tempat tertentu dari bagian bengkel, udara sering dikotori terutama akibat kimiawi, akibat gas yang terjadi, akibat semprotan cairan, akibat debu dan partikel lainnya yang lebih kecil. Misalnya pengotoran pada pernafasan akibat debu kasar dari gerinda, kabut dari proses pengecatan, asap yang timbul ketika pahat sedang digerinda dan asap ketika mengelas adalah salah satu contoh pengotoran udara yang terjadi. Pemakaian alat pelindung pernafasan ditentukan oleh jenis bahaya pengotoran udara. a. Penahan debu Penahan debu memberi perlindungan pernafasan dari debu, debu metalik yang kasar atau partikel lainnya yang bercampur dengan udara. Yakinlah bahwa pemakaian pelindung ini sudah rapat betul, sehingga udara yang dihirup melalui saringan (filter). b. Saringan Cartridge Pemakaian saringan cartridge bila jalannya pernafasan mendapat pengotoran dari embun cairan berracun yang berukuran 0,5 mikron. Saringan cartridge diberi tanda oleh pabrik guna menerangkan kegunaannya. Bila terasa pernafasan sangat sesak segera saringan diganti. Yakinlah bahwa melekatnya alat ini pada bagian kulit muka
10

benar-benar melekat dengan baik. Agar tidak meragukan cobalah dengan melekatkan lembaran kertas atau ditutup telapak tangan pada lubang udara, kemudian dihirup. Jika penghirupan terasa sesak, berarti tidak ada kebocoran, ini menunjukkan perlekatan pada bagian kulit muka baik. 5. Alat pelindung tangan Alat pelindung tangan (sarung tangan) terbuat dari bermacam-macam bahan disesuaikan kebutuhan. Yang sering dijumpai adalah : a. Sarung tangan kain Digunakan untuk memperkuat pegangan. Hendaknya dibiasakan bila memegang benda yang berminyak, bagian-bagian mesin atau bahan logam lainnya b. Sarung tangan asbes Sarung tangan asbes digunakan terutama untuk melindungi tangan terhadap bahaya pembakaran api. Sarung tangan ini digunakan bila setiap memegang benda yang panas, seperti pada pekerjaan mengelas dan pekerjaan menempa (pande besi). c. Sarung tangan kulit Sarung tangan kulit digunakan untuk memberi perlindungan dari ketajaman sudut pada pekerjaan pengecoran. Perlengkapan ini dipakai pada saat harus mengangkat atau memegang bahan tsb. d. Sarung tangan karet Terutama pada pekerjaan pelapisan logam seperti pernikel, perkhrom dsb. Sarung tangan menjaga tangan dari bahaya pembakaran asam atau melindungi dari kepedasan cairan pada bak atau panic dimana pekerjaan tersebut berlangsung. Sarung tangan karet digunakan pula untuk melindungi kerusakan kulit tangan karena hembusan udara pada saat membersihkan bagian-bagian mesin dengan menggunakan kompresor. 6. Alat pelindung kaki Untuk menghindarkan kerusakan kaki dari tusukan benda tajam, tertimpa benda yang berat, terbakar oleh zat kimia, maka sebagai pelindung digunakan sepatu. Sepatu ini harus terbuat dari bahan yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan. 7. Alat pelindung badan
11

a. Apron Ketentuan memakai sebuah apron pelindung harus dibiasakan diluar baju kerja. Apron kulit dipakai untuk perlindungan dari rambatan panas nyala api. b. Pakaian pelindung Dengan menggunakan pakaian pelindung yang dibuat dari kulit, maka pakaian biasa akan terhindar dari percikan api terutama pada waktu mengelas dan menempa. Lengan baju jangan digulung, sebab lengan baju akan melindungi tangan dari sinar api. 9. Pakaian dan cara berpakaian Pada umumnya pakaian yang patut dipakai ketika bekerja adalah baju kerja yang dalam keadaan rapi dan baik. Bagian pakaian yang sobek dapat menyebabkan tersangkutnya pada bagian-bagian mesin yang bergerak. Menggunakan dasi samahalnya dengan menggunakan pakaian sobek yang dapat mengakibatkan tersangkutnya pada mesin yang berputar. Melipat lengan baju adalah salah satu cara menghindarkan tersangkutnya lengan baju atau lebih baik lengan baju dibuat pendek diatas siku (Ridley, 2008)

d. Apa dampak bagi buruh pabrik jika tidak menggunakan alat pelindung diri? Jawab : Dapat menyebabakan terjadinya kecelakaan kerja, kecacatan pekerja, terserang

penyakit bahkan hingga kematian. Alat pelindung diri berfungsi melindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit. Menurut H. W. Heinrich, penyebab kecelakaan kerja yang sering ditemui adalah perilaku yang tidak aman sebesar 88%, kondisi lingkungan yang tidak aman sebesar 10%,

12

e. Berapa jumlah penduduk yang bisa dilayani oleh puskesmas? Jawab : Untuk 1 puskesmas melayani 30.000 jiwa (dokter, dokter gigi, bidan,perawat, ahli gizi, sanitarian, dan lain-lain).

2. Masyarakat Desa Jati Rejo memanfaatkan air sungai sebagai sumber air minum, mandi, cuci dan kakus. a. Apa hubungan pemanfaatan air sungai dengan penyakit yang dialami masyarakat tersebut? Jawab : Masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk kehidupan sehari-hari seperti makan, minum, cuci dan kakus sebagai sumber mata air utama menyebabkan jika ada salah satu penduduk yang terkena penyakit maka akan dengan cepat menyebar ke orang lain. Seperti misalnya penyakit hepatitis A yang bisa menyebar melalui air. Air sungai juga sangat berhubungan dengan terjadinya penyakit, sumber air yang terkontaminasi bisa menjadi media untuk bakteri patogen, kondisi ini bisa meningkatkan angka insiden suatu penyakit meningkat.

b. Bagaimana kriteria air bersih yang baik untuk digunakan? Jawab : Syarat-syarat air minum sehat,agar air minum tidak menyebabka penyakit maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan kesehatan,setidak-tidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Syarat fisik Bening,tidak berasa,suhu dibawah suhu udara diluarnya. Syarat Bakteriologis Air yang sehat harus bebas dari segala bakteri,terutama bakteri patogen. Cara ini untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel air tersebut. Syarat Kimia

13

Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlatertentu pula,kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia dalam air akan menyebabkan ganggan fisioogis manusia (Notoatmodjo, 2011) Jenis bahan Flour (F) Chlor (Cl) Arsen (As) Tembaga (Cu) Besi (Fe) Zat Organik Ph (keasaman) CO2 Kadar yang dibenarkan 1-1,5 250 0,05 1,0 0,3 10 6,5-9,0 0

c. Bagaimana kriteria sumber air yang baik? Jawab : Sumber sumber air minum Air hujan : air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum Air sungai dan danau : disebut air permukaan kemungkinan besar sudah terkontaminasi maka sebelum diminum harus diolah terlebih dahulu Mata Air : Dapat dijadikan air minum lansung,namun bila belum yakin ada baiknya air tesebut di rebus terlebih dahulu Air sumur dangkal : Air ini keluar dari dalam tanah ,disebut juga air tanah. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter daripermukan tanah. Air ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada maka baiknya di rebus terlebih dahulu Air sumur dalam : berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter (Notoatmodjo, 2011).

Menurut Hasil Riset dan Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 Untuk menilai akses terhadap sumber air minum, dalam penyajian ini digunakan dua kriteria, yaitu kriteria yang digunakan pemerintah dalam laporan
14

Millenium Development Goals (MDGs) 2010 dan kriteria yang digunakan Joint Monitoring Program (JMP) WHO-UNICEF 2004.

Kriteria akses terhadap sumber air minum terlindung yang digunakan MDGs adalah bila jenis sumber air minum berupa perpipaan, sumur pompa, sumur gali terlindung dan mata air terlindung dengan jarak dari sumber pencemaran lebih dari 10 meter, dan air hujan.

Sedangkan kriteria akses terhadap air minum yang digunakan JMP WHOUNICEF 2004 adalah bila pemakaian air keperluan rumah tangga minimal 20 liter per orang per hari, berasal dari sumber air yang improved dan sumber air minumnya berada dalam radius satu kilometer dari rumah.

d. Bagaimana kriteria jamban dan tempat penampungan kotoran yang baik? Jawab : Menurut kriterian Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban keluarga dikatagorikan jamban sehat, jika memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur (SPT SGL maupun jenis sumur lainnya). Perkecualian jarak ini menjadi lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang terkait dengan porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran air tanah. 2. Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem leher angsa. 3. Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban dengan luas minimal 1x1 meter, dengan sudut kemiringan yang cukup kearah lubang jamban.

15

4. Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada setempat; 5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang; 6. Cukup penerangan; 7. Lantai kedap air; 8. Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah; 9. Ventilasi cukup baik, dan 10. Tersedia air dan alat pembersih.

e. Apa saja macam- macam jamban? Jawab : 1. Jamban cemplung, Kakus ( Pit Latrine )

Jamban cemplung ini sering kita jumpai didaerah pedesaan di jawa. Tetapi sering dijumpai jamban cemplung yang kurang sempurna, misalnya tanpa rumah jamban dan tanpa tutup. Sehingga serangga mudah masuk dan bau tidak bisa dihindari. Kakus cemplung tidak boleh terlalu dalam, sebab bila terlalu dalam akan mengotori air tanah dibawahnya. Dalamnya pit latrine berkisar antara 1,53 meter 2. Jamban cemplung berventilasi ( ventilasi improved pit latrine = VIP latrine )

Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung, bedanya lebinh lengkap yakni menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi dapat dibuat dengan bambu. 3. Jamban empang (fishpond latrine)

Jamban ini dibangun diatas empang ikan. Dalam sistem jamban empang ini disebut daur ulang yakni tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan manusia dan selanjutnya. 4. Jamban pupuk (the compost privy)

16

Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya. Disamping itu jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan. (Notoatmodjo, 2011)

f. Bagaimana dampak penggunaan air sungai sebagai sumber air minum? Jawab : Air sungai biasa digunakan untuk kegiatan rumah tangga seperti mencuci, minum, mandi dan memasak. Masyarakat sekitar yang menggunakan air tercemar kini menjadi mudah terkena penyakit seperti diare, cacingan, gatal-gatal, serta penyakit kulit lainnya.

Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain : air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen air sebagai sarang insekta penyebar penyakit jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri air sebagai media untuk hidup vector penyakit

Ada beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne diseases, atau penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak terdapat di daerahdaerah. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa (Notoatmodjo, 2011) Tabel : Beberapa Penyakit Bawaan Air dan Agennya Agen Virus Rotavirus Virus Hepatitis A Virus Poliomyelitis Diare pada anak Hepatitis A Polio (myelitis anterior acuta)
17

Penyakit

Bakteri Vibrio cholerae Escherichia Coli Enteropatogenik Salmonella typhi Salmonella paratyphi Shigella dysenteriae Protozoa Entamuba histolytica Balantidia coli Giarda lamblia Metazoa Ascaris lumbricoides Clonorchis sinensis Diphyllobothrium latum Taenia saginata/solium Schistosoma Ascariasis Clonorchiasis Diphylobothriasis Taeniasis Schistosomiasis Dysentrie amoeba Balantidiasis Giardiasis Typhus abdominalis Paratyphus Dysenterie Cholera Diare/Dysenterie

g. Bagaimana pandangan islam tentang kesehatan? Jawab : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS. Ar-Ruum: 41). Apa saja
18

musibah yang menimpa kamu, disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan itu (QS. Asy-Syuura: 30)

3. Berdasarkan data Puskesmas Jati Rejo didapatkan penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat adalah ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit. a. Bagaimana cara menentukan angka kejadian penyakit terbanyak di suatu wilayah puskesmas? Jawab : Melakukan survei langsung ke wilayah puskesmas dengan penelitian (data akurat), mengumpulkan data, mengelolah angka sehingga mendapatkan kesimpulan penyakit apa yang tertinggi di wilayah tersebut. Dengan menggunakan rumus Prevalence Rate Jumlah kasus- kasus penyakit Prevalence rate = yang ada pada suatu titik waktu Jumlah penduduk seluruhnya x 1000

b. Bagaimana usaha pencegahan penyakit tersebut? Jawab :

Melakukan penyuluhan kesehatan umum Melakukan penyuluhan pemakaian alat pelindung diri Melakukan pemakaian air bersih, dan MCK Melakukan penyuluhan rumah sehat ( ventilasi, cahaya dan udara yang baik ) Melakukan penyuluhan tentang makanan yang baik

c. Bagaimana hubungan perjalanan alamiah dan penularan penyakit (ISPA, diare, hepatitis A dan penyakit kulit)? Jawab :

19

Riwayat Perjalanan Penyakit (Perjalanan alamiah penyakit)


Keadaan dimana host belum terpapar oleh penyebab penyakit, akan tetapi pada lingkungan faktor predisposisi atau presipitasi tetap ada. Disini terjadi interaksi awal antara agen penyakti dan Host dan Lingkungan akan tetapi agen atau bibit penyakit masih berada diluar tubuh host dimana belum ada tanda tanda penyakit pada tubuh host sejauh daya tahan tubuh haost masih kuat Periode permulaan sebelum mulainya penyakit pada manusia. Manusia belum terkena penyakit tetapi telah berada ditengah-tengah penyakit. Penyakit baru akan mulai terjadi hanya jika terjadi interaksi antara agent, host, dan lingkungan, ketiga faktor ini sering disebut segi tiga ekologi atau segi tiga epidemiologi (epidemiological triad)

Fase Pre pathogenesis

Fase Pathogenesis
Waktu antara masuknya agen penyebab penyakit kedalam tubuh host yang peka terhadap bibit penyakit sampai timbul gejala gejala penyakit adanya gejala penyakit yang ringan dan tahap Ini sudah menjadi Masalah kesehatan penyakit bertambah hebat dengan kelainan patologisnya dan gejala lainnya

Fase Inkubasi

Fase Early Desease

Fase Peny. Lanjut

Fase Pasca Pathogenesis

Sembuh

Sembuh + Cacat

Carrier

Chronic State

Meninggal

4. Kepala

Puskesmas

berencana

memberikan

penyuluhan

kepada

masyarakat untuk menurunkan angka kejadian penyakit tersebut dan pada pekerja dan pemilik pabrik untuk menurunkan angka kejadian penyakit akibat kerja di pabrik tersebut. a. Bagaimana strategi untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi yang diderita masyarakat? Jawab : Dengan promosi kesehatan 1. Menjaga kelestarian sungai harus dimulai dengan langkah pertama yaitui menyadarkan penduduk di wilayah sekitar sungai akan pentingnya sungai bagi kehidupan mereka sendiri. Langkah ini dapat ditempuh melalui pertemuan penyuluhan, kunjungan pembinaan dari rumah ke rumah atau Komunikasi

20

Informasi dan Edukasi (KIE) massa melalui pemutaran film atau media seni lainnya (wayang, ketoprak, dagelan, dsb). 2. Menyadarkan para pengusaha dan pelaku industri untuk tidak membuang limbahnya ke sungai. Langkah ini perlu ditempuh melalui penyuluhan atau dialog dengan para pengusaha akan pentingnya keberadaan sungai bagi kehidupan penduduk, hewan maupun tumbuhan di sekitarnya. Sehingga agar tidak mencemari sungai, para pengusaha diwajibkan memiliki tempat pembuangan limbah tersendiri yang aman dan tidak mencemari lingkungan. Kalaupun pada akhirnya, mereka harus membuang limbah ke sungai, air limbah tersebut harus diolah sehingga tidak mencemari sungai dan mengganggu kehidupan makluk hidup di dalamnya. 3. Pemerintah selaku pengendali sekaligus penanggungjawab kelestarian sungaii harus menciptakan aturan yang tegas untuk menjaga agar sungai tetap bersih. Misalnya dengan pembuatan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai implementasi dari UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang melarang penduduk dan pengusaha/industriawan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah/limbah tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang disepakati berikut sanksi yang tegas.

b. Apa saja penyakit yang dapat ditimbulkan oleh pabrik tersebut? Jawab :

Penyakit paru akibat kerja adalah penyakit atau kerusakan paru yang disebabkan oleh debu, asap, gas berbahaya yang terhirup oleh pekerja di tempat pekerjaan mereka (Mangunnugroho, 1992). Salah satunya penyakit paru akibat debu industri adalah pneumocosis yaitu segolongan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu-debu dalam paru-paru seperti debu asbes, kapas, silika, kayu, timah, padi dan sebagainya. Pada kasus, debu yang dihasilkan dari penggilingan padi, dan tidak memakai APD masker akan menyebabkan penyakit ISPA. Bahan- bahan yang berbahaya dari pabrik dan pekerja tidak memakai APD, baju dan celana panjang, sepatu boots, sarung tangan akan menyebabkan penyakit kulit. Kebisingan yang ditimbulkan selama proses operasi yaitu aktifitas penggilingan padi yang berasal dari mesin disel, bila pekerja tidak memakai APD sumbat telinga akan menyebabkan gangguan pendengaran
21

c. Bagaimana cara K3 untuk mencegah penyakit tersebut? Jawab :

K3 bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatanyang setinggi-tingginya,baik fisik,mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungan perusahaan tersebut melalui Usaha-usaha Preventif, promotif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau gagguan-gangguan kesehatan akibat kerja atau lingkungan kerja (Ridley, 2008)

Preventif dan promotif : - Penyuluhan kesehatan - Menggunakan alat pelindung diri - Lingkungan kerja yang nyaman dan baik - Ventilasi dan penerangan tempat kerja baik

Kuratif : - Melakukan pengobatan bagi masyarakat yang sudah sakit

Penyuluhan- penyuluhan itu meliputi : Kesehatan lingkungan -PHBS Penyuluhan masalah jamban Penyuluhan tentang air bersih, sumber air bersih Penyuluhan tentang pembuangan limbah pabrik Penyuluhan tentang pemakaian alat pelindung diri ditempat kerja Penyuluhan tentang lingkungan kerja yang baik (ventilasi, penerangan lampu, cahaya, dan udara yang baik)

d. Bagaimana peran K3 terhadap penyakit akibat kerja? Jawab :

22

1. Setiap

Tenaga

Kerja

berhak

mendapat

perlindungan

atas

keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional. 2. Setiap orang yang berbeda ditempat kerja perlu terjamin

keselamatannya 3. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien. 4. Untuk mengurangi biaya perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja karena sebelumnya sudah ada tindakan antisipasi dari perusahaan.

Adapun peranan K3 terhadap upaya kesehatan masyarakat adalah : 1. Agar dalam menangani korban kecelakaan kerja lebih cepat. 2. Untuk mencegah kecelakaan dan sakit pada pekerja di tempat mereka bekerja. 3. Menunjukan cara yang lebih baik untuk selamat menghilangkan kondisi kelalaian. 4. Memperbaiki kesadaran terhadap setiap masyarakat dalam kesehan keselamatan kerja 5. Mengurangi kerugian bagi pekerja dan pengusaha

e. Undang- undang apa saja yang mengatur pelaksanaan K3 di Puskesmas? Jawab :

UU No. I tahun 1970 tentang keselamatan kerja Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 23 tentang kesehatan kerja Pentingnya kesehatan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.
23

Undang-undang inipun memuat ancaman pidana kurungan paling lama 1 tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah) bagi yang tidak menjalankan ketentuan undang-undang tersebut. Untuk tingkat peraturan pemerintah

UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampai dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Keputusan Presiden, adalah Kepres RI No. 22 Tahun1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja Dalam peraturan ini diatur hak pekerja bila menderita penyakit karena hubungan kerja, yakni mendapat jaminan kecelakaan kerja baik pada saat masih dalam hubungan kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir (paling lama 3 tahun sejak hubungan kerja berakhir).

2.3.7 Resume

Masyarakat Desa Jati Rejo mengalami penyakit ISPA, diare, hepatitis A dan kulit yang disebabkan oleh polusi udara dan pencemaran sumber air sehingga dokter di puskesmas akan melakukan upaya penyuluhan kepada masyarakat untuk menurunkan angka kejadian penyakit tersebut

24

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito,

wiku.

2012.

Analisis

Dampak

Lingkungan

Hidup.

Jakarta

http://staff.blog.ui.ac.id/wiku-a/files/2012/09/amdal.pdf , diakses tanggal 22 Mei 2013 Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan, ed. III, Tangerang: Binarupa Aksara Publisher Azwar, S. 2005. Sikap manusia: Teori dan pengukurannya (2nd ed). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia;2004. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia;1997. Departemen Kesehatan, RI, Kesehatan dan keselamatan kerja, oleh pusat kesehatan kerja, Jakarta,http://www.depkes.go.id/indx/articles.html , diakses tanggal 22 Mei 2013 Indonesia, Departemen Kesehatan, Pedoman Kerja Puskesmas, Jilid II, Jakarta : Departemen Kesehatan, 1990, h C-13. Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat, edisi 2. Jakarta : EGC Mukono, HJ. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan Edisi Kedua. Surabaya: Airlangga University Press; 2006. Rachman, Abdul, et al, 1990. Pedoman Studi Hiperkes pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Jakarta : Depkes RI, Pusdiknakes. Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang, 1985. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo Sumamur PK., 1994. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, CV. Haji Masagung, Jakarta. Ridley, John.2008. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Erlangga
25