Anda di halaman 1dari 18

RUMAH SAKIT Dr. H.

MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

STATUS PASIEN THT Tanggal : 5 Desember 2011 No. Registrasi : 20-22-83 I. Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Bangsa Pekerjaan Pendidikan Alamat Kasus Ke Pemeriksa II. IDENTIFIKASI : Ny. L : 24 tahun : Perempuan : Islam : Sunda : Ibu rumah tangga :: Kp. Sindang Laya RT/RW 04/02 Ciasihan :1 : Lystiani Puspita Dewi

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 11.00 WIB di ruang poliklinik THT RSMM A. Keluhan Utama nafas B. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik THT RSMM mengeluhkan nyeri tenggorok sejak 2 tahun yang lalu. Namun sejak 1 bulan yang lalu, nyeri tenggorok dirasakan terus menerus. Tenggorok terasa kering, gatal dan mengganjal. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri saat menelan, nyeri dirasakan saat pasien menelan makanan padat, namun nyeri tidak dirasakan saat menelan makanan cair ataupun cairan. Hal ini menyebabkan pasien menjadi sulit makan. Selain itu pasien juga merasakan demam yang dirasakan hilang timbul, dirasakan hangat dengan perabaan tangan serta terus menerus. Pasien mengeluhkan batuk berdahak dapat dikeluarkan, berwarna hijau kental, 1 : Nyeri tenggorok sejak 2 tahun yang lalu

Keluhan Tambahan : Nyeri menelan, demam, batuk berdahak, suara sengau, dan sesak

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

dan tidak berbau. Selain itu pasien mengaku suaranya berubah menjadi sengau bersamaan dengan timbulnya nyeri tenggorok. Sesak nafas juga dirasakan oleh pasien terutama saat tidur. Sesak nafas dirasakan oleh pasien berasal dari daerah leher pasien. Mengorok saat tidur, pilek, mual, nyeri pada kedua telinga tidak dirasakan oleh pasien. Adanya bau mulut ataupun air liur yang terkumpul di mulut disangkal oleh pasien. Pasien sudah berobat ke Puskesmas dan diberikan obat antibiotik (amoksisilin) namun keluhan tidak berkurang sehingga pasien berobat ke dokter THT. Pasien mengaku tidak merokok, sering mengkonsumsi makanan pedas dan minuman dingin. C. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien mengaku sudah pernah mengalami hal seperti ini sejak 2 tahun yang lalu namun hilang timbul. Tidak terdapat riwayat alergi ataupun asma. Pasien tidak pernah mengalami trauma ataupun operasi disekitar leher. D. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal seperti ini. III. A. Kesadaran Kepala Mata Leher Thorax Abdomen Ekstremitas PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan umum : Tampak sakit ringan : Compos mentis : Normocephali, bulat, simetris, tidak ada deformitas : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

B.

STATUS THT 1. PEMERIKSAAN TELINGA Kanan Normotia Nyeri tarik (-) Nyeri tekan tragus (-) Hiperemis (-), fistula (-), oedem (-), nyeri tekan (-), sikatriks (-) Hiperemis (-), fistula (-), oedem (-), nyeri tekan mastoid (-) Liang telinga Lapang Hiperemis (-) (-) (+) minimal (-) c. ekret d. erumen e. elainan lain MT intak, refleks cahaya (+), retraksi (-), bulging (-) Membran timpani MT intak, refleks cahaya (+), retraksi (-), bulging (-) K S b. arna epidermis S a. apang/sempit W L Lapang Hiperemis (-) (-) (+) minimal (-) Retroaurikuler Preaurikuler Daun telinga Kiri Normotia Nyeri tarik (-) Nyeri tekan tragus (-) Hiperemis (-), fistula (-), oedem (-), nyeri tekan (-), sikatriks (-) Hiperemis (-), fistula (-), oedem (-), nyeri tekan mastoid (-)

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Pemeriksaan fungsi pendengaran Pemeriksaan fungsi pendengaran Kanan Positif Positif Sama dengan pemeriksa Tes Penala 512 Hz Rinne Weber Schwabach Kiri Positif Positif Sama dengan pemeriksa

2. PEMERIKSAAN HIDUNG Kanan (-) Dahi (-), pipi (-), depan telinga (-) (-) Deformitas Nyeri tekan Krepitasi RINOSKOPI ANTERIOR Kiri (-) Dahi (-), pipi (-), depan telinga (-) (-)

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Kanan Sekret (-), krusta (-) Hipertrofi (-), hiperemis (-) Tidak terlihat Tidak terlihat Pus (-), polip (-) Lapang Hiperemis (-) (-) Deviasi (-) Normal

Vestibulum Konka inferior Konka media Konka superior Meatus nasi Kavum nasi Mukosa Sekret Septum Dasar hidung

Kiri Sekret (-), krusta (-) Hipertrofi (-), hiperemis (-) Tidak terlihat Tidak terlihat Pus (-), polip (-) Lapang Hiperemis (-) (-) Deviasi (-) Normal

RINOSKOPI POSTERIOR Koana Mukosa konka Sekret Muara tuba eustachii Adenoid Fossa Rusenmuler Atap nasofaring

Tidak dilakukan pemeriksaan

3. PEMERIKSAAN FARING Arkus Faring Mukosa faring Dinding faring Uvula Tonsil palatina : Simetris kanan dan kiri, hiperemis (+) : Tenang : Tidak hiperemis, permukaan rata : Simetris di tengah, hiperemis (+) : Besar Warna Kripta Detritus Gigi geligi 4. HIPOFARING 5 : Caries (-) : T3 T3 : hiperemis +/+ : melebar +/+ : -/-

Perlekatan : tidak ada

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Tidak dilakukan pemeriksaan 5. PEMERIKSAAN LARING Tidak dilakukan pemeriksaan 6. LEHER Pemeriksaan kelenjar getah bening regional : Kelenjar getah bening submandibularis tidak teraba membesar. 7. MAKSILO FASIAL Simetris, paralisis nervus kranialis (-), nyeri tekan dahi (-), pipi (-), hidung (-), depan telinga (-) IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan pemeriksaan V. RESUME : Seorang perempuan, 24 tahun, datang dengan keluhan nyeri tenggorok sejak 2 tahun yang lalu. Namun sejak 1 bulan yang lalu, nyeri tenggorok dirasakan terus menerus. Tenggorok terasa kering (+), gatal (+) dan mengganjal (+). Nyeri saat menelan (+), nyeri dirasakan saat pasien menelan makanan padat, namun nyeri tidak dirasakan saat menelan makanan cair atau cairan. Demam (+) dirasakan hilang timbul, dirasakan hangat dengan perabaan tangan. Batuk (+) berdahak dapat dikeluarkan, warna hijau, kental (+), berbau (-). Suara berubah menjadi sengau (+). Sesak nafas (+) terutama saat tidur. Sesak nafas dirasakan oleh pasien berasal dari daerah leher pasien. Riwayat merokok (-), sering mengkonsumsi makanan pedas dan minuman dingin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien tampak sakit ringan, pembesaran tonsila palatina dengan besar T3-T3, hiperemis (+/+), kripta melebar (+/ +), detritus (-/-). VI. DIAGNOSA KERJA : Tonsilitis kronik eksaserbasi akut VII. DIAGNOSA BANDING : 6

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Tonsilo-faringitis kronik VIII. RENCANA PENGOBATAN : 1. Medikamentosa Cefadroxil 2 x 500 mg selama 5 hari Asam mefenamat 3 x 500 mg Methylprednisolon 3 x 1

2. Non-medikamentosa IX. X. PROGNOSIS : Ad vitam : ad bonam Ad fungsionam : ad bonam Ad sanasionam : ad bonam Istirahat yang cukup Makan makanan yang lunak, serta hindari makanan dan minuman yang dapat merangsang tenggorok Menjaga kebersihan mulut

RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN :

DOKTER MUDA : Lystiani Puspita Dewi 7

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

DOKTER PENGAWAS : dr. Anna Maria Suciaty, Sp.THT

TANDA TANGAN :

PENILAIAN :

ANALISA KASUS 8

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

A. DIAGNOSIS Diagnosis tonsilitis kronis eksaserbasi akut ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu sebagai berikut : 1. Anamnesis Pada pasien terdapat nyeri tenggorok sejak 2 tahun SMRS. Namun sejak 1 bulan yang lalu, nyeri tenggorok dirasakan terus menerus, tenggorok kering (+), gatal (+) dan mengganjal (+). Nyeri menelan (+) terutama makanan padat. Demam (+), hilang timbul, dirasakan hangat dengan perabaan tangan serta terus menerus. Batuk (+) berdahak dapat dikeluarkan, warna hijau kental, dan bau (-). Suara berubah (+) menjadi sengau. Sesak nafas (+) terutama saat tidur dan dirasakan berasal dari sumbatan di daerah leher pasien. Dari gejala-gejala yang dikeluhkan oleh pasien sesuai dengan tonsilitis kronis eksaserbasi akut. Infeksi yang berawal dari masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui mulut akan merangsang tonsil untuk melakukan sistem perlawanan yang mengakibatkan timbul reaksi radang seperti nyeri tenggorok, demam, dan pembesaran tonsil palatina. Letak dari tonsil ini yang berada di daerah tenggorok sehingga bila terjadi pembesaran maka dapat menutup jalan nafas yang berakibat timbulnya sesak nafas saat pasien tidur. Nyeri tenggorok yang dirasakan oleh pasien sudah berlangsung sejak 2 tahun yang lalu dan dirasakan hilang timbul, namun intensitasnya bertambah menjadi terus menerus sejak 1 bulan yang lalu. Hal ini mendukung diagnosis perjalanan tonsilitis kronis eksaserbasi akut dengan didukung demam yang mulai sering dirasakan oleh pasien. 2. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan orofaring didapatkan tonsila palatina yang membesar dengan besar T3-T3, dengan mukosa hiperemis (+/+), kripta melebar (+/+), detritus (-/-).

B. RENCANA PENGOBATAN 1. Medikamentosa 9

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Cefadroxil Cefadroxil merupakan antibiotika golongan sefalosporin generasi pertama. Sefalosporin merupakan antibiotik golongan B-laktam yang memiliki efek bakterisidal (mematikan bakteri) dengan cara mengganggu sintesis selaput peptidoglycan dari dinding sel bakteri. Jangkauan terapi generasi ini meliputi bakteri yang memproduksi penisilin, streptokokus dan stafilokokus. Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan (tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media), infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih dan kelamin.

Metilprednisolon Merupakan kortikosteroid yang berguna untuk mengurangi inflamasi. Asam mefenamat Merupakan analgetik yang berguna untuk mengurangi rasa nyeri yang dikeluhkan oleh pasien.

2. Non-medikamentosa Istirahat yang cukup, disarankan agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh Mengkonsumsi makanan yang lunak, hindari makanan dan minuman yang dapat memperberat peradangan tonsil Menjaga kebersihan mulut

TINJAUAN PUSTAKA 10

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

TONSILITIS KRONIS I.1 DEFINISI Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal. Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut, terutama yang tidak mendapat terapi adekuat; mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam waktu pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti dengan pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4 bulan. Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis kronis yang merupakan infeksi fokal I.2 ANATOMI TONSIL PALATINA Tonsil palatina merupakan bagian dari cincin waldeyer. Cincin waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu : tonsil faringeal(adenoid), tonsil palatina (tansil faucil), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), dan tonsil tuba eustachius (lateral band dinding faring / Gerlachs tonsil).

Gambar 1. Tonsil

Gambar 2. Cincin Waldeyer

11

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring dan dibatasi oleh: Lateral muskulus konstriktor faring superior Anterior muskulus palatoglosus Posterior muskulus palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang jug a melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang pusat germinal. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. I.3 EPIDEMIOLOGI Dapat terjadi pada semua umur. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi tonsilitis kronik tertinggi setelah nasofaringitis akut (4,6%) yaitu sebesar 3,8%. I.4 ETIOLOGI Tonsilitis kronik disebabkan oleh kuman yang sama dengan tonsilitis akut yaitu yang sering di temukan adalah kuman Streptokokus beta hemolitikus grup A yang dikenal sebagai strept throat, Pneumokokus, Streptokokus viridans, Streptokokus piogenes. Namun 12 tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

terkadang kuman tersebut berubah menjadi kuman golongan Gram negatif. Penyebaran infeksi dapat melalui udara (air borne droplets), tangan. I.5 PATOFISIOLOGI Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak oleh kita berupa lubang yang disebut kripta. Saat folikel mengalami peradangan, tonsil akan membengkak dan membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar dan mengisi kripta yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak kuning. Kotoran ini disebut detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit polimorfonuklear, bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas. I.6 PATOLOGI Proses radang yang timbul berulang menyebabkan epitel mukosa serta jaringan limfoid terkikis, sehingga proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus yang merupakan akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripta berupa eksudat berwarna kekuning kuningan. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan disekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submandibula. I.7 FAKTOR PREDISPOSISI Faktor predisposis timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. I.8 MANIFESTASI KLINIS Penderita tonsilitis kronik mengeluh rasa kering atau rasa mengganjal di tenggorok. Kemudian berubah menjadi rasa nyeri di tenggorok dan rasa nyeri saat menelan. Makin lama rasa nyeri ini semakin bertambah nyeri sehingga penderita menjadi tidak mau makan.

13

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Nyeri hebat ini dapat menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga (otalgia) tersebut tersebar melalui nervus glossofaringeus (IX). Keluhan lainnya berupa demam yang suhunya dapat sangat tinggi. Rasa nyeri kepala, badan lesu dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis kronis. Suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas. Keadaan ini disebut plummy voice. Mulut berbau busuk (foetor ex ore). Dapat juga disertai batuk, pilek, dan terkadang mual. Adakalanya penderita mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan rongga hidung). I.9 PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan tonsilitis kronik ditemukan tonsil yang membesar, permukaan tidak rata, hiperemis dan kriptus melebar serta beberapa kripti terisi oleh detritus. Standart untuk pemeriksaan tonsil berdasarkan pemeriksaan fisik diagnostik diklasifikasikan berdasarkan ratio tonsil terhadap orofaring (dari medial ke lateral) yang diukur antara pilar anterior kanan dan kiri. T0: Tonsil terletak pada fosa tonsil T1: < 25% T2: 25% - 50% T3: 50% - 75% T4: > 75%

Gambar 3. Derajat pembesaran tonsil 14

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

Sedangkan menurut Thane dan Cody pembesaran tonsil terbagi atas : T1: T2: T3: T4: batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai jarak pilar anterior uvula. batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula sampai jarak pilar anterior-uvula. batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula sampai jarak pilar anterior-uvula. batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih (Cody, 1993) I.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG 1) Tes Laboratorium Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien merupakan bakteri grup A, karena grup ini dapat disertai dengan demam rematik dan glomerulnefritis. 2) Kultur dan uji resistensi bila diperlukan. I.11 PENATALAKSANAAN Terapi tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga higiene mulut yang baik, obat kumur, obat hisap dan tonsilektomi jika terapi konservatif tidak memberikan hasil. Pengobatan tonsilitis kronis dengan menggunakan antibiotik oral perlu diberikan selama sekurangnya 10 hari. Antibiotik yang dapat diberikan adalah golongan penisilin atau sulfonamida yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris dengan alat irigasi gigi atau oral. Pemberian asupan cairan sangat penting, dan paracetamol berperan sebagai analgesik dan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh. Tonsilektomi merupakan tindakan pembedahan dengan mengangkat tonsil palatina yang membesar. Tindakan ini memiliki indikasi-indikasi yang meliputi indikasi mutlak dan relatif seperti : Indikasi mutlak: 1. Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan nafas yang kronis

15

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

2. Hipertrofi tonsil (adenoid) dengan sindroma apnea waktu tidur 3. Hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan penyerta. 4. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma) 5. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya Indikasi Relatif : 1. Serangan tonsilitis berulang yang tercatat walau pemberian terapi sudah adekuat 2. Tonsilitis yang berhubungan dengan biakan streptokokus menetap dan patogenik (keadaan karier) 3. Hiperplasia tonsil dengan obstruksi fungsional (misalnya, penelanan) 4. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap enam bulan setelah infeksi mononukleosis (biasanya pada dewasa muda) 5. Riwayat demam reumatik dengan kerusakan jantung yang berhubungan dengan tonsilitis rekurens kronik dan pengendalian antibiotik yang buruk 6. Radang tonsil kronis menetap yang tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan medis (biasanya dewasa muda) 7. Hipertrofi tonsil dan adenoid yang berhubungan dengan abnormalitas orofasial dan gigi geligi yang menyempitkan jalan napas bagian atas 8. Tonsilitis berulang atau kronis yang berhubungan dengan adenopati servikal persisten. Indikasi tonsilektomi menurut The American of Otolaryngology - Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan : 1. Serangan tonsillitis lebih dari tiga kali per tahun walaupun telah mendapatkan terapi yang adekuat. 2. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial. 16

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

3. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan nafas, sleep apneu, gangguan menelan, gangguan berbicara, dan cor pulmonale 4. Rhinitis dan sinusistis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidah berhasil hilang dengan pengobatan 5. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan 6. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganansan 7. Otitis media efusa/ otitis media supuratif. Kontraindikasi tonsilektomi adalah : 1. Infeksi pernapasan bagian atas yang berulang 2. Infeksi sistemik atau kronis 3. Demam yang tidak diketahui penyebabnya 4. Pembesaran tonsil tanpa gejala-gejala obstruksi 5. Rinitis alergika 6. Asma 7. Ketidakmampuan atau kegagalan untuk tumbuh 8. Tonus otot yang lemah 9. Sinusitis I.12 KOMPLIKASI Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endocarditis, artritis, myositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis. Komplikasi lain yang bersifat sistemik dapat timbul terutama oleh kuman Streptokokus beta hemolitikus berupa sepsis dan infeksinya dapat tersebar ke organ lain seperti bronkus (bronkitis), ginjal (nefritis akut & glomerulonefritis akut), jantung (miokarditis & endokarditis), sendi (artritis) dan vaskuler (plebitis). Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernafas melalui mulut, tidur mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).

17

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR SMF ILMU KESEHATAN THT FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
Jl. Dr. Sumeru No.114 Bogor 16111, Telp/Fax. 0251-324025 / 320467 Pes. 102

18