Anda di halaman 1dari 10

II. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

Hasil

Collocalia esculenta

Tabel Pengamatan Burung No 1 2 3 Indonesia Wallet sapi Wallet sapi Wallet sapi Nama Burung Ilmiah Collocalia esculenta Collocalia esculenta Collocalia esculenta Perilaku Teramati F Ns Cp F Jumlah

Keterangan : F : Feeding (makan) F : Flvina (terbang) Ns : Nesting (aktivitas di sarang) Cp : Copulation

Hasil Perhitungan Keragaman Simpson

B. Pembahasan Habitat satwa didefinisikan sebagai tempat hidup satwa. Habitat satwa harus dapat menyediakan keperluan dasar bagi satwa yaitu pakan, air, dan pelindung (Morrison et al, 1992). Habitat merupakan hasil interaksi antara berbagai komponen seperti komponen fisik dan komponen biologis (Alikodra, 2002). Habitat yang baik akan mendukung perkembangbiakan organisme yang hidup di dalamnya secara normal. Bailey (1984) menyatakan bahwa kelengkapan habitat terdiri dari berbagai jenis termasuk makanan, perlindungan dan faktor lain yang diperlukan oleh jenis satwa untuk bertahan hidup. Beberapa faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan makanan, tempat untuk beristirahat, bermain, berkembang biak, bersarang, bertengger, dan berlindung. Untuk hidup di dalam suatu habitat, burung memerlukan syarat-syarat tertentu seperti kondisi habitat yang cocok, baik, dan aman dari segala gangguan (Ontario et al, 1991). Secara astronomis pangandaran terletak antara 0704115,8 LS dan 108039 33,2 BT. Keadaan topografinya landai dengan ketinggian rata-rata berkisar 0-20 m diatas permukaan laut. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan ferguson pangandaran termasuk kedalam type A dengan curah hujan rata-rata 3196 mm/tahun, suhu berkisar antara 250 C -350 C dengan kelembapan 80 -90%. Vegetasinya terdiri dari formasi hutan pantai dan hutan dataran rendah. Formasi hutan pantai didominasi oleh jenisjenis Butun (Baringtonia asiatica), ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Callophylum inophylum), Brogondolo (Hernandia peltata), dan Watu (Habiscus titiaceus). Pengamatan dilakukan di pagi hari sehingga kami mudah menemukan beberapa jenis burung karena burung akan berkeliaran atau beraktiftas banyak yang di pagi hari. Pengamatan dilakukan pada areal setengah terbuka atau kawasan hutan yang kerapatannya kurang. Pengamatan yang dilakukan dengan mengamati burung yang sedang beraktifitas, saat mengamati jenis-jenis burung, biasanya burung-burung ini tidak hinggap lama pada pepohonan, sehingga menyulitkan dalam memperoleh gambarnya. Ada spesies burung tertentu yang hanya hinggap di tajuk pohon-pohon yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil praktikum dan pengamatan di lokasi setempat

ditemukan burung spesies Collocalia esculenta yang berjumlah tiga individu dan aktivitasnya flying (terbang) dan nesting (aktivitas disarang). Klasifikasi Collocalia esculenta (Whitten, 1999) Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Aves : Apodiformes : Apodidae : Collocalia : Collocalia esculenta Collocalia esculenta Walet ini berbulu hitam kebiru-biruan dengan warna mengilap. Bulu bagian bawah kelabu gelap dan bagian perut agak putih. Ekornya sedikit bercelah. Walet sapi merupakan jenis walet yang berukuran paling kecil, panjang tubuhnya hanya sekitar 10 cm. Matanya berwarna cokelat gelap, paruh hitam. Suaranya melengking tinggi. Di Indonesia, walet jenis ini banyak ditemukan di Jawa dan Bali. Habitatnya meliputi semua ketinggian, baik di padang rumput berpohon terbuka maupun hutan. Walet sapi terbang berkelompok, tidak beraturan. Walet ini tidak kuat terbang jauh. Biasanya terbang rendah hanya berputar-putar di dekat permukaan tanah atau sungai untuk mandi dan minum. Jika mencari makan, sering mengitari pohon-pohon besar dan tinggi yang banyak serangganya, terutama tawon kecil. Sarangnya berbentuk tidak beraturan, terdiri dari

campuran lumut dan rumput yang direkatkan dengan air liurnya. Pada celah gua yang terang, celah batu, atau sudut bangunan, walet sapi dapat bersarang. Jika bertelur biasanya hanya 2 butir. Telurnya berwarna putih dan agak lonjong. Walet sapi bersarang tidak tergantung pada musim kawin sehingga bisa bersarang sepanjang tahun (Whitten, 1999). Sarang-sarang burung wallet dibangun dengan air liur sebagai komponen utama. Berkepala putih atau Munia (Lonchura maja) adalah spesies estrildid finch ditemukan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam. Hal ini ditemukan di habitat lahan basah, terutama di rawa-rawa dan alang, umumnya, mereka hampir hitam. tetapi lebih coklat pucat sampai keputihan pada seluruh kepala

dan tenggorokannya. Di Jawa dan Bali, burung ini cukup umum (Zuki, A. B. Z, et al. 2012). Krebs dan Davis (1978) mengemukakan bahwa ketidak hadiran suatu jenis burung di satu tempat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu ketidakcocokan habitat, perilaku (seleksi habitat), kehadiran jenis hewan lain (predator, parasit dan pesaing) dan faktor kimiafisika lingkungan yang berada di luar kisaran toleransi jenis burung yang bersangkutan. Keberadaan berbagai jenis burung, terutama jenis endemik dataran rendah Jawa di lokasi penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan daya dukung yang beragam pada tiap lahan dapat mendukung jenis burung yang lebih beraneka ragam pula. Rosenzweig (1995) menjelaskan bahwa setiap jenis membutuhkan habitat yang sesuai untuk dapat bertahan hidup. Habitat dengan variasi yang lebih besar akan berbanding lurus dengan variasi jenis yang lebih besar. Fragmentasi habitat secara luas diakui sebagai salah satu ancaman keanekaragaman hayati terbesar untuk dunia sebagaimana berkurang habitat setiap daerah dan meningkatnya isolasi hampir selalu menyebabkan penurunan cepat dalam kekayaan spesies lokal dan atau meningkatkan resiko kepunahan populasi. Mengingat peningkatan prevalensi fragmentasi habitat akibat kegiatan manusia, ekologi telah mendedikasikan upaya intensif untuk memahami dan mengurangi dampak negatif dari fragmentasi habitat keanekaragaman hayati. Fragmentasi habitat telah menjadi isu sentral dalam biologi konservasi, dan menarik banyak minat dalam beberapa dekade terakhir (Ding Zhifeng et al, 2013). Perusakan habitat dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan telah menyebabkan Indonesia memiliki daftar spesies fauna terancam punah terpanjang di dunia, mencakup 126 spesies burung, 63 spesies mamalia, dan 21 spesies reptil (Sumardja, 1998 dalam Widodo, 2009). Secara khusus, saat ini terdapat 1.111 jenis burung (11%) di dunia yang secara global terancam punah. Ditambah dengan 11 jenis (0,1%) dikategorikan dalam status tergantung aksi konservasi, 66 jenis (1%) Kurang data, dan 877 jenis (9%) mendekati terancam punah, dengan kata lain, lebih dari seperlima dari semua jenis burung yang ada di dunia perlu untuk mendapat perhatian.

Keterancaman tersebut diakibatkan oleh menurunnya kualitas lingkungan dan hilangnya habitat (Shahnaz dkk., 1995). Menurut Rosenzweig (1995) usaha konservasi, berbagai pendekatan dilakukan untuk mencapai tujuan konservasi ini. Pendekatan yang umumnya dilakukan ada dua yaitu: konservasi berbasiskan kawasan dan konservasi berbasiskan spesies. Dalam pemilihan lokasi yang akan dikonservasi (konservasi berbasis kawasan) kawasan mana yang akan dikonservasi biasanya juga berdasarkan pertimbangan jenis apa saja yang terdapat di ekosistem tersebut. Pendekatan konservasi berbasiskan spesies, berbagai istilah digunakan oleh para konservasionist untuk menciptakan ikon dalam mempromosikan konservasi yaitu : Umbrella species Umbrella species didefinisikan spesies yang memiliki penyebaran yang luas yang membutuhkan banyak spesies lain spesies yang membutuhkan area yang luas sehingga perlindungan jenis ini juga melindungi hewan lain yang juga menempati daerah yang sama. Perlindungan umbrella species otomatis akan memperluas perlindungan ke jenis lain misalnya spotted-owl dan pohon tua. Umbrella species secara tradisional digunakan pada hewan yang badannya relatif lebih besar dan jenis hewan vertebrata tingkat tinggi yang penyebarannya luas Flagship spesies Flagship species adalah spesies yang dipilih sebagai duta besar, ikon atau simbol untuk mendefinisikan suatu habitat atau dampak lingkungan. Dengan memfokuskan dan mengusahakan konservasi jenis ini, status dari jenis lain yang menempati habitat yang sama atau rawan menjadi ancaman yang sama juga akan menjadi lebih baik. Flagship species biasanya relatif berukuran besar, dan kharismatik dalam budaya barat contohnya panda. Rafflesia, dan jenis lainnya yang biasa dijadikan simbol di dalam lambang dsb. Flagship spesies bisa merupakan keystone species, atau indicator species maupun tidak sama sekali. Keystone spesies keystone spesies memainkan peran yang penting di dalam struktur, fungsi atau produktifitas dari habitat atau ekosistem (habitat, tanah, dan pemencar biji, dll). Jika

hilangnya jenis ini akan mengakibatkan perubahan yang signifikan atau fungsi yang salah yang bisa berefek pada skala yang lebih besar. Contohnya termasuk peranan gajah dalam memelihara struktur habitat, dan kelelawar dan serangga di dalam polinasi, dengan memfokuskan pada keystone spesies, aksi konservasi dari spesies ini membantu melindungi struktur dan fungsi habitat yang luas yang berhubungan dengan spesies ini selama siklus hidupnya. Definisi lain dari keystone spesies adalah jenis yang jika hilang keberadaannya pada ekosistem maka akan mengakibatkan perubahan yang hebat terhadap populasi jenis lain atau proses ekosistem; serta yang memiliki fungsi yang vital dalam komunitasnya. Indeks Keanekaragaman digunakan untuk mengetahui keanekaragaman hayati biota yang diteliti. Pada prinsipnya, nilai indeks makin tinggi, berarti komunitas ditempat itu makin beragam dan tidak didominasi oleh satu atau lebih dari takson yang ada .Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman biota air, dapat diketahui secara umum mengenai status mutu air secara biologis. Kriteria untuk plankton, apabila indeks keanekaragaman Simpson lebih kecil dari 0,6, menunjukkan bahwa telah terjadi perturbasi (gangguan) dari kualitas air terhadap kehidupan plankton (Odum, 1975). Faktor utama yang mempengaruhi jumlah organisme, keragaman jenis dan dominansi antara lain adanya perusakan habitat alami seperti pengkonversian lahan, pecemaran kimia dan organik, serta perubahan iklim (Widodo, 1997).

III. KESIMPUAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum komunitas burung dapat disimpulkan :


1. Hasil praktikum dan pengamatan di lokasi setempat ditemukan burung spesies

Collocalia esculenta yang berjumlah tiga individu dan aktivitasnya flying (terbang) dan nesting (aktivitas disarang). 2. Hasil perhitungan indeks diversitas simpson kelompok 6A sebesar 0,56.

B. Saran Praktikum komunitas burung ini sebaiknya alat pengamatan identifikasi seperti binokuler dan monokuler harus lebih banyak lagi dalam penyediannya, agar memudahkan pengamatan dan adanya buku identifikasi jenis-jenis burung.

DAFTAR REFERENSI

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Jilid I. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bailey JA. 1984. Principle of Life Management. New York: John Wiley. Ding Zhifeng et al. 2013. Patterns of bird functional diversity on land-bridge island fragments. Journal of Animal Ecology 2013 Krebs, JR. & NB Davies. 1978. Behavioural ecology: an Evolutionary Approach. 3rd ed. London: Blackwell Scientific Publication (XI + 494) hal. Morrison ML, Marcot BG, Mannan RW. 1992. Wildlife-Habitat Relationships: Concepts & Applications. Madison, Wisconsin: The University of Wisconsin Press. Odum, EP. 1975. Fundamentals of Ecology 3rd. Philadelphia: W.B Saunders & Co. (XIV + 574). Ontario J, Hernowo JB, Haryanto, Ekarelawan. 1991. Pola Pembinaan Habitat Burung di Kawasan Pemukiman Terutama di Perkotaan. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Rosenzweig, ML. Spesies Diversity in Space and Time. 1995. UK: Cambridge University Press (XX + 436). Shahnaz, J, P. Jepson, dan Rudyanto, 1995. Burung-burung Terancam Punah di Indonesia. Departemen Kehutanan-Birdlife International Indonesia Programme. Bogor. Swastikaningrum Hening , Hariyanto Sucipto, Bambang Irawan. 2012. Keanekaragaman Jenis Burung Pada Berbagai Tipe Pemanfaatan Lahan Di Kawasan Muara Kali Lamong, Perbatasan Surabaya Gresik. Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Hayati: 17 (131138), 2012. Whitten,T.,Soeriaatmadja, R.,M., dan Afiff, S.,A. 1999. Seri Ekologi Indonesia Jilid II; Ekologi Jawa dan Bali. Jakarta : Prenhallindo Widodo W, 1997. Kelimpahan Relatif Burung-burung di Hutan Pegunungan Tilu Geder, Garut Selatan, Jawa Barat. Jurnal Biologi Indonesia. 4(2): 12933.

Widodo, W. 2009. Komparasi Keragaman Jenis Burung-Burung di Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo Pada Beberapa Tipe Habitat. Jurnal Berkala Penelitian Hayati. 14(2): 113124. Zuki, A. B. Z, et al. 2012. Anatomical Structures of the Limb of White-nest Swiftlet (Aerodramus fuciphagus) and White-headed Munia (Lonchura maja). Department of Veterinary Preclinical Sciences, Faculty of Veterinary Medicine Universiti Putra Malaysia, 43400 Serdang, Selangor, Malaysia. Pertanika J. Trop. Agric. Sci. 35 (3): 613 - 622 (2012).