Anda di halaman 1dari 4

Metode Amenore Laktasi (MAL)

metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, Setelah terjadi menstruasi diatas 6 bulan, kemungkinan terjadinya ovulasi akan meningkat. Dengan Asi eksklusif atau mendekati eksklusif, sebanyak 70% wanita mengalami amenore sampai 6 bulan, dan hanya 37 % yang mengalami sampai 1 tahun. Menyusui eksklusif pada wanita sering mengakibatkan perdarahan bercak (spotting) pada 8 minggu pertama postpartum, tapi perdarahan ini bukan ovulasi. Pemberian makanan/susu formula tambahan akan meningkatkan terjadinya ovulasi, karena frekuensi menyusui akan berkurang, untuk itu diperlukan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Ovulasi terjadi sebelum 6 minggu postpartum pada sebagian besar wanita yang tidak menyusui eksklusif. efektifitasnya mencapai 98% jika : Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila diberikan minimal 8 kali sehari. Belum mendapat haid. Umur bayi kurang dari 6 bulan frekuensi dan intensitas menyusui tinggi.

Keuntungan Kerugian Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis ataupun HIV/AIDS. Tidak bisa untuk wanita yang tidak menyusui. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif. Mudah murah dan aman Efektifitas tinggi Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat. Tidak mengganggu coitus Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.

Mekanisme kerja Pada saat laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin meningkat sehingga memberikan umpan balik negatif ke hipotalamus dan menghambat sekresi GnRH sehingga tidak terjadi pertumbuhan folikel

Penatalaksanaan

Rokok Merokok dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Kandungan zat-zat di dalam rokok terbukti berbahaya tidak hanya kepada pengguna rokok, tetapi juga kepada mereka yang tidak sengaja menghisap asap rokok (perokok pasif). Hal terburuk lain yang bisa berakibat fatal akibat merokok yakni apabila seorang ibu hamil masih melanjutkan kebiasaan merokoknya. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, akan berakibat sangat buruk pada kandungannya. Pada tahun 2004 menurut sebuah survey di Indonesia ada sebanyak 65,6 juta wanita terpapar asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun perokok pasif. Dari beberapa penelitian klinis diperoleh fakta pengaruh asap rokok bagi kandungan antara lain : bayi lahir prematur bayi terlahir dengan gangguan jantung bawaan keguguran dan cacat pada janin seperti bibir sumbing.

Bahaya merokok bagi ibu hamil ini menjadi perhatian bagi WHO untuk mengkampanyekan berhenti merokok demi keselamatan bayi dan anak-anak.

Asap rokok yang mengandung sekian banyak jenis racun sangat berbahaya bagi kandungan. Bahaya merokok salah satunya adalah membuat fungsi saluran telur pada wanita menjadi terganggu, maka sel telur yang sudah terbuahi dan menjadi calon janin tidak bisa menempel pada dinding rahim akibatnya calon janin tadi tidak dapat berkembang secara normal. Kondisi ini disebut dengan endometriosis.Keguguran pada janin juga menjadi akibat dari bahaya merokok. Resiko keguguran ini disumbangkan akibat sperma si ayah yang seorang perokok. Racun-racun yang terdapat di dalam rokok dapat merusak DNA dan mengubah bentuk sperma. Maka setelah proses pembuahan, kelainan pada sperma si ayah tadi menyebabkan kecacatan pada janin bahkan keguguran. Kandungan lain yang terdapat pada rokok yang berbahaya bagi ibu hamil: 1. Nikotin Racun nikotin dapat mempengaruhi bahkan menghambat proses aliran darah dari ibu kepada janin, akibatnya perkembangan bayi menjadi terlambat. Kondisi ini berjalan terus hingga memasuki masa persalinan, dan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Selain berat badan rendah, bayi juga dapat lahir premature atau lahir dalam usia yang belum matang. Bayi premature pada umumnya memiliki perkembangan organ dalam yang belum sempurna, sehingga ia sangat rentan terhadap beberapa penyakit. Lalu juga menyebabkan kelainan pada plasenta. 2. Karbon monoksida Oksigen yang diambil dari paru-paru dan diikat oleh hemoglobin untuk selanjutnya dibawa untuk sirkulasi janin melalui plasenta. Ketika si ibu hamil merokok, maka gas-gas hasil pembakaran tembakau juga jadi terhirup oleh si ibu seperti gas karbon monoksida. Gas ini mengganggu perjalanan oksigen ke janin akhirnya pasokan oksigen ke janin terhambat dan dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan janin. Menyebabkan kelainan pada plasenta. Ada juga efek berkelanjutannya: Akan menyebabkan janin kekurangan oksigen, sehingga pertumbuhan janin terhambat. Bayi berpotensi lahir dengan berat rendah. Selain itu perkembangan fisik, emosi, intlektual akan lebih rendah dari bayi normal. Ditambah dengan retannya bayi terhadap infeksi dan gangguan kesehatan lainnya. Meningkatkan resiko terjadinya cacat bawaan pada bayi, seperti bibir sumbing. Wanita hamil yang merokok, 50 persen akan mempengaruhi bayi terkena retardasi mental lebih besar, ketimbang ibu hamil yang tidak merokok. Resiko kematian bayi mendadak lebih besar, karena fungsi pada paru yang buruk. Mengakibatkan gangguan psikotik ( kelainan jiwa ) pada sang bayi.