Anda di halaman 1dari 4

6/6/13

06 06 2013 Last update 06:05:35 AM

Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut - Jakartabeat
Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member Tw eet ke @jakartabeat

HOME DIREKTORI
Trending Topic Buka Diskusi Kirim Naskah

EDITORIAL

MUSIK

IDEA

HUMANIORA

MULTIMEDIA

FORUM

SEARCH EVENT PROMO

Home
JUN 04 2013

Idea

Kanal Idea

Film

Antara Jack Reacher, Lew at Djam Malam, dan Kusni Kasdut

Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut


Written by Husni Efendi | Read 291 times (0 votes)

AKUN MEMBER
Username Password LOGIN Forgot login?

Rate this item

NAVIGASI
Kanal Musik
Album Konser Ulasan Testimoni Klasik Band To Watch Sumber Foto: Ist.

CALL FOR ENTRIES CLICK HERE FOR MORE DETAILS


Dapatkan konten newsletter Jakartabeat.Net dikirim langsung ke email anda. Daftar di sini.

"..ada empat jenis orang yang bergabung di militer. Pertama karena tradisi keluarga, kedua karena patriot semangat mengabdi, ketiga karena butuh pekerjaan, terakhir karena ingin membunuh orang dengan legal.." Kalimat itu terucap dari tokoh Jack Reacher (diperankan Tom Cruise) dalam film berjudul Jack Reacher (2012) saat diwawancara oleh seorang pengacara cantik bernama Helen Rodin (Rosamund Pike) terkait kasus penembakan warga sipil yang disangkakan dilakukan oleh James Barr (Joseph Sikora). Seperti sedang menganalisa, Jack Reacher mengungkapkan hal tersebut sembari melahap hidangan makan siangnya. Tidak seperti pakar militer, dia berbicara santai tentang kriteria beberapa militer tadi, profesi yang juga pernah disandangnya semasa aktif sebagai militer yang ditugaskan di Irak dan Afghanistan. Adegan tersebut adalah menit-menit awal dalam film dengan judul yang sama dari nama tokoh utamanya Jack Reacher. Sebuah film garapan Christopher McQuarrie yang sebelumnya sempat bekerjasama juga dengan Tom Cruise dalam Valkyrie di tahun 2008 Lebih dari sebuah analisa militer, tokoh Jack Reacher dalam film tersebut seperti mencoba membebaskan diri dengan kehidupan yang lebih manusiawi dan lebih memilih keluar dari kesatuan militernya untuk merdeka menikmati hidup. Jack Reacher, seorang yang diibaratkan sebagai hantu dengan miskin identitas. Dia tidak memiliki SIM, kartu kredit, tidak ada ponsel, juga email. Tidak ada hal yang pasti mengenainya, selain merujuk dirinya adalah seorang mantan militer handal dengan mendapatkan banyak penghargaan salah satunya Legiun Of Merit (Bintang Jasa Tingkat Pemimpin), medali jasa pertahanan terunggul dalam karier militernya. Jack Reacher juga konon terkenal sebagai penyelidik yang mumpuni di kesatuannya tetapi sekaligus juga terkenal sebagai pengacau. Di akhir karir militernya pangkatnya turun menjadi kapten, dua tahun setelah itu dia keluar dari kesatuan militernya, menjadi pengembara atau entah beralih profesi menjadi apa, tidak ada yang tahu pasti. Kenyamanan Jack Reacher

Email Address SUBSCRIBE

Kanal Idea
Buku Film Interview Cerpen Karikatur

TERBARU DARI KONTRIBUTOR


Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut Written by Husni Efendi Seloka Marah SEMAKBELUKAR Written by Redaksi JB Pancasila: Pengikat Tenun Kebangsaan Negara Gotong Royong Written by Redaksi JB Sekadar Cerita, Sekadar Kenangan Written by Berto Tukan Playing Gambus With Suarasama Written by Redaksi JB

Kanal Humaniora
Travelling Politika Esai Analisis Sejarah

jakartabeat.net/idea/kanal-idea/film/item/1771-antara-jack-reacher,-lewat-djam-malam,-dan-kusni-kasdut.html#.UbCiptKl6Fk

1/5

6/6/13

Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut - Jakartabeat
terusik saat pagi setelah selesai bercinta, ketika berita di televisi menayangkan kabar penembakan beruntun dengan korban lima warga sipil tewas yang terjadi di PNC Park Pittsburgh, Pennsylvania. Pelaku penembakan tertuju kepada James Barr, seorang penembak jitu yang juga mantan veteran tentara sama seperti Jack Reacher. Cerita selanjutnya adalah teka-teki yang rumit bahwasanya diantara lima korban tewas tadi, salah satunya adalah sengaja target incaran dalam intrik bisnis besar kontruksi milik Oline Archer. Oline Archer sendiri adalah korban penembakan kedua, dan sisa keempat korban lainnya hanya sebuah pelengkap untuk menyimpulkan opini bahwa penembakan terjadi secara acak kepada warga sipil dan dilakukan oleh orang gila. Siapakah orang gila tadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah James Barr, seorang yang dikutuk sekaligus sengaja ingin disingkirkan perihal masa lalunya sebagai militer di Irak yang kemudian membelot. Apa yang terjadi dengan James Barr yang keahliannya sebagai penembak jitu, opini publik tidak digiring pada masalah statistik berapa banyak penembak jitu di Pennsylvania yang ada. Tetapi seolah James Barr adalah satu-satunya yang memiliki keahlian menembak jitu dan pasti dialah pelakunya, ditambah ditemukan uang koin dengan sidik jarinya di dalam meteran parkir tidak jauh dari posisi menembak. Pertanyaannya kemudian berlanjut, orang gila macam mana yang masih sempat mengisi koin parkir sebelum dia menembak, plus dengan kesadaran jejak sidik jari yang akan tertinggal. Masa lalu James Barr adalah seorang penembak jitu dalam kesatuan militer yang pernah ditugaskan di Irak bersama Jack Reacher, ia dilatih keras dengan dua ribu tembakan dalam seminggu, dan di tiap tembakan dia diajarkan membayangkan pusat tengkorak manusia melalui lensa senapannya, tugasnya adalah mengawasi musuh. Sepanjang hari ia menatap warga sipil di Irak dengan menggunakan teropong. Dan hal itu dilaluinya selama dua tahun, tanpa pernah melepaskan senapannya. Tetapi dengan pasukan ditarik, bagi James Barr itu berarti perang berakhir. Dua ribu tembakan dalam seminggu, artinya seperempat juta tembakan dalam dua tahun karirnya di Irak, dimana satupun targetnya adalah bukan manusia. Ibarat sudah terlalu lapar dan berhasrat, seperti gatal tapi tidak bisa menggaruk, dan bayangkan perasaan itu dialami berhari-hari selama dua tahun. Pelampiasan diluapkan sebelum James Barr benar-benar pulang dari Irak, dia melepaskan tembakan persis seperti menggaruk gatal yang lama tertahan. Targetnya adalah kawan sejawatnya sesama serdadu yang memperkosa 28 perempuan di Irak, dari usia 11 sampai 58 tahun. Sedikit melenceng sejenak dari film Jack Reacher, saya tidak tahu apakah psikologis semacam ini yang juga terjadi dengan anggota Kopassus di Cebongan atau Tim Mawar dulu saat menculik aktivis mahasiswa tahun 1998. Untuk mereka terus didoktrin tentang jiwa korsa dan harga mutlak kedaulatan NKRI (yang walaupun kadang susah dibedakan mana kedaulatan negara mana kedaulatan pemerintah). Logika yang memandang diri sebagai ksatria, memberondong senapan di dalam penjara dengan korban tewas beberapa warga sipil, terlepas apapun yang dulu dilakukan mereka yang berada di dalam penjara, sepertinya dalam hukum perang pun tidak ada aturan membunuh mereka yang sudah menyerah, bahkan berada di dalam penjara, simbol dari sebuah tempat penyerahan diri terhadap hukum. Semacam sisi psikologis yang terus ditempa untuk menghajar mereka yang berbeda pandangan dari garis komandonya kah? Kembali kepada konteks film Jack Reacher, selain perbincangan dengan Helen Rodin perihal beberapa jenis tipe yang ada dalam militer, Jack Reacher juga seperti sengaja meyentil tentang teori alienasi ala Marxian saat dia menyeret tangan Helen untuk melihat keluar jendela, tentang pemandangan beberapa karyawan dan cleaning service melakukan rutinitas pekerjaanya. Jack Reacher berucap: ..bayangkan kau menghabiskan hidupmu di bagian lain dunia ini, lihat orang-orang itu, katakan padaku mana yang benar-benar bebas. Bebas

jakartabeat.net/idea/kanal-idea/film/item/1771-antara-jack-reacher,-lewat-djam-malam,-dan-kusni-kasdut.html#.UbCiptKl6Fk

2/5

6/6/13

Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut - Jakartabeat
dari hutang, kecemasan, stres, ketakutan, kegagalan, penghinaan. Berapa banyak yang berharap terlahir tanpa beban itu. Tanya dirimu berapa banyak yang mau melakukan hal yang terus berulang-ulang. Dan berapa banyak yang menjalani hidup sepertiku.. Pada akhirnya Jack Reacher dan Helen Rodin kemudian bekerjasama menyelesaikan teka-teki tersebut, James Barr yang menjadi pesakitan hanya tertunduk lesu menyerahkan nasibnya kepada Jack dan Helen. Dan, tentu kita bisa menebak akhir seperti apakah khas film produk Hollywod kebanyakan, sepertinya juga tidak harus diceritakan, selain hanya sebuah kumpulan cerita happy ending. *** Kisah Jack Reacher dan James Barr sebagai veteran perang yang tidak mau lagi kembali ke barak mengingatkan saya pada film klasik Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail di tahun 1954. Lewat Djam Malam sebuah film yang oleh Sitor Situmorang disebut sebagai drama psikologis modern, begitu Cinema Poetica dalam ulasannya berjudul Lewat Djam Malam: Revolusi, Impian, dan Jalan Buntu yang ditulis Adrian Jonathan. Kisah dari kegelisahan mantan pejuang revolusi 45 bernama Iskandar yang gagap ketika kembali ke realitas masyarakatnya. Tentu ada perbedaan mendasar dari kedua film tadi (Jack Reacher & Lewat Djam Malam), tetapi ada satu kemiripan dalam menangkap permasalahan personal yang tidak banyak dibidik berkaitan dengan konteks profesi angkatan bersenjata. Lewat Djam Malam menohok dalam ganjaran nasionalisme yang dulu dibela anak pertiwinya hingga peperangan usai dan mereka tercerai berai tanpa ada lagi romantisme layaknya makanan yang disediakan penduduk desa dengan suka rela saat mereka bergerilya. Bahkan seorang Puja, kawan Iskandar setelah revolusi usai hanya cukup puas menjadi centeng penjaga keamanan di sebuah rumah prostitusi. Lewat Djam Malam adalah film hitam-putih yang tidak cukup menggambarkan kehitam-putihan realitas yang dialami Iskandar dan Puja dalam dekade tahun 1950-an. Toh, siapapun akan beranggapan bahwasanya itu hanya cerita fiksi. Tetapi adakalanya fiksi kemudian meretas dalam realitas anak manusia. Tentu kita masih ingat nama Kusni Kasdut. Sungguh kita tahu manusia satu ini bukan bintang film, ataupun bagian dari cerita film. Kusni Kasdut adalah bandit legendaris di Indonesia era-70 an. Kisah Ironis dengan apa yang dia lakukan semasa perjuangan revolusi dulu. Kusni Kasdut lahir dari keluarga miskin di Blitar, masa kecil dilaluinya dalam hiruk-pikuk perang kemerdekaan. Dia sempat bergabung dengan Tentara Kemerdekaan Rakyat (TKR) ikut bergerilya dalam usaha bersama kawan seperjuangannya memupuk mimpi merdeka dari penjajahan. Tetapi apa yang dialami Kusni Kasdut setelah Indonesia merdeka? Pemerintah waktu itu mengadakan rasionalisasi besar-besaran di tubuh angkatan bersenjata Indonesia. Dan Kusni Kasdut termasuk diantara 500-eks tentara pelajar yang diberhentikan tanpa alasan yang jelas. Beberapa kali Kusni Kasdut mondar-mandir ke Jakarta menghubungi Instansi yang tugasnya menyalurkan tenaga bekas pejuang. Hasilnya nihil, sejak tahun 1949 dia sudah berkeluarga dan tentu alasannya mendatangi instansi tadi adalah karena beban nafkah keluarga yang dia tanggung, mengingat dia hanya mempunyai ketrampilan membidik senapan dan bergerilya. Hingga pada satu titik, dia memutuskan satu hal dalam cerita hidupnya, keputusan tadi adalah merampok. Sebuah keputusan yang mungkin tidak ingin dilakukanya ketika konsekuensi dalam melakukan itupun dia terpaksa melakukan pembunuhan. Tidak berselang lama dia tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Mirip seperti Jack Reacher yang benci dengan rutinitas militernya, bedanya Kusni Kasdut merasa tersiksa di dalam rutinitas penjara, ia menjadi salah

jakartabeat.net/idea/kanal-idea/film/item/1771-antara-jack-reacher,-lewat-djam-malam,-dan-kusni-kasdut.html#.UbCiptKl6Fk

3/5

6/6/13

Antara Jack Reacher, Lewat Djam Malam, dan Kusni Kasdut - Jakartabeat
seorang penjahat yang ditahan dengan pengamanan ketat di LP Cipinang. Tidak ada lagi kebebasan yang seperti diinginkannya. Ia kemudian memulai rencana pelariannya, setelah berhasil melarikan diri dengan status buronnya, tidak lama dari situ kisah spektakuler darinya terjadi. Adalah dimana saat-saat merampok Museum Nasional Jakarta, dengan menyamar sebagai Polisi. Setelah melukai penjaga dia berhasil membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut. Walaupun pada akhirnya dia kembali tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1980, tetapi konon hasil rampokan Kusni Kasdut sering dibagikan kepada orang-orang miskin, dari situlah ada yang menyebut dirinya sebagai Robin Hood versi Indonesia. Saat-saat terakhir Kusni Kasdut inilah kemudian yang menjadi inspirasi God Bless menciptakan lagu Selamat Pagi Indonesia yang liriknya seperti getir mengucapkan perpisahan: derap langkahnya yang begitu tenang melangkah menuju keabadian rumpun bambu bergoyang gemrisik dan melambai seakan memberikan kata selamat jalan langkahnya.. berderap dan pandangannya menatap ke depan tegakkan.. dadanya seakan dia menantang perang.. Sungguh jika dibanding Iskandar dalam Lewat Djam Malam yang tertembak patroli keamanan dan masih sempat tertolong, nasib Kusni Kasdut sepertinya jauh lebih memprihatinkan dengan berakhir di depan regu tembak sebagai sebuah jawaban eksekusi mati. Iskandar adalah tokoh fiktif rekaan Usmar Ismail, sedangkan Kusni Kasdut mengejawantah dalam realitas yang nyata. Nasib keduanya tidak seberuntung Jack Reacher, ketika berhasil menyelesaikan teka-teki konspiratif penembakan beruntun yang menyeret rekanya James Barr dia bisa kembali menikmati pengembaraannya dengan uang yang tersimpan di rekening bank Virginia.

HUSNI EFENDI
Jebolan pesantren ini pernah bekerja di beberapa organisasi HAM Jakarta dan Bandung. Tulisannya masuk dalam buku kompilasi "Menyusuri Jejak Multatuli" bersama penulis Sigit Susanto, novelis Ita Siregar,dll. Kini menjadi buruh harian lepas di Jakarta. Menulis cerpen dan esai di saat senggang. URL: jakartabeat.net/husniefendi

ARSIP NASKAH HUSNI EFENDI


Gundala Gawat dan Parodi Superhero 300 Mencari Suyat di Akhir Hayat

Comments

COMMENTS

No comments found

jakartabeat.net/idea/kanal-idea/film/item/1771-antara-jack-reacher,-lewat-djam-malam,-dan-kusni-kasdut.html#.UbCiptKl6Fk

4/5