Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Produktivitas tanah dapat ditingkatkan hanya melalui pengolahan lahan, tanah dan tanaman secara terpadu. Dengan demikian, pemahaman serbacakup (comprehensive) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tanah sangat diperlukan petani untuk meningkatkan produktivitas tanah. Usaha untuk memperbaiki produktivitas tanah dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh dikenal sebagai membangun tanah secara terpadu (Susanto,R ,2002). Ada bermacam-macam cara untuk membangun kesuburan tanah yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pertanian konvensional penggunaan pupuk kimia merupakan praktek pengolahan yang cukup dominan. Masukan lain yang tidak dapat dihindarkan dalam pertanian konvensional adalah penggunaan mesin pertanian, pertanaman monokultur, varietas unggul berproduksi tinggi dan melupakan sama sekali usaha perbaikan lahan dan pengelolaan bahan organik. Untuk

mengembangkan pertanian berkelanjutan, maka diperlukan keseimbangan pengelolaan yang baik (Susanto,2000A dalam Susanto,R ,2002). Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan hara tanaman adalah mempertahankan (Apabila memungkinkan meningkatkan) produktivitas tanaman secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan dasar lainnya, dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya lahan dan air. Tidak ada hal yang bersifat kontradiksi antara usaha mempertahankan produktivitas tanaman dan

usaha meningkatkan kualitas sumber daya. Dengan demikian, kerusakan lingkungan dapat ditekan dengan cara mensinkronkan antara hama tanaman dan kebutuhan tanaman, serta melaksanakan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air (Susanto,R ,2002). Tujuan - Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengolahan tanah. - Untuk mengetahui prosedur kerja pengolahan tanah. - Untuk mengetahui prosedur kerja pembuatan bedengan.

Kegunaan - Sebagai syarat masuk dan menjadi salah satu kegiatan dalam lab dasar agronomi. - Guna menambah wawasan sebagai penulis maupun pembaca dalam bidang pertanian, khususnya mengenai pengolahan tanah dan pembuatan bedengan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengolahan tanah berkaitan erat dengan produksi tanaman, terutama dalam menyiapkan struktur tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. pengolahan tanah yang kurang menguasai teknik pengendalian lintasan traktor dan kelembaban tanah. Selain memberikan pengaruh penggemburan juga pemadatan. Akibatnya terjadi perubahan tata udara dan air dalam tanah, terutama pada kelembaban tanah yang berbeda. Hal ini dapat mempengaruhi pembatasan fisik dan mekanik pada perkembangan akar dengan lapisan keras pada tanah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

A. Penggemburan Tanah Secara umum, lahan tanah di lahan tegal perlu dibajak, kemudian dicangkul. Bila tanahnya sudah gembur, bedengan dapat langsung dibuat. Selain itu, perlu dibuatkan saluran air sebagai tempat untuk penampungan atau pembuatan air yang berlebihan. Ini perlu dibuat agar pada waktu musim kering air pada saluran penampungan tersebut dapat dimanfaatkan. Tanah digemburkan dengan cara dicangkul, dibajak, atau ditraktor. Kedalaman bajak cukup 30-35 cm, apabila olahan pertama menghasilkan bongkah tanah yang kasar, pembajakan tanah perlu diulang supaya dihasilkan bidang olah yang halus dan gembur. Keadaan ini biasanya dijumpai pada tanah yang bertekstur mampat (padat) karena lama tidak diolah.

Sebelum pengolahan tanah dimulai, lebih baik dibuat jalan kebun dan selokan agar curah hujan dan lalu lintas tenaga kerja tidak merusak bidang olah. Untuk meningkatkan kesuburan, tanah harus dicampur dengan pupuk dasar yang diberikan sesudah atau sebelum gundulan dibentuk. Agar pemberian lebih efisien pupuk dasar ditabur setelah bedeng terbentuk 70%.

B. Pemberian Pupuk Dasar Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan jalan menambahkan pupuk dasar yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengolahan tanah. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk organik dan anorganik serta kapur pertanian. Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, kompos, pupuk hijau atau abu dapur. Pupuk organik berupa pupuk yang sulit mengalami pelarutan, seperti TSP dan KCl. Kebutuhan pupuk dasar sebagai berikut. Pupuk kandang domba 25-30 to/ha. Bila menggunakan pupuk kandang ayam jumlah kebutuhannya separuhnya, tetapi harus ditambahkan pupuk kompos atau abu dapur. Pemberian pupuk posfat (TSP) disesuaikan dengan kandungan P2O5 dalam tanah. Bila tanah sering diolah dan dipupuk, harus ditambahkan sebanyak 150 kg P atau 300 kg TSP. Pupuk K (KCl) diberi kira-kira 15% dari kebutuhan totalnya. Waktu pemberian pupuk dasar dapat bersamaan dengan kegiatan penggemburan tanah, maksudnya agar pupuk dasar dapat tercampur rata. Cara yang lebih baik adalah, sebanyak 60% pupuk organik dan kapur 100% diberikan saat mengolah tanah. Sisa pupuk organik sebanyak 40% ditambah

TSP dan KCl diberikan langsung ke lubang tanam sebagai pupuk dasar supaya efektif. Jika struktur tanah gembur, pupuk dasar lebih baik diberikan per lubang tanam (bedeng terbuka).

C. Pembuatan Bedengan Setelah tanah selesai diolah dan diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang dan kapur, langkah selanjutnya ialah membuat bedeng-bedeng pertanaman. Bedeng pertanaman dapat dibuat secara terbuka atau tertutup (menggunakan mulsa plastik perak hitam). 1. Bedeng Terbuka Penanaman tanaman unggul dapat diterapkan dengan sistem bedeng tunggal atau sistem bedeng ganda. Yang dimaksud sistem bedeng tunggal yaitu dalam satu baris bedeng hanya ditanami satu baris tanaman saja, sedangkan bedeng ganda, dalam satu bedeng ditanami dua baris tanaman. Cara membuat bedeng ialah sebagai berikut. Setelah tanah digemburkan, buat bentuk dan pola bedengan secara kasar. Buat bedengan pendek dengan cara mengangkat tanah di daerah calon jalan (antarbedeng) sekitar 6 cm. Bedeng tunggal mempunyai ukuran lebat 40-50 cm, panjang sesuai kebutuhan dan keadaan lahan, jarak antarbedeng 120 cm. Bedeng ganda mempunyai lebar 110 cm, panjang disesuaikan kebutuhan, serta jarak antarbedeng 170-180 cm. Pada sistem bedeng terbuka, pemberian pupuk dasar yang berupa pupuk organik dan anorganik sebaiknya di dalam lubang tanam atau alur tanam di

atas bedeng. Pupuk tersebut dicampurkan secara merata dengan tanah yang ada dalam lubang atau alur tanam sebagai media tumbuh tanaman. cara seperti ini lebih bermanfaat dibandingkan pupuk disebar merata ke seluruh permukaan tanah karena sinar matahari dapat mengurangi fungsi bahan tersebut. Pada tanah berstruktur mampat, sebagian pupuk dasar dapat ditabur saat pengolahan tanah berlangsung. 2. Bedeng Bermulsa Sistem bedeng bermulsa merupakan teknik yang dikembangkan oleh Taiwan, seperti yang diterapkan pada cabai hot beauty, cabai herp, atau cabai long chili. Prinsip sistem ini, seluruh permukaan bedengan ditutup dengan mulsa plastik berwarna perak dan hitam. Bentuk dasar bedeng dan sistemnya sama dengan bedeng terbuka, yaitu bedeng tunggal dan bedeng ganda. Karena akan ditutup dengan mulsa, bedeng dibuat sampai menjadi bentuk yang sempurna dan siap ditanami. Bedeng tunggal dan bedeng ganda dibuat berukuran sama dengan bedeng terbuka, perbedaannya terletak pada ukuran ketinggian bedengan. Di musim penghujan, tinggi bedeng dapat dibuat 40-45 cm, sedangkan di musim kering cukup sekitar 35 cm. Maksudnya untuk menghindari terjadinya genangan air yang dapat merusak perakaran tanaman dewasa. Bedeng dibuat sampai terbentuk bangun yang sempurna dan siap untuk ditutup dengan plastik mulsa. Sebelum ditutup dengan mulsa, bedeng diberi pupuk dasar. Pupuk dasar yang diberikan terutama pupuk organik (pupuk kandang atau kompos). Pupuk organik ini diberikan hanya

60% dari kebutuhannya dengan cara disebar merata di atas bedeng. Pupuk diolah bersama tanah di permukaan bedeng sampai kedalaman 20-25 cm. Sisa pupuk diberikan di setiap lubang tanam. Pemupukan pada sistem ini dilakukan secara total, artinya hampir semua jumlah total pupuk buatan yang diperlukan diberikan pada saat menjelang tanam bibit. Selain itu, dapat juga 80% ditebar menjelang tanam dan sisanya diberikan sebagai pupuk tambahan. Khusus untuk pupuk TSP, seluruhnya diberikan sebagai pupuk dasar, misalnya, kebutuhan pupuk total bagi tanaman terung sebanyak 2.150 kg/ha, jumlah 1.720 kg pupuk campuran harus sudah ditebar pada saat menjelang permukaan guludan ditutup mulsa. Sisanya diberikan sebagai pupuk tambahan apabila dianggap perlu. Kebutuhan pupuk total sebanyak 2.150 kg/ha tersebut lebih diarahkan bagi budi daya sistem bedeng terbuka karena adanya faktor pencucian dan penguapan yang mungkin terjadi.

D. Alat yang Dibutuhkan dalam Pengolahan Tanah Berhasilnya tanaman sayuran, selain karena pengetahuan teknis yang harus dimiliki oleh para petani, juga tak dapat lepas dari alat-alat pengolahan tanah. Pengolahan dasar pun dipergunakan. Namun tanaman sayuran yang diusahakan sebagai sampingan, cukup digarap dengan menggunakan cangkul, sekop dan lain sebagainya.

1. Cangkul Dilihat dari ukurannya, cangkul digolongkan menjadi dua macam : a. Cangkul Besar Cangkul besar ini ada dua macam, ialah cangkul biasa dan cangkul garpu. Cangkul biasa dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk pengolahan dasar, menggali tanah, memecah gumpalan tanah, mendangir tanaman yang jaraknya agak jauh. Cangkul garpu dapat digunakan untuk mengungkit tanah kering yang pecah-pecah, mendangir tanaman dan menghancurkan gumpalan tanah. b. Cangkul Kecil Cangkul kecil pun ada dua macam, yakni cangkul biasa yang disebut corat, dan cangkul kecil garpu yang disebut ganco. Kedua alat ini sebagai alat pemeliharaan sayuran. Masing-masing dapat dipergunakan untuk menyiang, membumbun, menggemburkan tanah, memindahkan bibit yang masih kecil dan sebagainya. 2. Sekop Besar Sekop menurut ukurannya digolongkan menjadi dua, yaitu :

a. Sekop Besar Sekop biasa, ujungnya ada yang persegi, ada pula yang segitiga agak bulat. Alat-alat ini dipergunakan untuk membuat saluran kecil, mengatur bedengan, memupuk tanaman dan membolak-balik kompos. Sekop garpu. Dapat dipergunakan untuk menggemburkan tanah, pemeliharaan tanaman, membenamkan pupuk, dan mengungkit tonggak tanaman. b. Sekop Kecil Sekop ini bentuknya seperti sekop besar, yang kecil ini pun ada dua macam, kedua-duanya merupakan alat pemeliharaan, untuk

memindahkan bibit, alat pemupukan, dan pembajak tanaman kecil-kecil. 3. Parang Parang merupakan alat untuk membersihkan ladang, membuat lanjaran dan memotong semak-semak yang mengganggu tanaman. 4. Penugal Penugal adalah semacam tongkat kecil yang pada bagian ujung-ujungnya agak runcing. Alat ini dipergunakan untuk menugalkan biji sayuran, memisahkan bibit dan dapat dipergunakan pula sebagai alat pemeliharaan. 5. Garu Kecil

Garu ini dapat dibuat dari besi ataupun kayu. Tentu saja yang dari besi lebih tahan lama, tetapi agak mahal. Sedangkan yang dari kayu dapat dibuat sendiri, harganya relatif murah tetapi kurang tahan lama. Alat ini untuk meratakan, menghaluskan, juga untuk memecahkan bingkah-bingkah tanah yang agak kecil, serta untuk membuat bedengan dan menutup biji yang habis ditabur. 6. Gembor Pada umumnya tanaman sayuran ditanam pada musim kemarau, padahal tanaman ini banyak membutuhkan air. Maka alat penyiram semacam ini mutlak diperlukan. 7. Kereta Dorong Kereta dorong dapat dibuat dari bahan kayu ataupun besi. Alat ini dapat dipergunakan untuk mengangkut pupuk, biji, hasil panen dan sebagainya. Alatalat ini dengan mudah dapat melintasi atau masuk diantara petakan-petakan kecil.

PENGAPURAN Jika ukuran pH tanah terlalu asam, untuk mengatasinya bisa dilakukan pengapuran. Kapur yang digunakan adalah kapur pertanian yang bahan dasarnya berasal dari batuan kapur. Selain berguna menaikkan pH, senyawa Ca dan Mg pada kapur pertanian juga mampu menekan dan menetralkan sifat-sifat buruk unsur-unsur yang berpotensi merusak tanaman. Pengapuran juga menciptakan struktur tanah menjadi lebih baik, sehingga mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada akhirnya, dekomposisi atau pelapukan bahan organik dan mineral dapat berlangsung lebih lancar (Kuswandi, 2005). Kapur pertanian yang biasanya dipakai diantaranya adalah kapur tohor (CaO) yang merupakan hasil pembakaran batuan kapur atau kulit kerang, kapur tembok atau kapur putih [Ca(OH)2] yang merupakan bubuk hasil penyiraman untuk kapur tohor, dan kapur karbonat. Sementara itu, kapur karbonat diperoleh melalui penggilingan langsung batuan kapur tanpa melalui pembakaran. Kandungan utama kapur tersebut adalah kalsium karbonat dan magnesium karbonat. Kapur yang banyak mengandung kalsium karbonat dikenal sebagai kalsit (CaCO3) . Sementara jika kalsium karbonat dan magnesium karbonat terkandung dalam jumlah banyak dikenal dengan Dolomit [CaMg(CO3)2]. Kapur dolomit inilah yang umumnya dipakai untuk mengapuri tanah-tanah asam.

1. Dosis yang Dibutuhkan Jumlah kapur yang dibutuhkan untuk mengapur tanah asam berbeda-beda. Tergantung ukuran awal pH tanah. Patokannya, semakin tinggi derajat keasaman yang ingin dicapai, semakin banyak pula kapur yang harus diberikan. Berikut ini kebutuhan dolomit yang dibutuhkan untuk menetralkan tanah (Kuswandi, 2005). Dosis Dolomit (Ton/Ha) 10,24 9,76 9,26 8,82 8,34 7,87 7,39 6,91 6,45 5,98 5,49 Dosis Dolomit (Ton/Ha) 5,02 4,54 4,08 3,60 3,12 2,65 2,17 1,6 1,23 0,75 -

pH Tanah 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 4,7 4,8 4,9 5,0

pH Tanah 5,1 5,2 5,3 5,4 5,5 5,6 5,7 5,8 5,9 6,0 -

2. Cara Melakukan Pengapuran Pengapuran dapat dilakukan sebelum bendengan atau lubang tanah dibuat. Mula-mula lahan dicangkul dan dibersihkan dari rumput dan gulma. Setelah itu, kapur dapat ditaburkan secara merata keseluruh permukaan lahan. Agar kapur dan tanah dapat tercampur sempurna dan bereaksi dengan baik, permukaan tanah sebaiknya dicangkul kembali secara merata setelah ditaburi kapur. Selain diberikan saat pengolahan tanah, pengapuran dapat pula dilakukan saat lubang tanam sudah dibuat. Bisa juga saat tanaman sudah ditanam, terutama untuk pengapuran susulan. Pengapuran dengan lubang tanam dapat dilakukan dengan

cara mencampur kapur dengan tanah galian secara merata. Selanjutnya, tanah dimasukkan ke dalam lubang tanam selama 2-3 minggu sebelum ditanami. Sedangkan pengapuran susulan dapat dilakukan dengan cara menaburkan kapur secara tipis dan merata diatas permukaan tanah, lalu disiram sedikit demi sedikit hingga kapur larut di dalam tanah. Tidak dibenarkan melakukan pengapuran bersamaan dengan aplikasi pupuk kimia lainnya, sebab kapur dapat bereaksi dengan pupuk N dan menghasilkan senyawa amoniak yang gampang menguap. Dan sedangkan reaksi dengan pupuk posfat dapat menyebabkan terbentuknya garam posfat yang sulit larut dalam air. Pengapuran sebaiknya dilakukan pada saat musim hujan, tetapi tidak ketika pada saat turun hujan. Pengapuran dapat juga dilakukan pada saat musim kemarau. Tujuannya, agar saat ditanami ketersediaan air untuk penyiraman cukup memadai.