Anda di halaman 1dari 20

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA TUGAS MATA KULIAH ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR KELAS 14

KELOMPOK : 1 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 NIM 090210103046 090210103071 101810101038 110810101108 111710101001 111710101003 111710101005 111710101009 111710101013 111710101017 111710101019 NAMA ALVI NUR K. TITA AMELIA HADI ABDULLOH KARIM M. ALFAROBY ANITA RAY S. MAHDANINGRUM P. NIA NOVI L. INSIATUL H. NURITA F. HERWIN A. A. LISA L. F.

BS-MKU UNIVERSITAS JEMBER TAHUN 2013

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang berbeda dari makhluk lainnya, perbedaan tersebut terletak pada kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya. Manusia dengan akal budinya mampu memperbaruhi dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta, setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang

berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan

melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai motivator terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan

yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.

1.2

Rumusan Masalah a. Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan dan apa fungsinya? b. Sebut dan jelaskan jenis dan ragam kebudayaan di masyarakat? c. Bagaimana peran manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan? d. Bagaimana proses dan perubahan kebudayaan terjadi? e. Apa sajakah problematika sosial kebudayaan?

1.3 Tujuan a. Untuk mengetahui pengertian dan fungsi kebudayaan. b. Untuk mengetahui jenis dan ragam kebudayaan di masyarakat. c. Untuk mengetahui peran manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan. d. Untuk mengetahui proses dan perubahan kebudayaan. e. Untuk mengetahui problematika sosial kebudayaan.

1.4 Manfaat a. Melatih mahasiswa kritis dalam mennyelesaikan suatu masalah. b. Mahasiswa diharapkan dapat memahami hakekat manusia sebagai makhluk budaya. c. Menambah wawasan mahasiswa tentang hubungan antara manusia dan budaya. d. Menumbuhkan rasa cinta terhadap berbagai macam kebudayaan yang ada sehingga timbul kemauan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan.

II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Fungsi Kebudayaan 2.1.1 Pengertian Kebudayaan Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansakerta

yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia (Hardani: 2011: 2.3). Kebudayaan merupakan salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian. Istilah kebudayaan menurut ilmu sosial memiliki makna bervariasi yang diantaranya bersumber dari keanekaragaman yang menjelaskan kebudayaan. Kebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski dalam Hardani (2011) mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah culturaldeterminism. hubungan antara individu, masyarakat, dan

Herkovits dalam Hardani (2011) memandang kebudayaan sebagai suatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut ebagai super organic. Menurut Andreas Eppink dalam Hardani (2011), kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai social, norma social, ilmu

pengetahuan, serta keseluruhan struktur-strtuktur social, religious, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistic yang menjadi cirri khas suatu masyarakat. Menurut E.B Taylor dalam Hardani (2011), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, noral, hokum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Hardani (2011), kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Kebanyakan ilmuwan sosial membatasi definisi

kebudayaan sehingga hanya mencakup aspek tertentu dari warisan sosial. Ilmuwan sosial bahkan berusaha membatasi lagi pengertian istilah kebudayaan tersebut hingga hanya mencakup bagian-bagian warisan sosial yang melibatkan representasi atas hal-hal yang dianggap penting, tidak termasuk norma-norma atau pengethauan procedural mengenai bagaimana sesuatu harus dikerjakan (Schneider, 1968). Sementara itu ada pula yang membatasi pegertian kebudayaan sebagai makna-makna simbolik yang mengandung muatan dengan representasi nyata. dan Geertz

mengkomunikasikannya

peristiwa

menggunakan makna ini secara eksklusif sehingga ia tidak saja mengesampingkan aspek-aspek afektif, motivasional, dan

normative dari warisan sosial namun juga mempermasalahkan penerapan makna kebudayaan dalam individu. Menurutnya,

kebudayaan hanya berkaitan dengan makna-makna public yang terus berlaku meskipun berada diluar jangkauan pengetahuan individu ; contohnya mungkin adala lajabar yang dianggap selalu benar dan berlaku, meski sedikit saja orang yang menguasainya.

2.1.2 Fungsi Kebudayaan Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun yang bersumber dari persaingan manusia itu sendiri untuk mempertahankan kehidupannya. Manusia dan masyarakat

memerlukan pula kepuasan baik dibidang materiil maupun spiritual. Kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas, untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Hasil karya masyarakat yang menghasikan mempunyai teknologi kegunaan Pada atau utama kebudayaan melindungi yang

kebendaan masyarakat

terhadap

lingkungan.

masyarakat

taraf kebudayaannya lebih tinggi, teknologi memungkinkan untuk pemanfaatan hasil alam bahkan munghkin untuk menguasai alam. Di sisi lain karsa masyarakat mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan masyarakatnya. Kebudayaan berguna bagi manusia untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia, dan sebagai wadah dari segenap perasaan manusia. Kebudayaan akan mendasari, mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat bertahan, menggerakkan serta membawa masyarakat kepada taraf hidup tertentu yaitu hidup yang lebih baik, manusiawi, dan berperi-kemanusiaan.

2.2 Jenis dan Ragam Kebudayaan di Masyarakat Mohammad Yusuf Melatoa dalam Ensiklopedia Suku Bangsa Di Indonesia menyatakan Indonesia terdiri dari 500 etnis suku bangsa yang tinggal di lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil. Mereka masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan itu dalam kita lihat dengan menelaah unsur-unsur kebudayaan seperti dibawah ini. Unsur-unsur kebudayaan menurut C Kluckhohn dalam Prasetya (1998:33), yaitu: a. Peralatan dan perlengkapan hidup ( pakaian, perumahan, alat-alat produksi, transportasi) b. Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, distribusi ) c. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, perkawinan) d. Bahasa (lisan maupun tertulis) e. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dll) f. Sistem pengetahuan g. Religi (system kepercayaan) Cultural universals tersebut dapat dijabarkan lagi kedalam unsurunsur yang lebih kecil. Ralph Linton (1936) menyebutnya kegiatankegiatan kebudayaan atau cultural activity Sebagai contoh cultural universals pencaharian hidup dan ekonomi antara lain mencakup kegiatan-kegiatan seperti pertanian, peternakan, system produksi, dll. Kesenian misalnya meliputi kegiatan seni tari, seni rupa dll. Selanjutnya Ralph Linton merinci kegiatan-kegiatan kebudayaan tersebut menjadi unsure-unsur yang lebih kecil lagi yang disebutnya trait-complex. Misalnya kegiatan pertanian menetap meliputi unsure-unsur irigasi, sistem pengolahan tanah dengan bajak, system hak milik atas tanah, dan sebagainya. Selanjutnya trait complex mengolah tanah dengan bajak akan

dapat dipecah ke dalam unsure yang lebih kecil umpamanya hewanhewan yang menarik bajak, teknik pengendalian bajak, dan sebagainya. Akhirnya sebagai unsur kebudayaan yang terkecil membentuk trait adalah items. Bila diambil contoh alat bajak terdiri dari gabungan alatalat yang lebih kecil yang dapat dilepaskan, tetapi pada hakekatnya merupakan satu kesatuan. Apabila salah satu bagian bajak tersebut dihilangkan, maka tak dapat menjalankan fungsinya sebagai bajak. Ciri Kebudayaan:

Bersifat menyeluruh Berkembang dalam ruang / bidang geografis tertentu Berpusat pada perwujudan nilai-nilai tertentu

Wujud kebudayaan:

Ide : tingkah laku dalam tata hidup Produk : sebagai ekspresi pribadi Sarana hidup Nilai dalam bentuk lahir

Sifat kebudayaan:

Beraneka ragam Diteruskan dan diajarkan Dapat dijabarkan : Biologi Psikologi Sosiologi : manusia sebagai pembentuk kebudayaan

Berstruktur terbagi atas item-item Mempunyai nilai Statis dan dinamis Terbagi pada bidang dan aspek

2.3 Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan Budaya tercipta dari hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh Tuhan

dengan di bekali akal dan pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Di samping itu manusia juga memiliki akal, pikiran, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, dan perilaku. Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka mamusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yamg diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai

pendukungnya. Kebudayaan mempunyai nilai kebudayaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan

alamnya sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai: 1. Suatu hubungam pedoman antara manusia atau kelompoknya. 2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuankemampuan lain. 3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia. 4. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan. 5. Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimama seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain. 6. Sebagai modal dasar pembangun

2.4 Proses dan Perubahan Kebudayaan Perubahan budaya merupakan proses pergeseran, pengurangan, penambahan, dan perkembangan unsur-unsur kebudayaan. Proses itu terjadi karena interaksi antarwarga pendukung kebudayaan lain dengan penciptaan unsur-unsur kebudayaan baru dan penyesuaian antarunsur

kebudayaan tersebut. Secara sederhana, perubahan budaya merupakan perubahan yang terjadi akibat benturan-benturan antarunsur budaya yang berbeda-beda. Perubahan budaya lokal tidak dapat dielakkan, namun kita dapat mengarahkan perubahan tersebut. Corak budaya global yang negatif kita hilangkan, namun yang positif kita ambil.Budaya luar yang baik untuk kita adopsi adalah budaya yang memerdekakan dan membebaskan manusia. Menurut Immanuel Kant, ada dua unsur yang penting dalam manusia merdeka. Pertama, digunakannya akal budi sebagai satu bagian manusianalar yang mampu memecahkan persoalan-persoalan ethis tanpa sama sekali mengacu kepada wujud yang ilahiat. Kedua, publik sebagai arena. Bagi Kant, ukuran manusia yang dewasa, merdeka, adalah ketika ia mempergunakan nalarnya di arena publik tersebut. Untuk bisa mencapai ke arah sana, dibutuhkan kemandirian yang bertanggungjawab serta disiplin. Dan nalar menunjukkan bagaimana cara efektif dan efisien untuk melakukan perubahan tersebut. Perubahan budaya dapat terjadi cepat (revolusi) atau lambat (evolusi). Perubahan budaya secara revolusi dapat terjadi karena direncanakan dan secara kasar. Contohnya pada saat penjajahan Jepang dahulu, bangsa Indonesia harus mengikuti nilai-nilai yang dianut bangsa Jepang seperti menghormati Dewa Matahari pada pagi hari. Sedangkan, perubahan secara evolusi terjadi melalui perubahan kecil yang

berkesinambungan tanpa ada rencana sebelumnya. Contohnya perubahan yang terjadi karena keadaan dan kondisi baru yang membuat banyak wanita di daerah Jawa tidak lagi mengenakan kebaya melainkan rok atau celana panjang karena lebih praktis. Faktor-faktor utama penyebab perubahan budaya dalam suatu masyarakat: 1. Inovasi Proses perubahan untuk menuju sesuatu yang baru. Perubahan ini dipengaruhi karena kemajuan teknologi dan ekonomi. Perubahan budaya ini terjadi karena kesadaran masyarakat terhadap kekurangan-

kekurangan yang ada dalam kebudayaan mereka sehingga mereka berusaha mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut. Mereka disebut penemu dan penemuan baru mereka sangat terkait erat dengan kemajuan teknologi yang berupa discovery atau invention. Tiga hal yang dapat mempercepat Inovasi: a. Ketidakpuasanseseorangterhadapsesuatu yang telahada. b. Adanyakeinginanuntukberprestasi. c. Adanya orang yang menyimpang (Devian). Ada devian yang bersifat membangun (Devian Konstruktif) dan ada pula devian yang bersifat merusak (Devian Destruktif).

2. Discovery Suatupenemuanbaruterhadapbendabendakebudayaan. Discovery dapatmenjadi invention apabila hasil

discover itu diakui, diterima dan diterapkan oleh masyarakat tetapi membutuhkan waktu yang panjang dan harus melalui rangkaian penciptaan-penciptaan. 3. Invention Suatu penemuan baru yang dapat mempengaruhi berbagai kehidupan masyarakat seperti dalam bidang sosial, politik, pendidikan, agama dan budaya, penemuan ini merupakan puncak dari inovasi dan discovery.

Faktor-faktorpendukungdanpenghambatperubahanbudayaterdiridari: 1. FaktorPendukung a. Faktor Internal (faktor pendukung dari dalam masyarakat) Suatu perubahan dirasakan oleh masyarakat yang bersangkutan, tetapi tidak ada kontak dengan orang luar sehingga perubahan dimulai dari dalam. Adanya rasa tidak puas terhadap nilai-nilai yang berlaku

Seiring dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat membuat masyarakat mengalami perubahan. Nilai-nilai yang ada di masyakat pun ikut berubah demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Kemudian, masyarakat pun mencari sesuatu yang lebih sesuai dengan zamannya. Adanya penyimpangan terhadap sistem atau nilai-nilai yang berlaku Penyimpangan bias anya dilakukan karena masyarakat

menganggap nilai-nilai yang diwariskan generasi tua tidak sesuai dengan nilai-nilai generasi muda sekarang (ketinggalan zaman). Adanya penemuan baru yang diterima oleh masyarakat Penemuan-penemuan baru membawa dampak begitu besar terhadap kehidupan masyarakat karena penyebaran ilmu

pengetahuan semakin luas, membuat segala macam kebutuhan menjadi lebih cepat dan mudah, dsb. Adanya perubahan dalam jumlah penduduk dan kondisi sosial. Pesatnya pertumbuhan penduduk dan banyaknya

pengangguran membuat orang-orang menciptakan alat kontrasepsi dan menciptakan lapangan kerja seperti pabrik industri kecil. 2. Faktor Eksternal Perubahan yang terjadi di luar kehendak manusia dan secara alami, yaitu: Bencana alam Peperangan Interaksi dengan masyarakat lain 3. Faktor Penghambat a. Kurangnya interaksi dengan masyarakat lain b. Perkembangan IPTEK yang terlambat c. Terlalu mengagungkan tradisi d. Prasangka buruk terhadap kebudayaan luar

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh adanya perubahan budaya, yaitu: Seperti yang dijelaskan diatas salah satu factor pendukung eksternal perubahan budaya adalah interaksi dengan masyarakat lain. Masyarakat satu dengan masyarakat lain saling memberi dan mempengaruhi budaya satu sama lain. Kebudayaan itu ada yang masuk secara damai (Penetration pasifique) seperti masuknya pengaruh budaya Hindu dan Buddha dan ada pula yang masuk dengan cara paksa atau kekerasan (Penetration violence) seperti pengaruh budaya Belanda dan Jepang pada masa penjajahan. Pengaruh budaya yang dilakukan secara damai akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut: 1. Akulturasi Perpaduan dua kebudayaan yang menghasilkan suatu kebudayaan baru dan tidak menghilangkan unsur-unsur asli budaya yang telah

ada.Contohnya perpaduan buadaya Indonesia dengan budaya agama Buddha yang menghasilkan Candi Borobudur. 2. Asimilasi Perpaduan dua buah budaya yang menghasilkan satu budaya baru dan budaya asli berangsur-angsur menghilang karena telah digantikan dengan budaya baru. Contohnya pengaruh budaya bercocok tanam tradisional dengan budaya bercocok tanam modern. Masyarakat dari budaya bercocok tanam tradisional akan berangsur-angsur meninggalkan budaya bercocok tanam mereka dengan budaya bercocok tanam modern yang lebih praktis dan hasil yang maksimal. 3. Sintetis Perpaduan dua kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan baru yang berbeda dari dua kebudayaan sebelumnya. Contohnya pertemuan musik blues (yang berasal dari budaya orang Afrika-Amerika Serikat) dengan musik country (yang berasal dari kebudayaan kulit putih Amerika) yang menghasilkan jenis music baru; rock and roll yang berbeda dari dua jenis music sebelumnya.

2.5 Problematika Kebudayaan 2.5.1 Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan Dalam hal ini, kebudayaan tidak dapat bergerak atau berubah karena adanya pandangan hidup dan sistem kepercayaan yang sangat kental, karena kuatnya kepercayaan sekelompok orang dengan kebudayaannya mengakibatkan mereka tertutup pada dunia luar dan tidak mau menerima pemikiran-pemikiran dari luar walaupun pemikiran yang baru ini lebih baik daripada pemikiran mereka. Sebagai contoh dapat kita lihat bahwa orang jawa tidak mau meninggalkan kampung halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani. Padahal hidup mereka umumnya miskin. 2.5.2 Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi atau sudut pandang Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi dan sudut pandang ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Sebagai contoh dapat kita lihat banyak masyarakat yang tidak setuju dengan program KB yang dicanangkan pemerintah yang salah satu tujuannya untuk mengatasi kemiskinan dan kepadatan penduduk, karena

masyarakat beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki. 2.5.3 Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam sering mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa ditempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka ditempat yang lama.

2.5.4 Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar Masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar cendrung memiliki ilmu pengetahuan yang terbatas, mereka seolah-olah tertutup untuk menerima program-program pembangunan. 2.5.5 Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap halhal baru Sikap ini sangat mengagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa sehingga menganggap hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun. 2.5.6 Sikap etnosentrisme Sikap etnosentris adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsa sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap seperti ini akan memicu timbulnya pertentanganpertentangan suku, ras, agama, dan antar golongan. Kebudayaan yang beraneka ragam yang berkembang disuatu wilayah seperti Indonesia terkadang menimbulkan sikap etnosentris yang dapat menimbulkan perpecahan. 2.5.7 Perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan IPTEK sebagaihasildarikebudayaansering disalahgunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi, dan obat-obatan yang diciptakan untuk kesehatan tetapi dalam penggunaannya banyak disalahgunakan yang justru mengganggu kesehatan manusia. 2.5.8 Pewarisan kebudayaan Dalam hal pewarisan kebudayaan bisa muncul masalah antara lain, sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang, penolakan generasi penerima

terhadap warisan budaya tersebut, dan munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan. Dalam suatu kasus, ditemukan generasi muda menolak budaya yang hendak diwariskan oleh pendahulunya. Budaya itu dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan hidup generasi tersebut, bahkan dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya yang baru diterima sekarang ini. 2.5.9 Perubahan kebudayaan Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan masalah antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu bersifat regress (kemunduran) bukan progress (kemajuan), perubahan bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui revolusi, berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia. 2.5.10 Penyebaran kebudayaan Penyebaran kebudayaan (difusi) bisa menimbulkan

masalah, masyarakat penerima akan kehilangan nilai-nilai budaya lokal sebagai akibat kuatnya budaya asing yang masuk. Contoh globalisasi budaya yang bersumber dari kebudayaan Barat pada era sekarang ini adalah masuknya nilai-nilai budaya global yang dapat memberi dampak negatif bagi perilaku sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya pola hidup konsumtif, hedonisme, pragmatis, dan induvidualistik. Akibatnya nilai-nilai asli kebudayaan bangsa seperti rasa kebersamaan dan kekeluargaan lambat laun bisa hilang dari masyarakat Indonesia.

III.

SIMPULAN

Berdasarkan makalah yang telah disusun, maka dapat disimpulkan bahwa: a. Hubungan manusia dengan kebudayaan tidak akan terpisahkan, Budaya sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia karena kebudayaan tercipta dari hasil karya manusia melalui proses akal, pikiran, kemauan, dan prilaku. Dengan adanya keanekaragaman suku bangsa yang berbeda. b. Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. c. Dari pembahasan diatas kami dapat simpulkan bahwa manusia berhubungan erat dengan kebudayaan yang ada pada lingkungan sekitarnya. Karena kebudayaan tersebut merupakan cara beradaptasi untuk mengatur hubungan antar manusia sebagai wadah masyarakat menuju taraf hidup tertentu. d. Kebudayaan berpengaruh dalam membentuk pribadi seseorang sehingga mengharuskan manusia untuk mengikuti norma-norma yang ada pada budaya tersebut. e. Dengan demikian, budaya patokan cara hidup manusia di tempat dia berada. Selain itu dalam kebudayaan mengajarkan tentang keimanan. f. Perubahan budaya merupakan proses pergeseran, pengurangan, penambahan, dan perkembangan unsur-unsur kebudayaan. Proses itu terjadi karena interaksi antarwarga pendukung kebudayaan lain dengan penciptaan unsur-unsur kebudayaan baru dan penyesuaian antarunsur kebudayaan tersebut. Secara sederhana, perubahan budaya merupakan perubahan yang terjadi akibat benturan-benturan antarunsur budaya yang berbeda-beda. g. Problematika kebudayaan terdiri dari hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan, hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi atau sudut pandang, hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan, masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar, sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru, sikap etnosentrisme, pewarisan

kebudayaan, perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan, perubahan kebudayaan, dan penyebaran kebudayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Andreas, Eppink. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani Jember: Universitas Jember.

Geertz. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Universitas Jember.

Hardani, Djoko Pontjo. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jember: Universitas Jember.

Kluckhohn, C. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Universitas Jember.

Linton, R. 1936. A Study of Man, an introduction. New York : Appleton CenturyCroft. Inc,.

Malinowski, B. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Universitas Jember.

Prasetya, Joko Tri, dkk. 1998. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Schneider, D. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Universitas Jember.

Soemardjan, Selo dan Soemardi, Soelaeman. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Umiversitas Jember.

Taylor, E. B. 2011. Bahan Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Dalam Djoko Pontjo Hardani. Jember: Universitas Jember.