Anda di halaman 1dari 16

Pemicu Seorang ibu, dengan usia kehamilan 37-38 minggu, melahirkan anak laki-laki, secara SCa/I previous SC,

dengan berat bdan lahir 3100 gram. Anak lahir segera menangis, dengan APGAR score 7-8. Setelah kurang lebih 2 jam di kamar bayi, anak mulai merengek (grunting), pernafasan cepat, kaki tangan dingin, mulut dan sekitar hidung tampak biru. Saat diberikan oksigen, biru disekitar hidung dan mulut mulai berkurang.

More Info Temp 36,8 C Pemeriksaan fisik : pernapasan cuping hidung (+), HR: 150x/i, RR: 80x/I, retraksi epigastrium. Laboratoium: Hb: 12,5 gr/dl; leukosit 19.000 gr/dl. Trombosit 235.000/mm3 Differensial telling : neutrofil 65%, Limfosit 27 %, monosit 5 %, eosinofil 1 % dan basofil 2 % X-ray : streaky pattern

Masalah 1. Setelah kurang lebih 2 jam di kamar bayi, anak mulai merengek, pernapasan cepat, kaki tangan dingin, mulut dan sekitar hidung tampak biru (sianosis sentral) 2. Pernapasan cuping hidung (+), HR 150x/i, RR: 80x/i, retraksi epigastrium Analisa Masalah Pada janin sel epitelnya menghasilkan Clorida ke dalam ruangan alveolus Pada akhir kehamilan sel epitel berubah menjadi absorbsi Natrium natrium akan masuk ke pembuluh darah diikuti oleh air Pada kehamilan normal dada terkompresi sepertiga air keluar dari paru & katekolamin meningkat secara pesat merangsang Na keluar dari alveolus.

Hipotesis Transcient Tachypnue of the Newborn

Learning Issue 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apgar Score dan Down Score Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan Bayi DD Pemicu Definisi, etiologi, dan patofisiologi sesak Definisi, etiologi, klasifikasi, epidemiologi Respiratory Distress TTN (Transcient Tachypnue of the Newborn) a. Definisi b. Epidemiologi c. Etiologi d. Sign and symptom e. Patofisiologi f. Penegakan Diagnosa g. Penatalaksanaan h. Prognosis

Learning Issue 1 Down Score Digunakan untuk menilai ada tidaknya kegawatdaruratan nafas pada bayi. 0 < 60 x/menit (-) (-) 1 60 80 x/menit Retraksi ringan Sianosis hilang dengan O2 Udara masuk bilateral ringan udara baik masuk (-) Dapat di dengar dengan stetoskop 2 > 80 x/menit Retraksi berat Sianosis menetap walau di beri O2 ( - ) udara masuk Dapat di dengar alat bantu

Frekuensi nafas Retraksi Sianosis Udara masuk Merintih

Keterangan : Skor < 4 Skor 4 7 Skor >7 : Tidak ada gawat nafas : Gawat nafas : Ancaman gagal nafas

APGAR SCORE Dalam praktek, menentukan tingkat asfiksia bayi dengan tepat membutuhkan pengalam dan observasi klinis yang cukup. Pada tahun lima puluhan digunakan criteria breathing time dan crying time untuk menilai keadaan bayi. Kriteria ini kemudian ditinggalkan, karena tidak dapat memberikan informasi yang tepat pada keadaan tertentu (Apgar, 1966). Virginia, Apgar (1953, 1958) mengusulkan beberapa kriteria klinis untuk menentukan keadaan bayi baru lahir. Kriteria imi ternyata berguna karena berhubungan erat dengan perubahan keseimbangan asambasa pada bayi (Drage dan Berendes, 1966). Disamping itu dapat pula memberikan gambaran beratnya perubahan kardiovaskular yang ditemukan. Penilaian secara Apgar ini juga mempunyai hubungan yang bermakna dengan mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir (Drage, 1964). Cara ini dianggap paling ideal dan telah banyak digunakan dimana-mana.

Patokan klinis yang dinilai akan diuraikan pada table dibawah ini : Sign Apperance (warna) 0 Biru atau pucat 1 2 Tubuh kemerahan, Tubuh dan ekstremitas biru ekstremitas kemerahan Kurang dari Lebih dari 100/menit 100/menit Gerakan sedikit Menangis Ekstremitas fleksi Gerakan aktif sedikit Lambai, tidak teratur Menangis kuat

Pulse( frekuensi Tidak ada jantung ) Tidak ada Grimace (reflex) Activity (tonus otot) Lumpuh Respiration (pernafasan) Tidak ada

Skor Apgar ini biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah dilakukan pengisapan lender dengan sempurna. Skor Apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekalisebagai pedoman untuk resusitasi. Skor Apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korelasi yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatal (Drage, 1966). Asfiksia neonatorum dapat dibagi dalam : 1. Vigorous baby skor Apgar 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa. 2. Mild Moderate asphyxia (asfiksia sedang). Skor Apgar 4-6. Pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflex iritabilitas tidak ada. 3. a. Asfiksia berat. Skor Apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflex iritabilitas tidak ada. b. Asfiksia berat dengan henti jantung. Dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan (1) bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap, (2) bunyi jantung bayi menghilang post partum. Dalam hal ini pemeriksaan fisis lainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat.

Learning Issue 2 Anatomi Saluran Pernapasan Bayi Baru Lahir

Mudigah berusia sekitar 4 minggu

Divertikulum respiratorium ( lung bud , tunas / bakal paru )

Berasal dari dinding ventral usus depan

Divertikulum membesar ke arah caudal

Terbentuk 2 bubungan longitudinal, Tracheoesofageal ridge

Memisahkannya dari usus depan

Saat ke 2 bubungan tersebut menyatu untuk membentuk septum trakeoesofageal

Dosal usus depan : Esofagus

Ventral usus depan : trakea dan tunas paru

Bronkus utama kanan dan kiri

3 bronkus sekunder

2 bonkus sekunder

10 bronkus tersier

8 bronkus tersier

Akhir bulan ke 6

Pematangan Paru paru Periode pseudoglandular

5 6 minggu

Periode kanalikular

16 26 minggu

Periode sakus teerminalis

26 minggu sampai lahir

Periode alveolar

8 bulan sampai masa kanak kanak

Pembentukan cabang berlanjut untuk membentuk bronkiolus terminalis. Belum ada bronkiolus respiratorius atau alveolus. Masing masing bronkiolus terminalis bercabang cabang menjadi 2 atau lebih bronkiolus respiratorius, yang selanjutnya bercabang cabang menjadi 3 6 duktus alveolaris Terbentuk sakus terminalis (alveolus primiti) dan kapiler membentuk kont5ak erat Alveolus matur telah memiliki kontak epitel endotel (kapiler) yang sempurna.

Seiring perkembngan, tunas paru kemudian berkembang ke dalam rongga tubuh

Kanalis perikardioperitonealis

Terletak di ke 2 sisi usus depan dan secara bertahap diisi oleh tunas paru yang terus membesar

Lipatan pleuroperitoneum dan pleuroperikardium memisahkan kanalis perikardioperitonealis masing dari rongga peritoneum dan rongg perikardium dan ruang sisa membentuk rongga pleura primitif

Mesoderm yang menutupi bagian luar paru

Lapisan mesoderm somtik, yang menutupi dinding tubuh bagian dalam

Pleure Viseralis

Pleura parietalis

Rongga Pleura

Fisiologi Pernapasan Bayi Baru Lahir a. Perkembangan Surfaktan Pada awal stadium kanalikular, ruang udara yang potensial dilapisi oleh sel progenitor tidak berdiferensiasi yang berbentuk kubus, tidak bersilia, dan mengandung glikogen dalam jumlah besar. Selanjutnya, beberapa sel tersebut bervakuola dan timbul badan lamellar dalam sitoplasmanya. Sel ini merupakan sel alveolus tipe II yang menyintesis, menyimpan, dan mendaur ulang surfaktan paru. Ketika paru menjadi matur, jumlah surfaktan dalam jaringan paru bertambah. Sekresi surfaktan dimulai sekitar pada usia kehamilan 28 minggu, dan selanjutnya, surfaktan ini ditemukan di dalam cairan paru janin dan cairan amnion. Adanya lipid surfaktan dalam cairan amnion adalah dasar uji klinis untuk menentukan maturitas fungsional paru janin. Surfaktan paru adalah kompleks lipid dan protein yang unik. Lipid permukaan aktif yang utama adalah dipalmitoilfosfatidilkolin. Paling tidak ada empat protein (yaitu, A,B,C, dan D) yang terkait dengan surfaktaan dan berperan dalam metabolism dan fungsinya. Peranan protein tersebut yang tepat masih menjadi subjek penelitian, tetapi
7

meliputi fasilitas absorpsi antara udara dan cairan, stabilisasi lapisan permukaan, mendaur ulang surfaktan kembali menjadi sel tipe II, dan mungkin, fungsi imunologis. Sintesis dan sekresi surfaktan dikendalikan oleh interaksi kompleks factor hormonal, termasuk kortisol, tiroid, prolaktin, testosterone, dan oleh ikatan untuk reseptor adrenergic-B. b. Rangsangan Pernapsan Bayi Baru Lahir Pasca Lahir
Pendinginan Kulit Hiperkabia (peningkatan CO2 dalam darah) Kadar PgE2

Rangsang taktil Merangsang system saraf pusat

Faktor lain plasenta penghambat pernapasan janin

Tahanan cairanpekat pada jalan napas

Tahanan jaringan paru terhadap perubahan bentuk

Tekanan transpulmonal meningkat

Tegangan permukaan pada perbatasan udara cairan

Paru berkembang terisi udara

Memberikan tahanan

c. Fisiologi Cairan Paru Setelah Lahir

setelah pengembangan paru awal

Cairan intraalveolus gerak ke dalam interstisium

peribronkial

perivaskular

. pembuluh darah . drainase limfatik

Learning Issue 3 Diagnosa Banding 1. 2. 3. 4. 5. Congenital Pneumonia Sindrom Aspirasi Mekonium Neonatal Sepsis Pulmonary Hypertension Persistent Newborn Respiratory Distress (Hialin Membran Disease)

Learning Issue 4 a. Definisi Dyspnea atau sesak napas adalah perasaan sulit bernapas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. b. Etiopatogenesis
ISPA Bagian atas Tersedak makanan/ susu Lahir prematur TTN Kelainan jalan napas, cth: tracheao esophageal Pembesaran Kelenjar Timus Kelainan jantung & paru-paru SAM

Infeksi Saluran Pernafasan Bawah

Alveoli masih kecilsulit berkembang karena dinding thorax melemah

(+) cairan dalam paru

Menekan trakea Cairan lambung masuk ke paruparu

Trakea menyempit

Peningkatan tenaga dan upaya otot paru dan jantung

(+) sisa makanan dlm tenggorokan

Partikel mekonium terhirup ke saluran napas bag.distal

Produksi surfaktan belum sempurna

Bayi menangis/ bernapas Makanan/ susu masuk ke paru Kolaps pd alveolus paruparu kaku

Peningkatan recoil paru

Bernapas menarik mekonium ke jalan napas kecil & alveolus

Peningkatan kebutuhan tekanan Menutup jalan napas parsial/ total

Daya kembang paru menurun 25% dari normal

Pernafasan berat (keadaan sulit bernapas) Peningkatan upaya pernapasan hipoksemia

. peningkatan kekuatan otot . retraksi . penggunaan otot tambahan . Tachipnue . Pernapasan cuping hidung 10

Peningkatan dorongan

Learning Issue 5 Respiratory Distress a. Definisi Merupakan suatu gangguan gangguan pernapasan pada bayi yang mempunyai gejala klinis yang khas yaitu: 1. Napas cepat (Takipnea) 2. Sianosis sentral pada suhu kamar 3. Retraksi /Tarikan dinding dada yang kuat (inspirasi) 4. Grunting/ merintih (ekspirasi) Distres respirasi selalu dihubungkan dengan retraksi dan grunting

b. Etiologi - Transient tachypnea of the newborn (TTN) TTN merupakan penyebab yang paling sering dari gawat napas pada neonates, merupakan lebih dari 40% kasus. - Hyaline membrane disease (HMD) Sindrom gawat napas akut neonates, yang biasa disebut penyakit membrane hialin, adalah penyebab yang paling sering muncul dari gawat napas akut pada bayi premature, berhubungan dengan struktur dan fungsional kematangan paru. Ini terjadi pada 24.000 bayi yang lahir setiap tahunnya di Amerika Serikat,ini muncul pada bayi yang lahir lebih sedikit daripada 28 minggu. - Meconium aspiration syndrome (MAS) - Air leak syndrome - Pneumonia - Congenital heart diseases

11

Learning Issue 6 Transcient Tachypnue of the Newborn a. Definisi Transcient Tachypnue of the Newborn meupakan penyebab paling umum gawat napas pada bayi aterm, yang disebabkan oleh keterlambatan absorbs cairan paru. Khususnya setelah seksio caesaria elektif. Biasanya menetap 1-2 hari pertama kehidupan. Namun, mungkin membutuhkan O2 ringan dan memerlukan beberapa hari untuk sembuh. b. Etiologi Penyebab umumnya yaitu : 1. Lahir secara sesar 2. Lahir dari ibu dengan DM 3. Prematur Penyebab yang kurang umum: 1. 2. 3. 4. 5. Pneumonia Aspirasi Mekonium Pneumothorax Gagal jantung Hipertensi pulmonal persisten pda bayi baru lahir

Penyebab yang jarang : 1. Defisiensi surfaktan 2. Hernia Diafragmatika c. Epidemiologi . Insidensi pada bayi preterm (premature) 30% . Post-term 20,9% . Bayi aterm (cukup bulan) 4,2 % . dari semua RD pada bayi TTN merupakan yang paling sering . Umumnya TTN sembuh sendiri (3-5 hari) . Tidak ada predileksi ras tertentu . Faktor resiko laki-laki dan perempuan sama d. Sign and Symptom - Takipnea (RR>60x/menit) - Sianosis mulut dan hidung - Retraksi sela iga - Pernafasan cuping hidung
12

- Merintih (grunting) e. Patofisiologi

Sel epitelnya menghasilkan Cl- ke dalam ruang alveolus

Pada akhir kehamilan

Sel epitel berubah menjadi reabsorpsi Natrium

Cuma sedikit gas berubah (usia 37 minggu)

Natrium PD diikuti oleh air

Air masih banyak diruang alveolus

Pada kehamilan normal dada terkompresi

Air keluar dari paruparu Bayi hipoksia

Katekolamin meningkat secara pesat

Air keluar dari paruparu

Tidak secara pervaginam (SC) Penggunaan otot-otot tambahan

13

f. Penegakan Diagnosa .

g. Penatalaksanaan Terapi untuk TTN yaitu terapi suportif karena kondisi ini biasanya sembuh sendiri. Oral Furosemide (Laxis) tidak begitu menunjukkan perubahan status secara signifikan dan tidak seharusnya diberikan. Data yang mengajurkan pada prenatal pemberian kortikosteroid 48 jam sebelum kelahiran sesar elektif pada 37-39 minggu kehamilan menghasilkan insidensi dari TTN. h. Prognosis Penyakit ini bersifat sembuh sendiri dan tidak ada resiko kekambuhan atau disfungsi paru lebih lanjut. Gejala-gejala respirasi membaik sejalan dengan mobilisasi cairan dan ini biasanya dikaitkan dengan dieresis.

14

Kesimpulan Dari diskusi kelompok kami didapati seorang ibu, dengan usia kehamilan 37-38 minggu, melahirkan anak laki-laki, secara SCa/I previous SC, dengan berat bdan lahir 3100 gram. Anak lahir segera menangis, dengan APGAR score 7-8. Setelah kurang lebih 2 jam di kamar bayi, anak mulai merengek (grunting), pernafasan cepat, kaki tangan dingin, mulut dan sekitar hidung tampak biru. Saat diberikan oksigen, biru disekitar hidung dan mulut mulai berkurang. Dengan more info: temp 36,8 C Pemeriksaan fisik : pernapasan cuping hidung (+), HR: 150x/i, RR: 80x/I, retraksi epigastrium. Laboratoium: Hb: 12,5 gr/dl; leukosit 19.000 gr/dl. Trombosit 235.000/mm3 Differensial telling : neutrofil 65%, Limfosit 27 %, monosit 5 %, eosinofil 1 % dan basofil 2 % X-ray : streaky pattern Maka kesimpulan kami anak tersebut menderita TTN (Transcient Tachypnue of The Newborn), dan dapat diterapi dengan terapi suportif, karena penyakit ini dapat sembuh sendiri.

15

Daftar Pustaka 1. Behrman, Richard E, Robert Kliegman, Ann M.Arvin,.1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol 1. Edisi 15. Jakarta:EGC 2. Alatas, H. Hasan, R. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Jakarta: FKUI

16