Anda di halaman 1dari 10

1

Modul VIII/Pertemuan ke-9 AUDIT ATAS SIKLUS PEROLEHAN DAN PEMBAYARAN

Siklus perolehan dan pembayaran meliputi dua golongan transaksi yang berbeda, yaitu : perolehan barang dan jasa dan pengeluaran kas untuk perolehan tersebut. Retur pembelian dan pengurangan harga juga merupakan satu golongan transaksi, tetapi untuk kebanyakan perusahaan jumlahnya tidak material. HAKEKAT SIKLUS PEROLEHAN DAN PEMBAYARAN Siklus perolehan dan pembayaran melibatkan setiap keputusan dan proses yang diperlukan untuk memperoleh barang dan jasa guna menjalankan operasi perusahaan. Siklus tersebut biasanya dimulai dengan pengajuan permintaan pembelian oleh seorang pegawai berwenang yang membutuhkan barang atau jasa dan berakhir dengan pembayaran atas setiap manfaat yang diterima.
Golongan Transaksi Akun Fungsi Bisnis Dokumen dan Catatan

Perolehan

Persediaan Properti Pabrik dan Peralatan Beban dibayar di muka Hutang usaha Beban manufaktur Beban penjualan Beban administrasi

Pemrosesan order pembelian

Permintaan pembelian Order Pembelian

Penerimaan barang dan jasa Pengakuan kewajiban

Pengeluaran Kas

Kas di bank Hutang usaha Potongan pembelian

Pemrosesan dan pencatatan pengeluaran kas

Laporan penerimaan Jurnal perolehan Laporan ikhtisar perolehan Faktur dari pemasok Nota debit Surat bukti/bon Berkas induk hutang usaha Neraca saldo hutang usaha Rekening pemasok Cek Jurnal pengeluaran kas

Pemrosesan Order Pembelian Permintaan pembelian (purchase requisition); adalah permintaan akan barang dan jasa oleh pegawai yang berwenang. Bentuknya dapat berupa permintaan perolehan untuk bahan-bahan oleh mandor atau pengawas gudang, reparasi di luar oleh pegawai kantor

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

atau pabrik, atau asuransi oleh direktur perusahaan yang bertanggung jawab atas properti dan peralatan. Order pembelian (purchase order); adalah dokumen yang mencatat deskripsi, jumlah, dan informasi yang berkaitan dengan barang dan jasa yang hendak dibeli perusahaan. Dokumen ini seringkali digunakan untuk menunjukkan otorisasi untuk mendapatkan barang dan jasa. Pengendalian Intern; Otorisasi yang memadai untuk perolehan merupakan bagian utama dari fungsi ini sebab otorisasi akan menjamin bahwa setiap barang dan jasa yang dibeli memang sesuai dengan kepentingan perusahaan dan untuk mencegah pembelian yang berlebihan atau barang yang tidak diperlukan. Sudah lazim bagi perusahaan untuk membentuk bagian pembelian dengan maksud memastikan kualitas yang baik untuk barang dan jasa dengan harga yang minimum. Untuk pengendalian intern yang baik, bagian pembelian hendaknya tidak bertanggung jawab mengotorisasi perolehan atau penerimaan barang. Semua order pembelian harus prenumbered dan harus mempunyai kolom dan ruang yang cukup untuk meminimumkan kemungkinan penghitungan yang tidak disengaja dalam formulir tersebut pada saat barang diorder. Penerimaan Barang Dan Jasa Penerimaan barang dan jasa oleh perusahaan yang berasal dari pemasok merupakan titik kritis dalam siklus ini, sebab pada saat inilah kebanyakan perusahaan pertama kali mengakui timbulnya kewajiban sehubungan dengan perolehan tersebut di dalam catatan mereka. Saat barang diterima, pengendalian yang memadai mengharuskan dilakukannya penelitian atas deskripsi, jumlah, saat kedatangan, serta kondisi barang. Laporan penerimaan barang (receiving report); adalah dokumen yang dibuat pada saat barang berwujud diterima yang menunjukkan deskripsi tentang barang, jumlah yang diterima, tanggal penerimaan, dan data lain yang relevan. Penerimaan barang dan jasa dalam kegiatan operasi normal perusahaan menunjukkan tanggal saat mana biasanya klien mengakui adanya kewajiban karena perolehan tersebut. Pengendalian Intern; kebanyakan perusahaan mempunyai bagian penerimaan barang yang bertugas membuat laporan penerimaan sebagai bahan bukti bahwa barang sudah diterima dan diperiksa. Biasanya sebuah rangkapan dikirim ke bagian gudang dan rangkapan lain diberikan ke bagian hutang usaha untuk informasi yang mereka perlukan. Untuk mencegah terjadinya pencurian dan penyalahgunaan, penting bahwa Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

barang tersebut diawasi secara fisik sejak saat penerimaan sampai penggunaannya. Pegawai di bagian penerimaan harus independen dari bagian gudang dan akuntansi. Akhirnya, catatan akuntansi seharusnya memindahkan tanggung jawab barang tersebut dari bagian penerimaan ke gudang dan selanjutnya duri gudang ke pabrik. Pengakuan Kewajiban Pengakuan kewajiban yang memadai untuk setiap penerimaan barang dan jasa mengharuskan pencatatan yang akurat dan tepat. Jurnal perolehan (acquisition journall); adalah jurnal untuk mencatat transaksi perolehan. Jurnal perolehan yang rinci meliputi maaing-masing transaksi perolehan. Biasanya mencakup beberapa klasifikasi untuk kebanyakan jenis perolehan yang signifikan, seperti pembelian persediaan; perbaikan dan pemeliharaan, perlengkapan, ayat pembukuan ke hutang usaha, dan aneka debet dan kredit. Laporan ikhtisar perolehan (.summary acquisition report); adalah dokumen yang dihasilkan komputer yang mengikhtisarkan perolehan untuk satu periode. Laporan ini biasanya berisi informasi yang dianalisis berdasarkan komponen kunci seperti klasilikasi akun, jenis persediaan, dan divisi. Faktur pemasok (vendor invoice); adalah dokumen yang menunjukkan hal-hal seperti deskripsi dan jumlah barang dan jasa yang diterima, harga termasuk ongkos angkut, syarat potongan tunai, dan tanggal penerimaan kas. Nota debet (debet note) adalah dokumen yang menunjukkan pengurangan jumlah yang menjadi hak pemasok karena pengembalian barang atau pengurangan harga. Voucher ; adalah dokumen yang seringkali digunakan oleh berbagai organisasi sebagai sarana formal pencatatan dan pengendalian perolehan. Voucher berisi nama vendor, jumlah kewajiban dan tanggal pembayaran. Voucher meliputi lembar sampul atau map yang diisi dokumen atau paket dokumen yang relevan seperti order pembelian, rangkapan slip pengepakan, laporan penerimaan barang, dan faktur pemasok. Setelah pembayaran, rangkapan cek ditambahkan ke paket voucher. Voucher merupakan alat pengendalian perusahaan sebagai otorisasi atas pencatatan dan pembayaran kewajiban Berkas induk hutang usaha (account payable master file ); adalah berkas untuk mencatat perolehan individual, pengeluaran kas, dan retur dan pengurangan harga perolehan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

untuk masing-masing pemasok. Total dari saldo akun individual dalam berkas induk sama dengan total saldo hutang usaha dalam buku besar. Neraca saldo hutang usaha (account payable trial balance); adalah daftar yang menjadi jumlah hak masing-masing pemasok pada satu titik waktu tertentu. Neraca saldo ini disiapkan langsung dari berkas induk hutang usaha. Laporan pemasok (vendor statement); adalah laporan yang disiapkan setiap bulan oleh pemasok yang menunjukkan saldo awal, perolehan, retur dan pengurangan harga, pembayaran kepada pemasok, dan saldo akhir. Pengendalian intern Dalam beberapa perusahaan, pencatatan kewajiban akibat perolehan dibuat berdasarkan penerimaan barang dan jasa, dan di perusahaan lain, kewajiban ditangguhkan sampai faktur pemasok diterima. Dalam kedua kondisi, bagian hutang usaha umumnya bertanggung jawab memverifikasi kepatutan setiap perolehan. Ini dilakukan dengan membandingkan rincian dalam order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur pemasok untuk menentukan apakah deskripsi, harga, jumlah, syarat pembayaran, dan ongkos angkut dalam faktur pemasok benar. Pengendalian yang penting dalam bagian hutang usaha dan PDE adalah persyaratan bahwa pegawai yang mencatat perolehan tidak mempunyai akses pada kas, efek-efek, dan aktiva lainnya. Dokumen dan catatan yang memadai, prosedur penanganan catatan yang memadai, dan adanya pengecekan yang independen atas pelaksanaan juga merupakan unsur pengendalian yang perlu dalam fungsi hutang usaha.

Pemrosesan Dan Pencatatan Kas Bagi kebanyakan perusahaan, pembayaran dilakukan dengan cek yang disiapkan komputer dari informasi yang ada dalam berkas transaksi perolehan, pada saat barang dan jasa diterima. Cek, biasanya disiapkan dalam bentuk rangkap, dengan cek asli dikirim ke penerima, satu rangkapan di arsip bersama faktur pemasok dan dokumen pendukung lain, dan rangkapan lainnya diarsip secara abjad berdasarkan penerima. Cek (check); adalah alat pembayaran untuk setiap perolehan saat pembayaran jatuh tempo. Setelah cek ditandatangani oleh orang yang berwenang, maka cek sudah merupakan suatu aktiva. Kalau sudah diuangkan oleh penjual dan dikliring oleh bank pihak klien, maka cek itu disebut cek yang sudah dibatalkan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

Jurnal pengeluaran kas (cash disbursements journal); adalah jurnal untuk mencatat transaksi pengeluaran kas. Rincian dari jurnal dibukukan ke berkas induk hutang usaha dan total jurnal dibukukan ke buku besar. Pengendalian intern Pengendalian terpenting dalam fungsi pengeluaran kas meliputi penandatanganan setiap cek oleh orang dengan otorisasi yang memadai, pemisahan tanggung jawab antara penandatangan cek dengan pelaksanan fungsi hutang usaha, dan adanya pemeriksaan yang cermat atas dokumen pendukung oleh penandatangan cek pada saat cek ditandatangani. Cek seharusnya prenumbered dan dicetak di atas kertas khusus sehingga sulit mengganti nama penerima atau jumlahnya. Kehati-hatian harus diambil untuk menyediakan pengawasan fisik atas cek yang belum diisi, dibatalkan dan yang sudah ditandatangani. Juga sangat penting untuk mempunyai metode pembatalan setiap dokumen pendukung untuk mencegah penggunaan ulang dokumen tersebut sebagai pendukung terhadap cek lain di kemudian hari. Cara yang biasa dipakai adalah dengan membubuhi nomor cek pada setiap dokumen pendukungnya. PENGUJIAN ATAS PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI Pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas-transaksi untuk siklus perolehan dan pembayaran dibagi dalam dua area besar: pengujian atas perolehan (test of acquisition) dan pengujian atas pembayaran (test of paymet). Pengujian atas perolehan berkenaan dengan fungsi pemrosesan order pembelian, penerimaan barang dan jasa, dan pengakuan kewajiban. Pengujian atas pembayaran berkenaan dengan fungsi keempat, pemrosesan dan pencatatan pengeluaran kas. Verifikasi Perolehan Auditor menggunakan informasi yang diperoleh dari pemahaman struktur pengendalian intern untuk menaksir risiko pengendalian. a. kerangka acuan untuk semua golongan transaksi penjualan : tujuan audit yang terkait dengan transaksi pembelian dan pengeluaran kas (pengujian asersi manajemen) : - Existence and occurrence; pembelian yang tercatat benar-benar menggambarkan barang, aset produktif dan jasa yang diterima klien selama perode akuntansi yang bersangkutan; pengeluaran kas yang tercatat merepresentasikan jumlah kas yang dibayarkan selama periode akuntansi yang bersangkutan. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

- Completeness; semua pembelian dan pengeluaran kas yang terjadi dalam periode akuntansi telah dicatat. - Rights and obligations; barang dan aset produktif yang terjadi akibat dari transaksi pembelian merupakan hak dari perusahaan yang merupakan hasil dari transaksi dalam siklus perolehan dan pembayaran; hutang yang terjadi akibat transaksi pembelian merupakan kewajiban perusahaan.. - Valuations or allocation; semua transaksi pembelian dan pengeluaran kas telah dijurnal, dikhtisarkan dan diposting dengan benar. - Presentation and disclosure; rincian pembelian dan pengeluaran mendukung penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan. b. mengidentifikasi pengendalian intern kunci untuk penjualan dan kelemahannya. - Pemisahan tugas yang memadai - Otorisasi yang semestinya - Dokumen dan catatan yang memadai, seperti keberadaan permintaan pembelian, order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur pembelian yang dilampirkan pada voucher. - Dokumen yang prenumbered - Pengiriman rekening bulanan - Prosedur verifikasi intern - Bagan akun yang memadai c. Merancang pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi pembelian dan pengeluaran kas untuk memenuhi tujuan audit yang terdiri dari : prosedur audit, besarnya sample, pos/unsur yang dipilih dan saat pelaksanaan. - Pengujian atas pengendalian; dilakukan terhadap pengendalian intern kunci. Contoh : pengendalian intern kunci : dokumen dan catatan yang memadai, seperti keberadaan permintaan pembelian, order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur pembelian yang dilampirkan pada voucher : periksa dokumen dalam voucher untuk keberadaannya. Untuk pengujian adanya otorisasi yang memadai, periksa indikasi persetujuan/otorisasi dalam dokumen pembelian dan pengeluaran kas. - Pengujian substantif atas transaksi pembelian; pengujian substantif dilakukan sesuai dengan tujuan audit yang telah ditetapkan : EO, RO, C, VA dan PD

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

HUTANG USAHA Hutang usaha adalah kewajiban yang belum dibayarkan untuk barang dan jasa yang diterima dalam kegiatan usaha normal perusahaan. Jadi akun hutang usaha mencakup kewajiban karena perolehan bahan baku, peralatan, prasarana, perbaikan, dan banyak lagi jenis barang dan jasa yang tealh diterima sebelum akhir tahun. Kebanyakan hutang usaha dapat ditunjukkan dengan keberadaan faktur pemasok. Hutang usaha juga harus dibedakan dari kewajiban yang dibebani bunga. Kalau dalam suatu kewajiban terkandung pembayaran bunga, maka harus dicatat dengan semestinya, sebagai wesel bayar, hutang kontrak, hutang obligasi, atau hipotik. Pengendalian Intern Dampak pengendalian intern klien terhadap pengujian hutang usaha dapat diilustrasikan dengan dua contoh. Pertama, anggaplah bahwa klien mempunyai struktur pengendalian intern yang sangat efektif atas pencatatan dan pembayaran untuk perolehan. Penerimaan barang segera didokumentasikan dengan laporan penerimaan barang yang prenumbered, setiap voucher yang prenumbered disiapkan dengan segera dan efisien dan dicatat ke dalam berkas transaksi perolehan dan berkas induk hutang usaha. Setiap pembayaran dilakukan juga dengan segera sesudah jatuh tempo, dan pengeluaran segera dicatat ke dalam berkas transaksi pengeluaran kas dan berkas induk hutang usaha. Setiap bulan, saldo hutang individual atau berkas induk hutang usaha direkonsiliasi dengan rekening pemasok, dan totalnya dibandingkan dengan buku besar oleh orang yang independen. Dalam situasi ini, verifikasi atas hutang usaha hanya membutuhkan sedikit upaya audit setelah auditor menyimpulkan bahwa struktur pengendalian intern berjalan dengan efektif. Dalam contah kedua, anggaplah laporan penerimaan barang tidak digunakan, klien menunda pencatatan perolehan sampai pengeluaran kas dilakukan, dan karena lemahnya posisi kas, tagihan seringkali baru dibayarkan beberapa bulan setelah tanggal jatuh temponya. Kalau auditor menghadapi situasi seperti ini, besar kemungkinan terjadi kurang saji hutang usaha; sehingga, dalam situasi tersebut diperlukan pengujian terinci atas saldo hutang yang ekstensif untuk menentukan apakah hutang usaha disajikan secara memadai pada tanggal neraca. Penting juga bagi auditor untuk membuat rekonsiliasi bulanan antara rekening pemasok dengan kewajiban yang tetah dicatat dan antara berkas induk hutang usaha dan buku besarnya. Rekonsiliasi ini harus dilakukan oleh orang yang independen. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

Prosedur Analltis Salah satu prosedur analitis yang penting untuk menemukan salah saji hutang usaha adalah membandingkan total beban tahun berjalan dengan tahun lalu. Misalkan, dengan membandingkan beban prasarana dengan tahun lalu, auditor dapat menentukan bahwa tagihan prasarana terakhir untuk tahun berjalan belum dicatat. Membandingkan beban ke tahun lalu merupakan prosedur analitis yang efektif untuk hutang usaha karena beban-beban relatif stabil dari tahun ke tahun. Tujuan Audit Untuk Pengujian Terinci Atas Saldo Tujuan menyeluruh dalam audit atas hutang usaha adalah menentukan apakah hutang usaha disajikan secara wajar dan diungkapkan dengan memadai.Auditor harus mengetahui perbedaan penekanan antara audit atas kewajiban dan audit atas aktiva . Kalau aktiva diverifikasi, perhatian dipusatkan untuk memastikan bahwa saldo yang terdapat dalam akun-akun neraca tidak lebih saji. Keabsahan aktiva yang dicatat selalu dipertanyakan dan diverifikasi melalui konfirmasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan dokumen pendukung. Auditor seharusanya tidak boleh mengabaikan kemungkinan bahwa aktiva kurang saji, tetapi kenyataannya auditor jauh lebih menaruh perhatian pada kemungkinan lebih saji daripada kurang saji. Pendekatan yang sebaliknya diambil dalam memverifikasi saldo kewajiban; yaitu bahwa, perhatian utama adalah pada menemukan kewajiban yang kurang saji atau dihilangkan. Pengujian Terinci Atas Hutang Usaha Untuk mengaudit kewajiban, auditor menaruh perhatian pada kewajiban klien untuk membayar hutangnya. Kepemilikan merupakan bagian penting dalam verifikasi aktiva tetapi tidak dalam kewajiban karena penekanannya terletak pada usaha untuk menemukan kurang saji, bukan lebih saji. Pengujian Kewajiban Sijdah Lewat Waktu Karena penekanan terletak pada kurang saji akun kewajiban, maka pengujian kewajiban yang sudah lewat-waktu (out-of-period liabilities) penting untuk hutang usaha. Luas pengujian untuk menemukan hutang usaha yang tidak dicatat, yang sering disebut pencarian hutang usaha yang tidak dicatat, sangat tergantung pada risiko pengendalian yang ditetapkan dan materialistis saldo-saldo yang potensial dalam akun tersebut. Prosedur audit berikut ini adalah pengujian tipikal untuk kewajiban sudah-lewat waktu : Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

Memeriksa dokumentasi yang mendasari setiap pengeluaran kas setelah tanggal neraca ; tujuan prosedur audit ini adalah menemukan pembayaran dalam periode akuntansi berikutnya yang merupakan kewajiban pada tanggal neraca: Dokumen pendukung diperiksa untuk menentukan apakah pembayaran tersebut merupakan kewajiban untuk periode berjalan. Memeriksa dokumen yang mendasari setiap tagihan yang belum dibayarkan beberapa minggu setelah akhir tahun; prosedur ini dilakukan dengan cara yang sama seperti prosedur di atas dan untuk maksud yang sama. Perbedaannya hanyalah bahwa prosedur ini dilakukan untuk kewajiban yang belum dibayarkan hingga mendekati akhir pemeriksaan dan bukan untuk kewajiban yang telah dibayar. Misalkan, dalam audit dengan tahun berakhir tanggal 31 Desember, seandainya auditor memeriksa dokumentasi pendukung untuk cek-cek yang dibayarkan sampai tanggal 31 Maret, maka semua tagihan yang masih belum dibayarkan sampai tanggal tersebut harus diperiksa untuk menentukan apakah tagihan-tagihan tersebut merupakan kewajiban untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember. Menelusuri laporan penerimaan barang yang dibuat sebelum akhir tahun ke faktur pemasoknya; semua barang dagang yang diterima sebelum akhir periode akuntansi, yang ditunjukkan oleh pembuatan laporan penerimaan barang harus dimasukkan sebagai hutang usaha. Dengan menelusuri ke laporan penerimaan barang yang dibuat pada atau sebelum akhir tahun ke faktur pemasok dan memastikan bahwa semuanya sudah dimasukkan ke dalam hutang usaha, auditor sebenarnya sedang menguji kewajiban yang tidak dicatat. Menelusuri rekening tagihan pemasok yang menunjukkan saldo terhutang ke neraca saldo hutang usaha; kalau klien menyimpan satu arsip rekening tagihan pemasok, laporan yang menunjukkan adanya saldo terhutang dapat ditelusuri ke daftar tersebut untuk memastikan bahwa saldo-saldo tersebut sudah termasuk dicatat sebagai hutang usaha. Mengirim konfirmasi ke pemasok yang melakukan bisnis dengan klien; walaupun penggunaan konfirmasi untuk hutang usaha kurang lazim dibandingkan untuk piutang usaha, akan tetapi hal ini sering dilakukan untuk menguji adanya pemasok yang dihilangkan dari daftar hutang usaha, penghilangan transaksi, dan salah saji saldo akun.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II

10

Pengujian Pisah Batas Pengujian pisah batas untuk hutang usaha dimaksudkan untuk menentukan apakah transaksi yang dicatat beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca telah dimasukkan ke dalam periode yang sesuai. Hubungan antara pisah batas dengan pengamatan fisik persediaan; dalam menentukan apakah pisah batas hutang usaha sudah benar, adalah penting bahwa pengujian pisah batas ini dikoordinasikan dengan pengamatan fisik persediaan. Sebagai contoh, andaikan bahwa suatu perolehan persediaan seharga Rp 80 juta telah diterima pada tanggal 31 Desember siang hari, setelah penghitungan fisik persediaan selesai dilakukan. Kalau perolehan tersebut dimasukkan ke dalam hutang usaha dan pembelian, tetapi tidak dimasukkan ke dalam persediaan, akibatnya adalah kurang saji laba bersih sebesar Rp 80 juta. Sebaliknya, kalau perolehan tersebut dikeluarkan dari persediaan dan hutang usaha, maka akan ada kekeliruan dalam neraca, tetapi perhitungan laba rugi akan tetap benar. Satu-satunya jalan yang akan ditempuh oleh auditor untuk mengetahui jenis kekeliruan yang telah terjadi adalah dengan mengkoordinasikan pengujian pisah batas dengan pengamatan persediaan. Persediaan dalam perja/anan ; dalam hutang usaha harus dibedakan antara perolehan persediaan berdasar franko gudang pembeli (FOB destination) dan franko gudang penjual (FOB origin atau FOB shipping). Dengan dasar pertama, hak kepemilikan beralih kepada pihak pembeli saat barang tersebut telah diterima sebagai persediaan. Oleh karena itu, hanya persediaan yang diterima sebelum tanggal neraca saja yang dimasukkan ke dalam persediaan dan hutang usaha pada akhir tahun. Halau pembelian berdasarkan franko gudang penjual, maka persediaan barang dan hutang usaha harus dicatat dalam periode berjalan kalau pengiriman barang terjadi sebelum tanggal neraca.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Syahril Djaddang SE.Ak.M.Si AUDITING II