Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I LETTER OF CREDIT


A. Definisi Letter Of Credit Letter Of Credit atau yang biasa disebut dengan L/C adalah suatu fasilitas atau jasa yang diberikan oleh bank kepada nasabah dalam rangka mempermudah dan memperlancar transaksi jual beli barang terutama yang berkaitan dengan ekspor impor. Contoh mekanisme L/C untuk suatu transaksi perdagangan internasional dapat diawali dengan penandatanganan kontrak jual beli barang antara importir (Indonesia) dengan eksportir (Arab Saudi). Pihak importir mengajukan permohonan penerbitan L/C kepada bank di Indonesia (issuing bank) disertai dengan setoran jaminan. Kemudian issuing bank (bank penerbit) meminta pembukaan L/C kepada bank di Arab Saudi (advising bank). Mengenai L/C importir dan adanya jaminan pembayaran. Pihak eksportir mengirim barang sesuai dengan pesanan kepada importir dan mengirimkan dokumen-dokumen ekspor tersebut kepada advising bank (bank penerus) untuk diverifikasi dan dilakukan pemeriksaan. Setelah itu advising bank mengirim dokumen-dokumen tersebut kepada issuing bank serta meminta pembayaran L/C. Selanjutnya issuing bank memberitahukan kedatangan dokumen tersebut kepada importir dan permintaan pelunasan L/C. Dewan Syariah Nasional menetapkan bahwa Letter Of Credit impor syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada pihak eksportir yang diterbitkan oleh bank untuk kepentingan importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah, dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad; wakalah bil ujrah, qardh, murabahah, salam/istisna, mudharabah, dan musyarakat. Akad untuk L/C impor yang sesuai dengan syariah dapat digunakan beberapa bentuk: 1. Akad wakalah bil ujrah dengan ketentuan: a. Importir harus memiliki dana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor. b. Importir dan bank melakukan akad wakalah bil ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor.

c. Besar ujrah disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk persentase. 2. Akad wakalah bil ujrah dan qardh dengan ketentuan: a. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor. b. Importir dan bank melakukan akad wakalah bil ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor. c. Besar ujrah disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk persentase. d. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir untuk pelunasan pembayaran barang impor. 3. Akad murabahah dengan ketentuan: a. Bank bertindak selaku pembeli yang mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir. b. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank saat dokumen diterima dan tangguh sampai jatuh tempo (usance). c. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai atau cicilan. d. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang. 4. Akad salam/istisna dan murabahah dengan ketentuan: a. Bank melakukan akad salam atau istisna dengan mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi tersebut. b. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank. c. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran cicilan atau tunai.

d. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang. 5. Akad wakalah bil ujrah dan mudharabah dengan ketentuan: a. Nasabah melakukan akad wakalah bil ujrah kepada bank untuk melakukan pengurusan dokumen dan pembayaran. b. Bank dan importir melakukan akad mudharabah, di mana bank bertindak selaku shahibul mal menyerahkan modal kepada importir selaku mudharib sebesar harga barang yang diimpor. 6. Akad musyarakat dengan ketentuan, bank dan importir melakukan akad musyarakat, di mana keduanya menyertakan modal untuk melakukan kegiatan impor barang. Letter of credit ekspor syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada eksportir yang diterbitkan oleh bank untuk memfasilitasi perdagangan ekspor dengan pemenuhan syarat tertentu yang sesuai dengan prinsip syariah. L/C Ekspor syariah, dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad; wakalah bil ujrah, qardh, mudharabah, musyarakat, dan al-bai. Akad untuk L/C ekspor yang sesuai dengan syariah dapat berupa; 1. Akad wakalah bil ujrah dengan ketentuan: a. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. b. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit, selanjutnya dibayarkan kepada eksportir setelah dikurangi ujrah. c. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam persentase. 2. Akad wakalah bil ujrah dan qardh dengan ketentuan: a. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. b. Bank melakukan penagihan kepada bank penerbit.

c. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada nasabah eksportir sebesar harga barang ekspor. d. Besar ujrah harus disepakati di awal dalam bentuk nominal, bukan persentase. e. Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan sesuai kesepakatan dalam akad. f. Antara akad wakalah bil ujrah dan yard tidak boleh dikaitkan (taalluq)

3. Akad wakalah bil ujrah dan mudharabah dengan ketentuan: a. Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan oleh importir. b. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. c. Bank melakukan penagihan kepada bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima atau saat jatuh tempo. d. Pembayaran dari bank penerbit L/C dapat digunakan untuk pembayaran ujrah, penembalian dana mudharabah dan pembayaran bagi hasil. e. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk persentase. 4. Akad musyarakah dengan ketentuan: a. Bank memberikan kepada eksportir sebagian dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan importir. b. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. c. Bank melakukan penagihan kepada bank penerbit. d. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima atau saat jatuh tempo. e. Pembayaran dari bank penerbit L/C dapat digunakan untuk pengambilan dana musyarakat dan bagi hasil.

5. Akad al-bai dan wakalah dengan ketentuan: a. Bank membeli barang dari eksportir. b. Bank menjual barang kepada importir yang diwakili eksportir. c. Bank membayar kepada eksportir setelah pengiriman barang kepada importir. d. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima atau saat jatuh tempo.

B.

Jenis Letter Of Credit L/C berdasarkan fungsi, terdiri dari 2 klasifikasi: 1. Sebagai alat pembayaran a. Revocable L/C, adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan oleh bank penerbit setiap saat tanpa pemberitahuan dahulu kepada penerima. b. Irrevocable L/C, adalah L/C yang perubahan atau pembatalannya harus dengan persetujuan penerima. c. Sight payment L/C, adalah L/C yang pembayarannya dilakukan secara tunai. d. Acceptance L/C, adalah L/C yang pembayarannya secara berjangka. e. Negotiation L/C, adalah L/C yang pembayarannya dengan cara membeli wesel atau dokumen yang diajukan penerima. f. Deferred payment L/C, adalah L/C yang pembayarannya dilakukan di kemudian hari. g. Confirmed L/C, adalah jika L/C dikonfirmasi oleh bank pengkonfirmasi maka tanggung jawab bank pengkonfirmasi sama dengan tanggung jawab bank penerbit.

h. Transferable L/C, adalah L/C dapat dialihkan oleh penerima kepada pemasok melalui perantaraan bank jika bank penerbit menyatakan demikian dalam L/C. i. Assignment L/C, adalah hak atas pembayaran L/C dapat diserahkan kepada pihak lain sesuai dengan hukum yang berlaku.

2. L/C sebagai alat penjaminan a. Standby L/C, adalah L/C yang bersifat jaminan atau bank garansi yang dikeluarkan pihak di negara asing untuk menjamin pinjaman yang dilakukan perusahaan lokal. b. Demand Guarantee, adalah jaminan tanpa syarat. c. Accessory Guarantee, adalah jaminan yang bukan sebagai janji pembayaran langsung tetapi sebagai jaminan untuk mengambil-alih dan membebaskan kewajiban pihak lainnya dalam hal terjadi wanprestasi.

C.

Keuntungan dan Kelemahan Letter Of Credit Dengan melakukan sistem pembayaran melalui letter of credit, terdapat beberapa

keuntungan dan kekurangan baik bagi importir maupun eksportir. 1. Keuntungan letter of credit a. Bagi pembeli (importir) dapat menentukan jenis-jenis dokumen dapat menentukan tanggal pengapalan barang dapat meminta fasilitaas kredit lebih efisien dan aman b. Bagi penjual (eksportir)

kecepatan dan keamanan pembayaran terhindar dari pembatalan l/c secara sepihak dapat meminta tambahan jaminan dari bank lain terhindar dari risiko transfer transfer risk) penguasaan dokumen dan barang dapat meminta fasilitas credit lebih efisien 2. Kelemahan letter of credit a. Memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan jenis pembayaran lainnya. Importir harus mengeluarkan biaya untuk profesi pembukaan L/C, biaya telekomunikasi, dan pemeriksaan dokumen, dll b. Pembatalan L/C sulit dilakukan. c. Tidak ada jaminan seandainya kualitas barang tidak sesuai dengan kontrak d. Risiko unplaid, di mana eksportir menanggung risiko ditolaknya pembayaran oleh bank apabila dokumen yang diserahkan mengandung penyimpangan/ discrepancies terhadap syarat-syarat L/C. e. Risiko transfer dan risiko politik dari negara importir. Apabila eksportir menerima L/C dari negara yang mempunyai country risk tinggi dan L/C tersebut tidak dikonfirmasikan ke bank bonafide di negaranya, eksportir tersebut akan menerima risiko berupa tidak dapat menerima pembayaran karena ditutupnya issuing bank.

BAB II BANK GARANSI


A. Definisi Bank Garansi Kata Garansi berasal dari bahasa Belanda Garantie yang artinya Jaminan. Di masyarakat Bank Garansi lebih dikenal dengan singkatan BG. Bank Garansi adalah jaminan pembayaran dari Bank yang diberikan kepada pihak penerima jaminan (bisa perorangan maupun perusahaan dan biasa disebut Beneficiary ) apabila pihak yang dijamin (biasanya nasabah bank penerbit dan disebut Applicant ) tidak dapat memenuhi kewajiban atau cidera janji (Wanprestasi). Jadi artinya bank menjamin nasabahnya (si terjamin/Applicant) memenuhi suatu kewajiban kepada pihak lain sesuai dengan persetujuan atau berdasarkan suatu kontrak perjanjian yang disepakati. Di dalam hal Bank mengeluarkan garansi bank artinya Bank membuat suatu pengakuan tertulis, yang isinya Bank penerbitmengikat diri kepada penerima jaminan (Beneficiary) dalam jangka waktu dan syarat-syarat tertentu apabila dikemudian hari ternyata nasabahnya (si terjamin/Applicant) tidak memenuhi kewajibannya kepada si penerima jaminan (Beneficiary). Di Bank Syariah Bank garansi disebut Al Kafalah yang artinya bank memberi bank garansi sebagai jaminan pelaksanaan proyek. Pihak yang dijamin (Applicant) menyetor sejumlah uang dengan prinsip Al Wadiah Dasar hukum Bank Garansi, adalah perjanjian penanggungan ( borgtocht) yang diatur dalam KUH Perdata pasal 1820 s/d 1850.Untuk menjamin kelangsungan Bank Garansi, maka penanggung mempunyai Hak istimewa yang diberikan undang-undang, yaitu untuk memilih salah satu pasal ; menggunakan pasal 1831 KUH Perdata atau pasal 1832 KUH Perdata. Pasal 1831 KUH Perdata: Si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selain jika si berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini harus lebih dulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya. Sedangkan pasal 1832 KUH Perdata berbunyi: Si penanggung tidak dapat menuntut supaya benda-benda si berutang lebih dulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya.

Perbedaan dari kedua pasal tersebut adalah bahwa jika Bank menggunakan pasal 1831 KUH Perdata, apabila timbul cidera janji, si penjamin dapat meminta benda-benda si berhutang disita dan dijual terlebih dahulu. Sedangkan jika menggunakan pasal 1832 KUH Perdata, Bank wajib membayar Garansi Bank yang bersangkutan segera setelah timbul cidera janji dan menerima tuntutan pemenuhan kewajiban (klaim). Bunyi Narasi (Wording) atau suatu pengikatan tertulis bank dalam Bank Garansi, Bank wajib mencantumkan ketentuan yang dipilihnya dalam Bank Garansi yang bersangkutan, agar pihak yang dijamin maupun pihak yang menerima garansi (Beneficiary) mengetahui dengan jelas ketentuan mana yang dipergunakan.

B.

Jenis Bank Garansi Berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia, jenis-jenis Bank Garansi

dikelompokkan menjadi : 1. Bank Garansi Dalam Bentuk Warkat Bank Garansi yang diterbitkan oleh bank yang mengakibatkan kewajiban membayar bagi bank terhadap pihak yang menerima garansi apabila pihak yang dijamin (nasabah) cidera janji (wanprestasi). Dilihat dari sisi penggunaannya, Bank Garansi dalam bentuk warkat dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Bank Garansi untuk mendukung modal kerja nasabah, yang biasanya digunakan untuk pelaksanaan suatu kegiatan dalam suatu proyek/pengadaan barang dan atau keagenan / distributor oleh nasabah. Bank Garansi untuk kepentingan proyek ini dapat diberikan kepada Main Contractor dan Sub Contractor berdasarkan analisis kelayakan oleh perbankan. Bank Garansi untuk mendukung modal kerja ini dapat dirinci sebagai berikut: (1) Bank Garansi Untuk Proyek Pembangunan/Pengadaan Barang/Jasa: - Jaminan Tender (Tender / Bid Bond) Tender Bond merupakan jenis Bank Garansi yang diberikan pada nasabah dengan tujuan agar nasabah dapat mengikuti kegiatan tender suatu proyek tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan pemilik

10

proyek. Besarnya nilai garansi untuk tender bond adalah 1% - 3% dari nilai penawaran. - Jaminan Uang Muka (Advance Payment Bond) Jaminan uang muka (Advance Payment Bond) merupakan jenis Bank Garansi yang diberikan kepada nasabah untuk kepentingan pemilik proyek (bouwheer), dengan tujuan untuk menjamin pengambilan uang muka oleh nasabah dalam rangka pelaksanaan tahapan tertentu dari suatu proyek. Besarnya nilai garansi 20 % dari harga/nilai kontrak kerja. - Jaminan Pelaksanaan Proyek (Performance Bond) Jaminan Pelaksanaan Proyek (performance bond) merupakan jenis Bank Garansi yang diberikan kepada nasabah untuk kepentingan pemilik proyek (bouwheer) dalam rangka pelaksanaan suatu proyek atau pekerjaan sesuai dengan kontrak kerja yang sudah ditandatangani. Besarnya nilai garansi minimal adalah 5 % dari harga/nilai kontrak kerja. - Jaminan Pemeliharaan (Maintenance Bond) Jaminan Pemeliharaan (Maintenance Bond) merupakan jenis Bank Garansi yang diberikan kepada nasabah untuk kepentingan pemilik proyek dalam rangka pemeliharaan suatu proyek tertentu selama jangka waktu tertentu, sesuai dengan kontrak kerja yang sudah ditandatanganinya. Besarnya nilai garansi minimal adalah 5 % dari harga/nilai kontrak kerja. (2) Bank Garansi Untuk Pembelian / Pengadaan Bahan Baku / Stock Barang Dagangan dan Perdagangan ( Agen/Dealer ) Jenis Bank Garansi ini bertujuan untuk menjamin pihak pemasok (supplier,pabrikan) yang memasok bahan baku atau barang dagangan yang digunakan/diperlukan oleh nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan modal kerja nasabah. (3) Bank Garansi Untuk Kepentingan Pita Cukai Rokok adalah Bank Garansi yang diterbitkan dengan tujuan untuk kepentingan nasabah dalam rangka
7

11

pembebasan dan atau penangguhan pembayaran kewajiban cukai, bea masuk, serta pungutan lainnya yang harus dipenuhi oleh nasabah. b. Bank Garansi Untuk BAPEKSTA Dalam Rangka Penangguhan Pembayaran Bea Masuk Dan Pungutan Lain-Lain Untuk Pengadaan Bahan Baku Impor Merupakan Bank Garansi untuk Kepentingan BAPEKSTA yang diberikan kepada nasabah, dalam rangka penangguhan pembayaran kewajiban cukai, bea masuk serta pungutan lainnya yang harus dipenuhi nasabah (importir yang digaransi). c. Bank Garansi Diberikan Untuk Mendukung Keperluan Investasi adalah Bank Garansi untuk kepentingan Bea Cukai dalam rangka pembebasan Bea Masuk dan pungutan lain-lain untuk pengadaan barang investasi. Bank Garansi sejenis ini biasanya diberikan untuk menjamin bahwa barang barang yang diimpor oleh nasabah akan digunakan untuk kepentingan investasi, sehingga barang tersebut dapat diberikan fasilitas bebas bea masuk dan pungutan lainnya. d. Standby Letter of Credit (SBLC); Penerbitan Standby L/C oleh bank (sebagai pihak yang menjamin) pada dasarnya merupakan suatu jenis garansi (jaminan) yang diberikan atas permintaan nasabah untuk kepentingan bank Lain atau pihak yang menerima jaminan (beneficiary), berdasarkan term of payment sesuai yang dinyatakan dalam Standby L/C, terlepas dari underlying transaction antara beneficiary dan account party, termasuk pula jaminan dalam rangka pemberian kredit.

C.

Manfaat Bank Garansi Bank Garansi diterbitkan atas permintaan nasabahnya ( Applicant) yang akan digunakan

untuk keperluan beragam sesuai kebutuhan transaksi bisnis nasabahnya, manfaatnya secara umum adalah Sebagai sarana untuk memperlancar lalu lintas barang dan jasa, meringankan Cash Flow dan lain-lain. Penerima jaminan (Beneficiary) tidak akan menderita kerugian bila pihak yang dijamin (Applicant) melalaikan kewajiban karena penerima jaminan (Beneficiary) akan mendapat ganti rugi (pembayaran) dari bank.

D.

Persamaan dan Perbedaan Bank Garansi dengan Pemberian Kredit


7

12

Perbedaan Bank Garansi dengan pemberian kredit yaitu Bank tidak mengeluarkan uang dalam pemberian Bank Garansi atau biasa disebut non cash loan artinya adalah kredit yang tidak memungkinkan nasabah menarik dana tunai secara langsung tanpa adanya persyaratan-persyaratan khusus tertentu dari bank. Sebagai contoh L/C, SKBDN, SBLC, dan Bank Garansi (BG), sedangkan dalam pemberian kredit bank mengeluarkan uang atau biasa disebut cash loan artinya kredit yang memungkinkan nasabah menarik dana tunai secara langsung tanpa adanya persyaratan secara khusus. Persamaannya adalah dalam hal pengawasan. Bila bank memberikan kredit, maka perlu diawasi penggunaan kredit yang diberikan, demikian halnya dengan Bank Garansi. Bank akan mengadakan pengawasan terhadap perusahaan terjamin (Applicant) dengan maksud agar setiap saat bisa memperoleh gambaran kondisi keuangan, Asset, maupun jalannya perusahaan, tujuannya agar bank bisa membantu si Applicant jika diperlukan, baik dalam hal Cash flow dan lain-lain. Dalam hal tersebut si applicant harus mengizinkan bank yang bersangkutan untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan atas administrasi dan pembukuannya. Si Nasabah atau si terjamin wajib memberikan keterangan-keterangan tentang keuangan jika dibutuhkan oleh Bank Penjamin. Transaksi Bank Garansi biasa juga disebut transaksi off balance sheet artinya diluar neraca karena transaksi ini belum secara langsung membawa perubahan terhadap posisi Aktiva maupun pasiva neraca, akan tetapi baru menimbulkan suatu Komitment atau kontijensi. Di dalam persamaan akutansi belum dilakukan posting ke dalam perkiraanperkiraan neraca, tetapi hanya dicatat secara administrative. Kontijensi adalah situasi hasil akhir berupa keuntungan atau kerugian yang baru dapat dikonfirmasikan setelah terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa yang akan datang. Kesimpulannya baik komitment maupun kontijensi akan menimbulkan tagihan dan kewajiban pada waktu yang akan datang.