Anda di halaman 1dari 1

SEMANGAT antipremanisme bukan hanya menggelora di wilayah Provinsi DIY.

Di Kota Surakartapun sejumlah spanduk dan baliho mengkampanyekan pemberantasan perilaku dan aksi premanisme. Bahkan di Jakarta secara berkesinambungan Polda Metro Jaya melakukan operasi penangkapan dan pembinaan. Kapolda DIY yang baru, Brigjen Pol Haka Astana mengisyaratkan konsistensi pemberantasan premanisme itu. Ia berjanji siap mengembalikan kepercayaan bahwa Yogyakarta aman. Sebagai langkah awal, mantan Kapolresta Yogyakarta itu telah memerintahkan para Kasatwil meningkatkan kegiatan yang bersifat dialogis kepada masyarakat. Kita pegang teguh janji Brigjen Pol Haka Astana itu. Kita percaya janji itu akan direalisasikan dan terealisasi. Bukan hanya karena ia 'dikirim' (lagi) ke Yogya dengan tugas utama menangani 'pernakpernik' pasca kasus Hugos Cafe yang berlanjut pada tragedi Lapas Cebongan Sleman. Lebih dari itu, sebagai pejabat keamanan yang dilahirkan dan dibesarkan di Yogya, tentunya Haka Astana memiliki 'komitmen plus'. Inilah waktu yang tepat baginya untuk mengabdikan diri dengan sepenuh hati kepada warga masyarakat DIY, berupa tugas memberikan perlindungan keamanan serta memulihkan rasa aman yang terkoyak. Aksi premanisme memang tidak hanya terjadi di DIY. Perilaku kriminal itu telah menghinggapi perorangan dan sementara kelompok perorangan di kota-kota besar karena beragam alasan dan latar belakang. Di antaranya ialah, tidak tersedianya lapangan kerja yang memadai bagi mereka yang berpendidikan rendah serta terjadinya 'toleransi' aparat atas perilaku mereka hingga batas tertentu. Menariknya, di banyak kota besar aksi premanisme itu terkesan terorganisir dan beranggotakan warga etnis tertentu. Dari berbagai pemberitaan, kita memperoleh kesan aksi premanisme di Yogyakarta ada kalanya juga dilakukan oleh warga etnis tertentu yang tentunya datang ke Yogya dengan niat semula untuk menimba ilmu. Pertanyaan yang mengemuka adalah, mengapa sebagian kecil di antara mereka sampai 'salah kedaden'. Didorong faktor ekonomikah, atau karena ketidaksiapan mereka dan lingkungan untuk saling beradaptasi secara harmonis? Kita menginginkan tindak pemberantasan premanisme di wilayah kerja Polda DIY tidak sematamata bersifat formal yang cenderung berorientasi pada pola tindakan operasional. Namun juga dengan memperhatikan serta mengkaji mengapa perorangan atau kelompok perorangan termasuk warga etnis tertentu sampai jatuh pada perilaku yang mengedepankan kekerasan. Pola tindak preventif dengan mempelajari dan mengkaji mengapa seseorang dan kelompok perorangan sampai melakukan premanisme kiranya secara relatif permanen akan dapat mencegah tumbuh dan berkembangnya perilaku sejenis. Tanpa melupakan tentunya, melakukan tindak operasional yang tegas dan beradab kepada mereka yang menurut kacamata polisi sudah dapat dikategorikan sebagai 'preman kriminal'. Kita percaya Brigjen Pol Haka Astana mampu mengemban tugas khusus itu.