Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I PENDAHULUAN Makin tinggi tingkat kesejahtraan hidup, makin tinggi pula harapan hidup.sehingga jumlah penduduk usia lanjutpun bertambah. Dengan bertambahnya usia, tubuh akan mengalami proses penuaan termasuk otak.1 Saat ini penduduk yang berusia lanjut (diatas 60 tahun) di Indonesia terus meningkat jumlahnya bahkan pada tahun 2005-2010 nanti diperkirakan menyamai jumlah Balita (usia bawah lima tahun) yaitu sekitar 8,5% dari jumlah seluruh penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Peningkatan itu seiring meningkatnya umur harapan hidup (UHH) yaitu 67 tahun untuk perempuan dan 63 tahun untuk laki-laki. Hal ini mencerminkan salah satu hasil dalam upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Tetapi di sisi lain merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat mempertahankan kesehatan dan kemandirian para lanjut usia agar tidak menjadi beban bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat.2 Proses penuaan otak yang merupakan bagian dari proses degenerasi menimbulkan berbagai gangguan neuropsikologis. Salah satu masalah kesehatan yang paling besar dalam kelompok lanjut usia adalah dementia.usia di atas 65 tahun mempunyai resiko tinggi untuk mengalami dementia dan hal ini tidak bergantung pada bangsa, suku, kebudayaan, dan status ekonomi.3 Dementia merupakan kumpulan gejala klinik yang di sebabkan oleh berbagai latar belakang penyakit, ditandai oleh hilangnya memori jangka pendek dan gangguan global fungsi mental termasuk fungsi bahasa, mundurnya kemampuan berpikir abstrak, kesulitan merawat diri sendiri, perubahan prilaku emosi labil, dan hilangnya pengenalan waktu serta tempat tanpa adanya gangguan tingkat kesadaran atau situasi stres, sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan evektivitas harian dan sosial yang disebabkan oleh berbagai keadaan yang sebagian masih reversibel.3 Kemungkinan dari penyakit dementia ini dapat menyerang orang-orang dengan persentase umur yaitu 1% berumur 60-65 tahun, 6% berumur 70-75 tahun, dan 45% berumur 95 tahun.4

Perahatian dan pengetahuan masyarakat pada saat ini mengenai dementia masih sangat kurang karena dianggap sebagai bagian proses penuaan yang wajar. Baru pada stadium lanjut terutama apabila sudah terjadi gangguan perilaku pasien dibawa berobat, sehingga penatalaksanaanya tidak memberikan hasil yang memuaskan.3

BAB II ISI

2.1 DEFENISI DEMENTIA Dementia adalah kumpulan gejala klinik yang disebabkan oleh berbagai latar belakang penyakit yang ditandai oleh hilangnya memori jangka pendek dan gangguan global fungsi mental termasuk fungsi bahasa, mundurnya kemampuan berpikir abstrak, kesulitan merawat diri sendiri, perubahan perilaku, emosi labil, dan hilangnya pengenalan waktu serta tempat tanpa adanya gangguan tingkat kesadaran atau situasi stres, sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan, efektivitas harian dan sosial, yang disebabkan oleh berbagai keadaan yang sebagian masih reversibel.3 Definisi lain mengenai dementia adalah hilangnya fungsi kognisi secara multidimensional dan terus menerus dan disebabkan oleh kerusakan organik sistem saraf pusat, tidak disertai oleh penurunan kesadaran secara akut seperti halnya terjadi pada delirium.5 Salah satu tipe dementia, yaitu dementia Alzheimer atau pikun. Frekuensi demensia ini menempati urutan tertinggi dibandingkan dementia jenis lainnya, yaitu 50%-55%, walaupun beberapa penelitian di Asia (Singapura, Jepang, dan India) menunjukan frekuensi dementia vaskuler lebih besar dibandingkan dementia Alzheimer.3 Kemungkinan dari penyakit dementia ini sangat kuat untuk menyerang orang orang dengan persentase umur yaitu 1% berumur 60-65 tahun, 6% berumur 70-75 tahun, dan 45% berumur 95 tahun.4 2.2 ETIOLOGI Adanya defisit kognitif multipleks yang secara langsung, disebabkan oleh berbagai faktor etiologi (kombinasi penyakit stroke atau alzheimer). Dementia ditandai dengan adanya gangguan kognisi, fungsional, dan perilaku, sehingga

menimbulkan gangguan pada pekerjaan, aktivitas harian, dan sosial. Dementia dapat progresif, statik, atau dapat pula mengalami remisi.5 2.2.1 PENYEBAB Dari segi etiologi dibedakan antara demensia reversibel dan irreversibel. Untuk demensia reversible penyebabnya adalah :1 1. Drugs Antidepresi, antikonvulsan, antikolmergik. 2. Emosi/depresi Depresi, shizofrenta, mania, psikosis. 3. Metabolik / endokrin Penyakit tiroid, hipoglikemi, hipernatremi dan hiponatremi, hiperklasemi, gagal ginjal, gagal hati, penyakit Cushing, penyakit wilson. 4. Eye/ear nutrisi Difensiasi tiamin, difensiasi vitamin B12 (anemia pernisiosa), Difensiasi asam fosfat, difensiasi vitamin B6 (pellagra). 5. Trauma Trauma kranioserebal, hematon subdural akut dan kronis. 6. Tumor Glioma, meningioma, tumor metastatis. 7. Infeksi Meningitis dan ensefalitis bakterialis, meningitis dan ensefalitis Akibat jamur, meningitis akibat kriptokokus, meningitis dan Ensefalitis viral, abses otak, neurosifilis, AIDS. 8. Autoimun Lupus eritematosus diseminata, multiple sklerosis. Dan di samping itu ada juga arterioseklerosis dan alkohol. Untuk dementia yang irreversibel penyebabnya adalah:1 1. Penyakit degeneratif antiansietas, obat-obat sedatif, jantung antiaritmia, termasuk antihipertensi, obat-obat digitalis,

Penyakit Alzaimer, dementia Frontotemporal, penyakit Huntington, penyakit Parkinson, penyakit Lewy bodies, atrofi olivopontoserebelar, amiotropik lateral sklerosis/ dementia parkinsonism kompleks. 2. Penyakit vaskular Infrak multipel, emboli serebral, arteritis, anoksia skunder akibat henti jantung, gagal jantung atau keracunan karbon monoksida. 3. Trauma Trauma kranioserebral berat 4. Infeksi Sub akut spongiform ensefalopati (creutzfeldt-jacob disease), post ensefalitis, Leukoensefalopati multifokal progresif. 2.2 GAMBARAN KLINIK Gambaran utama demensia adalah munculnya defisit kognitif multipleks, termasuk gangguan memori, setidak-tidaknya satu di antara gangguan kognitif berikut ini: afasia, apraksia, agnosia, atau dalam hal fungsi eksekutif. Rincian gambaran klinik dementia adalah sebagai berikut:5 1. Gangguan memori, dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal-hal baru. 2. Afasia, dapat dalam bentuk kesulitan dalam menyebut nama orang atau benda. 3. Apraksia, tetap baik, 4. Agnosia, ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. 5. Gangguan fungsi eksekutif, merupakan gejala yang sering dijumpai pada demensia. 6. Gejala yang lain, sangat bervariasi. 7. Tanda klinik dan kondisi medik secara umum, bergantung pada riwayat penyakit, letak dan tahap perjalanan proses patologik yang mendasarinya. ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun kemampuan motorik, fungsi sensorik, dan pengertian yang diperlukan

8. Gambaran spesifik tentang budaya dan umur , perlu dipahami untuk melengkapi data tentang dementia. Latar belakang budaya dan pendidikan perlu dipertimbangkan dalam mengevaluasi kapasitas seseorang. 9. Perjalanan klinik demensia. 2.3 DIAGNOSIS DEMENSIA Diagnosis dementia perlu ditegakkan sedini mungkin dan di bedakan berdasarkan etiologi, usia onset, gambaran klinis dan gangguan neropsikologis. Dementia di tandai dengan adanya gangguan kognisi, fungsional, dan perilaku, sehingga menimbulkan gangguan pada pekerjaan, aktivitas harian, sosial. Pada pemeriksaan fisik diperlukan wawancara meliputi onset dan perjalanan penyakit, usia, onset, riwayat medis umum, dan neurologis, perubahan neurobeheviour, riwayat psikiatri, riwayat keluarga, dan riwayat yang berhubungan dengan etiologi misalnya infeksi, gangguan nutrisi, intoksikasi, dan penggunaan obat. Beberapa tipe dementia antara lain dementia Alzheimer, dementia vaskular, demensia akibat infeksi (HIV). Dementia akibat penyakit Parkinson, dementia akibat penyakit Huntington, dementia akibat penyakit Pick, dementia akibat penyakit Creutzfeld jacob, dementia akibat penyakit umum yang berat, dan dementia akibat intoksikasi. Dementia Alzheimer merupakan dementia yang mempunyai frekuensi tertinggi, meliputi 50-55% dari seluruh dementia, tetapi beberapa laporan penelitian di Asia, diantaranya Singapura, Jepang, dan India menunjukkan frekuensi dementia vaskuler lebih tinggi dari dementia alzheimer.3 2.4 PEMERIKSAAN PENUJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:1 1. Laboratorium: Darah lengkap, urin lengkap, gula darah, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, tes fungsi tiroid, pemeriksaan serologi, seperti TPHA/ VDRL, HIV dan pemeriksaan cairan serebrospinal. 2. Elektroensefalografi Menunjukan gelombang lambat yang difus pada dementia stadium lanjut.

3. difus. 4.

CT Scan/ MRI otak Menunjukan keadaan struktural otak yang atrofi pada girus-girus atau otak PET Scan (Positron Emission Tomography) Dapat mengukur regional CBF (Cerebral Blood Flow) asupan glukosa dan O2 untuk membedakan tipe dementia.

5.

SPECT (Single Photon Emission Computerized Tomography) Mengukur regional CBF, dapat membedakan dementia alzheimer dan atrofi cerebrilobar.

2.5 PENATALAKSANAAN Tujuan utama penanganan pada dementia adalah agar penderita dapat mengoptimalkan kemampuan yang masih ada dan memperbaiki kualitas hidupnya. Pada dementia penanganannaya terdiri dari dua bagian yaitu :1 1. Non farmakologis : Berbagai cara konseling, terapi suportif/psikoterapi, terapi kognitif, aktivitas hidup sehari-hari dan sosialisasi. Berdasarkan konsep KISS ME (Komunikasi, Imajinasi, Sosialisasi, Spiritual, Musik, dan kesenian lain, Emosi) Senam otak (Brain gym), dengan menyilang garis tengah tubuh dan gerakan anggota tubuh alternatif. Latihan neurobik (Neurobic exercise), progaram neurobik berbeda dengan mengisi teka-teki silang, puzzles atau latihan memori yang bersifat rutin. Program neurobik melatih otak dengan sesuatu yang tidak rutin dengan menggunakan panca indera dan emosinya. 2. Jaga kesehatan tubuh dengan makanan sehat, hindari merokok dan alkohol serta berolahraga secara teratur sesuai kemampuan. Farmakologis Berbagi obat yang dapat digunakan adalah : Terapi simtomatik

Nootropik: pirasetam, dikatakan akan memperbaiki neurotransmisi dan metabolisme neuron juga memperbiki perfusi serebri dengan menormalkan eritrosit dan hiperagregabilitas.

Cognitive enhancers: alfa tokoferol, gingko biloba, nicergoline, ergot alkaloid. Diberikan pada lansia dengan keluhan gangguan kognitif. Cholinesterase inhibitor: Rivastigmine, Donepezil HCL. Menghambat penghancuran asetilcolin. Diindikasikan untuk dementia ringan dan sedang.

Modulator reseptor glutamat: cycloaerine, ampakine, milacemide.

Terapi fisiopatologik Antioksidan: Kerusakan oksidatif oleh karena radikal bebas mempunyai peranan penting pada proses penuaan dan penyakit neurodegeneratif. Vitamin E dosis tinggi sampai 2000 IU/hari mempunyai pengaruh memperlambat progresifitas penyakit. Anti inflamasi (NSAID): proses inflamasi akan mengaktifkan dan meningkatkan mikroglia sehingga menghasilkan bahan inflamasi interleukin I. yang menyebabkan perubahan neuron otak. Mekanisme aksi melibatkan pencegahan radangg CNS penghambat COX2 yang terbaru seperti Celecoxib ( celebrex ) sedang diselidiki efektivitasnya untuk mencegah dementia.6 Hormonal: Neuropeptida Esterogen

Asam folat

BAB III KESIMPULAN Dementia adalah suatu sindrom klinik penurunan fungsi intelektual dan emosi akibat penyakit di otak. Sindrom ini ditandai oleh gangguan kognitif, emosi, dan psikimotor yang menyebabkan penurunan kemampusn mengikuti aktivitas sosial dan mengurus diri sendiri. Berdasarkan penyebabnya, dementia dibagi menjadi dementia ireversibel dan dementia irreversibel. Dementia irreversibel yang terbanyak adalah dementia vaskular / multi infark dan penyakit Alzheimer. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah untuk menentukan penyebab dari dementia. Penanganannya ditunjukan untuk mengoptimalkan kemampuan yang masih ada dan memperbaiki kualitas hidupnya oleh karena itu deteksi dini penurunan fungsi kognitif sangat penting untuk mencagah terjadinya dementia atau memperlambat proses memburuknya dementia.

10

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1.

Suwono, Wita J. 2003. Majalah Kedokteran Atmadjaya Vol.2 No.1. Halaman 40-49

2. Anonim, Sekitar 15 Persen Penduduk Usia Lanjut Menderita Dementia atau Pikun, http://www.depkes.go.id/index.php? option=news&task=viewarticle&sid=449&Itemid=2, 2004 (22 November 2007) 3. Dikot, Yustiani. 2005. Medika Kartika Vol.3 No.1. Halaman 45-54

4. Anonim, Dementia, http://en.wikipedia.org/wiki/Dementia#Epidemiology, 2007 (22 November 2007) 5. Harsono. 2003. Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 6. Paul S Gerstein, MD, Delerium, dementia, amnesia, http://www.emedicine.com/emerg/topic345.htm, 2007 (7 November 2007)

10

11

ARTIKEL ILMIAH DEMENTIA

Disusun oleh: MAYEKA LEDYA PUTRI 07711126

FAKULTAS KEDOKTERAN

11

12

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2007

12